Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 21 : Informasi Mengejutkan


__ADS_3


 


 


Xavier berlutut, meletakkan Sera yang mulai lunglai di pangkuannya. Sebelah tangannya bergerak meraih tabung kecil yang ada di balik saku jasnya dan memasukkan dua butir kapsul penawar ke mulutnya sendiri. Salah seorang anak buahnya tanggap langsung menyerahkan botor air kepadanya dan Xavier langsung memasukkan air itu ke mulutnya.


Dia lalu meraih dagu Sera yag kehilangan kesadaran, menarik dagu itu ke bawah untuk membuat mulutnya terbuka, lalu menyatukan bibir mereka dan mentransfer kapsul serta air itu ke dalam mulut Sera. Setelahnya, Xavier melepas pertautan mulut mereka, sementara tangannya bergerak menutup hidung Sera untuk memaksa perempuan itu beralih jalur penapasan lain dan menghirup udara melalui mulutnya. Tak lama kemudian, terdengar suara menelan yang dipaksakan dari gerakan Sera mengambil napas dari mulutnya.


Obat penawar itu sudah tertelan...


Xavier terpaku beberapa detik ketika dirinya membiarkan emosi kelegaan membanjiri dirinya. Setelahnya, dia berusaha menguasai diri kembali dan beranjak berdiri, sambil membawa Sera ke dalam gendongannya.


Obat penawar itu mungkin cukup membantu, apalagi Xavier memutuskan untuk memasukkan dua butir yang merupakan batas maksimal dosis penawar yang bisa diterima oleh manusia. Tetapi, kenyataan bahwa Sera telah cukup lama terpapar beracun itu sebelum menerima penawar obat bisa saja berakibat cukup fatal bagi tubuhnya.


Gas beracun itu mungkin sudah terlanjur merusak organ-organ vital Sera dan terlambat bagi obat penawar itu untuk menghentikan efeknya.


Setengah berlari, Xavier menuju ke mobilnya dimana salah seorang anak buahnya sudah membukakan pintu kabin penumpang baginya. Dirinya masuk, lalu menginstruksikan dengan tegas kepada supirnya untuk bergerak ke area pusat kota, yang segera dituruti oleh sang supir.


Dia akan menghubungi Dimitri segera supaya lelaki itu menyediakan dokter terbaiknya di rumah sakit privat di pusat kota, yang Xavier tahu kalau sebagaian besar sahamnya dimiliki oleh DimitrI


Ya, begitu Dimitri tahu bahwa dirinya diikat oleh racun yang membutuhkan penawar secara berkala dari Xavier, lelaki itu mencoba memberontak dan mencoba menyelamatkan dirinya sendiri tak mau bergantung pada belas kasihan Xavier. Salah satu caranya adalah dengan membeli saham rumah sakit privat ini, mengumpulkan para dokter dan ilmuwan ahli racun dari seluruh negara ini, dan mencoba merumuskan penawar racunnya.


Tentu saja Dimitri tak berhasil. Seperti yang sudah Xavier bilang sebelumnya, hanya Xavierlah yang bisa membuat penawar untuk racun yang dibuatnya.


Tetapi, dengan para dokter dan ilmuwan ahli racun berkumpul di rumah sakit itu, maka setidaknya mereka bisa menangani pasien paska keracunan dengan baik.


Mobil itu pun melaju, diikuti oleh mobil-mobil lain di belakang mereka yang mengiringi. Di dalam mobil, masih sambil memangku Sera dalam pelukan lengannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuat Xavier mengerutkan kening ketika menatap layar ponsenya karena melihat anak buahnya sendiri yang meneleponnya.


"Ada apa?" sahutnya cepat tanpa berbasa-basi.


"Tuan Xavier...." Salah seorang anak buahnya tampak menyahut dengan nada sedikit takut. "Kami memeriksa mayat yang tertinggal untuk memastikan kematian sebelum meninggalkan tempat ini, tetapi hanya ada satu mayat di ruang belajar."


