Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 94 : Pertikaian


__ADS_3


"Jam kerja belum juga dimulai. Dan Elana adalah kekasihku, jadi di memiliki keistimewaan di sini." Akram menyahut dingin, menyipitkan mata dengan sikap siap menyerang.


Tetapi Xavier tidak terpancing, lelaki itu malah mengalihkan pandangannya ke arah Elana dan tersenyum lembut ke arah perempuan itu.


"Untuk hari ini kau akan belajar bersama Elios, meja kerjamu juga ada di dekat Elios. Aku sudah meminta bantuan kepada Elios supaya membagi ilmunya denganmu. Sebagai asistenku, kau akan belajar mengatur jadwalku dan...."


“Memangnya kau punya jadwal apa? Bukankah sehari-hari kau hanya mengurung diri di dalam rumahmu dan tak bertemu dengan siapapun? Tuan Xavier yang jenius biasanya hanya duduk di di belakang komputer setiap harianya dan tidak bergerak sama sekali. Kau pikir aku tidak tahu kegiatanmu? Dengan kegiatan seperti itu, apa yang perlu diatur dalam jadwalmu?” Akram menyela dengan sikap mengejek yang nyata, mengambil kesempatan untuk menyerang Xavier dengan telak.


Xavier masih tetap tersenyum, meskipun begitu tatapannya sedikit menajam ketika menatap ke arah Akram.


“Aku hanya duduk di belakang komputer setiap hari, tetapi aku bisa menghasilkan jutaan dolar setiap saat tanpa repot-repot,” dengan sikap sengaja Xavier mengedipkan mata ke arah Elana. “Mungkin kau bisa mempertimbangkanku untuk menjadi pasanganmu, Lana. Aku bisa bersamamu setiap saat dan tak akan pergi kemana-mana, kita bisa menghabiskan waktu berharga kita yang indah setiap saat. Aku akan ada di saat kau membuka mata di pagi hari, dan tetap akan menemanimu di malam hari saat kau menutup mata untuk beranjak tidur. Berbeda jika kau memutuskan bersama dengan Akram,” Xavier melemparkan tatapan meremehkan kepada Akram. “Dia lelaki yang sibuk dan dia gila kerja, dia akan bangun di pagi hari dan tiba di tempat kerja bahkan sebelum para karyawannya berdatangan, sepanjang hari dia akan sibuk oleh pertemuan bisnis dan meeting di sana-sini. Ketika malam pun masih ada jamuan makan malam formal yang harus dihadirinya. Waktu yang tersedia untukmu sedikit dan kau harus membagi dirinya dengan pekerjaanmu….”


“Aku bisa mengurangi jam kerjaku kalau itu untuk Elana,” Akram mengeratkan rangkulannya pada lengan Elana, memeluknya dengan sikap posesif. “Berhenti mengganggu calon istriku, Xavier!” serang Akram dengan marah.


Xavier memiringkan kepala dan mengerutkan kening. Matanya yang tajam mengawasi Elana dengan saksama.


“Calon istrimu? Apakah Lana sudah setuju dengan itu? Atau lagi-lagi itu adalah keputusan sepihak yang kau buat dengan menindas kebebasannya berpendapat?” ejeknya sinis.


Ekspresi Akram menggelap mendengar tebakan Xavier yang tepat sasaran itu. Memang, meskipun Akram memberikan kesempatan kepada Elana untuk menelaah perasaaanya selama sebulan ini, apapun jawaban Elana, tidak akan mengubah apa yang sudah diaturnya untuk perempuan itu. Sebulan lagi, dia akan menikahi Elana. Dan yang perlu dilakukan oleh Akram hanyalah memastikan bahwa perempuan ini akan jatuh cinta kepadanya dan bersedia menikahinya secara sukarela dalam jangka waktu tiga bulan ini.


Apakah itu bisa disebut dengan pemaksaan kehendak sepihak? Tidak juga, bukan? Akram sudah berbaik hati memberikan waktu satu bulan bagi Elana untuk jatuh cinta kepadanya. Itu adalah kemurahan hati yang tak akan diberikannya kepada wanita lain.


