
“Kau menusuk Xavier Light?”
Suara Sabina terdengar keras di dalam kamar motel sederhana yang saat ini mereka tempati.
Sabina telah mengembalikan mobil pengangkut barang yang disewanya menggunakan nama palsu ke tempatnya. Dia juga membeli mobil lain di bawah tangan, jenis mobil ilegal tanpa surat yang tidak akan terlacak di database manapun.
Setelahnya, dia membawa Aaron mengendarai mobilnya ke arah luar kota dan memilih tempat persembunyian sementara di pinggiran kota ini dengan sangat cermat.
Kamar motel yang disewanya ini dimiliki oleh sepasang suami istri tua yang tak tahu cara menggunakan internet. Mereka hanya mengandalkan pengunjung yang melewati jalur perjalanan ke luar kota dan membutuhkan tempat untuk berteduh. Tidak ada teknologi terbaru di tempat ini, bahkan resepsionis dan bagian penerimaan motel ditangani oleh pemiliknya sendiri, dengan perhitungan dan nota manual tanpa komputer, begitupun kunci kamar yang masih menggunakan kunci asli, bukan kartu tap dengan chip khusus untuk membuka pintu.
Meskipun begitu, kamar motel ini cukup memadai untuk digunakan sebagai tempat berteduh dan bersembunyi. Kurangnya teknologi menjadi nilai lebih bagi Sabina, sebab hal itu membuat musuh-musuhnya tak akan bisa melacaknya. Ruangannya juga cukup luas dan lumayan bersih meskipun semua perabotan dan interiornya terlihat tua dan lapuk.
Aaron sedang mengoleskan obat ke luka-luka di tubuhnya, dan pertanyaan Sabina tentang tindakannya terhadap Xavier membuatnya gugup.
“A-ku harus melakukannya. Xavier hendak menyuntikku dengan racun. Jika aku tidak menggunakan pisau rahasia yang kau berikan di ponsel mini itu, maka saat ini aku pasti sudah mati.”
Jadi, keributan dengan helikopter itu rupaya berhubungan dengan Xavier…. Tetapi, bagaimana kondisi Xavier sekarang? Apakah lelaki itu luka parah? Atau jangan-jangan lelaki itu sudah mati?
Sabina mondar-mandir di dalam kamar sambil berpikir keras.
Kalau sampai Xavier mati, maka semua kerepotannya selama ini musnahlah sudah. Buat apa dia melakukan ini semua kalau ikan besar incarannya sudah tak ada lagi?
Belum lagi, dengan mengambil keputusan untuk menyelamatkan Aaron dari tawanan Xavier, dia jadi harus berurusan dengan Dimitri. Lelaki itu sudah memperingatkannya bahwa nyawanya bergantung pada Xavier. Dimitri sudah jelas-jelas bilang bilang kalau Xavier tak boleh mati sebab jika Xavier mati, maka Dimitri tidak akan mendapatkan penawar racun hingga akhirnya menyusul mati.
Jika Xavier sampai mati, Sabina yakin bahwa Dimitri tidak akan melepaskan Aaron sebagai pelaku yang dianggap merusak semuanya. Sabina sendiri yang telah sengaja melanggar perintah dengan menyelamatkan Aaron serta melibatkan diri dalam masalah ini, juga akan kena batunya.
Sialan. Tadi dia menyelamatkan Aaron tanpa pikir panjang karena didesak waktu. Kalau saja dia tahu bahwa Aaron telah menyerang dan mengancam nyawa Xavier yang beresiko menggagalkan semua rencananya, lebih baik dia biarkan saja Aaron mati membusuk di gudang itu.
Tetapi untuk saat ini, Sabina tahu bahwa dia tak bisa bertindak gegabah. Nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting sekarang adalah memastikan keadaan sebelum mengambil langkah. Sabina akhirnya memutuskan untuk mencari tahu lebih dulu kondisi Xavier, setelahnya, barulah dia akan memutuskan tindakan selanjutnya.
Dengan tatapan kejam penuh kemarahan kepada pria bodoh tak berguna di depannya, Sabina berucap kasar.
“Aku akan mencari info. Tapi ingat baik-baik, kalau Xavier ternyata mati, maka kau juga mati.”
***
“T-tentu saja.” Sera terbata, menyadari betapa tak sopannya dirinya dalam bertingkah.
