
"The Truth is, whenever i caught myself in a fight, it is you whom my eyes search for. I just couldn't stop myself from longing to meet you."
Elios menatap Elana dengan tatapan mata datar di balik kacamatanya. Seperti biasa, lelaki itu berpenampilan rapih tanpa cela dan bersikap kaku layaknya robot.
Berkebalikan dengan Nathan yang begitu matanya bertemu dengan Elana, langsung menguraikan senyum lebar dan melambaikan tangannya di depan wajah Elana.
"Hai, cantik. Kita bertemu lagi," sapanya ramah yang langsung dipotong oleh tatapan tajam Elios ke arahnya.
"Tuan Akram akan membunuhmu kalau tahu kau memanggil Nona Elana dengan sebutan itu," desis Elios memperingatkan dari sela giginya yang terkatup.
Peringatan tersebut sepertinya tidak mengena pada Nathan. Dokter itu mengangkat bahunya sambil lalu dan tetap memasang senyumnya.
"Akram tidak akan membunuhku, setidaknya untuk saat ini," Nathan menolehkan kepala dan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Elana, matanya bersinar penuh arti. "Karena sekarang, dia masih sangat membutuhkanku," sambungnya yakin.
Kedua laki-laki itu kembali menoleh ke arah Elana, menjadikan Elana sebagai pusat perhatian mereka. Tatapan tajam keduanya membuat Elena merasa canggung, tapi dia akhirnya berhasil mengumpulkan keberaniannya, mendongakkan kepala dan menatap ke arah Elios maupun Nathan dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ma.. maaf... kenapa kalian ada di sini?" tanyanya gugup. Dia sudah diberitahu bahwa Elios akan datang untuk menjemputnya, tetapi dia tidak tahu kenapa Elios membawa dokter Nathan bersamanya. Elana dirayapi rasa waspada dan mulai meragukan pemikiran sebelumnya bahwa Akram akan mengizinkannya bekerja.
Elios seolah bisa membaca ekspresi ketakutan yang merayap di wajah Elana dan memilih menjawab dengan lugas.
"Mungkin pelayan sudah mengatakan kepada Anda bahwa saya akan datang untuk menjemput anda pergi bekerja. Tetapi sebelumnya, dokter Nathan akan melakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi kesehatan Anda," ucapnya dengan nada formal yang membuat Nathan memutar bola mata dengan jengkel di seberang sana.
Jawaban Elios itu mengguratkan kembali kelegaan di ekspresi Elana, membuatnya senang karena Elios sudah memastikan bahwa dia akan benar-benar pergi bekerja.
Dengan polos Elana menatap ke arah Nathan dan bertanya.
"Kau akan memeriksaku?" ujarnya tak sabar.
Tatapan Elana layaknya anak kecil tak berdosa, membuat Nathan dirayapi perasaan bersalah dalam hatinya. Betapa malangnya Elana harus berakhir di bawah cengkeraman Akram yang begitu kejam dan tak segan-segan melindas siapapun yang lebih lemah darinya. Tetapi, sepertinya Nathan mungkin telah meremehkan kekuatan Elana di balik tubuhnya yang mungil dan lemah, karena bukan hanya berhasil tetap bertahan sampai selama ini di bawah dominasi Akram yang mengerikan, Elana bahkan juga berhasil bernegosiasi dengan Akram serta membuat Akram mengubah keputusannya hanya demi mengakomodasi persyaratan yang diajukan oleh Elana.
Mengetahui bahwa Elana telah menunggu, Nathan bergerak cepat, meletakkan tas peralatannya dan duduk di sebelah Elana.
"Maaf, mungkin aku akan menyentuhmu untuk melakukan pemeriksaan." Nathan berucap mengantisipasi untuk mencegah Elana ketakutan kepadanya. Setelah mendapatkan izin berupa anggukan tipis dari Elana, barulah Nathan melakukan prosedur pemeriksaan rutin untuk memeriksa tanda-tanda vital Elana.
