
1/6 episode jadwal minggu ini
***
Xavier semakin dekat, menembus lingkar batas kenyamanan Sera, hingga satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan adalah meletakkan kedua telapak tanggannya ke dada Xavier untuk mencoba menciptakan jarak antara kedua tubuh mereka.
Kepala Xavier menunduk, lalu lelaki itu melepaskan cengkeramannya di wajah Sera dan mengalihkan tangannya untuk menggenggam pergelangan tangan Sera yang mendorongnya. Ketika Sera mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman lelaki itu, Xavier menahannya dengan kuat, sengaja menunjukkan begitu besarnya jarak antara kekuatan dirinya sebagai seorang lelaki, dengan kekuatan tubuh Sera yang hanyalah seorang perempuan.
"Tidak tahukah kau bahwa ketika kau memutuskan melewati garis batas peringatan dan mendekatiku, kau sama saja sudah menyerahkan dirimu kepadaku?" Xavier mengangkat kepalanya dari sisi wajah Sera, wajah mereka begitu berdekatan hingga napas Xavier terasa hangat mengembus wajahnya dan hidung mereka bersentuhan. Lelaki itu bahkan menggumamkan kalimatnya di permukaan bibir Sera. "Aku sudah meracunimu, Serafina Moon."
Perkataan itu diucapkan dengan begitu santai, penuh dengan nada kepuasan yang mengerikan, pun dengan efeknya atas Serafina yang langsung membelalakkan mata ketakutan.
Xavier meracuninya? Kapan? Dengan cara apa? Racun atau virus semacam apakah yang telah mencemari tubuhnya sekarang? Bagaimana bisa dia tetap tidak merasakan efeknya hingga detik ini?
"K-kau meracuniku?" tanyanya terbata, masih tak percaya.
Xavier terkekeh. Lelaki itu menarik mundur kepalanya sedikit, dan melepaskan kedua pergelangan tangan Sera yang dicengkeramnya, tetapi tak menjauhkan perangkap tubuhnya dari Sera.
"Aku menyuntikmu dengan racun khusus saat kau pingsan karena keracunan alkohol lalu aku membawamu untuk beristirahat di rumahku...,"
Kalimat yang diucapkan oleh Xavier tanpa rasa malu dan tanpa merasa bersalah itu membuat darah Xera dididihkan oleh kemarahan sampai ke ubun-ubunnya. Luapan kemarahan yang meletup-letup itulah yang membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak menampar Xavier.
Suara tamparan yang keras menggema memenuhi ruangan luas yang hanya ada mereka berdua di dalamnya itu. Suara itu berasal dari tangan Sera yang berayun sekuat tenaga ke pipi Xavier yang hanya bergeming tak menghindar.
"Kau... kau benar-benar tak punya integritas!" seru Sera dengan marah. “Kenapa kau melakukannya kepadaku? Apakah kau memang berniat membunuhku sejak awal?”
Xavier bahkan tak berkedip atas tamparan itu. Ekspresinya tampak dingin mengerikan, sementara matanya menatap tajam ke arah Sera.
"Sesungguhnya aku tidak mengistimewakan dirimu, dengan posisimu yang sudah diterima sebagai asisten pribadiku, aku hanya menjalankan prosedur yang sama seperti yang kulakukan pada semua pegawaiku. Tak tahukah kau bahwa aku, Xavier Light, selalu menyuntikkan racun diam-diam kepada seluruh pegawaiku? Dari posisi terdekat denganku sampai yang tak pernah bersentuhan denganku, jika mereka bekerja pada Xavier Light, maka mereka menyerahkan nyawanya sebagai jaminan kesetiaan," Xavier menyipitkan mata. "Karena aku tahu bahwa sesetia apapun manusia bertekad untuk setia, sisi gelap hati mereka masih punya setitik kemungkinan untuk berkhianat. Dengan racun ini, aku membuat mereka patuh kepadaku sekaligus mengeliminasi setitik kemungkinan itu."
Xavier mengawasi ketakutan Sera dengan saksama ketika melanjutkan kalimatnya. "Tenang saja, racun itu tak akan memberikan efek apapun ke tubuhmu kalau aku tak membuatnya aktif. Racun itu sedang berhibernasi menikmati masa tidurnya yang nyaman di di tubuh-tubuh yang mereka masuki. Mereka baru akan aktif ketika aku memutuskan untuk ‘membangunkan’ mereka.”
