
Pertanyaan itu mengambang di udara, dan Elana tertegun karenanya. Matanya bertemu dengan mata Akram, dan terpaku pada wajah lelaki di depannya ini yang tersenyum lembut kepadanya.
"Nikahilah aku, Elana. Jadilah istriku. Jadilah ibu dari anak-anakku. Aku mungkin tak mampu menjanjikan kebahagiaan sepanjang hidup ataupun memberikan seluruh isi dunia ini kepadamu. Tetapi aku berani menjanjikan bahwa aku akan menjadi suami yang setia. Diriku yang hanya untukmu, jiwa dan raga. Aku berjanji untuk berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita nanti,"
Kalimat Akram terdengar begitu tulus, pun dengan sinar matanya yang bersungguh-sungguh. Hal itu membuat dada Elana bergemuruh, lidahnya kelu tak mampu mengucap kata.
Tetapi, Akram memang tak menunggu Elana mengucap kata. Untuk saat ini, dia menggunakan kediaman Elana sebagai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, memupuskan keraguan Elana, sehingga ketika perempuan itu memberinya jawaban, Elana melakukannya dengan sepenuh hati dan tak akan menyesalinya.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, bukan? Meskipun kau belum yakin mengenai rasa cintamu kepadaku, cintaku kepadamu sudah cukup besar untuk menghidupi pernikahan kita," Akram mengecup jari Elana dengan ekspresi serius. "Aku tak pernah memiliki tekad sekuat ini untuk menikahi seorang wanita sebelumnya. Mungkin dulu aku pernah berniat melakukannya di masa muda, tetapi waktu itu aku masih labil dan belum dewasa. Sekarang, seluruh keputusanku sudah kupertimbangkan baik-baik...."
Akram menghentikan perkataannya, tubuhnya bergerak menjauh sedikit, menciptakan suara gemerisik yang memecah keheningan kamar perawatan itu. Lelaki itu ternyata menggerakkan tangan untuk merogoh ke sakunya. Dan ketika tangannya bergerak keluar dari sana, sebuah kotak kecil berwarna emas berkilauan tergenggam di tangannya.
"Aku sudah menyematkan cincin pertunangan untukmu, warisan dari ibuku yang dia bilang harus diberikan kepada cinta sejatiku," Akram mengambil tangan kiri Elana, tempat cincin permata itu masih tersemat di sana dan mengecupnya lembut. Tangannya lalu bergerak membuka kotak kecil di dalamnya dan menunjukkannya kepada Elana.
Mata Elana makin melebar ketika melihat sepasang cincin yang indah berkilauan di kotak itu. Satu berukuran besar dan polos tanpa hiasan, dan satu lagi berukuran lebih kecil, dengan mata berlian indah berwarna pink muda yang sangat cantik menghiasi di sana.
"Cincin ini kupesan di London sejak aku memutuskan untuk menikahimu beberapa waktu yang lalu. Mereka memasangkan batu berlian langka di cincin ini. The Vivid Pink, batu berlian ini hanya ada satu-satunya di dunia. Warna merah mudanya yang cantik merupakan jenis berlian yang sangat langka, dan hanya dapat ditemukan di tambang Koffefontein di Afrika Selatan," Akram membiarkan Elana menikmati keindahan cincin yang ditunjukkannya dan melanjutkan kalimatnya dengan senyuman.
Sepertinya dia berhasil memilihkan yang terbaik untuk perempuan ini. Sebelumnya, begitu banyak perhiasan mahal yang diberikannya untuk Elana, tetapi perempuan itu sama sekali tak pernah menunjukkan ketertarikan kepada benda-benda itu. Baru kali ini mata Elana melebar oleh binar keterpesonaan ketika melihat cincin kawin yang dipilihkan olehnya.
Cantik, bukan?" Akram mendekatkan kotak cincin itu ke pangkuan Elana. "Konon, warna merah muda yang cantik pada berlian ini merupakan hasil dari endapan mineral laut dan pecahan meteor yang pernah menabrak kawasan pesisir tenggara Afrika Selatan." Akram memgeluarkan cincin itu dari kotaknya dan mendekatkannya kepada Elana dan menunjukkannya pada perempuan itu. "Lihat, di bagian dalam cincin ini terukir namaku, begitupun sebaliknya di bagian dalam cincinku juga terukir namaku. Aku sudah memiliki ukuran jarimu dan kurasa ukuran cincin ini tepat, tapi alangkah baiknya jika kita mencoba memasangkannya...."
