Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 80 : Roboh


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


 


****


****


****


 


“Kenapa kau tidak makan duluan?”


Xavier keluar dengan rambutnya yang masih basah. Lelaki itu mengikatkan handuk di pinggangnya dan mengusap rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. Matanya melirik ke arah pipi Sera yang memerah dan bibirnya mengurai senyuman.


“Menu makanannya sangat banyak\, kurasa kita harus menghabiskannya bersama.” Sera akhirnya mampu menjawab\, berusaha keras mengabaikan rasa malu yang menyebabkan pipinya memerah karena melihat tubuh Xavier yang setengah telanjang di hadapannya*.*


Buat apa dia merasa malu? Toh Xavier sendiri tampak biasa-biasa saja.


“Aku mandi sangat lama,” Xavier terkekeh seolah menertawakan dirinya sendiri. “Kebiasaan,” sambungnya kemudian. “Maafkan aku, kau jadi menahan kelaparan ya.”


“Aku tidak selapar itu.” Sera memang lapar, apalagi kegiatannya bersama Xavier semalam telah menguras energinya. Tetapi dia sudah minum segelas susu yang cukup untuk memenuhi perutnya sementara. Dia menunggu Xavier untuk makan sarapan bersama selain untuk membantunya menghabiskan makanan, juga karena dirinya ingin berbicara duduk dengan serius dengan Xavier… menyangkut Aaron.


“Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan cepat.” Dengan santai, Xavier melangkah menyeberangi ruangan kamar perawatan rumah sakit dan membuka lemari pakaian yang tersedia di sana. Kepala pelayannya telah datang tadi dan mengantarkan pakaian ganti untuknya dan untuk Sera sehingga mereka tak perlu mencemaskan akan memakai baju apa hari ini. Lelaki itu mengambil kemeja putih dan celana hitam yang terlipat rapi, lalu berganti pakaian tanpa malu-malu di depan Sera yang langsung memalingkan muka dengan jengah.


Sesuai dengan perkataannya, tak butuh waktu lama bagi Xavier untuk berganti pakaian, lelaki itu lalu mendekat sambil membawa jas hitam yang tak dikenakannya, lalu menyampirkan jasnya itu di kursi yang sebelumnya telah ditariknya mendekat pada meja beroda dengan baki penuh menu sarapan di atasnya yang berada di depan Sera yang sedang duduk di tepi ranjang.


Xavier mengamati menu-menu di hadapannya dan sedikit mengerutkan kening karenanya.


“Makanannya sudah sedikit dingin,” ujarnya kemudian dengan nada mencela setelah dia menyentuhkan ibu jarinya ke omelet yang tersaji di sana.


Sera mengerucutkan bibir melemparkan tatapan mata menyalahkan ke arah lelaki itu.


“Itu semua karena kau mandi sangat lama, bahkan lebih lama dari aku mandi sebelumnya.” Tudingnya kemudian dengan nada menuduh, tetapi tak urung perempuan itu bergerak mengambil piring, lalu mengangkat kepalanya ke arah Xavier. “Kau ingin makan apa?” tanyanya sedikit galak tetapi penuh perhatian, dengan gamblang menujukkan niat baiknya untuk mengambilkan makanan bagi Xavier.


Xavier menyeringai. Sikap Sera yang kontradiktif seperti anak kecil manja yang merajuk pada ibunya itu membuatnya senang. Matanya memindai penampilan Sera yang sangat segar dan cantik sehabis mandi, dengan gaun polos berwarna krem kecoklatan yang longgar tetapi cocok sekali dengan tubuh mungilnya, membuatnya tampak seperti puding krim cokelat yang lezat untuk dilahap seketika.


“Aku akan memakan apapun yang kau ambilkan.” Xavier berucap lambat-lambat dengan sikap menjengkelkan yang disengaja.


