
Ketika Elana membuka mata, dirinya langsung bertatapan dengan Akram. Lelaki itu tidak sedang memejamkan mata, melainkan tengah duduk bersedekap di atas kursi yang diseretnya hingga hampir menempel di tepi ranjang, menyelonjorkan kaki dan mengawasi Elana dengan kilau matanya yang tajam.
Ekspresi Akram sungguh tak terbaca, tetapi entah kenapa, Elana bisa merasakan aura muram yang menguar dari tubuh lelaki itu.
Seolah-olah… Akram sedang marah?
Memandang ke sekeliling, Elana memastikan bahwa dia sudah benar-benar terbebaskan. Nuansa hitam berpadu cokelat yang menghiasi kamar dengan dekorasi minimalis ini tentu sudah sangat dikenalinya. Ini adalah kamar Akram.
Elana menghela napas pendek-pendek, tiba-tiba kebingungan dengan keanehan yang merayapi jiwanya. Sungguh hebatnya perasaan manusia itu bisa terbolak-balik dalam sekejap tanpa bisa dikendalikan. Dahulu, Elana sungguh sangat ingin melarikan diri dari tempat ini, dari kamar ini. Tetapi sekarang, setelah dia mengalami penculikan mengerikan dan percobaan rudapaksa oleh seorang lelaki jahat yang tak dikenalnya, betapa bersyukurnya Elana saat ini karena dia bisa berada di dalam kamar ini lagi.
Apakah itu berarti bahwa dirinya sudah tak ingin melarikan diri dari Akram lagi? Benarkah itu? Benarkah saat ini dia malah mensyukuri dimiliki oleh Akram dan pasrah saja dijadikan perempuan simpanan oleh lelaki itu, lalu melupakan harga dirinya sebagai seorang perempuan yang dinjak-injak?
Pertanyaan yang menggayuti jiwanya tersebut membuat Elana mengerutkan kening dalam. Batinnya bergejolak, sementara sekeras apapun dia berpikir, dia tak sanggup menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan rumit yang terasa mengganggu itu.
“Apakah kau merasa sakit?” Akram tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan bergeser duduk di tepi ranjang. Tatapan matanya menyiratkan khawatir ketika Elana memaksakan diri untuk bangkit dari posisinya berbaring dan duduk di atas ranjang.
Ekspresi kesakitan tak mungkin bisa dihilangkan dari wajah Elana. Sekarang, setelah dia terbangun dari tidurnya yang entah berapa lama, memar-memar di tubuhnya bukannya semakin membaik, malahan semakin memburuk. Bukan hanya warnanya yang semakin gelap mengenaskan, tetapi juga rasa sakit berdenyut yang menyerang seluruh permukaan tubuhnya terasa begitu menyiksa ketika digerakkan.
Mata besar Elana bersirobok dengan mata cemas Akram. Tiba-tiba saja hatinya terlembutkan ketika menyadari bahwa lelaki itu benar-benar tulus mencemaskannya.
“Apakah kau pusing? Sakit di sekujur tubuhmu? Nathan meresepkan obat penghilang sakit, kau mau meminumnya?” tanpa menunggu reaksi Elana, Akram meraih gelas minuman dan obat yang telah disiapkannya dari atas nakas, langsung disodorkannya ke depan Elana.
Elana tidak menolak, dia tahu bahwa saat ini tidak ada gunanya berpura-pura kuat, tubuhnya membutuhkan bantuan penghilang sakit itu. Kalau tidak, dia akan didera siksa yang menyakitkan terus-terusan. Diterimanya obat itu dan dimasukkan ke mulutnya. Ketika Akram menyodorkan air minum itu kepadanya, Elana pun meminumnya tanpa suara.
Setelahnya, Akram meletakkan gelas yang dipegangnya kembali ke nakas. Lelaki itu sudah menggeser tubuhnya dekat sekali dengan Elana, hingga wajah Elana hanya sejangkauan tangan saja dari dirinya. Tangan Akram bergerak menyentuh helaian rambut di pelipis Elana, dengan lembut menyelipkannya kembali ke belakang telinga perempuan itu.