Tanpa menunggu izin Elana, Akram meraih tangan Elana dan memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanannya. Dan sama seperti cincin tunangannya di tangan kiri, cincin itu sangat pas, terpasang cantik di jarinya.
"Benar, kan. Sangat pas," Akram tampak puas. Lelaki itu lalu menggenggam tangan Elana erat. "Kalau kau menerima lamaranku, kita akan menentukan tanggal secepatnya, lalu aku akan meminta pengrajin perhiasan terbaik untuk menambahkan ukiran tanggal di bagian dalam cincin, jadi...,"
Suara isak tangis terdengar dari arah Elana, membuat Akram yang tadinya memfokuskan perhatiannya pada cincin itu langsung mendongakkan kepala dengan terkejut. "Elana? Kau kenapa?" tanyanya panik.
Suara isak Elana terdengar makin keras seolah-olah perempuan itu tak mampu menahannya lagi. Dia menarik tangannya dari gengaman Akram dan mempergunakannya untuk menutup wajahnya. Elana sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba dirinya ingin menangis keras-keras. Dadanya terasa sesak dan perasaan di dalam jiwanya bergolak seolah akan tumpah. Lalu, tanpa bisa ditahan air mata sudah tumpah ruah membanjiri matanya.
"Kau kenapa? Mana yang sakit? Apakah kau mual dan ingin muntah lagi?" suara Akram dipenuhi kecemasan ketika lelaki itu mencengkeram kedua sisi pundak Elana dan sedikit menjauhkan tubuh perempuan itu untuk memindainya.
Seketika Elana menggelengkan kepalanya. Dia lalu memberanikan diri untuk membuka kedua tangannya yang semula menutup wajahnya, menunjukkan wajahnya yang basah berurai air mata.
Kecemasan Akram langsung bertambah dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Elana benar-benar tengah menangis hebat... apakah perempuan itu kesakitan? Apakah bayinya...
"Aku akan memanggil peraawat..."
"Aku bersedia,"
Dua kalimat itu dilontarkan hampir berbarengan. Suara Elana lirih dan diucapkan dengan cepat serta tersamarkan oleh isak tangisnya. Tetapi, tentu saja Akram mendengarnya. Dan apa yang berhasil dicerna oleh otaknya itu membuat tubuhnya membeku sepenuhnya, bahkan tangannya yang hendak menekan tombol pemanggil perawat langsung kaku seolah tak bisa digerakkan.
Perlahan Akram menolehkan kepala hati-hati, matanya menatap sosok Elana yang masih terisak di depannya. Keningnya berkerut, sementara sinar mata Akram berpendar antara rasa bahagja dan rasa takut. Takut kalau dia tadi cuma salah dengar.
"Apa Elana? Bisakah kau mengulang kembali perkataanmu?" Akram memaksakan diri bertanya dengan suara parau, memaksakan jantungnya bersiap sedia untuk mendengarkan jawaban seburuk apapun dari Elana.
Bahkan jika dia hanya salah dengar dan ternyata Elana menolak lamarannya, dia sudah memutuskan tak akan menyerah.... Kalau begitu, kenapa jantungnya berdetak dengan demikian kencang, memukul-mukul rongga dadanya hingga terasa begitu sakit? Begitu takutkah dia akan penolakan perempuan ini?
"Aku bersedia," kali ini Elana tampaknya sudah bisa menguasai diri, isaknya sudah sedikit mereda, membuat Akram bisa mendengar perkataannya dengan sangat jelas.
"Kau bersedia apa, Elana? Katakan padaku dengan jelas," suara Akram berubah tegas ketika lelaki itu sepenuhnya melupakan tombol pemanggil perawat yang tadi hendak ditekannya dan mendekatkan tubuhnya ke arah Elana, pandangannya tampak tajam dan menuntut, sementara ekspresi wajahnya begitu kelam.
Kalau saja Elana tidak mengenal dekat Akram hingga di titik ini, dia mungkin akan lari terbirit-birit ketakutan menghadapi sikap Akram yang dominan dan begitu mengintimidasi. Tetapi saat ini, Elana jelas tahu kalau yang diinginkan Akram adalah kejelasan dan jawaban, karena itulah Elana akan memberikan apa yang diinginkan oleh Akram dengan sukarela.
"Ya, Akram. Aku bersedia menikah denganmu."
