
Ini adalah Part 3/10 ( di up author jumat pagi ) yang akan author post untuk crazy update secara bertahap di hari jumat dan sabtu.
Part 4/10 dan Part 5/10 baru akan di up jumat sore kemungkinan lolos reviewnya berbeda dengan part 1-3 ( bisa lebih malam, bisa juga keluar sabtu )
Author up sesuai jadwal, tetapi masalah LOLOS REVIEW kapan, tentu tergantung pihak admin MT yang menentukan, jadi jangan anggap author PHP ya, saat ini author bersungguh-sungguh memenuhi target up sesuai jadwal yaitu 10 PART BERTAHAP hari JUMAT dan SABTU
Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.
Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.
Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.
EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)
UNCENSORED VERSION EOTD in
***
***
Pertemuan kali ini hanya dihadiri oleh Credence, Xavier dan Akram sendiri dan jelas saja tidak ada Maya di antara mereka.
Akram menatap dua sosok di depannya dan merasakan seberkas rasa lega terselip di hatinya karena Credence telah melakukan tugasnya dengan baik dan mengusir Maya dari tempat ini. Dengan begitu, ketika Elana masuk bekerja lagi, dia akan tenang karena Elana tak akan muntah lagi akibat melihat tingkah Maya yang kurang ajar dan berusaha merayunya.
Tetapi, seperti yang telah dijanjikan oleh Akram sebelumnya, dia sudah pasti tak akan melepaskan Maya begitu saja. Sikap penghinaan Maya terhadap Akram yang dibangun berdasarkan asumsi hatinya yang kotor telah membuat Akram sangat marah. Belum lagi, pemikiran Maya yang merendahkan dan berbahaya itu bisa saja bocor keluar jika perempuan itu ternyata menyimpan sakit hati dan berusaha menjatuhkan Elana di kemudian hari nanti setelah dia mengumumkan Elana sebagai istrinya.
Bisa saja Maya mengumbar informasi salah untuk menjatuhkan nama Elana di muka publik nanti. Bagaimanapun, Maya masih harus diwaspadai, perempuan itu memiliki reputasi baik dan kejeniusan yang terkenal di dunia bisnis, para wartawan pasti akan menganggap semua keterangan yang dikeluarkannya berintegritas sehingga akan menelan informasi itu mentah-mentah.
Mereka sudah pasti akan lebih mempercayai mulut Maya daripada mempercayai Elana yang tak memiliki latar belakang kuat untuk melawannya.Karena itulah, jika dia tak bisa memastikan Maya menutup mulutnya yang kotor itu, maka alternatif lain adalah dengan menjatuhkan integritas Maya di muka publik sehingga tidak akan ada lagi yang mempercayai perempuan itu. Akram akan mendapatkan hal paling memalukan yang menjadi rahasia kotor Maya untuk diekspos di muka umum dan membuat nama baiknya tercoreng, dan sudah tentu dia akan menghancurkan seluruh latar belakang kuat Maya, termasuk di dalamnya orang tua, keluarga dan juga binis keluarga Maya yang sangat pesat.
Jika semua itu sudah dilakukan dan tak berhasil, maka cara terakhir yang bisa ditempuh adalah… melenyapkan Maya selama-lamanya.
“Aku senang kau menyingkirkan perempuan itu,” sebelum memulai pembahasan tentang bisnis, Akram memutuskan untuk menegur Credence. “Meskipun sejak awal, lebih baik jika kau tidak pernah membawanya kemari sama sekali. Itu menambahkan kerepotan untukku guna melenyapkan dan menghancurkannya. Padahal kau tahu, aku sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan,” cela Akram dengan sikap sinis.
Credence mengangkat bahu, menunjukkan sikap bersalah yang nyata dengan tulus.
“Maafkan aku. Aku sama sekali tak menyangka kalau situasinya jadi seperti ini. Aku menyangka kalau kau… masih lajang. Aku sama sekali tak menduga kalau kau punya pasangan serius. Karena itu, kupikir dengan membawa Maya kemari, seorang perempuan yang memujamu, itu akan sedikit menyenangkan dan bisa menjadi selingan untukmu.”