Perkataan Dokter Nathan memang benar adanya. Meskipun pernikahannya dengan Xavier adalah pernikahan tanpa cinta, dilandasi paksaan dan diikat dengan dengan dendam kesumat dan kebencian, Xavier tetaplah suami Sera. Tidak etis jika Sera malahan menanyakan lelaki lain, padahal suaminya tengah terbaring dan terluka parah di atas ranjang rumah sakit.
Dengan cepat, Sera langsung berusaha menyingkirkan segala kecemasan dan keingintahuannya mengenai kondisi Aaron. Dia harus bisa memfokuskan diri kepada Xavier untuk saat ini.
“A-aku juga ingin tahu bagaimana kondisi Xavier.” Sera mengoreksi sikapnya dengan canggung, lalu terdiam untuk menunggu penjelasan dari Dokter Nathan.
Lelaki itu sendiri memasang ekspresi serius ketika memberikan penjelasan kepada Sera. Senyumnya menghilang dan Dokter Nathan tampak begitu tegang.
“Kondisi Xavier sangat parah. Penderita anemia aplastik selalu menderita kekurangan darah, bahkan meskipun Xavier menggunakan obat pribadi hasil penemuan dari laboratoriumnya sendiri yang memberikan efek baik sehingga tak membuatnya harus menjalani transfusi terus menerus. Obat itu memang efektif, tetap Xavier harus tetap melakukan segala prosedur untuk membuatnya tetap aman dan bertahan hidup. Tetapi sekarang, dengan kondisi darah minim seperti itu, Xavier malahan ditusuk begitu dalam dan menyebabkan pendarahan hebat di tubuhnya.” Dokter Nathan menatap Sera dengan berhati-hati. "Untuk saat ini, aku sengaja menjaga Xavier tetap berada di dalam kondisi koma supaya dia tak merasakan sakit."
Sera menghela napas panjang. “Aku… aku tak tahu bagaimana insiden itu bisa terjadi.” Dengan ragu, Sera menimbang-nimbang apakah Dokter Nathan bisa dipercaya untuk diajak berbagi informasi. tetapi kemudian dia mengambil keputusan untuk bercerita saja. “Semalam ada insiden menyangkut Aaron, tetapi kami berhasil mengatasinya dengan baik. Tadi pagi, Xavier masih ada di rumah, lalu tiba-tiba di pagi hari dia sudah menghilang. Aku benar-benar tak tahu kenapa Aaron bisa menusuk Xavier. Tetapi, menurutku, Aaron kemungkinan besar putus asa dan mencoba berbagai cara untuk melarikan diri dari Xavier, jadi dia melakukan penusukan itu….”
“Aaron sudah melarikan diri. Aku tidak tahu detailnya, tetapi Akram bilang bahwa Aaron bekerja sama dengan Sabina, anak buah dari Dimitri.” Mata Dokter Nathan menyipit dan menatap ke arah Sera dengan saksama. “Kadang, kau tak tahu warna diri seseorang dengan baik sebelum kau mengenalnya dengan sungguh-sungguh, Sera. Tentang Aaron ini, menurutku juga begitu. Dia belum menunjukkan dirinya yang asli kepadamu, jadi kau harus hati-hati.”
Dokter Nathan menghela napas panjang. “Sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa, karena segala sesuatunya sudah diambil alih oleh Akram. Akram akan melindungi Xavier dan menggilas siapapun yang dianggapnya menghalangi jalannya. Menurutku, sebaiknya kau berdoa bahwa Xavier tetap bertahan hidup. Sebab, nilai dirimu di mata Akram hanya demi menghormati kemauan Xavier. Satu-satunya alasan Akram tidak menyingkirkanmu saat ini adalah karena Xavier bersikeras memilihmu untuk mengandung anaknya demi sel punca tali pusat yang bisa menyelamatkan nyawa Xavier. Jadi, untuk saat ini, hanya Xavierlah yang bisa melindungimu.”
***
Sera mengenakan pakaian steril untuk bisa masuk ke ruang perawatan khusus itu. Dokter Nathan telah memberikannya izin untuk melihat kondisi Xavier secara langsung di dalam ruang steril ini.
Langkahnya tersendat, sedikit bingung. Ketika dia sudah sampai pada jarak sejangkauan tangan dari Xavier yang masih berbaring tak sadarkan diri, Sera langsung menghentikan langkah kakinya dan tertegun di sana. Matanya menyusuri sosok Xavier, memindai dengan hati-hati.
