Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 51 : Air Mata


__ADS_3


Tubuh Elana yang sudah dikeringkan dan digantikan pakaian hangat nan tebal oleh Akram sendiri, terbaring di atas ranjang kamar Akram. Matanya terpejam rapat dan tubuhnya meringkuk di dalam selimut tebal yang dibungkuskan oleh Akram ke tubuhnya. Suhu kamar itu dijaga agar tetap hangat, sangat berlawanan dengan hawa di luar sana yang semakin dingin akibat hujan deras yang tak juga berhenti.


Meskipun begitu, kondisi Elana sangat bertolak belakang dengan suhu udara yang hangat di dalam kamar, tubuhnya tetap menggigil dengan gigi gemeletuk saling beradu menahan beku. Matanya merapat, sementara dahinya berkerut, menahan rasa dingin membekukan yang mengalir dalam pembuluh nadinya.


Kesadaran Elana masih berkabut. Tetapi, setelah Akram membawanya pulang kembali ke apartemen, kegelapan yang melingkupi Elana sedikit demi sedikit memudar, hingga dia bisa mendengar dan memahami apa yang terjadi di sekelilingnya secara samar.


Dokter Nathan tiba seketika itu juga bersamaan dengan mereka memasuki apartemen. Lelaki itu langsung melakukan pemeriksaan pada Elana dan mengambil sampel darah untuk tes toxin yang segera dikirimkan oleh anak buah Akram ke laboratorium khusus milik Akram. Dengan teknologi tinggi di laboratorium itu, mereka akan mendapatkan hasilnya kurang dari satu jam kemudian.


Bahkan tanpa melihat hasil test darah pun, bisa dilihat bahwa efek dari racun yang disuntikkan oleh Xavier ke tubuh Elana adalah membuat suhu tubuh Elana mendingin dengan cepat hingga membuatnya menggigil. Itu semua sesuai dengan diagnosa awal dokter Nathan, yang menyatakan bahwa Elana tengah menderita hipotermia fatal yang menurunkan suhu tubuh Elana dengan sangat cepat, membuatnya merasakan siksaan rasa dingin yang membekukan.


Dokter Nathan sudah mengatur supaya alat digital untuk memonitor tanda-tanda kehidupan Elana dipasang di tubuhnya, terutama untuk memonitor detak jantung Elana, denyut nadi dan sistem pernafasannya. Infus air garam yang hangat juga dialirkan ke tubuh Elana, sebagai salah satu cara untuk menjaga supaya darah di pembuluh nadinya tetaplah hangat. Selain itu, masker oksigen dipasang guna mengalirkan oksigen yang dilembabkan, hingga dapat menghangatkan saluran udara dan membantu meningkatkan suhu tubuh Elana.


Sementara itu, Akram menggunakan segala cara untuk menjaga supaya Elana tetap hangat sesuai dengan instruksi dari dokter Nathan. Di sebelah Elana terletak termos minuman panas yang terus dituangkan baginya untuk menjaga supaya aliran pencernaannya tetap hangat. Elana tentu saja dipakaikan pakaian tebal dan selimut berlapis, membungkus tubuhnya untuk menjaga suhunya tetap terjaga.


Setelah beberapa jam Elana menderita dengan tubuh menggigil, dengan penanganan dari Nathan, kondisi Elana akhirnya bisa berubah sedikit membaik. Gigilan tubuhnya telah berkurang dan napas perempuan itu yang tadinya pendek-pendek berubah menjadi halus, diiringi dengan matanya yang terpejam rapat layaknya sedang tenggelam dalam tidur yang nyenyak.


Akram duduk di pinggir tempat tidur Elana, mengelus rambut perempuan itu sementara keningnya berkerut dalam dan ekspresinya tampak kesakitan, seolah dirinya merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dirasa oleh Elana.


"Dia sudah lebih tenang sekarang ... apakah ini akan bertahan lama?" tanyanya parau dengan suara cemas.


