Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 85 : Kedamaian


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


 


“Semua sudah beres, Nyonya.”


Kepala Pelayan itu memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk mengepak dan merapikan pakaian dan segala perlengkapan Sera yang sempat dikirimkan ke rumah sakit ini.


Sera menganggukkan kepala dan mengawasi ketika barang-barangnya dibawa pergi. Kepala Pelayan itu mengatakan bahwa ada perintah dari Xavier untuk mempersiapkan kepulangan mereka dari rumah sakit dan membereskan semua barang-barang Sera.


Tetapi satu hal yang menjadi pertanyaan Sera adalah kemana dia akan dipulangkan?


Tuan Martin, sang Kepala Pelayan itu sendiri hanya mengatakan kepada Sera bahwa mereka akan pulang. Dia tidak menjelaskan apapun.


“Apakah ada lagi yang Anda perlukan, Nyonya?” Kepala Pelayan itu bertanya kembali, matanya menyelisik, mencoba mempelajari ekspresi Sera dan matanya yang tajam langsung menemukan bahwa ada rona pucat di wajah Sera yang masih bergurat di sana dan tak bisa disembunyikan. “Apakah Anda merasa masih kurang enak badan? Saya bisa memanggil dokter untuk…”


“Tidak!” Sera menyela, menggelengkan kepala dengan tegas.


Jika sampai dokter mengatakan dia masih sakit, hal itu bisa menghambat kepulangannya dari rumah sakit ini. Sera benar-benar ingin keluar dari rumah sakit ini, bagaimanapun, rumah sakit selalu berhubungan dengan musibah dan kecelakaan yang dialaminya. Untuk sekarang, tidak peduli apakah dia akan pulang ke rumah ‘pengasingan’ yang dipilihkan oleh Xavier untuknya, ataukah dia akan pulang bersama Xavier ke rumahnya, yang penting bagi Sera adalah pertama-tama dia harus bisa meninggalkan tempat ini dulu.


“Aku tidak apa-apa,” sambung Sera kemudian, memasang wajah meyakinkan supaya tidak dipertanyakan lagi.


Kepala Pelayan itu masih menatapnya untuk meyakinkan diri, tetapi kemudian menganggukkan kepala dan memasang senyum.


“Kalau begitu, kami akan berpamitan terlebih dulu. Sampai jumpa kembali di rumah, Nyonya Light.” Pandangan mata Kepala Pelayan di rumah Xavier itu menyiratkan simpati layaknya seorang ayah kepada anaknya. Lalu, tanpa memberi kesempatan kepada Sera untuk memberikan reaksi, lelaki itu sedikit membungkukkan tubuh untuk berpamitan dan langsung berbalik meninggalkan ruangan.


Ditinggalkan sendirian membuat Sera mengerutkan kening. Matanya masih menatap ke arah pintu kamar ruang perawatannya yang tertutup, sementara benaknya memikirkan kata-kata kepala pelayan itu.


Sampai jumpa kembali di rumah?


Tuan Martin adalah kepala pelayan kepercayaan Xavier sejak bertahun lalu. Dari data yang pernah dipelajari Sera tentang Xavier, Tuan Martin bekerja sebagai kepala pelayan Xavier sejak awal Xavier keluar dari rumah keluarga Night. Lelaki itu tua itu telah menjadi orang kepercayaan Xavier sejak lama. Bahkan, orang yang ditugaskan bekerja sebagai kepala pelayan di rumah Sera adalah anak lelaki Tuan Martin sendiri.


Jika Tuan Martin bilang bahwa mereka akan berjumpa kembali di rumah, itu berarti dia akan pulang ke rumah Xavier?


Pemikiran itu mau tak mau membuat jantung Sera berdebar. Tiba-tiba saja dia teringat kembali klausul yang diajukannya kepada Xavier, juga mengenai klausul persyaratan dari Xavier.


Apakah itu berarti… mereka akan menjadi suami istri yang sesungguhnya setelah ini?


Sera saat ini sudah menyadari perasaannya kepada Xavier. Dia mencintai lelaki itu, dia ingin Xavier hidup. Dia ingin menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu. Akan tetapi, rasa trauma sendiri masih menakutinya, meremas jantungnya tanpa bisa dicegah dan membuatnya terus didera keraguan karena mempertanyakan motif Xavier kepadanya.


“Sera?”