Kalau begitu, kenapa perkataan Xavier begitu menusuknya? Seolah-olah Akram kembali menjadi pemaksa yang menjebak Elana ke dalam perangkapnya dan menahannya di sana tanpa mau melepasnya?


Ketika Akram hendak membuka mulut untuk menyanggah perkataan Xavier, tiba-tiba denting lift terdengar di belakang mereka, membuat semuanya menolehkan kepala bersamaan ke arah sumber suara.


Mata ketiga orang itu langsung terpaku pada Elios yang baru saja melangkah keluar dari lift. Langkah Elios yang tadinya tenang langsung tersendat ketika menemukan dirinya tengah ditatap oleh tiga manusia yang tampak tegang seperti habis berbantahan kata.


Elios mengembuskan napas pendek-pendek dan menjaga supaya wajahnya tetap tanpa ekspresi. Sementara, jauh di dalam hatinya dia meringis berdarah-darah.


Dengan kehadiran Xavier, ditambah lagi dengan melibatkan Elana di sini, apakah suasana kantornya yang damai setiap hari akan berubah menjadi medan peperangan setiap saat?


Elana sendiri, yang melihat kehadiran Elios langsung menyadari bahwa ini adalah jalan keluar atas situasi pertarungan dua kakak beradik yang seolah tak akan berakhir itu. Dia langsung melepaskan diri dari Akram dan bergerak menyambut Elios di tempat kerjanya.


“Elios… mulai sekarang kita akan menjadi rekan. Mohon bantuannya, Saya akan belajar banyak dari Anda,” Elana baru menghentikan langkahnya ketika dia sudah berada di depan Elios, kepalanya mengangguk dengan hormat, menunjukkan ketulusannya dan tekadnya untuk belajar dengan benar.


Sekali lagi, Elios tampak mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, seolah ingin melindungi dirinya dari Elana. Lelaki itu sedikit menggelengkan kepala, sementara sudut matanya melirik hati-hati ke arah dua bersaudara mengerikan yang tampak mengawasi.


“Ti… tidak perlu terlalu formal Elana, tidak perlu memakai 'saya' dan 'anda' denganku. Dan juga, mulai sekarang panggil saja aku Elios, karena kita adalah rekan kerja yang akan banyak belajar bersama,” sahut Elios cepat, berusaha menetralkan keadaan.


Akram menyipitkan mata perlahan, tetapi akhirnya mengembuskan napas juga.


“Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan dan aku tak punya waktu untuk mengobrol santai denganmu,” dengan kasar Akram berucap ke arah Xavier, lalu melangkah melewati lelaki itu untuk langsung menuju ke ruangannya.


Ketika sampai di ambang pintu, tiba-tiba saja Akram menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke belakang. “Setelah kau selesai mengajari Elana, bawa berkas yang kuminta ke dalam ruanganku,” Akram mengucap perintah ke arah Elios, lalu mengalihkan pandangannya kepada Xavier. “Dan kau Xavier. Kau sudah menghabiskan begitu banyak uang pribadimu untuk merombak ruang kerjamu dalam semalam. Kurasa kau tidak hanya akan menggunakannya untuk tidur, bukan? Jika seorang Xavier Night yang katanya jenius ternyata tidak bisa memberikan kontribusi kepada perusahaan ini, sudah sepantasnya kau pulang saja sambil menutup wajahmu dengan penuh rasa malu,” cibirnya sinis.


Setelahnya, tanpa menunggu reaksi dari lawan bicaranya, Akram melangkah masuk ke dalam ruangannya dan setengah membanting pintu menutup di sana.

__ADS_1


Xavier tampak mengangkat bahu sambil memutar bola matanya dengan sikap konyol yang disengaja, dia lalu melempar senyum ke arah Elios dan Elana sebelum berucap dengan nada menggoda santai.


