Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 53 : Pertaruhan


__ADS_3


"Akram,"


Suara Xavier mengandung senyum tersirat, seolah-olah lelaki itu sudah tahu bahwa Akram sudah pasti akan meneleponnya dalam waktu dekat.


Akram mengetatkan geraham, menahan rasa bercampur aduk menyesakkan dada setiap dia harus berhadapan dengan Xavier. Trauma itu memang masih begitu mengganggunya. Bayangan akan mayat Anastasia yang malang, yang harus meninggal di usia yang begitu muda karena terjepit di tengah-tengah pertikaian Akram dan Xavier, lalu rasa tak berdaya yang menggerusnya setelah itu. Semua itu bergumul di dalam jiwanya, mempercepat detak jantungnya sehingga Akram harus berjuang keras untuk mempertahankan ketenangannya.


"Apa yang kau inginkan sebagai ganti penawar itu? Kau tak mungkin setuju begitu saja memberikan penawar racun pada Elana tanpa meminta imbalan apapun, bukan?" berbeda dengan Xavier, Akram tidak suka berbasa-basi, dia langsung mengutarakan begitu saja apa yang ada di dalam pikirannya.


"Jadi, kau setuju dengan negosiasiku sebelumnya? Untuk membiarkan Lana datang ke rumahku dan menerima infus antidote sejumlah empat kali pertemuan setiap tiga hari sekali dengan waktu dua puluh jam setiap kali pertemuan?" Xavier mengabaikan pertanyaan Akram dan memilih mengulang situasi kondisi yang ditawarkannya dengan terperinci. Seolah-olah kesepakatan mereka tentang pengaturan waktu ini, sangatlah penting baginya.


"Tergantung persyaratan apa yang kau inginkan, lalu aku akan memberikan persyaratanku sendiri untuk kau akomodasi," sahut Akram dengan suara jengkel.


"Apa persyaratanmu?" sekali lagi Xavier seolah mengabaikan perkataan Akram dan langsung menyela, membuat Akram mengepalkan tangannya menahan marah.


"Persyaratanmu dulu, Xavier." geramnya tak sabar.


Sejenak keheningan membentang di antara mereka, sebelum kemudian Xavier menecah kesenyapan itu dengan suara provokatif yang disengaja.


"Kau tidak berada dalam posisi untuk memerintahku, Akram. Jika kau memang menginginkan antidote itu untuk Lana, maka sebutkan persyaratanmu, barulah aku akan mempertimbangkan apakah aku bisa mengakomodasinya atau tidak," Xavier berucap lambat-lambat sehingga Akram bisa membayangkan bagaimana lelaki itu saat ini tengah menyeringai licik di seberang sana. "Setelahnya, mungkin aku akan bersedia menyebutkan persyaratanku."


"Baik," Akram menggeram. "Jika aku mengizinkan Elana mengikuti sesi pemberian penawar racun di rumahmu, maka aku tidak akan membiarkan Elana kesana sendirian tanpa pengawalan."


Hening lagi, seolah Xavier sedang mencerna kalimat Akram


"Aku menolak jika kau sendiri yang bermaksud mendampingi Elana di rumahku. Anggap saja Itu adalah satu-satunya persyaratan dariku. Ketika Elana ada di rumahku, kau tidak boleh ada bersamanya. Tetapi, jika yang mendampingi Elana bukanlah dirimu, maka aku akan memberi izin. Kau bisa menempatkan siapapun dan sebanyak apapun bodyguardmu ntuk mengawal Elana di rumahku, asal bukan dirimu." Xavier akhirnya berucap dengan penuh perhitungan.


