Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 116 : Terdesak


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Aaron mondar mandir di dalam ruangan kerjanya.


Dia menyadari bahwa dia diawasi dengan sangat ketat di luar sana. Bahkan ketika dia pulang ke apartemennya semalam, dia menyadari bahwa ada beberapa mobil yang mengikutinya dan bukan hanya satu, mobil-mobil itu menguntitnya dari beberapa arah yang tak kentara. Saat dirinya sudah masuk kamar apartemennya pun, ada beberapa lelaki berpakaian hitam-hitam yang terlihat berdiri di setiap sisi lorong menuju apartemennya.


Bahkan saat dia mengintip ke bawah dari jendela kamar apartemennya pun, dirinya langsung bisa melihat bahwa di setiap titik penting terutama di jalur keluar apartemennya itu sudah dijaga ketat.


Xavier Light sialan itu bahkan tidak mau repot-repot menyuruh anak buahnya berkamuflase supaya tak kelihatan. Lelaki itu malahan terlihat sengaja membuat anak buahnya tampak di setiap titik.


Sepertinya hal itu dilakukan dengan sengaja dengan tujuan untuk membuat Aaron merasa terintimidasi.


Pagi ini pun sama buruknya. Aaron tahu bahwa dia tak bisa berpura-pura sakit dan mengurung dirinya di dalam apartemennya guna melindungi diri supaya dia tidak perlu masuk kerja. Dia tahu jika dia tidak datang ke tempat kerja hari ini, hal itu pasti membuat Xavier curiga dan mungkin akan memancingnya untuk langsung menyuruh anak buahnya mendobrak dan menyerbu masuk ke dalam kamar apartemennya, sebelum kemudian menyergapnya dan membawanya paksa untuk disekap dalam siksaan Xavier.


Jika sampai hal itu terjadi, sudah pasti dirinya tak akan bisa lari lagi.


Aaron akhirnya memutuskan untuk berangkat kerja hari ini, mengabaikan banyaknya manusia yang mengawal dan mengikutinya sepanjang perjalanannya menuju tempat kerja. Siapa tahu dia menemukan celah untuk melarikan diri.


Sayangnya, keinginannya tidak terwujud, penjagaan di sekelilingnya sangatlah ketat hingga dia tak bisa melakukan apapun.


Setelah sampai di rumah sakit dan mengurung diri di dalam ruangannya, Aaron terus mondar-mandir di dalam sana selama berjam-jam dengan pikiran buntu, bingung harus berbuat apa. Dia tahu bahwa dirinya harus bisa melepaskan diri dari tempat ini, tapi jelas-jelas dia tak bisa lari dengan mudah.


Bagaimana mungkin dirinya yang cuma seorang diri bisa menghadapi pasukan pengawal Xavier yang begitu banyaknya dan menjaga ketat di seluruh titik?


Tadinya Aaron merasa bahwa berada di kantornya yang merupakan tempat umum, dia akan bisa menemukan jalan untuk melarikan diri dengan gampang, tetapi ternyata dia salah. Aaron menghentikan langkahnya di depan jendela ruang kantornya dan menilai kembali situasi. Kantornya berada di tingkat atas, membuat kemungkinan melarikan diri dari jendela adalah sesuatu yang mustahil baginya. Jika dia memaksakan diri, kemungkinan besar dirinya akan berakhir mati dengan leher patah.


Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana caranya dia lari?


Melirik ke arah pintu pun tidak ada gunanya. Dia tahu ada tiga orang bodyguard dengan kemampuan bela diri dan kemampuan memakai senjata tingkat tinggi yang khusus ditempatkan untuk berjaga di depan pintu ruang kerjanya. Hal yang sama buruknya terjadi di setiap titik lapisan jalan keluar dari rumah sakit ini. Mereka juga membawa senjata yang tak mungkin dilawan Aaron dengan tangan kosong.


Aaron mengerutkan kening. Berkali-kali dia mengutuk perilaku impulsifnya sendiri yang waktu itu datang dan mendekati Sera. Dia terlalu terburu-buru dan didorong oleh keinginan rakus untuk mengalahkan Xavier dengan segera. Keterburu-buruannya itulah yang akhirnya menjerumuskannya pada situasi ini, membuatnya terjebak dan kini terbentur dinding di semua sisi hingga membuatnya nyaris putus asa.


