
“A new day. And I crave to touch you even more than yesterday.”
"Jangan coba-coba,"
Suara Akram terdengar dingin ketika berdesis memperingatkan ke arah Elana yang tengah memandang ke sekeliling, ke arah pintu helikopter yang tertutup rapat, tanpa sadar mencari jalan untuk melarikan diri.
Peringatan yang diberikan oleh Akram dengan suara dalam menusuk itu membuat tubuh Elana membeku, ketakutan merayapi dirinya ketika menyadari intensitas suara Akram yang meskipun diucapkan dengan tenang tetapi menyiratkan ancaman mengerikan yang tidak main-main.
Tiba-tiba saja, Akram bergerak maju, tangannya terulur ke arah Elana, membuat Elana refleks memundurkan tubuh hingga punggungnya membentur punggung tempat duduknya dan bersikap defensif, menggerakkan lengan untuk memeluk dirinya sendiri.
Akram menundukkan kepala, memandang ke arah Elana dengan tatapan tajam, ekspresinya tidak berubah, ketika lelaki itu mengabaikan sikap mempertahankan diri Elana, meraih sabuk pengaman yang tergantung di sisi tubuhnya dan memasangkannya tanpa suara ke tubuh Elana.
Elana menahan napas, sekujur tubuhnya menegang penuh ketakutan dan rasa tidak nyaman ketika menyadari bahwa Akram begitu dekat dengan dirinya dalam proses memasangkan sabuk pengaman untuknya. Lelaki itu sepertinya langsung datang dari tempat kerjanya, mengingat pakaian jas setelan tiga potong yang tampak sangat mahal dan rapih yang membungkus tubuhnya dengan begitu pas seolah dijahit khusus untuknya. Aroma aftershave maskulin berbaur dengan parfum dan rokok klasik tercium samar tanpa bisa dicegah memasuki indra penciuman Elana, membuat Elana merasa semakin terintimidasi dan terancam.
Dia tidak pernah sedekat itu dengan lawan jenis sebelumnya, dan lelaki jahat ini telah menginvasi batas-batas yang telah ditetapkan oleh Elena kepada dirinya sendiri dengan brutal dan penuh pemaksaan...
Suara 'klik' perlahan terdengar, membuat Elana mengerjapkan mata dan tersadar dari rasa mencekam yang membuatnya langsung berusaha menjauh, menyingkirkan tubuh Akram yang masih berada begitu dekat. Kepala Akram menunduk, matanya yang tajam berpadu dengan mata Elana, sementara tak ada satu kalimat pun yang terucap dari bibirnya.
Ditatap seintens itu membuat Elana memalingkan wajah, seluruh jiwanya ingin memberontak, tetapi tubuhnya lunglai didera oleh ketakutan, semakin merasa tak berdaya ketika helikopter itu mulai bergerak naik, mengudara dan meninggalkan landasan diiringi suara berderu yang melingkupi.
"Bangun,"
Suara Akram yang tajam kembali menginvasi alam ketidaksadaran Elana dengan kuat, membuat Elana langsung menegakkan tubuhnya dengan tegang, lalu memandang ke sekeliling dengan waspada.
Butuh waktu beberapa saat bagi Elana untuk mengembalikan kesadarannya. Sejenak matanya menatap ke arah Akram dengan bingung, pikirannya masih berkabut, apalagi ditambah suara deru helikopter yang menggema di telinganya dan membuatnya sulit berkonsentrasi. Lalu kesadarannya kembali secara perlahan, membuatnya mendongakkan kepala ketika menyadari bahwa Akram telah berpindah duduk dari seberangnya ke sampingnya.
Bagaimana mungkin lelaki ini bisa berpindah di sebelahnya tanpa Elana menyadarinya? Kenapa tidurnya begitu nyenyak sehingga dia kehilangan pertahanan diri dan membiarkan lelaki itu begitu dekat dengan dirinya?
Elana langsung berusaha menjauh dengan pipi merah padam saat tahu bahwa dia tadi tertidur sambil menyandarkan kepalanya di lengan Akram. Tetapi usahanya sia-sia, lengan Akram melingkar di belakang punggungnya, dan lelaki itu merangkul tubuhnya dengan erat, merapatkan Elana ke dirinya yang kokoh dengan kuat, tanpa kesempatan bagi Elana untuk melawan.
"Kita sudah hampir sampai," jemari Akram sedikit meremas lengan Elana, sementara kepalanya berpaling, menatap ke arah jendela lebar di samping mereka, menunduk ke untuk melihat pemandangan di bawah mereka.