Akram menipiskan bibir. "Baik aku tidak akan datang sendiri mengantarkan Elana ke tempatmu. Nathan dan Elios yang akan menjadi pendamping tetap Elana. Aku juga akan menempatkan bodyguard terbaikku yang kesemuanya bertugas untuk menjaga mereka. Kau tentu tahu kalau aku tidak akan melepaskan ketiga orang yang penting bagiku, untuk begitu saja masuk ke dalam sarang penyamun gila yang berbahaya. Aku menempatkan penembak jitu dan banyak anak buahku di sekeliling rumahmu. Jika sedikit saja anak buahku menerima sinyal tanda bahaya dari dalam rumahmu tentang adanya upaya menyakiti tiga orang ini, maka aku akan memerintahkan penyerbuan ke rumahmu dan menciptakan pertumpahan darah tanpa ampun yang tentunya akan membawa kerugian besar bagimu,"


Terdengar suara kekehan dari seberang sana.


"Ah. Oke. Akram Night memang selalu memperhitungkan segalanya. Tapi, kau bisa tenang, aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menyakiti tiga orang pentingmu itu," Xavier berucap dengan nada suara yang masih mengandung tawa.


Sungguh berkebalikan dengan Akram yang tampak begitu serius.


"Apa sebenarnya tujuanmu, Xavier? Jika kau ingin menghancurkan Elana, kau tinggal berdiam diri tanpa memberikan antidote itu dan membiarkan Elana mati di hari ke tujuh. Tetapi, kau tidak melakukan semua hal tersebut, malahan menawarkan pemberian penawar hanya dengan persyaratan ringan," suara Akram terdengar semakin sinis di setiap kata yang diucapkannya. "Aku sangat mengenalmu, kau tidak akan mau repot-repot berbuat baik dan hanya akan melakukan hal-hal yang bisa menguntungkanmu. Otak jeniusmu selalu bisa mencari cara licik untuk mengambil keuntungan dari orang lain."


Sekali lagi Xavier terkekeh di seberang sana. "Apakah aku harus menganggap kata-katamu barusan sebagai pujian, ataukah sebagai hinaan?" tanyanya dengan nada ringan.


"Aku tidak akan pernah memujimu, Xavier," Akram menggeram dengan nada berat. "Katakan padaku, apa keuntungan yang kau incar dari semua ini?" Akram mengucapkan pertanyaannya dengan nada menuntut yang kejam, seolah-olah lelaki itu tidak mau menerima penolakan.


Tapi, Xavier tak gentar, suaranya tetap penuh senyum ketika menjawab dengan nada ringan.


"Keuntungan yang kudapatkan adalah aku jadi bisa mendapatkan 'waktu' untuk diriku sendiri," bisiknya misterius.


"Waktu?" Akram bertanya cepat, dipenuhi kecurigaan. "Apa maksudmu?"


Lagi. Kembali terdengar suara Xavier terkekeh pelan.


"Mengenai Lana, kau harus tahu bahwa aku sudah kehilangan minat untuk menghancurkannya seperti yang kulakukan pada wanita-wanitamu yang lain. Aku sama sekali tidak ingin menghancurkannya atau membunuhnya. Bahkan, aku ingin dia tetap hidup. Kau tahu kenapa?" Xavier malah balik bertanya.

__ADS_1


Akram menggertakkan gigi. "Karena Elana telah menolakmu. Dan jiwa narsismu yang gila itu, tidak tahan mengalami penolakan sehingga kau ingin memuaskan rasa penasanmu dengan mengejar Elana untuk membuktikan kesombonganmu," simpulnya cepat, dipenuhi kemarahan. Setelah kalimat demi kalimat tersirat yang diucapkan oleh Xavier, Akram akhirnya bisa memahami apa maksudnya.


Xavier tergelak sedikit kagum dengan insting Akram yang tajam. "Hampir tepat. Dan ya, Lana adalah satu-satunya wanita, dari bukan hanya wanitamu saja, tetapi dari seluruh wanita yang pernah kurayu, yang berani menolakku mentah-mentah," Xavier mengucapkan setiap kataya lambat-lambat dan provokatif. "Bahkan, wanita pertamamu yang selalu kau tangisi sampai saat ini, kau pikir dia wanita suci yang memegang teguh perasaannya kepadamu?"


