Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 93 : Hari Pertama


__ADS_3


Elana sengaja mematikan lampu ruang tamu ketika dia menyadari bahwa mobil Akram tak juga pergi meninggalkan halaman rumahnya.


Pertama-tama dia kebingungan memikirkan apa yang menjadi penyebab sehingga Akram masih menunggu di depan sana. Sempat refleks Elana mencari-cari apakah ada barang penting milik Akram yang tertinggal, tapi ternyata tak ditemukannya. Lagipula, lelaki itu tak juga keluar dari mobilnya, yang menunjukkan bahwa tak ada niatan dari Akram untuk mengetuk pintunya kembali dan mengambil sesuatu yang mungkin tertinggal.


Akhirnya, Elana sampai pada kesimpulan bahwa Akram tidak akan pergi sebelum memastikan dirinya sudah beranjak tidur. Benarlah sesuai dugaannya, ketika dia mematikan lampu di ruang depan, mobil Akram pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Sejenak Elana masih berdiri di jendela menatap mobil Akram yang menghilang di ujung jalan, menyisakan pendar kedip lampu belakang yang menjauh dan akhirnya ikut menghilang. Setelahnya, Elana perlahan melangkah mundur dari jendela, lalu berjalan pelan menuju ruang kamarnya.


Dia tidak merasa takut seorang diri di rumah ini karena sudah sejak lama Elana terbiasa hidup sendiri. Tetapi, tentu saja kali ini terasa berbeda. Kesendirian Elana di masa lampau adalah tinggal di kamar kontrakan kecil yang ketika membuka pintu langsung berhadapan dengan dipan tempat tidur, menyisakan ruang sempit untuk kamar mandi dan gang kecil yang digunakan sebagai dapur darurat. Sementara itu, rumah ini, meskipun Akram sudah memilihkan rumah dengan ukuran paling kecil di kompleks perumahan mewah ini, tetap saja terasa terlalu besar untuk ditinggali sendirian.


Elana membuka pintu kamarnya, dan memutuskan untuk mandi membersihkan diri sebelum tidur. Meskipun percintaan mereka di sofa ruang tengah tadi cukup singkat jika dibandingkan dengan gaya bercinta Akram yang biasanya, tetap saja jejak sentuhan Akram masih tersisa dengan begitu kuat di tubuhnya, membekas begitu dalam.


Mandi adalah satu-satunya jalan melepaskan diri dari bayang-bayang lelaki itu, yang masih saja terus menghantui, seolah tak rela melepaskan biarpun lelaki itu sudah tak ada di tempat ini.


Setelah mandi dan menyegarkan diri, Elana mengeringkan rambutnya dan berganti dengan pakaian tidur yang nyaman, lalu menelusup ke balik selimut dan meringkuk di sana dalam kegelapan nuansa lampu tidur yang temaram, dengan mata nyalang.


Entah kenapa seperti ada yang menahan dirinya untuk bisa tertidur pulas. Suatu rasa aneh yang bergolak di dada yang membuatnya gelisah.


Elana mau tak mau mengangkat tangannya, memandang cincin berlian yang tadi disematkan oleh Akram ke jarinya dengan perasaan takjub. Dadanya langsung bergolak oleh perasaan aneh yang menyesakkan, membuat Elana menurunkan kembali jemarinya dan menjauhkannya dari pandangan mata.


Biasanya, di malam-malam seperti ini setelah bercinta, Akram akan membiarkannya berbaring memunggungi, sementara lelaki itu memeluknya dari belakang, menyusupkan tangan di bawah lengan Elana untuk merengkuh pinggangnya dengan posesif, dan merapatkan punggung Elana ke dadanya yang bidang untuk berbagi kehangatan dari kulit telanjang mereka yang berpadu di bawah selimut.


