Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 106 : Skin to Skin


__ADS_3


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo, beautiful ladies


ini adalah part 1 dari 6 episode yang akan diupload minggu ini.


Maafkan telat ya, authornya sakit flu lagi karna kurang bisa jaga diri jadi mudah ketularan. Akibatnya otak ga bisa buat mikir.


Kondisi baru agak mendingan hari ini. Ini pun nyoba bikin satu part sampai 12 jam lebih baru kelar ahahaha biasanya cuma 4 jam satu part. Maaf ya.


Semoga 5 episode sisanya bisa author kejar keluar semua full di hari jumat dan sabtu ini ya. Target seminggu 6 part, kalau masih gak enak badan ya kurang, kalau author sehat mudah2an bisa lebih. Kalau ga kuat, ntar di crazy update di minggu depannya, ahahahaha


Regards - AY


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Butuh beberapa lama bagi Elana untuk menjernihkan otaknya yang dipenuhi kepanikan. Tangannya masih menangkup dahi Akram yang panas membara, sementara dengan tangan satunya dia membuka ponselnya terburu-buru, mencari di bagian phone book dengan putus asa.


Ada beberapa nomor rekan-rekan kerjanya yang tersimpan di sana selain nomor Akram, kebetulan mereka semua pernah saling bertukar nomor saat bekerja bersama dulu. Tetapi, tentu saja Elana tak mungkin meminta bantuan pada mereka, kan?


Benak Elana mulai berpikir untuk mencoba lari ke teras meminta bantuan. Akram bilang anak buahnya ada di sekeliling rumah ini untuk memberikan penjagaan... mereka pasti akan datang menolong begitu melihat Elana meminta bantuan di teras rumah.


Tatapan Elana seketika terpaku pada salah satu nama yang melegakan hatinya. Elios... ada nama Elios di sana, entah kapan Elana menyimpan nomor itu, tetapi di detik ini, Elana sungguh bersyukur telah menyimpan nomor itu.


Elana hampir menekan nomor Elios ketika tiba-tiba layar ponselnya berubah terang dan berkedip-kedip, disusul oleh suara keras dering ponsel kemudian. Keningnya berkerut ketika melihat panggilan nomor asing terpampang di sana.


Nomor siapa ini? Apakah nomor salah sambung? Sebab... tidak ada yang tahu nomornya ini selain yang telah bertukar kontak dengannya, kan? Jadi... apakah sebaiknya dia angkat.. atau jangan diangkat kalau menimbang keamanannya?


Elana menelan ludah, sempat bimbang selama beberapa detik. Tetapi, pemikiran bahwa ini mungkin saja panggilan penting, Elana memutuskan untuk mengangkatnya. Toh Elana bisa menutup panggilan kapan saja ketika dirasa orang yang meneleponnya di sebelang saja salah sasaran.


"Halo?" Elana bertanya cepat begitu dia mengangkat panggilan itu. Suaranya masih gemetar, diselipi rasa panik ketika telapak tangannya yang lain merasakan dahi Akram yang membara.


"Elana... ini Xavier, aku mendapatkan nomormu dari daftar karyawan. Maaf aku meneleponmu malam-malam, tetapi ada beberapa berkas yang harus..." suara Xavier terhenti. Ingatannya yang kuat langsung menyadari bahwa nada suara yang digunakan oleh Elana, berbeda jauh dengan nada suaranya yang biasanya. "Kenapa? Ada apa, Elana?" tebaknya tajam.


Seketika Elana *** ponsel di tangannya, suaranya gugup dan gemetarannya lebih terdengar nyata kali ini.


"Xa...xavier..." Elana memanggil Xavier seolah lelaki itu adalah satu-satunya tumpuannya. "Akram... dia sakit... dia demam... panasnya tinggi sekali dan dia..."


"Kompres dia untuk pertolongan pertama, aku akan menghubungi Nathan dan Elios lalu ke sana," suara Xavier terdengar tegang dan cemas, lelaki itu lalu menutup pembicaraan telepon tanpa memberikan kesempatan bagi Elana untuk berucap lagi.


Segera setelah mendapat instruksi itu, Elana langsung terloncat, seolah kesadarannya kembali dan membuatnya berpikir cepat.


Dia mengambil mangkuk, mengisinya dengan air hangat, lalu mencelupkan handuk kecil di sana. Setelahnya dibawanya mangkuk kompres itu ke dekat Akram dan diletakkannya di atas meja.


