Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 60 : Penyesalan


__ADS_3


Pernyataan mengancam itu diucapkan dengan dengan nada getir penuh ironi berbalut kekejaman, hingga Elana mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan ngeri.


"A... apa maksudmu, Akram?" tanya Elana dengan gugup. Firasat buruk merayapi benaknya, menggukirkan nyeri samar yang mengalir di sepanjang tulang punggungnya.


Akram... hendak menjadikan Nolan yang tak berdosa sebagai sandera untuk menahan kebebasannya?


Akram menyeringai. Kali ini lelaki itu seolah tak ingin menahan-nahan kemarahannya lagi, membuat geramannya ketika berbicara terdengar semakin mengerikan.


"Apakah perlu kujelaskan kepadamu betapa menariknya tawaran yang diberikan oleh Xavier kepadamu? Dia memberimu tawaran yang menggiurkan, bukan?" Akram bergerak maju, setengah membungkuk di atas Elana dan mencengkeramkan kedua tangannya di sisi pundak kiri dan kanan Elana lalu menggucangnya sedikit. "Hidup baru tanpaku, hidup baru yang penuh dengan kebebasan, mendapatkan identitas baru, dan jaminan perlindungan dari jangkauanku. Itukah yang kau inginkan, hah?" Akram berseru marah dalam kobaran emosi yang mengerikan.


"Kau... kau tahu?" mata Elana mengerjap oleh syok yang amat sangat. Tidak menyangka bahwa Akram ternyata telah sudah mengetahui kebohongannya.


Jadi... itukah yang menyebabkan Akram sangat murka sejak pagi tadi?


"Sekarang setelah aku tahu, kau baru mengaku? Apa yang sebenarnya ada di benakmu, Elana? Apakah selama ini kau masih terus berharap untuk kabur dan melepaskan diri dariku? Setelah semua yang kulakukan untukmu? Setelah semua perhatian yang. kuberikan hanya bagimu?" jemari kuat Akram yang mencengkeram pundak Elana semakin mengencang hingga terasa sakit. "Apakah itu yang diajarkan untukmu waktu kecil? Ah, aku lupa, kau adalah anak yatim yang tidak memiliki orang tua untuk mengajarimu, pantas saja kau tumbuh menjadi orang yang tidak tahu terima kasih!"


Nada suara di dalam kalimat Akram begitu kental oleh penghinaan yang memang dimaksudkan untuk menyakiti Elana. Pipi Elana merah padam ketika kalimat itu terasa menusuk dan mengkoyak harga dirinya hingga dia tak bisa menahan tangannya terayun lalu menampar pipi Akram sekeras dia bisa.


"Tahu terima kasih? Menurutmu apa yang harus kulakukan sebagai seorang perempuan yang diperkosa, disekap dan ditahan oleh kearogananmu yang menindas? Apakah aku harus berterima kasih karena itu? Apakah aku harus berterima kasih karena kau, seorang Akram Night, bersedia memakai tubuhku sebagai barang properti untuk mememuaskan nafsumu? Apakah aku harus berterima kasih karena kau menggunakanku layaknya wanita murahan yang tak punya harga diri?" mata Elana basah oleh air mata sementara napasnya tersengal menahan emosi ketika dengan suara gemetar dan terbata dia berusaha melanjutkan kalimatnya.


"Aku memiliki kehidupanku sendiri, aku memiliki rancangan masa depan dan mimpi-mimpi idealku sendiri. Aku ingin membentuk keluarga kecil yang sederhana di masa depan, tak perlu kaya raya tetapi bisa bahagia bersama suami yang mencintaiku, juga anak-anak yang menjadi hartaku paling berharga. Lalu kau tiba-tiba datang, merangsek masuk, merenggutku dari semua itu, menghancurkan semua mimpiku, kemudian melemparkanku ke titik terendah di atas ranjangmu sebagai mainanmu! Perempuan mana yang akan berterima kasih atas itu semua?" teriak Elana membidas tuduhan Akram, meluapkan seluruh perasaan yang bergolak di dalam jiwanya.


Sayangnya, kemarahan Elana malahan semakin menyulut bara kemarahan Akram hingga meledak, berubah menjadi kemurkaan tak terperi. Lelaki itu dengan kasar membuka pembatas kedap suara antara kursi penumpang dan kursi supir, lalu meminta supirnya keluar dari mobil. Setelahnya, Akram kembali lagi ke sisi Elana dan mencengkeram perempuan itu lebih kuat daripada yang seharusnya, kehilangan kendali akibat luapan kemarahan yang membakarnya dari dalam.


