
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Kurasa Xavier tak akan terbangun meskipun kau mengajaknya berbicara, efek obatnya sangat kuat. Jadi, lebih baik kau langsung tidur saja setelah melihat keadaan Xavier dan baru mengajaknya berbicara nanti saat dia sudah terbangun, ya?” Dokter Nathan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar perawatan Xavier, menatap Sera dengan hati-hati. “Aku akan mengantarmu sampai di sini saja. Masuklah.”
Sambil berucap, tangan dokter Nathan bergerak mendorong pintu kamar perawatan Xavier supaya terbuka. Ada banyak bodyguard yang berjaga di luar pintu dan mereka hanya mengangguk sopan kepada Sera, mengizinkan Sera memasuki ruangan.
Sera menganggukkan kepala ke arah dokter Nathan, lalu melangkah masuk ke dalam pintu yang terbuka dan membiarkan pintu ruang perawatan itu ditutup di belakangnya, matanya langsung terpaku pada sosok yang terbaring kaku di sana. Xavier memejamkan mata rapat, berbaring telentang dan tak bergerak di tengah nuansa kamar yang pencahayaannya sengaja dibuat remang-remang supaya bisa memaksimalkan masa istirahat pasien.
Sera melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, berusaha bergerak sepelan mungkin agar tapak kakinya yang menginjak karpet saat dia berjalan mendekat tak memunculkan suara sedikit pun.
Entah kenapa, melihat Xavier yang berbaring lemah seperti itu, sama sekali tak melegakan hati Sera. Malahan, terasa seberkas kepedihan yang menetes pelan membasahi ruang jiwanya dengan kepedihan, lalu seakan membuka semua tanggul penghalang di sana dan membanjirinya dengan rasa perih yang menusuk.
Dia mencintai lelaki ini.
Sera tak meragu lagi. Melihat Xavier terbaring dengan segala kelemahannya seperti saat ini membuatnya sadar bahwa Sera begitu mencintai Xavier, hingga sampai di titik dimana dia tak peduli apakah Xavier sedang tampil prima dan sehat dengan segala kelebihannya, ataukah Xavier sedang berbaring sakit dengan segala kelemahannya. Dua sisi Xavier, Sera mencintai semuanya.
Melanggar perintah dokter Nathan yang menyuruhnya langsung berbaring beristirahat di sofa saja, Sera malahan melangkahkan kakinya hingga mendekat ke tepi ranjang, berdiri di sana dan mengawasi wajah pucat Xavier yang terbaring lelap.
Lalu, didorong oleh keinginan impulsif yang membisikkan supaya dia berada di dekat suaminya, Sera naik ke atas ranjang, menyusupkan tubuhnya di ruang sempit pinggiran ranjang, lalu bergelung merapat ke tubuh suaminya seolah mencari perlindungan dari lelaki itu, sebelum kemudian memejamkan mata dan terlelap.
***
“Kau sudah bangun.”
Suara asing itu terdengar menyapa, membuat Aaron yang sedang mengerjapkan mata saat menyesuaikan diri dengan kesadaran yang mengusir kabut di dalam kepalanya. Dengan waspada, Aaron menolehkan kepala ke arah sumber suara, dan matanya melebar ketika tatapannya langsung bertemu dengan mata biru dokter Rasputin yang tengah mengawasinya dengan saksama.
Seluruh wajahnya terasa kebas dan Aaron menahan dorongan tangannya yang ingin bergerak menyentuh perban tebal di wajahnya.
“Apakah semuanya berjalan dengan baik, Dokter?” tanyanya kemudian.
Dokter Rasputin mengawasi perban yang melingkupi wajah Aaron yang membuatnya tampak seperti mumi dibalut bebat putih, lalu bibirnya menyeringai.
“Apakah kau meragukan kemampuanku?” tanyanya dengan pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab.
“Kira-kira… kapan aku bisa mendapatkan wajah baruku yang sudah sembuh sempurna?” Aaron mengajukan pertanyaan lagi dengan penuh rasa ingin tahu.
Dokter Rasputin menyeringai semakin lebar.
“Dengan teknik dan kemampuanku, tidak akan membutuhkan waktu lama sampai kau bisa membuka bebatmu, lalu mendapatkan wajah barumu setelah luka-lukamu sembuh. Kemungkinan hanya membutuhkan waktu kurang dari sebulan. Selama masa perawatan ini, kau akan berada di sini, di ruang perawatan bawah tanahku yang terlindung dari dunia luar. Itu mungkin cukup melegakanmu, bukan?”
Bayaran dokter Rasputin memang luar biasa mahal, tetapi itu semua termasuk keamanan dan kerahasiaan serta jaminan keselamatan pasien sampai sembuh benar. Aaron bersyukur dia mengambil jasa dokter Rasputin untuk dirinya. Lelaki ini memiliki bunker bawah tanah yang tak mudah dilacak oleh siapapun.
