
Akram menyalakan keran air dan mencuci wajahnya dengan frustasi. Ketika kepalanya terdongak, matanya langsung menatap dirinya sendiri di cermin, mengawasi wajahnya sendiri dengan tatapan menelisik setengah menduduh.
Bagaimana sebenarnya Elana memandang dirinya? Seperti apakah dia di mata perempuan itu? Apakah dia masih dipandang sama seperti monster pemerkosa mengerikan yang suka memaksakan kehendak tanpa belas kasihan, ataukah Elana… biarpun setitik… biarpun setitik saja, pernah memandangnya sebagai sosok manusia yang memiliki perasaannya sendiri?
Rasa frustasi yang dalam terpancar dari matanya yang berkilat, membuat Akram harus mengembuskan napas panjang untuk meredakan dadanya yang seolah tertekan beban berat hingga terasa sesak dan mencekik tenggorokannya.
Apa yang sedang bertumbuh di dalam jiwanya, apa yang dirasakannya kepada Elana, masih begitu asing bahkan bagi Akram sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana caranya dia menjelaskan apa yang berkecamuk di dalam dadanya ini kepada Elana? Sementara dirinya sendiri bahkan belum berhasil menelaah perasaan.
Sungguh, menjadi sosok yang tidak diinginkan, oleh perempuan yang pada detik ini benar-benar diinginkannya, terasa sangat sakit di dalam jiwanya, lebih sakit dari luka fisik separah apapun yang pernah dirasakannya.
Sekali lagi Akram memercikkan air ke wajahnya untuk menjernihkan pikirannya yang masih berkabut oleh rasa nyeri bercampur hasrat bergolak tak terperi. Dia kembali menatap pantulan wajahnya di cermin dan menyeringai ketika menyadari betapa ironisnya dirinya.
Bahkan di saat dia menerima penolakan dan frustasi, ternyata gelora dan hasrat ingin memilikinya terhadap Elana tak juga padam. Meskipun perempuan itu begitu keras kepala dan tak mau menyerah kepada dirinya, Akram tahu bahwa apapun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan Elana dari tangannya.
Kilasan penuh tekad menyala di mata Akram ketika lelaki itu akhirnya memutuskan. Ya, jika dia tidak bisa memiliki Elana dengan cara baik-baik, maka dia akan menggunakan cara lain yang lebih licik, sebuah cara yang akan memerangkap Elana, terikat selamanya dengan dirinya tanpa ada jalan untuk melarikan diri lagi.
Mungkin saat ini Elana sudah hamil, mungkin juga belum. Tetapi malam ini, Akram akan memastikan bahwa Elana akan benar-benar hamil anaknya. Seorang anak yang akan menjadi pengikat perempuan itu, supaya tak bisa melepaskan diri dari dirinya. Seorang anak yang akan menjadi jaminan baginya, bahwa Elana tidak akan pernah meninggalkannya.
***
***
Elana menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu, dan seketika rasa bersalah langsung menggayuti jiwanya.Sikap Akram yang seolah terluka dengan segala pernyataannya, terlebih ketika lelaki itu mengetahui bahwa Elana masih menyimpan rasa ingin melepaskan diri darinya, tampak begitu jelas.
Tetapi, apa yang diharapkan Akram Night darinya? Sementara Elana bahkan tidak mampu memahami dirinya sendiri?
Perasaan itu tentu mulai ada, rasa sayang yang dipupuk perlahan dari kebersamaan yang mulanya dipaksakan, ditambah lagi dengan perhatian yang terasa menyentuh jiwa. Elana sudah pasti tidak punya hati nurani kalau dia sampai tidak tersentuh dengan sikap baik, pengorbanan, kasih sayang yang diberikan oleh Akram kepadanya beberapa waktu terakhir ini. Tentu saja Elana tersentuh, dan dia bahkan tersentuh begitu dalam hingga rasa kasih sayang bertumbuh di hatinya terhadap Akram, membuatnya ketakutan setengah mati.