"Maksudmu.... mayat keponakan Roman Dawn tidak ada?" Xavier menebak dengan tepat. Sebab, ketika dia pergi meninggalkan ruangan tadi, dia meninggalkan lelaki muda itu dalam kondisi masih hidup.


Mustahil lelaki itu bisa bergerak meninggalkan rumah dalam kondisi terpapar racun, kecuali....


Mata Xavier menyipit, kepalanya menunduk menatap Sera yang lunglai, sementara kerucigaan bergulung-gulung di dalam benaknya.


"Lelaki itu tak akan bisa berlari terlalu jauh, dia sudah keracunan meskipun kemungkinan dia sudah meminum penawar tepat waktu. Jadi, aku yakin akan sulit baginya untuk menyeret kaki meninggalkan tempat ini. Lagipula, medan di sekeliling kastil ini cukup susah ditaklukkan, penuh dengan bukit curam, hutan pinus dan hamparan salju membentang dengan suhu di bawah nol derajat." Xavier memberikan instruksi dengan suara tenang terkendali meskipun kemarahan mulai merayap daja membakar jiwaya. "Bawa anak buahmu untuk melakukan penyisiran ke seluruh perimeter area di sekitar kastil itu, siapkan ****** pelacak. Lakukan dengan cepat, aku tak mau kau datang kepadaku dengan membawa mayat yang sudah membeku. Aku ingin dia ditangkap hidup-hidup."


Selesai mengucapkan perintahnya dengan nada tegas penuh ancaman, Xavier segera menutup pembicaraan dan menekan nomor Dimitri, tidak berbasa basi dan langsung menyuruh Dimitri mengumpulkan dokter terbaiknya, terutama yang memiliki keahlian menangani pasien dengan kondisi keracunan.


Lalu, Xavier meletakkan ponselnya. Kepalanya menunduk dan matanya menatap lekat-lekat ke arah Sera yang terbaring lunglai dengan wajah pucat pasi. Mata perempuan itu terpejam rapat, sementara mulutnya sedikit terbuka, mengalirkan sisa air dari apa yang dipaksakan Xavier untuk ditelannya sebelumnya.


Tangan Xavier bergerak mengusap sisa air yang meleleh ke pipi Sera, sementara dirinya dengan saksama memeriksa tanda-tanda kehidupan perempuan itu.


Sera masih bernapas meskipun napasnya lemah. Itu pertanda bagus karena itu berarti bahwa obat penawarnya sudah bekerja, menghentikan efek merusak dari gas beracun yang dihirupnya.


Xavier mengepalkan tangan, menahan rasa marah yang menyeruak tak tertahankan, menyelip di sela-sela hatinya yang membeku, mengobarkan api membakar yang menciptakan nuansa rasa yang hampir-hampir tak pernah dirasakan oleh Xavier sejak lama.


Cemburu. Rasa cemburu ini membuat Xavier disiksa oleh berbagai pertanyaan yang mendera pikirannya.


Kenapa Sera memberikan obat penawarnya untuk keponakan Roman? Siapakah lelaki itu? Kenapa Xavier sampai melewatkan detail itu? Seperti apakah hubungan Sera dengan lelaki muda itu di masa lalu?



"Kondisinya sudah membaik. Beruntung Anda memberinya penawar tepat waktu. Meskipun begitu, nona Sera harus menjalani perawatan intensif selama beberapa waktu untum memastikan segala kerusakan yang sudah terlanjur terjadi, menunjukkan gejala perbaikan."


Dokter paling ahli di rumah sakit privat itu langsung memberikan penjelasan setelah membaca hasil lab pemeriksaan Sera yang baru saja keluar.

__ADS_1


Xavier mengerutkan keningnya."Bagaimana dengan organ dalamnya? Apakah ada yang terpapar parah gas beracun itu sehingga mengalami kerusakan fatal?"


