Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 133 : Serangan Tak Terduga


__ADS_3


Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.


Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


***



***



***



***


Author akan update episode tamat novel ini di hari Kamis 12 Desember 2019. Semoga bisa lolos di hari yang sama ya, kalau tidak mungkin baru akan lolos di hari jumat 13 Desember 2019. Terima kasih telah menemani Akram dan Elana dari awal sampai menjelang akhir. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua.



***



***


Karena malam sudah semakin larut menjelang dini hari. Xavier bisa sampai di rumah sakit tepat waktu tanpa harus menghadapi kemacetan yang biasanya memenuhi sepanjang jalur menuju rumah sakit yang terletak di pusat kota itu.


Dia tidak memilih memarkirkan mobilnya di basement, melainkan menyerahkannya kepada petugas valet parkir untuk membantu  memarkirkan mobilnya di area khusus valet demi menghemat waktu.


Parkiran rumah sakit swasta paling besar di ibukota ini memang selalu penuh, menunjukkan betapa banyaknya konsumen manusia yang menderita di sini, sehingga kadang untuk mencari satu tempat parkir kosong pun, harus berputar-putar mengelilingi sepuluh basement di lantai bawah rumah sakit ini.


Dengan langkah ringan, Xavier melangkah menaiki tangga, lalu memasuki pintu kaca bening yang langsung menghubungkan dengan area lobby dan resepsionis.


Suasana di dalam tampak masih hidup dengan orang yang berlalu lalang seolah tak pernah tidur. Para petugas resepsionis masih berjaga di shift malam mereka, pun dengan petugas keamanan dan juga para penunggu pasien yang masih tampak berlalu lalang untuk sekedar duduk-duduk di kursi, ataupun keluar masuk dari area supermarket berukuran tanggung yang buka selama dua puluh empat jam di lobby rumah sakit tersebut.


Xavier mencari sudut paling aman untuk mengamati, memasukkan tangannya ke saku celana dan mulai merasakan seberkas rasa tak nyaman ketika menyadari bahwa masih banyak manusia terjaga yang berlalu lalang di area lobby ini.


Dirinya memang tak pernah merasa nyaman ketika ada begitu banyak orang asing di sekelilingnya…


Xavier menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk bertanya kepada penjaga keamanan mengenai  keberadaan lokasi ruang lounge VVIP yang kata Akram berada di lobby ini.


Penjaga keamanan terdekat langsung mengubah ekspresi wajahnya ketika Xavier bertanya. Lelaki itu sedikit membungkukkan badan dengan sikap ramah, lalu berjalan mendahuluinya untuk membawanya menuju ruangan tempat Akram Night sudah menunggu.


Dalam langkahnya mengikuti penjaga keamanan itu. Xavier menyempatkan diri memindai ke sekeliling.


Setidaknya ada empat bodyguard milik Akram yang diam-diam mengawasi di sekeliling area.


Bibirnya langsung menyunggingkan senyum kecut penuh ironi. Meskipun hubungannya dengan adik angkatnya itu sudah sedikit membaik akhir-akhir ini, tetapi tampak jelas bahwa Akram masih saja menganggapnya seperti penjahat berbahaya yang bisa mengkhianatinya kapan saja.


Mengawasinya dengan begitu banyakbodyguard… memangnya Akram pikir Xavier akan berbuat apa?


Mereka berjalan memasuki area lorong yang berlokasi di bagian belakang meja resepsionis, hingga sampai ke sebuah pintu tebal berkaca buram dengan tulisan besar ‘VVIP’ di bagian kacanya.


Xavier menganggukkan kepala ke arah penjaga keamanan yang mengantarnya sambil mengucapkan terima kasih, lalu membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan dengan sikap santai.


Akram Night telah menunggu di dalam sana. Lelaki itu seolah tak sabar menanti kedatangannya dan memilih untuk berdiri menunggu. Segelas brandi terlihat sudah setengah kosong di meja besar dimeja tinggi bar yang tersedia di sana, dekat dengan tempat Akram berdiri, dan hal itu membuat Xavier langsung melebarkan mata dan menyeringai.