Perkataan Credence memang tak ada salahnya. Di waktu dulu, Akram dengan senang hati akan mengambil wanita-wanita berkelas dengan kecerdasan di suatu bidang atau dengan latas belakang keluarga yang kuat untuk menjadi kekasihnya. Tetapi, sekarang semuanya berbeda. Baginya saat ini hanya ada satu wanita, untuk sekarang dan seterusnya, hanya ada Elana.
Melihat Akram tak menjawab, Credence akhirnya memutuskan untuk berkata lagi, kali ini nadanya berhati-hati.
“Mengenai orang tua Maya, mereka orang baik, Akram. Aku harap, kau tak melibatkan mereka dalam hal ini.”
Tatapan mata Akram berubah tajam dan menusuk ke arah Credence. “Aku tak peduli. Jika memang salah satu cara menghukum Maya adalah melalui orang tua dan keluarganya, maka aku akan melakukannya,” sahutnya dengan nada kejam tak terperi.
Keheningan langsung membentang di antara mereka, jenis keheningan canggung yang tak mengenakkan. Karena itulah, Xavier langsung berinisiatif untuk memecahkan keheningan ini dengan bersuara.
“Kurasa kita bisa menunda pembahasan tentang Maya, karena anggap saja untuk sementara, dia sudah dibereskan,” Xavier berucap dengan nada misterius. Dan sebelum kalimat pertanyaan meluncur dari bibir Akram dan Credence, Xavier langsung melanjutkan kalimatnya dengan nada serius, mengalihkan topik sebagai isyarat bahwa dia benar-benar tak ingin membahas tentang Maya untuk saat ini. “Seluruh laporan pengumpulan bukti dan temuan dari Credence hampir lengkap. Sepertinya kita akan menyelesaikannya lebih cepat dari tenggat waktu.”
Akram menganggukkan kepala, mengikuti alur yang dibawa oleh Xavier dan menundukkan kepala sejenak untuk mempelajari berkas-berkas yang ditumpuk di depannya dengan sekilas pandang. Dia akan mempelajari dengan lebih saksama nanti, untuk sekarang, dia akan memusatkan perhatian pada bagian-bagian yang penting saja.
Kening Akram berkerut ketika memandang ke arah profil direktur keuangannya yang terpasang di sana, lengkap dengan foto dan biodatanya.
Edward Dawn adalah salah satu karyawan lamanya yang sangat dia percaya, lelaki tua itu bahkan memulai karirnya dengan menjadi pegawai magang saat ayah Akram masih hidup dan memimpin perusahaan ini. Karena itulah, Akram memberikan kepercayaan yang begitu besar kepada lelaki ini untuk memegang posisi paling krusial di perusahaan, menyangkut keuangan perusahaan.
__ADS_1
Tetapi, tak disangkanya, bahwa seluruh kepercayaan yang diberikannya kepada lelaki itu, terkhianati begitu saja dengan perilaku pencurian dana besar-besaran melalui kebocoran dana CSR dalam jumlah besar yang telah berlangsung lama tanpa terlacak.
Dengan menjadi Direktur Keuangan di perusahaan Akram, Edward memperoleh gaji luar biasa besar yang bisa membuatnya berfoya-foya setiap saat tanpa kekurangan. Tetapi, sifat serakah manusia ternyata memang susah disingkirkan meskipun manusia itu sudah berkecukupan. Edward ternyata tetap mengkhianatinya tak peduli besarnya kesejahteraan yang dihadiahkan Akram kepadanya.
“Apakah kau sudah menemukan apa yang membuat Edward mengkhianatiku?” tanya Akram dengan ekspresi gelap, dipenuhi kemarahan yang mulai tersulut di dalam jiwanya.
Credence saling bertukar pandang dengan Xavier, lalu akhirnya Credencelah yang memutuskan menjawab karena Xavier tampak hanya mengangkat bahu tak tak ada niat untuk mengatakan apapun.
“Kau tentu tahu kalau Edward memiliki sifat buruk yang susah dia hilangkan,” Credence berdehem dan memulai. Ketika dia menatap ke arah Akram dan Akram menganggukkan kepala tipis, Credence lalu melanjutkan. “Ya, dia sangat suka berjudi, dia menghabiskan banyak waktunya dengan bermain judi dan mempertaruhkan uangnya sesuka hati. Mungkin karena dia mendapatkan penghasilan yang banyak di perusahaan ini.”
