Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 4B: Salah Paham


__ADS_3


 


 


Insiden kematian lima orang penjahat itu berlalu. Dan hari demi hari, orang-orang akhirnya melupakan insiden itu dan menjalani hari mereka seperti biasa.


Xavier juga telah benar-benar pulih. Beruntung dirinya masih muda ketika menjalani semua hajaran dan siksaan itu, karena tubuh mudanya masih memiliki regenerasi sel yang baik untuk memperbaiki diri dan menyembuhkan cideranya secara alami. Dia mulai membuka diri, mau berbicara meskipun hanya sepatah-sepatah kata singkat kepada keluarganya.


Tetapi, ada satu hal yang sangat mengganggu Xavier, itu adalah ketika ayahnya memberi hadiah Akram satu set mainan robot yang bisa meninju dan menendang jika digerakkan dengan remot kontrol. Mainan itu merupakan mainan edisi terbatas yang dibeli oleh Baron dari luar negeri, dan mainan itu membuat Akram sangat senang.


Begitu senangnya sampai dia tak mau bermain lagi bersama Xavier.


Layaknya bocah kecil yang memperoleh mainan baru nan menarik, Akram terus bermain dengan robot mahalnya itu setiap ada kesempatan. Dia seperti lupa pada Xavier. Setiap pulang sekolah, Akram tidak lagi berlari mencari Xavier atau mengekori kemanapun Xavier pergi, tetapi malah sibuk dengan mainannya.


Hal itu membuat Xavier sangat terganggu, hingga sampai di batas kesabarannya.


“Akram,”


Xavier mencoba memanggil Akram yang tengah sibuk di ruang bermain, seperti biasa tengah membuat kedua set robotnya saling meninju dan menendang dalam pertarungan yang luar biasa asyik di mata seorang anak berumur lima tahun.


Tentu saja, karena keasyikannya, Akram tak menjawab pertanyaan Xavier, permainan di depannya terlalu menarik jika dibandingkan dengan panggilan kakaknya.


“Akram,” suara Xavier menajam, sedikit menaikkan nada suaranya untuk menarik perhatian Akram. “Kakak hendak bermain di kolam renang belakang, kita bisa berenang dan…”


Suara Xavier terhenti ketika Akram menggelengkan kepala kuat-kuat, sementara matanya masih fokus menatap robotnya.


“… tak mau berenang,” sahut Akram sambil lalu.


Kesabaran Xavier habis sudah. Dia langsung merangsek masuk ke dalam ruang bermain, merenggut remot kontrol di tangan Akram dan membantingnya sekuat tenaga ke dinding hingga hancur berantakan. Tak cukup melakukan itu, Xavier bahkan mengarahkan kakinya untuk menginjak-injak kedua robot Akram hingga tercerai berai, lebur tak berbentuk lagi.


Suara tangisan Akram langsung membahana begitu melihat mainannya dihancurkan oleh Xavier. Hal itu membuat Marlene dan beberapa pelayan serta pengasuh Akram langsung tergopoh-gopoh berdatangan memasuki ruang bermain itu.


Marlene tertegun, begitupun yang lainnya. Di depan mata mereka, tampak Xavier yang berdiri tanpa rasa bersalah dengan Akram yang menangis di kakinya.


Mata Marlene tertuju pada robot mainan Akram yang rusak dan perempuan itu mengerutkan kening, antara bingung bercampur sedih.


“Kenapa kau merusak mainan Akram, Xavier?” Marlene mengulurkan tangannya ke arah Akram yang menangis, dan anak kecil malang itu langsung lari ke pelukan ibunya, tersedu di sana menumpahkan air mata.Xavier mendongakkan dagu dengan sikap angkuh.


“Aku tak suka mainan itu. Akram jadi tidak mau bermain denganku.”


“Tapi itu adalah hadiah ulang tahun Akram dari ayah, kau tidak seharusnya….”


“Aku diculik untuk menggantikan Akram,” Xavier menyahut dengan sikap dingin, dan perkataannya itu begitu telak hingga membuat apapun yang hendak dikatakan oleh Marlene langsung tertelan di tenggorokannya. “Dan aku tidak meminta apapun sebagai balasannya. Aku hanya meminta Akram mau bermain denganku dan tidak sibuk sendiri dengan mainannya. Apakah itu terlalu berlebihan?” tanyanya telak.