Suara ketukan di pintu membuat Sera terlepas dari pemikiran yang menyesakkan dada. Dia mengenali suara Elana di luar sana dan hal itu membuatnya bergegas menghambur ke pintu, langsung membukakan pintu untuk Elana.


“Elana? Kau ada di sini?”


Sejak insiden itu dan sejak mereka berada di rumah sakit ini, meskipun Sera tahu bahwa Elana dirawat di ruang sebelahnya, dirinya tak pernah sama sekali mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Elana. Itu karena dia tak pernah diizinkan keluar dari ruang perawatan sendirian dan mereka juga bilang bahwa Akram Night menempatkan penjagaan ketat untuk istrinya sehingga tak mungkin bisa ditemui oleh siapapun.


Elana tersenyum di ambang pintu, perempuan itu mengenakan pakaian rapi, seolah siap untuk pergi.


“Kami akan pulang dari rumah sakit siang ini. Akram sedang menemui Xavier. Jadi aku meminta izin untuk mengambil kesempatan menemuimu sembari menunggu. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Elana tersenyum ramah ketika menjawab.


“Ah… kalau begitu masuklah.” Sera melebarkan pintu. Matanya sekilas menyapu beberapa bodyguard yang ada di luar ruangan, lalu akhirnya dia menutup pintu ruang perawatannya untuk menjaga privasi.


“Martin baru saja pergi, itu berarti kau akan pulang juga?” Elana duduk di sofa dan Sera mengambil tempat duduk di sebelahnya.


Sera menganggukkan kepala sebagai jawaban dan hal itu membuat senyum Elana melebar.


“Aku mendengar dari Akram kalau kau berhasil membujuk Xavier untuk melakukan transplantasi dengan menggunakan sel punca dari anak kalian?” tanyanya lagi.


Sera melebarkan mata. “Kau tahu?”


Mereka baru saja membahas hal ini beberapa jam yang lalu dan sekarang semua orang sudah mengetahuinya?


Elana terkekeh. “Jangan salahkan Akram, dia sangat perhatian menyangkut kesehatan Xavier, terutama akhir-akhir ini ketika kondisi Xavier beberapa kali memburuk. Kau pasti tahu bahwa dulu hubungan Akram dan Xavier tak pernah baik, bukan? Karena kesalahpahaman, Akram mengira Xavier selalu berusaha mengancam nyawanya, jadi dia melakukan serangan balasan yang membuat Xavier mengalami kecelakaan sehingga Xavier luka parah serta terpapar bahan kimia yang kebetulan dibawanya di mobil dan dugaan sementara, itulah yang menyebabkan Xavier menderita anemia aplastik.”


Elana menghela napas dengan sedih. “Sekarang setelah hubungan mereka membaik, Akram menyimpan rasa bersalah di dalam jiwanya menyangkut kondisi kesehatan Xavier sekarang ini. Karena itulah, dia selalu ingin mendapatkan informasi terbaru menyangkut Xavier. Beberapa jam lalu, Xavier menghubungi pengacaranya untuk menambahkan beberapa klausul khusus menyangkut transplantasi itu. Karena ini menyangkut masalah kesehatan, maka pengacara Xavier menghubungi dokter Nathan, dan dokter Nathan langsung menghubungi Akram. Jadi, dari situlah kami mendapatkan informasi.” Elana menjelaskan sambil terkekeh. “Kuharap kau tak tersinggung karena kami semua seolah-olah ikut campur dalam hubungan kalian berdua.”


Sera menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku malah senang, itu berarti kalian semua peduli dan mencemaskan Xavier.”


“Tentu saja kami peduli.” Elana menatap Sera dengan hati-hati. “Dokter Nathan bilang dia memintamu membujuk Xavier supaya mau melakukan transplantasi itu, dan ternyata sesuai dugaan, Xavier mau mendengarkanmu.” Mata Elana berbinar dipenuhi rasa senang tak berdosa ketika berucap, sementara itu pipi Sera malah memerah karenanya.


Elana mungkin mengira kalau Xavier menurutinya karena lelaki itu mempertimbangkan perasaannya. Padahal, Xavier mau menyetujui klausul Sera karena lelaki itu mengajukan persyaratan tandingan, yaitu meminta Sera menjadi istrinya yang sesungguhnya. Sera bahkan masih ingat setiap kata Xavier mengenai istri secara jiwa dan istri secara raga.