“Aku tahu itu, Edward bahkan sering pergi ke Las Vegas untuk menghabiskan uang bonusnya di akhir pekan. Tetapi, selama ini, kulihat dia tak pernah berlebihan. Apakah maksudmu, Edward mencuri uang perusahaanku hanya untuk membiayai hobinya berjudi dan ternyata tak ada seorang pun di belakang dirinya?”
Credence menggelengkan kepala. “Masalahnya tak sesederhana itu,” Credence menegakkan duduknya untuk menunjukkan betapa seriusnya pembahasan mereka kali ini. “Beberapa bulan yang lalu, Edward mempertaruhkan seluruh hartanya di sebuah kelab judi di Rusia. Entah dia dicurangi atau dijebak, dia kehilangan segalanya. Istri dan anaknya menjadi sandera di sana. Itulah yang membuatnya terdorong dan berani mengkhianatimu dan menciptakan kebocoran keuangan di perusahaanmu.”
Mendengar nama negara Rusia di sebut, sudut mata Akram berkedut pertanda firasat buruk. Ekspresinya menggelap dan kemarahan langsung menyelimuti wajahnya. Dia benar-benar tak punya waktu untuk mengurusi musuh yang satu itu karena disibukkan dengan berbagai urusannya di sini. Tak disangkanya sikap penundaan memberikan hukuman itu memunculkan berbagai masalah baru yang seharusnya tak pernah terjadi.
“Ya, Akram,” Credence memberikan persetujuan, membenarkan firasat buruk Akram dengan pasti. “Itu adalah Dimitri lagi. Dia ada di belakang ini semua,” Credence berdehem kembali ketika melihat kemarahan luar biasa yang menggayuti wajah Akram. “Aku telah mendengar insiden yang melibatkan tentang Dimitri beberapa waktu yang lalu. Dan melihat hasrat Dimitri untuk menjadi nomor satu, aku menduga Dimitri memang memang telah mengincar Edward sejak lama, kurasa dia sedang mencari cara untuk merusak perusahaanmu dari dalam dan menghancurkanmu ketika dia kemudian menemukan keberadaan Elana dan memutuskan untuk menyerangmu secara frontal dan menculik Elana demi mendapatkan pabrik-pabrik dan pusat penelitian senjata itu.”
“Kurasa, sekarang Dimitri telah mengetahui bahwa perusahaan senjata yang kita berikan kepadanya tak ada artinya, karena temuan yang ada di sana adalah temuan ketinggalan jaman sementara temuan terbaru yang canggih sudah kita alihnamakan ke perusahaan lain,” kali ini Xavier yang menyambung pembicaraan. “Aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk melakukan pengawasan penuh terhadap Dimitri di sana. Dia pasti sedang kesal dan merencanakan pembalasan. Tetapi aku tahu dia sangat berhati-hati dalam bertindak setelah kegagalan tak terduganya yang terakhir kali. Jadi kupikir-pikir… daripada kita harus menunggu lama sampai Dimitri menyerang, kenapa kita tak memancingnya untuk datang kepada kita?”
Xavier menyeringai, sementara ekspresinya tampak mengerikan.
“Bisakah kau menjelaskan dengan lebih terperinci?” sinar tertarik yang jahat menyala di mata Akram ketika dia menanggapi perkataan Xavier.
Seringaian Xavier semakin lebar, menatap Akram dengan tatapan berkomplot. “Kurasa, kita bisa memanfaarkan Edward untuk memancing Dimitri jatuh ke tangan kita,” bisiknya kesenangan, dipenuhi hasrat haus darah yang mengerikan.
***
***
Sebuah kecupan lembut di dahinya membuat Elana terbangun dari tidur-tidur ayamnya siang itu.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Akram penuh sayang.
Elana melebarkan mata, tak bisa menyembunyikan senyumnya ketika menyadari bahwa Akram benar-benar ada di ruangan ini.
