Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 93: Menderita Bersama


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


"Xavier?"


Suara Sera membuat Xavier terlepas dari lamunannya yang memusingkan. Lelaki itu menatap Sera kembali, lalu memasang senyum untuk menutupi kekalutannya.


"Ah, maafkan aku, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Dengan cepat Xavier membuka tutup dari krim itu dan mengendusnya untuk mengalihkan perhatian Sera. Tidak ada bau apa-apa, hanya ada aroma musk manis dari kelapa dan vanila yang cukup lembut. "Krim ini dari kelapa?" tebaknya kemudian.


Sera menganggukkan kepalanya. "Ya, kata dokter Nathan, seluruh bahan utama dari krim itu adalah bahan alami, jadi kau tak perlu khawatir. Dokter Nathan bilang tentang minyak kelapa, minyak mustard, vanila dan garam epsom."


"Ah, Magnesium sulfat." Xavier menganggukkan kepalanya sedikit, menunjukkan persetujuannya. "Garam epsom memiliki kemampuan sebagai anti inflamasi dan meredakan pembengkakan, itu bisa juga meredakan nyeri karena kaki bengkak akibat kehamilanmu. Ingatkan aku untuk membawakan garam epsom dalam bentuk buliran kristal untukmu nanti, kau juga bisa mandi atau merendam kakimu dengan campuran air dan garam epsom untuk merilekskan seluruh pegal, nyeri sendi dan inflamasi di tubuhmu." Xavier mengambil sejumput krim itu lalu mengoleskannya ke pergelangan kaki Sera. "Biarkan aku mengaplikasikannya untukmu," sambungnya kemudian.


"T-tidak perlu Xavier. Kurasa kau kelihatan sedikit lelah malam ini. Bagaimana kalau kau beristrahat saja? A-aku bisa mengaplikasikannya sendiri...."


"Mengaplikasikannya sendiri?" Xavier mengerutkan keningnya, menatap Sera dengan pandangan mencela. "Dengan perutmu yang besar itu, kau bahkan tidak bisa melihat kakimu dari sudut pandangmu, bukan?" Senyum Xavier melebar, penuh dengan rasa sayang. "Kalau begitu, bagaimana kau bisa membungkuk dan meraih pergelangan kakimu sendiri untuk mengoleskan krim ini?"


Pertanyaan retoris Xavier itu membuat pipi Sera memerah karena malu. Dia tahu apa yang dikatakan oleh Xavier benar adanya dan dia telah bersikap konyol dengan bersikeras ingin mengaplikasikan krim itu sendiri ke kakinya. Bahkan dokter Nathan saja telah berpesan bahwa Sera harus mendapatkan bantuan orang lain untuk mengaplikasikan krim itu ke kakinya. Akan tetapi, Xavier terlihat muram dan banyak pikiran saat ini dan Sera benar-benar tidak ingin membuat Xavier lebih lelah daripada yang seharusnya.


"A-aku benar-benar tidak apa-apa. Atau lebih baik kita tidur saja dulu, besok kita bisa mengoleskan krim ini."


"Sshh." Xavier mendesis untuk menghentikan bantahan Sera. "Aku tak akan membiarkan kau tidur dengan tidak nyaman malam ini. Biarkan aku memberikan bantuan untuk meringankan penderitaanmu, Sera." Tangan Xavier mulai bergerak lembut mengaplikasikan krim itu ke seluruh area kaki Sera yang bengkak dan mengusap-ngusap area itu dengan sangat lembut. Krim itu terasa dingin dan menyenangkan di kulit Sera, membuat Sera tak mampu membantah lebih jauh lagi.


Mata Sera bertemu kembali dengan mata Xavier, dan dia tertegun ketika dilihatnya ada ekspresi sedih di wajah Xavier yang begitu pekat hingga nyaris membuat dadanya terasa diiris-iris.


"Ada apa?" Sera tak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangannya ke arah Xavier. Dalam sekejap, Xavier bergerak mendekat, menerima uluran tangan Sera, lalu menangkupkan jemari mungil itu ke pipinya.


Mata Xavier terpejam dan Sera bisa merasakan bagaimana Xavier seolah kesulitan mengeluarkan kata-kata.