"Aku tidak pernah memperlakukanmu seperti mainanr! Aku selalu memperlakukanmu layaknya orang yang kukasihi! Meskipun aku tak pernah mengatakannya, apakah kau sama sekali tidak menyadarinya? Apakah meskipun setitik saja, kau tak pernah merasakan... " suara Akram tersekat di tenggorokkan, membuat lelaki itu menghentikan kalimatnya.


Ekspresi Akram sendiri tampak gelap berbahaya ketika lelaki itu kembali mendesiskan kalimat ancamannya. Matanya menusuk Elana dengan niat kejam hingga membuat Elana gemetar ketakutan tanpa bisa ditahan.


"Kau sepertinya sangat terobsesi untuk menganggap dirimu sebagai mainanku. Baik! Akan kutunjukkan padamu bagaimana sesungguhnya caraku memperlakukan mainanku, hingga ketika aku selesai nanti, kau akan tahu perbedaannya dan bisa bersyukur atas betapa istimewanya perlakuanku kepadamu selama ini!"


***



***


Ketika Akram melepaskan dirinya, tubuh Elana langsung bergeser menyingkir dan meringkuk di sudut terjauh dari lelaki itu. Pipinya basah oleh air mata sementara tangannya bergerak untuk memeluk dirinya sendiri, menahan guncangan tubuhnya yang bergetar oleh isak tangis keras yang tak mau bergenti.


Penampilannya sungguh tak karuan.. Lelaki itu sungguh-sungguh menunjukkan perlakukan kasar dan memperlakukan Elana layaknya perempuan rendahan yang diambil dari jalanan


Sekarang, apalagi yang bisa menjadi kekuatan Elana untuk mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan penuh harga diri? Lelaki itu telah menginjak-injanya dengan kejam, menghancurkannya hingga Elana benar-benar merasa direndahkan yang serendah-rendahnya.

__ADS_1


Akram mengerutkan keningnya sampai dalam, berusaha menetralkan napasnya sendiri. Sekarang, setelah dia meluapkan kemarahannya pada tubuh Elana, melakukan sesuatu yang amat sangat disesalinya setelahnya, kemarahannya jadi lenyap tanpa jejak dan hatinya terasa hampa dan kosong. Seolah-olah ada tangan raksasa yang merogoh ke dalam sana, lalu merenggut isi hatinya dengan gerakan kasar yang menyakitkan.


Akram tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tetapi, dia bisa memahami rasa ini dengan baik. Sebuah rasa asing menusuk yang membuatnya sesak tiada terperi. Sebuah rasa penyesalan.


Akram tidak bermaksud memperlakukan Elana sekasar itu, tetapi penyesalan memang selalu datang terlambat dan Akram terlanjur dia memaksakan kembali kehendaknya dan melukai tubuh rapuh Elana yang seharusnya diciptakan untuk dicintai.


Perlahan Akram menjumput kembali jasnya yang terlempar begitu saja di lantai mobil. Tatapannya ragu ketika memandang Elana yang meringkuk membelakanginya di sudut mobil, seolah-olah bentangan jarak dari kursi penumpang ini masih kurang jauh bagi Elana untuk menjauhi Akram.


Akram mendekat perlahan, lalu melingkupkan jasnya ke pundak Elana untuk menutupi pakaiannya yang terkoyak. Hatinya terasa sakit ketika mendapati tubuh Elana langsung berjingkat karena sentuhannya, seakan perempuan itu ketakutan disentuh olehnya.


"Maafkan aku," Akram berbisik dengan suara parau, menyuarakan permohonan maaf dari dalam hatinya.


Elana bergeming, perempuan itu tetap di posisinya semula, meringkuk membelakangi Akram tanpa sudi menolehkan kepala untuk melihat wajah Akram.


***



***


Mengingat kondisi Elana dan juga perjalanan kembali ke apartemen dari area pinggiran kota yang masih memerlukan waktu tempuh selama beberapa jam, Akram akhirnya meminta supir untuk mengantarkan mereka ke salah satu hotel yang berada di bawah naungan Night Coorperation yang kebetulan terletak dekat dengan pinggiran kota.


Servis khusus tentu diberikan terhadap pemilik perusahaan, dengan manager hotel yang menyambut khusus di pintu lift privat yang langsung terarah ke area president suite di lantai satu lantai tertutup yang terletak di bagian paling atas hotel tersebut.


Elana tidak menolak ketika Akram merengkuhnya dalam gendongan dan membawanya melalui lift untuk masuk ke kamar hotel tersebut. Tetapi, ketika mereka berdua telah memasuki kamar hotel yang tertutup, Elana langsung meronta dari pegangan Akram, meminta diturunkan dari gendongan dan langsung melangkah mundur menjauh begitu menjejakkan kakinya di karpet hotel yang tebal.