Rasa ingin tahu membuat Elana melupakan keinginannya untuk menjauh, dia mengikuti arah pandangan Akram dan matanya langsung melihat sebuah pulau kecil yang dipenuhi pepohonan hijau nan rimbun dengan dominasi atap bangunan besar berpagar tinggi seperti benteng dan kastil di masa lalu yang berada tepat di bagian tengah pulau. Rasa takut kembali merayapi diri Elana ketika menyadari bahwa Akram benar-benar mewujudkan perkataannya sebelumnya. Lelaki itu tidak main-main ketika menghapus seluruh jejak keberadaan dan kehidupan Elana di dunia ini dan mengatakan akan mengurung Elana sehingga tidak bisa melarikan diri. Jika dirinya dikurung di pulau terpencil tengah lautan seperti ini, maka sudah pasti tidak akan ada kesempatan bagi Elana untuk melepaskan diri dari cengkeraman Akram.
Apa yang harus dia lakukan?
Jantung Elana berdebar dipenuhi kepanikan tak terkendali ketika membayangkan masa depan yang membentang gelap di depannya.
__ADS_1
Segera setelah helikopter yang mereka kendarai ini mendarat di pulau tersebut, maka sudah pasti Elana akan dipaksa melupakan seluruh kebebasan yang dimilikinya.
Astaga..... Apa yang harus dia lakukan?
Kembali pertanyaan yang sama berulang di benak Elana, melingkupi jiwanya dengan rasa kalut dan panik hingga dia akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa ketika merasakan helikopter itu mendarat dan cengkeraman Akram di lengannya terasa semakin kencang, bersiap membawanya turun dari helikopter itu.
Akram masih tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Elana ketika dia setengah menyeret tubuh perempuan itu berjalan melewati landasan helikopter melewati jalan setapak dengan lantai beton di bawah kakinya dan pepohonan yang berjajar di kiri dan kanan mereka. Jalan setapak itu mengarah ke gerbang besar yang terbuka, gerbang yang sangat tinggi hingga Elana harus mendongakkan kepala untuk menatap ujung tertingginya. Gerbang itu sendiri sudah terbuka lebar seolah sengaja untuk menyambut kedatangan mereka, dengan dijaga oleh begitu banyak orang berjas hitam dengan wajah kaku yang sekarang sudah Elana kenali sebagai bodyguard dan penjaga keamanan milik Akram.
Dinding memanjang yang bahkan lebih tinggi lagi dari gerbang raksasa itu tampak membentang di depan mereka, melingkar dan berbelok sampai ujung yang tidak bisa dicapai oleh mata Elana. Tetapi, dari pemandangan yang dilihat oleh Elana sebelumnya di atas helikopter tadi, Elana tahu pasti bahwa dinding itu dibangun melingkari seluruh penjuru kastil dengan rapat, tanpa ada akses lain untuk keluar masuk selain pintu gerbang raksasa yang dijaga dengan penjagaan ketat berteknologi tinggi.
Tanpa peduli dengan para petugas kemanan yang membungkuk hormat memberi salam kepadanya, Akram bergerak menyeret Elana untuk melewati gerbang raksasa itu, sementara mata Elana masih terpaku dengan kepala menoleh ke belakang, menjerit dalam hati ketika melihat para petugas keamanan itu menutup pintu gerbang tersebut dengan rapat di belakang mereka.
“Sekarang sedang musim hujan, udaranya basah dan lembab dan kadang-kadang badai bisa menerjang pada saat-saat tertentu. Aku menyarankan ketika hari sudah gelap kau tidak berkeliaran di sekitar rumah karena siapa yang tahu kalau tiba-tiba badai datang dan kau terjebak di hutan yang mengelilingi rumah ini. Berada di luar rumah ketika badai berlangsung mungkin tidak akan membunuhmu, tetapi percayalah, itu akan menjadi pengalaman yang sangat mengerikan serta traumatis bagimu.” Akram berucap dengan nada dingin ketika mereka melangkah memasuki pintu rumah yang terbuka.
Di ambang pintu, tampak beberapa pelayan yang berdiri menyambut, dan sekali lagi Akram mengabaikan mereka, membawa Elana menyusuri tangga besar yang langsung terbentang di tengah ruangan di hadapan pintu depan yang terbuka lebar.