“Akram…” Elana melirik ke arah jendela kamar rumah sakit yang masih menampilkan sinar terang matahari. Sepertinya matahari masih terik di luar sana, menandakan bahwa siang hari masih terang benderang dan bahkan belum beranjak menuju sore. “Kenapa kau sudah ada di sini? Kau bilang kau punya pekerjaan….”
“Aku selesai lebih cepat,” Akram menghadiahkan kecupan lembut ke bibir Elana. “Jadi aku langsung kemari untuk menemuimu. Bagaimana makanmu? Kau menghabiskannya? Apakah kau muntah lagi?” tanyanya penuh perhatian.
Elana menggelengkan kepala. “Tidak, tidak lagi. Aku baik-baik saja hari ini.” Elana beranjak duduk dari posisinya berbaring di atas ranjang, dan membiarkan Akram yang sedang duduk di tepi ranjang membantunya dengan sikap berhati-hati.
Elana mengawasi wajah Akram, lalu dia tak bisa menahan diri untuk menyentuhkan jemarinya ke pipi Akram, mengusap mata lelaki itu perlahan.
“Kau… kau tampak kelelahan, apakah… apakah hari ini sangat sibuk?” tanyanya perlahan.
Akram menyeringai, senang menerima sentuhan Elana dan berntuk perhatiannya. Diraihnya tangan Elana yang menyentuhnya dan dikecupnya tangan itu dengan lembut.
“Aku menyelesaikan semuanya secepat mungkin supaya aku bisa segera ada di sini,” Akram menggigit ujung jari Elana dengan sikap menggoda, membuat pipi Elana segera merona merah dengan menggemaskan. “Tapi, ya, memang banyak yang terjadi hari ini,”
“Kau mau bercerita? Mungkin… mungkin aku sedikit bisa meringankan?” tawar Elana malu-malu.
Akram menggerakkan jarinya untuk menangkup wajah Elana, lalu menunduk dan menghadiahkan kecupan penuh kerinduan di bibir perempuan.
“Kau memang harus tahu. Aku mengusir Maya pergi hari ini,” jawabnya tanpa menutup-nutupi.
Pernyataan itu begitu mengejutkan hingga membuat Elana memundurkan kepalanya.
“Apa? Kenapa?” rasa bersalah langsung menggayuti ekspresi Elana. “Apakah… apakah itu karena diriku?”
Akram menggelengkan kepala, berusaha mengusir rasa bersalah di wajah Elana dengan cepat.
__ADS_1
“Bukan salahmu, tetapi salah Maya sendiri. Dia menghampiriku pagi ini hanya untuk memfitnahmu, mengatakan kalau kau berselingkuh dan bercumbu dengan Elios di ruang toilet perempuan kantor….,” Akram terkekeh sendiri ketika mengingat kelucuan ironis dari tuduhan Maya terhadap Elana. “Padahal, jelas-jelas aku pelakunya. Maya mungkin jenius tetapi hati kotornya telah meracuni otaknya sehingga dia tak bisa berpikir jernih, karena itulah aku mengusirnya pergi. Credence juga sepakat denganku, jadi dia memecat Maya seketika.”
“Astaga…. Semoga… semoga dia tak apa-apa,” ekspresi penyesalan yang tulus terlihat nyata di wajah Elana, membuat Akram langsung menghadapkan kembali perempuan itu ke arahnya supaya bisa menatap langsung matanya dengan jelas.
“Dia memfitnah dan menghinamu, tetapi kau malah menyesal untuknya? Tidakkah kau ingin aku membalas dendam dan menghancurkannya?” tanya Akram dengan sikap bingung.
Elana tersenyum mendengar perkataan Akram tersebut. “Bukankah sudah cukup hukuman yang kau berikan kepadanya?” ujarnya tulus, tak menyimpan dendam sama sekali.
Melihat itu semua, diam-diam Akram memutuskan untuk menyimpan rencana pembalasannya sendiri. Tidak apa jika Elana tak mengetahuinya, tetapi Akram tetap akan menghancurkan Maya sampai ke dasar. Siapapun yang berani menghina Elana, mereka akan mendapatkan hukuman besar yang akan membuat mereka jera bukan kepalang.
