
Pertanyaan Xavier itu memang terdengar ringan dan biasa. Tetapi niatnya sangat jelas, Xavier ingin menyadarkan Sera, bahwa sebaik apapun dia memperlakukan Sera saat ini, Xavier tetaplah seorang pembunuh keji yang akan bersikap kejam terlebih ketika dia ditantang. Hal itu berlaku tanpa pengecualian, bahkan ketika menyangkut Aaron sekalipun.
Sera menghela napas panjang. Dia tak mendongakkan kepala untuk menatap Xavier. Wajahnya masih terbenam di dada lelaki itu, sementara pikirannya sibuk bekerja untuk mengolah kata-kata yang tepat yang bisa diucapkannya kepada Xavier.
“Aku mengerti bahwa kau membunuh demi melindungiku. Pada saat itu, pilihannya adalah nyawa anak kita, atau nyawa wanita pembunuh bayaran itu,” bisiknya perlahan, menyuarakan pikirannya dengan suara tersendat parau.
Pelukan Xavier di tubuh Sera mengetat. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk menyentuh mengangkat kepala Sera supaya menghadap ke arahnya, matanya kelam dan penuh dengan kekejian ketika kemudian berucap.
“Kuharap kau juga memahami dengan benar kata-kata yang kau ucapkan sendiri itu. Bagiku saat ini, pilihannya adalah nyawamu dan bayimu dibandingkan dengan nyawa Aaronmu itu. Kau tentu sudah tahu yang mana yang akan kupilih, bukan?”
Xavier menundukkan kepala, lalu bibirnya bergerak menyatu dengan bibir Sera, melahapnya dalam bentuk ciuman posesif yang begitu buas seolah-olah ingin mencicipi keseluruhan diri Sera tanpa penolakan.
Ketika lelaki itu akhirnya selesai menikmati bibir Sera dan menunjukkan betapa posesifnya dirinya, dilepaskannya bibir Sera yang bertautan dengannya, digesekkannya bibir lembabnya yang begitu panas di permukaan bibir Sera, sebelum kemudian dia berbisik perlahan dengan suara parau bercampur hasrat tertahan.
“Tidurlah, kelinci kecil. Bawa pertanyaanku ke dalam mimpimu ini. Saat aku menuntutmu untuk memilih antara Aaronmu dan diriku, siapakah yang akan kau pilih nanti?”
***
Entah kenapa Sera kali ini berubah menjadi penurut. Mungkin karena perempuan itu memang kelelahan, mungkin juga karena insiden tadi telah menguras tenaganya sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk berdebat dengan Xavier.
Tak butuh waktu lama sehingga tubuh Sera sudah lunglai di lengannya, perempuan itu meringkuk dan bersandar kepadanya, tenggelam dalam tidur lelap yang sangat dalam hingga ketika Xavier menggerakkan tubuhnya perlahan untuk melepaskan Sera dari rangkulannya, Sera tetaplah tidak tersadar dari tidurnya.
Sejenak Xavier berdiri di tepi ranjang. Lelaki itu merendahkan pandangan matanya dan menatap ke arah Sera yang tertidur miring meringkuk dengan lelap. Tangannya lalu bergerak menaikkan kembali selimut Sera yang berantakan di pinggangnya untuk menutup kembali tubuh perempuan itu sampai rapat.
Setelahnya, Xavier membalikkan badan, lalu melangkah pergi meninggalkan Sera beristirahat di dalam sana.
Saat dia keluar, matanya langsung tertuju pada dokter Nathan yang telah menunggu sejak lama sambil duduk di sofa yang telah tersedia di dinding lorong depan pintu kamar ruang perawatan.
Dokter Nathan seolah tak sabar menunggu, ketika melihat Xavier, lelaki itu langsung berdiri dari duduknya dan bertanya.
“Jadi, apa rencanamu? Apakah kau benar-benar akan membuat sayembara berhadiah besar untuk membunuh Aaron?” Dokter Nathan mengawasi Xavier menutup rapat pintu di belakangnya. Nada suaranya terdengar rendah meskipun dia tahu bahwa kamar ruang perawatan itu tertutup rapat sehingga suara dari luar tidak akan bisa masuk terdengar ke dalam lalu mengganggu istirahat pasien.
“Credence memiliki kedekatan dengan dunia bawah tanah seperti halnya aku, dan dia menawarkan bantuan untuk mewakiliku. Saat ini Credence telah menggunakan koneksinya untuk membuat pengumuman kepada seluruh pembunuh bayaran yang bersedia dan mampu, untuk mengejar Aaron dan membunuhnya menggunakan cara apapun, dengan bayaran dua kali lipat dari yang ditawarkan oleh Aaron untuk mencelakai bayi Sera. Semakin cepat mereka berhasil membunuh Aaron, maka akan semakin tinggi bayarannya. Aaron akan merasakan bagaimana para pembunuh mengejarnya dan tidak akan melepaskannya sampai dia mati.” Xavier menyahuti dengan nada dingin.