__ADS_1


Astaga, sepertinya kondisi sakit Xavier sama sekali tak bisa menjadi pembendung pikiran lelaki itu menyangkut adegan ranjang!


Elana melihat pipi Sera yang memerah, pun dengan mata Sera yang dipenuhi kebingungan dan kontradiksi, secara impulsif, tangannya bergerak menyentuh tangan Sera, menarik perhatian perempuan itu kepadanya.


“Sera, aku selama ini tak pernah berani bertanya kepadamu mengingat aku hanyalah orang luar dari hubungan kalian. Tetapi, kurasa aku akan bersikap lancang…. Aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu kepada Xavier? Apakah sedikit banyak, kau mempertimbangkan untuk membuka hatimu kepadanya?”


Sera tertegun, lalu menipiskan bibir penuh ironi ketika berhasil mencerna pertanyaan itu. Kalau saja Elana tahu bahwa Sera bukan hanya membuka hatinya pada Xavier tetapi dia juga telah menyerahkan seluruh hatinya untuk mencintai lelaki itu….


“Sera?” Pertanyaan Elana yang memanggil namanya itu membuat Sera mengerjapkan mata.


“Aku… aku tidak berani melakukannya.” Sera akhirnya memutuskan untuk menutupi perasaannya. “Kau tahu, Xavier… tidak terbaca untukku. Sejak aku muda, sosok Xavier selalu ditanamkan di dalam kepalaku sebagai sosok yang licik dan akan melibas kita jika kita sampai melemah dan percaya kepadanya. Setiap dia berbuat baik kepadaku… mau tak mau, hati kecilku membisikkan pertanyaan menakutkan, mempertanyakan motifnya, mempertanyakan manipulasi apa yang sedang direncanakan di belakang punggungku dan sebagainya. Bahkan… bahkan ketika Xavier melarangku menemui ayahku dengan alasan kehamilanku yang masih belum stabil pun, aku masih meragukan alasannya, aku berpikiran negatif bahwa dia… bahwa dia sedang mencoba menyandera ayahku lagi, bahwa dia sedang menggunakan ayahku untuk menjadi sandera supaya aku menuruti kemauannya.” Sera menghela napas panjang, berusaha meredakan sesak di dadanya. “Kadang aku ingin mempercayai Xavier, aku ingin membuka hati untuknya. Tetapi, dia terlalu berlapis hingga aku tersesat tak bisa membacanya. Aku takut… aku takut kalau aku membuka hati kepadanya, dia akan menghancurkanku. Aku takut kalau aku mencintainya, dia akan menghujam jantungku sampai luka parah.”


“Mengenai ayahmu, mungkin Xavier tidak mengatakan kepadamu…” Elana mengerutkan kening ketika berucap, seolah berusaha mengingat-ingat.


“Kau tahu mengenai ayahku?” Mata Sera melebar karena terkejut. “Apakah… apakah kau tahu bagaimana kondisi ayahku sekarang?”


“Xavier menjaga ayahmu, kau tidak perlu khawatir. Apakah kau tidak tahu? Meskipun Xavier memiliki kekayaan dan kekuasaan besar, karena perkara ayahmu berhubungan dengan hukum dan pemerintahan dia tetap membutuhkan usaha tak habis-habisnya untuk mengajukan permohonan pemindahan ayahmu dari rumah sakit penjara ke rumah sakit dengan fasilitas kesehatan yang lebih baik. Ayahmu mendapatkan hukuman seumur hidup, itu berarti tidak mungkin baginya untuk meninggalkan penjara apapun yang terjadi. Tetapi, Xavier menggunakan segala daya upaya untuk mengeluarkan ayahmu dari sana, dia menggunakan tim pengacara terbaik yang akhirnya bisa membuahkan dispensasi bagi kondisi ayahmu yang sedang koma saat ini, sehingga bisa dipindahkan ke rumah sakit yang lebih layak. Akram bilang kepadaku bahwa ayahmu saat ini mendapatkan perawatan terbaik, dengan tim medis dan penanganan terbaik serta penjagaan yang terbaik pula.” Elana mencoba menjelaskan dengan singkat, berusaha menyingkirkan prasangka yang dibangun oleh Sera terhadap Xavier.