Nathan menggelengkan kepala tipis, wajahnya tampak sama muramnya dengan Akram.


"Untuk saat ini, yang harus kita lakukan adalah menjaga supaya suhu tubuhnya tetap hangat," Nathan membaca kembali lembaran hasil tes toxin dan test darah Elana. Percuma. Racun yang disuntikkan oleh Xavier ke Elana adalah racun jenis baru yang tidak mudah dideteksi, hanya efeknya saja yang terlihat nyata di depan mata.


Xavier memang bergerak di bisnis underground yang khusus menciptakan temuan terbaru untuk senjata-senjata biologis dan jenis-jenis racun mematikan yang bisa diinjeksikan langsung atau diisikan pada peluru, peledak dan berbagai senjata yang akan memberikan akibat fatal bagi pihak musuh di medan perang. Tetapi, tak pernah sekalipun Nathan menyangka bahwa Xavier akan menggunakan salah satu racun itu untuk kepentingan pribadinya.


"Racun itu menyebabkan tubuh Elana kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuhnya untuk bisa menghasilkan panas, karena itulah suhu tubuh Elana menurun hingga di titik sangat rendah. Suhu tubuh normal manusia adalah sekitar 37 derajat Celcius, sementara suhu tubuh Elana tadi sempat mencapai di bawah 35 derajat Celcius dan terus menurun. Hipotermia sangatlah berbahaya karena bisa membuat jantung, sistem saraf, dan organ lainnya tidak dapat bekerja secara normal. Jika salah penanganan, hipotermia pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan jantung, sistem pernapasan, bahkan kematian," Nathan membeberkan penjelasan medisnya sambil menghela napas panjang. "Beruntung untuk saat ini kita sudah berhasil menjaga suhu tubuh Elana setidaknya berada di garis minimal batas normal. Tetapi, bahaya masih belum terlewat... karena kita tidak tahu kapan racun itu akan aktif kembali dan seberapa kuatnya racun ini akan menyerang kali berikutnya."


"Apakah kau tidak bisa mencari cara untuk menciptakan penawar racun ini?" Akram merasakan nyeri di hatinya ketika membayangkan kemungkinan Elana harus mengalami lagi rasa sakit akibat dingin yang menggigilkan tulang seperti tadi.


Nathan menghela napas panjang. "Bahkan di laboratorium milikmu yang paling canggih dengan ilmuwan terbaik sekalipun, untuk menemukan penawar sebuah racun, membutuhkan penelitian bertahun-tahun lamanya. Kita harus meneliti racun itu secara spesifik, memetakan jenisnya dan barulah melakukan percobaan yang mungkin butuh waktu lama hingga menemukan antidote yang benar-benar cocok. Sebab, salah-salah, bukannya menyembuhkan, kita malah bisa menyebabkan komplikasi yang malahan memperburuk keadaan jika antidotenya dibuat dengan asal-asalan."


Nathan mengawasi Elana yang tampak tertidur tenang dengan tatapan menyesal. "Sementara, aku masih tidak tahu apa- apa tentang jenis racun baru ini. Analisis awalku, racun ini mendorong disfungsi kelenjar tiroid dan adrenal hipofisis yang menyebabkan gangguan metabolisme dan membuat tingkat metabolisme basal menjadi lebih rendah. Hal ini menghasilkan lebih sedikit panas secara internal dan menurunkan suhu tubuh hingga menjadi hipotermia fatal," Nathan memijit pangkal hidungnya dengan penuh penyesalan. "Hanya ini tindakan medis yang bisa kulakukan untuk menjaga supaya suhu tubuh Elana tidak menurun lebih daripada seharusnya..."


"Bagaimana kalau serangan racun itu muncul lebih kuat lagi sehingga seluruh metode ini tidak ada gunanya?" geram Akram seolah tak puas dengan jalan keluar dari Nathan.