Sera mendekus, tapi tak urung tangannya bergerak mengambilkan menu sarapan dari piring-piring yang tersaji di depannya. Dengan sengaja dia menambahkan salad dan sayuran banyak-banyak ingin membalas dendam dengan memaksa lelaki itu melahap sayuran yang pasti tak disukainya.


Ya, Sera selalu memperhatikan bahwa Xavier selalu lebih memilih protein seperti daging-dagingan dan ikan ketika makan dan menghindari sayur-sayuran. Lelaki itu pasti tak menyukai sayuran, dan sekarang karena Xavier bilang bahwa dia akan memakan apapun yang diisikan Sera ke piringnya, maka Sera akan membuat Xavier menyesali perkataannya dengan menyajikan sepiring penuh sayuran kepada lelaki itu.


Ketika Sera menyodorkan piringnya untuk Xavier, lelaki itu mengangkat alis, lalu memiringkan kepalanya, mengawasi Sera dengan saksama.


“Itu piring untukku?” Xavier malah bertanya, sementara bibirnya menipis seolah menahan tawa.


“Kau tadi bilang akan memakan apapun yang akan kuambilkan untukmu, jadi makanlah,” sahut Sera dengan nada tidak sabar.


Sebuah kekehan mengejek lolos dari bibir Xavier. Tanpa peduli, lelaki itu lalu mengambil piring untuk dirinya sendiri, dan mengisinya dengan daging dan telur dan berbagai macam menu kesukaannya.


“Aku memang bilang akan memakan apapun yang akan kau isikan di piringku, tetapi bukan berarti aku memintamu mengisikan menu ke piringku. Tidak, terima kasih, aku akan mengisi piringku sendiri. Silahkan kau makan saja apa yang kau ambilkan itu.” Xavier menunjukkan piringnya yang terisi penuh oleh lauk, lalu mulai makan dengan santai tanpa mempedulikan wajah Sera yang memerah karena jengkel.


“K-kau…” Saking jengkelnya, Sera malahan kehilangan kata-kata untuk berucap, matanya melebar, hanya mampu menatap kesal ke arah Xavier yang makan sarapannya dengan lahap seolah tak peduli.


Xavier mengangkat mata, lalu mengedip ke arah Sera dengan sikap menggoda yang memanaskan hati.


“Kulihat kau banyak mengambil sayuran untuk dirimu sendiri. Bagus. Kau sedang hamil, makan sayuran dan buah-buahan segar sangat baik untukmu karena bisa menjadi pasokan vitamin yang kebetulan tidak bisa dihasilkan oleh tubuh kita sendiri.” Lelaki itu mengangkat alis, sengaja bersikap tanpa dosa yang membuatnya tambah menjengkelkan di mata Sera. “Kenapa kau diam saja? Ayo makanlah.” Perintahnya santai, membuat Sera hanya mampu menggertakkan gigi tetapi akhirnya makan juga meskipun dengan gerakan kasar setengah hati.


Sera mengunyah seladanya yang terasa getir di mulut dengan kening berkerut. Matanya melirik ke arah Xavier yang melanjutkan makannya kembali dengan sikap elegan, berkebalikan dengan gerakan Sera yang kasar dan tak teratur saat memasukkan sayur mayur yang telah diambilknya itu ke mulutnya sampai penuh.


Sepertinya Sera harus menunda untuk membicarakan mengenai Aaron pagi ini. Dirinya sedang jengkel dengan Xavier dan sikap lelaki itu yang sekarang malahan memperburuk semuanya. Bukan tidak mungkin mereka tidak akan menemukan titik temu dan malahan berdebat tanpa ujung pangkal seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.


Tetapi, membicarakan tentang Aaron tentu tak bisa ditunda-tunda lagi. Balasan Xavier tak main-main, lelaki itu mengincar nyawa Aaron untuk dilenyapkan. Meskipun Sera juga membenci tindakan impulsif Aaron yang ingin mencelakai anak di dalam kandungannya, tetapi dia berpikir bahwa permasalahan ini tidak harus diselesaikan dengan membunuh Aaron.


