Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 135 : Penyelamatan


__ADS_3


 


Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.


Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


 


***



***



***



***



***


Tanpa merasa ketakutan sama sekali terhadap ancaman Akram, Maya malahan kembali tertawa terbahak-bahak, kepalanya mendongak ke udara sementara suara tawanya berkumandang dan berbaur dengan tiupan angin kencang.


Ketika matanya kemudian bertemu dengan tatapan mata Akram, kegilaan tampak jelas di sana, menunjukkan bahwa Maya sudah kepalang basah dan memutuskan untuk berbuat nekat.


“Aku tidak takut kalau kau menembak kepalaku,” dengan suara lambat-lambat bercampur tawa, Maya menyerukan ketakutan yang menghantui jiwa Akram. “Begitu kau menembakku, aku akan mendorong wanita jalangmu ini supaya jatuh, dan kau, seorang Akram Night yang sombong dan arogan, tak akan bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Kau sudah terlambat, kemenanganku sudah tiba. Aku akan membalas dendam meskipun aku harus kehilangan nyawaku! Itu semua sepadan! Itu semua sepadan!” Maya menjerit keras, meluapkan perasaan marah dan bencinya yang mengerikan.


Lalu tiba-tiba, tanpa diduga, rasa sakit dan nyeri hebat akibat serangan cacar api yang mendera tubuhnya tiba-tiba datang, berdenyut kuat dan membuat sekujur tubuhnya sakit tanpa bisa ditahan, dan hal itu membuat Maya lengah, perempuan itu mengaduh kesakitan, sedikit kehilangan fokusnya dan melonggarkan cengkeramannya pada tubuh Elana.


Kemudian, entah darimana, Xavier yang tiba-tiba saja sudah berada di sisi dekat balkon itu, datang menyerbu. Lelaki itu memanfaatkan titik kelemahan Maya yang sudah ditunggunya sejak tadi, lalu merenggut tangan Maya dan melepaskan cengkeramannya dari leher Elana sebelum perempuan itu bisa berbuat apa-apa.


Seketika saat tubuh Elana terlepaskan dari cengkeraman Maya, Xavier dengan cepat dan terpaksa, mendorong tubuh Elana hingga terjatuh maju dan terjerembab di ambang jendela kaca besar di balkon tersebut.


“Akram!” Xavier berteriak kepada Akram, membuat Akram yang sempat tertegun oleh aksi secepat kilat yang dilakukan oleh kakak angkatnya itu langsung tersadarkan dan dirinya seketika merangsek maju, meraup tubuh Elana ke dalam pelukannya, mengangkatnya lalu menggendongnya erat dan membawanya masuk ke dalam ruangan kamar, terlindung di lingkupan lengannya dan lepas dari ancaman Maya.


Maya yang menyadari bahwa mangsanya telah lepas menjadi histeris. Seluruh tubuhnya terasa sakit tak terkendali dan kemenangan sombong yang tadi sudah terggenggam nyata di tangannya, tiba-tiba saja lepas dan terenggut paksa tanpa dia bisa melawannya. Dia menjerit seperti orang gila, berteriak memecah malam dan menyerang orang yang dia anggap bertanggung jawab atas kekalahannya.


Tubuh Maya menghambur cepat, kehilangan kewarasan dan hanya hasrat untuk menancapkan pisau ke tubuh lawannya yang mendera logikanya. Dan sebelum Xavier sempat bergerak setelah dia berhasil mendorong Elana ke dalam ruangan dan menyerahkannya ke dalam perlindungan Akram, dengan gerakan secepat kilat Maya terlebih dahulu telah berhasil menembuskan pisau itu ke punggung Xavier, menancapkannya dalam hingga hanya tersisa gagang pisau itu saja di dada Xavier.


“Mati saja kau!” Maya berseru dengan sikap puas ketika melihat darah mengucur dari pisau yang ditancapkannya ke punggung Xavier.


Ternyata rasanya sepuas ini bisa melihat musuhnya mengucurkan darah. Tahu begitu, sudah sejak tadi dia tusukkan saja pisau itu ke perut Elana dan menikmati kepuasan melihat darah itu mengucur. Rasa takut Maya membuat langkahnya tertahan dan dia malahan membuat kesalahan dengan repot-repot menyeret Elana ke balkon yang berujung pada kegagalan. Penyesalan memenuhi benak Maya, membuatnya merasakan kemarahan nyata yang tak terkira.


Masih belum terlambat, dia masih bisa menyerang Elana!