Marlene tertegun, matanya menatap ke arah Xavier yang seperti malaikat tanpa dosa. Seketika, dia berlutut supaya kepalanya bisa sejajar dengan Akram, lalu meraih pundak mungil Akram yang masih menangis, dan sedikit menjauhkannya dari tubuhnya supaya anaknya itu bisa menatap langsung ke wajahnya.


“Akram, mulai sekarang, kau harus bermain dengan kakakmu. Jangan sibuk dengan mainan-mainanmu sendiri, oke?”


 



 


Sayangnya, situasi dalam keluarga tidak membaik setelah insiden pertama itu. Xavier mulai berlebihan dalam menuntut perhatian Akram, mainan apapun yang dimiliki oleh Akram selalu direbut dan dirusakkannya.


Kejadian itu terus dan terus berulang, sementara Marlene tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selalu lemah diliputi oleh rasa bersalah ketika Xavier menatapnya dengan matanya yang bening dan mengatakan bahwa yang diinginkannya hanyalah bermain bersama Akram.


Permintaan itu tentu saja tidak berlebihan. Bagaimanapun… Akram bisa hidup bahagia di rumah ini dengan tenang tanpa ada satu trauma pun yang menggayuti, itu semua karena Xavier. Karena Xavier telah menggantikan Akram dalam penculikan itu.


“Aku hendak mengajak Akram dan Xavier ke petshop hari ini. Aku sudah berjanji kepada mereka bahwa kita akan mengadopsi seekor anak anjing lucu untuk teman bermain mereka.”


Pemberitahuan Marlene itu membuat tangan Baron yang hendak mengarahkan cangkir kopi ke bibirnya langsung membeku. Mereka tengah duduk bersama di meja makan untuk sarapan pagi sebelum Baron berangkat bekerja.


“Apakah menurutmu itu bijaksana, Marlene?” Suara Baron pekat oleh keraguan. Lelaki itu meletakkan cangkirnya, kehilangan selera untuk menyesap minumannya.


“Memangnya kenapa?” Marlene mengangkat alis, bingung melihat sikap Baron.


“Kau tahu bagaimana Xavier selalu merebut dan merusak mainan Akram, bukan? Bagaimana jika…”


“Mereka akan membesarkan anak anjing itu bersama-sama, aku yakin anak anjing itu akan tumbuh besar menjadi sahabat dan penjaga mereka berdua,” Marlene tersenyum polos dan tanpa prasangka. “Jangan khawatir, Baron. Aku mengadopsi anak anjing karena kelihatannya Akram masih sedih ketika anak kucing yang dipungutnya ditemukan mati karena dimangsa oleh kucing yang lebih besar, kuharap hal ini akan menghiburnya. Lagipula, kedua anak kita sudah cukup besar untuk mengadopsi dan merawat seekor anak anjing, malahan itu akan mambuat mereka berlatih untuk mengemban tanggung jawab dalam merawat makhluk hidup yang diserahkan ke tangan mereka.”


Baron tidak membantah. Dia hanya menyimpan kecemasan itu bagi dirinya sendiri. Marlene memang tahu bahwa anak kucing yang dipungut Akram mati mengenaskan. Tetapi, istrinya itu tidak tahu bahwa anak kucing itu ditemukan mati oleh tukang kebun mereka dengan leher tercekik tali dan digantung dengan kejam di langit-langit gudang.


Baron berhasil membuat semua orang yang mengetahui tentang insiden itu menutup mulut dari Marlene untuk menjaga perasaan istrinya. Tetapi, tetap saja dia tak bisa menyembunyikan kengeriannya akan perubahan perilaku Xavier yang makin tak terkendali.


Oh, Xavier memang tak mungkin melukai mereka. Meskipun anak itu dari kehari semakin menyibukkan diri di lab mininya untuk membuat segala jenis ramuan kimia mengerikan yang tak teridentifikasi, tetapi Baron tahu bahwa Xavier sangat menyayangi keluarganya.


Setidaknya, Xavier sangat menyayangi Marlene dan Akram. Sedangkan dirinya? Entahlah. Sejak peristiwa penculikan itu, Xavier sangat menjaga jarak dengannya. Anak itu hampir tidak pernah berbicara dengannya, tetapi selalu mengucapkan terima kasih dengan tulus ketika Baron memberinya hadiah, contohnya adalah ketika Baron membuatkan lab mini itu untuknya.