"Aku bisa melakukan metode penghangatan darah dengan mesin hemodialisis. Mengambil darah, menghangatkannya lalu meresirkulasi ke dalam tubuh dengan bantuan mesin cuci darah itu. Mesin pengganti jantung juga mungkin harus dipasang dan juga, aku akan mengalirkan larutan air asin hangat ke tempat-tempat vital seperti paru-paru dan rongga perut Elana dengan menggunakan kateter yang dimasukkan ke dalam tubuh," Nathan meringis seolah menahan sakit. "Tapi, kalau tidak menyangkut kondisi kritis, aku tidak akan melakukannya, karena metode itu... akan sangat menyakiti Elana, lebih daripada sekarang,"


Akram membungkukkan tubuh dengan putus asa. Sikunya bertumpu di lutut sementara tangannya bergerak meremas ramburnya. Segala penjelasan medis Nathan sama sekali tidak memberinya titik terang, malahan membuatnya semakin frustasi.


"Apa yang harus kulakukan?" seruan putus asa Akram berjalinan dengan suara paraunya yang letih.


"Kurasa, kita harus merendahkan diri dan berkompromi dengan Xavier, Akram. Kita harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi ketika Xavier menghubungi nanti untuk negosiasi mengenai penawar racun. Aku tetap tidak akan menyerah dan menggunakan segala daya upaya untuk menemukan penawar bagi racun ini. Tetapi, kalau yang dibilang oleh Xavier benar, bahwa waktu Elana untuk mendapatkan antidote hanyalah tujuh hari, maka kali ini, kita sedang berkejaran dengan waktu dan mempertaruhkan nyawa Elana,"


***



***

__ADS_1


Akram berbaring miring dan menenggelamkan tubuh Elana ke dalam pelukannya. Selimut tebal membungkus keduanya, sementara Akram mendekap Elana seerat mungkin, berusaha membagikan panas tubuhnya untuk menjaga suhu tubuh Elana agar tidak turun lagi.


Beberapa kali Elana mengubah posisi karena tidak nyaman, dan Akramlah yang terus menjaga supaya aliran dari infus ke tubuh Elana, juga kabel yang menghubungkan ke mesin pendeteksi tanda vital perempuan itu, tidak terganggu. Bahkan, saat ini dia memeluk Elana dengan sangat berhati-hati.


Dini hari menjelang dan Akram masih belum bisa memejamkan mata. Pikirannya masih bergolak, mencari cara tercepat untuk menyelamatkan Elana. Dia telah memerintahkan Elios untuk melacak lokasi pabrik senjata biologis milik Xavier dan merencanakan untuk melakukan serangan besar-besaran ke tempat itu demi menemukan penawar racun bagi Elana.


Sayangnya, Xavier memang sangat licin dan licik. Kejeniusannya berpadu sempurna dengan sifat jahatnya hingga lelaki itu sangat sulit dikalahkan. Tentu saja, tempat yang sangat penting seperti pabrik senjatanya, disembunyikan lokasinya dengan sangat ahli. Hingga sampai detik ini, Elios yang biasanya tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas apapun, dibuat begitu kesulitan. Rentang waktu sudah berlalu lama, tetapi Elios masih belum menemukan titik terang sama sekali.


Napas Elana terdengar pendek-pendek dan matanya mengerjap perlahan. Lalu, suaranya yang lemah terdengar, membuat Akram langsung mengerahkan seluruh perhatiannya kepada perempuan itu.


"Akram?" panggilnya dengan mata berkabut, seolah kesadarannya belum utuh sepenuhnya.


Jantung Akram bagaikan diremas ketika melihat betapa pucatnya bibir Elana. Dia langsung menunduk dan menggesekkan bibirnya ke bibir Elana yang dingin, berusaha mengalirkan seberkas kehangatan di sana.


"Ya Elana? Kau butuh apa? Kau kedinginan? Atau kau ingin minuman hangat?" Akram memberikan rentetan pertanyaan dengan cepat, ingin mengusahakan apapun yang dia bisa agar Elana merasa nyaman.