Bagaimanapun, tanpa bantuan Aaron di masa lampau, detik ini mungkin Sera tak akan ada dan bisa mengandung anak Xavier. Sebab, tanpa bantuan Aaron di masa lampau, Sera mungkin sudah mati karena infeksi luka bekas cambukan di punggungnya yang bernanah dan infeksi, bisa juga dia sudah mati kelaparan karena dikurung berhari-hari di kamar penjara tanpa diberikan makanan dan minuman.


Xavier harus memahami itu, Sera berhutang nyawa kepada Aaron, dan hutang nyawa adalah sesuatu yang sangat besar dan tidak bisa diabaikan begitu saja.


Mata Sera mengawasi jas hitam Xavier yang tersampir di kursi, lalu memperhatikan penampilan rapi lelaki itu.

__ADS_1


“Apakah kau akan pergi?” tanyanya perlahan. Dia tahu bahwa dirinya harus bisa memastikan akan bertemu dengan Xavier lagi dalam waktu dekat untuk membicarakan ini. Masalah Aaron, tak bisa ditunda terlalu lama.


Tangan Xavier yang sedang menyuapkan irisan omelet terakhir ke mulutnya berhenti bergerak. Lelaki itu mengangkat alis dan menatap ke arah Sera tajam.


“Ada beberapa urusan yang harus kulakukan. Kenapa?” Xavier seolah ingin menyelisik dan menembus ke dalam hati Sera. “Apakah kau berpikir untuk menghalanginya?”


Sera melebarkan mata seolah tersinggung. “Kenapa kau menuduh seperti itu? Aku bahkan tak tahu kau akan pergi kemana,” sahutnya marah. “Aku hanya ingin tahu apakah kau… kau akan datang malam ini begitu urusanmu sudah selesai.”


“Datang kemana?” Xavier langsung menyambar, seolah tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Sera. Tetapi sekejap kemudian lelaki itu langsung mengerti. “Maksudmu, datang ke rumah sakit ini untuk menemuimu?”


Pipi Sera langsung memerah. Entah kenapa dia merasa menyesal telah mengucapkan pertanyaannya. Tadinya, Sera hanya ingin memastikan bahwa dia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Xavier nanti malam dimana mereka bisa berdiskusi dan berkompromi dan menemukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah Aaron. Tetapi pertanyaannya itu jelas bisa diartikan salah oleh Xavier. Sera jadi terlihat seperti perempuan yang dimabuk asmara, tak sabar untuk bertemu lagi dengan Xavier bahkan sebelum mereka mengucapkan salam perpisahan.


“Jangan salah paham. Aku… hanya ingin meminta kesempatan untuk berbicara denganmu… nanti malam.” Sera berusaha menjernihkan maksudnya, menatap ke arah Xavier dengan bersungguh-sungguh.


“Membicarakan apa lagi?” Xavier menyahuti seolah tak suka. “Apakah kau masih ingin memohon kepadaku supaya aku tak menyebarkan sayembara untuk membunuh Aaron? Kalau itu yang hendak kukatakan, maka jawabanku tetap sama. Hentikan saja sekarang, Sera, sebelum kau berharap terlalu jauh. Credence sudah membantuku, sayembara itu telah tersebar ke dunia bawah di seluruh penjuru negeri. Saat ini, semua pembunuh bayaran telah bergerak mengejar Aaron Dawn-mu itu. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kau menerima kabar kematiannya.”


“Xavier!” Sera memekik, menatap lelaki di depannya itu dengan rasa ngeri yang tak bisa disembunyikan. “K-kau sedang membicarakan nyawa orang di sini! Apakah kau lupa bahwa… bahwa Aaron telah berkali-kali menyelamatkan nyawaku di masa lampau? Jika dia tak ada, maka mungkin aku tak bisa berdiri di sini dan mengandung anakmu!” Sera sesungguhnya ingin menahan perdebatan mereka hingga esok hari, tetapi sikap Xavier membuatnya tak tahan untuk tidak mengemukakan apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


Mata Xavier menyipit, lelaki itu menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Sera dari ujung rambut hingga ujung kepala, sempat berhenti beberapa detik lebih lama di perut Sera, sebelum kemudian kembali menatap Sera dengan tajam.