“Apakah kau pikir ini adalah keputusan yang bijak?” Kembali Dokter Nathan melirik ke arah pintu ruangan perawatan Sera yang tertutup rapat. “Itu akan merusak hubunganmu dengan Sera yang telah terjalin baik.”
Xavier menghela napas keras. “Hubunganku dengan Sera tak pernah berjalan baik sebelumnya. Kami berdua seperti berjalan di tengah danau yang membeku dengan lapisan es tipis di bawah kaki kami. Akan ada tiba saatnya lapisan es itu pecah dan menjatuhkan kami berdua tenggelam ke danau. Kalau memang itu yang pasti akan terjadi, bukankah lebih baik jika aku pecahkan saja lapisan es tipis itu sekalian? Setidaknya jika kami berdua celaka di awal, kami akan memiliki kesempatan lebih banyak untuk menyelamatkan diri.”
“Aku tak bisa menyanggah jika kau berpendapat seperti itu. Tetapi satu hal yang harus kau ingat, jika sampai Aaron mati, dan dia mati karena sayembara berhadiah besar darimu, Sera tidak akan pernah memaafkanmu,” ujarnya kemudian dengan nada mengingatkan.
Xavier menggelengkan kepalanya tipis, lelaki itu seolah tak menyetujui peringatan yang dilemparkan oleh Nathan kepadanya.
“Jika sampai aku tak berbuat apapun, lalu Sera dan anak di dalam kandungannya sampai celaka, maka akulah yang lebih tak bisa memaafkan diriku sendiri,” sahutnya dengan nada tak terbantahkan. Xavier kemudian tidak menunggu kalimat Nathan selanjutnya, dia melirik ke arah lorong rumah sakit, lalu mengangkat alis dan menatap kembali ke arah Nathan. “Akram belum tiba di sini? Biasanya jika menyangkut Elana, dia bergegas datang.”
Nathan mengangkat bahu. “Akram sedang berada di luar kota siang ini ketika kau menghubunginya mengenai insiden ini. Dia langsung pulang dengan helikopter, tetapi tetap saja, jarak jauh yang ditempuh membuatnya tertahan beberapa lama.”
Seolah begitu kebetulan waktunya, di detik dokter Nathan menutup mulutnya setelah selesai berucap, suara berderap langsung terdengar dari ujung lorong, diikuti dengan munculnya Akram yang berjalan begitu cepat menghampiri mereka. Tampak Elios yang melangkah setengah berlari mengikuti langkah cepat Akram sambil membetulkan letak kacamatanya yang beberapa kali melorot.
Elios tampak sama cemasnya dengan Akram. Akram sendiri masih mengenakan jas lengkap, tubuhnya yang tinggi tampak menegang karena cemas, sementara rambutnya yang biasanya tersisir rapi tampak acak-acakan meskipun Akram sepertinya tak mempedulikannya.
__ADS_1
Wajah Akram bahkan menyiratkan nuansa pucat yang tak biasa ketika dia melangkah langsung seolah menyerbu, menuju ke arah Xavier dan Nathan yang berdiri di depan pintu kamar perawatan Sera.
“Di mana Elana?” Akram bertanya dengan nada mendesak setengah menggeram.
Xavier menunjuk ke pintu yang tertutup di sebelah pintu kamar perawatan Sera dan tanpa berucap lagi, Akram langsung menghambur ke sana, membuka pintu itu lalu membantingnya kembali tertutup dengan suara kencang yang bergema di lorong-lorong rumah sakit ini.
Tiga orang lelaki yang ditinggalkan berdiri di lorong tertegun menatap ke arah pintu yang tertutup itu. Xavierlah yang memulai percakapan kemudian, sedikit menyeringai seolah geli.
“Aku tidak tahu kalau Akram bisa panik seperti itu,” ujarnya kemudian.
Elios mengangkat bahunya. “Anda tidak tahu bagaimana Tuan Akram ketika diperjalanan tadi, semua orang terkena bentakannya karena dianggap kurang cepat,” sahut Elios seolah memohonkan permakluman. “Yah, dalam kondisi biasa pun, Nyonya Elana adalah prioritas utama Tuan Akram. Apalagi sekarang saat kondisi Nyonya Elana sedang hamil,” sambungnya kemudian.