Elana langsung berjingkat mendengar suara panggilan Akram, seolah-olah tengah tersambar api. Tubuhnya refleks meloncat mundur untuk menghindar, sementara tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri, seolah ingin melindungi dirinya dari serangan Akram.


Ketika Akram membeku melihat reaksi Elana terhadapnya, Elana langsung mengambil kesempatan itu untuk membalikkan tubuh, lalu berlari menuju pintu kamar mandi dan membanting pintu itu menutup sebagai batas pelindung antara dirinya dengan Akram.


Bersandar di pintu kamar mandi itu, tubuh Elana jatuh rubuh ke lantai dan dia meringkuk dengan hati yang begitu sakit tak terperi. Lengan Elana bergerak memeluk lutut, sementara kepalanya ditenggelamkan di sana, menahan tubuhnya yang terguncang hebat karena tangisan yang membanjir tanpa bisa ditahan lagi.


***



***


Akram berdiri di depan pintu kamar mandi. Keningnya disandarkan di sana, sementara kedua telapak tangannya memegang pintu kamar mandi tersebut dengan tak berdaya.


Tangisan Elana begitu keras sehingga suara isakannya terdengar menembus pintu kamar mandi, sampai ke telinga Akram dan langsung menusuk ke dalam jiwanya. Setiap suara isakan tersedu perempuan itu menghajar Akram dengan hebat, bahkan terasa lebih menyakitkan dari tamparan paling keras sekalipun yang bisa diberikan oleh Elana dengan tangannya.


Lama kemudian, Akram masih berdiri di tempat yang sama, menunggui Elana yang masih menangis, sementara dia sengaja mendera dirinya sendiri dengan siksaan rasa bersalah. Lalu, ketika isak tangis itu tak terdengar lagi dan keheningan tiba-tiba membentang di dalam sana, jantung Akram berdebar kencang ketika dia memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan oleh Elana di dalam sana.

__ADS_1


Ada cermin di dalam kamar mandi itu... bagaimana jika Elana berbuat nekat seperti dulu ketika dia memaksakan kehendaknya pada perempuan itu, lalu sekali lagi melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat nadinya menggunakan pecahan cermin?


Akram langsung menajamkan telinganya, berusaha mendengarkan petunjuk dari dalam sana, entah suara gerakan, entah suara pecahan kaca, entah suara apapun yang bisa ditangkap oleh telinganya.


Tetapi, dia tidak bisa mendengar apa-apa.


Dengan cemas, Akram memukul pintu kamar mandi menggunakan tinjunya. Menggedornya keras untuk menarik perhatian Elana di dalam sana.


"Elana! Jangan coba-coba melukai dirimu sendiri," Akram berseru dengan suara mengancam. "Kau harus ingat bahwa nyawa adikmu ada di tanganku. Jika kau sampai melukai dirimu sendiri, aku akan membuat kehidupan adikmu menderita di dunia ini!" Akram terpaksa menggunakan ancaman untuk menundukkan Elana. Baginya, lebih baik mereka hidup bersama biarpun dia harus dibenci oleh perempuan itu, daripada harus menanggung kehidupan sendiri dengan Elana yang mati bunuh diri meninggalkannya sendirian di dunia ini.


Hening. Tidak ada suara dari kamar mandi, membuat Akram dilanda kepanikan tidak terkira.


Tak ada cara lain selain menghancurkan pintu yang menghalangi mereka berdua. Akram akhirnya bergerak untuk menyiapkan pistolnya. Tetapi, di detik dia akan mengeluarkan pistol untuk menembak pintu kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara shower air dinyalakan, menandakan bahwa Elana masih sadar dan baik-baik saja di dalam sana.


Akram menghela napas panjang, sekali lagi menyandarkan kepalanya di pintu kamar mandi dengan perasaan campur aduk. Setelahnya, menyadari bahwa masih butuh beberapa lama sampai Elana selesai membersihkan diri, Akram bergerak menjauh dari pintu itu dan melangkah untuk membuka pintu minibar yang tersedia di dalam hotel bintang lima tersebut. Rak-rak yang terdapat dalam minibar itu telah terisi lengkap dengan berbagai jenis minuman yang disesuaikan dengan seleranya.


