
"The world consisted of predators and prey. You were either hunting or running."
Di dalam toilet itu, ada seorang laki-laki, tubuhnya tinggi mengenakan kemeja putih yang tampaknya dijahit khusus untuk ukuran tubuhnya karena menempel dengan begitu pas dibadannya. Celananya berwarna abu-abu gelap, tampak indah membungkus kakinya yang panjang. Sementara itu, jasnya yang berwarna serupa, telah dilepas dan diletakkan begitu saja di atas wastafel.
Tetapi bukan penampilan lelaki itu yang membuat Elana terkesiap, melainkan apa yang dilakukan oleh lelaki itu.
Lelaki itu tidak sedang sendirian, di tangannya yang kuat di balik lengan kemejanya yang digulung, ada sosok lelaki lain dalam cengkeramannya yang tampak kepayahan setengah mati. Wajah lelaki malang itu tampak penuh lebam di bagian mata yang sudah begitu sembab untuk dibuka, sementara hidungnya mengalirkan darah segar, belum lagi dengan bibirnya yang memar dan pecah, menampilkan darah serupa yang membuat penampilannya sangat menyedihkan.
Tetapi, sepertinya lelaki bertubuh tinggi yang tengah menghajar lawannya itu tidak sebaik hati itu untuk memberi ampun korbannya yang sudah kepayahan. Kepalan tangannya yang kuat bergerak lagi, meninju wajah lawannya dengan keras tanpa belas kasihan, hingga terdengar suara berderak entah gigi patah atau rahang patah yang disambung dengan darah segar yang langsung membanjiri mulut lelaki malang tersebut.
Lelaki malang itu langsung kehilangan kesadaran setelah pukulan telak kejam yang ditimpakan kepadanya, tubuhnya lunglai tanpa daya, dan langsung dibuang dengan kejam ke lantai toilet tanpa belas kasihan.
Suara Elana yang terkesiap membuat lelaki kejam itu menolehkan kepala, mengalihkan perhatian dari korbannya yang sudah tak berdaya dan mengarahkannya pada Elana.
Mata Elana membesar, sementara dirinya masih berdiri terpaku di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Dorongan di pikiran rasionalnya meneriakinya untuk lari, tetapi tubuhnya yang terlalu didera ketakutan membuatnya tak mampu bergerak, terpaku di sana bagai rusa kecil yang ketakutan dibawah intaian singa yang kelaparan.
Tatapan tajam dari mata hazel bening itu membuat Elana terlalu terintimidasi untuk mengagumi ketampanan lelaki itu yang luar biasa. Elana merasakan jantungnya berdebar keras ketakutan, mengutuki dirinya sendiri yang muncul di saat tidak tepat, sekaligus merasa ngeri kalau-kalau dirinya akan berakhir seperti lelaki malang yang sekarang terbaring tak sadarkan diri di lantai tersebut.
Lelaki bermata hazel itu tiba-tiba menyeringai. Matanya telah selesai memindai keseluruhan penampilan Elana, dan menyadari bahwa perempuan itu hanyalah pion kecil dari golongan lemah yang tidak pantas untuk mendapatkan perhatiannya.
"Kau tidak akan membuka mulutmu pada siapapun, bukan, kucing mungil?" Lelaki bermata hazel itu tiba-tiba berucap. Suaranya sama mengintimidasinya dengan tatapan tajamnya, membuat Elana semakin ketakutan.
Dia langsung menggelengkan kepala, memberanikan diri meskipun seluruh tubuhnya gemetaran setengah mati.
"Saya... akan menutup mulut...." Elana menatap korban lelaki bermata hazel itu dan mengerutkan kening melihat darah memercik kemana-mana dari tubuh lelaki itu. Matanya mengawasi dengan seksama dan sepercik kelegaan muncul di jiwanya ketika melihat bahwa dada lelaki malang itu masih naik turun karena bernapas.
Setidaknya dia tidak sesial itu menjadi saksi pembunuhan keji di hari pertamanya bekerja.
Tetapi, noda darah termasuk sulit dibersihkan. Noda darah ebih mudah dibersihkan di lantai keramik yang basah, tetapi akan sulit jika sampai noda darah yang terpercik di dinding putih bersih itu sampai mengering. Dipenuhi pemikiran itu, Elana akhirnya memberanikan diri untuk kembali menatap kembali ke arah lelaki bermata hazel tersebut.