Mungkin Xavier masih menyimpan dendam kepadanya karena memilih mengorbankannya dan tidak menebusnya dari tangan para penculik itu… Yah, bagaimanapun, Baron tidak bisa menyalahkan Xavier karenanya.


Mata Baron diam-diam melirik ke arah Marlene, sementara benaknya mendesiskan doa dalam hati.


Semoga… semoga saja, anak anjing itu baik-baik saja dan tidak terjadi insiden mengerikan lagi di rumah ini.


 

__ADS_1



 


Doa Baron hanya bertahan seminggu lamanya. Kali ini, mereka tidak bisa menyembunyikan segala kehebohan itu dari Marlene.


Pada pagi hari, rumah mereka dikejutkan oleh suara teriakan ngeri pelayan yang menemukan anak anjing adopsi mereka telah termutilasi di kebun belakang. Teriakan itu membuat semua orang waspada, tergopoh-gopoh berkumpul hanya untuk melihat pemandangan mengerikan di depan mata mereka.


Akram menangis keras ketika melihat anjing kesayangannya sudah dalam wujud tak karuan, sementara Xavier bersikap dewasa, hanya merangkul Akram supaya tidak melihat pemandangan traumatis itu, lalu mengajak Akram masuk ke dalam rumah untuk menghiburnya.


Marlene sendiri begitu syok, hingga ketika Baron mengambilkannya air minum di dalam kamar mereka, dia hanya bisa terduduk di tepi ranjang, menerima gelas air itu, tetapi hanya meletakkannya di pangkuan dan tidak meminumnya.


“Kita harus menyewa pemburu hewan liar untuk memeriksa kebun belakang. Siapa yang tahu, mungkin ada musang atau hewan buas lainnya yang bersembunyi di sana?” ucap Marlene dengan suara bergetar.


Baron menghela napas panjang. Dia lalu berlutut di depan Marlene, menatap mata istrinya itu dalam-dalam.


“Sayang. Apakah kau tidak pernah berpikir…. Kalau bukan binatang buas pelakunya?”


Mata Marlene melebar. “Apa maksudmu?” tanyanya bingung.


Baron tampak ragu, tetapi akhirnya memutuskan untuk berterus terang dan mengungkapkan kenyataan kepada istrinya.


“Kucing Akram yang mati itu, dia tidak dibunuh oleh binatang buas. Tukang kebun menemukannya digantung di langit-langit gudang belakang. Dan anak anjing itu… apakah kau tidak melihat kalau tubuhnya terpisah dengan rapi? Hewan buas akan mencabik-cabiknya hingga berantakan. Tetapi yang ini…”


“Oh… astaga!” Marlene meletakkan sebelah tangannya di mulut untuk mengekspresikan keterkejutannya. Matanya semakin melebar, menatap Baron dengan syok yang amat sangat. “Astaga, Baron! Maksudmu… maksudmu… kau menuduh… menuduh Xavier melakukan ini? Teganya… teganya kau!”


“Marlene. Aku bukan menuduh tanpa alasan. Tidakkah kau melihat ini sebagai suatu kebetulan? Xavier selalu merusak dan menghancurkan mainan-mainan Akram. Sekarang, dua binatang peliharaan kesayangan Akram, semuanya mati mengenaskan. Apakah kau tetap ingin menutup mata dari semua ini?” sahut Baron dengan nada tak sabar.


Pernyataan Baron itu membuat benak Marlene berpikir. Dan mau tak mau, dia menyadari kebenaran di balik perkataan Baron tersebut. Seketika, air matanya tumpah ruah tak terkendali, membuat Baron harus mengambil gelas air yang tadi diberikannya dari tangan Marlene yang gemetaran dan meletakkannya di atas meja. Dia lalu duduk di tepi ranjang di sebelah Marlene, dan memeluk istrinya yang menangis.


“Xavier tidak seharusnya tumbuh menjadi anak yang sekejam itu… dia… dia pasti begitu karena penyiksaan yang dialaminya. Kitalah yang menyebabkan dia menderita seperti ini. Penculikan itu terjadi karena kita mengambil Xavier sebagai anak angkat kita!” Marlene mendongakkan kepala dan menatap Baron dengan penuh tekad. “Mulai sekarang, kita harus memastikan bahwa tidak ada lagi binatang peliharaan di rumah ini, dan tidak ada lagi mainan-mainan atau segala sesuatu yang menarik perhatian Akram terlalu jauh sehingga membuat Xavier merasa ditinggalkan. Kau setuju denganku kan?”


