
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
Keheningan dalam penantian di dalam ruang operasi itu berlangsung khidmat dan dipenuhi keharuan yang senyap. Sepanjang prosesnya, Xavier terus menggenggam tangan Sera, mengajaknya berbicara dengan lembut untuk membicarakan mimpi-mimpi mereka tentang masa depan bersama anak-anak mereka.
Suara Xavier terdengar menenangkan dan penuh cinta, menghangatkan hati Sera dan membuat segala kecemasannya sirna. Mereka berdua, kedua pasang calon orang tua yang dilingkupi cinta dan tak sabar menanti itu seolah berada dalam dunia yang hanya diisi oleh mereka berdua, saling menguatkan, saling memandang penuh cinta dan saling berbisik mesra yang hanya bisa didengar oleh satu sama lain.
Dokter Nathan menyempatkan melirik ke arah dua makhluk itu dan memasang senyum tipis di bibirnya. Pasangan Xavier dan Sera jelas jauh berbeda dengan Akram dan Elana ketika menghadapi kelahiran anak mereka. Yah, Elana mungkin cukup tenang, namun Akram jauh lebih buruk dibandingkan Xavier. Ketika lelaki itu menunggui Elana melahirkan, Akram sibuk mengumpat, merongrong para petugas medis dengan berbagai pertanyaan dan kadang melampiaskan rasa frustasinya dengan helaan napas tanpa henti seolah-olah menunggui istrinya melahirkan membuatnya ketakutan amat sangat hingga hampir meledak karena tidak bisa menahan emosinya.
Xavier sendiri, jauh lebih tenang jika melihat bahwa ini adalah saat pertamanya mendampingi istrinya melahirkan. Lelaki itu menghibur istrinya, memberinya semangat padahal dokter Nathan tahu bahwa Xavier juga ketakutan setengah mati.
Satu bayi sudah disentuh di tangannya, diangkatnya perlahan dengan hati-hati dan diserahkannya kepada petugas medis yang lain. Mereka segera menjalankan prosedur medis yang diperlukan dan dalam sekejap, suara tangis yang sangat kencang terdengar membahana, memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya tanpa kecuali.
Pandangan mata Sera dan Xavier saling berpadu dalam keterkejutan. Kepala mereka berdua pun menoleh bersamaan ke arah sumber suara itu.
Dalam posisinya, Sera yang pandangannya terhalang oleh layar pembatas kain tebal di bawah dagunya, kesulitan untuk melihat pemandangan di sekitarnya. Namun, berbeda dengan Xavier, matanya langsung tertuju pada sosok mungil yang sedang ditangani oleh petugas perawat itu.
Mereka melakukan observasi dan pemeriksaan terhadap bayi mungil itu, membersihkannya sebelum kemudian membungkusnya dengan kain halus berwarna putih bersih yang telah disiapkan. Sepanjang proses penanganan awal dari bayi yang baru lahir itu, suara tangisan keras terus membahana memenuhi ruang operasi itu.
Suara tangisan itu terdengar seperti lantunan musik syahdu yang mendorong luapan emosional asing meluapi seluruh rongga dada Xavier. Matanya mengikuti seluruh pergerakan tenaga medis yang sedang menangani bayi itu dan terpaku di sana tanpa bisa melepaskan diri hingga butuh beberapa guncangan dari jemari Sera untuk mengalihkan perhatian Xavier kembali kepadanya.
“Apakah… apakah dia baik-baik saja?”
Suara Sera yang lemah dan bertanya penuh ingin tahu itu membuat Xavier kembali memusatkan perhatiannya kepada istrinya.
Kecemasan tampak memenuhi mata Sera karena meskipun bisa mendengar suara tangis membahana dari bayinya, dia tidak bisa melihat bayinya karena pandangannya tertutupi oleh layar lebar yang terbentang di bawah dagunya. Hal itu membuat Xavier tersenyum menenangkan dan dengan penuh pengertian langsung menghadiahkan kecupan lembut di jemari Sera.
“Anak kita baik-baik saja. Dia… sangat cantik,” Xavier memang belum melihat anaknya dari dekat, tapi dia tahu bahwa anaknya sangat cantik, sehat dan tak kekurangan suatu apapun.