Mata Sera berkilat antara kengerian yang berpadu dengan kemarahan.
“Racun apa yang kau masukkan ke tubuhku? Dan apa maksudmu dengan mengaktifkannya?” geramnya dengan suara gemetar.
Kembali Xavier terkekeh, seolah menertawakan ketakutan Sera. Lelaki itu menggerakkan tangannya ke bahu Sera untuk membantu tubuh perempuan yang sedikit limbung itu supaya bisa duduk tegak. Setelahnya, Xavier melangkah mundur hanya satu langkah jauhnya dari tubuh Sera dan bersedekap.
“Setiap aku menemukan indikasi pengkhianatan apapun dari semua orang yang bekerja kepadaku, maka aku akan mengaktifkan racun yang membuat tubuh mereka lebah. Aktivasi level satu hanya akan membuatmu vertigo, mual dan muntah sepanjang hari…. Aktivasi level akhir, akan membuat sistem imun tubuhmu tidak mengenali mana yang kawan dan mana yang lawan, hingga pada akhirnya akan menyerang organ tubuh sendiri dan menggerogoti tubuh dari dalam. Kau tidak perlu tahu racun apa yang ada di tubuhmu dan bagaimana caraku mengaktivasinya. Kau hanya perlu tahu, bahwa ketika kau mengkhianatiku, maka kau akan mati.”
Sera menggertakkan giginya. Dia sungguh ketakutan, cara Xavier menceritakan efek racun itu benar-benar mengerikan. Tetapi, dorongan untuk melawan di dalam jiwanya cukup kuat sehingga dia akhirnya berani menggertak.
“Aku bahkan sudah mengkhianatimu sejak awal. Jika kau ingin membunuhku, kau pasti sudah membunuhku sejak lama, Xavier Light,” ucapnya setengah menantang. “Kenyataan bahwa kau tidak membunuhku, aku menduga kau pasti membutuhkanku.”
Xavier mengangkat sebelah alisnya. “Sesungguhnya aku menyukaimu dan kau terlalu berguna untuk dibuang begitu saja. Dan lagi, kau cukup cerdas hingga berani menantangku,” mata Xavier menyipit dengan sikap berbahaya. “Ya, aku memang membutuhkanmu. Bisa dibilang, aku membutuhkan tubuhmu.”
Mata Sera membelalak ketakutan. “Apa maksudmu?”
Xavier menyeringai. “Kau akan segera tahu. Nanti.”
Bibir Sera menipis ketika kemarahan memenuhi dirinya, melibas ketakutannya dan membuatnya langsung menatap ke arah Xavier dengan menantang.
“Aku ingin tahu sekarang. Apa hubungannya dengan tubuhku? Apakah kau ingin menggunakanku sebagai tikus percobaan bagi penelitian gilamu? Sebenarnya, racun macam apa yang telah kau masukkan ke dalam tubuhku?” seru Sera dengan suara kasar.
__ADS_1
Mata Xavier tampak berkilat oleh ketidaksukaan ketika mengetahui bahwa Sera masih berani menantangnya, bahkan setelah perempuan itu tahu ada racun yang dimasukkan oleh Xavier ke dalam tubuhnya.
“Untuk apa kau begitu penasaran dengan racun yang masuk ke tubuhmu? Supaya kau bisa mencari penawarnya?” mata Xavier menyipit. “Tak perlu repot-repot melakukannya. Semua racunku dibuat denga metode khusus, dimana aku turun tangan sendiri untuk memberi sentuhan rahasia yang tidak akan mudah dipetakan oleh siapapun. Jika susunan kimiawi racunku tidak bisa dipetakan, maka tidak akan ada yang bisa meramu penawarnya. Jadi sekarang, yang perlu kau tahu adalah, bahwa sekali aku menusukkan racun ke tubuhmu, kau sudah menjadi milikku.”
Tangan Sera mengepal dipenuhi kemarahan.“Kau sudah gila, Xavier Light,” geramnya kemudian dengan nada mencela.
Xavier tertawa, menertawakan Sera.