Xavier menganggukkan kepala. “Aku mengerti.” Xavier tidak mengatakan kalau dia merasakan hal yang sama menyangkut Serafina Moon. Disimpannya perasaan itu untuk dirinya sendiri, tidak perlu ada orang lain yang tahu. “Tadi aku sudah menjelaskan di telepon bahwa Elana baik-baik saja kepada Akram. Tetapi rupanya Akram tidak mau percaya sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.”
Elios menganggukkan kepala, setengah tersenyum mendengar perkataan Xavier. Tetapi, ketika lelaki berkacamata itu bergerak untuk mengeluarkan benda hitam berbentuk kartu pengenal tipis di tangannya, ekspresi lembutnya berubah jadi serius.
“Anda meminta akses masuk dan kuasa membebaskan tahanan dari ruang penjara khusus yang dimiliki oleh Tuan Akram. Saya diminta menyiapkan kartu aksesnya dan menyerahkannya kepada Anda.” Elios memberikan kartu hitam itu kepada Xavier yang menerimanya. “Apakah ini seperti yang saya duga, bahwa Anda akan melepaskan dia?”
Xavier menipiskan bibir dan tersenyum lalu menganggukkan kepala.
“Aku akan datang bersama Nathan ke sana, bagaimanapun, aku membutuhkan Nathan untuk membantuku menyuntikkan racun kepada Sabina dan juga menyuntikkan microchip peledak serta pengendali di batang otak Sabina. Teknologi Microchip pengendali yang dikembangkan oleh pusat penelitian teknologi senjata milik Akram itu akan menidurkan otak yang asli dan menggantinya otak robot yang tertanam seperti parasit di batang otaknya. Sistem otak robot itu akan mengendalikan tubuh Sabina, membuatnya laksana cangkang tanpa jiwa dan hanya bergerak sesuai dengan perintahku.” Mata Xavier bersinar dengan licik. “Sabina adalah senjata yang paling tepat untuk menusuk jantung pertahanan Aaron. Bagaimanapun, Sabina pernah menolong dan menyelamatkan Aaron. Meskipun interaksi mereka singkat, tetapi aku yakin bahwa pria berhati lemah seperti Aaron adalah jenis pria tahu terima kasih yang menjadi salah satu titik kelemahannya. Jadi, aku akan mengirimkan tubuh Sabina dengan otak yang sudah kukendalikan, untuk menghabisi Aaron dengan cepat.”
Dokter Nathan mengerutkan kening, seolah tak setuju. “Teknologi microchip pengendali otak yang dikembangkan oleh Akram sebagai senjata perang sudah dieliminasi karena dianggap tidak mengedepankan kemanusiaan dan hak asasi manusia dalam proses penerapannya. Pengembangan teknologi itu diterminasi sebelum mendekati kesempurnaan. Bahkan prototipe yang akan kau tanamkan ke dalam otak Sabina adalah prototipe setengah jadi. Apakah kau tidak mengkhawatirkan efek sampingnya? Benda itu bisa merusak otak Sabina dan tidak bisa dikembalikan seperti semula. Kemungkinan besar, setelah microchip itu dicabut, sebagian besar fungsi otak Sabina akan mati dan menyebabkannya mengalami kecacatan.”
“Apakah nuranimu sebagai seorang dokter membuatmu tidak mampu membantuku menanamkan microchip itu?” Xavier mengangkat alisnya dengan sikap mengejek. “Sebagai informasi, untuk membantumu menekan nuranimu yang dipenuhi rasa bersalah, Sabina adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat kejam, sudah begitu banyak laki-laki yang jatuh ke dalam tangannya dan dibunuhnya hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Dia juga tak punya kode etik dan moralitas yang baik, ibu hamil, anak tak berdosa, lansia, bahkan bayi kecil tanpa dosa pun, dilibasnya habis tanpa kecuali.”
***
“Tuan Aaron.”
Suara panggilan itu membuat Aaron yang sedang serius membaca berkas-berkas di meja kerjanya mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan Daniel, salah satu pegawainya yang sangat setia. Ketika Aaron mengawasi ekspresi Daniel yang pucat pasi, langsung tahulah dia bahwa pegawainya ini datang dengan membawa kabar buruk.
“Apakah kau datang untuk memberitahukan kegagalan?” Aaron bertanya sambil menyeringai, nada suaranya getir seolah-olah dia sudah menyiapkan hati untuk itu. “Apakah mereka gagal menggugurkan bayinya dan malahan mencelakai Serafina Moon?” tanyanya kemudian dengan nada suara bergetar.
Daniel menggelengkan kepala.