Sialan! Sialan! Seandainya saja dia tak mendatangi Sera waktu itu, pasti semuanya akan aman dan baik-baik saja, pasti Xavier belum akan menyadari kehadirannya dan mencurigainya. Sekarang semuanya telah terlambat, dengan bodohnya dirinya telah menghancurkan semua kerja keras dan segala usaha yang dilakukannya untuk menyamar menjadi dokter Oberon.


Tangan Aaron bergerak mengusap pipinya dengan marah. Segala rasa sakit yang harus ditahannya ketika menjalani operasi plastik itu... sekarang semua berakhir sia-sia! Penyamarannya sebagai dokter Oberon akan segera tersingkap tanpa dia bisa menahannya.


Aaron mengembuskan napas keras-keras. Seberapapun besarnya dia menyesali kecerobohannya, tetap saja dia tak bisa memutar balik waktu. Sekarang dia benar-benar harus memerah otaknya untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.


Aaron melangkah ke meja kerjanya, dan membuka lacinya. Tadinya, dia hendak mencari pistol yang disimpannya di sana dan menggunakannya untuk melawan. Rencana itu sepertinya akan berakhir dengan kesia-siaan dan malah mempertaruhkan nyawanya. Sebab, dia yakin bahwa seperti yang terjadi tadi pagi ketika dia turun dari mobil, bodyguard Xavier langsung menyergap dan menggeledahnya di setiap inci tubuhnya untuk memastikan bahwa tak ada satupun senjata yang dibawanya di tubuhnya.


Sudah pasti dia tak bisa membawa pistol ini. Kalau dia memasukkan pistol ini ke sakunya, begitu dirinya melangkah keluar dari pintu ruang kerjanya, mereka pasti akan menggeledahnya. Jika dia ketahuan membawa pistol, mungkin para bodyguard itu akan langsung menembak dan membunuhnya. Aaron tahu bahwa mereka semua sedang mencari-cari alasan untuk membunuhnya.


Setelah menimbang-nimbang, Aaron akhirnya menyorongkan kembali pistol itu ke laci dan menarik napas panjang. Tidak. Tidak ada gunanya dia membawa pistol ini. Dia harus memikirkan cara lain.


Ketika hendak menutup lacinya, mata Aaron tanpa sengaja tertuju pada kotak kecil yang terselip di sana. Dia mengerutkan kening dengan penuh rasa ingin tahu, lalu membuka kotak itu.


Di dalamnya, ada jarum suntik berukuran sangat kecil dan botol kaca kecil berisi cairan sedatif atau obat penenang.


Dokter Oberon mengalami masa-masa sulit setelah kecelakaan itu, karena itulah dia jatuh dalam kecanduan alkohol. Selain itu, yang orang lain tidak tahu adalah dokter Oberon juga mengalami kecanduan obat-obatan penenang dan sering menyuntik dirinya sendiri ketika dia mengalami insomnia dan kekalutan pikiran yang tak terkendali. Obat ini akan membuatnya bisa tertidur pulas setelah dia menyuntik dirinya sendiri.


Aaron mengambil jarum suntik itu, lalu secara impulsif mengisikan cairan sedatif di dalamnya dan memasang kembali tutup jarum suntik itu. Tangannya menggenggam jarum suntik itu dan menimbang-nimbang.


Cairan sedatif ini memberikan efek penenang dan menidurkan jika disuntikkan ke tubuh dengan dosis tepat. Namun, jika disuntikkan dengan dosis berlebih, cairan ini bisa membunuh korbannya karena overdosis. Mungkin Aaron bisa menggunakannya sebagai senjata, tetapi karena suntikan ini hanya untuk satu kali pemakaian, maka Aaron harus sangat berhati-hati daslam memilih waktu dan orang yang tepat yang akan diserangnya dengan suntikan ini.


Baru kali ini Aaron bersyukur karena dia telah menyamar menjadi dokter, hal itu mungkin akan membawa keuntungan tersendiri baginya. Dengan sigap, dimasukkannya jarum suntik itu ke saku bagian dalam jas dokternya dan ukuran jarum suntik yang cukup kecil itu membuat jarum itu menyaru di sana, hampir tak teraba.


Suara ketukan di pintu membuat Aaron terkesiap dari lamunannya. Lelaki itu memucat dan memandang ke arah pintu dengan dipenuhi teror.


Dirinya sudah selayaknya tahanan di ruangan ini. Siapa yang repot-repot bertingkah sopan dan mengetuk pintunya sebelum masuk?