Setidaknya selama satu bulan ini sampai dia sembuh benar, dia akan aman dan bebas dari ancaman para pembunuh bayaran yang mengejarnya.
“Terima kasih, Dokter.” Aaron berucap perlahan, berjuang membiasakan diri dengan bibirnya yang kaku.
Dokter Rasputin mengawasi Aaron dan tak bisa menyembunyikan kepuasannya. Operasi wajah Aaron berlangsung sangat lancar dan bahkan dia sendiri tak sabar ingin melihat hasilnya ketika luka operasi di wajah Aaron telah sembuh nanti.
“Ketika bebatmu dibuka nanti, kau akan menjadi lelaki paling tampan dan memesona di seluruh dunia. Tak akan ada wanita yang tak akan bertekuk lutut di bawah pesonamu,” ujarnya kemudian dengan penuh rasa percaya diri yang nyaris pongah.
Aaron berusaha tersenyum di balik perbannya, tetapi seluruh wajahnya terasa kebas hingga otaknya seolah-olah kehilangan kontrol atas indra perasa di area kepalanya.
“Aku tak perlu menjadi paling tampan di dunia, Dokter. Aku hanya perlu mengalahkan ketampanan satu orang saja.” Bahkan berbicara pun terasa sulit baginya, membuatnya harus bersusah payah ketika hendak mengucapkan kalimatnya lambat-lambat. “Aku juga tak ingin membuat wanita di seluruh dunia bertekuk lutut. Hanya ada satu wanita yang kuinginkan,” sambungnya perlahan.
Dokter Rasputin terkekeh. “Hah, demi seorang wanita. Tidak tahukah kau kalau wanita adalah alasan utama kejatuhan kaum laki-laki? Tidak pernahkah kau belajar dan menengok sejarah masa lalu? Catatan sejarah telah membuktikan bahwa kaum wanita memang diciptakan untuk menjadi kelemahan kaum lelaki yang pada akhirnya menghancurkan mereka. Apa kau tidak ingat kisah Cleopatra membuat Marc Anthony kehilangan kejayaannya dalam sekejap? Atau mungkin kisah Anne Boleyn yang mengguncangkan tahta Henry VII dan menciptakan salah satu skandal paling kelam bagi Kerajaan Inggris? Jika itu belum cukup, mungkin kau harus membaca kisah Mo Xi yang membuat kaisar Jie tergila-gila dan akhirnya menghancurkan dinasti Xia di kekaisaran Cina?” Dokter Rasputin menipiskan bibir seolah-olah mengejek ke arah Aaron. “Sebagai lelaki kuat, kau sampai mengorbankan semuanya untuk seorang wanita, apakah kau pikir itu tidak menyedihkan?”
Aaron tertegun, tetapi lelaki itu kemudian menggelengkan kepalanya dengan mantap.
“Tidak, Dokter. Untuk wanita yang satu ini, aku tidak akan menyesali apapun,” jawabnya kemudian, dengan nada lugas penuh keyakinan.
__ADS_1
***
Xavier membuka mata ketika kilasan matahari dari gorden yang terbuka menyapa matanya, menariknya dari tidur lelap dan memaksanya membuka mata.
Keningnya berkerut ketika menyadari bahwa kamar tempatnya berada telah terang benderang, dijamahi oleh sulur cahaya matahari yang seolah tak sabar menyapa.
Kepalanya masih sedikit pening, membuat Xavier tanpa sadar mengangkat tangan untuk memijit pelipisnya dalam usahanya meredakan pening itu, tetapi gerakannya tertahan oleh selang infus di tangannya.
Infus?
Xavier menatap ke arah selang di punggung tangannya yang terhubung dengan infus dan sedetik kemudian, ingatannya yang tajam langsung memunculkan visualisasi dengan jelas mengenai segala hal yang terekam dalam memorinya saat ini.
Ah dia pingsan ketika hendak menemui Sera….
Xavier bergerak, mencoba membawa tubuhnya bangkit pada posisi setengah duduk di atas ranjang. Tetapi, ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Mata Xavier terarah merendah ke posisi samping bawah tubuhnya dan mata itu langsung melebar ketika menyadari bahwa Sera tengah berbaring meringkuk di sisinya.
Perempuan itu berbaring di luar selimutnya, hanya mengenakan gaun tidur tipis dan meringkuk seolah kedinginan di samping tubuh Xavier yang telentang. Kaki Sera sedikit menyilang, menumpang secara serampangan di atas kaki Xavier, sementara lengan mungil perempuan itu juga terulur, melingkari rapat pinggang Xavier dengan kepala tenggelam di sisi bawah ketiaknya.