Apakah Xavier sedang sakit? Lelaki ini tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya?


"Xavier? Kau kenapa?" Sera bertanya kembali dengan cemas ketika Xavier tak juga berkata-kata.


Xavier menghela napas dalam, ketika matanya terbuka, tatapannya menusuk dalam ke arah Sera, dipenuhi siksa yang berbaur dengan rasa penyesalan.


"Maafkan aku, Sera."


Suara Xavier terdengar serak, penuh dengan kesedihan. Hal itu membuat Sera menggigit bibir, seolah merasakan kepedihan yang sama di dalam hatinya. Entah kenapa, kehamilannya ini seolah membuatnya merasakan empati yang begitu dalam kepada suaminya. Derita Xavier adalah deritanya, sementara senyuman dan tawa Xavier juga mampu membuat hatinya meledak oleh kebahagiaan.


"Kenapa kau minta maaf?" Kalau dipikir-pikir, entah sudah berapa kali Xavier selalu meminta maaf kepadanya. Apakah lelaki ini berpikir bahwa takdir yang mempersatukan mereka saat ini adalah sebuah kesalahan yang disebabkan olehnya?


"Kau hamil karenaku. Seharusnya kita menanggungnya berdua, tetapi saat ini hanya kaulah yang menanggung segala penderitaan akibat kehamilan ini." Xavier menjawab dengan nada berat, suaranya terdenga rmakin parau.


Sera langsung mengulas senyum dan menatap Xavier dengan pandangannya yang jernih. "Siapa bilang aku menderita?"


Pertanyaan itu membuat ekspresi Xavier semakin muram, seolah-olah Sera telah memukul kepalanya dengan kayu.


"Kau jelas-jelas menderita. Apakah kau tidak tahu kalau aku selalu memperhatikanmu?" Xavier tidak bisa mengatakan dengan gamblang bahwa dia tak bisa melepaskan pandangan matanya dari Sera sedetik pun.


Xavier memasang kamera pengawas di seluruh penjuru rumah, ketika dia tak bisa memandang Sera secara langsung, maka dia akan mengawasi wanita itu melalui kamera pengawas. Seandainya saja Sera tahu betapa posesif dan obesifnya Xavier terhadap dirinya, mungkin saat ini Sera sudah lari ketakutan dan memilih melarikan diri darinya.


Bagaimanapun, jika menyangkut Sera, Xavier seolah tak bisa menahan diri. Sangat sulit untuk mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. Sera seolah telah menjadi obsesi baginya, menatap Sera dan memastikannya baik-baik saja, sama pentingnya dengan memastikan paru-parunya  tetap menjalankan sistem pernapasan dan jantungnya tetap menjalankan sistem sirkulasi darah.

__ADS_1


"Kau kepayahan ketika berjalan, kakimu bengkak dan sakit, perutmu begitu buncitnya sehingga membuat pinggang mungilmu kesakitan karena meregang sampai batas maksimal untuk menahan beban tubuhmu, kau juga sering sesak napas di malam hari dan tidurmu tak nyaman karena kau tak bisa menemukan posisi yang tepat." Xavier menyambung kembali dengan suara perlahan ketika Sera tak juga bersuara. Diraihnya tangan Sera, lalu diarahkannya ke bibir untuk dikecupi. "Seorang bayi diciptakan bersama oleh dua pasangan, butuh laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan satu kehidupan yang bertumbuh di dalam perut perempuan. Namun, kenapa hanya perempuan yang menderita dalam proses menghantarkan bayi itu ke dunia? Kenapa kami kaum laki-laki dibuat tak berguna sedemikian rupa dan hanya bisa memandang istri hamil kami menderita sendirian, lalu sibuk mengutuki diri sendiri karena perbuatan kamilah yang membuat istri kami mengandung?" Ekspresi Xavier tampak menunjukkan kebenciannya kepada dirinya sendiri. "Belum lagi nanti kau harus mengalami sakit kontraksi atau merasakan dinginnya meja operasi ketika mereka mengeluarkan bayimu... juga... juga penyembuhan luka bekas operasi juga bukan sesuatu yang bisa dipandang remeh."