“Kau minum-minum dan tak menungguku?”ujarnya santai sebelum kemudian membanting tubuhnya di sofa besar yang tersedia di sana.


Akram menyipitkan mata, menatap Xavier dengan sikap bermusuhan yang nyata.

__ADS_1


“Kau di sini bukan untuk minum-minum,” jawab Akram dengan nada sinis. Lelaki itu lalu meninggalkan gelas brandinya dan mengikuti Xavier ke area sofa dan mengambil posisi duduk di seberangnya. Ditatapnya Xavier dengan tatapan tajam dan serius.


“Sekarang jelaskan kepadaku semuanya dengan cara seterperinci mungkin,” tuntutnya keras, menolak untuk diabaikan.


***



***


Langkah Maya mengendap-endap sementara matanya menyala seperti orang gila.


Meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit tak terperi, tetapi dendam dan bayangan akan kesenangan yang didapatkannya setelah nanti berhasil menuntaskan dendamnya terasa amat sangat menyenangkan baginya.


Sebentar lagi dia akan melihat kehancuran Elana dan bayi dalam kandungannya, juga Akram Night yang tak bisa melihat apa-apa ketika perempuan rendahan yang diagung-agungkan dan dibelanya itu merasakan kesakitan yang sama dengan dirinya.


Maya saat ini tengah mengenakan pakaian kerjanya yang terbaik. Tentu saja kali ini dia terpaksa memakai pakaian lengan panjang dan tertutup yang bisa sekaligus menutupi sebagian besar permukaan kulitnya yang dipenuhi dengan ruam merah yang terasa gatal mengerikan. Rasa gatal itu begitu menyiksa, panas, menggelitik dan bercampur dengan rasa nyeri menyakitkan yang membuat Maya ingin menjerit karena frustasi. Tetapi, Maya berhasil mengabaikannya, karena semakin fokus dirinya, maka semakin cepat dia bisa mencapai tujuannya dan pada akhirnya dia bisa bersegera mencapai kepuasan dari pembalasan dendamnya.


Pakaian elegan terbaik dengan gaya formal sejenis blazer dan rok pinsil yang menempel ketat di tubuhnya itu membuat penampilannya sangat elegan dan meyakinkan. Tubuhnya tampak indah dan itu dilengkapi dengan tatanan rambut profesionalnya yang disanggul rapi ke belakang. Maya bahkan memaksakan untuk mengaplikasikan fondation tebal di wajahnya guna menutupi ruam merah mengerikan yang mulai menyebar ke wajahnya.


Penampilannya harus meyakinkan, supaya dia bisa menembus perimeter keamanan menuju lokasi tempat perempuan rendahan itu berada. Lalu, barulah dia bisa menuntaskan dendamnya sepuas-puasnya.


Saat ini, Maya sudah menaiki lift menuju lantai tempat area pasien super VVIP dirawat. Kalau benar dugaannya dan dari apa yang didengarnya dari percakapan tadi pagi, maka Elana yang sedang hamil pastilah masih dirawat di kamar yang sama di tempat terakhir dia melihat perempuan rendahan itu.


Seringai Maya tampak seperti orang gila ketika dia bolak balik melangkah dari satu ujung ke ujung lain ruang lift yang sempit itu, seolah tak sabar untuk melakukan apa yang akan direncanakannya.


Jika nanti dia tak berhasil membunuh Elana atau membuat Elana keguguran, dia kemungkinan besar masih bisa menularkan penyakitnya itu pada Elana.


Masih jelas teringat di benaknya ketika dokter yang mememeriksanya tadi pagi menanyakan kemungkinan Maya sedang hamil dan lega karena mengetahui bahwa Maya tidak sedang hamil. Karena, penyakit cacar api yang dideritanya ini mungkin bukan penyakit mematikan, tetapi, jika sampai diidap oleh seorang ibu yang sedang hamil, maka bisa menyebabkan kerusakan janin dan kecacatan pada bayi yang dikandung oleh Elana.


Senyum Maya melebar. Pada akhirnya, rasa sakit yang dideritanya ini bisa cukup bermanfaat, dia bisa membalas dendam kepada Akram Night dengan cara paling menyakitkan.