Ya, Elana sungguh takut hatinya yang rapuh akhirnya akan menyerah dan menjatuhkan dirinya untuk mencintai Akram. Jika sampai itu terjadi, sama saja Elana membuka dirinya lebar-lebar untuk disakiti oleh Akram dengan sebebas-bebasnya.
Oh, Akram memang sudah tidak pernah menyakitinya atau memaksakan kehendaknya dengan kasar kepada Elana lagi. Elana juga telah memaafkan pemerkosaan dan pemaksaan kejam yang dilakukan oleh Akram untuk memiliki serta menawannya hingga saat ini. Tetapi, bukan berarti lelaki itu tidak akan pernah menyakitinya di masa depan, bukan?
Apalagi dengan posisi dirinya yang hanyalah setitik debu jika dibandingkan dengan Akram. Kalau sampai Elana berani menumbuhkan rasa cinta, lalu tiba-tiba saja lelaki itu merasa bosan dan membuangnya seperti yang telah dilakukannya kepada wanita-wanita yang pernah menjadi kekasihnya sebelumnya, apalagi yang akan tersisa dari Elana? Dia sudah tidak memiliki tubuhnya lagi, diambil paksa oleh Akram, apakah dia juga akan menyerahkan hatinya untuk dihancurkan berkeping-keping oleh Akram di kemudian hari?
Demi menjaga hatinya dari kehancuran, sudah pasti Elana tidak boleh menumbuhkan rasa sayang…. Apalagi cinta kepada Akram, bukan?
__ADS_1
Lelaki itu tak pernah memandang lebih dirinya sebagai sosok wanita yang saat ini memenuhi kriterianya, memenuhi hasratnya di atas tempat tidur. Sikap Akram memang lebih baik, mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Tapi setelah itu apa? Bahkan ungkapan sayang dan cinta, janji untuk setia selamanya seperti yang terjadi pada pasangan kekasih pada umumnya tidak pernah terjadi pada mereka.Yang dilakukan Akram adalah memuaskan nafsunya terhadap Elana tanpa henti di atas ranjang, seolah-olah itulah fungsi kekasih yang dipahami oleh Akram. Bahwa pasangan kekasih itu saling mempertautkan tubuh, bukan mempertautkan hati.
Memikirkan itu semua entah kenapa membuat dada Elana terasa nyeri. Dia menghela napas berkali-kali ketika matanya terasa panas menahan air mata yang hendak tertumpah.Semua ini terasa sulit baginya. Seandainya saja Akram terus bersikap jahat dan kejam, itu akan mempermudah Elana untuk membencinya tanpa beban, melindungi hatinya sendiri dari kemungkinan jatuh cinta kepada sosok yang terlalu tinggi untuk dicintai. Tetapi, Akram malah melakukan hal yang sebaiknya, bersikap baik, dan lembut, hingga ketika Elana berjuang untuk membenci Akram dan membentengi hatinya, dia malah merasakan sengatan rasa bersalah yang pedih ketika melihat reaksi Akram yang tersakiti.
Pintu kamar mandi terbuka, membuat Elana sedikit terkesiap dan langsung memosisikan dirinya untuk berbaring miring menghadap arah yang berlawanan dengan kedatangan Akram, lalu berpura-pura untuk tidur.
Sudah cukup segala konfrontasi yang menyesakkan jiwa malam ini. Hati Elana tak akan kuat jika diberi lebih lagi.
***
***
Ketika Akram melangkah keluar dari kamar mandi, matanya langsung terpaku pada tubuh mungil yang berbaring meringkuk membelakangi di atas ranjang. Tubuh Elana tampak tenggelam di balik selimut yang tebal menutupi tubuhnya.Akram menipiskan bibir dengan perasaan ironi. Berani-beraninya perempuan itu tertidur tanpa beban setelah menggantungkan tubuhnya dengan hasrat tak tersalurkan yang cukup menyiksanya.
Sudah tentu Akram tidak akan membiarkan Elana tidur malam ini.