Elana menggelengkan kepala perlahan, lalu perempuan itu mendesakkan dirinya ke tubuh Akram, menenggelamkan wajahnya di kehangatan dada Akram yang terbuka. Aroma Akram yang merupakan perpaduan harumnya cendana dan mint melingkupinya, membuat Elana merasa begitu nyaman dan ingin lebih menempel ke tubuh Akram.


".... peluk...," gumamnya tak jelas sambil menempelkan pipinya ke dada Akram.


Sejenak Akram membeku, terkejut karena inilah kali pertama Elana bergerak memeluknya dengan sukarela, bermanja kepadanya tanpa dipaksa. Lalu, Akram menyadari bahwa itu semua terjadi karena Elana sedang setengah sadar dan senyum penuh ironi pun muncul di bibirnya.


Elana tidak mungkin mau berbuat ini semua kalau dia sedang berada dalam kondisi sadar.


Akram menipiskan bibir, tak tahu apakah dia harus merasa senang atau bersedih. Dikecupnya pucuk kepala Elana sementara tangannya merangkul perempuan itu semakin rapat.


"Tidurlah, sayang," bisiknya dengan suara parau.


Tak disangka, Elana malah mendongakkan kepala, menatap Akram seperti sedang bermimpi.


Akram mengerutkan keningnya. Nathan sudah bilang bahwa hipotermia akan menyebabkan pasien susah meraih kesadarannya secara penuh, kadang mereka seperti sedang berada di alam mimpi, kadang berhalusinasi dan kadang sedikit meracau, berbicara tentang hal-hal yang mungkin tak akan diingatnya ketika nanti kesadarannya sudah kembali penuh.


Apakah Elana sedang mengalami gejala yang ketiga?


"Karena aku memang ingin memanggilmu begitu. Tidurlah Elana," Akram menjawab cepat, berusaha mengakhiri percakapan supaya Elana bisa segera tidur dan beristirahat.


Tetapi, bahkan di tengah kondisi setengah sadar pun, Elana masih begitu keras kepala. Perempuan itu tak mau menyerah, tetap menengadah menatap Akram dengan kerutan di keningnya yang makin dalam.


"Apakah karena kau menyayangiku?" tanya Elana menyimpulkan tanpa permisi


Seberkas rona merah melintas di tulang pipi Akram yang tinggi ketika lelaki itu mengalihkan pandang.


"Mungkin. Sekarang tidurlah," sahutnya cepat.


Elana tampak berpikir, lalu menggelengkan kepala lemah.


"Ah, kau tak mungkin menyayangiku!" simpulnya cepat, mematahkan kalimatnya sendiri yang sebelumnya.


Akram langsung menundukkan kepala kembali untuk menatap Elana sementara bibirnya tak mampu menahan diri untuk bertanya.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

__ADS_1


Elana membalas tatapan tajam Akram dengan pandangan mata menerawang.


"Karena kau sangat jahat kepadaku. Kau kasar, galak, ketus dan bermulut tajam. Kau juga .... sering memaksakan hal-hal intim di tempat yang tidak seharusnya... padahal... padahal itu seharusnya dilakukan di dalam kamar yang tertutup," kali ini giliran pipi Elana yang memerah ketika berucap. "Dan kau ... tidak pernah mengucap sayang kepadaku. Bahkan... bahkan Xavier bilang kalau bagimu aku hanyalah perempuan yang bisa memberikanmu hubungan seks yang memuaskan di atas ranjang... dia merendahkanku seperti pelacur, jadi... aku menamparnya..."


"Kau menampar Xavier?" Akram hampir berseru karena terkejut. Akram yakin bahwa tidak ada satu perempuan pun yang pernah menampar Xavier sebelumnya. Elana sungguh punya nyali berani melakukan hal tersebut pada psikopat gila itu.


