Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 1 : Merentang Ingatan Lampau


__ADS_3

SEASON 2 – ESSENCE OF THE LIGHT



"To forget something is a gift that God has given to a mandkind"


Sebagai manusia, bisa melupakan adalah salah satu anugerah yang tak pernah disadari padahal patut disyukuri.


Otak manusia memiliki pertimbangannya sendiri untuk memilah-milah ingatan. Otak manusia mampu menentukan ingatan mana yang harus dibuang hingga lupa, ingatan mana yang harus ditimbun dalam-dalam di ujung paling jauh hingga tak mungkin tergali lagi, ingatan mana yang disimpan di sisi paling atas hingga mudah diambil saat dibutuhkan, dan ingatan mana yang akan selalu terpatri setiap detiknya.


Karena itulah, kadang manusia bisa langsung menyanyikan lirik sebuah lagu lama yang selama sepuluh tahun tak pernah dia nyanyikan lagi. Karena itu pulalah, manusia bisa melindungi diri dan hati dari ingatan pedih trauma masa lalu yang terjaga untuk tak muncul kembali.


Bisa lupa adalah sebuah kemewahan yang sangat berharga.


Melupakan trauma untuk melindungi diri dari rasa sakit. adalah sebentuk anugerah yang tak mungkin bisa dimiliki oleh Xavier hingga saat ini. Itu semua karena dia dianugerahi anugerah sekaligus kutukan karena memeliki kemampuan fotografik memori yang sangat kuat.


Kemampuan itu membuat otaknya bekerja di luar kendali, menyimpan segala ingatan sampai detail sekecil mungkin di permukaan dan mengosongkan area lain sehingga tidak ada yang tenggelam.


Sejak usia sangat muda, Xavier sudah bisa mengingat setiap detik dalam hidupnya, warna pakaian, wajah manusia, aroma juga suara-suara, sampai detail semacam letak barang-barang kecil yang dilihatnya sepintas, tak pernah ada yang luput dan dibuang oleh ingatannya. Karena hal itulah dia menjadi anak jenius di usia muda. Dia mampu mengingat pelajaran hanya dengan sekali dengar, dia mampu menghapal sebuah buku hingga detail tanda baca hanya dengan sekali baca.


Bagi semua orang, kemampuan itu adalah sebuah anugerah tak ternilai, dan bahkan, Xavier juga mengira hal yang sama… sampai kejeniusannya itu menarik perhatian Baron Night sehingga dengan senang hati mengangkatnya sebagai seorang anak.


Xavier yang tinggal di panti asuhan tanpa mengetahui asal-usulnya, tentu saja sangat berbahagia ketika ada keluarga yang mengangkatnya. Baron Night dan Marlene Night adalah orang tua yang baik, mereka mencurahkan kasih sayang yang luar biasa dan menganggap Xavier sebagai anak kandungnya. Mereka memberikan segala yang terbaik yang bisa diimpikan oleh seorang anak dari sebuah keluarga yang hangat dan berbahagia.


Bahkan, ketika akhirnya adik Xavier terlahirkan tak lama setelah Xavier menjadi bagian dari keluarga, sikap Baron dan Marlene Night tetap tidak berubah, kasih sayang mereka tetap sama, tidak membeda-bedakan antara Xavier yang anak angkat dengan Akram yang anak kandung.


Bagi Xavier, kelahiran adiknya adalah suatu anugerah. Dari pertama ayahnya membawanya untuk masuk ke kamar perawatan ibunya, lalu melihat bayi yang terlelap dengan damai di boks bayi di samping ranjang perawatan, Xavier sudah merasakan kasih sayang yang dalam dan keinginan yang kuat untuk melindungi adiknya dari segala marabahaya.


Akram yang lebih muda lima tahun darinya adalah kesayangan Xavier yang paling berharga. Xavier selalu menjaga dan mendampingi Akram, menjadi orang terdekatnya dan berusaha menjadi yang pertama membantu adiknya itu. Dia menemani langkah pertama Akram, dia pulalah yang pertama kali datang membantu ketika adiknya itu terjatuh saat belajar berjalan, menggendong dan mengusap air mata Akram karena lututnya yang luka dan berdarah.


