Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 74 : Sayembara Tandingan


__ADS_3

“Kau akan mengejar Aaron dan menyelenggarakan sayembara kepada semua pembunuh bayaran untuk membunuhnya?” Mata Sera langsung terbelalak ketika mendengar kalimat Xavier yang terdengar kejam mengerikan itu. Tangannya langsung bergerak untuk mencengkeram lengan kemeja Xavier, menariknya dengan sikap memprotes. “Kau tidak bisa melakukan itu! Kau sudah berjanji untuk melepaskan Aaron dan tidak mengincarnya lagi!” serunya dengan nada panik, menahankan ketakutan yang menderas di dada.


Mata Xavier menggelap, dipenuhi kemarahan ketika mendengar pembelaan Sera kepada Aaron.“Apakah kau menganggap semua yang kukatakan kepadamu tadi adalah angin lalu? Aaron membayar pembunuh bayaran untuk mencelakakan anak di dalam kandunganmu, dan kau masih membelanya?” balasnya dengan nada tajam menusuk.


Sera tergugu. Bukan begitu maksudnya. Dia meminta Xavier membebaskan Aaron supaya dirinya bebas dari hutang budi atas kebaikan Aaron di masa lalu. Dengan membantu menyelamatkan Aaron waktu itu. Sera beranggapan bahwa segala hutang budinya atas jasa kebaikan Aaron kepadanya di masa lalu telah impas. Dengan begitu, Sera bisa fokus untuk menjalankan kesepakatannya dengan Xavier, demi membalas jasa Xavier yang telah membebaskan Aaron dan juga ayahnya.


Tetapi kenapa semua jadi seperti ini? Di saat hati Sera sudah merasa tenang ketika dia akhirnya bisa melepaskan perasaan cintanya yang sempat ada kepada Aaron dan berjuang memfokuskan diri untuk melahirkan anak Xavier dengan selamat, kenapa Aaron masih juga datang mengusik kembali?


Kenapa lelaki itu mengincar bayinya dan ingin merenggutnya kembali ke sisinya? Benarkah apa yang dikatakan oleh Xavier tadi bahwa Aaron tiba-tiba saja berubah pikiran dan memutuskan untuk menginginkannya kembali tanpa anak di dalam kandungannya? Apa yang mendorong Aaron untuk melakukan tindakan nekad seperti ini? Tidak tahukah dia bahwa dengan mengusik Xavier, maka sama saja seperti mengumpankan nyawanya kepada algojo kejam yang menakutkan?


“Aku tidak bermaksud begitu.” Mata Sera mulai berkaca-kaca, kebingungan karena tidak mampu merangkai kata tepat yang sekiranya tidak akan menyulut kemarahan Xavier. Sera sadar bahwa lelaki itu sudah begitu marah. Aura kejam nan gelap sekarang menguar dari tubuhnya, membuat bulu kuduk Sera merinding ketakutan. Dia sungguh tak mau kalau hal itu sampai membuat Xavier semakin marah dan situasi jadi lebih memburuk. “Maksudku… kita-kita sudah sepakat tidak akan mengusik Aaron lagi, jadi… jadi….”


“Serafina Moon.” Xavier mencengkeram kedua bahu Sera dan memaksa perempuan itu menghadap kepadanya. “Bukan aku yang memulai pertarungan ini, tetapi Aaronlah yang memulai semua ini. Kau pikir aku harus berbuat apa kalau sudah begini?” Lelaki itu tampak sangat marah, gerahamnya mengetat dan ekspresinya benar-benar gelap menyeramkan. “Kau pikir, para pembunuh bayaran yang tergoda dengan uang hadiah dari Aaron itu hanya sedang bermain-main? Yang barusan mati saja bisa mendapatkan informasi mengenai pergerakan kita dan masuk ke dalam butik itu, lolos dari pengawasan dan menunggu untuk mencelakaimu dari dalam bilik kamar mandi. Apa kau tidak menyadari betapa seriusnya ini? Mereka bisa mencelakaimu kapan saja dan di mana saja!”