Ritme jantungnya bagus, tekanan darahnya juga oke. Nathan juga memeriksa bekas sayatan di pergelangan tangan Elana dan yakin bahwa luka itu telah menutup dan kering sepenuhnya. Sepertinya kondisi fisik Elana sudah memungkinkannya untuk pergi bekerja.
Tadi pagi Akram meneleponnya dan meminta Nathan secara khusus memeriksa kondisi kulit perempuan itu yang rapuh. Akram bilang bahwa dirinya begitu mudahnya meninggalkan jejak di permukaan kulit Elana dibandingkan dengan ketika dirinya bersama wanita-wanitanya yang lain. Nathan tentu tidak bisa menginstruksikan kepada Elana untuk membuka pakaian dan meminta Elana menunjukkan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh Akram sehingga dia bisa memeriksa bekas lebam itu. Mungkin dia akan melakukan pemeriksaan di ruang prakteknya di rumah sakit nanti, ketika dirinya ditunjang oleh peralatan yang lengkap, tetapi untuk sekarang, pengobatan dan pencegahan adalah hal terbaik yang harus dilakukan.
__ADS_1
Nathan mengeluarkan botol kaca bening berisi lotion berwarna putih, lalu menyerahkannya pada Elana yang menerimanya dengan gugup.
"Penghilang lebam dan memar yang efektif," Nathan mengedipkan mata bersahabat pada Elana. "Gunakan itu kapan pun kau memerlukannya," sambungnya dengan nada penuh arti.
Pipi Elana memerah, namun tak urung dia menganggukkan kepala.
"Nah, sekarang tinggal prosedur terakhir." Nathan mengeluarkan jarum suntik yang tampak aneh di mata Elana, kemudian menyiapkan jarum itu dan meraih lengan Elana perlahan. "Rasanya akan sedikit menggigit dan tidak nyaman, tapi hanya sebentar." lalu tanpa peringatan dan meminta izin sebelumnya, Nathan melakukan prosedur penyuntikan yang membuat Elana tersentak karena rasa menusuk tajam di bawah permukaan kulitnya.
Elana mengusap lengannya, melirik ke arah bekas suntikan itu sebelum kemudian menatap ke arah Nathan dengan waspada.
"Apa... apa yang kau suntikkan kepadaku?" tanya Elana was-was.
"Itu adalah microchip yang memancarkan sinyal GPS pelacak dengan nano teknologi yang memudahkan kami melacak Anda dimana pun Anda berada." kali ini Elioslah yang menyahut untuk menjawab sambil mengambil posisi duduk di atas sofa di sisi yang berlawanan dengan posisi Nathan. "Karena Tuan Akram membebaskan Anda dari tahanan rumah, maka kami perlu memasang pelacak di tubuh Anda untuk menjamin bahwa Anda akan tetap berada di tempat yang seharusnya dan meminimalisasi kemungkinan Anda melarikan diri."
Mata Elana melebar, wajahnya memucat. Teknologi yang disebutkan oleh Elios terasa seperti teknologi alien yang hanya pernah dilihat Elana di film - film fantasi science fiction. Mengerikan ketika mengetahui bahwa teknologi seperti itu ternyata nyata adanya di dunia ini.
"Keluarga Tuan Akram memiliki laboratorium khusus yang menjadi pusat penelitian senjata berbasis teknologi paling mutakhir di luar negeri. Kami bekerjasama dengan banyak negara untuk menciptakan terobosan temuan baru di bidang persenjataan, dan tentu saja mendapatkan pelacak microchip dengan sistem nano teknologi ini sangat mudah bagi Tuan Akram," Elios memberikan informasi tanpa diminta, kemudian suaranya merendah. "Karena itulah, saya mengingatkan kepada Anda, Nona Elana. Jangan berpikir untuk berbuat bodoh dan mencoba melarikan diri, saya jamin itu tidak akan berhasil," ujarnya memperingatkan.
Nuansa dingin langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, menimpakan kenyataan mengerikan kepada Elana, bahwa dengan adanya pelacak yang ditanamkan di tubuhnya ini, kemungkinan dirinya untuk melarikan diri benar-benar telah berubah menjadi kemustahilan.