"Hentikan, Xavier!" tangan Akram yang memegang ponselnya mengencang, membuat urat-uratnya muncul di sana. "Jangan coba-coba menggunakan orang yang sudah meninggal untuk keperluan manipulasi licikmu!" bentaknya marah.


"Ah. Tuan Akram Night yang agung rupanya tak mau menerima kenyataan. Sejak dulu aku berusaha mengungkapkan hal ini kepadamu, tetapi kau memilih menutup kedua telingamu, menolak kebenaran dan malahan mengalihkan seluruh beban kesalahannya kepada diriku," Xavier seolah ingin mengganggu Akram. "Aku hanya membunuh orang yang pantas dibunuh, Akram. Jika Anastasia adalah seorang perempuan yang setia kepadamu, dia masih akan hidup hingga sekarang....."


"Aku bilang tutup mulutmu!" Akram merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya ketika serangan trauma mulai datang mendera, menampilkan kilasan demi kilasan mengerikan ekspresi mayat Anastasia yang menggantung dirinya di langit-langit kamar rumah sakit, terpampang di depan mata pagi itu ketika Akram yang sedianya hendak datang membesuk dan malahan berakhir menjadi penemu mayatnya. Ingatan itu masih begitu segar, meskipun tahun-tahun sudah berlalu dan sekuat tenaga Akram berusaha melupakannya.


"Oke. Oke aku tak akan membahas pelacur-pelacurmu di masa lalu. Mereka memang tak pantas dibahas. Mari kita kembali pada perempuan favorit kita, Lana," beruntung Xavier di seberang sana tidak menyadari perubahan suara Akram yang diselipi getaran samar, jjka tidak, lelaki gila itu tidak akan dengan mudah menyetujui untuk menghentikan pembicaraan yang menyiksa Akram tersebut.


Xavier menghela napas panjang seolah dipenuhi oleh antisipasi, sebelum kemudian memberitahukan maksud dan tujuan yang sebenarnya dengan gamblang. "Karena itulah aku menyuntikkan racun itu kepada Lana. Dengan memberikan racun itu, maka aku bisa mencuri waktunya, dua puluh jam selama empat kali setiap tiga hari sekali. Itu sudah cukup bagiku untuk membuat wanita manapun bertekuk lutut di kakiku."


"Kau sudah gila Xavier! Hanya karena ingin mencuri Elana dariku, kau sampai memberikan racun kepadanya. Kau mempertaruhkan nyawa Elana hanya untuk permainan egomu!"


"Ah, aku tidak sedang mempertaruhkan nyawa Lana. Aku tahu tentang racunku, aku memiliki penawarnya dan aku juga mengerti bahwa racunku tidak akan membunuh Lana kecuali kau keras kepala dan memilih harga dirimu yang angkuh sehingga membiarkannya mati," suara Xavier terdengar merendah. "Jika ada yang mempertaruhkan nyawa Lana di sini, maka kaulah orangnya."


"Kalaupun aku membiarkan kau mencuri waktu Elana dariku, kau tidak akan berhasil mengambil hatinya. Elana terlalu pandai untuk jatuh ke dalam pesona palsu orang gila sepertimu." sahut Akram dengan nada menghina yang kental. Dia akhirnya bisa menguasai diri dan mampu menjawab tanpa nada bergetar.


"Berani bertaruh?" Xavier bertanya cepat, ada nada keyakinan yang kental dalam suaranya. "Jangan pernah meremehkan kelembutan hati seorang wanita, Akram. Hati perempuan itu lentur dan penuh maaf. Seorang wanita bisa merubah benci menjadi cinta dalam sekejapan mata, begitupun sebaliknya." Xavier terkekeh. "Mari kita lihat saja nanti, kita bertaruh dengan adil sebagai laki-laki yang memegang teguh janjinya. Kau harus rela melepaskan Elana dengan sportif, kalau perempuan itu ternyata memilih diriku dan jatuh hati kepadaku selama periode yang telah kita tentukan. Apakah sekarang kita sudah sepakat?" tanya Xavier dengan suara menuntut.