***



***


Akram lalu menoleh untuk menatap Xavier yang duduk menunggu dengan tenang di atas sofa.


“Kau benar. Intelku mengatakan kalau Dimitri sedang mempersiapkan perjalanannya menuju negara ini dengan menggunakan jet pribadi esok pagi,” Akram tampak berpikir keras. “Aku tak tahu apa yang menarik dari seorang Maya sehingga bisa membuat Dimitri bergegas datang kemari hanya dari mendengar penawarannya, tanpa pikir panjang sama sekali.”


Xavier memiringkan kepala. “Dimitri sudah tentu melakukan pengecekan latar belakang terhadap Maya. Dia pasti sudah mendapatkan seluruh data Maya, menyangkut betapa jeniusnya Maya di bidang akademik dan juga mengetahui bahwa beberapa waktu terakhir, Maya berada di bawah pengawasan Credence. Itu semua membuat Maya patut diperhitungkan oleh Dimitri dan pantas dianggap sebagai rekan untuk menjalankan aksinya mengganggu kita.” mata Xavier melirik ke arah Akram. “Credence mungkin senang bekerja di belakang layar dan tak menonjolkan diri, tetapi dia cukup terkenal di luar sana karena kebrilianannya dalam menangani berbagai kasus besar yang tidak mampu ditangani oleh orang biasa.”


“Credence tentu juga terlibat dengan jalinan mafia besar. Karena itulah namanya terkenal,” sambung Akram dengan nada sinis.


Xavier terkekeh, tetapi lelaki itu sama sekali tak membantah. “Pekerjaan Credence berhubungan dengan keuangan, dan kau pikir, siapa yang memiliki perputaran uang cukup besar selain para mafia bawah tanah di luar negeri sana?” tanyanya tanpa memerlukan jawaban. “Tetapi satu yang kutahu, Credence tak pernah melonggarkan kredibilitasnya yang kuat. Entah dia menangani pemerintah, pihak berwenang, ataupun para mafia, obyektivitas hasil temuannya sangat kuat dan hampir tak pernah salah. Karena itulah dia terkenal dan dihormati.”


Kali ini giliran Akramlah yang tak membantah. Dia tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Xavier benar adanya, dan tak ada gunanya dia membantah kebenaran hanya untuk memperpanjang pertikaiannya dengan Xavier. Lagipula, untuk saat ini, fokusnya bukanlah kepada Credence, namun kepada Xavier. Ada beberapa hal yang masih mengganggunya dan membuatnya bertanya-tanya menyangkut Xavier, dan Akram memutuskan untuk menanyakannya sekarang.


“Jadi, kenapa kau melakukan ini semua? Memanipulasi Maya, mengatur supaya dia bertemu dengan Edward dan memancing supaya Dimtri datang kemari?”


Xavier menyeringai. “Aku masih belum menuntaskan urusanku dengan Dimitri, dan aku merasa lebih senang kalau dialah yang datang kemari menghampiriku dengan segala kebodohannya, daripada aku yang harus membuang-buang waktuku untuk mengejar-ngejarnye ke Rusia,” Xavier menyipitkan mata dengan penuh perhitungan. “Lagipula, Dimitri tentu akan lebih lemah di sini di daerah kekuasaan kita, dia tidak bisa membawa orang sebanyak yang dia mau untuk masuk ke negara ini. Berbeda jika kita menyerangnya di rusia sana, dia memiliki kekuatan penuh dan kitalah yang memiliki kekuatan terbatas. Aku hanya sedang berusaha mencari cara terbaik yang menguntungkan kita semua.”


Akram memandang Xavier dengan tatapan mata menyelidik. “Kau tak memiliki urusan permusuhan dengan Dimitri selain menyangkut pabrik senjata itu. Apakah kau menaruh dendam sebegitu besarnya hingga mau repot-repot melakukan ini semua?”