Dokter itu menghela napas panjang. "Seluruh organnya terkena imbas dari racun itu dan memerlukan perawatan, tetapi yang menjadi perhatian adalah livernya, jelas terjadi kerusakan di sana dilihat dari banyaknya kadar enzim hati yang bocor di dalam darahnya hingga berkali-kali lipat dari batas normal. Hal itu yang paling memerlukan perhatian khusus dari perawatan nona Sera kali ini. Meskipun begitu, saya yakin kami bisa menangani ini dengan baik dengan penanganan khusus selama beberapa hari ke depan...," ucap dokter itu dengan nada yakin.


Xavier menganggukkan kepala. "Laporkan secara berkala kepadaku dengan terperinci. Aku tak mau menerima kabar buruk darimu, jadi berusahalah supaya aku hanya menerima kabar baik." Dengan nada suara mengancam yang membuat dokter itu mengerut ketakutan, Xavier beranjak berdiri dan meninggalkan ruang kerja sang dokter.


Ketika melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya, Xavier melihat Dimitri sedang bersandar di dinding lorong tak jauh dari pintu. Lelaki itu benar-benar mencerminkan musim dingin di Rusia dari penampilannya, dengan rambut nyaris putih, kulit wajah pucat dan warna mata merah yang kontras dengan keseluruhan dirinya, Dimitri sungguh tampak seperti salju yang sesungguhnya.


"Jangan mengancam dokterku," ucap Dimitri, menyapa terlebih dahulu untuk memecah keheningan. "Kau hanya akan membuatnya ketakutan dan dia akan terlalu gemetaran sehingga tidak bisa berkerja dengan baik."


Xavier mengangkat alis, menatap Dimitri dengan tatapan sinis mengejek.


"Apa yang dilakukan oleh pemimpin mafia terbesar di negara ini di sini? Bukanlah kau punya lebih banyak urusan lain yang harus kau perhatikan ketimbang ongkang-ongkang kaki di sini?" tanyanya dengan nada sinis.


Dimitri menipiskan bibir, tampak sekali lelaki itu sedang berusaha menahan kegeraman.


"Aku kemari untuk menegurmu. Kau datang ke negara ini dan langsung melakukan pembunuhan terang-terangan bahkan sebelum beberapa jam berlalu sejak dirimu menginjakkan kaki ke negara ini. Tidak tahukah kau betapa repotnya aku menutupi semua urusan pembunuhan ini dan melepaskanmu dari campur tangan pihak berwajib?"


Xavier mengangkat bahu. "Menutupi sebuah kasus pembunuhan tidaklah sulit untukmu, aku yakin kau bahkan sudah tak terhitung berapa kali melakukannya untuk menutupi jejak kejahatanmu. Lagipula, memang sudah tugasmu melakukannya. Karena itulah aku mengikatmu dengan racun." Xavier menyeringai, menunjukkan sikap antagonisnya yang tak punya hati. "Bagainana dengan Samantha Dawn?" tanyanya cepat.


Dimitri menegakkan tubuh. "Dia sudah diamankan," jawabnya singkat. Anak buah Dimitri sudah meringkus dan mengamankan Samantha dari hotel tempatnya menginap. Perempuan tua itu sudah diberitahu mengenai kematian suaminya dan sekarang kemungkinan sedang berteriak-berteriak histeris dalam penjara bawah tanah tempat Dimitri mengurung dan menyiksa musuh-musuhnya.


"Bagus." Xavier menganggukkan kepalanya puas. "Simpan dia dulu di tempatmu, jangan lupa untuk memberinya tempat dan fasilitas terburuk yang bisa kau berikan. Samantha Dawn sangat takut dengan virus serta penyakit dan kesombongannya membuatnya sangat membenci tempat yang kotor. Berikan dia tempat tahanan paling kotor dan paling buruk di tempatmu, kalau perlu yang penuh dengan tikus, kecoa dan lintah atau hewan-hewan kotor lainnya."


