
“Stt…. Jangan bersuara dan aku tak akan menyakitimu,” Xavier berucap perlahan dengan nada lembut dan mata yang dipenuhi kesungguhan.
Sementara, Elana menatap Xavier dan jiwanya masih belumur ketakutan. Kalimat Xavier memang diucapkan dengan nada tak mengancam, tetapi pesan yang ada di dalamnya tersirat di permukaan. Lelaki itu jelas mengatakan bahwa dia tidak akan menyakiti Elana, asalkan Elana tidak bersuara.
Jika Elana berteriak atau menjerit meminta pertolongan, bisa saja Xavier mencekiknya atau membekapnya hingga tidak bisa bernapas, bukan?
Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Elana menganggukkan kepala pasrah.
Xavier terdiam sejenak, mengawasi Elana untuk memastikan, mempelajari ekspresi wajah perempuan itu, sebelum kemudian melepaskan bekapan tangannya di bibir Elana dan memandang Elana dengan tatapan penuh permohonan maaf
"Maafkan karena aku membekap mulutmu. Aku tidak melakukannya dengan sengaja. Aku hanya terkejut karena kau terlihat hendak menjerit keras tadi, sehingga refleks melakukannya. Maafkan aku,” ujarnya dengan nada tulus.
Elana tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tatapan matanya mengawasi Xavier dengan waspada, sementara hatinya dipenuhi pertanyaan. Infus itu membuatnya kehilangan kesadaran dan mengantuk, hingga Elana melepaskan pertahanan dirinya lalu jatuh tertidur. Yang tidak disangkanya adalah, ketika dia terbangun, dia sendirian di dalam ruangan ini dengan Xavier ada di dekatnya.
Dimana Elios dan Nathan? Mereka bilang akan menjaga dan menjauhkan Xavier darinya. Tetapi, kenapa sekarang dia malahan ditinggalkan sendirian bersama Xavier?
“Elios dan Nathan ada di luar dan berjaga untukmu,” Xavier seolah bisa membaca apa yang ada di benak Elana. Lelaki itu memiringkan tubuh dan membiarkan Elana melihat tampilan di kaca di dinding tepat di hadapan mereka yang menunjukkan sosok Elios dan Nathan tengah duduk di sofa di luar ruangan.
Elana menolehkan kepala dan melihat keduanya sambil mengerutkan kening bingung. Tetapi, dia belum sempat mengajukan pertanyaan dalam hatinya karena Xavier tiba-tiba langsung menjelaskan tanpa diminta.
“Jangan salahkan mereka karena membiarkanku bebas berada di dekatmu tanpa mencegah,” dengan senyumnya yang lebar, Xavier berucap. “Mereka tidak tahu kalau aku berada di sini,"
Tidak tahu kalau Xavier berada di sini? Pintu kaca yang memenuhi dinding itu jelas-jelas sangat bening dan tembus pandang. Dari posisinya berbaring saja Elana bisa melihat Nathan dan Elios dengan jelas.
Kalau begitu, bagaimana bisa keduanya tak dapat melihat Xavier yang saat ini tengah berada di dekatnya?
“Yang ada di hadapan Elios dan Nathan sekarang adalah layar digital. Menampilkan rekaman gambar dirimu sedang tidur saat menerima infus dengan tampilan konstan dan sama sekali tidak mencurigakan. Saat ini, Nathan dan Elios mengira bahwa kau sedang tidur seperti yang tampak di mata mereka, sementara mereka tidak menyadari ada aku di ruangan ini.”
Kalimat penjelasan Xavier diucapkan dengan nada senang, seperti anak kecil yang merasa bangga telah berhasil menjahili orang-orang tua yang tak tahu apa-apa. Tetapi, akibatnya berkebalikan bagi Elana. Wajah Elana langsung pucat pasi dilanda ketakutan yang amat sangat.
Kalau begitu… apapun yang dilakukan oleh Xavier kepadanya di dalam kamar ini, Elios dan Nathan tidak akan tahu?
Elana membuka mulut, hendak menjerit kembali meminta pertolongan. Reaksinya itu terlihat oleh Xavier dan lelaki itu kali ini memilih tidak membungkam mulut Elana seperti sebelumnya, malahan melompat berdiri dari tepi ranjang dan mengangkat kedua tangannya ke depan tubuh seperti gerakan orang menyerah di bawah todongan pistol.
“Jangan berteriak. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku bahkan akan menjaga jarak denganmu dan tidak menyentuhmu kalau kau menginginkannya supaya kau merasa aman. Aku hanya ingin berbicara!” sahut Xavier cepat, meskipun suaranya memerintah tetapi nadanya rendah berbisik dan sama sekali tidak terdengar mengintimidasi.
