Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 31 : Kesepakatan


__ADS_3

Kemampuan Xavier untuk mengendalikan situasi canggung yang membentang dan mencekik semua orang yang berada di ruangan ini patutlah diacungi jempol.


Lelaki itu dalam sekejap mampu mengubah ekspresi wajahnya dan memasang senyum tanpa dosa yang tampak begitu asli sekaligus menjengkelkan, karena semua orang tahu bahwa itu hanyalah topeng palsu, tetapi mereka tetap terbujuk.


Xavier beranjak berdiri, dengan sengaja membiarkan pernyataan Akram sebelumnya menggantung di udara tanpa tanggapan. Lagipula, biarpun dia tidak menjawab, Akram sudah terlatih untuk mengambil kesimpulan sendiri dengan tepat. Xavier kemudian melangkah dan berhenti di depan Elana yang sedang menggendong Zac lalu menghadiahkan senyumnya kepada bocah sehat yang sangat aktif itu.


Zac sendiri langsung mengenali Xavier. Mata Zac bersinar cerah ceria ketika menatap pamannya, sementara tubuhnya dengan segera bergerak maju dan tangannya meraih-raih, meminta untuk digendong.


Xavier terkekeh, lalu melirik ke arah Elana.


"Bolehkah?" tanyanya sopan.


Elana menganggukkan kepala sebagai izin dan Xavier langsung mengulurkan tangan, meraih Zac yang sedang mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Lelaki itu lalu mengangkat Zac dari gendongan Elana dan mengalihkan anak itu ke dalam pelukan kokohnya.


"Hei bocah, kau sekarang berat sekali," kekeh Xavier lembut, membuat Zac tersenyum lebar sambil mengeluarkan celotehan khas bayi yang menggemaskan.


Mata Xavier masih penuh dengan senyum ceria ketika lelaki itu tiba-tiba beralih tatap ke arah Sera yang mengawasi dengan bingung kepadanya. Sera sendiri terkesiap ketika mata mereka berpadu tanpa peringatan, membuatnya refleks mengalihkan pandangan dengan perasaan campur aduk.


Senyum simpul terulas di bibir Xavier ketika dengan masih menggendong Zac, lelaki itu mengambil tangan Sera yang terlalu kebingungan untuk menolak, lalu membimbingnya membalikkan tubuh, melewati ambang pintu untuk melangkah ke ruang makan.


"Kurasa hidangan lezat sudah menunggu di ruang makan, mari kita bersantap malam," ajak Xavier sambil menolehkan kepala sedikit ke arah tamu-tamunya, memberi isyarat supaya mereka semua mengikutinya.


***


Makan malam sukses dalam hal sajian menunya. Entah siapa koki yang bertugas malam ini, dia telah berhasil memuaskan indra pengecap dengan kelezatan masakannya, dan bahkan juga memuaskan indra penglihatan dengan tampilan makanannya yang begitu indah menggoda mata.


Sayangnya, kelezatan rasa makanan itu tak didukung oleh suasana menyenangkan sepanjang acara makan malam berlangsung. Nuansa makan malam itu dipenuhi kecanggungan yang mencekik yang seolah membungkam mulut semua orang orang hingga hampir-hampir tak ada yang berbicara di sana.


Mengesampingkan kelezatan hidangan yang dicecapnya, Sera bahkan langsung merasa bersyukur ketika acara makan malam itu akhirnya selesai. Dia masih sempat melempar senyum sopan kepada semua tamu yang berpamitan meninggalkan ruang makan, lalu seketika menandaskan senyumnya hingga tak bersisa ketika dirinya hanya tinggal berdua saja dengan Xavier.


Xavier tahu arti tubuh Sera yang langsungmenegang kaku ketika mereka hanya tinggal berdua saja, tetapi lelaki itu bersikap santai menghadapinya


"Seberapa banyak yang kau dengar?" setelah memastikan semua orang telah pergi dan menjauh dari ruangan itu, Xavier bertanya.


Tatapan Sera yang semula terarah ke pintu ruangan langsung tertoleh ke arah Xavier dengan pandangan benci setengah menghina.