Xavier selalu bertekad menjadi kakak yang baik, dia juga bertekad menjadi anak yang baik, sehingga suatu saat nanti dia bisa membalas budi kepada keluarga ini, keluarga Night yang telah memberinya anugerah sebuah keluarga yang mengayomi. Keluarga Night yang membuatnya percaya, bahwa ada harapan bahagia untuk seorang anak dengan kelebihan yang menakutkan seperti dirinya.


Yah, Xavier terus menerus memegang teguh kepercayaan bahwa dia berhak berbahagia hingga hari itu tiba, hari penculikan yang memorak-porandakan jiwanya dan menghancurkannya hingga bahkan remahan dirinya sudah tak bersisa untuk dipungut kembali.


 


 



Hari itu cerah, sama seperti hari-harinya yang biasa. Xavier saat ini berusia sembilan tahun, dan karena kejeniusannya jauh melebihi anak-anak seusianya, maka dia tidak bisa bergabung dengan anak-anak lain di sekolahya dan harus menjalani kelas khusus dengan pelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan otaknya yang fantastis.


Hari ini, karena gurunya memiliki urusan keluarga yang tak bisa ditinggalkan, maka Xavier bisa menyelesaikan kelasnya lebih cepat dari biasanya. Xavier sangat senang karenanya karena itu berarti dia bisa menjemput Akram ke sekolahnya dan pulang sekolah bersama dengan adiknya itu.


“Apakah kau benar-benar tak ingin supir datang menjemputmu, Xavier?”


Mentor Xavier, seorang profesor tua yang sangat baik dan begitu terkagum-kagum dengan kemampuan Xavier mengingat di usianya yang baru sembilan tahun itu mengerutkan kening ketika melihat Xavier mengemasi buku-bukunya ke dalam tas dengan sikap terburu-buru, tatapannya sendiri tampak pekat, menyiratkan ketidaksetujuan.


Xavier menggelengkan kepala, tersenyum lebar tanpa bisa menyembunyikan semangatnya.


“Saya masih sempat untuk menjemput Akram dari taman kanak-kanak jika masih jam segini. Supir akan menyemput kami di sekolah Akram nanti dan kami akan pulang bersama. Jangan khawatir, profesor, jarak dari sini ke sekolah Akram cukup dekat, hanya memerlukan beberapa menit berlari," jawabnya dengan nada meyakinkan.


Meskipun usianya bahkan belum genap sepuluh tahun, Xavier mendapatkan keistimewaan untuk memperoleh pengajaran khusus di terletak di salah satu bagian penelitian di area universitas besar di kota tersebut. Ya, Xavier adalah kasus khusus yang sangat menarik untuk diteliti oleh para akademisi yang mempelajari tentang keajaiban otak manusia. Para profesor berlomba-lomba untuk menjadi mentor Xavier, sekaligus secara tidak langsung menjadikan Xavier sebagai sampel penelitiannya.


Lokasi Universitas tempat Xavier belajar kebetulan hanya berjarak beberapa bangunan dari tempat Akram bersekolah. Xavier hanya perlu berlari di trotoar, lurus menyusuri jalan utama dan bisa sampai di sekolah Akram hanya dalam waktu beberapa menit saja.


Dengan sikap tak sabar, tanpa menunggu lagi persetujuan profesor yang menjadi mentornya, Xavier memasang ranselnya di punggung, lalu membungkuk setengah memberi hormat untuk berpamitan kepada mentornya, dan bergegas membalikkan tubuh, menghambur keluar gedung dan menyusuri tangga-tangga tinggi sebelum kemudian keluar dari gerbang universitas dan berbelok ke arah sekolah Akram.

__ADS_1


Jalur menuju sekolah Akram saat ini cukup sepi karena area ini adalah area pendidikan dengan sekolah-sekolah yang berjajar dari ujung ke ujung. Karena saat ini masih jam pelajaran, semua orang pasti sedang berada di kelasnya dalam gedung sekolahnya masing-masing untuk melakukan kegiatan belajar dan mengajar.


Xavier merasakan sedikit ketakutan melalui jalanan sepi dengan pepohonan besar di kiri dan kananya, tetapi dia menghibur diri dengan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa jarak yang ditempuhnya untuk menuju sekolah Akram tidaklah terlalu jauh.