Benda asing itu sekarang ditanam di tubuhnya... bagaimana dengan reaksi tubuhnya terhadap benda itu? bagaimana kalau tubuhnya menolak kehadiran microchip itu? bagaimana kalo benda asing itu meracuninya? Dan lagi... apakah dengan begini Elana benar-benar tak memiliki kesempatan lagi untuk melarikan diri dari Akram? Bagaimana cara melepaskan benda ini dari tubuhnya? Apakah Elana harus menyayat tubuhnya untuk mencabut microchip ini dari sana?
Berbagai pertanyaan bergolak dalam diri Elana, membuat gemetar mulai merayapi dirinya yang pucat pasi.
"Jangan khawatir. Teknologi dari microchip sangatlah canggih dan telah melewati percobaan penelitian panjang di laboratorium ternama yang sangat ahli di bidangnya. Benda yang disisipkan di bawah kulitmu ini tidak akan memberikan efek buruk kepadamu dan aku bisa memastikannya. Sebagai seorang dokter, aku tidak akan pernah melanggar kode etik dengan menyuntikkan sesuatu yang berbahaya ke dalam tubuh pasienku," Nathan menjelaskan dengan suara lembut sebelum kemudian menyambung kembali. "Jadi kau bisa menyingkirkan segala ketakutanmu dan merasa tenang."
Elana membuka mulutnya, hendak bertanya pada Nathan bagaimana cara melepaskan benda ini, tetapi Elios tiba-tiba menyela, membuat suara yang siap dilontarkan oleh Elana langsung tersekat di tenggorokannya.
"Tugasmu sudah selesai, dokter. Tuan Akram memerintahkanmu bergegas pergi, segera setelah tugasmu selesai." Elios melontarkan pengusiran halus, lalu mengalihkan tatapan matanya ke arah Elana. "Ada beberapa persyaratan dari Tuan Akram yang harus saya bicarakan dengan Anda sebelum saya mengantar Anda bekerja," ucap Elios dengan nada formal.
Nathan memasang ekspresi jengkel mendengar pengusiran halus dari Elios itu, tapi tak urung dia bergerak mengemasi peralatannya dan beranjak berdiri. Senyumnya kembali terurai ketika lelaki itu menganggukkan kepala ke arah Elana.
"Sampai jumpa Elana, kurasa kita akan sering bertemu nanti," Nathan mengucapkan salam perpisahan dengan riang sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Begitu mereka ditinggalkan sendirian, Elios tidak membuang-buang waktu dan mulai menjelaskan tentang beberapa peraturan yang harus dipenuhi oleh Elana sebelum Elios membiarkan perempuan itu melangkah keluar dari apartemen tersebut.
"Nona Elana, Tuan Akram telah berbaik hati dengan memerintahkan Anda bekerja di dalam perusahaan beliau, Anda tentu tahu bahwa Anda tidak boleh mengatakan kepada siapapun hal-hal yang berhubungan dengan Tuan Akram. Jika Anda sampai melakukannya, kami sudah pasti akan segera mengetahuinya." Elios menyipitkan mata menatap Elana. "Dan Anda juga pasti sudah tahu, bahwa ketika Anda melakukan itu, yang celaka bukanlah Anda, melainkan lawan bicara Anda. Anda tentu masih ingat, bukan? Apa yang telah dilakukan oleh Tuan Akram kepada orang-orang yang Anda kenal di masa lampau hanya untuk menghapuskan jejak Anda? Tuan Akram tak segan untuk melenyapkan mereka semua tanpa sisa."
Pesan ancaman yang dikirimkan oleh Elios itu, meski diucapkan dengan nada datar, mampu mengirimkan sinyal mengerikan yang membuat bulu kuduk Elana berdiri. Elana mungkin tidak peduli pada dirinya sendiri, tetapi dia sungguh tidak mau kalau dirinya sampai menjadi penyebab orang lain celaka.
