
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Ya, betul. saya dokter Oberon.” Aaron memasang senyuman ramah yang sudah dilatihnya berkali-kali. “Terima kasih sudah mengingat saya,” tambahnya dengan sikap bersahabat, mengulurkan tangannya ke arah Sera.
Sera menengadah dan menatap ke arah sang dokter, lalu matanya beralih bingung ke arah tangan yang terulur ke arahnya itu.
Dia tidak tahu kenapa dokter Oberon tiba-tiba saja bersikap akrab kepadanya, mungkinkah karena dokter itu tahu bahwa dia adalah istri Xavier?
Namun, Sera adalah perempuan yang tahu tata krama. Akan sangat tidak sopan jika dia menggantung uluran tangan itu terlalu lama tanpa balasan.
Sera pun mengulurkan tangannya, membalas tangan dokter Oberon dan menjabatnya. Seketika itu juga, wajah Aaron menjadi cemerlang dan senyumannya melebar, lelaki itu meremas jari mungil di dalam genggamannya dengan lembut dan penuh kerinduan.
Serafina Moon. Aaron merapalkan nama perempuan itu berkali-kali di dalam hatinya. Dia sengaja memfokuskan tatapannya ke wajah Sera dan berusaha keras mengabaikan perut hamil Sera yang membuncit tempat dimana anak sialan dari Xavier Light bersemayam di sana.
Sabar. Aaron merapal mantra kepada dirinya sendiri. Begitu anak sialan itu dilahirkan dan terlepas dari perut Sera, maka perempuan indah di depannya ini akan menjadi miliknya. Dia hanya harus menunggu sedikit lagi.
Di sisi lain, Sera sedang melirik tangannya yang terus digenggam tanpa niat dilepaskan, perasaannya jadi tidak enak dan dia kebingungan ingin melepaskan diri.
“Itu… sepertinya itu bukan sapu tangan saya.” Sera melirik ke arah tangan lain dokter Oberon yang sedang menggenggam sapu tangan putih berbordir bunga biru indah tersebut dan memasang ekspresi menyesal. “Maaf, dokter. Sepertinya bukan saya yang menjatuhkannya.”
“Oh ya?” Anehnya sama sekali tak ada keterkejutan di mata dokter Oberon tersebut, seolah-olah lelaki itu sudah menduga perkataan Sera tersebut. “Kalau begitu, saya harus mencari siapa yang menjatuhkannya.” Sambil tersenyum dokter Oberon melepaskan pegangannya dari tangan Sera sementara tangannya yang lain memasukkan sapu tangan itu ke sakunya.
Sera menganggukkan kepala dan memasang senyuman formalnya yang biasa, dia hendak membalikkan kursi rodanya dan masuk ke dalam lift, tetapi sang dokter tampaknya belum juga ingin pergi, membuat Sera merasa serba salah.
Arron sibuk mengawasi dari sudut matanya bagaimana penjagaan ketat di sekeliling Sera sedang menanti dengan sikap tegang dan berhati-hati terhadap interaksi mereka.
Xavier sialan. Lelaki itu memberikan penjagaan begitu ketat di sekeliling Sera dengan pengawalan setara pengawalan untuk sepuluh orang kelas VIP.
Aaron tahu bahwa untuk saat ini, dia tidak mungkin berbuat apa-apa. Jika dia bertindak saat ini denga kekuatannya yang hanya seorang diri, itu sama saja dengan bunuh diri.
Tetapi, tentu saja dia tak bisa melepaskan kesempatan yang didapatnya untuk berinteraksi dengan Sera begitu saja. Jika dia membalikkan tubuh dan pergi, dia hanya akan menjadi salah satu bagian kecil dari selintas ingatan yang akan dilupakan oleh Sera.
Dia harus menanamkan ikatan akan untaian ingatan tentang dirinya di dalam kepala Sera.