Langkah kaki kecilnya membawanya melesat cepat, tidak sabar untuk menjemput adiknya. Akram selalu senang ketika Xavier menyelesaikan pelajarannya lebih cepat dan datang untuk menjemputnya…


Sebuah mobil yang berdecit cepat dan dengan ugal-ugalan menaikkan bagian depan ban mobilnya ke trotoar rendah yang dipijak oleh Xavier membuat langkah Xavier terhenti seketika untuk mencegah dirinya tertabrak mobil.


Dengan waspada, Xavier mendongakkan kepala, mengerutkan kening atas keteledoran supir mobil van hitam yang bisa saja membahayakan pejalan kaki dengan caranya mengemudi yang brutal itu.


Tetapi, ketika mata Xavier bertemu dengan lelaki bertubuh kekar dan berpakaian hitam-hitam menyeramkan itu, dirinya langsung menyadari ada yang tidak beres. Lelaki-lelaki itu menguarkan aroma jahat yang kental, membuat bulu kuduk Xavier berdiri dan refleks langsung membalikkan tubuh mencoba lari.


Sayangnya, semua sudah terlambat. Tubuh Xavier yang kecil tentu saja kalah dengan para lelaki dewasa yang dengan mudah mengejar serta meringkusnya.


Ketika Xavier meronta sekuat tenaga dan hendak berteriak putus asa untuk meminta pertolongan di jalan yang sepi itu, tiba-tiba salah satu dari penjahat itu mengayunkan tangannya dengan kasar dan meninju perut mungil Xavier dengan kekuatan tanpa ampun, membuat Xavier hanya mampu mengeluarkan erangan kesakitan sebelum kemudian kehilangan kesadarannya.


 


 



 


Entah sudah berapa hari berlalu, Xavier sudah kehilangan kemampuannya untuk menghitung lagi.


Dia hanya bisa menandai siang dan malam dari serpihan cahaya matahari yang terselip dari lubang ventilasi yang terletak jauh di atas sana. Ketika sinar itu masih ada, Xavier tahu bahwa hari masih siang, lalu ketika sinar itu menghilang dan kegelapan melingkupinya. Hanya itulah satu-satunya penanda hari yang memberitahunya bahwa dia masih bertahan hidup hingga titik ini.


Tempat Xavier diculik dan disekap seperti sebuah gudang tak berpenghuni yang sangat gelap mengerikan, dia dikurung di salah satu kamar di gudang itu, sebuah kamar kosong hanya berisikan selembar selimut lusuh dan kotor untuk alasnya tidur, dengan aroma apak bercampur anyir mengerikan dan hawa dingin menusuk tulang yang menyiksa tubuh mungilnya di malam hari.


Setiap hari, tak pernah terlewatkan bagi Xavier untuk mengalami deraan dan siksaan. Orang-orang yang menculiknya ini sangatlah kejam, mereka memperlakukan Xavier bukan sebagai anak-anak tanpa daya, tetapi lebih seperti mangsa yang bisa digunakan sebagai samsak pelampiasan kemarahan dan frustasi mereka.


Di malam hari, dari sedikit waktu yang diberikan kepadanya untuk tidur dan terlepas dari siksaan, Xavier hanya bisa meringkuk menahan sakit tak terperi di sekujur tubuhnya yang penuh dengan memar dan luka parah. Tidak ada sisa lagi di kulitnya untuk diberikan tambahan memar, luka goresan dan lepuhan dari rokok yang disundutkan dengan kejam ke kulitnya, ditambah lagi dengan perutnya yang melilit perih hingga menguarkan asam lambungnya membakar sampai ke tenggorokannya.


Semua siksaan dan kesakitan parah itu kadang membuat Xavier ingin menyerah dan mati saja. Tetapi, tidak. Xavier masih tidak ingin menyerah. Dia memiliki keluarga yang mencintainya, dia memiliki adik yang sangat dia sayangi.


Jika dia sampai mati, siapa yang nantinya akan melindungi Akram? Jika sampai dia mati, bagaimana dia bisa membalas budi kepada keluarga Night?


Tetapi, hari demi hari telah berlalu, siang dan malam telah lepas dari hitungannya. Kenapa sampai detik ini dirinya masih belum diselamatkan? Apa yang terjadi?