Elana tak berdaya, langkahnya terseret mengikuti langkah Akram yang lebar menaiki satu persatu anak tangga dengan cepat. Mereka akhirnya sampai di anak tangga terakhir, mendarat di lantai dua dan berhadapan langsung dengan lorong lebar dengan pintu-pintu kamar yang tertutup berjajar di kiri dan kanan, berpadu dengan lukisan berbingkai emas yang tampak seperti karya seni mahal di sepanjang tembok lorong tersebut. Karpet bulu tebal berwarna merah tua terbentang melapisi lantai lorong, tampak kontras dengan dinding yang bertutup pelapis nuansa kayu dengan aksen uliran emas di bagian atas dan bawah dinding.
Napas Elana terengah-engah ketika langkah Akram melambat ketika mereka sampai di ujung lorong lantai dua itu. Tetapi, bukannya memberi kesempatan kepada Elana untuk beristirahat, Akram membawa Elana kembali melangkah menaiki sebuah tangga tersembunyi yang terletak di ujung ruangan.
“Lantai tiga adalah lantai pribadiku. Dan itu akan menjadi tempat tinggalmu di rumah ini.” Akram menjelaskan dengan nada tenang ketika langkah mereka kembali berhenti di ujung teratas. Mereka berhadapan dengan pintu raksasa yang tak kalah besar dari pintu depan, lalu membuka pintu itu.
Tanpa memberi kesempatan Elana untuk menolak atau melawan, Akram menarik Elana melewati ambang pintu lalu menutup pintu itu dengan cepat di belakang mereka.
Elana langsung terpaku, kakinya seolah beku, tidak berani melangkah lebih jauh ke tengah ruangan. Matanya memindai pemandangan yang terbentang di depannya, menampilkan ruangan yang sangat luar seperti gambaran bagian dalam apartemen modern mewah yang semula hanya bisa dilihat oleh Elana di majalah-majalah atau iklan properti yang tidak sengaja muncul di website yang dia kunjungi melalui ponselnya. Berkebalikan dengan nuansa kastil di lantai satu dan dua yang tampak seperti muncul dari abad pertengahan, lantai tiga ini tampak begitu modern, dengan gaya perabotan minimalis dan berbagai peralatan digital yang tampak sangat canggih bertebaran di seluruh ruangan.
Ruangan yang tertampil di depan matanya ini sangat luas. Sepertinya, Akram menggunakan seluruh bagian lantai di tingkat tiga kastil besar ini secara penuh untuk membangun sarang pribadi yang disesuaikan dengan seleranya. Seluruh perabotannya dan tampilan ruangan ini seolah mencerminkan jiwa Akram yang gelap dan kelam, bernuansa hitam gelap, berpadu dengan dinding dan karpet tebal dengan gradasi lapisan warna abu-abu yang mendominasi.
“Kastil ini terletak di sebuah pulau yang jauh berada di tengah laut.” Akram melangkah menjauh sedikit dan kemudian membalikkan tubuh dengan santai, bersedekap, menatap Elana dengan pandangan tajam, mengawasi dengan tatapan menilai yang tak ditutup-tutupi. “Aku sudah memperingatkan kepadamu bahwa kau tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri di sini. Daratan terdekat terletak sangat jauh dan memerlukan perjalanan satu hari penuh jika kau menggunakan kapal dan hanya ada satu kapal yang datang dan pergi setiap satu bulan sekali untuk mengirimkan persediaan makanan dan bahan kebutuhan pulau ini. Lupakan untuk menyelinap ke kapal itu karena kuyakinkan kepadamu, bahwa penjagaannya sangat ketat. Kau juga harus tahu bahwa pantai yang mengelilingi pulau ini kadang-kadang digunakan sebagai tempat berjemur buaya air asin yang berukuran sangat besar. Jangan lupakan keberadaan hiu di tengah lautan yang siap memangsamu kalau kau berani-beraninya mencelupkan kakimu ke dalam air laut. Jika kau takut darah dan tidak ingin dimangsa hidup-hidup dengan cara yang sangat menyakitkan, aku sarankan kau untuk tidak menyentuhkan kakimu ke garis pantai pulau ini.”