“Saya ingin membicarakan tentang ayah Anda, ini hal yang cukup penting dan rahasia. Bolehkah Anda meminta sedikit privasi?” Aaron berjudi dalam hal ini, bisa saja dia langsung ditendang menjauh oleh para pengawal itu dan kenekatannya menarik perhatian Xavier sehingga menggagalkan seluruh penyamarannya. Namun, usaha ini patut untuk dicoba dan Aaron bersedia mengambil risikonya.
Sera tadinya sudah memalingkan kepala, tetapi begitu mendengar perkataan dokter Oberon, matanya melebar seketika.
“Anda tahu mengenai ayah saya?” tanyanya dengan suara terkejut.
Aaron memasang senyuman lembut penuh pengertian di bibirnya.
“Tentu saja saya tahu, saya adalah direktur keuangan di rumah sakit ini yang juga membawahi fasilitas kesehatan tempat ayah Anda dirawat. Saya rasa, saya memiliki informasi yang perlu Anda ketahui.” Aaron berucap perlahan dengan suara pelan, menjaga supaya ucapan dengan nada rendahnya hanya bisa didengar oleh Sera.
Sera tampak ragu untuk sejenak, tetapi dokter Oberon di hadapannya ini tampak begitu meyakinkan, apalagi mengingat kemarin sang dokter tampak begitu akrab dengan dokter Nathan.
Lelaki ini adalah salah satu direktur di rumah sakit milik Akram Night, dia tentu tidak akan memiliki niat buruk, bukan?
Sera memberi isyarat ke arah Derek supaya sedikit mundur menjauh untuk menjaga privasi percakapannya dengan dokter Oberon. Sejenak Derek tampak ragu, lelaki itu menyiratkan ketidaksetujuan di matanya, tetapi Sera menganggukkan kepalanya sedikit untuk meyakinkan.
Derek menarik napas panjang. Dia tahu bahwa tindakannya ini melanggar prosedur dan bisa menciptakan kemurkaan Xavier terhadapnya. Tetapi, dia juga ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh dokter Oberon itu terhadap nyonyanya. Tentu saja Derek tahu siapa dokter Oberon, karena itulah dia berpikir bahwa sang dokter dengan masa lalu kelam itu tidak berbahaya bagi Sera. Meskipun begitu, jika dia tidak memberi kesempatan bagi Nyonyanya itu untuk berbicara dengan sang dokter, dia tak akan bisa membaca apa yang diinginkan oleh dokter itu dengan mendekati Nyonyanya.
Derek memandang sekeliling dan memastikan seluruh penjagaan keamanan sudah bersiaga dan siap, dia lalu membentuk angka tiga dengan jarinya untuk mengisyaratkan hanya tiga menitlah waktu yang bisa dia berikan kepada Sera. Setelahnya, Derek melangkah mundur di posisi yang cukup untuk memberikan Sera privasi, tetapi tidak terlalu jauh sehingga bisa bergerak kapan saja jika diperlukan untuk melindungi Sera.
Sera menatap dokter Oberon kembali, ekspresinya dipenuhi rasa ingin tahu yang lembut.
“Apa yang ingin Anda katakan kepada saya, dokter?”
Dengan seringai tersembunyi Aaron langsung melemparkan senjata intinya dalam rangkaian kalimat yang sudah diperhitungkannya matang-matang.
“Saya hanya ingin mengatakan kalau saya ikut menyesal, Nyonya Light. Kanker stadium empat adalah sesuatu yang menyedihkan. Tetapi, setidaknya Anda masih memiliki sedikit kesempatan untuk bersama ayah Anda, bukan? Tuan Xavier juga telah berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan ayah Anda, meskipun saya rasa, menjadikan ayah Anda sebagai percobaan untuk obat kanker racikannya adalah sesuatu yang tidak etis dala dunia kedokteran.”