Apa yang diucapkan oleh Elana dengan suara bergetar dan diterpa isakan tangis yang mulai mengeras kembali itu adalah sebentuk janji. Sebentuk janji untuk mempercayai Akram dan memulai lembaran baru dalam kehidupannya bersama lelaki itu. Ikatan pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bentuk tanggung jawab bersama untuk saling memasrahkan dan menjaga hati satu sama lain dan berusaha untuk tidak menyakiti.
Dengan menjawab ya, berarti Elana telah bersedia memikul tanggung jawab itu, begitupun dengan Akram. Ini bukanlah keputusan mudah, tetapi hati Elana yang langsung terasa ringan setelah dia memberi jawaban 'Ya' kepada Akram, adalah petunjuk indah yang menandakan bahwa Elana telah mengambil keputusan yang benar.
Elana mendongakkan kepala untuk menatap Akram, tetapi tubuh mungilnya tiba-tiba telah disambar dan ditarik ke dalam pelukan lelaki itu secara tiba-tiba.
__ADS_1
Lengan Akram begitu kuat melingkari tubuhnya, sementara kepala lelaki itu menunduk ke arahnya, melabuhkan wajahnya untuk tenggelam di kelembutan rambut Elana yang lembut. Lalu, Elana merasakan tubuh Akram berguncang, pundak lelaki itu bergetar, membuat Elana terperangah dengan wajah tenggelam di dada lelaki itu.
"Terima kasih," Akram berbisik parau dengan suara bergetar. "Aku berjanji akan menjagamu dengan baik, Elana." suara Akram tenggelam, ditelan oleh isak yang bergulung mendaki ke pangkal tenggorokannya tetapi berhasil ditahan tepat pada waktunya sehingga tak terlepas dari bibirnya.
Akram menangis tanpa suara, sementara Elana, yang membalas pelukan Akram dengan melingkarkan tangan mungilnya di punggung kokoh lelaki itu, juga melakukan hal yang sama.
Dua insan yang mengikat janji itu, saling berpelukan dengan getar perasaan yang beresonasi pada frekuensi yang sama, menumpahkan rasa satu sama lain, dalam balutan kelegaan dan rasa bahagia.
***
***
"Apakah... apakah kau akan tidur di sini?" Elana berusaha melebarkan matanya yang berkabut karena mengantuk ke arah Akram.
Efek dari obat yang masuk ke tubuhnya rupanya mulai bereaksi, membuatnya menguap tanpa henti.
Ketika Akram akhinya berhasil menguasai luapan perasaannya dan melepaskan pelukannya dari Elana, lelaki itu membiarkan Elana merebahkan kepalanya di atas bantal dan berbaring, sementara dirinya masih duduk di tepi ranjang, menatap perempuannya dengan penuh kasih.
"Tentu saja aku akan menginap di sini. Sudah, jangan pikirkan apa-apa lagi, kau sekarang bersandar padaku dan aku yang akan mengurus semuanya untukmu. Tidurlah," bisik Akram lembut, membungkukkan tubuh untuk mengecup dahi Elana, lalu tangannya yang kokoh dan hangat mengusap rambut Elana dengan lembut, membuai perempuan itu dalam rasa nyaman yang semakin menenggelamkannya dalam pelukan kantuk yang semakin erat.
Akram terus mengusap rambut Elana dengan lembut, matanya mengawasi perempuan terkasih itu dengan rasa sayang, dan menunggu dengan sabar sampai perempuan itu memejamkan mata.
Bibir Akram mengurai senyum ketika mengingat kembali bagaimana Elana menerima lamarannya. Perempuan itu belum menyatakan cinta kepadanya dengan gamblang, tetapi Elana telah mengakui bahwa dia cemburu kepadanya.
Cemburu selalu disebabkan oleh rasa memiliki yang kuat. Dan jika Elana cemburu terhadapnya, itu berarti perempuan itu ingin memilikinya. Dan rasa ingin memiliki, entah itu pada benda atau pada manusia, hanya bisa muncul jika orang itu mencintai.
Itu berarti bahwa Elana tinggal diyakinkan sedikit lagi supaya perempuan itu mau mengakui cintanya kepada Akram.
Akram tahu bahwa dia harus sedikit menahan kesabarannya untuk memiliki perempuan itu. Sama sekali tidak disangkanya bahwa dirinya, seorang Akram Night yang biasanya akan menggilas segala sesuatu tanpa ampun ketika hal itu tak sesuai dengan keinginannya, bisa bertahan begitu lama dan bersabar hanya untuk seorang perempuan.