Saat ini, lelaki itu tampak sangat berbeda dari dirinya yang cerah ceria dan penuh senyum di saat sedang sehat.
Sekarang, Xavier terbaring tak sadarkan diri, dengan alat penunjang kehidupan terhubung di tubuhnya. Selang-selang itu tampak sangat mengerikan bagi Sera, membuat tubuh Xavier seolah-olah rapuh dan bergantung pada mesin dengan bunyi konstan menyeramkan itu.
Apakah lelaki ini selama ini memang begitu pucat? Ataukah Sera yang tak pernah memperhatikannya?
Sera akhirnya memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat. Ada kursi yang tersedia di samping ranjang, dan dia duduk di sana dengan tubuh kaku, mengamati dalam keheningan yang menyesakkan hati.
Matanya menyusuri diri Xavier dan entah kenapa ada rasa sedih tak terperi yang menggayuti ketika melihat mata lelaki itu terpejam lemah dengan masker oksigen tampak menutup sebagian besar wajahnya. Ada bebat tebal yang mengikat di bahu dan pasti juga membebat dadanya, mengintip sedikit dari selimut yang membungkus tubuhnya sampai ke bawah dagu. Dan hati Sera seolah diremas ketika sadar bahwa bebat itu membungkus luka tusukan di dada Xavier.
Lelaki di depannya ini selalu tampak ceria, kuat dan penuh percaya diri ketika berada di depannya. Xavier benar-benar memiliki penampilan seperti namanya. Light yang berarti cahaya. Seolah-olah ada cahaya berpendar yang menyelubunginya, menyilaukan mata siapapun yang melihatnya dan menimbulkan rasa iri bagi manusia-manusia tak berkilau seperti dirinya.
Tetapi, siapa yang menyangka bahwa di balik sinar berpendar itu, tersembunyi lapisan gelap yang begitu menyedihkan?
Xavier sakit. Sera tahu itu. Dia bahkan tahu bahwa Xavier menikahinya hanya untuk menyembuhkan diri. Karena lelaki itu mengincar sel punca dari tali pusat calon anak mereka.
Tetapi, mengetahui melalui perkataan sangat berbeda dengan melihatnya langsung.
Ketika menatap Xavier yang tampak begitu lemah saat ini, entah kenapa segala ketakutan dan kengerian yang menggayuti Sera akibat rasa trauma yang ditekannya kepadanya selama bertahun-tahun, seolah-olah memudar begitu saja.
__ADS_1
Sekarang di sini, di matanya, Xavier tampak seperti manusia biasa, bukan monster keji, bukan makhluk pembunuh yang tak punya hati, bukan psikopat dengan kapabilitas otak layaknya artificial intelligence dan bukan pula lelaki dengan penampilan fisik sempurna yang membuat siapapun iri.
Xavier tampak seperti manusia biasa, sama seperti dirinya.
Lelaki ini adalah suaminya yang kemungkinan telah menanamkan benih di tubuhnya. Jika yang dikatakan oleh Dokter Nathan benar adanya…. Lelaki ini adalah satu-satunya tempatnya berlindung.
Sera akhirnya mencondongkan tubuhnya ke tepi ranjang, menggunakan tangannya sebagai landasan guna menenggelamkan kepalanya di pinggir ranjang dan memejamkan mata.
Entah kenapa, untuk saat ini, batin Sera seolah bertentangan. Dia tak ingin Xavier mati.
Dengan penuh tekad, Sera mengangkat kepalanya lagi, lalu mengambil tangan Xavier yang lunglai dan menyandarkan pipinya di sana, tak bisa berkata, hanya memberikan sentuhan kulitnya untuk memberikan petunjuk kepada Xavier bahwa dia hadir di sini, mencoba memberikan dukungannya dalam senyap.
Sera kemudian memejamkan mata kembali, meresapi permukaan kulit telapak tangan Xavier yang terasa dingin dan menyejukkan di pipinya, lalu berusaha membuang segala gundah di hati.
***
Entah sudah berapa lama Xavier tenggelam ke dalam kegelapan yang sudah dikenalnya dengan akrab. Kegelapan itu selalu datang melindunginya di saat raganya sudah tak kuat lagi menanggung kesakitan yang mendera tubuhnya.
Sama seperti di waktu kecil dulu saat dia menderita oleh pukulan dan siksaan dari penculiknya, sama seperti ketika seluruh tubuhnya terasa sakit dan hancur dari dalam akibat penyakit yang dideritanya, kegelapan itu selalu menjadi tempat berlindungnya yang nyaman.