Mata Aaron menatap tajam ke arah mata Sera yang kebingungan dengan mengabaikan penjagaan ketat di sekeliling Sera, Aaron melangkah lebih dekat lagi dan berbisik perlahan supaya hanya Sera yang bisa mendengar perkataannya.
“Yah, meskipun sampai dengan saat ini efeknya masih belum terasa, bisa saja apa yang dilakukan oleh Tuan Xavier itu malah membahayakan ayah Anda dan memperpendek masa hidup beliau,” tambah Aaron dengan sengaja, menyembunyikan kilau licik di matanya.
Setelah berucap, sambil menatap ke arah wajah Sera yang memucat ketika mendengar kalimat yang diucapkannya, Aaron melangkah mundur dan menyambung kalimatnya lagi dengan nada bersungguh-sungguh.
“Saya mohon, jangan ungkapkan apa yang saya katakan ini kepada siapapun. Anda tentu tahu bagaimana suami Anda, jika sampai beliau tahu bahwa saya yang membocorkan ini, beliau sudah pasti akan membunuh saya. Saya mengatakan ini dengan niat baik, supaya Anda mendapatkan kebenaran mengenai kondisi ayah Anda yang sesungguhnya.” Aaron begitu lihai memainkan kata, membuat tatapan Sera terpaku ragu ke arahnya. Senyumnya tampak tulus, begitupun dengan sikap tubuhnya.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya tidak akan menahan Anda lebih lama lagi.” Aaron tahu bahwa para penjaga di belakang Sera sudah mulai gelisah, dia tahu sudah waktunya baginya untuk pergi.
Risiko yang diambilnya dengan mendekati Sera sangatlah besar. Para bodyguard yang sangat setia kepada Xavier layaknya anjing yang patuh itu pastilah melapor kepada atasan mereka mengenai insiden hari ini. Meskipun begitu, Aaron yakin dirinya pasti akan aman asalkan Sera tidak membuka mulutnya kepada Xavier dan menjelaskan secara terperinci apa yang dikatakan oleh Aaron kepadanya.
__ADS_1
Mata Aaron melirik ke arah wajah Sera yang pucat untuk mempelajari ekspresi wajahnya, dan bibirnya segera mengulas senyum ketika melihat bagaimana kalimat yang dilontarkannya itu telah menguasai pikiran Sera dengan telak.
Dugaannya tepat, meskipun pasangan ini bersikap mesra satu sama lain di depan umum, tetapi jalinan kepercayaan mereka satu sama lain belumlah kuat benar. Masih ada celah yang bisa digunakan oleh Aaron untuk menusuk tameng ikatan mereka dan meruntuhkannya.
Xavier sudah pernah menipu dan mengancam Sera, memaksakan kehendaknya dan juga memanfaatkan Sera sampai terdesak tanpa bisa menolak. Aaron tahu bahwa Sera tidak akan sebodoh itu dengan memberikan kepercayaannya kepada Xavier sepenuhnya.
Sambil menganggukkan kepala dan membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sikap santun, Aaron pun berpamitan untuk mengakhiri percakapannya dengan Sera dan membalikkan tubuh sebelum kemudian melangkah pergi menjauh.
Sera sendiri masih termenung sambil menatap ke arah punggung Aaron dengan wajah pucat dan tatapan kalut. Apa yang dikatakan oleh Aaron kepadanya itu terasa layaknya palu besi yang dihantamkan ke kepalanya.
Kanker stadium empat? Obat percobaan dari Xavier yang diaplikasikan kepada ayahnya tanpa didukung penelitian resmi? Kenapa Xavier tidak mengatakan apa-apa kepadanya?
***
Tangan kuat Derek memegang pegangan besi dari kursi roda Sera, sementara mata lelaki itu tampak cemas mengawasinya.
“Anda tidak apa-apa, Nyonya?”
Suara Derek terdengar khawatir, membuat Sera tergeragap dan tersentak dari lamunannya.
Dia segera menolehkan kepala ke arah Derek, membiarkan lelaki itu melihat senyum lemahnya yang cukup meyakinkan.