“Benarkah?” Mata Sera mulai berkaca-kaca, dipenuhi oleh air mata. “Ah, syukurlah… syukurlah. Selama ini, Xavier tidak pernah menjelaskan apa-apa kepadaku, karena itulah aku… aku…”


“Aku mengerti.” Elana tersenyum lembut. “Memahami Xavier memang sulit, apalagi Xavier seolah terbiasa menempatkan dirinya sebagai tokoh antagonis dalam sebuah cerita. Kau mengerti maksudku?”


Sera mengusap air matanya, menatap Elana kebingungan. “Antagonis? Apa maksudmu?”


“Dalam sebuah kisah, selalu ada tokoh protagonis yang berlawanan dengan tokoh antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh baik dengan aura positif dan dicintai oleh semua orang. Tokoh protagonis adalah tokoh jahat yang dibenci banyak orang. Xavier selama ini selalu menempatkan dirinya sebagai sosok yang buruk, sebagai tokoh antagonis di kisah orang lain. Karena itulah dia selalu merahasiakan jika dia berbuat kebaikan, dan secara alami malah sengaja memelihara citra jahatnya. Kurasa itulah yang juga terjadi kepadamu saat ini.” Mata Elana tampak sedih ketika berucap. “Sayangnya, Xavier malahan tenggelam dalam peran antagonisnya. Yang tak Xavier sadari adalah, bahwa ada saatnya dia mendapatkan gilirannya untuk menjadi tokoh protagonis dalam kisahnya sendiri.”


Keheningan terbentang sejenak di antara mereka. Sera yang menunggu dan Elana yang sedang menyusun kata-kata.


“Sera,” Elana melanjutkan kembali, meremas tangan Sera dengan tatapan prihatin. “Kau masih belum bisa mempercayai Xavier, aku mengerti. Apalagi mengingat reputasi Xavier selama ini. Tetapi, sampai dengan detik ini, kau sepertinya masih memandang Xavier sebagai citra yang digambarkan oleh orang-orang kepadamu. Kumohon, di saat ini, ketika kalian mendapatkan kesempatan kedua untuk bersama, lihatlah Xavier bukan sebagai si jenius dengan kemampuan otak yang sangat hebat, bukan sebagai ahli racun, bukan sebagai psikopat yang bisa terpicu menjadi gila karena pengkhianatan, bukan sebagai sosok mengerikan dan pembunuh kejam,” Elana menatap dengan bersungguh-sungguh. “Kumohon, pandanglah Xavier sebagai manusia biasa, seorang lelaki yang sebatang kara yang menanggung semua kesakitannya sendiri, seorang lelaki yang sedang menyembunyikan sakitnya, dan juga seorang lelaki yang menjadi ayah dari anak-anakmu.”


 


***


 


“Bermain cantik?” Xavier mengangkat pandangan matanya dan menatap Akram dengan penuh ingin tahu. “Apa maksudmu?”


Akram menyeringai. “Apakah kau ingin mendengarkan usulku?” tanyanya penuh misteri.


Xavier tak menjawab, malahan menipiskan bibir dan menatap Akram ragu hingga membuat Akram mengerutkan keningnya tersinggung.


“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah kau ragu dengan kemampuanku bermain cantik?” tanya Akram sedikit ketus.


“Tentu saja aku ragu. Bagaimana mungkin aku belajar tentang bermain cantik kepadamu? Ketika mendapatkan perempuanmu, kau menggunakan cara paksaan. Kau tak ragu-ragu melakukan penculikan, pemaksaan kehendak, ancaman dan sebagainya, kau adalah segala kebalikan dari apa yang disebut dengan bermain cantik.”


Akram menyeringai. “Kau tak perlu mengingatkanku tentang itu.” Ada rona merah terbersit di tulang pipi Akram yang tegas, seolah-olah lelaki itu malu dengan perilakunya sendiri di masa lalu. “Yang ingin kukatakan kepadamu adalah bahwa Elana tidak mudah jatuh cinta kepadaku ketika aku bersikap arogan dan memaksa kepadanya. Dia jatuh cinta kepadaku ketika aku bersedia menunjukkan kelemahanku kepadanya. Kau sudah melihat sendiri, bukan? Betapa tergila-gilanya kami satu sama lain saat ini?” Akram bertanya kembali, nada suaranya terdengar penuh kesombongan.


Kerutan di kening Xavier langsung terbentuk dalam. “Maksudmu, aku harus berpura-pura lemah dan sakit di depan Sera? Untuk menarik simpatinya?”