Di dalam kegelapan itu, Xavier bisa bergelung dengan nyaman, tidak merasakan sakit, tidak merasa khawatir, tidak mengingat apapun.
Dingin, sejuk, menyenangkan, terpejam selamanya….
Xavier ingin berada di tempat ini, ingin berakhir di sini tanpa batas waktu… terlindungi dan tidak merasakan apa-apa.
Seharusnya dia tetap pada rencana awalnya untuk mati dengan tenang. Kenapa dia malahan tergoda untuk bertahan hidup dan memperjuangkan nyawanya? Bukankah kegelapan yang sudah lama menunggu untuk memeluknya ini, adalah satu-satunya teman baiknya yang setia?
Tetapi kemudian, ada nuansa hangat yang lembut di telapak tangannya. Kehangatan itu seolah-olah memanggilnya, bagaikan setitik cahaya di lorong gelap yang memanggil-manggil dan menggodanya untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Dan Xavier tergoda.
Dia bangkit, lalu berjalan menuju kehangatan yang berhasil membujuknya.
***
Sera?
Setelah kesadarannya kembali, matanya langsung melihat sosok Sera yang duduk di kursi dekat ranjang perawatannya. Tubuh Sera condong ke depan dan kepala perempuan itu rebah di atas ranjang, dengan berbantalkan telapak tangannya. Mata Sera terpejam lelap dan helaan napasnya terembus dengan teratur.
Perempuan itu rupanya jatuh tertidur.
Kulit pipi Sera yang rebah di telapak tangannya terasa hangat, menyalurkan nuansa nyaman yang langsung mengaliri seluruh tubuhnya.
Jadi, kehangatan Sera kah yang memanggilnya kembali?
Xavier membuka mulutnya, hendak bersuara, tetapi tenggorokannya yang kering terasa sakit, membuatnya kesulitan mengeluarkan suara.
Ketika akhirnya berhasil memanggil nama perempuan itu, suara Xavier terdengar begitu parau dan tersendat sehingga nyaris mengerikan.
“Sera….”
Hanya mengeluarkan satu kata itu terasa menyulitkan untuknya. Lalu seolah itu belum cukup, rasa sakit langsung membanjiri dadanya ketika dia mencoba untuk menarik napas.
Kesadaran yang telah kembali utuh membangkitkan seluruh indra perasanya, termasuk kemampuannya untuk merasakan sakit. Dan ketika seluruh reseptor rasa sakitnya terbangunkan penuh, nyeri langsung menghujam di dadanya, membuatnya seluruh sel tubuhnya berteriak karena tak kuat menanggung sakitnya.
“Se… ra…”
Xavier berusaha membisikkan nama Sera lagi dengan susah payah. Tubuhnya yang lemah membuatnya tak mampu menggerakkan tangannya yang tertindih oleh pipi perempuan itu. Pada saat yang sama, seluruh tubuhnya memberi reaksi, dia mulai kesulitan bernapas, berbarengan dengan itu, tekanan darah dan detak jantungnya meningkat pesat akibat menahan rasa sakit yang amat sangat.
Alarm peringatan pada alat penunjang kehidupannya langsung beraksi, berbunyi ‘bib’ dengan nada tinggi, bunyinya terdengar beruntun, langsung memenuhi kamar.
Bunyi itulah yang membuat Sera terbangun dari lelap tidurnya. Matanya mengerjap, pertama-tama kebingungan, lalu ketika telinganya menangkap bunyi alarm yang berbunyi beruntun itu, dia langsung waspada dan menegakkan tubuh.
Pada saat itulah Sera langsung bertatapan dengan mata Xavier yang sedang menatapnya.
Mata Xavier tampak menyiratkan kesakitan yang dalam dan rasa sakit itu seakan menahannya sehingga Xavier seolah ingin mengucap kata, tetapi tak mampu melakukannya.
“Xavier?”
Sera terkesiap, berseru terkejut ketika melihat bahwa Xavier sudah sadarkan diri.
Tetapi… bunyi alarm itu…
Sera melirik ke arah alat penunjang kehidupan yang berbunyi keras dan menampilkan tanda peringatan berwarna merah yang berkedip cepat di sana.