Xavier mulai membentak ketika mengucapkan kalimat lelaki itu mengguncangkan sedikit pundak Sera seolah ingin menyadarkannya. “Kalau saja aku tidak mendapatkan telepon dari Dimitri tepat waktu, kalau saja aku tidak masuk ke dalam toilet itu tepat waktu, kau pikir apa yang akan terjadi pada dirimu? Pistol dengan peluru beracun itu mungkin sudah menembus perutmu, masuk ke rahimmu, mengkontaminiasi janinmu dan membunuh anak itu saat dia masih begitu lemah dan berjuang untuk berkembang di sana. Kau mungkin akan mengalami pendarahan hebat yang bisa mengancam nyawamu. Jangan lupakan juga Elana yang berada di bilik toilet itu, jika dia keluar dari sana di waktu yang tidak tepat, kau pikir pembunuh itu akan melepaskanya begitu saja? Elana juga bisa mengalami keguguran dan bahkan ditembak mati di tempat seketika sebelum bisa bersuara atau melawan.”


Xavier membungkukkan tubuh, mendekatkan wajahnya hingga hampir menempel ke wajah Sera, sementara matanya memaku dalam, memaksa tatapan Sera terperangkap dalam pandangannya yang kejam. “Sekarang, apakah kau sudah mengerti betapa seriusnya masalah ini? Jika aku tidak berbuat sesuatu, para pembunuh itu akan terus berdatangan, menyerangmu satu demi satu untuk mengejar hadiah uang. Sebagian besar dari para pembunuh itu mungkin takut kepadaku, tetapi aku yakin banyak dari mereka yang tergoda dengan hadiah uang besar hingga rela mempertaruhkan nyawanya dengan melawanku. Apakah kau memintaku untuk bertahan sekuat tenaga dan melindungimu saja tanpa melakukan pembalasan kepada Aaron? Bagaimana jika pasukan pelindungku lengah dan akhirnya kau terluka? Bagaimana jika anak dalam kandunganmu akhirnya celaka dan kau mengalami keguguran? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kau tak memikirkan itu semua?”


Pertanyaan beruntun Xavier yang sesungguhnya tak memerlukan jawaban itu membuat Sera tertegun. Dia tak mampu menyanggah, pun dia juga tak mampu berkata apa-apa. Itu semua, karena dilihat dari sudut manapun, semua perkataan Xavier benar adanya.


“Tidak adakah cara lain selain membuat sayembara supaya mereka membunuh Aaron? Tidak bisakah kau membuat sayembara tandingan yang tidak lagi mengorbankan nyawa orang lain?” Sera mengajukan pertanyaan itu kepada Xavier dengan putus asa. Kepala Sera terasa panas karena dia berusaha berpikir keras menemukan jalan. Tetapi sayangnya, semua terasa buntu.Xavier menggelengkan kepala dengan tegas.


“Tidak ada jalan lain. Aku akan mengumumkan sayembara itu segera. Ini adalah adu kekuatan antara aku dan Aaron.” Dengan gerakan mengintimidasi, Xavier menyentuh pipi Sera, mengusapnya perlahan. “Aku tahu kau merasa senang karena Aaron ternyata masih menginginkanmu dan aku tahu bahwa aku pernah berjanji untuk membebaskanmu, bahkan jika kau hendak kembali kepada Aaron sekalipun. Tetapi saat ini, kau sedang mengandung anakku, jadi aku akan mempertahankan anak itu bagaimanapun caranya.”


Mata Xavier berkilat ketika lelaki itu melanjutkan kalimatnya dengan geraman mengerikan penuh ancaman. “Kau tidak boleh ikut campur sama sekali. Ingat, Serafina, aku tidak peduli apakah kau sedang mengandung anakku atau tidak. Jika kau berani mengkhianatiku dan beralih pihak kepada Aaron, jika kau berusaha menguhubunginya dengan cara apapun, maka aku terpaksa membuatmu mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan nyaman yang sedang kau jalani saat ini. Aku akan membuatmu menjalani seluruh sisa kehamilanmu sampai kau melahirkan nanti di lokasi bawah tanah di tempat rahasia milikku yang tak akan terjangkau oleh siapapun. Kau akan hidup di sana, terkurung dan terpenjara di bawah penjagaan ketat yang kutempatkan untuk menahanmu. Aku bersumpah jika sampai kau mengkhianatiku, maka kau tidak akan bisa melihat sinar matahari lagi sampai anakmu lahir.”


***


“Kandungannya tidak apa-apa. Sera mungkin hanya merasa shock karena kejadian tak diduga tadi.” Dokter Nathan berucap perlahan ke arah Xavier, berusaha menenangkan lelaki itu.


Begitu mereka tiba di rumah sakit, Sera langsung ditempatkan di kamar perawatan yang terdapat di lantai khusus dan menjalani screening pemeriksaan oleh Dokter Nathan. Mereka bilang bahwa Elana telah sampai lebih dulu darinya dan sudah selesai diperiksa di kamar perawatan di sebelah mereka, tetapi Xavier memaksa Sera beristirahat di kamar ini dan tidak boleh keluar, bahkan hanya untuk sekadar mengunjungi Elana sekalipun.