Hati Sera menghangat ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Xavier. Sungguh dia merasakan betapa tulusnya lelaki itu ketika memikirkannya. Selama ini, orang-orang selalu memandang Xavier sebagai pembunuh keji yang tidak punya rasa belas kasih, padahal sesungguhnya, Xavier hanyalah seorang laki-laki naif yang tidak memiliki pengalaman dalam menghadapi hubungan sosial dengan orang lain.


Bagi Xavier, segala sesuatunya terpampang secara kaku dan dipisahkan oleh garis batas yang tegas. Salah berarti salah dan harus mendapat hukuman, benar berarti benar dan harus mendapatkan penghargaan. Semua ditentukan hanya dari dua warna kontras yang berseberangan. Hanya ada hitam dan putih dan tidak ada ruang untuk abu-abu.


Sera paham betul bahwa Xavier adalah seseorang yang memiliki keadilan tinggi. Seseorang yang berbuat baik akan mendapatkan haknya dan seseorang yang berbuat jahat akan mendapatkan akibatnya. Karena itulah konsep menciptakan anak bersama yang bersambung dengan penderitaan ibu hamil seorang diri tanpa sang calon ayah bisa membantu apapun, merupakan suatu konsep sulit yang tidak bisa diterima oleh lelaki itu.


Sera mendorong tubuhnya berbaring kembali, meletakkan kepalanya di atas bantal-bantal yang bertumpukan di kepala ranjang, lalu mengulurkan lengannya ke arah Xavier memberi isyarat tanpa kata supaya lelaki itu ikut berbaring bersamanya di atas ranjang dan Xavier menerimanya tanpa pikir panjang. Lelaki itu membaringkan tubuhnya di sisa ranjang yang sempit, berbaring miring dengan hati-hati supaya tak menindih Sera, lalu menyangga kepalanya dengan sebelah tangan.


Matanya menatap lekat ke arah Sera, sementara jemarinya bergerak mengelus sisi wajah perempuan kesayangannya itu, sementara bibir Sera mengulas senyum lembut ke arah Xavier, menatap suaminya dengan mata jernihnya yang berkilauan.


"Segala sesuatunya diciptakan dengan adil. Kau akan mendapatkan bagianmu nanti." Sera tersenyum lembut, menatap Xavier dengan sedikit jahil.


Kembali kening Xavier berkerut. "Apa maksudmu?" tanyanya kemudian dengan penasaran.


Tangan Sera bergerak, menangkup pipi Xavier.


"Orang bilang, ketika seorang anak lahir dan ketika seorang ayah mendekap bayinya untuk pertama kalinya di dalam pelukannya, sang ayah akan rela menyerahkan seluruh dunianya bagi anaknya." Suara Sera sedikit tertahan oleh rasa haru ketika perempuan itu akhirnya berucap. "Seorang ayah mungkin tidak ikut menderita ketika istrinya mengandung dan melahirkan. Tetapi tanggung jawab seorang anak yang bertumbuh kemudian, ada di dalam tangannya. Ketika anaknya membutuhkan perlindungan, ketika anaknya membutuhkan tempat berpulang, ketika anaknya membutuhkan bahu kuat untuk menyokongnya. Bahkan ketika nanti anaknya membutuhkan ayahnya berjalan di sisinya untuk melepaskannya dengan air mata bahagia ketika dia akan menikah, di situlah kau akan berperan sebagai seorang ayah, sebagai orang tua bagi anak-anak kita."


Xavier mendekatkan wajahnya ke wajah Sera, ekspresinya dipenuhi oleh rasa haru yang sama.


"Kau pikir, usiaku akan cukup panjang hingga aku bisa mengantar anak-anakku di pernikahan mereka?" tanyanya kemudian dengan suara tersekat.


Tanpa ragu Sera menganggukkan kepala. "Tentu saja. Apakah kau mencemaskan penyakitmu? Kalau itu yang kau pikirkan, maka kau bisa tenang. Yakinlah, kami bertiga, aku dan anak kembar kita, kami akan menyelamatkanmu. Kau akan hidup sampai tua dan kurasa, meskipun kau sudah menua nanti, kau akan menjadi ayah paling tampan di dunia yang akan membuat anak-anakmu bangga memilikimu."