Akram mengambil brandy, mengisi gelas kristal yang tersedia di tangannya dengan es batu, lalu menuang brandy itu ke gelas, menggoyangkan gelasnya supaya nuansa dingin dari es menyatu dengan brandy yang berwarna keemasan tersebut. Setelahnya, Akram menyesap brandy dingin itu dengan putus asa. Dia lalu melangkah duduk di sofa besar yang terletak di dekat ranjang, menyandarkan kepalanya ke punggung sofa dan menempelkan gelas brandy yang berembun itu ke dahinya, seolah-olah dengan berbuat itu dia bisa mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan pening.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Elana melangkah keluar dengan rambut basah dan tubuh lembab. Mata Elana terlihat sembab tapi sekarang perempuan itu sudah tak menangis lagi.


Akram langsung meletakkan gelas brandy ke meja dan bergegas melangkah berdiri, menghadang langkah Elana yang hendak menuju ranjang.


Seketika Elana menghindar, melangkah ke samping untuk melewati tubuh Akram tanpa mau bersentuhan dengannya. Tangan Akram yang tak mau menerima penolakan bergerak mencoba menangkap Elana, tetapi perempuan itu terus meronta dan memberontak, membuat Akram menghela napas panjang dan akhirnya terpaksa menggunakan kekuatannya untuk merangkul tubuh Elana dari belakang dan memeluknya erat-erat.


"Tidak!" Elana menjerit sementara tangannya yang rapuh berusaha melepaskan diri dari pelukan Akram dengan percuma, karena tentu saja kekuatan seorang perempuan bertubuh mungil sepertinya tak akan sebanding dengan kekuatan Akram yang bertubuh jauh lebih kuat darinya. "Tidak!... lepaskan aku.... jangan sentuh aku!" Elana berseru dengan suara terbata bercampur isakan. Ada ketakutan yang bergulir di nada suaranya yang sekali lagi menghujam Akram dengan perasaan bersalah.


"Tidak! Tidak! Aku tak akan melepaskanmu," Akram berucap lembut tetapi tegas, tangannya bergerak semakin merapatkan perempuan itu ke tubuhnya, sementara kepalanya tenggelam di rambut Elana, berusaha menenangkan perempuan itu dari kepanikannya. "Aku tidak akan melepaskanmu Elana, tidak akan. Kau sudah menjatuhkanku ke dalam lubang dalam yang menyiksa dan aku memutuskan untuk menahanmu bersamaku di sana, kau dan aku, kita tenggelam bersama-sama. Aku tak akan pernah melepaskanmu. Kau dengar itu? Kau akan terjebak bersamaku, menjadi milikku, selamanya!" Akram bergumam penuh janji di telinga Elana, berusaha membuat perempuan itu mengerti bahwa sekuat apapun dia meronta dan berusaha melarikan diri, Elana tetap akan berakhir di dalam peluknya.


Lalu tubuh Elana melunglai ketika kata-kata Akram yang tak terbantahkan itu menembus ke dalam hatinya. Segala usaha perlawanannya punah sudah, membuat seluruh tenaga yang mengalir di tubuhnya menghilang seolah dilolosi.


Elana sudah pasti akan jatuh ke lantai kalau Akram tidak menahannya dalam pelukan. Dan di detik itu juga, tangis Elana kembali pecah, tersedu-sedu keras seperti anak kecil yang tersesat dan kehilangan orangtuanya.


"Shh.. jangan menangis, maafkan aku, maafkan aku kucing mungil," Akram mengecup pelipis Elana, membalikkan tubuh perempuan itu ke dalam peluknya, lalu mengangkatnya ke dalam gendongan dan membawanya ke ranjang.


Dibaringkannya tubuh Elana membelakanginya, sementara dirinya menyusup ke belakang perempuan itu, menarik Elana supaya punggung Elana merapat ke dadanya, memerangkap kaki Elana dengan kakinya, lalu menyusupkan lengannya ke bawah lengan Elana untuk merangkulnya erat di dalam pelukan.


Dibiarkannya Elana terus menangis menumpahkan perasaannya, sampai akhirnya perempuan itu jatuh tertidur karena kelelahan.


Akram merasakan tubuh Elana yang lunglai di peluknya dan menyadari bahwa napas Elana sudah naik turun dengan teratur di dadanya. Isaknya sudah memudar pun dengan air matanya yang telah berhenti mengalir. Tangan Akram bergerak mengusap air mata Elana, membasahi jarinya dengan luapan kesedihan perempuan itu. Mata Akram terpejam, menenggelamkan kepalanya ke kehangatan tubuh Elana, menghirup aroma manis perempuan itu untuk menenangkan dirinya sendiri.


Elana selalu menganggapnya sebagai penjahat berhati kejam yang terus menerus memaksakan kehendak terhadapnya. Tidakkah Elana menyadari bahwa ketika Elana tengah menangis, hati Akram juga ikut menangis?


***

__ADS_1


***



__ADS_2