"Hampir semua yang diucapkan oleh Akram Night aku mendengarnya." Sera menjawab jujur dengan nada jijik. "Bodohnya aku karena hampir melembutkan hati ketika mendengar keluh kesahmu tentang kita yang sebatang kara di dunia ini. Aku bahkan menganggapmu memiliki jiwa baik tersembunyi ketika kau mengatakan impianmu untuk memiliki keluarga, memeluk anak-anak keturunanmu sendiri sehingga kita tak sebatang kara lagi di dunia ini." Suara Sera bergetar ketika tanpa sadar tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri saat dia melanjutkan kalimatnya.


"Tak kusangka semua itu hanyalah kebohongan indah yang kau ciptakan untuk menipu mataku dan melemahkan hatiku...." Dada Sera naik turun dilanda emosi hingga membuat suaranya tersendat. Penuh siksa, Sera menghela napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri sebelum dia mampu bersuara lagi. "Yang kau inginkan hanyalah sel punca yang bisa kau ambil dari plasenta anakmu, yang kau perlukan untuk menyelamatkan nyawamu." tuduh Sera dengan suara tertahan.


Xavier sendiri tampak begitu tenang menerima tuduhan Sera. Lelaki itu bergeming, menatap Sera dengan saksama seolah menilai-nilai reaksinya.


"Aku tak akan membantah apapun. Aku juga tak akan memberikan pembelaan diri." Xavier berucap perlahan. "Kau tak punya pilihan lain, Sera. Aku ingin kau mengandung dan melahirkan anak kembarku, sebagai gantinya, aku akan memberimu keluarga milikmu sendiri dan membiarkan orang-orang yang kau sayang dan kau bela itu tetap hidup." Xavier melemparkan tatapan mencemooh, seolah mengejek sikap Sera yang berlebihan. "Aku bahkan bersedia memberimu pernikahan sah, padahal bisa saja aku hanya memaksamu hamil tanpa menikahimu, lalu mengambil apa yang kuperlukan dari bayi itu begitu saja tanpa menyematkan namaku di belakang namanya, tanpa bertanggung jawab terhadap kalian berdua."


Sera menggigit bibir dengan marah mendengar kalimat Xavier tersebut, kali ini tangannya terkepal sementara giginya gemeretak ketika dia menahan diri untuk tak menampar lelaki jahanam itu.


"Kau sungguh tak tahu malu dan tak punya hati, Xavier Light. Kau merencanakan seorang anak tak berdosa lahir ke dunia ini, hanya demi keegoisan dan kepentinganmu sendiri!" seru Sera dengan marah. "Ketika merencanakan itu semua, kau bahkan tetapnmenanamkan racun ke tubuhku! Bagaimana bisa kau mengatur kehadiran seorang anak dari tubuh seorang ibu yang diracuni? Apakah kau tak memikirkan anak yang akan dilahirkan itu?"


"Racunku tak akan mempengaruhi janinmu." Xavier menjawab dengan nada tegas terkendali. "Kau juga tak perlu mencemaskan masa depan anak itu. Aku akan mengurus anak itu dengan baik sebagai keturunanku. Dia akan sangat bersyukur dilahirkan sebagai anak Xavier Light." Xavier menyahut tenang, menatap Sera dengan sinis. "Lagipula, itu hanyalah tali pusat bayi. Ketika dokter mengambilnya nanti untukku, itu bahkan tak melukai bayinya dan juga dirimu, janganlah terlalu berlebihan menyikapinya." Xavier menatap Sera dengan pandangan mengancam. "Tugasmu hanyalah mengandung dan melahirkan anak itu dengan baik. Aku yang akan mengurus sisanya. Apakah kau mengerti?"


Sera mendongakkan kepala dan menatap Xavier dengan marah.


"Aku mengerti tugasku dengan baik, Tuan Light. Tapi kau harus ingat, kalau kau melukai ayahku dan Aaron seujung rambut saja, aku tak akan tinggal diam!" dengan kemurkaan membara, Sera membalikkan tubuh dan hendak meninggalkan ruangan, tak tahan harus berada satu ruangan dengan lelaki jahat ini.


"Kau mau kemana?" tiba-tiba saja Xavier meraih tangan Sera, menahannya.


Tak mau disentuh, Sera langsung menghempaskan tangan lelaki itu dan meloncat mundur, jauh dari jangkauan Xavier.


"Aku mau tidur!" ujar Sera ketus, menatap lelaki itu dengan waspada.


Xavier menyeringai, seolah-olah kemarahan Sera sama sekali tak berimbas kepadanya.