“Singkirkan perasaan berhutang budi kepada Aaron yang menjengkelkan di kepalamu yang keras kepala itu. Kau sudah tak berhutang nyawa kepada Aaron lagi. Aaron memang menyelamatkan nyawamu, tetapi dengan menyebarkan sayembara kepada siapapun yang bisa membuatmu keguguran dan kehilangan bayimu, sama saja Aaron telah membahayakan nyawamu. Pistol yang ditembakkan ke arahmu kemarin, beruntung pelurunya meleset dan tak terkena perutmu. Jika sampai itu terjadi, peluru itu akan menyebarkan racun yang menciptakan kontraksi hebat di rahim yang akan memeras anakmu terlepas dari rahim nyaman tempatnya bernaung dan membuat anak kita seolah didera gempa hebat di dalam perutmu. Bukan hanya bayimu keguguran, kau juga akan kesakitan, kau akan mengalami pendarahan, kau bisa mati!” Xavier melemparkan garpunya ke piring seolah kehilangan selera, lalu lelaki itu berdiri, memundurkan kursinya dan menatap Sera dari posisinya yang tinggi menjulang di hadapan perempuan itu. “Selama aku pergi, pikirkan perkataanku baik-baik, Sera. Kau tidak berhutang nyawa apapun kepada Aaron. Dengan dia membahayakan nyawamu, maka hutang nyawamu kepadanya sudah impas. Kau tak berhutang apa-apa lagi dengannya.”


Xavier melemparkan tatapan penuh ancaman ke arah Sera yang tertegun, lalu menggertakkan giginya seolah menahan marah. “Aku akan kembali nanti malam untuk melihatmu. Selama itu, gunakan waktumu untuk menjernihkan pikiranmu yang berkabut. Nanti pada saat kita bertemu lagi, aku tak ingin ada pembahasan mengenai Aaron di antara kita. Jika kau ingin bersamaku sampai akhir, kau harus membuang Aaron dari kehidupanmu. Kau harus memilih Sera, aku atau Aaronmu itu. Tentukan pilihanmu nanti malam. Apapun yang akan kau pilih nanti akan menentukan apa yang harus kulakukan terhadapmu.”


Tanpa menunggu jawaban dari Sera, Xavier membalikkan tubuh, lalu melangkah meninggalkan ruangan perawatan itu dan membanting pintu di belakangnya dengan marah, membuat Sera hanya bisa terpana dan menatap ke pintu yang tertutup rapat tanpa bisa berbuat apa-apa.


***


“Sudah selesai. Dia akan bangun sebentar lagi dan siap untuk menerima instruksi.”


Dokter Nathan melangkah mundur, membiarkan asistennya membereskan peralatannya, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku jas putihnya seolah-olah ingin menyembunyikan rasa bersalah yang ditekannya kuat-kuat.


Xavier menganggukkan kepala dan mengulas senyum keji di bibirnya. Matanya terpaku kepada sosok Sabina yang terbaring kaku di atas ranjang besi yang berada di salah satu ruangan laboratorium penjara bawah tanah yang menjadi wilayah teritorial Akram.


“Bagus. Sabina adalah pembunuh yang sangat ahli. Dia juga memiliki ikatan emosional yang terbentuk dengan Aaron. Kurasa, Sabina adalah senjata yang paling tepat untuk melumpuhkan Aaron.” Xavier berucap dengan nada senang penuh antisipasi.