Pertanyaan Marlene membuat Baron terperangah, lidahnya kelu hingga tak ada suara apapun yang bisa dikeluarkan dari mulutnya. Sementara itu hatinya tersayat pedih.


Marlene selalu menempatkan Xavier di atas segalanya. Tidakkah istrinya itu sadar, bahwa di atas semua rasa bersalah yang ingin ditebusnya, Akram adalah anaknya juga?


 



 


Tahun demi tahun berlalu dengan pola yang sama. Ketika Akram tertarik kepada sesuatu, Xavier akan menghancurkannya. Itu terus terjadi berulang hingga akhirnya membentuk kepribadian Akram menjadi sosok yang tidak pernah menunjukkan emosinya.


Ya, itu semua karena Akram tahu, sedikit saja dia menunjukkan emosi tertarik pada sesuatu, maka Xavier akan merebut dan menghancurkannya. Akram bahkan tampaknya telah terbiasa dinomorduakan oleh Marlene, ibu kandungnya sendiri, yang selalu memprioritaskan Xavier di atas segalanya.


Semua orang sendiri sudah lupa akan motivasi Xavier melakukan itu semua, mereka lupa bahwa yang diinginkan oleh Xavier adalah perhatian Akram sepenuhnya sebagai kakak beradik yang akrab, sama seperti sebelum insiden penculikan itu terjadi.


Situasi menegangkan dalam keluarga mereka itu, tak luput dari perhatian Baron yang selama ini hanya bisa diam mengawasi. Suatu malam, sebelum mereka beranjak tidur, Baron akhirnya mengutarakan rencananya kepada istrinya.


“Tinggal sebulan lagi Akram lulus dari sekolah menenahnya. Aku sudah mendaftarkan Akram untuk masuk ke sekolah asrama terbaik di luar negeri supaya anak kita bisa belajar mandiri sekaligus mendapatkan ilmu terbaik baginya. Bagaimanapun, Akramlah yang akan menjadi penerus Night Corporation nantinya.”


Marlene yang hendak bersiap-siap tidur langsung membuka matanya lagi, menatap ke arah Baron dengan terkejut.


“Kenapa begitu mendadak? Kau bahkan hendak mengirim anak kita tinggal di luar negeri tanpa membicarakannya denganku dulu?” serunya cepat. Tiba-tiba, ekspresi Marlene berubah sendu ketika dirinya seolah-olah menyadari sesuatu. “Apakah kau tidak memikirkan tentang Xavier? Selama ini dia sudah tak punya teman karena menjalani home schooling sehingga dia tak pernah keluar rumah. Dia akan sangat sedih kalau kau sampai mengirim Akram ke luar negeri.”


Baron menghela napas panjang. “Kau tahu aku sudah memikirkannya sejak lama. Tidak sehat bagi Akram untuk tinggal di rumah ini. Apakah kau tak pernah memperhatikan anakmu itu? Dia menjadi pendiam dan tanpa emosi, kau tidak lihat kenapa dia melakukannya? Sebab dia takut jika dia menunjukkan ketertarikannya sekecil apapun kepada sesuatu, kakaknya akan merebut dan menghancurkannya. Selama ini kau sengaja menutup mata dan aku sendiri tidak lebih baik, aku hanya diam dan memperburuk segalanya. Tetapi, kita belum terlambat, kita masih bisa memperbaikinya. Ada yang salah dengan mental Xavier. Penculikan itu telah mengganggu kondisi psikologisnya dan kita tak bisa membiarkannya terus-terusan begini. Xavier bisa menjadi pembunuh kejam kalau kita menutup mata terhadap hal ini.”


Baron menatap mata Marlene dengan sungguh-sungguh. “Aku tahu kau tak mau memaksa Xavier. Tetapi, bisakah kau membujuk Xavier untuk menjalani terapi dan konseling untuk memantau kesehatan mentalnya? Dia selalu lemah terhadap permohonanmu, aku yakin Xavier akan mau melakukan itu jika kau yang memintanya. Maukah kau melakukannya?”


Sejenak, Marlene tampak ragu. Tetapi melihat betapa seriusnya masalah yang mereka hadapi saat ini, Marlene akhirnya menganggukkan kepala.


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Baron, direngkuhnya tangan Marlene dan digenggamnya erat-erat.