“Bukankah kau sudah mengetahui itu dari awal? Kau tahu kau sedang berhadapan dengan orang gila. Musuh yang paling berbahaya adalah orang gila, karena orang gila adalah makhluk yang tak bisa ditebak sejak awal. Makhluk-makhluk dengan pikiran yang gila, tidak memiliki batasan di otaknya, mereka bisa melakukan apapun yang tidak terpikirkan atau tak berani dipikirkan oleh orang waras. Dan kau, sebagai manusia normal yang otakmu dibatasi dengan logika, bukanlah tandingan orang gila sepertiku.”
Kalimat Xavier terlepas di udara laksana ultimatum mengerikan, membuat Sera sedikit gemetar ketika memikirkan kebenaran perkataan Xavier tersebut.
Yah. Dialah yang bodoh. Jika ditilik dari awal, dia terlalu meremehkan Xavier dan kepandaian otaknya yang di atas normal. Dia bahkan lengah dan memandang Xavier seperti orang normal biasa, sama seperti dirinya. Dia lupa kalau dia sedang berhadapan dengan psikopat berbahaya, yang berbahaya bukan hanya karena dia bisa meracuni orang dengan berbagai virus mengerikan tanpa berkedip dan tanpa rasa bersalah, tetapi juga karena Xavier memiliki kekayaan melimpah yang membuatnya bisa melakukan apa saja.
Uang bisa digunakan untuk mendapatkan apapun. Termasuk informasi rahasia mengenai Sera sekalipun yang oleh Roman Dawn sudah berusaha dia sembunyikan rapat-rapat dibalik berbagai lapis informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.
Seharusnya Sera lebih waspada dengan masa lalunya yang berkaitan erat dengan Xavier. Tetapi, Sera merasa terlalu percaya diri. Dengan segala kualifikasinya yang tertutup rapat, dia pikir dia tak akan membuat Xavier curiga, apalagi sampai menggunakana kekuatannya untuk mengorek informasi tentang dirinya hingga tuntas.
Karena kecerobohannya, maka Sera harus menanggung kesalahannya sendiri. Jatuh ke dalam cengkeraman Xavier Light tanpa disadarinya dan tanpa dia bisa melawan.
Tetapi untuk saat ini, Sera tidak bisa melawan. Dengan adanya racun di dalam tubuh Sera, posisi lelaki itu jelas berada di atas angin. Dia bahkan bisa membuat Sera melakukan apa saja, dengan ancaman nyawa Sera dalam genggamannya. Dan Sera masih belum ingin mati. Tidak sebelum dia bisa mencari cara untuk membuat Xavier bisa menerima hukuman atas segala kejahatan yang dilakukannya.
Satu-satunya cara supaya Xavier tidak menginjak-injaknya adalah dengan berkompromi. Ular yang licik harus dihadapi dengan sama liciknya. Sera tak mau menjadi tikus lemah yang pasrah ketika dililit sebelum kemudian dilahap bulat-bulat.
“Kau bilang kau membutuhkan tubuhku. Untuk apa?” Saat ini, dia sudah tak memiliki apapapun dalam dirinya, baik jiwa maupun raga yang bisa dipertahankan, sejak awal datang dan berusaha membalas dendam pada Xavier, Sera sudah siap mati. Tetapi, dia tak mau mati sebelum pembalasannya terlaksana. Jika tubuhnya adalah satu-satunya daya tawar untuk membuat Xavier membiarkannya hidup, maka Sera sudah bertekad akan memberikannya. Mungkin Xavier ingin menjadikan tubuh Sera sebagai bahan percobaan untuk menguji racun-racunnya? Jika memang benar itu yang terjadi, maka Sera akan merelakan tubuhnya untuk digunakan. Dia tahu pada akhirnya dia akan mati juga di tangan Xavier, hanya sekarang, setidaknya dia bisa menunda sejenak kematiannya.
Sayangnya, sikap Sera yang penuh tekad itu malahan dimanfaatkan oleh Xavier untuk mengganggunya. Langkah lelaki itu yang sudah menjauh kembali mendekat. Tangannya terangkat untuk mengelus sebelah pipi Sera, dan kali ini, meskipun tubuh Sera terkesiap dan menegang menahan paksa, dia tidak menghindar.
Xavier kembali membungkuk ke arah Sera, mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu dengan sikap merayu penuh hasrat, sementara ibu jarinya mengelus pipi Sera dengan elusan seringan bulu yang disengaja.