Elana akan tertidur pulas pada malam-malam tersebut dalam pelukan Akram. Bukan hanya karena dia kelelahan setelah melayani hasrat lelaki itu yang seolah tak ada habisnya, tetapi juga karena dirinya merasa aman dan terlindungi dalam lingkupan kehangatan manusia lain yang lebih kuat darinya.


Sekarang rasa itu tak ada, membuat Elana semakin erat memeluk dirinya sendiri, meringkuk dan menekuk lututnya dalam posisi serupa janin dalam kandungan seorang ibu. Selimut tebal itu seolah tak mampu menghangatkan tubuhnya dan hatinya sendiri terasa kosong bercampur kesepian.


Pada detik itulah Elana menyadari bahwa dia telah terbiasa dengan kehadiran Akram di sisinya dan merasa kesepian tanpanya.


***



***


Suara dering alarm ponselnya yang khas seketika langsung membuat Elana membuka mata dan otomatis mematikan alarm tersebut. Setelahnya, Elana refleks terduduk di atas ranjang dengan terkejut.


Sejenak dia memandang ke sekeliling ruangan, kebingungan karena terbangun di tempat asing yang tak dikenalinya. Kemudian, ketika pikirannya sudah berhasil memproses semuanya, barulah dia menyadari bahwa saat ini dia berada di rumah baru yang disiapkan Akram untuk dia tinggali selama satu bulan ke depan.


Akram bilang hari ini akan menjadi hari pertama Elana bekerja sebagai asisten Xavier di perusahaannya. Meskipun rasa rendah diri akibat kurangnya percaya diri masih melingkupinya, jauh di dalam hatinya, Elana sungguh bersemangat atas kesempatan emas yang diterimanya untuk mempelajari sesuatu yang baru.


Dia menyadari bahwa dalam kapasitasnya yang hanya sebagai lulusan sekolah menengah atas dengan pengalaman kerja terbatas sebagai seorang kasir minimarket serta pembersih toilet, dirinya sungguh tak pantas menjadi asisten seorang Xavier Light yang jenius. Tetapi, bukan berarti Elana akan menyerah begitu saja dan membiarkan dirinya terpuruk. Dia sudah tentu akan berjuang, belajar sekuat tenaga hingga akhirnya pantas menyandang sebutan sebagai asisten Xavier.


Xavier sudah berbaik hati untuk memberikan kesempatan langka baginya dan mau mengajarkan ilmunya pada Elana. Di lain sisi, Akram juga mendorongnya untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari Xavier karena yakin bahwa Xavier adalah mentor terbaik yang pernah ada. Karena itulah, Elana bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dia akan berusaha sebaik-baiknya supaya tidak mengecewakan mereka-mereka yang sudah berbaik hati memberikan kesempatan kepadanya.


Yang pertama harus dipastikannya adalah bahwa dia tak boleh terlambat datang bekerja di hari pertama sebagai asisten Xavier.


Diliriknya jam di ponselnya, masih jam enam pagi. Waktunya masih panjang bagi Elana untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin. Jam kerja di perusahaan Akram lebih longgar daripada jam kerja pada umumnya, yaitu dimulai pada pukul sepuluh pagi dan berakhir pukul lima sore. Dengan begitu, Elana masih sempat mandi, memasak sarapan, memilih baju kerja yang tepat lalu duduk sambil membuka mesin pencarian di ponselnya dan mengumpulkan artikel-artikel tentang deskripsi kerja seorang asisten pribadi untuk dia pelajari.


Setidaknya ketika Elana masuk kerja nanti dia tidak datang dengan kepala kosong dan mempermalukan dirinya sendiri.


Elana langsung menyingkirkan selimutnya, hendak beranjak keluar kamar untuk menyiapkan sarapan sederhana sebelum dia mandi. Dibukanya pintu dan dia langsung tertegun ketika melihat dua orang berpakaian pelayan sudah berdiri di hadapannnya dengan sikap tubuh yang tegak dan formal layaknya robot.