Akram tertegun. Akankah dia mengambil resiko dan menerima kesepakatan yang diajukan oleh Xavier? Bersediakah dia menanggun kemungkinan untuk kehilangan Elana di masa depan?


Tapi... apapun itu, bukankah Akram telah bertekad akan mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Elana? Bahkan jika itu berarti Akram harus membebaskan Elana untuk memilih sesuai kata hatinya sekalipun. Bahkan jika itu berarti Akram harus kehilangan Elana karena wanita itu memilih meninggalkannya.


"Baiklah. Kita sepakat. Apapun yang akan terjadi nanti, biarkan hati Elana yang memutuskan dan kita berdua akan menghormati keputusan itu," sahut Akram dengan nada tegas kemudian. "Tapi ingat, Xavier. Jika sampai waktumu habis dan ternyata kau gagal mengambil hati Elana. Perempuan itu kembali menjadi milikku sepenuhnya dan kau harus menjauhkan dirimu darinya. Kalau tidak, aku tidak akan menahan-nahan diriku lagi untuk menghabisimu."


"Setuju. Kapan kau akan membawa Lana kepadaku?" tanya Xavier kemudian dengan nada tak sabar.


***



***


"Kalian akan membawa Elana masuk ke kediaman Xavier esok pagi. Aku akan menugaskan sekelompok bodyguard terbaik untuk menjaga kalian semua," Akram memutuskan untuk meninggalkan Elana sejenak guna memberitahukan perkembangan terbaru itu pada Elios dan Nathan yang masih menunggu di ruang bawah.


Tatapan mata Akram tertuju pada para ahli IT nya yang saat ini berkumpul di satu ruangan untuk melakukan pelacakan digital di bawah koordinasi Elios yang ahli. Berbagai peralatan modern tampak terpasang di semua tempat yang tersedia, digunakan secara optimal untuk meraih tujuan secara maksimal.


"Kalian akan mengenakan penyadap dan juga memakai pengirim pesan khusus yang bisa memberitahukan dengan cepat jika terjadi bahaya. Elios, kau yang mengatur pengkoordinasian secara komunikasi dan teknologi dengan anak buahmu. Esok pagi, aku akan memindai situasi dari sini." perintahnya cepat.


Elios menganggukkan kepala sigap. "Baik, Tuan." jawabnya tegas.


"Kesepakatan seperti apa yang telah kau setujui bersama Xavier, Akram?" Nathan bertanya cemas, tahu bahwa Akram telah berhasil melawan serangan panik yang selalu melandanya ketika lelaki itu harus berinteraksi dengan Xavier.


"Lelaki psikopat gila itu mengincar waktu bersama Elana, karena itulah dia menyuntik Elana dengan racun."


"Waktu?" Nathan dan Elios bertanya hampir bersamaan, tak bisa mencerna makna dari kalimat Akram.


"Ya, hanya Xavier yang cukup gila menyuntikkan racun yang cukup berbahaya dengan tujuan untuk mencuri waktu Elana Dia bertaruh bahwa dia akan berhasil merayu Elana untuk jatuh hati kepadanya selama periode waktu pemberian antidote racun itu." ekspresi Akram berubah gelap. "Karena maksud dan tujuannya itu, aku yakin esok hari Xavier akan berusaha mengambil waktu berduaan saja dengan Elana. Dia akan mengerahkan segala pesonanya untuk merayu Elana. Menurutku, Xavier sudah pasti akan berusaha menyibukkan kalian supaya tidak mengganggunya," Akram mengerutkan kening dalam. "Tapi, biarkan saja Xavier berbuat seperti itu. Hanya awasi dan pastikan saja bahwa Elana tidak sedang berada dalam bahaya."

__ADS_1


"Apakah kau yakin?" Nathan bertanya ragu. Dia tahu bahwa Xavier bisa jadi sangat mempesona kalau dia mau. Elana mungkin saja berbeda dengan wanita-wanita lainnya. Tetapi, jika seorang Xavier Night merayu seorang wanita dengan kekuatan penuh, Nathan yakin hanya wanita berhati baja saja yang akan mampu bertahan.