Perlahan Akram melangkah mendekati tepi ranjang. Langkah kakinya yang telanjang tak terdengar, teredam oleh tebalnya karpet yang melapisi seluruh permukaan lantai. Akram tidak mengenakan pakaian selain handuk putih yang mengikat di pinggangnya. Dia tadi mencoba mandi meskipun kesulitan akibat bebat di lengan dan dadanya yang sebisa mungkin dihindari supaya tak terkena air. Mandi dengan air dingin yang sayangnya tak juga mampu meredakan hasratnya yang semakin menggelora ketika dia bertekad melaksanakan ide untuk memastikan kehamilan perempuan itu.
Sejenak Akram berdiri meragu di tepi ranjang. Matanya mengawasi punggung Elana yang bergerak naik turun dengan teratur. Sedang menimbang-nimbang apakah dia lebih baik bersikap egois dengan membangunkan perempuan itu dan langsung bercinta dengannya, ataukah berlagak seperti orang suci yang berbaring diam di samping Elana, menyiksa diri sepanjang malam karena tak ingin mengganggu istirahat perempuan itu.
Seketika itu juga Elana memberikan reaksi, tubuhnya begidik terkesiap dan refleks berusaha menjauhi Akram. Tetapi, tentu saja Akram tidak akan membiarkan wanitanya menjauh dari dirinya. Ditahannya tubuh Elana dan bibirnya bergerak dengan ahli, menelusuri permukaan kulit tengkuk Elana yang telanjang dan menghadiahkan kecupan lembut di sepanjang permukaan kulit lembut nan hangat itu.
“Siapa yang bilang kau boleh tidur?” Akram berbisik dengan nada parau, memastikan Elana benar-benar terbangun dan bisa mendengarkan suaranya.
Elana hendak menolehkan kepala dan berbalik ke arah lelaki itu untuk berbicara, tetapi Akram menahannya, dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Elana dan menghadiahkan kecupan lembut seringan bulu yang mengirimkan gelenyar ke seluruh tubuh Elana.
“Kau tahu, perasaanku kepadamu...,” suara Akram terdengar tersekat ditenggorokan berlumur keraguan yang hampir tak pernah ada di nada suara lelaki itu sebelumnya. “Kaulah yang mengajarkanku untuk mencintai seorang wanita dengan cara yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Kau adalah cinta pertamaku, dan kau adalah kekasih pertamaku. Aku pernah meniduri banyak wanita sebelumnya, dan bagiku mereka bukanlah kekasihku, mereka hanyalah obyek, sesosok tubuh, teman tidur dan pemuas nafsu. Tetapi, kau adalah wanita yang berhasil membuatku memandangmu sebagi subyek, sebagai sosok manusia yang setara denganku, dengan emosi nya sendiri yang kadang harus kutoleransi. Dan kau adalah satu-satunya wanita yang menumbuhkan keinginanku untuk menjaga dengan segala yang aku punya, satu-satunya wanita yang kurindukan kehadirannya ketika kau tak ada di sisiku.”
Ucapan Akram itu membuat Elana tertegun. Sungguh, dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari bibir Akram. Lelaki ini… yang begitu sombong dan angkuh terhadap orang lain… mengakui dengan gamblang bahwa Elana telah membuatnya jatuh cinta?
Elana hendak menjawab perkataan Akram, tetapi lidahnya kelu sementara jantungnya malahan berdebar semakin kencang, ditekan oleh perasaan aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Didengarnya napas Akram yang terasa begitu hangat di dekat telinganya, sementara Elana sendiri masih diliputi ketidakpercayaan.
Jangan-jangan dia tadi sudah tertidur dan ini semua hanyalah mimpi?
“Aku sama sekali tak berpengalaman dalam hal ini. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mencintai dengan benar. Mencintai orang lain mungkin satu-satunya hal yang tidak kukuasai dengan baik,” ada nada penuh ironi di dalam suara Akram, begitu kental hingga Elana bisa membayangkan bagaimana lelaki itu tengah menipiskan bibir dalam gurat senyuman getir yang mengolok dirinya sendiri. “Karena itulah, kau harus mengajariku. Yang kuketahui ketika menginginkan seseorang adalah menyatukan fisik sedekat mungkin dengannya, karena itulah mungkin kau menganggapku maniak gila yang tak henti-hentinya ingin menyentuhmu. Memang keinginanku atas dirimu seolah tak ada habisnya, tetapi hanya itulah satu-satunya cara yang kuketahui untuk… untuk mewujudkan perasaanku dalam perbuatan, untuk menunjukkan kepadamu apa yang kurasakan. Aku ingin lebih dekat denganmu dengan bercinta.”