__ADS_1
"Aku mengerti... aku akan menutup mulutku." Elana berucap perlahan. Dia memang benar-benar hanya berniat untuk bekerja. Dan dirinya akan menjadi dirinya sendiri di tempat kerja, seorang perempuan yatim piatu yang bekerja mencari nafkah untuk penghidupannya dan tidak berhubungan sama sekali dengan Akram Night, sosok yang terlalu jauh posisinya jika dibandingkan dengan dirinya.
Elios menganggukkan kepala, tampak puas dengan reaksi Elana. Lelaki itu lalu meletakkan dua benda di meja, di hadapan Elana. Yang satu adalah ponsel dan yang satu lagi adalah sebuah kartu berwarna hitam dengan ukiran tulisan berwarna keperakan.
"Ini adalah ponsel yang akan Anda bawa sebagai alat komunikasi. Dimanapun Anda berada, jika Tuan Akram menghubungi dengan ponsel ini serta mengharapkan kehadiran Anda, maka Anda harus datang dan tersedia. Ponsel ini sama seperti ponsel lainnya, dan saya sengaja memilihkan model standar supaya tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerja Anda nantinya. Anda juga bisa menggunakan ponsel ini seperti biasa, untuk berkomunikasi dengan rekan kerja dan teman-teman baru Anda nanti, tetapi Anda harus tahu bahwa ponsel ini ditanamkan alat penyadap khusus yang bisa membaca semua hal yang anda lakukan dengannya, baik foto, rekaman percakapan, pesan tertulis, dan semua hal, semuanya bisa diakses oleh Tuan Akram, jadi saya harap Anda tidak menggunakan ponsel ini untuk keperluan negatif karena Tuan Akram bisa mengetahuinya detik itu juga."
Elana mengerucutkan bibirnya jengkel. Elios sepertinya memiliki kebiasaan memberikan kabar baik dahulu dengan halus sebelum kemudian melemparkan kabar buruk di penghujung kalimatnya.
Lagipula, apa sebenarnya yang ada di kepala Akram Night? Bukan hanya memasang pelacak di tubuhnya, lelaki itu juga memasang penyadap di ponselnya? Sebenarnya seberapa gila kadar obsesi Akram yang mengerikan itu?
"Dan ini adalah black card, diberikan oleh Tuan Akram untuk Anda pegang, pada intinya, Anda bisa membeli apa pun yang Anda mau dengan kartu ini. Saya harap Anda menyimpannya dengan baik karena kartu ini sangat berharga." Elios mengeluarkan tas mungil khusus dari balik jasnya, lalu memasukkan kartu dan ponsel itu ke dalam tas. Lelaki itu tak lupa mengambil salep anti lebam yang diberikan oleh dokter Nathan tadi, memasukkan botol kaca itu ke tempat yang sama, lalu menyerahkannya tas mungil tersebut ke tangan Elana.
Setelah itu Elios beranjak berdiri dan memberi isyarat supaya Elana mengikutinya. Mereka melangkah keluar dari apartemen dan langsung berhadapan dengan lift berlapis warna hitam yang telah menanti. Lelaki itu kemudian menghela Elana supaya memasuki lift dan mengikuti di belakangnya. Elios tampak menggunakan kartu khusus dan menekan kode tertentu untuk mengerakkan lift itu turun dan Elana memicingkan mata, mencoba untuk mengintip kode itu, tetapi tak berhasil.
Lengkaplah sudah. Apartemen di mana dia ditempatkan ini tidak lebih baik dari pulau tempatnya dikurung sebelumnya. Bukan hanya lokasinya yang sepertinya berada di lantai teratas dari bangunan apartemen yang sangat tinggi, untuk akses keluar masuk pun, mereka harus melewati lift dengan kartu khusus dan berkode rahasia yang sangat rumit.
Elana tahu bahwa kecil harapan baginya melarikan diri jika dikurung di apartemen ini, itu berarti tempat kerjanya adalah satu-satunya celah yang bisa dipegangnya. Tetapi Elana tahu bahwa dirinya harus bertindak dengan sangat berhati-hati, karena jika dia ceroboh sedikit saja, maka celah itu akan hilang dari genggamannya.