“Segera setelah obat itu bereaksi, kau akan mengantuk. Beristirahatlah lagi,” ucapnya perlahan, sedikit menyelipkan nada memerintah di dalamnya.
Elana menganggukkan kepala. Matanya mengawasi wajah Akram dan keningnya berkerut kembali. Entah apa yang salah, tetapi… Akram tampak sedikit berbeda dari biasanya. Elana mencoba mempelajari lelaki itu, sayangnya Akram seolah memasang tameng tak tertembus di wajahnya yang membuat Elana tidak bisa menebak apa sebenarnya yang terjadi pada lelaki itu hingga membuat aura arogannya yang biasanya berkobar, sekarang tampak menghilang.
Seolah-olah lelaki itu sedang marah, bukan kepada siapapun melainkan kepada dirinya sendiri....
Elana memiringkan kepala, tiba-tiba menyadari wajah Akram yang sedikit pucat. Ingatannya langsung berkelebat, menampilkan gambaran ketika Dimitri menembak bahu Akram dan membuatnya jatuh rubuh terluka parah.
Astaga. Begitu banyaknya ketakutan yang menimpa dirinya sehingga dia melewatkan ingatan itu. Lelaki ini baru tertembak kemarin dan sudah datang sendiri untuk menyelamatkannya. Lalu, ketika dia terbangun tadi, bukannya sedang beristirahat, Akram malahan duduk di kursi samping ranjang mengawasi dirinya.
Sikap Akram seolah-olah mengkhawatirkan kesakitan Elana. Tetapi, tidakkah lelaki itu juga sakit?
“Kau… kau tertembak,” Elana berucap terbata. Kali ini ganti matanya yang menatap khawatir terhadap Akram. “Dada kirimu… apakah… apakah sakit? Bagaimana…,” suara Elana bercampur aduk karena hatinya bergemuruh oleh kekhawatiran.
__ADS_1
Sementara itu, Akram membalas sikapnya dengan senyum teduh menenangkan. “Aku tidak apa-apa. Tidakkah kau lihat kalau aku baik-baik saja?” ucapnya balas bertanya.
Elana menelan ludah. Kecemasannya tentu saja tidak bisa dibunuh begitu mudahnya hanya dengan kata-kata. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, barulah dia merasa yakin.
“Di… dimana tertembaknya? Bolehkah… bolehkah aku melihatnya?” mata Elana masih terpaku di dada kiri Akram tempat dimana dia ingat telah ditembak oleh Dimitri. Tetapi, saat ini tentu saja Elana tidak bisa melihat kondisi sebenarnya dari Akram, karena luka tembakan itu tertutup oleh pakaian yang dikenakannya.
Elana tahu bahwa Akram selalu mengenakan rompi anti peluru demi keamanan, apalagi saat itu, Akram sedang berkunjung ke rumah Xavier yang notabene dia anggap sebagai musuh. Tetapi, apa yang dikatakan Dimitri tentang betapa berbahayanya senjata yang dia tembakkan tentulah bukan omong kosong. Darah yang memuncrat deras dari tubuh Akram yang rubuh segera setelah Dimitri menembakkan senjatanya, membuktikan itu semua.
Entah bagaimana, peluru itu sudah pasti telah menembus lapisan anti peluru yang dikenakan oleh Akram dan melukainya. Itulah jawaban kenapa wajah Akram tampak sedikit pucat. Lelaki ini pasti telah kehilangan banyak darah akibat tembakan tersebut!
“Ini bukan apa-apa, aku sudah pernah tertembak beberapa kali sebelumnya, kau tentu juga menyadari itu, bukan?” Akram bertanya dengan nada sensual, merujuk pada ketelanjangannya saat mereka bercinta dan bagaimana Elana mengawasi bekas-bekas tembakan di tubuh Akram, tetapi sama sekali tidak berani bertanya.
Pipi Elana memerah, walaupun begitu, dia tidak menyerah dan memohon untuk bisa melihat luka Akram dengan mata kepalanya sendiri.
“Ku… kumohon, aku ingin melihatnya,” bisik Elana perlahan, menatap Akram dengan mata lebarnya yang biasanya selalu bisa mencairkan lelaki itu.