Elana segera membalikkan tubuh, ingin melihat ekspresi Akram ketika berucap, dan kali ini lelaki itu tidak menahannya. Mereka berbaring berhadap-hadapan dan Elana mendongakkan kepala, menatap wajah Akram dengan ekspresi malu bercampur ingin tahu.
__ADS_1
Tetapi, untuk saat ini Akram tampaknya tidak ingin menutupi apapun. Apa yang ada di wajahnya menggambarkan semuanya, kebingungannya, kepanikannya, bahkan juga rasa cinta yang tidak ditutup-tutupi lagi.
“Matamu berkata bahwa kau tidak percaya kepadaku. Apakah kau berpikir aku sedang mencoba memanipulasimu hingga kau lengah dan memutuskan untuk tinggal?” Akram menyentuhkan ibu jarinya ke dagu Elana dan mengusapnya lembut. “Kau pernah bilang sebelumnya bahwa aku terlalu angkuh untuk mencintai orang lain. Bahwa aku terlalu sombong hingga aku tidak pernah begitu berputus asa dalam mencintai seseorang selain diriku sendiri. Tetapi sekarang…. Aku sungguh putus asa,”
Suara Akram menghilang, seolah lelaki itu kembali merasakan denyut nyeri di dalam hatinya atas penolakan dan atas kekeraskepalaan Elana yang masih terus ingin melarikan diri darinya setelah segala hal yang dia lakukan untuk menahan perempuan itu. “Aku begitu putus asa…. hampir gila mencari cara untuk menahanmu tetap tinggal bersamaku, untuk menahanmu supaya tidak lari dariku. Apakah kau tidak tahu? Kau adalah satu-satunya wanita yang ingin kupanggil sebagai kekasihku. Kekasihku yang sesungguhnya karena kau benar-benar kukasihi….”
Kesungguhan kalimat Akram memantik rasa terharu di jiwa Elana yang tersentuh sepenuhnya. Dia tidak bisa menahan matanya yang terasa panas, beruraikan cairan bening luapan perasaannya. Isaknya terdengar ketika akhirnya Elana hanya bisa memanggil nama lelaki itu di sela pita suaranya yang seolah tercekik.
“Akram….” Bisiknya parau, tak tahu harus memberikan tanggapan apa.
“Aku tidak memintamu membalas perasaanku untuk sekarang. Aku hanya memintamu bersabar dan memberiku kesempatan. Aku akan belajar mencintaimu dengan cara yang benar, dengan cara yang sudah sepantasnya. Ajari aku apa yang harus kulakukan untuk membuatmu senang,” Akram menangkup ke dua sisi pipi Elana dan mendongakkannya, membuat perempuan itu begitu dekat dengannya. Bibirnya menggesek bibir Elana lembut, sementara matanya menatap tajam penuh tekad. “Ajari aku apa yang harus kukatakan untuk membuatmu bahagia? Apa yang harus kulakukan atau di saat seperti ini supaya bisa memenuhi standar seorang kekasih bagimu?”
Akram bergerak memagut bibir Elana, dan menciumnya.
Kali ini Elana tidak menolaknya, ketika Akram menciumnya, dia membalasnya. Ketika Akram menyentuhnya, Elana melingkarkan tangannya di punggung kokoh lelaki itu merasakan panasnya suhu permukaan kulit Akram yang berkebalikan dengan tubuhnya yang mendingin.
Ketika Akram mengklaim perempuan itu sebagai miliknya, seluruh pertahanan diri Elana runtuhlah sudah, menyerah dan membiarkan hati dan jiwanya jatuh ke dalam kekuasaan lelaki itu tanpa ingin melawan lagi.
***
***
***
***
__ADS_1