Akram sendiri masih ada di posisi yang sama dengan saat Elana meninggalkannya tadi, duduk setengah rebah dan menyandarkan tubuhnya sepenuhnya di punggung sofa dengan kepala terdongak. Napas lelaki itu tampak tersengal seiring dengan keningnya yang berkerut seolah menahan sakit.


"Akram..." Elana memanggil nama lelaki itu perlahan, "Aku... aku akan membantumu berbaring, ya?"


Lelaki itu sudah tentu tak menjawab, dan Elana sendiri langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membantu Akram berpindah dari posisi duduk ke posisi berbaring di atas sofa tersebut.


Tubuh Akram yang lunglai langsung rebah menimpanya ketika Elana mencoba menariknya. Hampir saja Elana terjerembab mundur karena tak siap menerima beban tubuh Akram yang ditumpangkan sepenuhnya pada dirinya, beruntung kakinya masih menahan diri, kuat meskipun gemetaran, menjadi pasak bagi tubuhnya supaya tak terjatuh.


Sekuat tenaga Elana memiringkan tubuh Akram, lalu dengan hati-hati mengubah posisi punggung lelaki itu supaya rebah dengan alas sofa di bawahnya dalam posisi telentang. Elana lalu menarik kaki Akram yang panjang dan meluruskannya sehingga lelaki itu sekarang sudah berhasil terbaring sepenuhnya.


Tangan Elana kemudian bergerak, mengambil kompres lalu menempelkannya di dahi Akram yang panas membara. Dia melakukanya berulang-ulang. Setelahnya, tangan Elana bergerak menangkup pipi Akram, memeriksa dahi dan lehernya dan kecemasan langsung menggayuti hatinya kembali ketika menyadari bahwa demam Akram tak juga turun.


Beruntung kemudian terdengar suara ketukan di pintu, membuat Elana dengan tergopoh-gopoh menghambur ke arah sana. Dirinya sempat bersikap waspada dengan mengintip melalui jendela dulu untuk memastikan apakah yang datang itu sesuai dengan dugaannya dan kelegaan langsung membanjirinya ketika melihat siapa yang datang, membuatnya bergerak secepat kilat untuk menekan tombol kunci pengaman dan membuka pintu.


Elios, dokter Nathan dan Xavier tampak berdiri di sana. Elana melihat di belakang mereka mobil-mobil yang berbeda terparkir serampangan di depan rumah, seolah-olah mereka bertiga langsung berangkat terburu-buru dari rumah masing-masing begitu mendapatkan kabar.


Seketika Elana langsung memiringkan tubuh untuk memberi jalan masuk.


***



***


"Dia hanya demam biasa, sepertinya Akram kelelahan akhir-akhir ini, kurang tidur, di tambah lagi dia masih dalam masa penyembuhan akibat luka tembakan di dadanya, sehingga daya tahan tubuhnya menurun dan membuatnya terserang virus," Nathan mengeluarkan obat dari tasnya. "Demam itu pertanda bagus, itu berarti sistem pertahanan tubuhnya bekerja dengan baik. Tubuh tahu bahwa virus tidak tahan dalam kondisi panas, karena itulah mereka menciptakan lahan bertarung yang panas, sengaja menaikkan suhu guna melemahkan virus tersebut. Di saat yang sama, sistem imun tubuh bertarung melawan virus tersebut. Jika sistem imun tubuh menang, maka demam akan turun tanpa penyakit. Jika sistem imun tubuh kalah dalam pertarungan awal ini, dalam satu dua hari kita akan melihat penyakit apa yang muncul,"


"Kalau demamnya untuk lahan bertarung...." Elana mengerutkan kening ketika menggunakan istilah yang dipakai oleh dokter Nathan, "Berarti demamnya tidak boleh diturunkan?"


"Demam yang terlalu tinggi bisa menjadi pertanda bahwa virus yang menyerang sangat kuat, demam juga bisa membahayakan pasien jika terlalu tinggi dan tak bisa dikontrol. Karena itulah aku ingin kau mengawasi Akram dengan termometer digital ini," dokter Nathan meletakkan sejenis benda berbentuk seperti alat scanner di tangannya.