Lelaki ini sudah puas menghajar musuhnya sampai kehilangan kesadaran. Seharusnya dia sudah puas dan tidak akan bertahan di sini untuk memukuli korbannya sampai mati, kan?
"Apa... apakah Anda sudah selesai?" suara Elana bergetar ketika bertanya, "Karena saya... karena saya harus membersihkan itu," dagu Elana mengedik ke arah noda darah yang berceceran di lantai. Sachi sudah memperingatkannya bahwa para pengunjung yang mabuk biasanya terprovokasi satu sama lain sehingga bisa saling memukul dan melukai dalam pertengkaran berdarah, dan Elana memutuskan untuk mengabaikan itu semua, hanya fokus pada tugasnya sebagai pembersih.
Para tamu di tempat ini adalah raja, mereka boleh muntah, tidak menyiram toilet mereka, membuang sampah atau bahkan saling mengucurkan darah, dan Elana hanya harus membersihkannya sampai bersih, dia harus menjalankan pekerjaannya tanpa terdistraksi karena penilaian apakah dia bisa diangkat menjadi pegawai tetap di tempat ini, bergantung pada hasil pekerjaannya malam ini.
Lelaki bermata hazel itu mengangkat alis, seolah tak menduga bahwa bukannya berlari dan menjerit-jerit histeris, Elana malah menanyakan sesuatu yang saman sekali berbeda.
Tetapi, lelaki bermata hazel itu memutuskan untuk menanggapi Elana dengan tenang, dia menganggukkan kepala.
"Anak buahku akan membereskan tubuhnya. Kau tunggulah di sini dan bereskan sisanya," lelaki bermata hazel itu membalikkan tubuh, lalu menyalakan keran air di wastafel marmer hitam di depannya dan mulai mencuci tangannya yang penuh darah.
__ADS_1
Akram tidak pernah menemukan sosok menarik seperti gadis pembersih toilet itu sebelumnya. Gadis itu jelas-jelas ketakutan melihat peristiwa berdarah-darah di depan matanya, tetapi alih-alih pergi, dia memilih tetap tinggal dan bersikeras terus melakukan pekerjaannya.
Mata Akram melirik ke arah kaca besar di depannya, mengawasi gadis pembersih toilet yang tampak salah tingkah, berdiri di sana dengan kepala tertunduk dan menuruti perintah Akram untuk menunggu dengan canggung.
Seragam cleaning service yang digunakan oleh gadis itu tampak kebesaran, seolah-olah bukan dibuat untuknya, dan tubuh kurus gadis itu tampak tenggelam di baliknya. Tetapi, mata Akram yang awas tidak bisa melupakan mata gelap lebar yang bening di wajah gadis itu, berpadu dengan indahnya di dalam sebingkai wajah mungil berdagu lancip dengan anak-anak rambut di pelipisnya yang lepas dari ikatan kuncir kudanya.
Akram sudah pernah bercinta dengan banyak perempuan, kesemuanya berasal dari kelas atas, aktris terkenal, model-model paling cantik, dan perempuan bangsawan sepertinya yang menghabiskan seluruh waktu mereka untuk fokus memoles keindahan tubuh mereka. Perempuan-perempuan yang melayaninya sebelumnya selalu sempurna, tiada cela, dan dibalut pakaian kelas tinggi berpadu dengan perhiasan luar biasa mahal yang melengkapi.
Tetapi gadis yang ada di depannya ini terasa berbeda, rambutnya acak-acakan dan keringat tampak membasahi pelipisnya, menunjukkan bahwa gadis itu telah bekerja keras beberapa jam sebelumnya. Pipi gadis itu juga sedikit memerah, dan bibirnya yang mungil yang bergetar ketika berbicara dengan Akram terasa begitu menggoda hingga hampir saja Akram tak bisa menahan diri dari dorongan untuk mencengkeram dagu gadis itu, mendongakkan bibirnya ke arahnya, lalu melumat bibir itu dengan penuh nafsu untuk dicium habis-habisan.
Akram mengambil air dari keran dan menggunakannya untuk membasahi wajahnya. Pikirannya harus didinginkan segera. Dia tidak mungkin bernafsu pada gadis pembersih toilet yang tampaknya masih polos dan tidak tahu caranya memoles diri.