Akram mengangkat alisnya. “Kau tak perlu berpura-pura lemah dan sakit. Kau hanya perlu membuka satu lapis sikap sok kuatmu, dan membiarkan perempuan itu melihat bahwa kau adalah manusia biasa dengan segala kelemahannya.” Sikap Akram tampak penuh percaya diri ketika melanjutkan. “Para wanita selalu menunjukkan bahwa mereka menyukai pria yang kuat secara fisik dan mental. Tetapi, jauh di dalam hati mereka, sesungguhnya mereka mudah luluh pada pria yang mau bersikap lemah di depan mereka dan bisa dibuai untuk ditenangkan. Kaum wanita itu akan mudah mencintai pria yang bersedia menangis di dalam pelukan mereka.”


 


***


 


“Apakah kau sudah siap?”


Hari sudah kembali malam ketika Xavier melangkah memasuki kamar Sera. Lelaki itu tampak tampan dan lebih segar dari biasanya. Sepertinya, perpaduan obat dan transfusi darah serta penanganan medis yang diberikan oleh dokter Nathan dan tim dokter lainnya telah memberikan imbas yang cukup baik bagi Xavier.


Sera mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan mata berbinar penuh harap.“Apakah kita akan pulang sekarang?”


“Ya, kita akan pulang. Maafkan tadi ada beberapa hal yang harus kubereskan dulu sebelum kita bisa meninggalkan rumah sakit ini.” Xavier mengulurkan tangannya ke arah Sera. “Ayo, kita pulang sekarang?” ujarnya sambil menawarkan tangannya.


Sera menunduk, menatap ke arah tangan Xavier lalu akhirnya dia menerima uluran tangan itu, membiarkan Xavier menggenggam tangannya dan menghela tubuhnya keluar dari kamar perawatan itu dan berjalan melalui lorong panjang menuju lift turun dari rumah sakit tersebut.


Sera merasakan jelas betapa dinginnya permukaan kulit telapak tangan Xavier. Dia mendongak lagi, menatap Xavier yang berjalan tegas di sampingnya dengan tatapan berhati-hati.


“Apakah kau… apakah kau sudah benar-benar pulih?” tanyanya perlahan.


Xavier menunduk, menatap Sera sambil tersenyum.


“Dokter Nathan sudah mengizinkanku pulang, bukan?” Itu berarti aku sudah tidak apa-apa,” jawabnya dengan nada tenang.


Sera mengerutkan kening, masih tidak yakin. “Kau yakin kalau kau tidak memaksakan kehendakmu kepada dokter Nathan sehingga bisa pulang?” tanyanya kemudian.


Xavier terkekeh. “Dokter Nathan adalah dokter yang sangat sulit dilawan dan juga tanpa kompromi jika menyangkut kesembuhan pasiennya. Ketika dia merasa kau tidak boleh pulang, dia tak akan memulangkanmu.” Genggaman tangan Xavier bertambah erat. “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Seperti kesepatakan kita, aku akan bertahan sampai anak kita dilahirkan.”


***

__ADS_1


Mobil mereka berhenti di lobby besar rumah Xavier yang megah setelah mereka melalui area taman luas yang memisahkan pintu gerbang area rumah ini dengan pintu depannya.


Xavier menolehkan kepala ke arah Sera, bibirnya menyunggingkan senyum ketika dilihatnya mata Sera tampak mengamati keseluruhan rumah Xavier yang sejak dia diasingkan ke rumah lain, sama sekali tak pernah dikunjunginya.


“Kau tidak keberatan, bukan? Untuk menjalankan klausul dariku, kita harus tinggal bersama.”


Sera menatap mata Xavier dan melihat sepercik keraguan di sana yang disembunyikan oleh lelaki itu. Dia berusaha menyingkirkan prasangka yang selama ini membayangi matanya. Seperti nasehat Elana tadi, kesempatan mereka bisa tinggal berdua seperti saat ini, akan digunakannya semaksimal mungkin untuk melihat Xavier sebagai sosok lelaki seutuhnya, tanpa embel-embel citra antagonis yang seolah lekat pada dirinya.


Apakah setelah itu dia akan mampu mempercayai Xavier seutuhnya hingga berani mengutarakan rasa cinta di hatinya? Entahlah, Sera sendiri bahkan tidak berani memberikan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan kepada dirinya sendiri itu.