Elana menatap ke arah Xavier dan mengerutkan keningnya. Diawasinya Xavier dengan saksama sementara keningnya berkerut semakin dalam ketika melihat ketulusan yang terpancar di mata bening Xavier.
Xavier mungkin tampak tulus. Tapi, sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh Akram kepadanya sebelum melepaskan Elana untuk pergi ke rumah Xavier, Xavier adalah seorang psikopat. Itu berarti lelaki di depannya ini bisa menampilkan kebongan dalam bentuk sandiwara ketulusan, tanpa ada sepercik rasa bersalah sedikitpun.
Karena itulah, bagaimanapun juga Elana tidak boleh sampai lengah dan terperosok dalam jebakan sandiwara Xavier.
“Kau… ingin bicara tentang apa?” tanya Elana kemudian, suaranya lemah, diiringi dengan keputusan untuk memberi kesempatan.
Xavier langsung memasang senyumnya yang paling mempesona, menurunkan kedua tangannya dan meraih kursi yang ada di ujung ruangan, lalu menyeretnya mendekat ke arah ranjang.
Ketika dilihatnya wajah Elana memucat saat dia menyeret kursinya terlalu dekat, dengan sukarela Xavier menarik kembali kursinya supaya mundur sedikit, tepat pada jarak yang dianggap aman oleh Elana.
“Begini sudah cukup?” tanya Xavier polos layaknya anak-anak, menatap Elana seperti tatapan anak anjing lapar yang tengah menunggu semangkuk susu hangat yang sedang disiapkan untuknya.
Seberkas senyum mau tak mau lolos dari bibir Elana, membuat Elana segera menipiskan bibir untuk menyingkirkan senyum itu dari sana. Dia mengingatkan dirinya kembali untuk tetap waspada menghadapi Xavier kalau ingin tetap selamat.
“Itu sudah cukup,” jawab Elana perlahan.
__ADS_1
“Ah, bagus.” Xavier menghela napas seolah lega, lalu duduk di kursi tersebut, bersedekap santai sambil menyelonjorkan kaki dan menatap Elana dalam hingga membuat Elana merasa jengah.
“Kau… kau ingin berbicara tentang apa?” karena Xavier terus menatapnya tanpa memecah kata, Elana akhirnya memutuskan mengulang kembali pertanyaannya sebelumnya.
“Pertama-tama aku ingin meminta maaf karena telah menusukkan racun itu ke dalam tubuhmu. Aku tidak punya pilihan lain. Jika ingin mendapatkan waktu denganmu, maka aku harus melakukannya.” Xavier berucap perlahan sementara matanya menatap lurus ke arah Elana.
Elana kembali mengerutkan kening. Tidak bisa menahan diri untuk mengerucutkan bibir dan memandang Xavier dengan tatapan mencela.“Jika kau ingin mendapatkan waktu untuk berbicara… kau… kau tidak seharusnya menggunakan racun. Kau kan bisa berbicara dengan Akram…," sanggah Elana perlahan, memberanikan diri untuk berpendapat.
Xavier langsung terkekeh mendengarkan perkataan Elana, seolah Elana telah mengatakan sesuatu yang sangat lucu.
“Berbicara dengan Akram? Kau pikir adikku yang keras kepada itu bisa diajak berbicara? Yang dia lakukan ketika bercakap-cakap denganku hanyalah menggeram seperti beruang yang terluka karena kakinya tertusuk duri. Aku tidak punya pilihan lain dan kuharap kau mengerti,” Xavier menatap Elana untuk memastikan kondisinya. “Karena itulah aku menusukkan racun yang tidak berbahaya selama enam hari, racun yang baru memburuk di hari ketujuh. Memang racun itu akan membuatmu mengalami hipotermia, tetapi aku tahu dokter Nathan yang hebat itu bisa mengatasi segalanya. Aku juga tahu bahwa Akram akan menerima tawaranku sebelum hari ketujuh tiba. Aku sudah memperhitungkan segalanya dengan sempurna, Lana. Karena itu, disinilah kau sekarang, tepat sempurna sesuai dengan rencanaku,” ujar Xavier tanpa perlu merasa menutupi rasa bangganya kepada dirinya sendiri.
“Dan kau repot-repot melakukan itu hanya untuk berbicara denganku?” nada mencela bercampur ketidakpercayaan di dalam suara Elana terdengar semakin kental, membuat Xavier meringis penuh ironi.