“Yah, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Belajarlah dari Elios, Lana. Nanti kita bahas pekerjaan yang lebih kompleks berikutnya. Untuk sekarang, aku akan tidur di dalam ruanganku seperti yang telah diduga oleh bos kita,” ujarnya tenang, lalu melangkah dengan sikap elegan melangkah ke ruangannya sendiri, dan menutup pintunya, sama seperti yang dilakukan oleh Akram.


***



***


Sudah hampir jam makan siang dan Elana menghabiskan waktunya bersama Elios. Banyak sekali yang dia pelajari dari Elios dari beberapa jam saja bersama, mengenai sistem pembuatan jadwal efektif, bagaimana mengarsip berkas secara hardcopy maupun digital, dan juga yang paling menarik adalah mempelajari tentang sistem komputer dari software khusus yang dibuat untuk mempermudah para asisten dan sekertaris dalam mengatur jadwal bos mereka.


Ajaibnya, sistem pengaturan jadwal itu terkoneksi secara online dan bisa disambungkan langsung ke ponsel. Elios telah membantu menginstal sistem itu di ponselnya, dan sekarang dia bisa melakukan pengaturan, editing sampai pencatatan baik dari ponselnya maupun melalui laptop kantor yang telah disediakan untuknya.


Dengan program itu, Elana bukan hanya bisa membuat pengaturan jadwal secara digital dan juga melakukan pengarsipan surat secara digital pula, dia juga bisa melakukan hal-hal lain yang ternyata juga dilakukan oleh seorang asisten pribadi seperti menyiapkan laporan, menyiapkan agenda rapat, menyiapkan pidato/pernyataan pimpinan, membuat ikhtisar dari berbagai berita dan karangan yang termuat dalam surat kabar, brosur, majalah dan berbagai macam media lain, yang ada kaitannya dengan kepentingan kantor atau perusahaan, bahkan juga mengkoreksi berbagai bahan cetakan, misal seperti: undangan, formulir, brosur serta daftar yang dikonsep oleh perusahaan.


Selama ini, Elana selalu mengira bahwa tugas seorang asisten pribadi hanyalah untuk menjawab telepon dan mengatur jadwal atasannya serta mengurus perkara arsip dan surat menyurat, ternyata pekerjaan asisten merangkap sekertaris pribadi lebih kompleks dari itu. Bisa dibilang bahwa segala hal yang berhubungan dengan bos mereka, harus bisa ditangani dengan efektif oleh sekertarisnya.


Untuk saat ini, seperti yang dibilang oleh Akram tadi pagi, jadwal Xavier memang kosong melompong tanpa isi. Lelaki itu juga mengatakan bahwa dia hanya akan tidur seharian ini.


Benarkah itu? Elana sendiri tak tahu jawabannya. Sampai tengah hari begini, dua pintu di depan mereka sama sekali tak terbuka dan tak ada yang berani mengusik dua orang mengerikan yang ada di ruang terpisah bersebelahan di dalam sana.


Elios melirik jam tangannya, lalu menatap Elana dengan canggung.


“Kurasa sudah waktunya makan siang. Kau mau makan…?” suara Elios terhenti ketika pintu ruangan tempat Akram berada terbuka tiba-tiba dan sosok itu muncul di ambang pintu.


“Elios pesankan makanan yang biasa,” dengan gaya arogannya yang khas, Akram memberi isyarat tangan ke arah Elana, menyuruhnya mendekat. “Kau makan siang bersamaku,” ucapnya memerintah layaknya seorang bos yang menyebalkan.


“Bawa tasmu. Kita makan siang di luar,” ucap Xavier tenang, lalu melangkah menuju lift tanpa menunggu jawaban dari Elana.


Sejenak Elana dan Elios sama-sama terpaku. Elana yang kebingungan dan Elios yang membeku dengan gagang telepon di tangannya.


Tetapi, tak butuh waktu lama bagi Elana untuk menyadari situasi, bagaimanapun juga, Xavier adalah bos langsungnya, jadi apapun yang diperintahkan oleh Xavier, dia harus mengikutinya.