“Aku tidak apa-apa, Derek. Kita naik sekarang?” ucapnya perlahan, mencoba mengalihkan perhatian Derek dari apa yang terjadi baru saja.
Ketika Derek membawa kursi rodanya masuk ke dalam lift, Sera membuka mulutnya dan berucap dengan nada memohon.
“Tentang apa yang baru saja terjadi, tentang dokter Oberon yang mengajakku berbicara… bisakah kau memberi waktu bagiku untuk mengatakannya sendiri kepada Xavier? A… aku berjanji akan mengatakannya kepada Xavier. Tetapi, aku butuh waktu sejenak.” pintanya perlahan.
Derek mengerutkan keningnya.
“Anda tahu, sebagai anak buah Tuan Xavier yang setia, saya tidak boleh berahasia kepada Tuan Xavier,” jawabnya dengan lugas. “Apapun yang terjadi di sekitar Anda, saya harus melaporkannya terperinci kepada Tuan Xavier.” Mata Derek mengawasi ekspresi wajah Sera yang tampak pucat dan sedih, tanpa bisa dicegah hatinya langsung melembut seketika.
Nyonyanya ini adalah perempuan ajaib, meskipun penampilan fisiknya sekarang tampak lemah karena kehamilan kembarnya yang semakin besar seiring dengan dekatnya waktu kelahiran si kembar, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa nyonya Sera adalah perempuan hebat yang berhasil menundukkan Xavier Light yang kejam dan tidak manusiawi menjadi sosok yang berbeda.
Bisa dibilang, Serafina Moon adalah perempuan yang berhasil memanusiakan Xavier Light menjadi sosok yang lebih baik.
Sekarang tuannya itu tidak pernah sembarangan lagi membunuh orang. Tuannya lebih bersabar dan bersedia mempertimbangkan matang-matang terlebih dahulu sisi kemanusiaan dari mahluk lain sebelum memilih menumpahkan darah. Bahkan bisa dibilang, Xavier Light yang sekarang lebih terlihat seperti calon ayah dan seorang suami yang berbahagia dan bukan lagi seorang pembunuh kejam yang tak punya hati.
Saat ini, menatap wajah Sera yang kalut membuat Derek merasa tidak tega.
“Bagaimana kalau begini? Saya hanya akan mengatakan kepada Tuan Xavier bahwa dokter Oberon datang untuk menjangkau Anda serta berbicara kepada Anda secara pribadi, lalu Anda meminta saya mundur sehingga saya tidak bisa mendengar tentang apapun yang dikatakan oleh dokter Oberon kepada Anda?” tanyanya kemudian.
Wajah Sera tampak sedikit cerah mendengar tawaran Derek.
“Kau bisa melakukannya?” tanyanya dengan ekspresi tidak yakin.
Derek menganggukkan kepala.
“Saya akan jujur dan mengatakan bahwa saya tidak tahu apa yang dikatakan oleh dokter Oberon kepada Anda. Dan saya akan meminta Tuan Xavier menanyakan langsung kepada Anda. Itu cukup untuk memberi kesempatan kepada Anda berpikir sebelum mengatakan semuanya kepada Tuan Xavier, bukan?”
Sera menganggukkan kepala. Tangannya saling berjalinan menggenggam satu sama lain sebelum dia menganggukkan kepala.
“Ya, kurasa itu… akan cukup.” Sera akan menatap hatinya dulu, baru setelahnya dia meyiapkan diri untuk bertanya kepada Xavier dan menghadapi kenyataan.
Derek mengawasi ekspresi Sera dan tak bisa menahan diri untuk memberikan nasehatnya.
“Nyonya… Ketika tiba waktunya Anda berbicara dengan Tuan Xavier, saya mohon katakan yang sejujurnya. Saya yakin bahwa apapun yang dilakukan oleh Tuan Xavier, semua itu dilakukan demi kebaikan Anda.”