“Apakah kau masih merasa mual?” Dokter Nathan mengalihkan pandangannya ke arah Sera, bertanya lembut hingga membuat Sera sedikit terkesiap karena sejak tadi dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Perlahan Sera menggelengkan kepala, lalu menjawab dengan suara pelan.


“Aku sudah tidak mual lagi.” Dengan kuat Sera membentengi diri supaya ingatan tentang korban racun darah yang meregang nyawa di depan matanya itu tidak muncul kembali ke dalam kepalanya. “Aku hanya sedikit lelah.”


Sedetik setelah Sera berucap, Xavier yang mendengarnya langsung bergerak sigap. Lelaki itu mendorong tubuh Sera yang tadinya duduk di tepi ranjang untuk berbaring di sana, lalu langsung menyelimutinya sebelum Sera bisa bergerak.


“Kau mungkin lemas karena belum makan, aku akan meminta dikirimkan makanan untuk mengisi perutmu. Sementara menunggu makanan datang, berbaringlah sejenak,” perintahnya dengan nada tegas.


Sera tidak menolak ketika dibaringkan, dirinya memang merasa lemas dan kelelahan. Meskipun begitu, dia tetap melemparkan tatapan penuh rasa ingin tahu ke arah Xavier seolah-olah ada kata yang tak bisa terucap karena mereka berdua belum ditinggalkan sendirian.


Dokter Nathan tampak mengawasi interaksi antara Sera dengan Xavier, lalu lelaki itu memutuskan untuk berpamitan karena tugasnya di ruangan ini untuk memeriksa Sera telah selesai.


“Kurasa aku akan meninggalkan kalian berdua sendirian,” ujarnya kemudian.

__ADS_1


“Terima kasih, Nathan. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tunggulah sebentar di luar dan aku akan menyusulmu.” Xavier menyahuti dengan sikap tenang, mata lelaki itu masih tertuju ke arah Sera, memindai perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Oke.” Sambil berucap santai, dokter Nathan menyahuti. Lelaki itu mengangguk sedikit ke arah Sera sebelum kemudian bergerak meninggalkan ruangan.


***


Ditinggalkan sendirian bersama Xavier membuat Sera melirik lelaki itu dengan sikap canggung. Bagaimanapun, pedebatan mereka di mobil tadi berakhir dengan nuansa tidak mengenakkan satu sama lain. Mereka tiba di rumah sakit tanpa kata dan Xavier langsung memerintahkan Sera untuk diperiksa tanpa memberi kesempatan bagi mereka berdua untuk menjernihkan suasana.


Sejak tadi Sera memilih menutup mulutnya, berniat menyelesaikan apa yang tertunda begitu mereka ditinggalkan sendirian. Akan tetapi, sekarang saat mereka hanya berdua di ruangan yang hening ini dengan kesempatan untuk saling berbicara sebebas-bebasnya tanpa ada gangguan sama sekali, Sera malahan jadi tak ingin mengangkat topik perdebatan mereka semula ke permukaan.


Mungkin mereka bisa membahasnya nanti ketika pikiran mereka telah sama-sama jernih. Untuk sekarang, Sera terlalu lelah jika harus berdebat lagi dengan Xavier, dia hanya ingin memejamkan mata dan beristirahat.


Meskipun begitu ada pertanyaan di hatinya yang harus dilontarkan karena membutuhkan jawaban dari Xavier.


“S-sampai kapan aku berada di kamar perawatan rumah sakit ini?” tanyanya perlahan dengan nada takut-takut.


Lelaki itu pastilah akan mengizinkannya pulang, bukan? Sera tak mungkin ditahan terus-terusan di kamar rumah sakit ini, kan?


Xavier menipiskan bibir ketika menjawab. “Sampai aku bisa menilai bahwa situasi sudah aman untukmu barulah kau boleh pulang. Saat ini seluruh rumahmu sedang diperiksa sampai ke semua titik untuk memastikan tidak ada celah yang bisa dimasuki. Mengingat informasi mengenai keberadaan kita di butik perlengkapan bayi itu sudah bocor bahkan sebelum kita tiba, maka aku juga melakukan screening ulang seluruh latar belakang pegawai, baik pegawaiku maupun pegawai Akram. Aku juga ....” Xavier berdehem, seolah kalimatnya tersekat di tenggorokan sejenak sebelum dia bisa melanjutkan. “Aku juga melakukan penyuntikan ulang racun khusus kepada semua pegawaiku. Kau tak perlu khawatir. Sudah kubilang bahwa racun yang khusus kusuntikkan kepada para pegawaiku tidak berbahaya dan tidak aktif. Racun itu baru akan diaktifkan kalau mereka terbukti berkhianat, itupun jika aku tidak memutuskan untuk membunuh mereka dengan tanganku sendiri.”