“Baiklah kalau itu maumu,” Akram tak memperpanjang pembahasan mereka, lalu menatap ke arah Elana dengan pandangan merayu. “Apakah kau senang?” bisiknya dengn nada rendah dan sesual.
Elana mengerutkan kening. “Senang karena apa?” tanyanya bingung.
Akram mendekatkan bibirnya ke bibir Elana dan mengecupnya dengan sikap menggoda.
“Karena sudah tak ada Maya di perusahaan lagi, jadi, kau tak perlu menahan rasa cemburu dan mual muntah karenanya,” bisiknya dalam senyum.
Wajah Elana langsung merah padam bukan kepalang, perempuan itu memundurkan wajahnya, menjauhi Akram dan mengalihkan tatapan untuk menyembunyikan rasa malunya.
“Aku… aku tak cemburu,” sahutnya menyangkal.
Akram terkekeh. “Oke, kau tak cemburu. Aku tak akan berdebat dengan perempuan hamil sebab aku tahu pepatah yang mengatakan kalau pendapat seorang perempuan itu selalu benar, ditambah lagi, jika perempuan itu sedang hamil, maka pendapatnya adalah absolut,” kekeh Akram sambil bercanda.
Sikap ceria Akram itu menular, membuat Elana tertawa dan tangannya sedikit memukul Akram untuk memperingatkannya.
Dua anak manusia itu tertawa bersama tanpa beban dalam kedekatan mereka, dan baru berhenti ketika tawa Akram tiba-tiba lenyap dan lelaki itu berubah menatapnya tajam.Elana mengerutkan kening bingung, menatap Akram dengan hati-hati.
“Kenapa?” tanyanya pelan ketika Akram tak mengatakan suatu apapun.
Akram menyeringai, ekspresinya tampak penuh ironi. “Kau begitu cantik ketika sedang tertawa seperti ini. Kurasa aku harus mandi air dingin segera,” jawabnya penuh arti.
Elana membutuhkan waktu beberapa lama untuk menyadari makna di balik kalimat Akram, tetapi kemudian, ketika dia melirik ke tubuh Akram yang berhasrat dan tampak jelas di matanya, wajahnya langsung merah padam karena malu tak terperi.
“Akram!” Elan setengah berseru dengan rasa malu. “Kau… kau sungguh tak tahu malu!” celanya cepat.
Akram tertawa. “Kenapa aku harus merasa malu di depan calon istriku? Lagipula, aku merasa bergairah kepada calon istriku sendiri, tak ada yang salah dari itu,” jawab Akram tanpa rasa berdosa.
Ketika Elana memalingkan muka dengan wajah merah padam, Akram malahan semakin terdorong untuk menggoda. Disentuhnya dagu Elana dan dihadapkannya perempuan itu kembali ke arahnya.
“Menurutmu, aku lebih baik memadamkan hasratku dengan mandi air dingin… atau kau membantuku dengan tindakan yang lain-lain yang sudah kau pelajari sebelumnya?” bisiknya dengan nada rendah menggoda.
“Akram!” sekali lagi Elana memanggil nama lelaki itu dengan sikap mencela, tetapi bukannya mundur, hal itu malahan membuat Akram tertawa.
Tubuh Akram semakin mendekat, sementara dirinya mengarahkan Elana ke tempatnya yang seharusnya dan bibirnya bergerak menciumi perempuan itu tanpa menerima penolakan.
“Kau bilang kau akan membantuku, jadi sebagai balas budi… aku akan membantumu… mengajarimu…” Akram berbisik di sela-sela ciumanya yang penuh hasrat.
“Akram…,” suara Elana melemah, mengandung kecemasan. “Nanti akan ada orang masuk…” sambungnya panik ketika ciuman Akram semakin dalam kepadanya.
“Tidak akan ada yang berani masuk,” Akram berbisik pelan di telinga Elana dan mengecupnya lembut, “Lagipula, aku sudah mengunci pintunya,” sambungnya penuh rayuan dan menguatkan tekadnya untuk bersungguh-sungguh mengajari Elana bagaimana cara melegakannya tanpa harus bercinta.
***
__ADS_1