Tak perlu menunggu lama untuk mendera kedua orang tua itu dalam ketidaksabaran, perawat yang telah menyelesaikan tugasnya bergerak membawa bayi mungil itu mendekat, bersiap mempertemukan pertama kali antara sang ibu dengan sang bayi, untuk memperkuat ikatan antara ibu dan anak demi kemudahan proses menyusui nanti.
Xavier memiringkan tubuh ketika perawat itu mendekat. Sama seperti Sera, matanya terpaku pada sosok bayi mungil yang dibungkus dengan kain putih itu, menatap lekat seolah tak bisa mengalihkan pandangannya atas keajaiban mungil tersebut.
Kedua orang tua baru itu langsung terpesona, seolah tersihir dengan kehadiran makhluk baru yang merupakan buah cinta mereka. Anak itu dilahirkan dengan benih Xavier yang bersatu dengan Sera, mewujudkan bayi cantik yang secara ajaib dikeluarkan dari perut Sera.
Ukuran bayi itu sangatlah kecil, lebih kecil dari yang diperkirakan oleh Xavier. Mungkin karena kenyataan bahwa bayi mereka adalah bayi kembar yang memang biasanya memiliki berat tubuh lebih ringan daripada bayi normal biasa, ditambah lagi bayi itu dilahirkan sebulan lebih cepat daripada seharusnya. Namun, perawat yang memegang bayi itu telah memberitahukan kondisi bayi yang stabil dalam kalimat lembut menenangkan. Dia mengatakan bahwa bayi itu sempurna dan sehat, tidak ada masalah dengan paru-parunya, karena itulah perawat itu memberikan waktu sejenak bagi bayi itu untuk melakukan inisiasi menyusui dini demi memperkuat ikatan antara ibu dan anak dan mempermudah proses menyusui nanti di kemudian hari.
Setelah proses IMD ini selesai, barulah perawat itu akan segera menyerahkan bayi tersebut ke NICU supaya sang bayi masuk ke dalam inkubator dengan status observasi dan mendapatkan perawatan intensif sampai kondisi tubuhnya dinyatakan stabil dan berkembang dengan baik tanpa adanya gangguan kesehatan.
Perawat itu dengan lembut meletakkan bayi mungil itu di pelukan Sera, di dekat dadanya yang selimutnya telah disingkap oleh perawat itu setelah meminta izinnya. Mata Xavier dan Sera terpaku kepada bayinya yang secara alami bergerak menikmati kehangatan tubuh ibunya. Mata bayi itu masih terpejam, tetapi mulutnya terbuka secara refleks, menguarkan isakan tangis yang meskipun sudah tak sekeras sebelumnya, tapi masih terdengar mendominasi ruangan.
Xavier dan Sera menunggu dengan harap-harap cemas, dipenuhi dengan hati yang meluap-luap oleh rasa haru dan bahagia ketika menanti mulut anak itu yang terbuka, bergeser mencari-cari secara alami pucuk payudara ibunya. Mata bayi itu terpejam, namun naluri sang anak untuk menyusu sepertinya telah membimbingnya hingga mulutnya yang terbuka akhirnya menangkup di sana dan melakukan isapan pertamanya. Suara isak tangis yang tadi terdengar langsung terhenti ketika bayi mungil yang sangat cantik itu mulai menyusu kepada ibunya.
Sera terkesiap ketika sensasi menghangatkan hati yang langsung menyergapnya di detik pertama dia menyusui langsung menguasainya, begitupun Xavier yang mendapatkan kesempatan untuk melihat keajaiban indah itu dengan mata kepalanya sendiri.
Mata mereka melebar dipenuhi dengan keterpanaan dan ketakjuban yang menyesakkan dada dikuasai oleh sihir penuh cinta saat memandang anak mereka yang bergerak berdasarkan nalurinya untuk mempertahankan hidup itu.
Anak mereka, buah cinta mereka telah menyusu pertama kali kepada ibunya.
Sera tak bisa menahan air matanya yang menderas, dia terisak, dipenuhi oleh emosi yang meluap, membuat dadanya sesak dipenuhi oleh kebahagiaan yang tak terperi. Mata Sera beralih ke arah Xavier dan senyumnya melebar ketika dilihatnya, mata suaminya basah oleh air mata yang sama. Lelaki itu bertingkah sama seperti dirinya, tertawa sekaligus menangis keras-keras pada saat yang bersamaan.