“Jika aku ingin mendekatimu pelan-pelan dan ingin pura-pura bersikap sebagai lelaki sopan yang menghargai wanita, Aku bisa saja bilang kalau aku membutuhkanmu untuk mencari jalan bagiku supaya bisa sampai kepada keluarga Dawn dan memberi mereka pelajaran. Tetapi, aku tidak suka berbohong dan bersikap munafik hanya demi mendapatkan seorang wanita. Aku bisa menjangkau keluarga Dawn tanpa bantuanmu sama sekali. Jadi…,” Xavier menempelkan hidungnya di hidung Sera, kali ini bibirnya sudah menyentuh permukaan bibir Sera dan menghembuskan kembali napas panasnya di sana ketika dia membuka mulutnya untuk bersuara. “Alasan sesungguhnya aku mempertahankanmu tetap hidup, adalah karena aku penasaran denganmu. Aku merasakan sesuatu yang tak biasa denganmu, seolah-olah getaran yang diciptakan oleh tubuh kita saling beresonasi dan tertarik untuk melakukan sinkronisasi. Dengan tubuhmu, kau membuatku tertarik dan aku ingin mencicipimu. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku membiarkanmu tetap hidup hingga detik ini.” Xavier menyelesaikan kalimatnya dengan kecupan lembut.
Lalu, setelah ciuman yang entah berapa lama itu, Xavier melepaskan pagutan bibirnya dan menghadiahi kecupan-kecupan kecil sambil lalu di sisi bibir Sera dengan sikap lembut yang menghanyutkan.
“Serafina Moon. Aku ingin kau menjadi wanitaku.”
Mata Sera melebar, masih tak habis pikir mendengar kalimat Xavier itu. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk berubah menjadi wanita yang berkebalikan dengan wanita-wanita kekasih Xavier sebelumnya yang dianggapnya sebagai wanita yang memenuhi kriteria untuk menjadi selera Xavier, dia memakai wig rambut pendek untuk menyembunyikan rambut aslinya, dia berdandan dengan pakaian kedodoran, dia bahkan meninggalkan sikap elegan khas wanitanya dan mengganti dengan sikap ceria yang berkilauan hingga bisa dibilang kekanak-kanakan.
Dan hal itu, masih bisa membuat Xavier tertarik kepadanya secara fisik? Apakah memang isi dalam kepala Xavier itu tidak bisa ditebak? Ataukah dia yang bodoh dan bertindak bagaikan badut lelucon yang tak sadar kalau sudah dibohongi dari awal?
“Apakah… apakah kau sudah gila?” bibir Sera gemetaran ketika dia mengucapkan tuduhannnya, matanya berkilat tak percaya, bingung harus memuntahkan kalimat apa untuk menyerang Xavier.
Senyum Xavier melebar, lelaki itu mengusap bibir Serafina yang basah bekas ciumannya dengan ibu jarinya, lalu mengangkat matanya untuk menatap Serafina dengan tajam.“Kenapa kau terus-menerus menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kau ketahui?" sahutnya dengan sikap mengejek. "Jika racun dalam tubuhmu masih belum cukup untuk membuatmu menyerahkan diri secara sukarela kepadaku… maka kau harus ingat akan nyawa ayahmu yang ada di penjara saat ini.”
Wajah Serafina memucat. “Apa… apa yang akan kau lakukan kepada ayahku?” serunya ketakutan.
Xavier menyeringai. “Untuk saat ini, tentu aku belum melakukan apa-apa. Tetapi, itu semua tergantung pada jawabanmu, aku akan memberimu waktu untuk berpikir malam ini…,”Suara Xavier terputus karena pintu ruangan terbuka dan Nathanlah yang memasuki ruangan.
“Aku akan melakukan pemeriksaan rutin kepada pasien.” Nathan berucap setelah memandang berganti-ganti ke arah Sera dan Xavier untuk menilai situasi.
“Kondisinya cukup baik.”
Nathan menyelesaikan pemeriksaannya dan menoleh ke arah Xavier yang menanti dalam diam dan bersedekap tak jauh dari ranjang perawatan, mengawasi.
__ADS_1
Kening Nathan berkerut. Sejak dia memasuki ruangan ini, suasana di dalam kamar perawatan sangat menegangkan, seolah-olah ada senar tipis yang dibentangkan di udara dan siap putus kapan saja.