"Aku yakin. Aku percaya pada Elana," Akram menjawab dalam geraman. Ada setitik kilas keraguan berkelebat di matanya, seolah Akram sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


***



***


Elana merasakan tubuh hangat yang melingkupinya, menariknya dari lelapnya yang memenangkan dan memaksanya untuk mengerjapkan mata, dipenuhi oleh rasa ingin tahu.


Aroma khas cendana bercampur mint yang menyapa indra penciumannya segera setelah kesadarannya kembali, langsung membuat Elana mengetahui siapa sosok yang begitu dekat dengannya, bahkan sebelum dia membuka mata.


"Akram?" tanyanya perlahan, masih dengan kesadaran berkabut, tak yakin apakah situasi yang ada dihadapannya itu mimpi, ataukah kenyataan.


Setelah racun itu masuk ke aliran darahnya, kesadaran Elana seolah datang dan pergi, membuatnya serasa diawang-awang dengan berbagai kelebatan samar memori yang silih berganti, sementara benak Elana tak mampu membedakan mana yang khayalan dan manakah yang benar-benar terjadi.


Meskipun begitu, untuk saat ini, sosok tubuh Akram yang kuat, keras, panas dan melingkupinya terasa begitu nyata, membuat Elana menengadah dan langsung berhadapan dengan mata Akram yang tengah mengawasinya tajam.


"Kau bisa tidur lagi. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang lebih kepadamu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu kepadamu." desis Akram lambat-lambat.


Akram menangkup pipi Elana dan menghadapkan perempuan itu ke arahnya, membuat wajah mereka hampir menempel erat.


"Kau adalah perempuan milikku. Ingat itu baik-baik, Elana. Jangan pernah tergoda untuk menjadi milik lelaki lain selain diriku. Karena, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja kalau itu terjadi. Jika kau lepas dariku, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun dan merantaimu pulang agar kau terikat denganku serta tak bisa lari lagi dariku. Apakah kau mengerti?" tanyanya dengan nada mendesak penuh ancaman.


Elana tidak tahu apa yang menyebabkan Akram tampak begitu posesif saat ini. Tetapi, tak urung dia menganggukkan kepala sebagai jawaban, tahu bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk membantah Akram.


"Bagus," binar mata Akram bersinar puas. Lelaki itu lalu menunduk dan mencium Elana. "Kuharap kau akan selalu mengingatku, bahkan ketika aku sedang tidak ada di sampingmu," desis Akram dengan nada arogan, mengusap tanda itu dengan ibu jarinya.


Lelaki itu kemudian bergerak bangkit dari ranjang, lalu membungkuk untuk mengecup dahi Elana.


"Tidurlah, kau harus beristirahat cukup. Aku berjanji besok akan lebih baik untukmu," ucap Akram tenang sebelum kemudian membalikkan tubuh, hendak melangkah pergi.


"Akram?" suara panggilan lemah Elana membuat Akram membatu. Lelaki itu menolehkan kepala, menatap Elana dengan tajam.


"Ada apa?" tanyanya tak sabar ketika Elana tak juga berbicara


Elana menelan ludah, matanya menatap sosok Akram dengan gugup. Bingung bagaimana cara mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Entah bagaimana, sosok Akram yang menjauh itu menciptakan kekosongan dalam jiwanya.


"Kau... kau akan pergi kemana?" Elana akhirnya berhasil mengeluarkan suara perlahan meskipun masih terbata.


Akram menyeringai, ekspresinya penuh ironi dan seolah sedang menahan nyeri.


"Aku akan mandi. Dengan air yang sangat sangat dingin sehingga bisa meredakan keinginanku. Kalau tidak, aku terpaksa harus menahan sakit sepanjang malam, " jawabnya dengan nada penuh arti yang membuat pipi Elana merah padam.


Elana akhirnya hanya bisa diam tanpa kata, menatap punggung Akram yang menjauh, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


***


__ADS_1


__ADS_2