Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 75 : Memeluk Lagi


__ADS_3


Akram keluar dari kamarnya dan siap untuk berangkat, alisnya terangkat ketika menemukan Xavier sedang bersandar di dinding lorong dekat pintu kamarnya dan menunggunya. Sepertinya Xavier tidak merasa perlu untuk mengetuk pintu dan menginterupsi Akram karena dia tahu bahwa Akram pasti akan keluar dari kamar itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Akram mengerutkan kening dengan ekspresi muram. Suasana hatinya sungguh tak baik dan dia tidak ingin hal itu semakin diperburuk dengan sikap penuh provokasi dari Xavier.


"Aku hanya ingin membicarakan sedikit penyesuaian," Xavier menegakkan punggungnya yang tadinya bersandar santai di dinding. "Mengenai pengaturan tentang kita,"


"Pengaturan apa yang perlu disesuaikan tentang kita? Aku dan kamu akan selalu menjadi musuh, itu tidak akan berubah bahkan meskipun saat ini kita bekerjasama,"


"Itu bisa diubah, kehadiran Lana mengubah segalanya. Aku memutuskan tidak akan menjadi musuhmu lagi," Xavier menyahut cepat sebelum kemudian menyambung. "Tentu saja dengan penyesuaian beberapa kondisi,"


Akram langsung menyipitkan mata dan menatap Xavier curiga.


"Apa sebenarnya rencanamu, Xavier?" tanyanya kemudian dengan nada tidak sabar. Sengaja dirinya melirik jam tangannya secara terang-terangan untuk menunjukkan pada Xavier bahwa waktu mereka sangat sempit kalau dipakai untuk sekedar berbasa-basi.


Xavier mengangkat bahu. "Kau tentu tahu, untuk membantumu menyelamatkan Lana, aku bersedia mengorbankan perusahaan penelitian senjata biologis mililkku. Itu merupakan kehilangan yang sangat besar karena kau tahu bahwa itu adalah satu-satunya sumber pemasukanku dari perusahaan dalam wujud fisik, sementara yang lainnya berasal dari investasi dan permainan saham."


Akram menganggukkan kepala. "Aku tahu. Aku juga tahu bahwa kau tidak akan jatuh miskin karena kehilangan perusahaan itu. Lagipula, bukah kau sudah memindahkan seluruh aset berhargamu sebelum perusahaan itu dipindahtangankan?"


Akram benar. Seperti halnya Akram, Xavier tidak sebodoh itu dengan menyerahkan seluruh perusahaan dengan cuma-cuma tanpa perlawanan.


Jika Dimitri berhasil mendapatkan seluruh legalitas kepemilikan atas perusahaan senjata milik Akram dan Xavier, maka Dimitri hanya berhak memiliki aset serta hasil penelitian yang didaftarkan secara legal pula. Yang Dimitri tak tahu adalah, hampir enampuluh persen hasil temuan baik senjata berbasis teknologi modern milik perusahaan Akram, maupun senjata biologis berbahaya milik perusahaan Xavier, belum didaftarkan secara legal dan sudah tentu tidak masuk dalam daftar aset serta hak atas kekayaan intelektual yang akan dipindahtangankan ke dalam kekuasaan Dimitri.


Akram dan Xavier sudah memindahkan seluruh bentuk fisik, data penelitian dan berbagai hal yang berhubungan dengan hasil temuan penting perusahaan mereka yang belum terdaftar secara legal ke tempat aman. Mereka bisa memulai perusahaan penelitian senjata yang sudah sudah memiliki berbagai temuan spektakuler dengan mudahnya segera setelah permasalahan ini selesai. Bisa dibilang, Dimitri hanya telah berhasil memindahtangankan empat puluh persen aset legal perusahaan yang sesungguhnya sudah tidak ada harganya.