Mata Xavier tampak bersinar penuh dengan aura mengerikan. “Aku tidak suka kehilangan asetku dan Dimitri telah mengambilnya dariku. Tentu aku akan membalas dengan berkali-kali lipat,” Xavier mendongak menatap ke arah Akram, lalu terkekeh pelan. “Apa? Apakah kau pikir aku melakukannya demi dirimu? Itu tak mungkin terjadi,” sahut Xavier sambil tertawa tanpa rasa bersalah.


Wajah Akram berubah masam dan lelaki itu setengah memalingkan kepala. “Aku tak pernah berpikir kalau kau sebaik itu,” sahutnya dengan nada sinis.


Xavier membuka mulutnya hendak berbicara, tetapi suara ponselnya memecahkan keheningan di antara mereka. Dia mengambil ponselnnya dan menatapnya sementara keningnya berkerut.


“Credence?” sapa Xavier tenang. “Apakah segala urusan tentang Edward sudah selesai?”


“Semua sudah selesai,” suara Credence terdengar tegang. “Kau ada di mana?” tanyanya kemudian.


Xavier mengerutkan kening. “Aku ada bersama Akram di rumah sakit. Kenapa?” nada suara tegang Credence menular kepadanya, mengisyaratkan fisarat buruk yang menjalar di sepanjang tulang punggungnya.

__ADS_1


“Bagus kalau kau berada di rumah sakit. Kau ada bersama Elana, bukan? Bilang pada Akram untuk memperketat penjagaan dan tak memperbolehkan siapapun mendekati area tempat Elana dirawat! Aku punya firasat buruk tentang ini.”


“Apa maksudmu Credence?” suara Xavier berubah tajam, tak sabar menanti penjelasan Credence.


“Kau mungkin terlalu sibuk untuk melakukannya mengingat banyaknya urusan yang kau kerjakan hari ini. Jadi, setelah sampai di rumah dan membereskan urusan Edward, aku memutar rekaman kamera pengawas yang kau pasang di apartmen Maya sepanjang hari. Anehnya, setelah pertemuannya dengan Edward dan memeriksakan diri ke dokter, Maya  tak langsung pulang ke apartemennya. Dia tak ada di apartemennya sampai malam dan baru pulang menjelang tengah malam untuk berganti pakaian dan pergi,” Credence menekankan nada suaranya dengan tajam. “Yang mengganggu mataku adalah Maya pergi dengan berpakaian formal layaknya pekerja kantoran dan aku curiga dia menuju ke rumah sakit tempat Elana dirawat untuk melakukan hal buruk kepada Elana. Entah apa pemicunya. Aku sudah menjaga supaya informasi penangkapan Edward tak bocor kemanapun, tetapi dugaanku, kemungkinan besar, entah dengan cara bagaimana, dia sudah mengetahui bahwa rencananya gagal karena Edward sudah ditangkap.”


Jantung Xavier langsung berdebar kencang. Dia sudah menyuntikkan virus dengan jenis penyakit berat yang harusnya bisa menahan Maya sehingga perempuan itu hanya akan bisa mengerang-ngerang sambil meringkuk kesakitan ketika merasakan nyeri panas dan gatal di sekujur tubuhnya. Dia pikir, virus itu cukup untuk menahan Maya dan membatasi aktivitas perempuan itu sehingga tak mengganggu beberapa langkah rencananya ke depan. Tetapi ternyata dia salah, ternyata kebencian dan dendam seorang wanita itu bisa membuatnya melakukan apapun, bahkan melupakan rasa sakit dan nyeri di tubuhnya. Xavier telah meremehkan Maya dan lengah karenanya.


Wanita, apalagi wanita yang penuh dendam… memang makhluk yang sangat mengerikan.


“Kami akan membereskannya. Terima kasih, Credence.”


Xavier menutup pembicaraannya dengan Credence sambil beranjak berdiri. Ekspresi cemas tak bisa disingkirkan dari wajahnya sehingga ketika Akram menatap ke arah Xavier, lelaki itu langsung merasakan firasat buruk yang sama.


Xavier selalu bisa menjaga ekspresinya tetap tenang dalam situasi segenting apapun. Kenyataan bahwa Xavier tampak cemas menunjukkan bahwa telah terjadi situasi yang cukup berbahaya.