“Aku tak mau Akram tumbuh dalam ketakutan dan tertekan jiwanya. Aku ingin Akram mendapatkan kebebasan, bisa memiliki apa yang dia suka dan bisa berteman dengan siapapun dan apapun yang dia mau,”


Baron kembali menatap Marlene, pandangannya bersungguh-sungguh dan penuh tekad. “Kali ini kumohon kepadamu untuk sekali saja memikirkan tentang Akram, Marlene. Aku tahu Xavier adalah prioritas pertamamu. Tetapi, Akram adalah anakmu. Anak kandungmu yang kau kandung dan kau lahirkan ke dunia ini dengan kekuatanmu, dia adalah buah cinta kita yang seharusnya menerima limpahan cinta kita sepenuhnya. Aku mohon, Marlene, satu kali ini saja, pikirkanlah kepentingan Akram terlebih dahulu di atas Xavier.”


 



 


“Tuan muda sudah datang!”


Seruan bersemangat para pelayan membuat Xavier yang asyik membaca buku di ruang tengah menolehkan kepalanya dengan tertarik.


Ya, setelah tiga  tahun lamanya Akram bersekolah di luar negeri dan tak pernah pulang ke rumah, adiknya itu akhirnya menyelesaikan pendidikannya dan pulang kembali.


Selama tiga tahun Akram bersekolah, memang Xavier sama sekali tak pernah bertemu dengan Akram. Ketika hendak menemui Akram, kedua orang tuanyalah yang datang berkunjung ke sekolah Akram. Mereka beralasan bahwa sekolah Akram sangatlah ketat sehingga tidak mengizinkan murid sekolahnya berlibur dalam waktu lama.


Tetapi, Xavier bukanlah orang bodoh. Dia jelas tahu bahwa tidak ada sekolah seketat apapun itu yang sampai meminimalisir waktu liburan untuk murid-muridnya.


Kedua orangtuanya, mungkin diprakarsai oleh ayahnya, memang sengaja menghindarkan Akram darinya.Tetapi bukan masalah, karena Xavier tahu, bahwa Akram tidak bisa terus menerus bersekolah di luar negeri. Adiknya itu, mau tak mau harus pulang ke rumah karena dia harus belajar langsung di Night Corporation untuk mengemban tugas sebagai penerus utama perusahaan ayahnya.


Ketika semua orang dengan bersemangat berkumpul di halaman luar bersama Marlene yang tak sabar menyambut kepulangan Akram, Xavier meletakkan bukunya diam-diam dan melangkah menuju jendela, mengintip dengan ketidaksabaran yang sama.


Yang ditunggu akhirnya tiba juga. Mobil hitam yang membawa Akram akhirnya tiba di halaman rumah dan tak lama kemudian, Baron Night turun diikuti oleh anak lelakinya. Para pelayan tampak sibuk membuka bagasi dan mengangkat barang-barang Akram, dan Xavier terus mengawasi sosok Akram yang saat itu tengah dipeluk oleh Marlene ibunya.

__ADS_1


Tiga tahun tidak bertemu, Akram telah tumbuh menjadi sosok yang tinggi dan atletis, bahkan bisa dibilang adiknya itu lebih tinggi darinya. Sosok Akram jelas merupakan cerminan lebih muda dari Baron Night yang memiliki ketampanan ningrat yang khas. Dan Xavier yakin bahwa Akram akan tumbuh menjadi pemimpin yang hebat dan berkharisma seperti Baron Night nantinya.


Ketika dilihatnya sosok Akram bersama kedua orang tuanya mulai membalikkan tubuh dan melangkah kembali memasuki rumah, Xavier segera menjauh dari jendela dan berdiri menanti.


Tak perlu menunggu lama hingga pintu terbuka dan Akram melangkah masuk. Seketika, tatapan mereka berdua langsung bersirobok, dan ekspresi Akram yang tadinya lembut dan penuh tawa, langsung berubah tegang serta terkendali.


“Selamat datang kembali di rumah,” Xavier tersenyum lebar, berusaha menunjukkan ketulusannya dalam menyambut kedatangan adiknya itu.


Tetapi, tanggapan Akram benar-benar di luar harapan. Adiknya itu menatapnya dengan saksama dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu menganggukkan kepalanya sedikit sebagai tanggapan dan langsung melangkah pergi seolah-olah merasa muak untuk berinteraksi meskipun hanya setitik dengan kakaknya.