Sejenak Xavier terpana, seolah kehilangan kemampuannya berkata-kata.
Kenapa perempuan ini bisa ada di sini? Tetapi…. Sera tampak kedinginan tak berbungkus selimut. Apakah semalaman perempuan ini berbaring di atas tempat tidurnya dalam posisi begini? Kenapa dokter Nathan mengizinkan itu?
Dengan kening berkerut karena cemas, Xavier akhirnya menggerakkan tangannya, berusaha membangunkan Sera dari lelapnya. Diguncangnya sedikit pundak Sera sebelum tangannya bergerak untuk menyentuh sisi wajah perempuan itu dan mengusapnya lembut.
“Hei, bangunlah kelinci mungil.” Xavier berbisik pelan dengan suara parau, berusaha menarik kesadaran Sera ke permukaan.
Panggilannya berhasil, perempuan itu mengerjapkan matanya sebentar, lalu mendongakkan kepala ke arah sumber suara yang membangunkannya berasal.
Matanya langsung bertemu dengan mata Xavier, dan pipi Sera seketika memerah ketika menyadari bahwa dirinya terpergok menyelinap ke atas ranjang lelaki itu.
“Bagaimana keadaanmu?” Sera bertanya malu-malu, sementara dia mendorong tubuhnya sendiri bangun, hendak turun dari ranjang itu.
Namun, tangan Xavier menahannya. Lelaki itu mengelus bahu Sera lembut lalu berucap dengan suara perlahan.
Sera menahankan gerakan tubuhnya, menatap ke arah Xavier dengan bingung.
“Tapi… tapi tubuhmu… dan infusmu…”
“Aku tidak apa-apa.” Xavier menyela lagi, berucap lembut untuk meyakinkan Sera. “Dokter Nathan sudah menanganiku dengan baik. Ayo naiklah ke sini.” Lelaki itu melebarkan sebelah lengannya, memberikan kesempatan bagi Sera untuk masuk ke dalam pelukannya.
Mendapati Xavier yang sudah bisa memasang senyum dengan mata indahnya yang berkilauan menatap Sera, bagaimana mungkin Sera bisa menolaknya? Pada akhirnya hatinya luluh dan dia mengangkat tubuhnya naik, lalu menyusup ke dalam pelukan Xavier, berbantalkan lengan dan bahu lelaki itu dan membiarkan lelaki itu merangkulnya.
“Hmm, rasanya menyenangkan sekali.” Xavier mengulas senyum puasnya tanpa malu-malu. “Apakah kau baik-baik saja, Sera? Kau tidak kedinginan?” tanyanya kemudian.
Sera menggelengkan kepala. “Tidak. Aku menempel kepadamu, jadi aku tak kedinginan.” Sera menyahuti cepat. Begitu membuka mata, pikirannya langsung bergolak dengan kalimat-kalimat yang telah dia susun sebelumnya. Saat ini, dia harus lekas mengutarakannya kepada lelaki itu sebelum dia nanti kehilangan keberanian. “Aku… ada yang ingin kukatakan kepadamu… ini serius jadi aku ingin kau mendengarkannya,” ucapnya kemudian, sedikit terbata.
Xavier menunduk, mengerutkan kening dan menatap Sera yang menengadah ke arahnya.
“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin berbicara serius di pagi hari saat kita baru saja terbangun?” Ada seberkas sinar waspada di matanya ketika melihat tekad bulat di mata Sera. Tetapi, lelaki itu mampu menahannya dan menggantikannya dengan senyuman lembut.
Sera menghela napas panjang. “Aku ingin membuat kesepakatan baru denganmu.” Setelah memantapkan diri, Sera akhirnya berucap.
Kali ini kerutan di dahi Xavier langsung terbentuk dalam. Matanya menyipit ketika menatap Sera dengan was-was sekaligus penasaran.
“Kesepakatan apa? Apakah kau ingin mengeliminasi semua kesepakatan kita sebelumnya dan menyingkir dari hidupku?” tebak Xavier kemudian dengan nada suara getir.
Sera langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak! Bukan begitu. Aku ingin sebaliknya.”
“Sebaliknya?” Xavier menipiskan bibirnya seolah tak sabar. “Aku menduga bahwa kau memikirkan kesepakatan ini setelah melihat kondisi tubuhku yang sekarat, benarkah itu?”
“Y-ya.” Mau tak mau Sera mengutarakan kejujuran dan menganggukkan kepalanya. Memang hal itulah yang menjadi pendorong utamanya mengajukan kesepakatan ini. “Aku ingin kau menyetujui satu klausul baru dalam kesepakatan kita, sebagai gantinya, kau… kau juga boleh menambahkan satu klausul baru sesuai maumu, dan aku akan menyetujuinya juga.”