Pikiran gila Maya mendorong tubuhnya merangsek maju, hendak menghambur memasuki kamar lagi untuk menyerang Elana kembali. Tetapi, tanpa diduga, Xavier yang tengah menahan sakit, ternyata masih memiliki kekuatan untuk menahan tubuh Maya, menariknya kuat, menahan rontaan dan jeritannya yang tak terkendali, lalu pada akhirnya, mengakhiri pergulatan mereka berdua dengan satu dorongan kuat yang membuat pinjakan Maya terlepas dari balkon itu dan tubuhnya melayang di udara.


Mata Maya membelalak ketika merasakan daya gravitasi mulai menyedot tubuhnya jatuh ke bawah. Dia tahu bahwa dengan cepat, ajalnya akan datang menyambutnya.


Semuanya gagal, balas dendamnya gagal, dan malahan dia yang terkalahkan di sini!

__ADS_1


“Tidak! Tidak! Tidaaak!”


Suara jeritan Maya masih terdengar ketika tubuhnya merosot jatuh, lalu hilang dari pandangan seiring dengan suara jeritannya yang juga berubah samar ketika tubuh Maya akhirnya terbanting jatuh di lantai bawah rumah sakit dan terbaring berantakan penuh darah di bawah sana


.Xavier sempat melihat ke bawah, memastikan kematian Maya yang mengenaskan di sana, sebelum kemudian pandangan matanya terasa buram dan gelap, lalu tubuhnya jatuh ke bawah, oleng kehilangan kesadaran.


 


***



***


“Luka tusuknya sangat dalam, dari punggung dan menusuk hingga hampir mencapai sisi depan tubuhnya. Pisau itu, berukuran kecil dan sangat tajam hingga bisa menyebabkan luka tusuk sedalam ini. Tetapi beruntung pisau itu tidak menusuk jantung dan area vital lainnya sehingga Xavier tidak berada dalam kondisi kritis saat ini.”


Nathan membaca hasil laporan pemeriksaan di tangannya sebelum kemudian mengangkat kepala untuk menatap ke arah Akram dan Elana yang duduk dengan rapat di sofa yang berada di depan ruang perawatan Xavier.


Seluruh insiden itu dibereskan dengan cepat sehingga tidak menarik perhatian. Hasil penyelidikan polisi menyatakan bahwa Maya adalah pelaku bunuh diri dan Akram telah melakukan tugasnya dengan baik sehingga tidak ada satupun orang yang bisa menghubungkan antara kematian Maya dengan keberadaan Xavier di rumah sakit tersebut.


Dan juga, sama sekali tak ada yang menghubungkan juga dengan Akram dan Elana.


Penanganan terhadap Xavier disembunyikan dengan rapat sehingga tak terendus oleh pihak berwajib yang menangani kasus bunuh diri Maya. Xavier dirawat di ruang khusus yang tak terbuka untuk umum, terisolasi dan dijaga beberapa lapis oleh pasukan Akram sehingga untuk kali ini, sama sekali tak tertembus.


Dokter yang menangani Xavier pun merupakan dokter kepercayaan yang tak mungkin berani membuka mulut menyangkut permasalahan ini.


Operasi darurat langsung dilakukan atas tubuh Xavier begitu insiden ini diselesaikan, dan saat ini, Xavier sendiri masih belum terbangun dari efek bius sehabis operasinya.


Saat ini, dokter Nathan telah menjelaskan kondisi terkini Xavier setelah menjalani prosedur operasi dengan Akram dan Elana yang mendengarkan dengan saksam. Tampak di belakang mereka, Elios juga duduk dan mendengarkan. Lelaki itu telah melakukan tugasnya untuk menghapuskan semua bukti dan jejak yang mungkin menghubungkan antara mereka dengan kematian Maya, lalu menunggu di sana untuk berbicara dengan Akram setelah ini.


“Apakah…. Apakah Xavier akan baik-baik saja, nantinya?” dengan penuh kecemasan Elana bertanya.


Akram sepertinya mengerti apa yang berkecamuk di dalam benak Elana. Lelaki itu memeluk Elana semakin erat ke dalam rangkulannya dan menggenggam tangannya untuk berbagi kekuatan dengannya.


“Xavier akan sadar segera setelah efek bius operasinya habis. Dia akan kesakitan selama beberapa hari, dan membutuhkan waktu panjang untuk proses penyembuhannya. Tetapi, dia masih muda, aku yakin dia akan sembuh dengan cepat,” melihat kecemasan Elana, Nathan merasa tak tega dan berusaha untuk menenangkan. “Jangan khawatir, Elana. Xavier berada di bawah penanganan yang tepat, dia akan sembuh dengan segera.”


Mata Elana berkaca-kaca menahan tangis. Dia memandang ke tiga orang laki-laki yang ada di depannya ini, tiga laki-laki yang selama ini memandang Xavier sebagai musuh, dan Elana langsung menyadari bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk mengatakan kebenaran tentang Xavier kepada semuanya.