Ucapan Derek itu membuat Sera termenung, tak menyahuti lagi.
Ya, Sera setuju. Dia akan mengambil waktu sendiri untuk memikirkan perkataan dokter Oberon dalam keheningan, baru setelahnya dia akan memutuskan apakah dia bisa memantapkan hatinya untuk mempercayai Xavier atau tidak. Untuk sekarang, Sera akan memfokuskan diri pada kebahagiaan Elana setelah kelahiran anak keduanya yang menjadi permata hati mereka.
***
Xavier sudah menunggu di depan pintu lift dengan tidak sabar ketika mendengar bahwa Sera diantarkan ke rumah sakit ini. Ketika pintu lift khusus itu berdenting dan terbuka, tubuhnya langsung menegak dan langkahnya langsung bergerak mendekat ke arah lift.
Sera muncul di sana, kursi rodanya didorong oleh Derek keluar dari lift dan perempuan itu langsung tersenyum ketika melihat Xavier yang menyambutnya dengan tak sabar di depan pintu.
“Apa kabar, istriku?” Xavier berbisik lembut, membungkukkan tubuhnya di depan kursi roda Sera dan menghadiahkan ciuman hangat kepadanya, dengan tak tahu malu melakukan pamer kemesraan tanpa mempedulikan para bodyguard yang ada di sekeliling mereka.
Sera menengadah, memberikan senyuman manisnya kepada suaminya dan menjawab dengan nada bersemangat.
“Aku sehat, begitu pula si kembar.” Mata Sera berbinar penuh harap. “Bagaimana dengan Elana? Sudah bolehkah kita menengoknya?” tanyanya kemudian.
Xavier tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
“Dokter sudah menyelesaikan masa observasi dan Elana sudah boleh dijenguk. Dia sehat dan baik-baik saja, hanya sedikit sedih karena dia belum bisa memeluk anaknya yang masih harus berada di dalam inkubator untuk beberapa waktu ke depan.” Xavier bergerak ke belakang Sera dan mengambil alih kursi roda itu dari tangan Derek. “Sekarang kita akan menjenguk Elana terlebih dahulu, baru kita menjenguk bayi mereka.”
__ADS_1
***
“Menurutmu, nama yang mana yang paling bagus untuk anak kami?” Mata Elana berbinar penuh semangat ke arah Sera. Perempuan itu menerima kedatangan Sera dengan bahagia.
Bahkan dalam kondisinya yang baru saja selesai dioperasi caesar beberapa jam sebelumnya, Elana masih sempat-sempatnya mencemaskan kandungan Sera yang besar dan memikirkan perjalanan berisiko yang harus ditempuh oleh Sera dari rumah ke rumah sakit.
Mereka hanya berduaan di dalam kamar rumah sakit ini karena Xavier berhasil mengajak Akram yang sejak tadi terus duduk dengan setia di samping istrinya untuk pergi keluar bersamanya serta mengambil kesempatan untuk minum kopi dan sarapan. Dengan melakukan itu maka Xavier akan mendapatkan dua goal sekaligus, yaitu memaksa Akram beristirahat dan sarapan juga memberi kesempatan bagi Elana untuk mendapatkan waktu pribadi bersama Sera.
Xavier tahu bahwa percakapan hangat antara Sera dan Elana akan memberikan efek positif kepada Sera. Berbagi dengan seorang ibu yang sudah melahirkan dengan seorang anak yang menjadi permata dalam kehidupan mereka akan memberikan semangat bagi Sera dalam masa kehamilannya yang sudah mendekati ujungnya serta menmbantu menghilangkan berbagai kecemasan yang biasanya menggayuti para ibu hamil yang sudah hampir melahirkan.
Mata Sera mengamati dua nama indah yang tertulis di kertas tebal di tangan Elana. Dia menatap dua tulisan itu berganti-ganti di bawah pandangan penasaran Elana, lalu Sera menengadah, menatap ke arah Elana lagi dan mengangkat bahunya dengan putus asa.