Tetapi itu sepadan, bukan? Mendapatkan cinta sejati sama sepadannya dengan berusaha melembutkan hati dan mengubah sikap buruknya hingga menjadi yang terbaik, demi orang yang dicintai. Bukankah itu makna cinta yang sebenarnya? Mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik?
Kakinya sudah hampir menjangkau lantai ketika kemudian dirasakannya tangan Elana mencengkeram ujung kemejanya, menceganya supaya tidak pergi.
Akram menolehkan kepala, dan matanya bertatapan dengan mata redup Elana yang masih berkabut diliputi oleh kantuk.
"Jangan pergi," bisik Elana perlahan, suaranya serak karena tadi sudah sempat jatuh di dalam tidurnya. Hanya saja, gerakan Akram yang meskipun telah dibuat sehati-hati mungkin, tetap saja membuatnya terjaga kembali.
Akram mengurai senyum. Lelaki itu melangkah turun dari ranjang, lalu berdiri di dekat kepala Elana dan membungkuk untuk menghadiahkan kecupan di dahinya. Hatinya senang karena Elana menginginkan kedekatan dengannya.
"Aku tidak akan pergi. Aku hanya akan tidur di sofa itu," ucap Akram perlahan, seperti berbisik kepada anak kecil yang merajuk.
Elana melirik ke arah sofa hitam besar yang terasa amat jauh darinya itu. Entah kenapa, setelah saat emosional yang mereka lalui bersama begitu Akram melamarnya tadi, Elana masih belum siap untuk melepaskan kedekatannya dengan Akram.
Mereka akan menikah. Seumur hidup akan menjalani masa bersama dalam ikatan sakral yang suci. Dan Elana, butuh memeluk Akram untuk memastikan bahwa semua ini nyata, bahwa dia telah mengambil keputusan yang sekiranya terbaik untuk jiwa dan juga raganya.
"Ranjang itu cukup besar... kau bisa tidur di sini kalau kau mau...." Elana menggeserkan tubuhnya ke sisi lain ranjang rumah sakit itu dan menawarkan.
Tawaran Elana yang tak disangka itu membuat Akram tertegun. Entah kenapa dalam satu hari ini, Elana tak henti-hentinya mengejutkan dirinya. Tetapi, keterkejutan yang diderita Akram saat ini adalah keterkejutan yang indah. Meskipun dia tahu bahwa tak mudah bagi Elana menawarkan tidur seranjang dengannya. Bisa dilihat dari pipi Elana yang merah padam, terlihat jelas meskipun kamar ini bernuansa remang dari lampu tidur yang menerangi di sisi ranjang.
"Ha... hanya tidur saja," sambung Elana cepat ketika dilihatnya Akram menatap tajam ke arahnya. Sungguh, Elana hanya ingin berpelukan saja tanpa ada muatan sensual di dalamnya. Dia tak ingin Akram salah tangkap dengan tawarannya.
Perkataan Elana itu membuat senyum ironi muncul di bibir Akram. Yah, sudah jelas bahwa tawaran Elana bukanlah tawaran yang bersifat godaan sensual. Akram tahu bahwa dirinya tak boleh terlalu berharap. Elana hanya menawarkan untuk tidur berpelukan di atas ranjang rumah sakit.
Bukan berarti kalau Elana menawarkan yang lebih, Akram akan tega mengambil kesempatan itu. Meskipun tubuhnya berteriak penuh hasrat, tetapi masih terngiang jelas di benak Akram bahwa dokter Nathan menyarankan kepadanga agar tak menyentuh Elana dulu sebelum kondisi janin dalam kandungannya kuat dan stabil.
Akram mungkin seorang laki-laki yang penuh hasrat dan biasanya akan mengambil apa yang dia mau dengan kejam, tetapi sebagai seorang calon ayah, tidak akan pernah dia dengan sengaja menyakiti calon anaknya yang saat ini sedang berusaha bertahan dan berkembang di dalam rahim Elana.
Mata Akram menyusuri ranjang rumah sakit tersebut dan menimbang-nimbang. Ranjang rumah sakit untuk pasien VVIP memang dibuat lebih besar dari ukuran biasanya demi kenyamanan pasien, bisa menampung tiga anak kecil berdampingan atau dua orang dewasa bersamaan.
Mungkin hanya Nathan yang akan berani mengomelinya besok ketika mendapatinya tidur di ranjang rumah sakit ini, sementara yang lain tak akan berani...