"Kau tak mau kutemani tidur? Malam ini akan sangat dingin karena badai salju sedang berlangsung di luar sana. Kalau kau meminta, aku dengan senang hati akan mempertimbangkan untuk berbagi kehangatan denganmu." ujarnya lambat-lambat, penuh dengan nada rayuan.

__ADS_1


Sera membelalakkan mata. "Perlu kau ingat, Tuan Light. Kau belum menjadi suamiku. Aku akan sangat menghargai jika kau menjauhkan tingkah laku mesummu itu dariku!" sambil menghentakkan kaki, Sera berteriak dengan nada tinggi ke arah lelaki itu. Lalu, tanpa menunggu tanggapan Xavier lagi, Sera langsung membalikkan tubuh dan melangkah tergesa meninggalkan ruang makan itu, membiarkan Xavier seorang diri di sana.


***


"Apakah Xavier benar-benar dalam kondisi sakit yang serius?"


Suara Elana terdengar perlahan di dalam kamar temaram itu. Dia sedang berbaring dengan berbantalkan lengan suaminya yang memeluknya erat. Malam telah larut dan Zac sudah terlelap dalam boks bayinya, tetapi Elana tak bisa tidur. Dia telah mendapatkan pengetahuan jelas mengenai apa yang dibicarakan suaminya dengan Xavier tadi, dan pikiran itu mengganggunya, membuatnya terjaga.


Akram yang sudah hampir tertidur kembali tersadar, lelaki itu menunduk, dan menatap istrinya.


"Seharusnya aku marah karena kau membahas pria lain di atas ranjang kita," sahutnya dengan suara parau sambil bersungut-sungut.


Elana memiringkan tubuhnya, menatap suaminya dan membiarkan lelaki itu memeluknya semakin erat


"Tapi ini tentang Xavier. Kau tahu... dia telah sering disalahpahami selama ini. Sekarang, dia bahkan merahasiakan penyakitnya dan aku takut jika dia tak memberikan penjelasan yang tepat, dia akan membuat Sera semakin salah paham dan membencinya. Kau tahu sendiri watak Xavier, dia bahkan tak mau menjelaskan apa-apa kepadamu dan membiarkanmu membencinya selama bertahun-tahun." Elana mengerutkan keningnya dengan cemas ke arah Akram. "Apakah jika Xavier tidak mendapatkan transplatasi dari sel punca yang didapatnya dari anak-anaknya nanti, Xavier benar-benar akan mati?"


Akram menipiskan bibir, ekspresinya berubah serius. "Kemungkinan besar itulah yang akan terjadi. Jika sunsum tulang belakangnya tak mampu menghasilkan sel darah dan dia hanya bergantung pada transfusi serta obat buatannya sendiri, dia akan mati dengan cepat. Xavier bilang bahwa obat itu, meskipun mampu membuatnya tetap bugar dan memperlebar frekuensi transfusi darahnya, tetapi memiliki efek berbahaya yaitu mengurangi harapan hidupnya."


Elana menghela napas panjang. "Kau juga bilang kalau Xavier semula tidak peduli dengan itu dan berniat mati dengan tenang. Tetapi, dia kemudian berubah pikiran dan memutuskan untuk bertahan hidup setelah bertemu Sera?"


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Elana?" Akram menyipitkan mata, menatap istrinya dengan saksama.


Elana menggigit bibirnya, tak sadar kalau mata Akram jadi terpaku di sana dan tak bisa lepas.


"Apakah... apakah menurutmu... eh... Xavier memiliki perasaan pada Sera? Karena itulah dia tiba-tiba ingin bertahan hidup?" tanyanya ragu kemudian.


Bibir Akram menipis. "Siapa yang tahu apa yang ada di benak Xavier? Hatinya terlalu gelap dan pikirannya terlalu rumit untuk diselami hingga lebih baik kita tak usah menebak-apa yang sedang direncanakan olehnya. Tapi, secara obyektif, aku mendukung langkah yang dilakukan oleh Xavier dengan pernikahan ini. Jika dia memperlakukan Serafina Moon dengan baik, memberinya kesepakatan dan kompensasi yang sesuai serta saling menguntungkan, maka tidak akan ada yang dirugikan dalam hal ini. Toh, prosedur pengambilan sel punca dari plasenta atau tali pusat bayi itu setelah dia dilahirkan, tidak akan melukai calon bayi mereka nantinya-" Suara Akram terhenti ketika mendengar Elana menghela napas pajang. Lelaki itu mengawasi wajah istrinya, lalu mengangkat alis.