Dimitri menyeringai."Kau mengghinaku. Kau pikir aku punya tempat tahanan sejelek itu? Biarpun aku penjahat, aku punya banyak uang untuk membangun penjara yang layak bagi musuh-musuh yang kutawan."


"Jika tempat itu layak, maka itu tak pantas disebut sebagai penjara untuk hukuman. Tak usah mencoba membohongiku, aku tahu kau memiliki penjara bawah tanah yang ditakuti oleh musuh-musuhmu dan disebut penjara neraka saking buruknya kondisinya. Tempatkan Samantha di sana. Aku akan mengurusnya sambil menunggu wanitaku terbangun dan bisa menjadi saksi mata kematian Samantha Dawn." Xavier berucap dengan nada meremehkan. Lelaki itu hendak beranjak pergi, tetapi suara kekehan Dimitri menghentikan langkahnya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Xavier dengan nada angkuh. Sikap Dimitri itu mengganggunya, Xavier jelas-jelas tak suka ditertawakan dan seandainya saja dia tidak membutuhkan sumber daya yang dimiliki oleh Dimitri di negara ini, sudah pasti dia akan membunuh lelaki ini tanpa menunggu-nunggu lagi.


Dimitri bersedekap, menatap ke arah Xavier tanpa rasa takut.


"Kau pasti sama sekali tak menyangka kalau Serafina Moon tidak meminum penawar darimu dan memilih untuk memberikan kapsul penyelamat nyawanya itu demi menyelamatkan lelaki lain." Dimitri melemparkan tatapan mengejek ke arah Xavier. "Menghadapi kenyataan seperti itu pun, kau masih begitu percaya diri menyebut Serafina Moon sebagai wanitamu?"


Dimitri melebarkan senyumnya dengan sikap menantang.


"Aku memang sengaja. Bagaimana rasanya, Xavier? Tidak enak bukan mendapatkan kejutan di luar perkiraanmu? Kau selalu bersikap arogan dan seolah-olah merasa berkuasa atas nasib dan nyawa orang-orang yang kau racuni. Ada kalanya kau harus merasakan pengalaman tidak mengenakkan ketika situasi berputar di luar kendalimu."


"Jika kau berniat bercanda, maka itu tidak lucu. Jadi hapuskan seringai bodoh dari wajahmu itu." Xavier menghardik kasar. "Aku akan memberikan penawar racunmu lebih lambat beberapa hari dari jadwal, jadi racun itu akan memiliki kesempatan untuk merusak dan menggerogoti tubuhmu sebelum kau menerima penawarnya. Tubuhmu bahkan akan menjadi lebih lemah daripada sebelumnya meskipun kau sudah mendapatkan penawar." Xavier menyipitkan mata untuk mengamati perubahan ekspresi Dimitri yang memucat. "Nanti, setelah kau rasakan sakitnya ketika tubuhmu keracunan dan menagih penawar, kau akan berpikir ulang jika suatu saat nanti hendak melakukan sesuatu yang membuatku tak senang."


"Hei, jangan lakukan itu kepadaku. Kau pikir aku masih kurang tersiksa akibat racunmu di tubuhku?" Dimitri mengangkat tangannya, mencoba bernegoisasi. "Kalau kau mau memberiku penawar tepat waktu sesuai jadwal, aku punya informasi menarik untukmu." sambung Dimitri kemudian dengan sikap mencoba-coba.


Xavier menatap Dimitri dengan pandangan meremehkan.


"Kau tahu kalau aku tidak pernah membuka diri untuk negosiasi dengan musuh-musuhku." Xavier menolak dan membalikkan tubuh hendak meninggalkan Dimitri


"Tapi ini tentang Aaron Dawn, sebuah informasi yang bisa membuatmu di atas angin," sahut Dimitri cepat-cepat.