Astaga. Kondisi Xavier…
__ADS_1
Sera tak sempat bereaksi karena tiba-tiba saja pintu terbuka lebar. Dokter Nathan berlari masuk dengan ekspresi khawatir dan beberapa perawat tampak mengikuti di belakangnya.Lelaki itu setengah menyingkirkan Sera dari tepi ranjang begitu melihat mata Xavier terbuka dan sudah sadarkan diri, membuat Sera terpaksa mundur beberapa langkah menjauh dari ranjang itu.
Dokter Nathan memeriksa dengan saksama, lalu memberikan instruksi penanganan untuk Xavier. Para perawat menyuntikkan obat ke infusnya, sementara yang lain bertindak cepat sesuai instruksi Dokter Nathan demi menstabilkan kembali kondisi Xavier.
Di antara semua kesibukan itu, Dokter Nathan masih sempat menolehkan kepala ke arah Sera dan menatapnya marah.
“Apa yang kau lakukan kepada Xavier? Kenapa kau membuatnya terbangun?” tanya Dokter Nathan dengan suara tinggi mengintimidasi. “Kau tahu, aku sengaja membuat Xavier dalam kondisi koma supaya dia tidak merasa sakit. Pisau itu menancap di area paru-parunya sehingga akan menyakiti Xavier bahkan ketika dia mencoba bernapas dengan normal. Seharusnya Xavier tidak boleh bangun!”
Sera tergeragap, didera rasa bersalah sekaligus kebingungan.
“T-tapi… aku tidak melakukan apa-apa….”
Sera hampir saja menangis, dadanya terasa sesak dan suaranya tertelan oleh isakan tak terkendali
“Dokter….”
Salah seorang perawat menarik kembali perhatian Dokter Nathan membuat lelaki itu mengerutkan kening dan menoleh sejenak. Ketika menatap kembali ke arah Sera, ekspresinya tampak tak bersahabat, seolah-olah ada tuduhan tersirat darinya bahwa Sera sengaja membuat Xavier celaka.
“Kami akan melakukan penanganan medis di sini. Kuharap kau bersedia keluar dulu dari sini.” Dokter Nathan memberi peringatan dengan nada dingin, lalu membalikkan tubuh dan menangani Sera lagi.
Pengusiran itu begitu nyata, menusuk Sera sampai ke jantungnya dan membuatnya tahu bahwa kehadirannya tak diharapkan di tempat ini.
Sera akhirnya melangkah mundur, sementara matanya masih terpaku ke arah sosok Xavier di atas ranjang yang hampir tak terlihat karena tertutup oleh para petugas medis yang sedang melakukan tindakan terhadapnya.
Sementara itu, suara alarm di mesin penunjang kehidupan yang terhubung ke tubuh Xavier terus berbunyi, menciptakan nuansa menyesakkan tak enak yang membuat Sera tiba-tiba merasa sesak.
Perempuan itu memaksakan diri, menyeret langkah kakinya keluar dari ruang perawatan tersebut. Tertatih dirinya menjauh dari pintu tertutup di belakangnya, lalu berjalan perlahan dengan menopangkan sebelah tangannya pada dinding rumah sakit.
Tetapi, baru beberapa langkah saja berjalan, Sera sudah tak tahan lagi. Kakinya seolah tak mampu menopang beban tubuhnya, lunglai begitu saja dan membuatnya jatuh terduduk di lantai rumah sakit, bersandar pada dinding lorong tanpa daya.
Kelebat ingatan tentang rasa sakit yang terpatri di mata Xavier tadi langsung muncul kembali dalam ingatannya, bergabung dengan ingatan bagaimana tim dokter berusaha menangani Xavier sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawanya.
Sera langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Rasa sesak di dadanya mencair menjadi buliran bening yang menderas tak terkendali dari sudut matanya. Dia menangis terisak-isak dengan histeris, membuat seluruh tubuhnya berguncang didera kepedihan hati.
Sepertinya, Sera memang ditakdirkan menjadi kesialan bagi semua orang.
Ibunya bahkan bilang bahwa saudari kembarnya kalah berebut makanan dengannya di dalam kandungan sehingga meninggal di kandungan. Lalu keluarganya hancur lebur, ayahnya invalid dan ibunya bunuh diri. Ketika keluarga Dawn mengambilnya pun, dia akhirnya menjadi pembawa kesialan dengan menyebabkan Xavier menghabisi mereka semua.
Dan Aaron… dan Xavier….
Seandainya saja Sera tak pernah ada di dunia ini, mungkin hidup orang-orang itu akan lebih baik.
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
AY
__ADS_1