Aaron berdehem dan menyipitkan mata ke arah pintu. Lelaki itu menegakkan tubuh, berusaha bersikap biasa dan tenang saat berucap.


“Masuklah.”


Pintu ruang kerjanya langsung terbuka dan yang muncul di sana adalah dokter Nathan yang diikuti oleh tiga bodyguard di belakangnya.


Dokter Nathann tersenyum ke arah Aaron, namun matanya bersinar penuh arti.


“Maaf atas ketidaknyamanannya, tetapi aku datang untuk melakukan perintah atasan.” Suara sang dokter terdengar penuh ultimatum ketika menyambung kembali ucapannya. “Akulah yang akan mengambil darahmu, dokter Oberon.”

__ADS_1


***


“Tentang Aaron?” Sera mengerutkan keningnya. Ekspresinya langsung berubah, dipenuhi kecemasan. “Ada apa dengan Aaron?”


Xavier mengawasi ekspresi Sera dan entah kenapa, ada getir yang melintas di hatinya ketika melihat bagaimana Sera langsung berubah cemas ketika dirinya mengangkat pembicaraan mengenai Aaron. Ternyata, meskipun perempuan itu telah menyerahkan hati kepadanya, masih ada begitu banyak perhatian yang dia berikan kepada Aaron.


Apakah dokter Nathan memang benar? Bahwa meskipun Sera sudah tidak mencintai Aaron lagi, lelaki itu tetap memiliki peran penting di masa lalu Sera sebagai penyelamatnya.


Jika memang Sera terus digayuti oleh hutang budi dan hutang nyawa kepada Aaron, bukankah Xavier akan membantunya melepas beban jika dia menjelaskan kepada Sera motivasi sesungguhnya Aaron menolong Sera di masa lampau?


“Aku tidak membunuh Aaron jika itu yang kau cemaskan.” Xavier menipiskan bibir, menatap Sera dengan tatapan penuh ironi. “Belum,” tambahnya kemudian dengan nada sambil lalu.


Mata Sera melebar. “Xavier... kau... kau hanya bercanda, bukan?” sahutnya cepat. Tiba-tiba Sera seolah teringat sesuatu, ekspresinya tampak terkejut dan pucat pasi. “Apakah... apakah kau sudah mendapatkan kabar dari sayembara itu? Apakah salah satu pembunuh bayaran itu berhasil membunuh Aaron?” tanyanya panik dengan nada ngeri.


Setelah Aaron membuat sayembara untuk membayar para pembunuh supaya mereka melukai bayi yang ada di perut Sera, Xavier marah besar dan membuat sayembara tandingan yang menyebabkan semua pembunuh bayaran di seluruh dunia untuk mengejar Aaron. Pada saat itu, Sera mencoba menahan Xavier, tetapi Xavier mengingatkannya bahwa Aaron yang berusaha dia lindungi adalah orang yang sama yang mencoba melukai bayi mereka tanpa perasaan. Ketika itulah, Sera memilih menutup mata. Dia memilih membuang Aaron di sudut terjauh hatinya dan tidak memikirkannya lagi.


Meskipun ada saat-saat dimana Sera bertanya-tanya bagaimana kondisi Aaron sekarang dan bagaimana nasib sayembara yang dibuat oleh Xavier, tapi dia tak berani mengangkat pertanyaan itu ke permukaan. Lalu Sera teralihkan oleh masa kehamilannya dan perbaikan hubungannya dengan Xavier yang berlangsung damai. Dia tak mau merusak perdamaian yang terjalin, sehingga akhirnya dia mengubur dalam-dalam segala hal menyangkut kecemasan, pikiran dan perasaan di hatinya yang berhubungan dengan Aaron.


Sekarang, Xavierlah yang terlebih dahulu mengangkat pembicaraan tentang Aaron. Hal itu membuat segala kecemasan Sera menemukan jalan untuk merambat naik ke permukaan lagi.


Xavier meraih jemari Sera lalu memain-mainkannya, tangannya menyelip di sela jari Sera, menjalinkan jari jemarinya di sana.


“Tenanglah. Aku masih belum mendapatkan kabar tentang kematian Aaron, jadi lelaki itu masih hidup di luar sana, menunggu waktu yang tepat untuk mengancam kita.” Xavier menimbang-nimbang apakah dia akan mengatakan tentang dugaannya mengenai dokter Oberon atau tidak kepada Sera.