Xavier tidak bisa berkata-kata, suaranya tersekat oleh haru dan tangisan yang menyesakkan dada. Namun, matanya menyiratkan rasa terima kasih yang teramat dalam, dia membuka mulutnya untuk bersuara, bersusah payah melakukannya.
“Terima kasih,” ketika akhirnya berhasil melontarkan kalimat dari tenggorokannya, suara Xavier pecah dan dadanya naik turun dalam helaan napas panjang ketika lelaki itu berusaha mengendalikan perasaannya. “Terima kasih, Sera.”
Sera menganggukkan kepala, mulutnya terbuka untuk menjawab pertanyaan lelaki itu. Namun, tiba-tiba saja, suaranya terhenti ketika tiba-tiba saja terdengar tangisan yang berbeda membahana kembali di ruangan, begitu kerasnya hingga memekakkan telinga.
__ADS_1
Perhatian mereka kembali teralihkan, pada bayi kedua yang menyusul kakaknya dengan tangisan yang tak kalah kerasnya kemudian.
Dada Xavier langsung mengembang oleh kebahagiaan yang tak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
Dua keajaiban miliknya telah terlahirkan ke dunia.
***
Xavier berdiri terpaku di depan kaca besar yang menampilkan pemandangan ruang NICU dengan inkubator yang berjajar rapi di sana. Dua inkubator untuk kedua bayinya telah ditempatkan di sana, dan mata Xavier terpaku menatap pada dua keajaiban yang tampak tertidur lelap dalam lindungan suhu yang terjaga di dalam inkubator itu.
Operasi caesar itu telah berjalan dengan lancar. Kondisi Sera stabil, begitupun bayi mereka yang cukup kuat meskipun dilahirkan lebih cepat daripada seharusnya dengan berat badan yang sangat ringan pula.
Setelah segala prosedur operasi caesar diselesaikan, Xavier masih menunggui Sera selama beberapa lama di ruang observasi dahulu sebelum kemudian dokter memutuskan bahwa kondisi Sera sudah stabil dan perempuan itu boleh dibawa kembali ke kamar perawatannya.
Bagian bawah tubuh Sera masih kebas dan belum bisa merasakan apapun, karena itulah Sera masih tak bisa menggerakkan area bawah tubuhnya sesuai kemauannya. Kondisi itu membuat Sera membutuhkan bantuan perawat untuk menggeser tubuhnya dari ranjang dorong hingga bisa berbaring nyaman di atas ranjang perawatan rumah sakit.
Perawat yang mengantar Sera mengatakan bahwa perlahan-lahan rasa kebas itu akan hilang dan Sera bisa menggerakkan kakinya lagi. Dia juga mengatakan supaya Sera menggunakan waktunya untuk tidur dan beristirahat untuk semakin cepat memulihkan kondisinya.
Entah karena obat penghilang sakit yang diinfuskan kepadanya, entah karena Sera kelelahan dalam prosesnya melahirkan, perempuan itu langsung jatuh tertidur dengan lelap yang sangat nyenyak.
Pada saat itulah, Xavier mencuri waktu untuk melihat anaknya yang masih harus terpisah dari mereka karena menjalani perawatan intensif di ruang NICU.
Ketika matanya terpaku kepada dua bayi mungilnya itulah, Xavier bisa memahami betapa frustasinya Akram ketika lelaki itu tak bisa memeluk dan menggendong anaknya dengan bebas. Saat ini dia merasakan frustasi yang sama, dia ingin memeluk dan menciumi kedua bayinya, tapi dia tidak bisa melakukannya.
Di ruang operasi tadi, sebagai seorang ayah, Xavier mendapatkan kesempatan untuk menggendong dan menyentuh anaknya sejenak sebelum petugas dari NICU mengambil mereka. Pada saat itu, Xavier bisa menyentuh jari jemari mungil anaknya dan mengusapkan ujung jarinya di permukaan pipi lembut anaknya yang meskipun kulitnya masih keriput khas bayi prematur, tetapi tetap saja tampak luar biasa cantik di matanya.