"Arahkan ke dahi pasien, lalu tekan tombolnya, lihat, warnanya berubah merah, bukan? Layar termometer ini akan berubah merah secara otomatis jika suhu terbaca di atas 37 derajat. Saat ini Akram sudah mencapai 38.5 derajat. Laki-laki biasanya suhunya tak akan setinggi wanita jika demam, maksimal di 40 derajat, jika wanita bisa 41 derajat. Jika suhunya sudah di atas 39 derajat, minumkan obat penurun panas ini untuknya. Jika belum... lakukan apa yang sudah kau lakukan untuk menurunkan panasnya... aku akan membantu mengganti pakaian Akram dengan yang lebih tipis untuk membantu menyejukkan tubuhnya. Kau kompres dia dan yang terbaik usahakan lakukan metode skin to skin yang lebih efektif...." dokter Nathan merendahkan nada suaranya, seolah berusaha supaya kalimatnya tak didengar oleh yang lainnya.


Elana sendiri mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Metode skin to skin?" tanyanya bingung. Suaranya terhenti ketika dokter Nathan memberi isyarat kepada Elana untuk berhenti berucap.


Lelaki itu lalu mendekat ke arah Elana dan berucap dengan nada sedikit berbisik.


"Skin to skin, kulit ke kulit," dokter Nathan menjelaskan lambat-lambat. "Suhu tubuhmu yang rendah akan efektif jika kau memeluk pasien dengan suhu tinggi, langsung kulit ke kulit, tanpa penghalang apapun."


Elana terkesiap, langsung bergerak mundur ketika memahami kalimat dokter Nathan. Pipinya merah padam karena luar biasa malu. Tepat pada saat itu, Xavier yang membantu menggantkkan mangkuk kecil baru berisi air hangat dan kompres mendekat dan meletakkan itu di meja depan mereka.


Keningnya berkerut melihat pipi Elana merah padam dan lelaki itu langsung menoleh ke arah dokter Nathan dengan pandangan menelisik.


"Ada apa? Kenapa pipinya merah? Apakah Lana tertular demam juga?" tanyanya cemas.


Dokter Nathan tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Aku hanya menjelaskan tentang metode skin to skin kepada Elana," sahutnya cepat.


Ada rona merah terlintas di pipi Xavier mendengar kalimat itu. Ketika berucap, ekspresinya berubah mencela.


"Kau sungguh mesum dan tak tahu malu," marahnya ketus.


Dokter Nathan terkekeh, lalu mengangguk ke arah Elana dan beranjak berdiri untuk mendekati Xavier.


"Ada apa Xavier? Berpura-pura polos di depan Elana? Aku tahu pengalamanmu bersama perempuan hampir sama banyaknya dengan..."


Suara pintu terbuka menghentikan kalimat Nathan yang sedianya hendak dilontarkan untuk mengejek Xavier. Semua kepala menoleh ke arah pintu, dan tampak Elios baru saja datang kembali setelah tadi pergi atas perintah dokter Nathan untuk menebus resep obat yang dibuatnya ke apotek.


"Kau mendapatkan semuanya?" dokter Nathan mengalihkan perhatiannya pada Elios yang langsung menganggukkan kepala. Lelaki itu kemudian menyerahkan kantong obat yang dibawanya kepada dokter Nathan.


Nathan langsung membawa kantong itu ke depan Elana dan mengeluarkan isinya.


"Aku masih belum akan memberikan obat yang spesifik karena panasnya baru hari ini dan kita masih belum tahu apa sakitnya. Tetapi aku sudah mengambil sampel darah Akram dan akan memeriksanya di lab malam ini juga. Untuk sementara, selain obat penurun panas tadi, berikan obat peningkat imun, anti mual dan antivirus ini kepada Akram,"


Elana yang telah berhasil mengatasi rasa malunya akibat perkataan dokter Nathan tadi menganggukkan kepala kuat-kuat.


"Apakah ada yang lain?" tanyanya dengan nada bersungguh-sungguh.


Dokter Nathan menggelengkan kepala. "Untuk sekarang fokus saja pada menurunkan demamnya dan merawatnya," jawabnya singkat.


"Saya sudah membelikan bubur hangat bagi Tuan Akram untuk disantap sebelum meminum obatnya," Elios menunjuk pada kotak makanan berwarna keemasan yang diletakkannya di atas meja makan, "Kau bisa memanaskannya jika hendak menyiapkannya nanti,"


Elana menganggukkan kepala, bersyukur Elios terpikirkan untuk membeli bubur itu, mengingat tadi Akram hampir-hampir tak mampu menghabiskan makan malamnya karena mual.


"Te.. terima kasih," Elana duduk di sofa yang sama tempat Akram berbaring, tangannya menyentuh lembut dahi Akram. "Aku... aku akan merawatnya dengan baik..." sambungnya kemudian.


"Kau yakin bisa merawat Akram di sini? Jika tidak, aku bisa mengatur supaya Akram dirawat di rumah sakit..." Nathan berucap menawarkan.