“Kurasa, Aaron akan sibuk bersembunyi.” Sera menyahuti sesuai nalarnya. “Dia tidak akan sempat memikirkan menyerang kita,” sambungnya lagi.


Kalimat Sera itu membuat Xavier menipiskan bibir dan memutuskan.


“Dia mungkin sudah ada lebih dekat dari yang kita duga, Sera,” sahutnya dengan nada misterius, membuat Sera mengerutkan kening dan menatap Xavier dalam.


“Apa maksudmu? Apakah kau bilang... Aaron ada di negara ini?”


“Bukan hanya di negara ini, dia mungkin ada di dalam satu bangunan yang sama, di dekat kita.”


“Xavier... kau hendak bilang apa?” Wajah Sera memucat. “Apakah kau bilang bahwa Aaron sebegitu gilanya mempertaruhkan nyawanya dan mendekati kita, bahkan saat kau mengirim para pembunuh untuk mengejarnya? Itu sama saja dengan bunuh diri karena dia akan segera ketahuan jika dia mendekati kita. Kurasa... Aaron tidak akan melakukan tindakan sebodoh itu.”


“Dia memang tidak sebodoh itu.” Mata Xavier berkilat. “Dia menyamar sebagai orang lain. Melakukan operasi plastik dengan sempurna untuk mencuri identitas orang lain itu. Dia bahkan bertindak jauh dengan membunuh orang yang telah dia curi identitasnya itu.”


Sera membelalakkan matanya yang dipenuhi oleh teror. “Siapa?” tanyanya lirih, penuh ketakutan.


“Dokter Oberon?” Sera membeo seperti orang linglung. Segala kilasan interaksinya tentang dokter Oberon langsung muncul satu persatu di dalam kepalanya. Dokter Oberon ada di klinik tempat ayahnya dirawat waktu itu... lelaki itu juga mendatanginya tanpa diduga ketika dia sedang berada di depan lift dan memberinya informasi menyangkut ayahnya yang secara tidak langsung membuatnya meragukan Xavier.


Semua tampak masuk akal, hanya saja... apakah Xavier memiliki bukti?


“K-kau... tidak menuduh tanpa bukti hanya karena kau tidak menyukai dokter Oberon, bukan?” Sera bertanya dengan nada berhati-hati kepada Xavier.


Xavier menggelengkan kepalanya dengan tegas.


“Sera, aku sudah berbicara sendiri dengan Aaron yang menyamar menjadi dokter Oberon. Kau tahu aku memiliki keahlian khusus untuk memancing kebenaran dari orang lain tanpa orang itu menyadarinya. Lelaki yang berada di hadapanku dengan menggunakan wajah dokter Oberon itu, bukanlah dokter Oberon. Dia adalah Aaron.” Tangan Xavier meremas jemari Sera perlahan. “Percayalah kepadaku, instingku tak pernah salah.”


“Aku hanya tak ingin kau... menyerang orang yang salah, Xavier. Jika dugaanmu tidak benar, kau bisa melukai dokter Oberon asli yang tak bersalah,” Sera berbisik perlahan, menatap Xavier dengan sedikit ragu.


Xavier menipiskan bibir, lalu menganggukkan kepala.


“Karena itulah aku meminta dokter Nathan mengambil sampel darah dokter Oberon saat ini. Begitu kita mendapatkan sampel darahnya, dalam waktu singkat kita akan mendapatkan kepastian apakah dia benar-benar dokter Oberon, ataukah dia Aaron yang menyamar.”


Sera menatap Xavier dengan bersungguh-sungguh.


“Jangan lakukan apapun sampai kau mendapatkan hasil test darah itu,” pintanya pelan.


Xavier menatap Sera tajam. “Apakah kau mencemaskan Aaron?” tanyanya dengan getir.


Sera menggelengkan kepala. “Bukan begitu… aku memikirkanmu. Aku tak ingin kau salah menyerang orang.” Sera menatap Xavier dengan berhati-hati. “Jika dokter Oberon benar-benar Aaron yang menyamar, apakah kau… akan membunuhnya?” tanyanya lagi.


Sekali lagi, mata Xavier berkilat dipenuhi kemarahan.