Akram menghela napas panjang. “Tak ada yang bisa dilihat, Nathan sudah membebatnya dengan kuat dan…”
“Kumohon…” Elana menyela cepat, kali ini nadanya bahkan lebih memelas dari sebelumnya.
Akram kembali menghela napas, akhirnya menganggukkan kepala. Perempuan ini hampir tak pernah meminta apapun kepadanya. Dan sekarang, ditatap oleh mata besar layaknya anak kucing terlantar di tengah hujan itu, bagaimana Akram bisa tahan?
“Baiklah,” tangan Akram meraih kancing kemejanya untuk membuka pakaian dan mengabulkan permintaan Elana. “Ingat. Ini bukan luka parah dan aku tidak apa-apa. Rasanya tidak sesakit yang terlihat, oke?” bisiknya pelan, menatap lekat mata Elana sambil membuka kemejanya, menampilkan tubuhnya yang keras berotot, dengan perban tebal yang dibebat kuat di pundak dan lengan, serta melingkari dadanya.
“Kau… kau berdarah….” Elana berucap dengan kesedihan yang nyata. Matanya terasa panas sementara pangkal hidungnya seolah terbakar, tersambar api yang merayap naik dari tenggorokannya. “Rasanya pasti sakit sekali…. Darahnya… darahnya masih belum berhenti…” guliran bening air mata langsung jatuh menuruni pipi Elana tanpa bisa ditahan.
“Ini salahku. Aku terlalu banyak bergerak, mungkin jahitannya terbuka sedikit. Pelurunya menembus keluar dari punggungku, jadi pendarahan semacam ini sudah biasa, tidak ada yang perlu kau cemaskan, Elana,” jemari Akram bergerak mengusap buliran air mata perempuan itu. “Kenapa kau menangis?” tanyanya kemudian.
Elana terisak. Tenggorokannya terasa panas dan pita suaranya seolah terpilin sehingga dia kesulitan mengeluarkan suara. Sementara itu, air matanya tak kunjung berhenti mengalir meski Akram telah mengusapnya lagi dan lagi.
“Kau… karena aku disandera maka kau terpaksa berlutut dan membiarkan Dimitri menembakmu. Ma… maafkan aku,” bisik Elana sedih. “Aku juga membuatmu kehilangan perusahaan senjatamu. Kau… kau dan Xavier menyerahkannya kepada Dimitri tanpa perlawanan… kau kehilangan banyak hal hanya untuk menyelamatkanku….”
“Hanya untuk menyelamatkanmu?” Akram tersenyum penuh ironi seolah menyimpan kejengkelan di benaknya. “Musuhku pernah berkata kepadaku bahwa dirimu, sangat tidak cocok ketika disandingkan dengan kata ‘hanya’, Elana,” Akram tentu saja merujuk pada Xavier dan kalimat celaan yang saat itu menohok jiwanya. “Kau cukup berharga bagiku hingga aku rela memberikan apapun untuk menahanmu tetap di sampingku, tidakkah kau menyadarinya?” tangan Akram bergerak kembali dan mengusap pipi Elana dengan kelembutan tak terperi. “Hentikan air matamu ini, sekarang kita berdua sudah berhadapan, kau hidup, aku hidup. Apalagi yang perlu di tangisi? Buang rasa bersalahmu. Yang terjadi kali ini bukan karena kesalahanmu, tetapi karena aku memang memiliki banyak musuh yang ingin mengambil keuntungan dariku. Kau hanyalah makhluk mungil tak bersalah yang terjebak di tengah-tengah pertarungan dua makhluk besar dan terluka pada prosesnya. Akulah yang seharusnya memohon maaf kepadamu.”
“Tapi…kau terluka dan mengalami kerugian… dan aku…” Elana masih bersikeras, masih bertahan dengan rasa bersalah kuat yang melingkupi batinnya. Mulutnya sendiri sudah bersiap melontarkan seluruh kalimat sanggahan yang menggema di kepalanya. Tetapi, hanya dengan satu gerakan saja, Akram telah berhasil menghentikan semuanya.
Lelaki itu menciumnya.