"Tidak perlu."


Sebuah suara parau yang terdengar dari arah Akram membuat semua kepala menoleh ke arah lelaki itu.


Akram membuka mata, tampak kepayahan menahan sakit, tapi jelas-jelas telah sepenuhnya sadar.


Dokter Nathan bergerak cepat mendekat, memeriksa Akram sekilas lalu bertanya.


"Bagaimana perasaanmu?"


Akram memandang semua orang di ruangan itu, lalu mengerutkan keningnya.


"Aku baik-baik saja. Kenapa kalian ada di sini?'


"Aku menelepon Elana untuk membicarakan pekerjaan, dan Elana menjawab dengan panik bahwa kau demam dan tak sadarkan diri. Jadi aku menghubungi Nathan dan Elios supaya kemari,"


Akram menyipitkan mata, menatap ke arah Xavier dengan curiga.


"Kau sendiri kenapa ikut kemari? Apakah kau sedang mencari kesempatan untuk membunuhku diam-diam?" tuduhnya sinis.


"Akram," Elana tak bisa menahan diri untuk menyela. "Xavier kemari sudah tentu karena dia mencemaskanmu," bisiknya perlahan.


Akram mengerutkan keningnya tak percaya. Tapi lelaki itu tak menyanggah perkataan Elana, hanya mengalihkan tatapannya kembali ke arah Xavier dengan sikap mengejek.


"Yang dicemaskan Xavier adalah ketika aku mati, dia tak ada di sana untuk melihat dan bertepuk tangan,"


Bukannya marah, Xavier malah tergelak mendengar perkataan Akram itu. Lelaki itu menyeringai lebar, lalu menatap ke arah Nathan dan Elios dengan ironis.


"Kalau melihat mulut berbisa Akram sudah diaktifkan kembali, kurasa kondisinya tak mengkhawatirkan lagi. Kita bisa pergi dan membiarkan Lana merawatnya," dengan lembut Xavier tersenyum ke arah Elana."Jangan terlalu memaksakan dirimu, cantik. Aku yakin besok para pelayan Akram akan datang membantumu. Jangan memforsir dirimu, karena merawat orang sakit itu kadang lebih melelahkan dan menguras kekuatan tubuhmu. Apalagi menurutku Akram termasuk pasien yang rewel dan menyebalkan. Pokoknya, kau sudah memiliki nomorku di ponselmu, jika kau butuh bantuan, kau selalu bisa menghubungiku."


Xavier seolah sengaja berucap begitu untuk memancing kecemburuan Akram. Yang lebih menjengkelkan lagi bagi Akram, Xavier tidak menunggu Akram mendapatkan kesempatan untuk menyerangnya balik, malahan langsung melenggang pergi meninggalkan rumah itu setelah berpamitan singkat kepada yang lain.


"Yah, kurasa kami juga harus pergi," dokter Nathan memberi isyarat dengan matanya ke arah Elios. "Ayo Elios, biarkan Akram beristirahat. Hubungi kami kembali jika terjadi sesuatu," sambung dokter Nathan cepat, lalu segera membalikkan badan dan pergi juga meninggalkan rumah.

__ADS_1


Elios masih tampak ragu, lelaki itu menatap ke arah Elana dan Akram berganti-ganti, lalu memberanikan diri untuk menawarkan bantuan.


"Apakah Anda memerlukan saya untuk membantu memapah Anda ke kamar?" sebenarnya Elios ingin bertanya apakah Akram berniat menginap di rumah ini, mengingat tekad Akram sebelumnya bahwa atasannya itu tak akan menginap di rumah Elana selama sebulan guna memberi waktu Elana berpikir, tetapi dia tak berani melakukannya. Karena itulah dia menggunakan pertanyaan tersirat ini untuk menemukan jawaban. Jika Akram bilang ya, berarti lelaki itu hendak menginap dan berada di bawah perawatan Elana. Jika Akram menjawab tidak, maka Elios akan menyiapkan mobil bagi Akram, berikut perawat profesional untuk menjaganya.


Akram sudah pasti memahami maksud tersirat pertanyaan Elios. Lelaki itu menganggukkan kepala dan menyeringai penuh arti.


"Tolong bantu aku ke kamar," jawabnya cepat.


Tentu saja Akram akan menginap. Mana mungkin Akram melepaskan kesempatan untuk bisa berada di bawah perawatan Elana saat dirinya sakit?