 



 


Sudah terlalu sering gadis itu datang bertandang ke rumah sejak makan malam terakhir yang diadakan oleh kedua keluarga dekat yang saling bertetangga.


Gadis itu bernama Anastasia, mereka sama-sama tinggal di kompleks perumahan mewah ini dengan jarak hanya beberapa blok saja.


Karena keluarga mereka bertetangga dan ayahnya adalah rekan bisnis Baron Night, maka sudah menjadi hal yang wajar jika kadang kedua keluarga saling mengunjungi untuk makan malam bersama.Tetapi, pada makan malam yang terakhir, Xavier sudah merasa curiga, karena tidak biasanya, keluarga Dawn datang membawa anak perempuan mereka ke rumah ini.


Sudah jelas mereka membawa anak perempuan mereka dengan harapan lebih karena mendengar bahwa pewaris utama keluarga Night telah pulang dari sekolahnya di luar negeri. Dan harapan keluarga Dawn sepertinya tak sia-sia, karena Akram langsung terpesona dan tergila-gila pada Anastasia sejak pandangan pertama.


Anastasia sangatlah cantik, dengan tubuh indah dan wajahnya yang luar biasa, perempuan itu memiliki keindahan alami seorang perempuan yang bisa membuat para lelaki – terutama lelaki seperti Akram yang sangat polos dan menghabiskan hari-harinya di asrama pria tanpa pengalaman degan perempuan – tergila-gila dengan mudahnya.


Tentu saja Xavier tidak termasuk di antara lelaki polos itu. Dia terlalu cerdas dan berpengalaman, dan sekali lihat saja, dia sudah langsung tahu bahwa Anastasia adalah rubah betina jalang yang bersembunyi di balik penampilan polosnya untuk menipu Akram.


Saat ini, Xavier mengawasi diam-diam ketika melihat Anastasia datang berkunjung kembali, membawakan kue dan berbasa-basi dengan Marlene, sebelum kemudian Akram datang dan mengajak Anastasi pergi dari rumah ini. Lebih sering, Akramlah yang datang ke rumah Anastasia, lalu adiknya itu menghabiskan waktu begitu lama di sana dan baru pulang hingga larut malam.


Ya, Xavier tahu bahwa Akram sudah menjalin hubungan dengan Anastasia. Dan Akram juga tahu bagaimana Akram menghindarkan Anastasia dari dirinya. Bahkan, semua orang di rumah ini juga menutup mulut mereka, seolah-olah nama Anastasia sangat tabu untuk diucapkan.


Semua orang memang memperlakukannya dengan baik, terutama Marlene dan Baron. Para pelayan dan pegawai ayahnya juga bersikap baik kepadanya. Tetapi, Xavier tahu pasti bahwa mereka semua menyimpan rasa takut dengan kadar berbeda-beda kepada dirinya. Sebagian besar dari mereka pasti menganggapnya sebagai orang gila karena harus menjalani konseling tanpa henti dengan berbagai psikiater dan dokter jiwa. Belum lagi, sikap Xavier yang pendiam dan misterius serta lebih sering menghabiskan waktu di lab pribadinya, membuat semua orang semakin enggan mendekatinya.


Yah, semua orang berusaha menyelamatkan Anastasia dari dirinya yang dianggap gila. Tetapi, tidak ada satupun yang sadar dan bergerak untuk menyelamatkan Akram dari cengkeraman Anastasia.


Dia tidak akan membiarkan adiknya jatuh ke dalam tangan keluarga Dawn yang materialistis dan sengaja memanfaatkan anak gadisnya untuk menjerat Akram.


Dia tidak akan membiarkan Anastasia, perempuan palsu nan licik itu mengambil hati adiknya sebelum kemudian menghancurkan hati Akram hingga berkeping-keping.


Xavier tahu bahwa saat ini, sudah saatnya bagi dirinya untuk bertindak sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya.



 


N.O.T.E.D


Sorry


Episode 4 ternyata terlalu panjang untuk dijadikan 1 part karena terdiri dari 8000 words, jadi author memecahnya menjadi 3 bagian, episode 4A, 4B dan 4C , supaya tidak terlalu panjang loadnya ketika baca dan malah eror nantinya.


Eps 1 - 4 A, B dan C akan author gunakan untuk mengulas masa lalu Xavier dulu. Yang menunggu romance Xavier, sabar yakk nanti pasti muncul.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 



Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.



Regards, AY

__ADS_1


 


 


__ADS_2