Setidaknya, Elana ingin membalas budi kepada Xavier, dia ingin menjernihkan semua pandnagan penuh dendam dan kebencian yang diarahkan kepada Xavier, saat lelaki itu disalahartikan karena tindakannya yang memang menimbulkan salah arti.


Akram mungkin tak mau mendengarkan perkatan positif apapun tentang Xavier di masa lampau, tetapi sekarang, setelah Xavier mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Elana, sudah pasti Akram mau melembutkan hati untuk mendengarkan Elana. Dan Elana akan menggunakan kesempatan ini semaksimal mungkin serta tak akan menyia-nyiakannya.


“Kalian… kalian semua telah salah paham kepada Xavier…” Elana berucap dengan suara terbata, air matanya menetes mengalir di pipi, membuat pandangan semua orang di ruangan itu terarah kepadanya.


Elana pun tak menahan-nahan diri lagi. Dia mengambil semua kesempatan itu sepenuhnya, menjelaskan segamblang-gamblangnya, meluncurkan kalima demi kalimat pengetahuan itu dari bibirnya. Tentang alasan Xavier merenggut mainan dan juga hewan peliharaan Akram, bagaimana Xavier ternyata begitu ingin menghabiskan waktunya bersama Akram dan cemburu karena Akram mengabaikannya dan sibuk dengan mainannya sendiri, bagaimana Xavier mengawasi ketika hewan peliharaan Akram itu menyerangnya, dan memutuskan untuk membalaskan dendam Akram dengan caranya sendiri.


Dan bagian yang paling penting adalah tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Anastasia, kekasih pertama Akram yang ternyata telah menyerahkan tubuhnya kepada Xavier sambil tetap menjalankan niatnya untuk memiliki Akram. Bagaimana Anastasia telah mengupayakan cara untuk memanipulasi Akram supaya menikahinya dan keinginan Anastasia untuk mencengkeram Akram di bawah kuasanya demi mengincar hartanya. Pun dengan hukuman kejam yang diberikan oleh Xavier kepada Anastasia berikutnya.


Elana juga menjelaskan, bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Xavier terhadap orang-orang terdekat Akram itu, dijalankan oleh Xavier setelah memberikan ujian kesetiaan kepada orang-orang tersebut. Mereka yang setia kepada Akram akan dibiarkan hidup seperti dokter Nathan dan Elios, dan mereka yang tak setia akan dihabisi seketika.


Pada intinya, Elana memberitahukan kepada semua orang yang mendengarkan di ruangan itu, bahwa alasan tindakan Xavier selama ini yang memang terkesan gila dan kejam,itu semua, semata-mata karena Xavier terlalu mencintai Akram sebagai adiknya.


Keheningan pun membentang di ruangan itu, setelah Elana menyelesaikan menumpahkan segala yang dia ketahui mengenai Xavier. Tiga laki-laki di sana, mencerna seluruh informasi dengan caranya masing-masing, termasuk juga Akram yang memilih untuk tidak mengatakan apapun setelahnya.


***



***

__ADS_1


Ketika Xavier membuka mata, tatapannya langsung bertemu dengan mata hazel Akram yang mengawasinya tajam.


Segera setelah membawa Elana ke ruang perawatannya yang baru dan menunggui sampai Elana tertidur pulas karena kelelahan terhadap segala insiden yang terjadi sebelumnya, Akram memutuskan untuk memasuki ruangan tempat Xavier dirawat yang tak jauh dari tempat Elana berada.


Ketika memasuki ruangan perawatan yang hening itu, Akram langsungt menyeret kursi mendekat ke tepi ranjang Xavier dan duduk dalam keheningan mengawasi Xavier yang masih belum sadarkan diri di sana.


Akram duduk, tak bersuara, mengawasi Xavier sementara semua hal yang dijelaskan oleh Elana kepadanya, bergolak di dalam kepalanya, berputar-putar dan membuat perasannya campur aduk dengan emosi yang tak bisa dijelaskannya.


Kenyataan bertolak belakang yang telah dijelaskan oleh Elana itu, membuat cara Akram memandang Xavier saat ini berubah seketika. Dia selalu melihat Xavier dari sisi negatif sepanjang hidupnya, karena itulah, rasa benci dan antipatinya semakin bertumbuh besar seiring dengan berjalannya waktu.


Tetapi sekarang, ketika Akram melembutkan hati dan berusaha melihat segala sesuatunya dari sisi positif, barulah Akram menyadari bahwa begitu banyak hal baik yang telah dilakukan Xavier untuk membantunya, meskipun kakak angkatnya yang aneh ini tetap menyamarkannya dengan selubung sikap jahat.