Xavier terkekeh mendengarnya, matanya melembut ketika menatap ke arah Sera. Apakah kau akan menemaniku sampai menua? Pertanyaan itu bergaung di dalam benak Xavier, tapi tak berani dia lontarkan. Alih-alih, Xavier malahan mengucapkan pertanyaan yang lain.


"Kalau begitu, kita sepakat untuk menderita bersama dan bahagia bersama?" tanya Xavier kemudian, suaranya terdengar khidmat, seperti sedang mengucap janji.


Sera terkekeh dan hatinya tersentuh dengan kenyataan bahwa hati Xavier ternyata tak sebeku dan segelap yang diduga orang. Lelaki ini selalu menempatkan diri sebagai antagonis, tetapi siapa yang menyangka kalau antagonis dalam kisah ini ternyata berhati lembut? Sungguh Sera mensyukuri kesempatan untuk mengenal Xavier lebih jauh sehingga dia tidak berpatokan pada kesan pertamanya yang salah dengan anggapannya bahwa Xavier adalah monster mengerikan.


"Tentu saja. Lagipula, apakah kau pikir aku akan membiarkanmu melenggang begitu saja tanpa mencicipi derita sebagai seorang ayah? Tunggu saja nanti ketika anak kita lahir, aku akan memberimu jatah berjaga malam untuk menggendong serta menenangkan, menggantikan popok dan meminumkan susu botol pada anak-anak kita di tengah malam saat mereka kelaparan." Sera tak bisa menahan tawanya ketika menyambung kembali kalimatnya. "Oh ya, jangan lupa, kau juga harus belajar menggantikan popok ketika mereka pup. Aku tahu kau memiliki nyali besar dan sangat kuat menghadapi hal-hal mengerikan, tapi kujamin kau pasti akan sedikit bergetar ketika menghadapi pup bayi. Dan ingat, kau harus menghadapi dua sekaligus."


Suara tawa Sera menular, membuat Xavier ikut tertawa juga. Entah kenapa hatinya terasa ringan setelah percakapannya dengan Sera. Segala permasalahan bisa dipikirkannya nanti, yang penting saat ini dia bisa mendekap Sera dan memastikan perempuan ini baik-baik saja di pelukannya. Untuk nanti, Xavier akan berusaha lebih keras supaya rencana jahat apapun yang hendak menyerang mereka, tidak akan bisa menyentuh Sera dan keluarganya.


"Bagaimana mereka hari ini? Apakah mereka bertingkah baik?" Dengan penuh rasa ingin tahu, Xavier mengusap perut Sera dan seakan bayi yang di dalam perut perempuan itu mengenali sentuhan ayahnya, mereka mulai menendang, meninju dan berguling-guling dalam ruang sempit yang dibagi berdua di rahim Sera, membuat Sera meringis dan mengusap perutnya yang menegang dan mengencang hingga terasa keras.


"Aduh!" Sera tak bisa menahan diri mengaduh dan wajah Xavier memucat karenanya. Matanya menatap tajam ke arah perut Sera yang menonjol dan mengeras di beberapa sisi, menunjukkan betapa kuatnya tendangan dua bocah kecil di dalam sana.


"Apa yang bisa kulakukan?" Kembali Xavier tampak frustrasi, kebingungan karena tak bisa menanggung kesakitan dan penderitaan Sera. "Apa yang harus kulakukan supaya mereka berhenti menendang?" tanyanya panik, mengusap-usap perut Sera untuk meredakan gerakan aktif di dalam sana.


Sera meringis, tetapi dia tak bisa menahan diri untuk terkekeh melihat reaksi Xavier. Lelaki itu selalu bereaksi sama ketika merasakan dua bayi yang menendang-nendang di perut Sera. Pertama-tama takjub, lalu berganti ngeri setelah itu berakhir dengan panik dan ketakutan. Polanya selalu sama, dan efeknya juga sama, menghangatkan hati Sera.