Jangankan bagi Sera yang menjalani inisiasi menyusui dini untuk memperkuat ikatan antara ibu dengan bayinya. Xavier yang baru menggendong kedua bayinya tak sampai lima menit saja, merasakan ikatan yang sangat kuat pada dua keajaiban yang saat ini terlelap di hadapannya.
Dua keajaiban tak tergantikan, dua putri cantiknya yang luar biasa, darah dagingnya, keturunannya, keluarganya.
Rasa haru kembali memenuhi hati Xavier, membuatnya harus sekuat tenaga menahan air matanya yang membasah. Dia tersenyum penuh ironi ketika menyadari bahwa dibalik sikap kejam dan kuat yang selama ini ditampilkannya, dirinya ternyata memiliki kelembutan tersembunyi yang tak disadari keberadaannya sebelum dirinya bertemu dengan Sera. Kelembutan yang tersembunyi itulah yang membuat hatinya seolah mudah meleleh dan mencair jika menyangkut Sera dan dua putri kecilnya.
Xavier menyentuhkan tangannya di kaca pembatas itu dan mendekatkan wajahnya seolah hal itu membuatnya bisa melihat anaknya lebih dekat.
“Mereka akan baik-baik saja.”
Suara dokter Nathan yang terdengar di belakangnya membuat Xavier menolehkan kepala.
“Apakah kau sudah melakukan pemeriksaan lengkap?” Xavier bertanya kembali, berusaha meyakinkan hatinya supaya mendapatkan ketenangan.
Dokter Nathan menganggukkan kepala.
“Bayi-bayi prematur yang dilahirkan di usia kehamilan dua puluh delapan sampai dengan tiga puluh dua minggu, memiliki kesempatan besar untuk tumbuh sehat tanpa ada masalah. Setelah sebulan dalam perawatan intensif, kondisinya akan membaik dan risiko gangguan kesehatannya akan semakin rendah. Kami akan terus melakukan pemantauan dan perawatan intensif hingga bayi-bayimu bisa keluar dari inkubator dalam kondisi sehat dan normal.”
Xavier menganggukkan kepala. Matanya terpaku kembali kepada kedua bayinya dan sinar matanya melembut kemudian.
“Mereka sangat kecil. Aku sungguh tak menyangka... mereka jauh lebih kecil dibandingkan bayi Akram dan Elana. Aku tahu bahwa karena mereka adalah bayi kembar, ukuran mereka pasti sangat kecil. Aku hanya tidak menyangka mereka sekecil ini.” Xavier menghela napas panjang. “Mereka tampak sangat rapuh dan tak berdaya.”
Dokter Nathan tersenyum dan menepuk bahu Xavier seolah menyalurkan kekuatannya dan menenangkan lelaki itu.
“Semua bayi memang tampak kecil dan rapuh ketika baru dilahirkan, terutama bayi kembar yang prematur pula. Namun, kau akan terkejut kemudian ketika melihat mereka bertumbuh pesat dalam sekejapan mata. Tanpa kau sangka, kau akan ada di titik ketika dirimu harus memasang ekspresi galak dan mengusir para laki-laki yang berdatangan seperti kumbang kehausan yang ingin mendekati kedua putri kembarmu yang sangat cantik,” ujarnya dalam tawa.
Xavir mengepalkan tangan dan menipiskan bibir. Dia langsung mengalami segala ketakutan yang dirasakan oleh seorang ayah yang memiliki dua putri cantik ke dunia yang kejam dan penuh dengan orang jahat ini.
Akankah dia mampu melindungi dua putrinya? Bisakah dia menjaga keluarganya supaya jauh dari sentuhan orang jahat? Mampukah dia menjaga supaya putrinya selalu berbahagia dalam kehidupan panjang yang akan membentang di hadapan mereka? Dan satu yang paling penting dari semuanya, mampukah dia menjadi seorang ayah yang baik?
“Jangan khawatir.” Dokter Nathan berucap tenang seolah bisa membaca kekhawatiran yang ada di benak Xavier. “Segala sesuatunya akan berlangsung secara alami. Dan melihat dirimu yang dibekali dengan kejeniusan yang tak dimiliki oleh manusia lainnya, kurasa kau akan bisa menjaga keluargamu dan membesarkan kedua putrimu dengan baik.”