Akram sudah tentu masih membutuhkan waktu untuk mencerna semua dan meyakininya. Mengenai pengkhianatan Anastasia pun… semua itu membolak-balikkan apa yang telah dipercayainya selama ini, dan membuat titik pandang Akram juga ikut dibalikkan seketika.


Dan Akram terus menunggu entah berapa lama dalam keheningan di ruang perawatan itu, sampai akhirnya Xavier membuka mata dan langsung menatapnya.


Xavier langsung menyeringai ketika mendapati bahwa Akram adalah orang pertama yang dilihatnya ketika matanya terbuka.


“Kenapa aku harus melihatmu ketika bangun? Apakah aku sudah ada di neraka?” erangnya setengah bercanda setengah memprotes. Xavier mencoba bergerak, tetapi gerakannya langsung terhenti ketika rasa sakit yang tajam menusuknya dalam.


Akram menipiskan bibir dengan senyuman masam.“Sayangnya, kau masih belum mati. Jadi keinginanmu untuk masuk neraka belum tercapai,” jawab Akram sekenanya.


Seringaian Xavier semakin lebar ketika lelaki itu terbahak mendengarkan sahutan Akram. Dia hendak tertawa terkekeh, tetapi lagi-lagi terhenti karena dadanya terasa sangat sakit.


“Jangan bergerak dulu. Luka tusukan di dadamu sudah dioperasi dan dijahit, jadi kau tak bisa dan tak boleh bergerak selama beberapa saat,” ucap Akram dengan nada datar.


Xavier tersenyum. “Kalau aku tak berdaya seperti ini, kau bisa di atas angin, eh? Aku tak akan bisa berbuat apa-apa untuk melawanmu kalau kau hendak menyerangku saat ini.”


“Aku tak akan menyerangmu,” sanggah Akram cepat, ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan.


Xavier mengangkat alis. “Kau selalu ingin menyerangku. Kenapa sekarang tidak kau lakukan? Apakah karena aku telah terluka karena menyelamatkan Elana lalu kau berusaha melonggarkan kebencianmu kepadaku?” tanya Xavier kemudian dengan nada penuh ironi. “Karena jika kau memaksakan bersikap baik kepadaku hanya karena merasa berhutang budi, maka aku tak akan menerimanya. Aku lebih senang kalau kita saling membenci….”


“Elana sudah menceritakan semuanya kepadaku,” Akram menyela mulut Xavier yang terus mencerocos tanpa henti itu. Ternyata, menderita sakit parah pun tak menghalangi mulut Xavier untuk terus berbicara dengan nada mengganggu terhadap Akram.


Apapun yang hendak dikatakan oleh Xavier seolah terhenti di udara. Lelaki itu mengerutkan kening, menatap Akram dengan waspada.


“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada berhati-hati. Seringaian dan senyumnya hilang sudah, berganti dengan keseriusan yang nyata.


Akram menyipitkan mata. “Elana sudah mengatakan semua kepadaku, dan meskipun itu terasa tidak mungkin ketika melihatmu saat ini, tetapi aku mempercayainya,” ucap Akram dengan nada tegas.


Mata Xavier melebar. “Kau mempercayai apa?” rona merah karena malu selintas muncul di tulang pipi Xavier yang tinggi, apalagi saat ini permukaan kulit wajah lelaki itu pucat pasi karena sehabis operasi. Tetapi dengan cepat, Xavier menutupi perasaannya dan memasang ekspresi datar di wajahnya.


“Tak perlu membuatku menjelaskan dengan gamblang karena itu akan membuat kita berdua merasa malu. Yang pasti, kau dan aku sama-sama tahu apa yang telah dijelaskan oleh Elana kepadaku,” Akram menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk melembutkan hati seperti yang di mohonkan oleh Elana kepadanya. “Aku mungkin butuh waktu untuk mencerna semuanya. Tetapi, jika kau memang memiliki niat baik, aku akan menghapuskan semua pikiran burukku terhadapmu, dan menerimamu sebagai keluargaku, Xavier,” putusnya perlahan, menawarkan kompromi terbaik yang bisa dilakukannya.


Xavier tak mengatakan apapun menanggapi perkataan Akram, lelaki itu hanya menggumamkan kalimat yang mengatakan bahwa dia akan memikirkan tawaran kompromi Akram itu, lalu berkata bahwa dirinya lelah dan ingin beristirahat.


Yang tidak diketahui Akram ketika lelaki itu beranjak meninggalkan ruangan adalah bahwa Xavier meneteskan air mata dari sudut matanya sepeninggal Akram. Air mata kelegaan dan kebahagiaan tak tertahankan karena akhirnya, dengan bantuan Elana, Xavier bisa merangkul Akram kembali sebagai keluarganya.


***



***




__ADS_1



__ADS_2