“Ini jam istirahat. Kau tidak boleh membawa Elana keluar semaumu.”


Akramlah yang memecah keheningan canggung di antara mereka, membuat Xavier yang telah melangkah menuju lift langsung menghentikan dirinya. Lelaki itu membalikkan tubuh dan menunjukkan ponsel yang sejak tadi dibawanya.


“Lana akan makan siang denganku sekaligus menyelesaikan urusan pekerjaan,” Xavier menunjukkan ponsel di tangannya ke arah Akram. “Aku baru saja membuat janji temu makan siang dengan auditor eksternal yang menangani perusahaan ini selama bertahun-tahun. Ada keganjilan aneh yang kutemukan di laporan keuangan perusahaanmu. Begitu tipis sehingga auditor terbaikpun tak akan menyadarinya. Hanya orang yang sangat teliti sepertiku yang bisa,” Xavier tampak begitu percaya diri, mendongakkan dagunya dengan angkuh. “Kalau kau tidak percaya denganku, aku bisa menghubungi mereka dan mereka akan berbicara langsung denganmu. Bagaimanapun juga, dalam pertemuan bisnis itu, aku membutuhkan asistenku untuk mendampingiku,”


Perkataan Xavier yang telak membuat Akram tertegun. Dan sebelum Akram bisa berbicara apapun, Elanalah yang mengambil keputusan untuk semuanya. Dia tahu bahwa dia harus menghentikan percikan pertikaian yang bisa berubah menjadi perang berkepanjangan ini.


Dengan cepat Elana mengemasi tasnya, membawa apa yang perlu dibawa kemudian berdiri menghadap Akram.


“Aku…. Aku akan pergi,” ucap Elana dengan nada meminta maaf ke arah Akram. Dia masih sempat mengangguk untuk berpamitan kepada Akram dan Elios sebelum kemudian membalikkan tubuh dan melangkah mengikuti Xavier masuk ke dalam lift.


Mata Akram menggelap ketika menatap pintu lift yang tertutup rapat itu. Kedua tangannya terkepal seolah menahan emosi yang amat sangat. Dia pikir menempatkan Elana sebagai asisten Xavier adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Dia pikir dia bisa menahan semuanya, asal Elana berada lebih dekat dengannya di gedung perusahaan ini.


Tetapi sekarang, bukan hanya dia harus menahan rindu dari malam-malam kesepiannya tanpa Elana, dia juga harus kehilangan Elana di tempat kerja karena Xavier mencurinya?

__ADS_1


“Tuan Akram, bagaimana dengan pesanan makan siang anda?” Elios berucap pelan dan takut. Dirinya masih memegang gagang telepon itu di tangannya sementara dengan segenap keberaniannya dia mencoba mengalihkan perhatian Akram dari lift yang tentunya telah bergerak turun tersebut.


“Tidak perlu.” Akram menggeramkan jawabannya, lalu membalikkan tubuh dengan marah dan membanting pintu ruang kerjanya keras-keras.


***



***


"Pertemuan dengan auditor itu…. Diadakan dimana?” Elana yang berada di dalam lift hanya berdua saja dengan Xavier akhirnya mengalahkan rasa takutnya dan memenangkan rasa penasarannya dengan bertanya.


Sedari tadi Xavier hanya diam saja dan tidak memberikan petunjuk apapun menyangkut pertemuan mereka, padahal Elana telah mempelajari sedikit tadi bahwa sebelum atasan mereka melakukan pertemuan bisnis, dia harusnya yang mengatur reservasi restoran, persiapan bahan dan bahkan membuat janji dengan rekan bisnis.


Bagaimana bisa dia melewatkan itu semua? Pantaskah dia disebut seoranga asisten kalau begitu?


Xavier bersedekap. Lelaki itu seperti biasanya tampak luar biasa santai, bersandar di dinding lift dan mengangkat sebelah alisnya mengawasi Elana.


“Kenapa kau ingin tahu?” tanyanya perlahan.


Elana berdehem gugup, lalu menepuk tasnya dengan canggung.