Jawaban Akram menunjukkan dengan jelas bahwa lelaki itu berniat menginap. Maka Elios dengan sigap langsung bergerak, membantu Akram bangkit dari posisinya berbaring lalu memapahnya. Beruntung kali Akram sepertinya sudah mendapatkan kekuatannya sehingga lelaki itu bisa sedikit menopang dirinya dan tak menggantungkan beban berat tubuhnya sepenuhnya pada Elios.


"Aku... aku akan menyiapkan buburnya," Elana langsung bergerak cepat begitu Elios dan Akram sudah sampai ke depan pintu kamarnya.


Akram menolehkan kepala, mengerutkan dahinya sedikit.


"Tak usah, aku tak ingin makan apapun," perintahnya dengan nada tegas.


Tetapi bukan Elana namanya kalau tak menentang perintah Akram. Dia mendongakkan dagu dan menatap Akram dengan keras kepala.


"Dokter Nathan bilang kalau kau harus makan sebelum mengkonsumsi obat karena obat itu memicu asam lambungmu naik. Jadi kau harus makan," sahutnya dengan nada tak kalah tegas.


Biasanya Akram akan menindas siapapun yang mencoba melawannya, tapi kali ini, lelaki itu hanya mengangkat bahu lalu membiarkan Elios memapahnya masuk ke dalam kamar.


***



***


"Sudah cukup," Akram memalingkan muka seperti anak kecil yang menolak makan ketika Elana mendekatkan sendok yang penuh dengan bubur ke dekat mulutnya.


"Tapi kau baru makan tiga suap..." Elana hendak menbantah, tapi Akram menggerakkan tangannya cepat untuk menghentikan kalimat Elana.


"Aku mual," Akram berucap sambil menipiskan bibir, ekspresinya tampak pucat dan menahan muntah hingga Elana tak tega untuk memaksanya.


"Apakah kau bisa meminum obatmu dengan air tanpa memuntahkannya?" dengan cepat Elana meletakkan mangkuk bubur itu di nakas samping meja, lalu mengambil air dan obat yang sudah disiapkannya di tangannya. Dia lalu duduk di samping ranjang, di sebelah Akram dan menyodorkan gelas serta obat di telapak tangannya itu ke arah Akram.


Akram menatap tajam ke arah Elana. Sedari tadi sejak dia sakit, perempuan itu telah bersikap tergas terhadapnya. Bahkan Elana berhasil memaksanya melunakkan hati dan menyantap bubur itu meskipun hanya tiga suap saja.


Mata Akram menatap ke arah Elana dengan penuh perhitungan.


"Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan memaksaku minum obat langsung dari mulutmu?" godanya sambil menyeringai.


Rona merah langsung memulas pipi Elana, meskipun begitu, dagunya tetap terangkat, menunjukkan kekeraskepalaannya.


"Tidak, tapi aku akan tetap menyodorkan obat ini kepadamu sampai kau mau meminumnya, sepanjang malam jika perlu."


Akram menyeringai. Ternyata Elana bisa tegas dan galak juga dia diperlukan. Perempuan itu pasti bisa menjadi ibu yang baik, yang penuh kasih sayang sekaligus bisa mendisiplinkan anak-anak mereka nanti.


Memikirkan itu semua membuat kilasan senang terlintas di bola mata Akram, seringainya terwujud kemudian di bibirnya, penuh arti.


"Aku akan meminum obat itu dengan satu syarat," ujarnya misterius.


Elana mengerutkan kening. "Obat ini demi kepentinganmu. Bagaimana bisa kau malahan mengajukan syarat kepadaku?" tukasnya cepat.


Akram memiringkan kepala. "Aku tak peduli. Kau mau atau tidak?" sahutnya angkuh.


***



***


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo, beautiful ladies


ini adalah part 1 dari 6 episode yang akan diupload minggu ini.


Maafkan telat ya, authornya sakit flu lagi karna kurang bisa jaga diri jadi mudah ketularan. Akibatnya otak ga bisa buat mikir.


Kondisi baru agak mendingan hari ini. Ini pun nyoba bikin satu part sampai 12 jam lebih baru kelar ahahaha biasanya cuma 4 jam satu part. Maaf ya.


Semoga 5 episode sisanya bisa author kejar keluar semua full di hari jumat dan sabtu ini ya. Target seminggu 6 part, kalau masih gak enak badan ya kurang, kalau author sehat mudah2an bisa lebih. Kalau ga kuat, ntar di crazy update di minggu depannya, ahahahaha


Regards - AY


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1




__ADS_2