Langkah Xavier yang hendak pergi langsung berhenti. Lelaki itu menoleh sedikit dan berucap sinis.


"Katakan, lalu akan kupertimbangkan apakah informasi darimu itu cukup berharga atau tidak," desis Xavier mengultimatum.


"Bacalah ini," Dimitri menyerahkan chip memori kecil ke tangan Xavier, bibirnya kembali menyeringai penuh keyakinan. "Semua hal yang ingin kau ketahui tentang Aaron Dawn ada di sana, bahkan juga informasi tersembunyi tentangnya yang tak diketahui siapapun kecuali Roman dan Samantha Dawn. Aku yakin bahwa kau akan berterima kasih kepadaku setelah menyerap semua informasi itu."



Xavier berdiri di tepi ranjang tempat Serafina berbaring tak sadarkan diri dengan infus dan alat medik pemantau kinerja organ tubuh tersambung di tubuhnya.


Mata Xavier menyipit ketika mengawasi tubuh Sera dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bibirnya menipis sementara dahinya berkerut seolah sedang berpikir keras. Dirinya telah membuka chip memori yang diberikan oleh Dimitri dan membaca seluruh informasi mendetail di dalamnya tanpa kecuali.


Informasi yang tersimpan di situ memang mengejutkan, bahkan bagi Xavier sekalipun.

__ADS_1


Dan setelah mengetahui informasi tak terduga itu, hanya satu hal yang bisa disimpulkan oleh Xavier mengenai Serafina.


Perempuan bodoh.


Hanya dua rangkaian kata itu yang bisa disimpulkan oleh Xavier kemudian ketika dirinya mengawasi Sera.


Oleh Roman Dawn, Sera dididik menjadi perempuan manipulatif yang harusnya pandai menyamar dan menipu untuk masuk ke jantung pertahanan Xavier, lalu mencari kesempatan untuk menusuknya dari belakang. Tetapi, entah kenapa Sera selalu bersikap ceroboh hingga akhirnya malahan melukai dirinya sendiri.


Seperti sekarang, Sera mengkhianatinya demi menyelamatkan sampah busuk penipu yang seharusnya tak pantas diselamatkan.


Xavier bergerak duduk di tepi ranjang, tak bisa menahan untuk menjangkau anak rambut Sera yang setengah menutupi dahinya, menyingkirkan anak-anak rambut yang teruntai panjang di sana supaya tak mengganggu perempuan itu.


Tidakkah Sera tahu bahwa selama ini dia telah ditipu dan dimanipulasi?


Sera memberikan reaksi atas sentuhan Xavier meskipun perempuan itu masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Kening perempuan itu berkerut, tepat di bagian atas alis ketika Xavier mengangsurkan jarinya di sana. Hal itu menciptakan senyum di bibir Xavier dan lelaki itu secara impulsif akhirnya membungkukkan tubuh, mendekatkan wajahnya dengan wajah Sera, lalu mencium bibir perempuan itu perlahan.


Bibir Xavier dengan lembut membasahi permukaan bibir Sera yang sedikit kering, lalu mencecapnya kuat, saolah berusaha menempelkan tanda kepemilikannya di sana. Dia menyalurkan panas tubuhnya melalui napasnya yang hangat, mengangsurkan kelembapan bibirnya untuk membasahi bibir Sera. Setelah puas memberikan cap dirinya pada Ser secara simbolik, Xavier melepaskan pertautan bibir mereka dan menegakkan punggung.


Perempuan ini memberikan efek tak terkira pada dirinya. Bahkan, ini adalah satu-satunya kejadian dimana Xavier mengabaikan prinsip teguh yang selalh dipegangnya selama ini.


Perempuan ini telah mengkhianatinya demi lelaki lain. Jika menurut prinsipnya, maka Serafina Moon pantas dimatikan dalam kisah ini, karena manusia yang memiliki bibit pengkhianat dalam jiwanya, memang harus dibunuh. Tetapi, saat ini Xavier melakukan yang sebaliknya. Dia menggunakan segala macam cara untuk menjaga supaya Serafina Moon tetap hidup.