Elana memegang tas kecil itu erat-erat, menyadari betapa berharganya benda-benda yang ada di dalamnya. Memberikannya kartu kredit mungkin terlihat di luar sebagai suatu bentuk kemurahan hati Akram kepada Elana. Tetapi, seluruh penggunaan kartu kredit tentu saja memiliki catatan yang dikirimkan langsung kepada Akram, itu berarti, apapun transaksi yang dia lakukan, akan bisa dilacak oleh lelaki itu. Jadi sebenarnya, dengan memberikan kartu kreditnya, Akram dengan licik sengaja mengontrol Elana dalam balutan kemurahan hati.
Elana membutuhkan uang cash karena itulah satu-satunya metode pembayaran atas transaksi yang tidak bisa dilacak oleh Akram. Saat ini dia tidak memegang uang sepeserpun.... tetapi nanti kalau dia memiliki gaji, ada kemungkinan bahwa dia bisa menabung uangnya sendiri sebagai simpanan yang berada di luar kontrol Akram, dan bisa memakainya di saat dia membutuhkannya...
Siapa yang tahu kalau nanti di masa depan dia bisa memecahkan kemustahilan yang membalutnya ini, bukan?
Lift berdenting dan mereka sepertinya melangkah keluar melalui lorong khusus yang langsung mengarahkan mereka ke sebuah mobil yang sudah menunggu dengan seorang supir di sana. Elios membukakan pintu mobil untuk Elana, lalu menyusul duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian, mobil pun melaju melalui lorong panjang sebelum kemudian naik ke permukaan yang terang oleh cahaya matahari pagi.
"Anak buah saya akan mengantar Anda ke divisi cleaning service dan bertemu dengan supervisor di sana. Anda akan dijelaskan mengenai tugas-tugas yang harus Anda kerjakan, mendapatkan seragam dan mulai bekerja hari ini juga. Dan jangan lupa, Tuan Akram meminta Anda datang ke ruangannya pada jam makan siang. Saya akan mengatur supaya Anda bisa hadir di ruangan Tuan Akram tepat waktu tanpa ada siapapun yang tahu." ucap Elios di tengah kendaraan mereka yang melaju.
Elana hanya menganggukkan kepala untuk menanggapi meskipun hatinya penuh dengan kekecewaan. Ternyata dia tidak bisa sepenuhnya lepas dari Akram meskipun dia berada di tempat kerja. Dan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Akram kepadanya sepanjang jam makan siang yang panjang membuatnya diliputi kengerian nan pekat.
Dan seakan hal itu belum cukup untuk menciptakan mendung di hati Elana, Elios kembali melemparkan bom kabar buruk yang langsung menenggelamkan Elana sampai ke dasar.
"Oh ya, Nona Elana. Ngomong-ngomong, biarpun Anda bekerja, Anda tidak akan bisa mengambil gaji Anda. Tentu saja perusahaan tetap akan mentransfer gaji Anda ke rekening yang diciptakan khusus untuk Anda. Tetapi Tuan Akram sudah mengatur supaya Anda tidak akan bisa mengambil gaji Anda dalam bentuk uang cash. Tenang saja, Tuan Akram tidak merenggut hak Anda, gaji itu akan tetap tersimpan utuh sebagai tabungan atas nama Anda, bahkan Tuan Akram menambahkan dana khusus dalam jumlah besar di sana sebagai simpanan atas nama Anda. Tetapi dana itu hanya bisa dicairkan dengan Tuan Akram sebagai penjaminnya."
Elios menatap Elana dengan senyum tanpa dosa, seolah tak tahu bahwa perkataannya telah mengancurkan semua rencana rapuh yang disusun oleh Elana, sampai hancur berkeping - keping.
"Tuan Akram berpikir bahwa Anda tidak perlu memegang uang cash demi keamanan Anda, toh Anda bisa menggunakan kartu yang diberikan oleh Tuan Akram untuk memenuhi kebutuhan Anda," sambung Elios lagi dengan seringai menyebalkan yang membuat Elana merasakan dorongan kuat untuk menonjok wajah tanpa cela itu dan melampiaskan kemelut di dadanya.
__ADS_1