"Selamat pagi Nona Elana. Perkenalkan saya Maria yang dikirim dari rumah utama untuk melayani Anda. Saya bertugas menyiapkan segala keperluan Anda sebelum berangkat bekerja, termasuk menyiapkan air mandi, pakaian, sepatu, melaundry pakaian kotor Anda dan juga menjaga kebersihan serta kerapian kamar pribadi Anda. Sedankan rekan saya, Helen bertugas menjaga kebersihan seluruh area dalam rumah juga area halaman luar. Ada koki Nancy yang tengah memasak sarapan Anda di bawah dan supir akan datang menjemput tepat pukul sembilan nanti untuk mengantarkan Anda bekerja."


Layaknya robot, pelayan yang lebih tua itu menjelaskan segala sesuatunya dengan terperinci dan nada suara datar tanpa jeda. lol Lalu, sebelum Elana bisa berkata-kata apapun, pelayan itu mengedikkan dagu ke arah ponsel Elana yang masih terletak di atas ranjang, di belakang tubuhnya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Tuan Akram bilang akan menelepon Anda sebentar lagi, mohon diangkat."


Seakan waktunya tepat, ponsel Elana pun berdering tanpa henti dengan nada mendesak yang menjengkelkan, membuat Elana mau tak mau kembali masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponsel itu dan menerima panggilan telepon dari Akram.


"Akram," Elana menyahut dengan nada frustasi sementara matanya menatap tak berdaya ke arah para pelayan yang bergerak seperti robot, menginvasi kamarnya, membuka lemari dan mengambilkan pakaian untunya, juga masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat baginya. "Bu... bukankah aku sudah bilang aku tidak membutuhkan pelayan? Apalagi... sebanyak ini... ini terlalu berlebihan," Elana langsung mengutarakan pemikirannya, dipenuhi ketidaknyamanan karena berada dalam posisi sebagai majikan yang harus dilayani.

__ADS_1


Keheningan membentang sejenak di antara mereka, membuat jantung Elana berdetak sedikit lebih kencang ketika dia menanti reaksi Akram. Tak lama kemudian, suara Akram terdengar, masih dengan nada tegas tak terbantahkannya yang biasa.


"Kau akan menjadi Nyonya Night suatu hari nanti. Kau harus membiasakan diri untuk memimpin para pelayan dan memberikan instruksi kepada mereka." sahut Akram tenang.


"Tapi... dua orang pelayan, satu orang koki dan juga supir... semua itu hanya untuk aku seorang..."


"Jangan lupa seorang tukang kebun, aku sudah memerintahkannya datang, dia mungkin baru akan datang siang nanti ketika kau telah pergi bekerja," Akram menyela kalimat protes Elana tanpa rasa bersalah. "Elana, mungkin saat ini kau merasa tidak memerlukan mereka semua, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan mensyukuri kehadiran mereka semua terutama di pagi hari ketika kau sakit," sambung Akram dengan nada berteka-teki.


Elana mengerutkan keningnya.


"Aku merasa sehat saat ini... dan kenapa aku harus sakit di pagi hari?" tanyanya cepat dengan nada bingung.


"Orang-orang bilang kalau pagi hari akan menjadi saat yang buruk bagi perempuan yang..." Akram berdehem tiba-tiba, seolah suaranya tertahan di tenggorokan, ketika lelaki itu berucap berikutnya, nada suaranya menjadi sedikit galak dan lebih arogan dari biasanya. "Lupakan. Yang pasti, pengaturan dariku tak terbantahkan. Kau mau atau tidak mau, para pelayan akan tetap datang dan melakukan apa yang harus mereka lakukan setiap hari. Biasakan saja dirimu dengan itu. Sekarang, bersiap-siaplah, jangan sampai kau terlambat di hari pertamamu bekerja sebagai asisten Xavier."


Tanpa memberi kesempatan bagi Elana untuk menyanggah, Akram langsung memutus hubungan pembicaraan secara sepihak dari seberang sana, membuat Elana hanya bisa memelototi ponsel di tangannya dengan rasa jengkel tak terperi.