“Tidak, Tuan Aaron. Percobaan pembunuh bayaran itu untuk menggugurkan kandungan Serafina Moon memang telah digagalkan oleh Xavier Light sendiri. Tetapi, Serafina Moon dipastikan tidak terluka sama sekali. Ada laporan bahwa Xavier Light membawa sendiri Serafina Moon keluar dari pusat perbelanjaan itu dalam kondisi utuh tanpa luka sama sekali.”
Aaron memejamkan mata ketika kelegaan memenuhi jiwanya. Dirinya mungkin sudah gila karena telah melawan Xavier Light secara terang-terangan dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tetapi, itu semua karena sekarang dia ingin mengikuti kata hatinya sendiri yang terdalam.
Selama ini, Aaron tumbuh di bawah didikan Roman dan Samantha Dawn yang berjiwa kejam, terlebih lagi, mereka menanamkan dendam kepada dirinya karena matinya Anastasia yang saat itu tengah mengandung anak buah percintaan terlarang mereka. Aaron memiliki perasaan kepada Serafina, tetapi dia selalu berusaha membunuhnya dengan terus menanamkan dendam ke dalam jiwanya. Akan tetapi, sekarang setelah dia berhasil menjernihkan pikirannya, dia menyadari bahwa seluruh harta warisan keluarga Dawn yang dimilikinya itu, tak akan pernah bisa membuatnya merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya kalau dia tak memiliki Serafina di sisinya.
Ternyata yang diinginkan Aaron adalah sesuatu yang sangat sederhana, sesuatu yang dulu seharusnya bisa dimilikinya dengan mudah, tetapi malahan dibiarkan lepas dan sulit diraih kembali.
Aaron sungguh menyesali semua hal yang dia lakukan di masa lalu. Dia menyesal telah menyerahkan Sera ke tangan Xavier. Dia merasa bahwa masih ada kesempatan bagi dirinya dan Serafina jika dia memang mau berusaha. Dia harus memperjuangkan Sera dan melepaskannya dari cengkeraman Xavier dengan menggunakan segala cara.
“Kau bilang Xavier sendiri yang menggagalkan upaya pembunuhan itu? Seharusnya Xavier tidak tahu apapun hingga waktunya tiba. Apakah menurutmu, ada yang berkhianat di antara kita dan membocorkan upaya pembunuhan itu kepada Xavier?” tanya Aaron kemudian setelah berpikir dalam dan menelaah semuanya.
Daniel menganggukkan kepala, kecemasan yang membayangi wajahnya tampak semakin pekat ketika dia kemudian berucap.
__ADS_1
“Saya akan mencoba memindai orang-orang di lingkaran dalam kita dan menemukan petunjuk siapa yang berkhianat.” Nada suara Daniel berubah menjadi berhati-hati dan cemas. “Tetapi, ada satu hal lagi yang harus kita perhatikan saat ini,” sambungnya kemudian dengan nada ragu.
Aaron mengangkat alis. Lelaki itu sudah bisa menebak dengan tepat. “Apakah Xavier sudah bergerak?” tanyanya tajam.
“Ya, Tuan.” Daniel menyahuti perlahan. “Xavier bukan hanya bergerak dengan satu tindakan. Dia membuat sayembara tandingan yang menawarkan harga dua kali lipat kepada seluruh pembunuh bayaran di dunia bawah tanah untuk mengejar dan membunuh Anda dengan menggunakan segala macam cara. S-saya rasa, ini adalah saat yang tepat bagi Anda untuk pergi ke tempat persembunyian dan mengamankan diri.”
Aaron menyeringai, seolah-olah tak menyetujui perkataan Daniel.“Aku akan pergi melarikan diri ke tempat yang paling tak diduga oleh Xavier,” sahutnya kemudian dengan nada misterius.
Daniel mengerutkan keningnya. “Anda akan kemana, Tuan? Saat ini, semua jalur bisa dipastikan berbahaya untuk Anda. Semua pembunuh bayaran saat ini sudah mulai membuat rencana dan bergerak untuk mengejar Anda begitu pengumuman sayembara berhadiah atas nama nyawa Anda disebarkan.”
Aaron tampak tak peduli. “Aku sudah tahu bahwa situasi akan berakhir seperti ini sehingga aku sudah menyiapkan sebuah penyamaran yang sangat sempurna. Begitu sempurnanya sehingga Xavier tidak akan menyadari bahwa aku akan mendatanginya dan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri.” Mata Aaron menyipit dengan niat membunuh yang tak tertutupi. “Dan kali kedua aku menusuk Xavier nanti, akan kupastikan bahwa aku tak akan gagal membunuhnya.”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1