"Kenapa? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Akram dengan tanggap.


Elana mendesah perlahan. "Aku... hanya memikirkan pernikahan mereka besok, aku tidak bisa membayangkan Xavier dan Sera melangkah masuk ke dalam sebuah pernikahan, lalu memiliki anak dan membangun keluarga, tetapi tak ada cinta di dalam mahligai mereka."


"Kau selalu memandang segala sesuatunya dari sisi romantis," Akram menyentuhkan bibir ke dahi istrinya dan mengecupnya lembut. "Apakah menurutmu seseorang seperti Xavier bisa merasakan romansa?" tanyanya dengan nada sedikit skeptis.


Elana mengangkat tangan, menyentuhkan jemarinya ke pipi Akram.


Akram tergelak, lelaki itu lalu menggulingkan tubuhnya hingga berada di atas istrinya, menjaga dengan kedua sikunya di sisi kiri dan kanan Elana.


"Jadi kau pikir hatiku lebih gelap dari Xavier?" Akram bertanya kembali sambil mengangkat sebelah alis, wajahnya mendekat ke arah istrinya, hendak menciumnya.


Elana tersenyum lembut. "Kalian berdua sama-sama memiliki kegetiran yang pekat karena masa lalu. Tapi, jika kau bisa membuka hati lalu membiarkan dirimu berbahagia, aku sungguh berharap Xavier juga merasakan hal yang sama. Aku sungguh berharap Xavier dan Sera memiliki ujung yang bahagia." Elana mengangkat tangan dan menangkup kedua sisi pipi Akram. "Kalian para lelaki tokoh utama dalam cerita kehidupan ini, kalian berhak berbahagia," sambungnya penuh doa.


Akram tak bisa menahan diri lagi, lelaki itu langsung mencium bibir Elana, semula lembut dan penuh kasih, lalu segera hasratnya tersulut dan ciuman itu berubah semakin dalam, menjelajah dan menuntut, mencicipi dan menikmati, saling memberi dan menerima, hingga tubuh mereka saling merapat, dibuai oleh keinginan untuk mendekat tanpa pemisah seinci pun.


"Aku berbahagia karena dirimu... dan Zac, dan mungkin nanti karena anak-anak kita yang lain, yang akan dilahirkan dari rahimmu," Akram menggigit bibir Elana dengan gemas sebelum kemudian menggeserkan bibirnya itu ke telinga Elana dan berbisik nakal. "Apakah menurutmu, sudah waktunya bagi Zac untuk memiliki adik?"


Elana tertawa, tangannya refleks bergerak memukul lengan Akram dengan lembut.


"Akram! Zac harus mendapatkan ASI eksklusif selama dua tahun, itu berarti aku tak boleh hamil," sanggahnya pelan.


Akram menggesekkan hidungnya ke kelembutan permukaan kulit Elana, menghirup aromanya yang memabukkan dan menggeliatkan hasratnya.


"Aku mengerti. Tetapi, bukan berarti kita tak boleh bercinta, bukan?" dengan menggoda Akram menggigit lembut sisi pundak Elana yang tali gaunnya telah dia turunkan dengan penuh antisipasi.


"Jangan di situ." Elana mendesah perlahan, setengah memprotes. "Besok kita harus menghadiri upacara pernikahan Xavier dan Sera...."


"Aku akan berhati-hati untuk tidak meninggalkan tanda di tempat-tempat yang kelihatan. Tapi di tempat-tempat yang lainnya....aku tak mau berjanji...." Suara Akram terhenti ketika bibirnya sibuk menjelajah, membuai istrinya dalam kobaran sentuhan ahli yang selalu siap sedia menghangatkan mahligai pernikahan mereka.


***


Gaun yang disiapkan Xavier untuknya kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Gaun itu panjang, berpotongan sopan dan berwarna krem nyaris putih, dengan bordiran bunga indah yang sangat detail dan mengagumkan hingga Sera yakin bahwa itu adalah pesanan khusus yang dibuat dengan tangan.


Sera mengenakan gaun itu dengan dibantu oleh para pelayan yang datang ke kamarnya pagi-pagi sekali untuk menyiapkamnya. Sera bahkan menurut, hanya diam tanpa memprotes sedikitpun.