Astaga... sungguh lelaki arogan yang membuat sakit kepala dan menguji kesabaran, bagaimana mungkin semalam Elana bisa merindukan lelaki ini untuk memeluknya sebelum dia terlelap?


***



***


Begitu Elana memasuki lobby perusahaan, matanya langsung bersirobok dengan Elios yang seketika berdiri ketika melihatnya. Lelaki itu rupanya sudah diberitahu ketika supir menurunkan Elana di parkiran khusus yang tak bisa diakses oleh sembarang orang, sehingga bisa langsung turun dari lantai teratas gedung untuk menyambut Elana di lobby.


Pukul setengah sepuluh pagi dan para karyawan tampak sibuk lalu lalang di seputaran lobby perusahaan. Semuanya dengan tujuan mereka masing-masing, tetapi sebagian besar tampak buru-buru mencapai divisi masing-masing tempat mereka bekerja karena jam kerja sudah hampir dimulai.


Karena itulah, tidak ada yang memperhatikan ketika Elana tergesa-gesa mengikuti langkah Elios yang cepat di depannya untuk menuju ke lift khusus yang terletak di sisi paling ujung lobby, yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang dengan kartu akses VVIP. Ada dua lift khusus di tempat ini, masing-masing berpintu hitam berkilat, berbeda dengan lift karyawan umum di bagian depan lobby yang berwarna perak berkilauan laksana cermin.


Ketika Elios hendak menempelkan kartu aksesnya untuk membuka pintu lift, tiba-tiba salah satu pintu lift itu berdenting dan membuka. Sontak perhatian Elios dan Elana langsung teralih pada pintu lift yang terbuka itu dan mata mereka langsung terpaku pada sosok Akram yang berdiri di dalam lift.


Lelaki itu terlihat segar dengan rambut masih setengah basah dan jas rapi yang membungkus tubuhnya dengan pas, membuat penampilannya semakin tampak tegap dan tinggi. Tatapan Akram tampak terpaku ke arah Elana, memindai perempuan itu dengan tajam sebelum kemudian lelaki itu memberi isyarat tangan kepada Elana untuk memasuki lift.


Elana sendiri menelan ludah, berdiri ragu dan malahan menoleh ke arah Elios seolah meminta pendapat.


Elios langsung mengangkat telapak tangannya di depan tubuhnya seolah menjadikan tangannya itu sebagai tameng atas serangan tak terlihat yang misterius. Elios berhasil memasang senyum di wajahnya sebelum akhirnya terburu-buru bersuara.


"Si... silahkan naik ke lift bersama Tuan Akram. Saya akan naik litt yang satunya," ujarnya cepat bernada pengusiran.


Sayangnya, entah Elana polos atau memang tidak peka, perempuan itu malahan masih berdiri bingung di sana, mengutarakan pertanyaannya dengan nada tanpa dosa.


"Kenapa harus naik lift yang terpisah? Kenapa tidak sekalian bersama-sama saja?" tanya Elana lugu.


Seketika Elios melemparkan tatapan tak berdaya ke arah Akram yang membalasnya dengan tatapan tajam penuh aura membunuh yang menusuk. Membuat Elios langsung bergerak menjauh, bagaikan anak panah yang dilesatkan dari busurnya.


"Saya... masih ada urusan yang harus diselesaikan, silahkan naik duluan!" tanpa menoleh dua kali, Elios langsung pergi meninggalkan lorong lift pribadi itu, membuat Elana sendirian di depan lift dengan kening berkerut melihat sikap Elios yang sungguh aneh.


Apa mungkin Elios mendapatkan serangan sakit perut di pagi hari dan ingin ke WC, tetapi malu untuk mengatakannya kepada Elana, sehingga dia memilih buru-buru pergi sebelum harus menjelaskan kepada Elana?