“Ada apa?” tanya Akram cepat, mengawasi Xavier dengan tajam.


“Kita harus cepat ke lantai tempat Elana dirawat, kemungkinan besar Maya berhasil menerobos dan menyusup ke sana untuk melukai Elana!”


Sambil berucap, Xavier bergerak sigap ke pintu hendak menuju lift, hampir berbarengan dengan Akram yang seolah terloncat dari posisinya berdiri dan dengan gesit menghambur ke arah yang sama dengan Xavier.


***



***


Ternyata, melewati penjaga keamanan yang bodoh itu sangatlah mudah.


Dengan penampilan Maya yang cantik dan profesional, serta karena mereka pernah melihatnya masuk untuk menengok Elana sebelumnya, dengan berbarengan bersama Akram sendiri, Xavier dan Credence, maka kali kedua Maya muncul, para bodyguard itu bersikap lebih bersahabat dan mengendorkan kewaspadaannya.


Dengan gaya bicaranya yang meyakinkan, Maya berucap bahwa dia datang karena diminta oleh Akram Night untuk mengantarkan sendiri vitamin kehamilan mahal yang khusus dipesan dari pabriknya di Jerman, dan vitamin itu harus disampaikan sendiri ke tangan Elana.


Semula para bodyguard itu tampak ragu, tetapi melihat bahwa Maya merupakan kenalan baik Akram, perempuan itu juga membawa kartu pengenal resmi perusahaan dan juga mengetahui tentang urusan pribadi bosnya menyangkut vitamin yang berhubungan dengan kehamilan nyonya mereka, maka keraguan itu tergilas sudah, membuat mereka dengan ringan langsung memberikan izin kepada Maya untuk memasuki ruangan perawatan Elana seorang diri.


Maya tersenyum lebar ketika melangkah melalui lorong dengan bebas untuk menuju ke pintu ruang perawatan Elana.


Seluruh kulitnya terasa gatal dan panas, tetapi dia mengabaikannya.


Sebentar lagi… sebentar lagi… dia akan menyelesaikan semuanya dan rasa sakitnya akan terbalaskan….


Maya membuka pintu ruang perawatan Elana dan matanya langsung bertemu dengan sosok perempuan itu yang tengah terbaring telentang dengan mata terpejam dalam kedamaian di tengah keremangan kamar yang hanya diterangi oleh lampu tidur di samping ranjang.


Seketika kebencian langsung bergejolak di dalam benak Maya, membakarnya sampai habis.


Perempuan rendahan sialan ini bisa enak-enakkan berbaring di ranjang mewah di ruang perawatan super VVIP denngan fasilitas kelas tinggi, menikmati segala kenikmatan mewah yang tak sepantasnya dirterima wainita kelas rendah semacam Elana. Sementara dia… dia yang seharusnya lebih pantas menerima ini semua, malahan diusir, direndahkan, dilecehkan dan bahkan menderita sakit sendirian dalam rasa nyeri yang menyiksa.


Sungguh berkebalikan dengan perempuan rendahan ini!


Tetapi semuanya tak akan berlangsung lama. Maya tak akan berada di bawah dan direndahkan lagi. Dia akan membalas dendam sekarang!


Ditatapnya kedua tangan Elana yang tanpa sadar tengah menangkup perutnya dalam posisi seolah melindungi saat perempuan itu sedang tidur pulas, dan gigi Maya semakin gemeretak menahan kemarahan.


*Bayi dalam perut Elana itulah yang menjebak Akram hingga bertingkah menjadi penurut seperti orang bodoh dan memberikan segalanya kepada Elana.*Jadi, Maya akan memastikan kalau bayi itu lenyap tak berbekas.


Dengan tangan gemetaran penuh antisipasi dan ketidaksabaran, Maya mengeluarkan pisau ramping nan tajam berujung runcing yang sejak tadi dia sembunyikan dengan hati-hati di balik saku blazernya.


Dia akan menusuk perut Elana dengan pisau ini, merobek dan menyayat perut Elana, sekaligus menghancurkan janin sialan yang sedang bersembunyi di dalam perut perempuan rendahan itu!


 


***



__ADS_1



__ADS_2