“Aku tidak membawa apapun di sini. Bukankah seharusnya ada bahan yang harus disiapkan dan berbagai macam hal lainnya?” sahut Elana tak yakin.


Xavier terkekeh. “Tidak perlu, semua sudah tersimpan di sini. Kau akan merasa terkejut ketika mengetahui betapa semua yang sudah kuserap akan menempel di kepalaku dan tak mudah lepas sampai waktu yang lama,” Xavier menyentuh kepalanya dengan sikap bercanda. “Selain memiliki IQ di atas rata-rata, aku juga memiliki fotografik memori,” sahutnya dengan nada pahit.


Kata fotografik memori terdengar familiar bagi Elana. Karena Elana pernah melihat tentang fotografik memori itu di sebuah film yang pernah dia tonton. Ingatan manusia biasanya terbatas dan otak manusia menyesuaikan dengan kapabilitasnya. Untuk mengatasi kapasitas otak yang terbatas itu, maka otak akan memilah ingatan yang paling penting. Ingatan baru akan ditampilkan, ingatan lama akan disimpan dalam bentuk kenangan samar, beberapa dibuang, beberapa dipilah untuk dikeluarkan nanti di saat diperlukan. Itu sebabnya kadang kita tidak mengingat satu lagu selama sepuluh tahun, tetapi ketika tiba-tiba lagu itu diperdengarkan, kita ternyata masih menghapal liriknya dan bisa menyanyikannya.


Tetapi, berbeda dengan manusia yang memiliki kapabilitas tersebut, manusia semacam bisa mengingat dengan jelas apapun biarpun hanya sekilas pandang dan itu menempel dengan jelas tanpa ada kemungkinan samar sama sekali. Bisa dibilang ingatan itu menempel dan terpampang jelas sejak manusia memiliki kemampuan mengingat mungkin di usia sekitar dua tahun. Dia bisa membaca satu buku tebal hanya dengan membalik tiap halaman dan membaca kilat dan berakhir dengan kemampuan menghapal setiap patah katanya. Dia bisa menghapal setiap peristiwa dengan jelas dan bahkan menghapal setiap menit kejadian dengan terperinci tanpa terlewatkan.


Itu adalah suatu anugerah yang sangat luar biasa. Kenapa Xavier malah kelihatan sedih memilikinya?


Seolah bisa membaca apa yang ada dibenak Elana, Xavier menegakkan punggung, lalu memiringkan kepala sedikit sebelum berbicara.


“Memiliki ingatan yang sangat kuat memang suatu anugerah. Tetapi, yang mengerikan adalah bahwa kau tidak bisa melupakan semua kejadian, bahkan kejadian paling buruk dan mengerikan sekalipun,” sambungnya perlahan sambil menyipitkan mata seolah menahan sakit.


Elana langsung teringat kisah mengerikan yang menimpa Xavier dan bayangan kalau sebagai manusia, Xavier tiak bisa melupakan hal itu dan malah mengingat dengan jelas setiap periciannya terasa begitu mengerikan sekaligus menyedihkan. Ekspresi Elana berubah sedih ketika dia menatap Xavier dengan berhati-hati.


“Ma…maafkan aku…” ucapnya perlahan takut menyakiti.


Di luar dugaan, Xavier malahan tertawa, lelaki itu bergerak perlahan mendekati Elana dan menepuknya seolah menenangkan.


“Hei, tidak usah merasa bersalah. Apa yang ada di dalam kepalaku memang aneh dan aku sudah terbiasa dengan itu. Meskipun ada yang buruk dari kondisiku ini, tetap saja ada keuntungan yang bisa kuambil. Akram sendiri sudah bilang bukan? Aku hanya tinggal duduk berleha-leha dan uang datang kepadaku dengan muda. terima kasih pada kemampuan otakkku ini,” tepat pada saat Xavier menyelesaikan kalimatnya, pintu lift itu terbuka, dan lelaki itu langsung melangkah keluar diikuti oleh Elana.


************



__ADS_1



__ADS_2