Reaksi Lana terhadap dirinya sungguh tidak diduga. Xavier memang sudah menduga bahwa Lana akan ketakutan kepadanya. Tetapi setelahnya, bahkan dengan tampilan Xavier yang segar, bersahabat dan penuh senyum seperti ini -sebuah tampilan asli yang tak pernah dia tunjukkan kepada wanita manapun – Lana sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan jatuh ke dalam pesonanya.
Kalau begitu, Xavier harus bekerja lebih keras daripada ini untuk menyentuh gadis itu dengan pesonanya.
***
***
"Untuk saat ini aku hanya ingin saling berbicara. Kau berbicara, aku berbicara. Kita saling mengenal satu sama lain, bukankah itu terdengar menarik?” goda Xavier lembut.
Tanpa diduga, Elana malah memalingkan wajah. “Tidak… itu tidak menarik. Kalau boleh….” Elana lalu menguap tanpa perasaan. “Kalau boleh... aku ingin tidur lagi?” tanyanya meminta izin dengan setengah hati.
Xavier langsung beranjak dari kursinya, merasa serba salah karena godaannya bahkan tidak mendapatkan tanggapan yang menyenangkan dari Lana. Dia hendak melangkah mendekat, tetapi kakinya terhenti ketika sinar ketakutan itu menyala di mata Lana lagi saat mengikuti gerakan Xavier. Akhirnya, Xavier hanya berdiri canggung di sana, bingung tak bisa maju tapi tak mau mundur layaknya dihadapkan pilihan memakan buah simalakama.
“Jangan tidur lagi. Aku berjanji aku tak akan membuatmu bosan. Aku sungguh ingin mengenalmu dan ingin kau mengenalku sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita, mengerti?” tiba-tiba saja, ketika menyadari bahwa Lana akan menolaknya, tatapan mata Xavier berubah tajam penuh makna. “Masih ada tiga kali pertemuan lagi setelah ini, dan kalau kau ingin menerima seluruh serum antidote itu secara penuh untuk menyelamatkan nyawamu, maka kau harus menerima tawaran baikku untuk berbicara.”
Sebab, jika lelaki ini memiliki watak yang sama dengan Akram. Xavier akan semakin menindasnya ketika dia terlihat terlalu lemah, tetapi akan memberikan respek kepadanya kalau dia bersikap kuat dan memastikan dirinya pada posisi setara.
Sekali lagi Xavier terkekeh mendengar kata-kata Elana, senang karena perempuan itu akhirnya lebih lepas dan mau membuka mulut untuk berbicara dengannya. Perlahan dia melangkah mundur dan kembali duduk di kursinya, mulutnya menyeringai seolah suasana hatinya benar-benar baik pagi ini.
“Sayangnya aku tidak sedang bersandiwara di depanmu. Aku menunjukkan perhatian dan kecemasan kepadamu, semua itu nyata dan tulus dari dalam hatiku,” ujarnya cepat.
Ketika Elana mengerucutkan bibirnya dan menunjukkan ketidakpercayaan yang gamblang, Xavier tergelak lepas.
Sungguh, perempuan ini benar-benar membuatnya mudah tertawa tanpa beban. Seandainya saja dia yang lebih dulu menemukan Lana, mungkin dia akan menyimpan perempuan ini di rumah dan berlari ke arah perempuan ini setiap suasana hatinya memburuk. Dibayangkannya Lana akan mampu mencerahkan dirinya seketika.
“Kau pasti telah mendengar tentang aku dari Akram. Dan aku yakin apa yang keluar dari mulut Akram tentu bukanlah cerita yang baik, melainkan cerita menyeramkan yang membuatmu ketakutan kepadaku seperti yang terjadi kemarin ketika terakhir kali kita bertemu,” setelah menyelesaikan tawanya, Xavier menyambung dengan nada serius. “Aku benar, bukan?” tanyanya kemudian.
Elana menoleh ke arah Xavier, menatap penuh rasa ingin tahu.
“Apakah karena itu kau ingin mengajakku berbicara? Kau ingin membela dirimu dan menyanggah semua yang diceritakan Akram kepadaku?” dia malahan balik bertanya dengan cepat.
Xavier langsung menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak ingin menyanggahnya,” ekspresi Xavier berubah gelap, muram dan menakutkan. “Karena apa yang dikatakan oleh Akram mengenai diriku, itu semua benar adanya.”
Perkataan Xavier terdengar mengerikan, membuat Elana merasa seberkas rasa ngeri yang menjalari tulang punggungnya, mendorongnya untuk mengepalkan tangan dan melirik ke tampilan kaca raksasa di belakang Xavier.