__ADS_1
Akram mengusap dahi Elana lembut, lalu menganggukkan kepalanya. Meskipun berpelukan dengan Elana mungkin akan menyiksa tubuhnya, tapi dia tahu bahwa hatinya akan tenteram.
"Baiklah, aku akan tidur memelukmu," ujarnya memutuskan dengan nada berbisik.
Setelahnya, lelaki itu naik ke atas ranjang, membentangkan lengannya ke samping supaya Elana bisa masuk ke dalam pelukan lengannya dan bersandar di dadanya. Dia memiringkan tubuhnya ke arah Elana dan Elana memiringkan tubuhnya ke arahnya. Keduanya saling bersandar satu sama lain, dengan lengan melingkari tubuh pasangannya, membiarkan kedekatan fisik itu mengirimkan kedamaian dalam jiwa dengan diiringi alunan keheningan yang terasa begitu sakral.
Tetapi, kedekatan itu bagaimanapun juga, membuat Elana menyadari betapa berhasratnya Akram terhadap dirinya. Karenanya, Elana mendongakkan kepala, lalu menatap Akram dengan pandangan meminta maaf.
"Maafkan aku... aku terlalu lemah untuk... untukmu saat ini," ucapnya dengan nada terbata.
Akram menundukkan kepala, memasang senyumnya kembali untuk menenangkan perempuan itu.
"Jangan pikirkan tubuhku, Elana. Tubuhku memiliki kemauan sendiri dan kadang aku tak bisa mengendalikannya," Akram menatap Elana dengan ironi bercampur aduk dengan binar bahagia. "Lagipula, aku masih memiliki pikiran waras. Aku tak akan menyakiti pasanganku yang sedang sakit, dan juga membayakan dirinya." sambungnya kemudian dengan nada misterius.
Pernyataan Akram itu membuat Elana mengerutkan kening dan menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu.
"Membahayakanku? Apa maksudmu?" tanyanya cepat. Seharian ini semua orang, bahkan dokter Nathan pun bersikap misterius mengenai penyakit apa yang sedang dideritanya. Mereka semua menghindar, melontarkan kata-kata penuh makna yang seolah-olah menutupi sesuatu.
Sekarang Akram bilang tidak akan membahayakannya... apakah itu berarti... kondisi penyakit Elana sangat parah?
Tanpa menyadari ketakutan yang berkecamuk di dalam hati Elana, Akram mengecup kembali dahi Elana dan memeluknya erat-erat.
"Karena kau sudah menerima lamaranku. Kurasa sudah waktunya untuk mengatakan ini," perlahan Akram menghela napas panjang, tangannya sendiri mempererat pelukannya ke tubuh Elana, seolah takut perempuan itu akan lari dan pergi setelah mendengar kalimatnya. "Elana, kau sedang mengandung anakku," sambungnya kemudian lambat-lambat, dengan nada berhati-hati
***
i
PENJELASAN SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN:
sistem vote menggunakan POIN baru bisa dilakukan di NOVELTOON, di MANGATOON belum bisa ( menggunakan POIN ya, bukan KOIN )
Jika kalian ingin memberikan dukungan dan menyumbangkan POIN ke author, boleh DOWNLOAD NOVELTOON lalu berikan VOTE dengan POIN di novel Essence Of The Darkness.
Setiap bulannya, 3 PENYUMBANG POIN terbanyak akan mendapatkan giveaway tumbler yang bisa dicustom tulisan nama kamu by request dan akan langsung dikirim ke alamat kamu masing-masing.
Pengumuman pemenang tiap awal bulan berikutnya.
ps : woles aja di sini nyantai baca, ngevote poin ga ngevote poin, cerita di sini insyaAllah akan tetap jalan sesuai jadwal
***
Lho kok masih ada lagi tulisan? Ahaha... baca ya, jangan dilewatkan, ini penting.
ini adalah JADWAL UPDATE dan perkiraan lolos review
( biar ga bolak balik nungguin, kasihan, menunggu itu membosankan ahahaha )
\=\=Hari ini ( JUMAT, 29 November), author sibuk kerja di RL, jadi mohon maklum kalau update 1 part saja ya ( mudah-mudahan lolos review JUMAT juga ya)\=\=
\=\=SABTU, 30 November author akan update 2 part ( biasanya SABTU masih bisa lolos review-doain)\=\=
\=\=MINGGU, 1 Desember author akan update 2 part ( upload hari minggu biasanya baru lolos review SENIN/SELASA )\=\=
***
__ADS_1