"Kemarilah, Elana," suara Akram yang terdengar tak sabar mengalihkan perhatian Elana dari sosok Elios yang menghilang di ujung lorong. Elana menolehkan kepala kembali ke arah Akram, dan demi melihat ketidaksabaran dalam ekspresi Akram, Elana langsung mendorong dirinya untuk masuk ke dalam lift tersebut.


"Se... selamat pagi," Elana berdiri canggung, menjaga jarak dari Akram dan mengucapkan sapaan selamat pagi dengan nada formal. Bagaimanapun juga, di tempat kerja, Akram Night adalah bos tertinggi di sini dan Elana tahu, bagaimanapun kompleksnya hubungannya dengan Akram saat ini, dia tetap harus bersikap layaknya karyawan pada atasannya di perusahan tempatnya bekerja.


Akram sendiri tampak mengangkat alis ketika menerima sapaan formal dari Elana. Tapi tak urung lelaki itu menganggukkan kepala, membalas sapaan Elana tanpa mengulas senyum di bibirnya.


"Selamat pagi." ujarnya setengah menggeram dari giginya yang terkatup rapat.


Pintu lift langsung menutup dan Elana merasa bahwa lift itu bergerak naik. Kemudian, tiba-tiba dan tanpa peringatan sebelumnya, tangan Akram bergerak menekan tombol 'hold' di lift yang langsung menghentikan pergerakan lift tersebut. Setelahnya, dengan cepat Akram langsung mendesak Elana ke salah satu dinding lift, memerangkapnya di sana.


"Baru semalam kau tak tidur bersamaku dan kau sudah memperlakukanku sebagai orang asing?" geram Akram dengan nada marah setengah tersinggung.


Elana membelalakkan mata, tidak menduga bahwa lelaki itu akan salah paham sampai begini.

__ADS_1


"Bu... bukan begitu maksudku, Akram," terbata Elana berusaha menjelaskan. "Kita sedang berada di tempat kerja, jadi kupikir kita harus bersikap formal satu sama lain."


Akram mengambil tangan Elana dan matanya menatap cincin yang kemarin disematkannya di jari manis perempuan itu.


"Kau calon istriku. Jadi kau bebas bersikap semaumu di perusahaan ini," Akram mengangkat dagu Elana dengan telunjuknya, membuat Elana langsung menatap ke matanya yang tajam dan dipenuhi ketegasan. "Sekali-kali berhentilah bersikap merendahkan diri, menundukkan kepala dan berperilaku seolah kau bukan siapa-siapa. Kau adalah wanita yang berhasil membuat pemilik perusahaan ini tergila-gila kepadamu, jadi kau bebas membusungkan dadamu di sini, bertingkah sombong atau menjadi tukang perintah yang arogan. Aku jamin tidak akan ada yang berani melawanmu karena kau punya aku di belakangmu,"


Pipi Elana langsung memerah mendengar perkataan Akram sementara bibirnya membuka untuk membantah.


"Aku... aku bukan sepertimu, jadi aku tidak mungkin melakukan itu!" sahut Elana dengan nada mencela yang kental.


Akram terkekeh mendengar kalimat Elana tersebut. Lelaki itu semakin menundukkan kepala dan mendekatkan wajahnya ke wajah Elana.


Begitu dekatnya mereka hingga ketika Akram berucap, bibir lelaki itu setengah menggesek bibir Elana.


"Jadi, itukah pandanganmu tentang diriku? Lelaki sombong, tukang perintah dan arogan?" tanyanya cepat.


"Tepat sekali," Elana menyahut tak kalah cepat, dengan nada suara yang sangat yakin hingga membuat Akram tertawa di bibir Elana. Tubuh lelaki itu semakin mendesak Elana ke dinding, lalu tawanya terhenti, sementara bibirnya mulai mencecap bibir Elana dengan gerakan sensual menggoda. "Ya. Itulah diriku. Bagaimanapun, sebagai calon istriku, kau harus belajar menoleransi diriku, Elana. Karena mungkin kau akan terdampar selamanya bersamaku dan tak bisa melepaskan diri lagi,"


Setelah berucap seperti itu, Akram langsung melumat bibir Elana tanpa ampun, menuntaskan kerinduan yang semalam tak bisa dituntaskan dalam ciuman yang luas biasa panas dan lama.