"Kenapa kau mau menghentikan bayi kita menendang? Mereka hanya terlalu sehat, mereka tidak akan melukaiku." Setelah mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba salah satu bayinya seolah menyikut dengan sangat keras hingga Sera harus menghentikan perkataanya dan menghela napas dalam-dalam di bawah pandangan cemas Xavier. Setelah berhasil menguasai diri, kembali Sera tertawa. "Nah, kan, itu bukti kesehatan mereka yang kasat mata. Kita harus mensyukurinya. Gerakan janin merupakan salah satu penanda kondisi kesehatan serta pertumbuhan dan perkembangan janin, semakin aktif bayi kita semakin sehat mereka di dalam sini." Sera menggerakkan tangannya dan menangkup tangan Xavier yang mengusap perutnya untuk membantunya dengan putus asa. "Sekarang, mari kita mulai menghitung."


"Lagi?" Xavier seolah tak habis pikir dengan Sera, tetapi dia hanya menanyakan ulang dan tak membantah.


Sera menekan tangan Xavier di perutnya, lalu menghela napas dalam-dalam.


"Tentu saja lagi dan lagi serta tak boleh bosan. Malam hari adalah jadwal bayi kita biasa aktif dan saat bayi kita biasa aktif adalah saat yang paling tepat untuk menghitung. Dengan menghitung gerakan janin, selain untuk mengetahui kondisi kesehatan janin di dalam kandungan kita juga bisa mengetahui lebih dini jika Si Kecil mengalami kondisi yang berbahaya, seperti gawat janin serta mencegah janin meninggal di dalam kandungan. Kau masih ingat hitungannya, bukan? Dokter Nathan juga bilang mulai tujuh bulan usia kandungan kita harus melakukan perhitungan gerakan bayi secara rutin tanpa terlewat."


Xavier sebenarnya sempat berpikir untuk membeli alat usg dan pendeteksi detak jantung bayi saja untuk lebih praktisnya sehingga kapanpun dia mau dia bisa memantau bayinya di dalam perut Sera. Tetapi akhirnya dia tak jadi melakukannya. Kegiatan menghitung gerakan bayi ini telah menjadi ritual berharga yang tak akan ditukarnya dengan apapun.


Xavier kemudian menganggukkan kepala, sudah mulai menghitung dalam hati bahkan ketika dia menjawab.


"Dalam dua jam, gerakan janin minimal harus mencapai minimal sepuluh kali gerakan." Kening Xavier berkerut ketika merasakan sodokan lagi dari perut Sera. "Menurutku, mereka berdua hanya membutuhkan waktu singkat untuk memenuhi sepuluh kali gerakan minimal. Mereka sangat aktif. Ini sudah lima menurut hitunganku." nilainya kemudian dengan nada takjub.

__ADS_1


Sera tertawa. "Xavier, jika bayi bergerak beruntun selama satu waktu, hitungannya tetap satu gerakan, bukan lima," tegurnya lembut. "Jadi hitunganku sekarang masih satu."


"Masih satu? Kalau begitu kita masih menunggu sembilan paket gerakan lagi?" Xavier bertanya pelan, lalu suaranya berhenti ketika bayi mereka bergerak lagi di dalam perut Sera setelah memberikan jeda sejenak. Kedua bayi itu seolah bergerak kesana kemari, memutar, menyikut, mendendang di dua sisi berlawanan hingga terasa di seluruh bagian perut Sera. Hal itu membuat Xavier terkekeh. "Aku tak tahu yang mana dari mereka berdua yang bergerak di sebelah sini. Tetapi, sepertinya mereka berdua sama-sama aktif, bukan? Yang tadi boleh dihitung sebagai 'dua'?" tanyanya ceria.


Sera menyeringai lebar. "Oke, yang itu nomor dua. Sekarang kita menunggu yang ketiga," sahutnya dalam kekehan yang sama.


Kedua pasang manusia itu berasyik masyuk sendiri, sibuk dengan ritual menghitung mereka yang menyenangkan di malam hari, tenggelam dalam pelukan hangat dan tawa ceria, tertutup kabut menyenangkan yang membuat mereka seolah tak ingat akan bahaya yang mungkin datang.


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


 


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


 


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


 


Mohon maaf atas keterlambatan posting belakangan ini dikarenakan masih ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Mohon dimaklumi. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.

__ADS_1


 


 


__ADS_2