Jika penculiknya memang menginginkan uang, mereka pasti sudah mengirimkan permintaan tebusan kepada ayahnya, bukan?


Semua orang tahu bahwa Baron Night memiliki kekayaan luar biasa yang membuat siapapun terkagum-kagum karenanya. Karena itulah, orang-orang yang menculiknya ini sudah pasti menginginkan uang tebusan.


Tetapi, jika uang masalahnya, bukankah itu adalah urusan sepele bagi ayahnya? Kalau begitu… kenapa dia masih terkurung di sini begitu lama di bawah siksaan para penculiknya?


Pertanyaan demi pertanyaan melingkupi jiwa mungil Xavier di dalam tubuhnya yang terdera oleh rasa sakit. Selama beberapa saat, ketika rasa sakit itu tak bisa lagi ditanggungnya, pernah dia meragu dan berprasangka buruk kepada keluarganya. Tetapi, harapan itu lalu bertumbuh lagi. Xavier mencintai keluarganya, dan keluarganya mencintainya… mereka pasti akan menyelamatkannya, bukan?


Xavier melelehkan air mata tangis bercampur kesakitan dari sudut matanya. Ingin dia merintih tetapi dia takut. Para penculik di luar sana yang biasanya berjaga di luar kamarnya yang terkunci dari luar biasanya akan marah kalau Xavier berisik mengeluarkan rintihan dan tangis yang membelah malam hening itu. Karena itulah, sambil memeluk dirinya sendiri dengan tangannya yang penuh bekas menghitam memar, Xavier menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan isak tangisnya agar jangan sampai lepas dari bibirnya.


Setelah puas menyiksanya seharian, biasanya para penculik itu akan membiarkannya tertidur beberapa jam di malam hari. Sepertinya, malam ini Xavier harus bertahan lagi sampai matahari datang kembali menyentuh pagi….


Suara derap langkah kaki beberapa orang yang begitu keras menuju kamar tempatnya dikurung membuat Xavier terjaga dari kondisinya. Dia membuka mata lebar-lebar, merasakan jantungnya berdegup keras karena firasat buruk yang langsung membanjiri dirinya.


Lalu, tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pembuktian atas rasa takutnya. Pintu tempatnya dikurung tiba-tiba ditendang dengan begitu kerasnya hingga engselnya terlepas berhamburan, kemudian pemimpin penculik yang paling kejam di antara yang lain itu melangkah masuk, diikuti oleh anak buahnya.


“Kurasa kita harus membunuhnya dan membuang mayatnya untuk menghilangkan jejak. Para polisi sudah mengendus seperti anjing pelacak yang kelaparan, kita harus segera menyelesaikan ini semua dan pergi dari sini,” salah seorang anak buah penculik itu berucap dengan nada cepat, sambil melemparkan tatapan bengis ke arah Xavier.

__ADS_1


Perkataan si anak buah itu seakan membakar kemarahan pemimpin penculik tersebut. Lelaki bertubuh kekar itu meludah, lalu berteriak kasar kepada anak buahnya.


“Ini semua salah kalian! Bodohnya kalian malahan menculik bocah sampah ini dan melepaskan putra mahkota yang kita butuhkan untuk mendapatkan uang tebusan!” suara pemimpin penculik itu menggelegar memenuhi ruangan, membuat nyali semua orang menciut karenanya. “Sekarang semua rencana hancur berantakan. Mereka semua sudah bersiaga menjaga putra mahkota mereka hingga kita tak memiliki kesempatan mendekat, dan kita malahan dibebani bocah sampah ini, yang bahkan keluarga angkatnya pun ingin membuangnya dan tak mau menebusnya!”


Xavier mungkin sudah kepayahan karena siksaan dan luka di tubuhnya, tetapi telinganya masih mampu mendengar dengan jelas perkataan pemimpin penculik itu. Matanya melebar, tatapannya syok bercampur ketidak percayaan.


“Ayahku… ayahku tidak mau menebusku….?” Xavier berhasil mengeluarkan suara lemah gemetaran dari mulutnya yang mungil dan lebam berdarah. Dia tidak mampu menahan rasa ingin tahunya, dan itu adalah sebuah kesalahan besar karena perhatian semua orang di ruangan itu langsung terarah kepadanya.