Ketika pertautan bibir mereka terlepas kemudian, napas keduanya sama-sama terengah dilanda badai hasrat. Tetapi, Akram sepertinya masih belum puas. Lelaki itu bergerak, menyusuri sisi leher Elana dengan bibirnya, berhati-hati supaya tidak menyentuh memar bekas cekikan yang sudah sangat memudar di sana. Akram lalu memagut kulit pucat di lekuk antara leher dan pundak Elana dalam kecupan panjang yang posesif.


Ketika Akram melepaskan pagutannya, jejak merah gelap langsung tercetak di sana. Akram mengusap bekas pagutannya itu dengan ibu jari dan senyum puas nan kurang ajar langsung menghiasi bibirnya.


"Kurasa kau sudah siap untuk bertemu Xavier," ujarnya dengan nada suara penuh kemenangan.


Elana membelalakkan mata sementara napasnya masih terengah.


"Kau... kau melakukan ini...hanya untuk memprovokasi Xavier?" tanyanya dengan nada mencela.


Akram tersenyum lebar sementara tangannya bergerak memencet tombol lift tersebut hingga lift itu bergerak naik kembali.


"Tentu saja tidak," Akram sedikit menjauh dari Elana, memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk merapikan kembali pakaian dan rambutnya yang kusut karena tangan Akram yang sibuk bergerilya ketika mereka berciuman tadi. "Aku melakukannya karena aku memang ingin mencium dan menandaimu sebagai milikku. Memprovokasi Xavier hanyalah bonus yang menyenangkan," sahut Akram dengan nada kurang ajar yang tanpa dosa.


Elana mendengkus. Ditatapnya Akram setengah mencibir. Tetapi, tidak ada satu kalimatpun yang berhasil keluar dari bibirnya.


.


Dua kakak beradik ini sesungguhnya sama saja, satu sama lain saling mencari kesempatan untuk memancing kemarahan dan memprovokasi. Sayangnya, Elanalah yang menjadi korban, terjebak tak berdaya di tengah-tengah dua tiran yang berseteru.


Ketika denting lift terdengar dan pintu lift terbuka, Elana langsung melangkah buru-buru meninggalkan Akram dan keluar dari lift, berusaha menunjukkan sikap bahwa dia sedang jengkel dengan lelaki itu.


Tetapi, langkahnya kemudian berhenti mendadak karena ada sosok lain yang berdiri di hadapannya, hampir saja ditabraknya.


Elana mendongakkan kepala, dan tatapannya langsung bertemu dengan mata Xavier Light yang tajam. Lelaki itu memegang ponsel di tangannya, sementara matanya memindai Elana dengan saksama. Alisnya terangkat melihat bibir Elana yang merekah ranum menggoda yang sudah jelas baru saja dilumat tanpa ampun. Pandangannya juga semakin menajam melihat bekas ciuman baru yang tampak begitu nyata di lekukan leher Elana.


Tak lama kemudian, Akram menyusul di keluar dari belakang lift dan berdiri di belakang Elana, membuat seringaian lebar langsung terukir di mulut Xavier.


"Hampir saja aku menelepon dan turun dari sini hendak mencari asistenku yang tak kunjung datang padahal jam kerja sudah hampir dimulai. Tak kusangka ternyata ada bos otoriter yang menyelewengkan kekuasaan dan sengaja menahannya," ujar Xavier kemudian dengan nada menyindir penuh ejekan yang dengan sengaja langsung ditujukannya ke arah Akram.


***



***



***



***

__ADS_1



__ADS_2