Xavier kali ini berhasil mengalihkan pandangan matanya yang tadinya lekat menatap kedua bayinya, dia tersenyum tipis dan menatap dokter Nathan dengan pandangan mencemooh.
“Apakah aku harus menerima pendapat dari seorang lelaki lajang yang belum berpengalaman memiliki anaknya sendiri?” ucapnya kemudian sedikit mencela.
__ADS_1
Dokter Nathan tertawa karenanya. “Hei, biarpun aku seperti ini, aku telah berpengalaman menjadi saksi serta melihat bagaimana para ayah secara alami mengambil peran sebagai ayah untuk anak-anaknya. Tidak usah jauh-jauh, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri perubahan dari Akram yang sangat tidak diduga ketika dia menjadi seorang ayah. Siapa yang mengira seorang Akram Night yang begitu gelap bisa menjadi lelaki yang berdedikasi dan mencintai keluarganya dengan sepenuh hati? Kurasa... kau pun tidak akan berbeda jauh. Kalian adalah kedua orang tua yang saling jatuh cinta, secara alami, kalian akan membangun keluarga yang dipenuhi kenahagiaan, percayalah kepadaku.” Dokter Nathan terkekeh, merasa tak perlu menyembunyikan sikap pongahnya yang sok tahu.
Xavier hanya mendekus. Dia tak menanggapi dokter Nathan lebih jauh karena dia tahu lelaki itu hanya akan semakin menjadi ketika ditanggapi. Matanya kembali terarah pada dua bayi mungilnya, terpaku di sana dengan tatapan penuh kekaguman, seolah-olah memandang keajaiban paling indah yang pernah ada di dunia ini.
“Ah, kau mengalihkan perhatianku, aku jadi lupa bahwa ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu.” Dokter Nathan berucap lagi, membuat Xavier merasa jengkel karena lagi-lagi lelaki itu mengganggu upacara kekagumannya yang kidmat kepada dua bayinya.
“Ada apa?” Kembali Xavier terpaksa mengangkat pandangannya ke arah dokter Nathan dan melepaskan matanya dari kedua bayinya. Meskipun dia merasa terganggu dengan tingkah dokter Nathan, tetapi Xavier tahu bahwa lelaki itu tak akan mendatanginya sekarang kalau tidak ada sesuatu yang penting.
Kondisi Sera sudah stabil begitupun kondisi kedua bayinya. Saat ini, hanya itulah yang paling penting bagi Xavier, hingga otaknya tak bisa menemukan hal apa lagi yang lebih penting yang perlu disampaikan oleh dokter Nathan kepadanya.
Dokter Nathan menatap ke arah Xavier dengan berhati-hati sebelum mengutarakan maksudnya. “Kita sudah mendapatkan sel punca dari plasenta kedua bayimu. Sel punca itu sudah tersimpan aman di bank plasenta atas namamu.”
Dokter Nathan menatap ke arah Xavier kemudian berucap dengan pandangan persuasif setengah membujuk. “Aku tahu bahwa kau pada awalnya tidak berencana untuk menggunakan sel punca itu bagi dirimu sendiri dan bermaksud menyimpan sel punca itu untuk anak-anakmu, kalau-kalau mereka nantinya menderita penyakit yang sama denganmu. Namun, Sera telah membuatmu berubah pikiran, bukan?”
Sang dokter memandang kondisi Xavier yang tampak pucat.
“Aku tahu bahwa dibalik sikap kuatmu, kondisi tubuhmu tidak begitu baik, begitupun kau terus menerus mengkonsumsi obat ciptaanmu sendiri yang berpotensi mengurangi masa hidupmu jika dilakukan terus menerus. Kau akan kolaps jika kau terus memundur-mundurkan operasi transplantasi sunsum tulang belakang ini, Xavier. Kau tentu tidak ingin membuat Sera bersedih dan juga tak ingin kehilangan kesempatan untuk membesarkan kedua anakmu, bukan?”
Dokter Nathan mengucapkan kalimatnya dengan gamblang supaya Xavier menyadari betapa seriusnya kondisinya. “Karena itu, aku ingin bertanya. Apakah kau bersedia untuk melakukan operasi transplantasi itu secepatnya?”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
__ADS_1
***
***