Akram menghentikan kalimatnya dan memerhatikan wajah Elana yang pucat pasi mendengar kalimatnya dengan tatapan tajam. “Ketika kau bersamaku, kamera pengawas akan dimatikan. Tetapi, jika aku tidak sedang bersamamu, kau tetap berada dalam pengawasan penuh. Jika kau berusaha melukai dirimu sendiri, atau bertindak bodoh dalam upaya melarikan diri, maka sebelum kau melakukannya, aku akan tahu dan mencegahmu, lalu membuatmu menyesal seumur hidup.” Akram tidak perlu menjelaskan dengan terperinci, tetapi Elana langsung teringat pada ancaman Akram sebelumnya yang menyatakan akan mematahkan tangan dan kaki Elana lalu membuatnya invalid seumur hidupnya.
Akram melepaskan jasnya dan menyampirkan di punggung sofa besar di belakangnya. Tangannya bergerak melonggarkan dasinya, lalu membuka bagian atas kancing kemejanya sementara dirinya berbalik, bergerak melangkah mendekati Elana.
Kembali Elana merasakan dorongan untuk berlindung dan menjauh. Langkah Akram perlahan tetapi mengintimidasi, layaknya predator besar yang hendak memerangkap makhluk tak berdaya yang akan dijadikan mainanya sebelum kemudian dilahap dengan kejam.
Elana melangkah mundur ketika Akram melangkah mendekatinya. Lelaki itu tampak lebih berbahaya dengan kemeja yang terbuka beberapa kancing dan dikeluarkan dari ikat pinggang celananya, rambut Akram yang semula rapi di sisir ke belakang tampak sedikit berantakan, menutup sedikit sisi dahinya dan menaungi tatapan matanya yang tajam. Punggung Elana membentur pintu yang tertutup di belakangnya, dan dia menelan ludah ketika Akram tidak memperlambat langkah dan baru berhenti ketika lelaki itu sudah berada dekat sekali dengan Elana, hampir menempel di depan tubuhnya.
Elana harus mendongakkan kepala untuk menatap wajah Akram yang menjulang di atasnya, dan mata mereka bertemu lalu saling terpaku. Lelaki itu sekarang menunduk, membuat wajah mereka hampir bersentuhan.
__ADS_1
Ekspresi Akram tidak terbaca, tubuh jangkungnya yang kontras dengan tubuh mungil Elana makin membungkuk dengan kedua tangan memerangkap Elana di sisi kiri dan kanan kepalanya, menahan telapak tangannya di sisi kayu pintu yang terletak tepat di belakang Elana.
Dan tanpa meminta izin, Akram setengah membungkukkan tubuh untuk mengimbangi ukuran tubuh Elana, wajahnya mendekat, menghembuskan napas hangat di bibir Elana sebelum kemudian bibirnya hendak memagut bibir Elana tanpa peringatan. Seketika itu juga, didorong oleh refleks perlindungan dirinya, Elana langsung memalingkan wajah, membuat bibir Akram meleset dan mendarat di pipinya.
Akram mengerutkan kening, jemarinya menyentuh dagu Elana dan mendongakkannya.
“Kau tidak boleh menolak. Karena kau ada di sini untuk melayani dan meyenangkanku. Tidak tersedia pilihan lain untukmu,” bisiknya parau, bibirnya lalu mendarat lagi perlahan, menyusuri sisi wajah Elana dengan hembusan napasnya yang panas dan menggoda.
Elana meringis, berusaha menggerakkan tangannya ke dada Akram dan mendorongnya, tetapi tentu saja percuma. Lelaki di depannya itu bergeming, laksana dinding batu yang keras dan tak tergeser sedikit pun oleh kekuatan lengan Elana yang kurus dan menyedihkan.
“Kau… kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa harus aku? Kau… kau bisa mendapatkan banyak wanita lainnya…” napas Elana terengah putus asa ketika Akram malahan seolah tak peduli dengan pertanyaan Elana, lelaki itu tidak mau repot-repot menjawab pertanyaan Elana, malahan mulai memagut bibirnya tanpa ampun, melumatnya dengan kuat, seolah-olah ingin mencecap seluruh rasa Elana dan melahapnya sampai tak bersisa.
Ciuman itu berlangsung lama dan sangat erotis, dengan melibatkan lidah dan kemampuan Akram yang sangat ahli serta berpengalaman. Dan lama kemudian ketika Akram melepaskan pagutannya, Elana langsung megap-megap mencari udara, memenuhi paru-parunya yang kering kerontang karena tak ada oksigen yang membasahi.
Ketika Elana mulai terbatuk-batuk dengan mata panas berkaca-kaca, Akram yang masih berdiri begitu dekat dengannya malahan berdiri diam dengan bibir menipis seolah menahan senyum.