Pasien perempuannya tampak dikejar teror, duduk diam dengan ekspresi pucat dan kedua jemari saling meremas seperti menahan sesuatu. Sementara, sikap Xavier sama buruknya. Lelaki itu memasang ekspresi mengancam dengan tatapan tajam yang seolah menembus ke dalam jiwa.
Nuansa tak mengenakkan itu sungguh mengganggu Nathan. Tetapi, dia sudah memutuskan untuk tak akan ikut campur dengan urusan Xavier. Dia hanya akan menjalankan kapasitasnya sebagai seorang dokter, lalu pergi.
“Apakah dia sudah bisa pulang?”
Xavierlah yang kemudian berucap dan memecahkan monolog yang sejak tadi dilakukan oleh Nathan.Pertanyaan Xavier itu membuat Nathan menolehkan kepala ke arah Xavier dengan sikap waspada.
“Kau ingin dia pulang? Apa kau lupa bahwa dia sudah tak punya rumah?” ujar Nathan dengan sikap sinis, tidak menyembunyikan sikap menyalahkan di dalam suaranya ketika menyinggung masalah kebakaran yang sudah tentu disebabkan oleh Xavier itu.
“Dia akan pulang ke rumahku.” Xavier menyahut lagi, sengaja memutuskan dengan sikap arogan, tak memberi kesempatan kepada Serafina untuk membuka mulut.
Lelaki itu melangkah maju dari posisinya yang sejak tadi mengawasi di bawah bayang-bayang, lalu mendekati Serafina tanpa perempuan itu bisa melawan. Dengan seringainya yang menyeramkan, Xavier berdiri di sisi ranjang, tempat Serafina duduk, lalu merangkul perempuan itu ke belakang lengannya.
“Mungkin aku belum memberitahumu, Nathan. Tapi lebih baik kukatakan sekarang daripada nanti kau memutuskan untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan merusak rencanaku. Serafina Moon adalah wanitaku.”
Tubuh Nathan menegak, menunjukkan ketidakpercayaan yang nyata. Matanya yang tajam mengawasi berganti-ganti antara Xavier dan Serafina.
Sungguh, bahkan orang bodoh sekalipun sudah pasti bisa tahu bahwa apa yang terpampang di depan matanya ini bukanlah pemandangan lelaki dan wanita yang saling memiliki dengan sukarela.
Xavier tampak seperti penyandera gila dengan seringai puasnya itu, sementara Serafina sangat mirip dengan sandera yang tak bisa bergerak karena ada pisau tajam yang dipasang ke lehernya.
Nathan menipiskan bibir, menatap Xavier dengan tajam
"Apakah Akram sudah tahu tentang ini?” tanya Nathan perlahan.Jika Serafina melamar sebagai asisten pribadi di Night Corporation, tentu saja hal ini berkaitan dengan Akram, bukan?
Xavier mengangkat bahu. “Kau pikir aku harus memberi tahu Akram untuk urusan pribadiku? Ini tidak ada hubungannya dengannya.”
Nathan mengetatkan gerahamnya, tiba-tiba menyadari alasan kenapa Serafina bersikap patuh dengan terpaksa terhadap Xavier.
“Apakah kau meracuni perempuan ini?” tanyanya dengan sikap kasar.
Xavier tidak menjawab, tetapi ekspresinya menunjukkan semuanya.
Seketika Nathan melangkah mundur dan membalikkan tubuhnya. “Kita bicara di luar,” geramnya cepat. Lalu, dengan sikap lembut, Nathan menoleh ke arah Serafina, melemparkan pandangan bersalah. “Maaf, Nona Serafina,” ujarnya perlahan, lalu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Xavier sepertinya tidak berniat menolak ultimatum Nathan sebelum pergi. Lelaki itu melepaskan rangkulannya dari tubuh Serafina, lalu mendekat untuk menghadiahkan kecupan di sisi wajah Sera.
“Aku harus menangani dokter pemarah itu terlebih dulu. Jangan lupa...,” Xavier sengaja menggantung kalimatnya untuk menciptakan efek mengerikan bagi Sera. “Pikirkan tawaranku tadi, karena esok pagi aku tak akan segan menagih jawabanmu.”
***
***
Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.
Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.
Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.
Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR
__ADS_1
Thank You. By AY