Sebuah gerakan di pintu masuk membuat Akram memberi isyarat dengan tangannya. Beberapa anak buahnya, yang datang menggunakan setelan jas hitam lengkap, masuk dengan segera, membuat gadis pembersih toilet itu terdorong menyingkir untuk memberi jalan.
"Bawa tubuhnya, buang ke jalan. Orang-orang akan menemukannya esok pagi dan menolongnya. Menahan kesakitan semalaman kurasa akan menjadi hukuman yang cukup untuknya." Akram berucap dengan suara tegas. Dan tanpa kata, para anak buahnya langsung melakukan apa yang diperintahkan, mereka bergegas mengangkat tubuh tak berdaya itu dan menggotongnya keluar ruangan.
Dan tinggalah Akram bersama gadis pembersih toilet yang masih berdiri menunggu di sana.
Akram membalikkan badan, dan matanya kembali terperangkap memindai keseluruhan diri gadis itu.
Gadis itu membungkukkan tubuh seolah memberi hormat, lalu berucap dengan sopan.
"Baik, tuan," ujarnya dengan nada penuh hormat sebelum kemudian langsung bergerak, berlutut di lantai dan langsung menyiram noda darah itu dengan cairan pembersih, lalu mengusapnya dengan lap basah tanpa merasa jijik.
Akram melipat tangannya di dada, lama berdiam dalam keheningan sambil mengamati betapa cekatannya gadis itu bekerja.
"Siapa namamu?" tiba-tiba Akram bertanya, memecah keheningan.
Tubuh gadis itu hampir terlonjak ketika mendengar suaranya, seolah-olah dia terlalu fokus bekerja hingga tidak menyadari bahwa Akram masih berdiri di sana. Kepalanya terdongak, menatap Akram dengan bibir terbuka yang membuat Akram harus menggertakkan gigi supaya tidak langsung menyergap gadis itu seperti serigala lapar.
"An... anda tidak perlu tahu nama orang rendahan seperti saya, Tuan," dengan suara bergetar, gadis itu menjawab.
Sekali lagi Akram mengangkat alis. Tidak menyangka bahwa gadis itu akan berani menolak menjawab pertanyaannya. Jika gadis itu tahu dengan siapa dia berhadapan sekarang, mungkin dia akan membungkuk mencium sepatunya dan memohon pengampunan untuk nyawanya.
Tetapi, Akram tahu bahwa sekarang bukan saatnya. Dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, akan sangat mudah memburu dan mendapatkan identitas seorang gadis tak bernama sekali pun. Dan Akram bahkan sudah mematri wajah gadis itu dalam ingatannya. Dia akan mengurusnya perihal gadis ini nanti, setelah dia menyelesaikan urusannya yang tertunda di tempat ini.
"Menolak memberikan nama, eh?" Akram menegakkan punggung, lalu melangkah mendekat ke arah gadis pembersih toilet itu yang masih berlutut di lantai, menyadari betapa tubuh gadis itu gemetaran ketakutan seiring dengan langkahnya yang semakin dekat. Akram lalu berhenti tepat di depan gadis itu, dekat sekali hingga sepatunya hampir menyentuh lutut gadis itu.
"Aku akan tetap menemukanmu meskipun kau memilih merahasiakan namamu, kucing mungil," Akram mengucapkan janji berbalut ancaman, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan toilet itu, sengaja memberikan waktu pada buruannya untuk mempersiapkan diri lari sekencang mungkin sebelum nanti diburu habis-habisan olehnya.
__ADS_1
Ketika memasuki mobil dan meninggalkan kelab malam itu, Akram bersedekap dan menatap tajam ke depan. Supirnya mengendarai mobil dengan hati-hati, menembus jalanan yang masih ramai padahal dini hari sudah hampir habis berganti pagi.
Ponselnya berbunyi, dan Akram melihat nama Elios, asisten pribadinya di layarnya. Diangkatnya telepon itu, bersuara dengan nada dingin.
"Bagaimana?" tanyanya singkat.
"Sudah dibereskan, tuan," Elios menjawab dengan kalimat bersayap tanpa perlu menjelaskan semuanya. Tetapi, Akram tahu maksudnya, pengkhianat yang dihajarnya tadi sudah dibereskan.