“Aku sudah bilang kepadamu ketika aku mengirimkan para pembunuh itu untuk menghabisi Aaron. Janjiku untuk tidak melukai Aaron, hanya akan kulakukan jika dia tidak melakukan hal-hal yang memancing kemarahanku. Dengan mengirimkan pembunuh untuk membuatmu keguguran anak kita, dia layak dibunuh. Ketika nanti dia terbukti bahwa dia menyamar sebagai dokter Oberon, maka sudah jelas dia memiliki niat jahat untuk mendekati kita, mendekatimu. Dia sungguh terobsesi kepadamu, Sera dan aku yakin cepat atau lambat, dia akan berbuat sesuatu yang membahayakanmu.”


Sera meragu, tubuhnya membeku. Aaron yang dikenalnya dan dikenangnya adalah sosok lelaki yang selalu menolongnya di saat genting. Lelaki itu menyelamatkan nyawanya berkali-kali, menjauhkannya dari rasa sakit dan kematian yang terus menerus mengintai ketika dia menjalani kehidupannya di tengah sekapan dan siksaan Keluarga Dawn.


Meskipun ketika di bandara itu Aaron mencaci makinya dengan kasar, Sera tetap menganggap bahwa itu hanyalah manifestasi dari kekecewaan Aaron yang merasa dikhianati karena Sera memilih bersama Xavier. Baru pada saat Aaron membayar pembunuh untuk membuatnya keguguran, Sera mulai percaya bahwa Aaron tidak sebaik yang dia duga.


Sekarang, jika memang Aaron menyamar menjadi dokter Oberon untuk mendekatinya, apakah benar yang dikatakan oleh Xavier bahwa Aaron memang menyimpan dendam dan memiliki niat tidak baik kepadanya?


Xavier mengawasi perubahan ekspresi Sera, lalu akhirnya berucap setelah menimbang-nimbang.

__ADS_1


“Kalau aku mengatakan sesuatu yang sudah kuketahui sejak lama mengenai Aaron dan kusimpan rapat-rapat, apakah kau akan percaya?” tanyanya perlahan.


Sera mengawasi ekspresi Xavier, mencoba menebak apakah yang akan dilakukan oleh lelaki itu. Namun, dia tidak bisa menemukan apa-apa. Sudah jelas Xavier sangat ahli dalam menjaga ekspresi wajahnya.


“Adakah sesuatu dari Aaron yang tidak kuketahui?” tanya Sera dengan rasa ingin tahu. Kalau dipikir-pikir, tadi Xavier bilang akan mengungkap rahasia mengenai Aaron.


Xavier menganggukkan kepalanya.


“Aku menyimpannya karena tak ingin menyakiti hatimu. Kebenaran ini akan menjungkirbalikkan apa yang telah kau percayai sebelumnya Sera.” Xavier meremas tangan Sera pelan seolah ingin membaginya kekuatan. “Kau… akan sangat sedih.”


“Karena itukah kau memilih menyembunyikan rahasia ini dariku?” Hati Sera tersentuh oleh ketulusan yang muncul di dalam suara Xavier. Sera menimbang-nimbang, menelaah perasaannya sendiri, lalu akhirnya perempuan itu memutuskan dengan tegas. “Kurasa… jika itu menyangkut Aaron, aku akan kuat.” Sera menghela napas panjang dan berusaha memasang wajah meyakinkan.


Xavier menahan senyum melihat sikap Sera itu.


“Ya, selama ini aku menyimpannya karena aku mengkhawatirkan hatimu. Kau telah mempercayai bahwa Aaron berbuat baik kepadamu, padahal dia memiliki motivasi terselubung. Aku tak mau kau sakit hati dan didera rasa terkhianati. Namun, saat ini aku tidak punya pilihan lain. Jika aku tidak mengatakannya kepadamu, kau akan terus menerus didera rasa bersalah kepada Aaron karena beban hutang budi dan hutang nyawa yang kau kira terus mengikatmu seumur hidupmu.” Mata Xavier menatap tajam ke arah Sera. “Hutang budi dan hutang nyawa itu sesungguhnya tidak pernah ada, Sera. Semua itu adalah sesuatu yang direncanakan oleh Roman Dawn dan Aaron untuk mencuci otakmu.” Ketika mata Sera membelalak dipenuhi ketidakpercayaan, Xavier menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan. “Ya, Sera. Sejak awal mula, Aaron telah bekerjasama dengan Roman Dawn dalam rencana balas dendam untuk menuntut balas atas kematian Anastasia.”


 


 


***


***


***


***


Hello.


 


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


 


 


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


 


 


 


 


***


***


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2