Bukan dengan ciuman penuh gairah atau kerinduan menggebu, tetapi dengan ciuman yang sangat lembut.
Di detik Elana memejamkan mata, di detik itulah dia menyerahkan dirinya kepada Akram.
__ADS_1
Akram langsung menghentikan ciumannya dan mengangkat kepalanya, tatapan mata lelaki itu tampak berkabut seolah ingin memiliki Elana seketika itu juga tetapi dikekang oleh rasa bersalah menyiksa. Masih ada pengendalian diri tipis yang tersisa di sana, begitu rapuh seolah akan langsung hangus menjadi abu kalau Elana menyentuhnya.
“Aku tidak bisa …. Kau sedang sakit… seluruh tubuhmu memar dan aku…” Akram mengeluarkan suara erangan tersiksa. Lelaki itu mengekang hasratnya begitu kuat hingga terasa nyeri dari pusat dirinya yang menyebar ke sekujur tubuhnya. Dia harus bergegas pergi dari tempat ini, mengalihkan perhatiannya dengan hal lain, atau langsung berendam di air dingin. Apapun itu, yang pasti jangan sampai dia bersikap seperti lelaki barbar dan menyerbu Elana di saat perempuan itu belum sembuh benar.
Tetapi, seolah-olah situasi belum mau berbaik hati kepadanya. Bukannya membiarkannya beranjak pergi, tangan rapuh Elana malahan menyentuh tangan Akram, seolah ingin menahannya.Akram menoleh kembali ke arah perempuan itu, menatap Elana dengan penuh peringatan.
“Lepaskan aku atau aku akan menyerbumu tanpa peduli kesakitanmu,” ancamnya kuat dengan harapan Elana ketakutan karenanya.
Tetapi, harapannya berujung kesia-siaan. Elana malah menengadah, menatapnya dengan mata lembut. Perempuan itu malah seperti meminta diserang, meskipun Akram tahu bahwa Elana tidak melakukannya dengan sengaja.
Benar, bukan? Elana tidak mungkin sedang sengaja meminta untuk diserang oleh dirinya, bukan?
Bibir Elana gemetaran ketika berucap, seolah-olah perempuan itu sedang didera malu luar biasa. Ketika kalimatnya akhirnya terlontar dari sana, suaranya pelan sekali sehingga Akram harus menajamkan telinganya supaya bisa mendengar dengan jelas.
“Aku…. Obatnya sudah bereaksi… aku tidak merasa sakit,” wajah Elana merah merona ketika dia berhasil mengucapkan kalimatnya. Sebuah kalimat sederhana yang membuat Akram malahan terpaku seperti orang bodoh.
“Apa katamu?” Akram tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Bukan karena dia tidak mendengar apa yang dikatakan Elana dengan jelas, tetapi lebih karena dia tidak yakin dengan maksudnya.
Kali ini nuansa merah sudah merambat ke leher Elana, membuatnya begitu menggemaskan dan begitu menggoda untuk disentuh.
“Aku… tidak sakit…. Kalau kau mau… kau boleh…” suara Elana tertelan di tenggorokan seiring dengan seluruh keberaniannya yang menghilang. Perempuan itu memalingkan kepala dengan gugup, tidak mau lagi menatap mata Akram seolah rasa malu yang luar biasa telah menelan dirinya hingga tak bersisa. “Lu… lupakan saja… kalau kau tidak mau, kau boleh pergi,” ucap Elana terbata akhirnya.
Akram sendiri jadi terpana seperti orang bodoh. Berusaha mencerna kalimat Elana, tetapi ketika dia sudah berhasil, ketidakpercayaan malah melingkupi jiwanya.
Elana tidak pernah meminta bercinta. Bahkan bisa dibilang, perempuan itu tidak pernah memberikan izin dengan tulus ketika Akram bercinta dengannya. Tetapi sekarang…. Perempuan itu…
Akram menelan ludah ketika kehilangan kendali diri.
“Tentu saja aku sangat ingin bercinta denganmu, aku hampir gila karena tak bisa menyentuhmu, karena tak ada kau disampingku,” Akram langsung bergerak dan membawa Elana kembali ke dalam pelukannya.
***
***
__ADS_1