Elios dan Nathan tampaknya masih belum menyadari situasi yang terjadi di dalam sini. Akankah mereka mendengar dan menolong kalau tiba-tiba saja Xavier lepas kendali lalu menyerangnya?
“Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan menyakitimu, Lana. Aku mungkin jahat dan tidak segan menumpahkan darah orang lain untuk kepentinganku. Tetapi, aku selalu memegang perkataanku. Jadi, lemaskanlah pundakmu yang tegang itu supaya kita bisa bercakap-cakap dengan tenang,” Xavier rupanya mengikuti lirikan mata Elana sehingga dia mengulang kembali perkataannya untuk tidak menyakiti Elana.
__ADS_1
Elana mengarahkan kembali tatapannya pada Xavier. Akhirnya memutuskan untuk mengikuti arah yang dimaksudkan Xavier terhadapnya. Waktunya berada di tempat ini masih sangat panjang, dan Elana tidak yakin Xavier akan menghabiskan waktu selama itu dengan berbicara dengannya terus-menerus.
Mungkin, setelah mereka selesai bercakap-cakap dan Xavier menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya, lelaki itu akan pergi dari sini dan meninggalkannya beristirahat sendirian, bukan?
Elana sungguh berharap itulah yang terjadi, karenanya, dia akan melayani Xavier berbicara, supaya semua ini lekas selesai.
“Waktumu masih panjang di sini, tetapi aku sendiri tidak mempunyai banyak waktu untuk bercakap-cakap denganmu dalam kondisi tenang tanpa gangguan Elios dan Nathan,” kali ini Xavierlah yang melirik ke arah pintu kaca tempat dua orang yang dibicarakannya itu berada. “Mereka bukan orang bodoh, dan aku tahu mereka selalu melaporkan situasi saat ini kepada Akram. Akram sendiri, sudah tentu bukanlah orang bodoh. Dia akan segera menyadari ada yang aneh dan meminta Elios memeriksanya,” Xavier melirik jam tangannya. “Aku menduga mungkin sekitar satu atau dua jam lagi kita akan ketahuan. Setelah itu, kita tidak akan bisa berbicara sebebas ini karena dua makhluk itu akan selalu membayangi. Jadi, mungkin lebih baik jika kita segera memulai."
“Apa yang ingin kau ketahui tentang diriku?” tanya Elana cepat, didorong ketidaksabaran untuk menyelesaikan semuanya.
Tatapan mata Xavier begitu tajam ketika dia bertanya.
“Bagaimana kau bisa berakhir bersama Akram? Kalian seharusnya berada di dua dunia yang berbeda dan tidak seharusnya bersinggungan satu sama lain,” Xavier mengangkat bahu ketika melihat tatapan marah Elana. “Aku meminta maaf atas segala tuduhan yang kulemparkan kepadamu sebelumnya, juga hinaan yang membuatmu menamparku. Aku memang pantas menerimanya. Tetapi, bukankah semua orang yang melihatmu bersama Akram akan berpikiran sama seperti itu? Apa lagi yang mungkin terjadi ketika seorang gadis miskin menjadi kekasih lelaki kaya? Kalian tidak mungkin terlibat pada cinta pandangan pertama ala pangeran kaya dan seorang gadis miskin seperti di novel-novel bernafaskan dongeng Cinderella, bukan?”
Pipi Elana memerah, dia kemudian memutuskan untuk menjawab dengan jujur, tetapi tentu saja tidak menjelaskan semua dengan terperinci.
“Akram melihatku di sebuah toilet kelab tempatku bekerja, lalu dia memutuskan untuk memilikiku, dan dia melakukannya,” jawab Elana singkat dan kaku.
Xavier mengangkat sebelah alis. “Di toilet?” tiba-tiba Xavier teringat bahwa Elana juga pertama kali bertemu dengannya di dalam sebuah toilet dan dia langsung tergelak. “Aku salah, mungkin kisahmu bukanlah kisah Cinderella, tetapi kisah cinta yang bersemi dari toilet?” candanya tanpa bisa menahan tawa.
Elana menatap Xavier dengan pipi merah karena malu. “Kau ingin berbicara denganku atau sebenarnya kau hanya ingin mengejekku?”