Mata Xavier menyipit seolah tak sabar. “Sebaiknya kau katakan kepadaku sekarang, klausul apa yang sedang kau coba negosiasikan denganku saat ini?” geramnya setengah mendesak.
Lelaki itu mungkin terbiasa mengintimidasi. Karena itulah sikapnya benar-benar mendesak dan memaksa saat ini, membuat Sera jadi luar biasa gugup. Dia berusaha mengumpulkan kembali kalimat yang sudah dirangkainya, lalu menantang tatapan mata Xavier dan berucap perlahan.
“Aku ingin menambahkan klausul di kesepakatan kita. Mengenai sel punca dari plasenta anak ini… aku ingin kau wajib menggunakannya untuk transplantasi sumsum tulang belakang, untuk kesembuhanmu.”
__ADS_1
Akhirnya Sera berhasil mengutarakan kata-katanya. Dokter Nathan bilang kalau Sera sebaiknya berusaha membujuk Xavier supaya mau memanfaatkan sel punca itu untuk dirinya sendiri. Tetapi, Sera sangat mengenal Xavier, jika sudah punya mau, lelaki itu sangat keras kepala. Satu-satunya cara untuk membuat Xavier berubah pikiran adalah dengan memaksakan kesepakatan kepadanya.
Mata Xavier melebar dan bibirnya menipis ketika mendengarkan klausul yang diajukan oleh Sera. Lelaki itu kemudian mengangkat alis dan kembali mengulas senyuman penuh ironi di bibirnya.
“Apakah Nathan yang memaksamu untuk mengatakan itu kepadaku?” tanyanya kemudian, sedikit marah.
Sera menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Dokter Nathan memang memberi saran kepadaku. Tetapi aku mengajukan klausul itu atas kemuanku sendiri,” sanggahnya cepat.
“Hmm,” Xavier bergumam pelan. Lelaki itu kemudian memiringkan tubuh, menghadap langsung ke arah Sera sampai wajah mereka berhadapan hampir menempel.
“Ada apa gerangan? Apakah kau sekarang mulai memikirkan keselamatanku? Apakah sekarang setelah melihat aku sakit, kau jadi takut kehilangan diriku?” tanyanya setengah mengejek.
Sera menipiskan bibirnya, merasa marah karena Xavier seolah tak menanggapi perkataannya dengan serius. Dia lalu menggerakkan tangannya dan menangkup sisi pipi Xavier di kiri dan kanannya, sementara dia sendiri beranjak mendongak, membuat mata mereka saling berpadu dekat sekali.
“Dengarkan aku, Xavier Light. Aku tak akan membiarkan kau seenaknya saja lari dan melepas tanggung jawab atas anak-anakmu setelah mereka dilahirkan. Apa kau ingin anak-anakmu lahir tanpa seorang ayah seperti dirimu? Sebegitu tak bertanggung jawabnyakah dirimu sehingga dengan egois kau memikirkan kematianmu sendiri dan melupakan bahwa kau telah ikut andil dalam melahirkan anakmu ke dunia ini?” Sera berucap dengan nada tegas, dipenuhi tuduhan dan sedikit kemarahan. “Kau tidak bisa seenaknya meninggalkan anak-anakmu, tidak saat aku masih hidup dan menjadi ibu mereka. Jadi, dengarkan aku baik-baik. Kau harus menyetujui klausulku atau tidak sama sekali. Jika kau tak mau menandatangani persetujuan bahwa kau akan menggunakan sel punca dari plasenta bayi kita nanti untuk ditransplantasikan kepadamu, maka lebih baik kita batalkan semua perjanjian kita kali ini. Toh kau juga sudah membuang peryaratan kesepakatan kita dengan memutuskan untuk memburu, Aaron bukan?”
“Apakah kau sedang mengancamku, Sera?” Xavier menipiskan bibir tak suka. Tentu saja dia tak suka. Dia tak pernah mengizinkan orang lain menyetir keputusan atau tindakannya sebelumnya.
Sera menguatkan hati, menatap ke arah mata Xavier dalam-dalam.
“Ya, aku mengancammu Xavier Light. Jika kau tak menyetujui klausulku, maka aku akan pergi dari hidupmu. Aku mungkin akan mati lebih dulu darimu dengan membawa anakku.” Sera melempar ancaman terkerasnya yang sesungguhnya tak ingin diucapkannya. Tangannya yang menangkup pipi Xavier menekan semakin keras, berusaha supaya lelaki itu memahami apa yang dirasakannya. “Aku tak bisa membesarkan anak-anak ini sendirian, Xavier. Aku takut. Kumohon jangan mati dulu. Jika kau tak ingin melakukannya untuk dirimu sendiri, setidaknya lakukanlah demi diriku dan anak-anakku.”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1