“Aku tidak tahu,” ucapnya pasrah. “Kedua-duanya sama-sama indah.”
Elana terkekeh karenanya. “Ah, kau sama saja dengan Akram. Ketika aku bertanya nama apa yang akan dia pilih untuk anak kita, lelaki itu hanya menggenggam tanganku erat dengan mata berkaca-kaca, sambil menggumamkan kalimat yang sama berulang-ulang seperti merapal mantra.”
“Kalimat apa?” Sera bertanya penuh rasa ingin tahu.
Rona merah langsung merambati seluruh diri Elana, menyemukan seluruh permukaan kulitnya hingga merah padam.
“Akram bilang dia mencintaiku, dia berucap berulang-ulang seolah-olah hanya kosakata terbatas itu saja yang bisa dia ucapkan.” Elana menipiskan bibir tersipu bercampur bahagia. Matanya berbinar penuh cinta. “Aku tahu dia sering mengatakannya. Tetapi sekarang… dengan kehadiran anak kedua kami… tak kusangka dia masih tak tak tahu malu mengucapkan kalimat itu berulang-ulang di hadapan semua orang. Bahkan para dokter dan perawat yang kebetulan berada di ruangan yang sama pun memalingkan muka dan pura-pura tak mendengar ketika Akram bertingkah seperti orang hilang akal begitu.”
Sera terkekeh mendengar perkataa Elana, tawanya mengeras ketika membayangkan bagaimana malunya Elana ketika menerima perhatian dan luapan rasa cintanya kepada istrinya setelah menerima anak kedua mereka yang begitu cantik dan membahagiakan hati.
Pernikahan Akram dan Elana sudah berjalan lama, mereka juga telah menerima anak kedua mereka yang menjadi bintang di hati semua orang dengan segera. Tetapi sepertinya rasa cinta di antara keduanya masih begitu kuat, melekat erat satu sama lain dan tak pudar seiring berjalannya waktu.
Apakah Sera bisa mengharapkan hal yang sama dari hubungannya dengan Xavier? Akankah ikatan batin di antara mereka berdua bisa menjadi lebih erat setelah si kembar lahir? Akankah Xavier berhenti berahasia kepadanya dan mempercayainya sepenuhnya, begitupun sebaliknya Sera terhadap Xavier?
Tetapi, bisakah Sera mengharapkan itu semua jika ternyata apa yang dikatakan oleh Dokter Oberon itu benar adanya? Bagaimana jika ternyata selama ini Xavier berahasia kepadanya dan menyembunyikan kanker stadium akhir yang diidap oleh ayahnya, lalu tanpa izinnya menggunakan ayahnya sebagai kelinci percobaan untuk obat penyembuh kanker yang diraciknya tidak secara resmi?
Rasa sedih menggayuti hati Sera dengan segera ketika berbagai pertanyaan menakutkan menghantui jiwanya.
Kenapa Xavier masih saja berahasia kepadanya dan menyembunyikan hal yang begitu penting darinya? Jika dokter Oberon tidak datang dan mengungkapkan kenyataan itu kepadanya, apakah Xavier akan terus berahasia sampai akhir dan tidak mengungkapkan kebenaran penting itu kepada Sera?
Ekspresi melamun Sera membuat Elana tersenyum lembut, perempuan itu meraih tangan Sera dan menggenggamnya erat.
“Kau tahu, kelahiran seorang bayi akan melembutkan hati semua orang. Aku yakin jika si kembar lahir, hubungan kalian berdua akan terikat lebih erat satu sama lain.” Elana berucap seolah memahami peliknya hubungan antara Sera dengan Xavier, menatap ke arah Sera yang meragu. “Percayalah kepadaku, Sera. Semua akan baik-baik saja,” ucapnya dengan nada lembut meyakinkan.
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
__ADS_1
***
***