__ADS_1


Kesepakatan sudah dibuat dan dia bertekad kuat untuk memenuhinya demi menyelamatkan orang-orang tercintanya.


Tetapi tetap saja hatinya terasa pedih. Sekarang, hanya menjelang beberapa waktu sebelum pernikahannya, berdiri di sini, mengenakan gaun pernikahan indah yang mungkin menjadi impian wanita-wanita lain, tak setitik pun ada binar bahagia yang berhasil menyelip ke dalam hatinya yang telah padam.


Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa pernikahan semacam inilah yang akan dilakoninnya. Pernikahan tanpa cinta dengan seorang lelaki kejam yang tak punya cinta. Seorang lelaki yang hanya ingin menggunakan rahimnya untuk menghasilkan anak yang bahkan tidak dipandangnya sebagai manusia. Seorang anak yang hanya akan dianggap sebagai prodak sampingan dari tujuan utama Xavier: sel punca dari plasenta tali pusat mereka.


Dunia mungkin akan mengutuknya karena telah mengambil keputusan untuk bersedia mengandung dan melahirkan seorang anak tak berdosa di dunia ini, seorang anak yang hanya diinginkan tali pusatnya saja.


Tapi, Sera tak punya pilihan lain. Hanya langkah penuh dosa ini yang bisa diambilnya demi menyelamatkan ayahnya dan juga membalas budi kepada Aaron.


Apakah pengorbanannya akan sepadan? Sanggupkah dia menanggungnya nanti di kemudian hari? Akan jadi seperti apakah kisahnya nanti?


Tubuh Sera gemetaran memikirkan masa depannya. Tetapi, satu hal yang pasti, Sera sudah tak bisa mundur lagi. Dia sudah mengambil keputusan untuk menjalani pernikahan ini dengan Xavier, dan dia harus melakukannya.


"Apakah kau sudah siap?"


Suara Xavier yang tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya membuat Sera terkesiap. Segera dia membalikkan tubuh, dan matanya langsung menyerap sosok Xavier dalam pandangannya.


Lelaki itu tampak luar biasa tampan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sementara penampilannya dibalut jas warna cokelat tua gelap nyaris hitam yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Ketampanan Xavier bisa dibilang nyaris menyilaukan mata saking melimpah ruahnya, membuat Sera harus mengalihkan pandangan supaya jantungnya tak berdegup kencang karena jatuh dalam mantra keterpesonaan.


Xavier tersenyum melihat Sera memalingkan muka dan tak mau melihat wajahnya. Lelaki itu lalu melangkah masuk menyeberangi ruangan, mendekati tempat Sera berada dan baru berhenti ketika sudah berdiri dekat sekali di depannya.


Sebelum Sera sempat mengucapkan sesuatu, Xavier tiba-tiba saja meraih tangannya, lalu menggenggamkan sesuatu di sana. Sera menunduk, dan matanya melebar ketika menatap buket bunga yang sangat indah di tangannya.


"Bunga ini bernama Lily of the Valley. Sangat susah mendapatkannya di musim dingin saat ini. Tetapi aku berhasil menemukan sebuah tempat yang berhasil membudidayakannya dalam rumah kaca dengan teknologi canggih, yang bisa membuat bunga ini mampu berbunga sepanjang tahun, tanpa peduli apapun musimnya." Xavier berucap perlahan, jemarinya meraih dagu Sera lalu mendongakkan perempuan itu supaya menengadah ke arahnya.


"Selain melambangkan kesucian, bunga lily of the valley ini juga melambangkan kesederhanaan, pesona keindahan, pesona kerendahan hati, kemurnian. Beberapa orang bahkan mempercayai bahwa bunga ini dapat membawa keberuntungan dalam pernikahan." Xavier terkekeh. "Kuharap kau senang menerima bunga ini sebagai rangkaian buket bunga pernikahanmu." Xavier menggandeng tangan Sera yang tak memegang bunga, lalu menghela tubuh perempuan itu supaya mengikuti langkahnya.


"Mari kita menikah," ajak Xavier dengan nada riang, membawa Sera keluar dari kamarnya.


***


***


***


REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR


JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom


PENULIS : YOZORA


***


***


***


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.

__ADS_1


Thank You


Sincerely Yours - AY


__ADS_2