"Dia terus mengata-ngataiku... dan dia juga mengata-ngataimu jadi aku menamparnya untuk membuatnya berhenti bicara. Selain itu aku juga membelamu ketika dia menjelek-jelekkanmu,"


"Kau membelaku?" Akram mulai merasa konyol karena dia terus membeo kalimat Elana. Tetapi, sungguh, Elana yang tengah meracau setengah sadar ini begitu menarik hatinya. Biasanya perempuan ini selalu menahan diri di depannya, jadi ketika Elana seolah tak mampu menutup mulutnya, Akram benar-benar tergoda untuk mengorek informasi sebanyak-banyaknya.


"Kau memang jahat, tapi.... tapi kadang ada sisi baikmu," Elana terbata. "Meskipun kau tidak menyayangiku, kau memberiku makanan yang enak-enak dan mahal yang tak akan mampu kubeli sendiri, kau juga memberiku pekerjaan, dan juga... tempat berteduh yang sangat nyaman, aku bisa tidur di ranjang yang sangat empuk dan pulas dengan mimpi indah di atasnya.... kau tahu, aku tidak pernah tidur dengan kasur bulu angsa sebelumnya. Kasurku di panti asuhan sangat keras sehingga di waktu-waktu tertentu kami harus menjemurnya di bawah panas matahari supaya bisa sedikit empuk. Kasurku di rumah kontrakan dulu malah terbuat dari busa keras yang tak bisa diselamatkan lagi... pokoknya, selain makananmu, aku paling menyukai kasurmu!" ujar Elana dengan nada polos tanpa dosa.


Akram mengerutkan kening mendengar perkataan Elana, sekali lagi merasakan jantungnya seolah diremas hingga terasa nyeri.


Dirinya bisa memberikan Elana apapun. Apapun! Segala kemewahan tertinggi yang pantas dinikmati kaum perempuan, bisa diakomodasikannya untuk Elana. Tetapi, perempuan sederhana ini sudah begitu mensyukuri makanan yang cukup untuk mengisi perutnya, serta tempat tidur yang nyaman untuknya beristirahat!


Bahkan yang paling disukai Elana ternyata bukan dirinya melainkan makanan dan kasurnya!


"Aku akan memberikanmu berbagai macam makanan yang lezat kalau kau sembuh nanti," Akram menahan senyum, mengucap janji sambil mengecup dahi Elana lembut. "Apapun akan kuberikan jika kau sembuh nanti..." bisiknya dengan suara serak.


"Kau menjanjikan makanan enak? Jangan-jangan... kau benar-benar menyayangiku, ya?" mata Elana berbinar seperti kanak-kanak yang mendapatkan kado pertama di hari ulang tahunnya.


Akram tidak tahu Elana sedang kesenangan karena dijanjikan makanan, atau karena tebakannya tentang Akram yang menyayanginya hampir benar. Tetapi, melihat kesukaan Elana pada makanan, sepertinya kebahagiaan Elana itu lebih bersumber pada Akram yang menjanjikannya makanan lezat.


Akram tersenyum masam. Dibelainya anak-anak rambut di dahi Elana dengan lembut. "Aku tidak meniduri perempuan lain sejak bersamamu. Aku bersabar dengan segala kekeraskepalaanmu, pemberontakanmu dan sikap membangkangmu. Aku selalu mencemaskanmu sampai mau mati rasanya. Aku bahkan rela jika harus melakukan segalanya untukmu.... Bagaimana mungkin aku tidak menyayangimu kalau begitu?" Akram memutuskan menjawab dengan jujur, tahu bahwa mungkin di esok pagi, Elana tidak akan mengingatnya.


Mata Elana meredup kemudian, membuat Akram merasa cemas. Sebelum dia bisa bertanya, tiba-tiba Elana menggerakkan tangannya yang bebas dari selang infus dan menyentuh pipi Akram.


"Apakah aku akan mati?" tanyanya perlahan.


Ekspresi Akram langsung menggelap. Sementara keningnya berkerut dalam. "Tidak. Kau tidak akan mati, Elana. Aku tidak akan membiarkannya," putusnya cepat.