Mata Xavier berkilat oleh sinar berbahaya yang mengerikan, tetapi hanya sejenak karena Xavier langsung menepis sinar itu. “Untuk sekarang, kau tidak perlu melakukan apa-apa selain diam di sini dan beristirahat demi bayimu. Aku yang akan melindungimu, dengan segala cara.”


Tanpa diduga, setelah mengucapkan kalimatnya, Xavier membungkukkan tubuh di atas Sera yang sedang berbaring, lelaki itu lalu mengecup dahi Sera lembut sementara telapak tangannya menangkup mata Sera, menyapunya lembut seolah memaksa supaya mata itu menutup rapat.


“Tidurlah,” bisiknya kemudian dengan nada suara parau. Lalu tanpa melihat ke arah Sera lagi, Xavier membalikkan tubuh dan bergerak meninggalkan ruangan.


“Ada apa?” tanyanya dengan sikap sedikit tak suka. Xavier jelas-jelas menunjukkan keinginan yang sama dengan Sera. Dia ingin Sera beristirahat dan tak usah memulai perdebatan dengan Xavier.


Sera melebarkan matanya, menelan ludah dan memberanikan diri menatap ke arah Xavier dengan penuh permohonan.


“A-aku takut.” Sera bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Perempuan itu benar-benar ketakutan ditinggalkan sendirian di ruangan ini. Keheningan yang pasti akan melingkupinya ketika sendirian itu, sudah pasti akan mendatangkan bayangan mencekam mengenai sosok wanita pembunuh yang terkontaminasi racun darah itu.


Perempuan itu tadinya hidup, bernapas dan bisa berbicara lantang di depannya. Tetapi setelah racun darah itu disuntikkan kepadanya, seluruh lubang tubuhnya seolah bocor, mengalirkan darah begitu banyak, mencairkan tubuhnya dari dalam dengan rasa sakit yang menyiksa….


Sera sudah berusaha keras, tetapi dia tak yakin bisa menyingkirkan bayangan sosok tubuh yang ambruk dan kejang bergenang darah dengan suara erangan mengerikan keluar dari mulutnya yang menyemburkan darah segar sebelum kemudian tubuh itu meregang dan menjemput kematiannya.


Tadi ketika ada orang lain bersamanya, Sera bisa mengalihkan pikirannya itu. Tetapi sekarang, saat dia hampir ditinggalkan sendirian, bayangan itu datang lagi, menguasai otaknya, menderanya dengan rasa takut yang tak terperi.


Xavier tentu langsung menyadari rasa takut yang membayangi manik mata Sera. Lelaki itu mengulas senyum tipis menenangkan, lalu bergerak menaiki tempat tidur, sebelum kemudian merangkul Sera yang tak menolak ke dalam rangkulannya.


“Kau ingin ditemani sampai tertidur?” bisiknya parau, memeluk Sera supaya berbantalkan lengannya dan mengusap rambutnya dengan lembut.


Sera tak menjawab, tetapi perempuan itu menganggukkan kepala. Wajahnya terbenam di kain kemeja Xavier yang menguarkan aroma vanila manis yang khas dan menenangkan. Mata Sera terpejam, berusaha meraup kedamaian yang datang melingkupi hasil dari pelukan Xavier, dan menggulungnya ke dalam kepalanya untuk menyingkirkan bayangan mengerikan yang menghantuinya.


Dada Xavier bergemuruh oleh tawa tertahan yang berubah menjadi kekehan pelan di bibirnya. Lelaki itu menunduk dan menenggelamkan kepalanya ke harumnya rambut Sera, sebelum kemudian bertanya dengan nada lembut.


“Apa kau tidak salah? Kau takut karena ingatan akan wanita pembunuh bayaran yang mati itu, bukan? Kenapa kau bersandar kepadaku untuk mengusir ingatan burukmu itu? Apakah kau lupa bahwa akulah pelaku pembunuhan yang menyebabkan wanita itu mati dalam kondisi mengerikan?”

__ADS_1


 


***


***


***


***


Hello.


 


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


 


Yours Sincerely


AY


 


 


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2