“Chip di batang otaknya itu akan mengambil alih kendali pikirannya, perintah yang kau tanamkan di sana akan terpatri dan membuatnya seperti robot yang tak akan berhenti sebelum dia berhasil melaksanakan perintah itu. Selain itu, memori di masa lampaunya akan tetap ada, meskipun kekuatan pengendalian pikiran yang didasarkan oleh emosinya sudah musnah. Ini sama saja kau mengubah manusia menjadi seorang robot.” Dokter Nathan menjelaskan dengan nada datar, matanya sendiri mengikuti mata Xavier yang terus mengawasi ke arah tubuh Sabina yang masih terbujur tak bergerak. “Tetapi, kau tentu sudah memperhitungkan bahwa prototype ini, selain melanggar hukum juga memiliki efek samping tak terdeteksi yang fatal.”


Dokter Nathan menghela napas panjang. Rasanya seperti percuma untuk menumbuhkan sisi kemanusiaan di dalam benak Xavier. Di mata Xavier, Sabina yang mengkhianati Dimitri atasannya dan memilih menyelamatkan Aaron telah pantas disebut sebagai pengkhianat yang layak mati. Ketika Xavier memutuskan bahwa seseorang layak mati, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menyelamatkan orang itu dari kejaran Xavier.


“Sayembara yang mendorong semua pembunuh bayaran itu mengejar Aaron, semua itu bukanlah tujuan akhirmu, bukan? Kau membutuhkan para pembunuh bayaran itu bukan untuk menghabisi nyawa Aaron, tetapi hanya untuk membuatnya terdesak. Apakah pendapatku ini benar?” Dokter Nathan berucap lagi, menebak dengan nada berhati-hati.


Xavier menyeringai, mengangkat alisnya ke arah Nathan.“Kali ini, aku menghargai kecerdasanmu. Tebakanmu benar. Para pembunuh itu bukan untuk membunuh Aaron, karena aku sendirilah yang akan membunuh Aaron dengan tanganku sendiri. Sabina juga bukan untuk membunuh Aaron, dia hanya akan memancing Aaron supaya aku bisa menemukannya. Pada saat aku menemukan Aaron, maka aku akan menjadikannya orang pertama yang mencicipi racun terbaruku yang baru saja kuciptakan.”


Kalimat Xavier terhenti ketika tubuh Sabina di depannya bergerak pelan, sebelum kemudian mata perempuan itu mengerjap-ngerjap dan akhirnya terbuka lebar, menatap berganti-ganti ke arah Xavier dan dokter Nathan dengan pandangan kosong layaknya boneka benda mati yang tak bernyawa.


***


Malam sudah semakin larut, tetapi Sera belum juga bisa tidur. Seharian ini dia sibuk berpikir, menelaah semua perkataan yang dilemparkan oleh Xavier kepadanya dan memadukannya dengan pikirannya sendiri.


Tak ada titik temu yang ada malah kepalanya terasa sakit.


Hati nurani Sera masih tak bisa menerima bahwa Xavier harus membunuh untuk menyelesaikan masalah. Tetapi ketika dia menanyakan pertanyaan kepada dirinya sendiri apakah dia memiliki alternatif penyelesaian yang lain, pikirannya juga buntu.


Seharian dia menghabiskan waktunya dengan berpikir yang sia-sia, tak mampu menemukan jalan keluar sehingga membuatnya frustasi dan jadi marah kepada dirinya sendiri.


Pintu ruang kamar perawatannya tiba-tiba terbuka, membuat Sera yang tadinya berbaring miring di atas ranjang langsung terkesiap duduk, menatap siapapun yang masuk itu dengan tatapan waspada.


Sesungguhnya, dia sudah tahu bahwa Xavierlah yang masuk. Tadi Sera sudah menyempatkan diri mengintip keluar meskipun tak diperbolehkan melangkahkan kaki sejangkah pun keluar dari kamar oleh bodyguard yang berjaga. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pintu depan kamarnya hingga sepanjang lorong rumah sakit di lantai tempatnya berada, dijaga ketat oleh para bodyguard berjas hitam dan bersenjata lengkap. Para penjaga itu tentu hanya akan membiarkan Xavier seorang yang boleh masuk ke dalam kamar ini.