Elana tersenyum lembut, lalu menggerakkan jarinya untuk mengusap kerutan di dahi Akram.


"Kau selalu mengerutkan keningmu... membuat eksprsesi wajahmu tampak menakutkan. Tapi akhir-akhir ini... aku melihatmu lebih banyak tersenyum, seolah-olah kau sedang berbahagia," jemari Elana bergerak mengusap bibir Akram yang menipis. "Kalaupun nanti aku tak bisa berada di dekatmu lagi, tetaplah tersenyum, Akram. Mungkin kau terlihat jahat dan kejam di luar, tetapi aku tahu kau menyimpan kebaikan dalam jiwamu. Kau memperlakukan ribuan karyawan dan anak buahmu dengan adil, kau menyejahterakan mereka dan aku yakin meskipun mereka takut kepadamu, mereka tetap mendoakan dan mencintaimu,"


Suara Elana melemah ketika kesadarannya perlahan-lahan menghilang kembali. "Kalau aku mati nanti, kau harus tahu bahwa aku... sudah memaafkanmu. Semua hal kejam yang pernah kau lakukan kepadaku di masa lalu, telah terbalaskan dengan sikap baikmu padaku. Kau sudah tidak punya beban lagi.... Jadi, berbahagialah selalu, Akram, banyak-banyaklah tersenyum dan buang sikap pemarahmu. Aku... aku akan selalu mendoakan supaya kau... bisa... berbahagia..." kata-kata terakhir Elana hampir tak terdengar karena perempuan itu kembali memejamkan mata, terlelap dalam ketidaksadaran yang nyata.


Sementara itu, Akram terpaku dengan tatapan mata nanar. Dadanya bergolak oleh berbagai perasaan yang campur aduk tak karuan ketika mendengarkan ungkapan hati Elana kepadanya. Perlahan, setengah putus asa, diguncangnya pundak Elana yang tak sadarkan diri.


"Kau tidak akan mati, Elana! Kau dengar aku? Aku tidak akan membiarkanmu mati!" suara Akram tersekat oleh emosi yang menyesakkan napasnya. "Jangan coba-coba untuk mati tanpa seizinku, Elana. Aku sudah bilang bahwa kau milikku... aku tidak akan..." kali ini suara Akram benar-benar hilang dan laki-laki itu tak mampu berkata-kata lagi.


Lengannya melingkari tubuh Elana dengan erat, sementara wajahnya ditenggelamkan ke rambut lembut Elana, menyembunyikan air mata yang mengalir tak tertahan dari matanya yang basah.


Akram Night dididik supaya menjadi sosok bermental baja demi meneruskan kejayaan keluarga Night yang penuh kuasa. Di masa kecil, dia tidak menangis ketika hewan peliharaan kesayangannya dibunuh oleh Xavier, pun ketika dia harus mengalah ketika Xavier mengambil mainan dan benda-benda yang disukainya tanpa ada yang bisa menghentikan. Ketika cinta pertamanya direnggut dengan kejam, Akram berhasil menahan hatinya supaya tidak meneteskan air mata setitik pun. Bahkan, ketika kedua orang tuanya yang sangat dia kasihi meninggal dalam kecelakaan, Akram tetap mampu bersikap tegar, tanpa tangisan sama sekali, dia segera mengambil alih tanggung jawab yang ditinggalkan oleh ayahnya, lalu berhasil mencapai kesuksesan dengan gemilang. Hatinya dilindungi oleh lapisan keras, yang menjaganya supaya tidak mudah terluka.


Tetapi sekarang, perempuan mungil nan sederhana di dalam peluknya ini tanpa disangka telah berhasil meremukkan lapisan pelindung hati Akram hingga berkeping-keping, menyentuh sisi dirinya yang rapuh, melembutkan jiwanya, hingga air matanya tak mampu terbendung lagi.


***


__ADS_1


***



__ADS_2