Hidup dan terikat di sisinya.


Xavier mengawasi Sera dan tersenyum. Dia akan memastikan segera, untuk membuat Serafina terikat kepadanya jiwa dan raga, hingga perempuan itu tidak bisa melepaskan diri lagi. Tidak akan bisa lepas sama sekali, sampai Xavier selesai melakukan apa yang perlu dilakukannya.


Seolah waktunya tepat, tiba-tiba pintu ruang perawatan itu terbuka, dan sosok anak buahnya muncul di sana dengan eskpresi hormat.


"Tuan Xavier," lelaki itu memberi jeda sejenak sebelum melapor. "Kami sudah mendapatkan Aaron Dawn. Kondisi tubuhnya tidak baik, tapi dia dalam keadaan sadar dan bisa berkomunikasi. Saat ini tim dokter sedang menanganinya."


Senyuman keji penuh antisipasi langsung muncul lambat-lambat, terurai di bibir Xavier. Lelaki itu bergerak cepat turun dari ranjang dan melangkah mendekati pintu dengan sikap elegan.


"Bawa aku kepadanya." Perintahnya tegas dan membiarkan anak buahnya membalikkan tubuh dan berjalan lebih dahulu untuk memimpin langkah.


Ketika hendak menutup pintu ruang perawatan itu, Xavier menyempatkan diri untuk melirik ke arah Sera.


Tangan perempuan itu diborgol kuat ke rangka besi ranjang rumah sakit ini. Seluruh akses keluar yang memungkinkan dari kamar rumah sakit ini telah dikunci. Bahkan, sistem pengaman dipasang di jendela sehingga tidak bisa dibuka, meskipun kecil kemungkinan Sera akan melompat dari lantai sembilan rumah sakit ini. Para penjaga juga telah ditempatkan di depan pintu kamar ini dan sepanjang perimeter keamanan rumah sakit. Bukan hanya untuk mencegah Sera melarikan diri, tetapi juga untuk melindungi perempuan itu dari ancaman luar yang mungkin datang.


Xavier menyapu Sera dengan tatapan memiliki, sebelum kemudian menutup pintu ruang perawatan itu, meninggalkan Sera sendirian dan mengikuti langkah anak buahnya untuk menyapa Aaron Dawn yang malang.


Yah, sudah saaatnya Xavier menempatkan diri sebagai pemeran antagonis yang sesungguhnya dalam kisah hidup Sera. Perempuan itu akan sangat membencinya setelah ini, tetapi Xavier akan memastikan bahwa perempuan itu tak akan bisa lepas darinya. Itu lebih baik daripada perempuan itu mencintainya, lalu mengkhianati di kemudian hari.


Bagi Xavier, lebih baik dibenci tapi bisa memiliki, daripada dicintai tapi akhirnya dikhianati.




 


 


\====PRAKATA DARI AUTHOR====


Terima kasih atas Vote Poinnya selama ini, terimakasih telah memberikan poinnya untuk author.


Terima kasih juga untuk like, komen, subscribe favorite, dan rate bintang limanya. Sekali lagi terima kasih


Dan maaf postingan tersendat kemarin karena sedang banyak kerjaan. Mudah2an author bisa menebus semuanya.


Jangan lupa baca novel author yang lain di mangatoon juga, berjudul INEVITABLE WAR, sudah sampai episode 65 sekarang lho.

__ADS_1


Postingan ini tanpa gambar dulu biar lolos reviewnya cepat ( kalau pakai gambar lolos review lama.bisa dua atau tiga hari kadang lebih). Nanti kalo udah lolos, baru diedit author dikasih gambar visualisasi. Bisa dicek EOTL part 1-15 sekarang sudah lengkap full gambar visualisasi yak.


Thank You - By AY


__ADS_2