Dugaannya benar, matanya langsung bersirobok dengan mata Xavier yang menatapnya tajam. Hari sudah lewat tengah malam, dan yang pertama terlihat oleh Sera adalah betapa pucat dan lelahnya wajah lelaki itu.


“Belum tidur?” Xavier menyapa lembut, melupakan pertengkaran mereka di pagi hari yang dikobarkannya sebelum pergi dan melepaskan jasnya sebelum kemudian melemparkannya ke sofa.


“A-aku menunggumu.” Entah kenapa melihat ekspresi Xavier saat ini, segala hal yang bergolak di dalam hati Sera selama seharian ini yang siap dilontarkannya dalam konfrontasi melawan Xavier langsung pupus padam tiada berbekas sama sekali.


Xavier tampak sangat lelah, bahkan kondisi lelaki ini tampak lebih buruk daripada sebelumnya. Apakah permasalahan menyangkut Aaron ini telah membuat Xavier memaksakan diri hingga mencapai batas kekuatan fisiknya?


Seberkas rasa bersalah bercampur kasih sayang langsung memenuhi benak Sera, membuatnya ingin merentangkan tangan, ingin mengajak Xavier bersandar ke dalam pelukannya, tetapi akhirnya dia malahan menahan diri sekuat tenaga karena takut Xavier akan menolak tawarannya itu mentah-mentah.


“Menungguku? Apakah kau masih ingin berdebat denganku? Bukankah sudah kubilang tak ada gunanya?” Xavier menyahuti tanpa minat, tangannya bergerak untuk memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri.

__ADS_1


“Kurasa aku tak akan berdebat denganmu malam ini.” Sera akhirnya memutuskan untuk berdamai dulu. Matanya kemudian mengawasi Xavier dengan cemas. “A-apakah… apakah kau baik-baik saja?” tanyanya berhati-hati.


Xavier menyeringai, tatapannya ketika bertemu dengan mata Sera tampak begitu sedih dan menyayat hati.


“Aku tak pernah baik-baik saja…” Lelaki itu berucap penuh ironi sambil mengusap wajahnya. Pada saat yang sama, suara pekikan terkejut dari mulut Sera langsung membuatnya mengerutkan kening. “Ada apa?”


Pertanyaan Xavier terhenti ketika melihat Sera dengan sigap meloncat dari tempat tidur dan menghampirinya. Lelaki itu menatap cemas ke arah perut Sera, memperingatkan dengan cepat. “Hei, hati-hati bergerak, apa kau lupa bahwa kau sedang hamil?”


Sebelum sempat Xavier melanjutkan seruan penuh peringatannya, Sera sudah berdiri di dekatnya, perempuan itu mendongakkan kepala, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih lengan Xavier dengan takut-takut.


“K-kurasa kau harus duduk di ranjang, ayo aku akan memapahmu, k-kau harus berbaring,” seru Sera dengan tatapan cemas setengah mati ke arah Xavier.


Xavier masih tak mengerti, tetapi sedetik kemudian dia langsung tahu. Aroma anyir yang tiba-tiba membanjiri rongga penciumannya ini, nuansa basah yang mengganggu ini....


Tangan Xavier mengusap hidungnya, lalu matanya menatap telapak tangannya sendiri. Dia mimisan, darah mengucur deras dari hidungnya.


“Astaga. Sialan!”


Xavier masih sempat mengumpat sebelum kemudian pandangannya jadi berkunang-kunang, berubah gelap pekat tanpa bisa ditahannya. Masih sempat didengarnya pekikan cemas Sera yang memanggil namanya, sampai kemudian dia tak ingat apa-apa lagi.


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


 


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


 


Yours Sincerely


AY


 


 


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2