“Aku tidak keberatan. Kurasa… itu akan bagus untukku dan juga untuk….” Sejenak Sera menghentikan kalimatnya, sedikit ragu untuk menyebutkan tentang anak mereka karena takut Xavier tak akan menyukainya. Tetapi akhirnya dia berhasil mengumpulkan keberaniannya dengan mengelus perutnya lembut. “Kurasa kalau kita tinggal bersama, itu akan bagus untuk anak kita,” sambungnya perlahan.


Xavier bisa merasakan bagaimana mata lebar itu menatapnya dengan penuh perhatian seolah berusaha menyelisik ke kedalaman hatinya. Sera ragu dan takut membicarakan kehamilannya dengan Xavier, dan itu terasa menyedihkan, membuat hatinya sedikit sakit.


Tetapi itu salah Xavier sendiri, bukan? Dia sendiri yang telah berusaha memutus ikatan emosionalnya dengan ibu dan bayi di dalam kandungannya. Sekarang, setelah dia berubah pikiran dan berusaha memperbaiki semuanya, kerusakan sudah terjadi dan tidak secepat itu bisa dilakukan perbaikan.


Xavier harus sabar dan seperti yang dikatakan oleh Akram tadi, dia harus berani menunjukkan kelemahannya di depan Sera… supaya perempuan itu jatuh luluh dan mencintainya.


“Sebelumnya mungkin aku harus minta maaf kepadamu, Sera.” Xavier memandang Sera dengan ekspresi penuh penyesalan yang tidak dibuat-buat. “Kau sedang hamil, tetapi kau harus tinggal bersamaku yang sedang sakit. Kurasa aku nantinya akan merepotkanmu dengan kondisiku yang sakit ini dan itu membuatku seperti pria tak tahu diri, memaksa istrinya yang sedang hamil untuk merawatnya…” Ketika melihat mata Sera yang melebar, Xavier menahan seringaiannya. “Mungkin aku akan mengambil salah satu perawat ahli untuk merawatku dan….”


“Tidak usah, Xavier.” Sera tanpa sadar menyentuhkan tangannya di lengan Xavier dan mengguncangnya lembut. “T-tentu saja kau masih tetap membutuhkan kunjungan tim medis yang ahli untuk memantau kondisimu. Tetapi kalau untuk sehari-hari… aku bisa merawatmu.”


Xavier menatap Sera meminta maaf. “Benarkah? Aku tak ingin kau memaksakan dirimu.”


“Aku tidak memaksakan diri, Xavier.” Sera menjawab dengan sungguh-sungguh, tatapan matanya yang polos tampak berbinar, berusaha menyakinkan Xavier dengan ketulusannya.


Hal itu meluluhkan hati Xavier, membuat seberkas senyum tak bisa ditahan lagi dan muncul di sudut bibirnya.


“Terima kasih. Aku sangat menantikan saat-saat kita tinggal bersama. Pasti akan menyenangkan.”


Pintu ruang kabin penumpang mobil itu terbuka oleh sang supir yang bertugas dan Xavier melangkah turun dari mobil lalu mengulurkan tangannya kepada Sera.Ketika Sera menerima uluran tangannya, Xavier membantu Sera turun dari mobil tersebut dan menggandeng tangannya melangkah memasuki pintu rumah megah yang seolah menanti.


Untuk saat ini, Xavier telah memutuskan untuk membalik semua rencananya. Dia akan menikmati semaksimal mungkin saat-saat bersamanya dengan Sera. Akan disingkirkannya perkara Aaron yang masih menggantung di luar sana dalam hubungan mereka.


Akan disingkirkannya segala ganjalan yang mengganggu akibat harga diri dan keangkuhan di antara mereka. Dia akan membangun kedamaian, membangun hubungan baik dan memelihara cinta terpendanya kepada perempuan ini supaya semakin dalam dan membuahkan kenangan indah.


Sebab, mungkin saja tak lama lagi nyawanya akan tercabut di atas meja operasi ketika melakukan transplantasi nanti, bukan?


Jika sudah begitu, tak ada gunanya menyia-nyiakan waktu. Xavier memutuskan untuk menjadi lelaki egois. Akan diambilnya semua hal terindah yang bisa didapatkannya dari Serafina Moon, istrinya tercinta.


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


 


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2