Xavier tersenyum lebar. “Aku tidak sedang mengejekmu, cantik,” ucapnya dengan nada merayu. “Itu adalah pujian untukmu. Kau sebagai seorang gadis pembersih toilet, mampu memancarkan pesonamu yang luar biasa hingga membuat kami-kami ini terpesona padamu. Bukan di pesta dansa yang megah, bukan di acara jamuan yang mewah, tetapi disebuah tempat yang sangat rendah hati seperti toilet. Kurasa, apa yang kukatakan sebelumnya kepadamu benar adanya, kau memiliki sihir di tubuhmu yang membuat kami jadi layaknya kumbang merubung bunga mekar mengandung madu, tertarik kepadamu tanpa bisa melawan.”
Elana menatap Xavier dengan tatapan tak percaya. “Kau tertarik kepadaku hanya karena hubunganku dengan Akram Night. Kau dan segala obsesimu untuk menghancurkan segala yang menjadi milik Akram Night.... kenapa kau harus melibatkanku ke dalam pertikaian kalian berdua?”
“Karena kau adalah satu diantara sejuta yang mungkin tidak akan pernah kutemukan bahkan dalam satu dekade ke depan,” kalimat Xavier sederhana, tetapi diucapkan dengan nada merayu yang sungguh-sungguh sehingga semua wanita manapun sudah pasti akan merona dan tersipu dengan hati membuncah bangga.
Tentu saja hal yang sama tidak terjadi pada Elana. Ekspresinya tetap datar, begitupun detak jantungnya. Dia tidak akan mudah tertipu dengan sandiwara Xavier.
Xavier mempelajari ekspresi Elana, lalu memajukan tubuh dan menumpukan sikunya di lutut sementara tangannya dia gunakan untuk bertopang dagu.
“Kau bilang bahwa Akram memutuskan untuk memilikimu dan dia melakukannya,” mata Xavier menyipit ketika dia menatap Elana dengan tatapan menyelidik. “Aku mengenal adikku itu. Ketika dia menginginkan sesuatu, maka dia akan mengambilnya tanpa pikir panjang, meskipun itu harus menggunakan cara paksaan. Jadi, apakah Akram memaksakan kehendaknya kepadamu, Lana? Apakah dia memperkosamu, lalu menawanmu sehingga kau terpaksa bertahan di bawah kuasanya?” tebak Xavier tepat sasaran.
Elana langsung memalingkan muka mendengarkan pertanyaan Xavier yang vulgar itu. Sementara, suaranya malahan tersekat di tenggorokan, membuatnya tak mampu memberikan jawaban apapun.
Meskipun Elana tidak menjawab, sikapnya saja sudah cukup bagi Xavier. Reaksi Lana sudah memberikan jawaban atas pertanyaannya. Sesuai dengan dugaannya.
Xavier lalu memundurkan tubuhnya kembali, menyandarkan punggungnya di kursi dan menyilangkan kaki. Kali ini wajahnya berubah serius sementara sinar matanya penuh dengan perhitungan.
“Kalau aku menawarkan kepadamu kebebasan, akankah kau menerimanya?” tanyanya dengan nada misterius.
Elana langsung menatap kembali ke arah Xavier, dipenuhi oleh rasa ingin tahu.
“Apa maksudmu?”
Xavier tersenyum lembut. “Kau bisa melihat bahwa secara kekuasaan dan kekayaan, aku hampir setara dengan Akram. Aku mungkin bisa menjadi satu-satunya harapanmu untuk melepaskan diri dari cengkeraman Akram. Aku bisa membuatkan identitas baru untukmu, lalu mengirimmu ke tempat yang tak terlacak oleh Akram. Kau bisa memulai hidup baru dengan modal yang cukup, pekerjaan yang baik dengan identitas barumu di tempat yang aman. Aku tidak akan meminta imbalan apapun. Bahkan, aku bersumpah tidak akan menyentuhkan tanganku kepadamu sejak kau berpindah ke tempat barumu itu. Kau akan benar-benar bebas, bebas sepenuhnya seperti burung yang lepas sangkar.”
Xavier memindai seluruh reaksi wajah Lana sampai ke titik sekecil apapun. “Kau akan bahagia Lana. Kau tentu tidak mudah melupakan begitu saja, bukan? Akram telah menculik, memperkosamu, menahanmu dan merendahkanmu hanya untuk menjadi budak pemuas nafsunya saja. Dia sudah tentu sama sekali tidak pernah menghargaimu sebagai seorang individu, tidak menghargaimu sebagai seorang perempuan yang memiliki harga diri. Bukankah bebas dari tirani seperti itu akan sangat menyenangkan? Jika kau menerima tawaranku, maka aku akan menjamin bahwa kau akan bebas, lepas, dan bahagia.”
***
***
__ADS_1