Pengkhianat itu masuk sebagai orang keuangan di salah satu perusahaan intinya, meniti karir dengan hati-hati dan pernuh prestasi sehingga bagian personalia yang menilai performa baiknya memutuskan untuk mempromosikan kedudukannya naik, ke posisi keuangan yang lebih inti dan memegang data-data yang lebih rahasia pula. Sayangnya, godaan uang besar yang didapat dengan mudah membuat pengkhianat itu gelap mata, diam-diam, dia menjual data-data keuangan, rencana-rencana penawaran tender dan segala hal krusial lainnya kepada pihak saingan bisnis, membuat perusahaannya kehilangan keuntungan sangat besar.
Uang mungkin perkara kecil bagi Akram, begitu dia kehilangan uang, dia bisa mendapatkan penggantinya dengan mudah dalam waktu cepat. Tetapi, bukan masalah uang yang membuat Akram turun langsung untuk memberi pelajaran pada pengkhianat itu dengan tangannya sendiri.
Semua itu karena Akram tidak suka dikhianati.
Ya. Pengkhianat akan mendapatkan hukuman paling keji dari Akram. Siapapun yang bekerja untuknya, harus bersedia setia dalam darah dan hati, kalau tidak mereka harus mati. Malam ini Akram sedang tidak enak hati dan kebetulan ada pengkhianat itu yang bisa menjadi pelampiasannya. Elios sudah menjalankan tugasnya dengan baik membuang tubuh pengkhianat yang babak belur itu ke tempat sepi dan tak terjangkau. Mungkin saat ini dia sedang meregang nyawa menuju kematian sebelum ada orang yang bisa menolongnya. Dibiarkan kesakitan dan sekarat sendirian tanpa harapan merupakan hukuman yang pantas diberikannya pada pengkhianat itu. Hukuman yang diberikan oleh Akram itu jelas lebih menyiksa daripada kematian cepat tanpa rasa sakit.
"Tuan Akram," suara Elios di seberang sana membuat Akram lepas dari pikiran yang bergolak di kepalanya.
"Ya?"
"Nona Gabriella baru pulang dari Paris sore ini, dia mengontak saya untuk menginformasikan dirinya tersedia untuk Anda." Gabriela yang disebut oleh Elios adalah seorang aktris dan model terkenal yang sangat cantik, karirnya cukup mendunia dengan diundang menghariri pekan mode nomor satu di paris, dan dia adalah salah satu wanita yang berlutut di bawah kaki Akram dan sangat memuja Akram. Perempuan itu selalu mencari kesempatan untuk merangkak naik ke atas ranjangnya, dan Akram menerimanya dengan tangan terbuka. Lelaki mana yang akan menolak santapan mahal yang menyediakan diri untuknya? "Apakah Anda ingin memesan kehadiran Nona Gabriella untuk malam nanti?" sambung Elios lagi bertanya.
Akram merenung sejenak. Berkelebat di benaknya sosok Gabriella yang luar biasa cantik, tubuhnya tinggi semampai dengan kaki jenjang yang merupakan aset pentingnya sebagai seorang model, pinggangnya ramping tetapi pinggulnya berlekuk menggiurkan, dengan payudara yang pas di genggaman tangannya. Itu semua masih ditambah dengan wajah Gabriella yang memiliki keturunan Yordania yang membuatnya memiliki pesona eksotis yang memesona, membuatnya pantas berada di dalam barisan wanita-wanita yang pernah naik ke atas ranjang Akram.
Sayangnya, seluruh kelebihan Gabriella itu, terasa tidak menarik di mata Akram malam ini. Yang memenuhi benaknya cuma satu. Seorang perempuan bertubuh kurus, dengan wajah polos tanpa pulasan make up sama sekali, menatapnya seperti kucing mungil yang ketakutan.
"Tidak. Aku tidak butuh Gabriella malam ini," jawab Akram singkat.
"Baik, Tuan. Saya akan menginformasikan pada manajer Nona Gabriella." jeda sejenak sebelum Elios bertanya lagi. "Apakah Tuan ada permintaan lain?" tanyanya kemudian.
"Ya. Aku ingin kau mengumpulkan seluruh informasi tentang seorang perempuan seterperinci mungkin."
__ADS_1