“Kau sama sekali belum berpengalaman dengan lelaki manapun, ya?” pertanyaan Akram seolah tak memerlukan jawaban, karena lelaki itu tak menyembunyikan kepuasan dirinya karena telah menjadi lelaki pertama Elana.
Elana mendongakkan kepala, menatap Akram dengan tatapan tajam, dan sikap menantang Elana itu membuat geraham Akram mengetat. Bibirnya kembali menyentuh bibir Elana, setengah menggigit untuk menunjukkan superioritasnya.
“Terserah kau mau mengutuk dan membenciku dalam hatimu. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan apa yang kau rasakan.” Akram berucap dingin tanpa perasaan, tiba-tiba membungkukkan tubuh untuk meraup Elana dalam gendongannya, mengabaikan pekikan terkejut dan rontaan Elana yang tak berarti baginya.
Menunduk menatap ke arah Elana yang berusaha melepaskan diri dari gendongannya, Akram langsung melumat bibir Elana dengan penuh nafsu, terus menciumi dan melumat bibir Elana sambil melangkah emmbawa perempuan itu ke sisi lain ruangan, menuju ruangan yang lebih kecil dengan tempat tidur besar yang terbentang hampir memenuhi sebagian besar isi kamar itu.
Tanpa melembutkan diri sedikit pun, Akram setengah melempar tubuh Elana ke atas ranjang dan secepat kilat menyusul, menindih di atasnya, membuat tubuh Elana yang melenting hendak bangkit dari ranjang harus menyerah karena membentur tubuh kerasnya. Mata Akram menyala oleh gairah, sementara kedua tangannya yang bertumpu di sisi kiri dan kanan kepala Elana mulai bergerak, menyusuri wajah Elana dengan jemarinya yang panjang dan kuat.
“Kau di sini untuk memuaskanku. Aku menginginkan tubuhmu, dan aku akan terus bercinta denganmu sampai aku tidak menginginkanmu lagi,” geram Akram dengan suara parau penuh gairah. Tanganya bergerak mencengkeram pergelangan tangan Elana, menyusuri bekas luka yang telah mengering di sana dengan ujung jarinnya, lalu tanpa disangka, membawa pergelangan tangan Elana ke bibirnya, menghembuskan napasnya yang panas di sisi dalam pergelangan tangan Elana, lalu menghadiahkan kecupan panas di sana.
Tubuh Elana berjingkat. Bulu kuduknya berdiri akibat ciuman seringan bulu itu, seolah ada sesuatu yang bergulir di tulang punggungnya, menggelenyar sepanjang sarafnya tanpa ampun, membuat Elana menggigit bibirnya karena bingung sekaligus panik atas sesuatu yang asing dan tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Akram sendiri menatap ke arah ekspresi wajah Elana dengan puas. Dia tahu bahwa cukup dengan sedikit sentuhan dan ciuman, dia bisa membuat Elana tunduk padanya. Perempuan itu begitu polos hingga nyaris tak sebanding dengan Akram yang begitu berpengalaman dan ahli dalam bercinta. Tetapi, Akram akan memastikan bahwa kepolosan itu tidak akan bertahan lama. Dengan sepenuh gairah, dia akan mengajari Elana sisi lain yang bisa dinikmati dari dua tubuh yang berpadu, terbakar dalam jalinan penuh hasrat yang akan membuat mereka berdua melayang dalam puncak kenikmatan yang menyenangkan. Dan dia akan terus menerus bercinta dengan Elana hingga perempuan itu akan merasa kosong jika dia tidak hadir untuk mengisinya, memenuhi tubuh perempuan itu dengan hasrat dan ketagihan untuk disentuh oleh Akram.
Perlahan dan tak sabar, Akram melepaskan kemejanya, menampilkan dada bidang telanjangnya yang kuat penuh dengan otot terlatih yang keras. Senyum tipis mengembang di bibirnya ketika melihat wajah Elana yang merah padam karena malu ketika mata polos itu tak sengaja menyapu permukaan kulit Akram yang telanjang.
“Kita akan bercinta, kucing kecil,” Akram berucap parau, menggulirkan jemarinya ke dagu Elana dan menyusuri permukaan kulit leher lembut perempuan itu dengan gerakan seringan bulu yang menggoda. “Dan kali ini, aku tidak akan menahan diriku lagi,” sambung Akram kemudian, diliputi oleh janji sensual yang menggetarkan tubuh.
__ADS_1