Pemimpin penculik itu langsung berjongkok di depan Xavier. Tangannya mencengkeram bahu mungil Xavier dan memaksanya duduk, sementara matanya bersinar oleh kebencian yang amat sangat.


“Ya. bocah sampah. Rupanya kau hanya dianggap sampah oleh keluarga angkatmu. Ayahmu menolak untuk membayar tebusan bagimu dan membuangmu begitu saja. Sekarang kau sudah ditinggalkan di tangan kami untuk mati dan membusuk tanpa harga….”


“Tidak mungkin! Ayahku… ayahku menyayangiku… ayah tidak mungkin melakukan itu!”


Xavier menyela dengan air mata yang membanjir dan membasahi pipinya. Seluruh tubuhnya gemetaran, setengah histeris karena tak mampu menerima pemberitahuan yang menghancurkan harapan terakhirnya.


Pemimpin penculik itu terkekeh, dengan kejam tangannya mencengkeram dagu dan pipi Xaver, bersikap kasar ketika memaksa Xavier mendongak ke arahnya.


“Kalau ayahmu mau menyelamatkanmu, tentu saat ini kau sudah selamat di rumah keluarga angkatmu yang nyaman itu dan tidak akan teronggok di sini untuk kami siksa dan kami bunuh. Tetapi, kenyataannya? Kau lihat sendiri bukan?” ejek pemimpin penculik itu sambil tertawa terbahak-bahak.


“Tidak… tidak….” Xavier masih berusaha membantah, tidak mau menerima kenyataan meskipun apa yang dikatakan oleh pemimpin penculik itu benar adanya.


Sikapnya yang keras kepala itu menyulut kembali kemarahan pemimpin penculik tersebut. Seharusnya jika rencana ini berhasil dan mereka menculik anak yang tepat, saat ini mereka pasti sudah bersenang-senang dan kaya raya dengan membawa uang tebusan sesuai rencana. Tetapi, dengan salah menculik anak dan malahan mengambil bocah sampah yang merupakan anak angkat ini, seluruh rencana mereka buyar sudah yang berujung dengan kegagalan dan kerugian luar biasa.


Kalau saja sejak awal bocah sampah ini tidak ada….


Mata pemimpin penculik itu menyala ketika dia menurunkan cengkeraman tangannya dari wajah Xavier dan bergerak turun untuk mencekik leher kurus yang sudah penuh memar itu.


Sekuat tenaga Xavier berusaha meronta melepaskan diri, tetapi tentu saja tubuh kurus anak umur sembilan tahun bukanlah tandingan dari lelaki dewasa berjiwa bengis yang tengah mencekiknya. Semakin Xavier meronta, semakin berkobar kekejaman pemimpin penculik itu, cekikannya semakin keras seolah-olah ingin melampiaskan seluruh kemarahan karena kegagalan rencana besarnya kepada Xavier.


“Kalian semua keluar! Aku akan membuat anak ini merasakan penyiksaan luar biasa sebelum aku membunuhnya!” dengan suara kejam mengerikan, pemimpin penculik itu menyuruh seluruh anak buahnya keluar ruangan.


Tentu saja tidak ada yang berani membantah pemimpin penculik yang bengis itu. Satu persatu, para anak buah itu melangkah pergi meninggalkan ruangan, membiarkan Xavier yang tak berdaya sendirian di tangan manusia yang berperan sebagai pencabut nyawanya.


Penculik itu menyeringai sambil menunduk menatap Xaver. Tangannya yang mencekik leher Xavier sama sekali tak mengendor, sama sekali tak peduli pada wajah Xavier yang membiru karena aliran udara yang terputus dengan paksa.


Lalu setelahnya, pemimpin penculik itu menyiksa Xavier dengan segala jenis siksaan yang mengerikan yang bisa dilakukan kepada seorang anak kecil tak berdaya, membuat Xavier yakin di titik terakhir dia kehilangan kesadaran…. bahwa setelah kegelapan menelannya, dia sudah pasti akan mati.


 


 




Terima kasih atas kesabaran penantiannya yang akhirnya berujung juga.


Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.

__ADS_1


Regards, AY



__ADS_2