"Tetap saja aku mengalami kehilangan," Xavier bersikeras dengan sikap senyum di bibirnya. "Karena itu aku meminta kau mengakomodasi kehilanganku,"


"Bukankah kau sendiri yang bilang kemarin bahwa kau tulus tanpa pamrih dan hanya ingin menyelamatkan Elana?" Akram menyahut jijik dengan nada mencela.


Xavier terkekeh. "Memang. Ketulusanku tetap sama jika itu menyangkut Lana. Tetapi jika menyangkut dirimu, ketulusanku tidak sebesar itu," mata Xavier menatap lurus ke arah Akram dan pandangannya berubah serius. "Sepuluh persen kepemilikan di perusahaan utama Night Corperation, dan aku berhak untuk duduk sebagai bagian dari dewan komisaris. Itu sangat kecil artinya bagimu, bukan? Bahkan itu tidak ada setengahnya dari perusahaan senjata biologisku yang kurelakan."


Akram terdiam, sejenak dia mempertimbangkan persyaratan Xavier dengan cepat. Memberikan sepuluh persen saham hanya untuk perusahaan utamanya memang bukanlah masalah, meskipun tentu saja sepuluh persen dari perusahaan utamanya saja memiliki nilai tinggi sebanding dengan milyaran dolar. Tetapi Akram juga tahu bahwa perusahaan yang dikorbankan oleh Xavier memiliki nilai berkali-kali lipat lebih daripada itu.


Permintaan Xavier benar-benar persyaratan yang ringan. Satu-satunya keberatan Akram hanyalah dia harus menodai perusahaan Night Coorperation dengan kehadiran nama Xavier secara legal di sana.


Tetapi, Akram adalah orang yang adil. Dia akan selalu memberikan kepada orang, apa yang menjadi haknya, bahkan jika orang itu adalah musuh besarnya.


"Aku setuju, bicarakan dengan Elios dan atur dengan pengacaraku nanti," jawabnya kemudian.


***



***


Dimitri tentu saja sudah menunggu di ruang tamu rumahnya. Lelaki itu duduk di sana dengan dikelilingi beberapa pengacaranya sementara berkas-berkas sudah disiapkan di meja ketika Akram masuk diikuti Xavier juga Elios dan Nathan dibelakang mereka. Ada juga beberapa pengacara dan sudah tentu para bodyguard yang mengikuti di belakang.

__ADS_1


Jika Xavier Light menebarkan aura mengerikan hanya dari sikap tenang dan seyum tipis palsu yang selalu terurai di bibirnya, Akram Night lebih tampak mengintimidasi. Aura kekuatannya tampak mendominasi ketika lelaki itu memasuki ruangan, layaknya singa di savana yang membuat seluruh hewan pemakan rumput menggigil ketakutan hanya dengan melihatnya mendekat.


Dimitri bukannya tak tahu bahwa baik Akram maupun Xavier telah bekerjasama dengan menempatkan sejumlah besar pasukannya untuk mengepuk ke sekeliling rumahnya. Bukan tidak mungkin jika ada kesempatan, mereka akan mengingkari janji dan melakukan penyerangan yang menimbulkan pertumpahan darah.


Sebab, meskipun Dimitri telah menyiapkan pasukan hebat untuk melawan, masih besar kemungkinan dia akan kalah jika harus menempuh jalur pertarungan fisik dan senjata. Karena itulah dia harus menjaga alat tukarnya yang paling ampuh, Elana, supaya selalu dekat di bawah kekuasaannya sampai perjanjian akuisisi itu selesai ditandatangani. Dimitri juga sudah menyiapkan jalur khusus untuk melarikan diri dengan helikopter dan penjagaan ketat supaya dia bisa melepaskan diri dari situasi dengan cepat saat keadaan tiba-tiba memburuk.


Ketika langkah Akram dan yang lain semakin dekat, Dimitri bangkit dari duduknya untuk menyambut tamu-tamunya dengan sikap sopan layaknya tuan rumah yang baik.


"Para tamu yang istimewa, selamat datang di rumahku yang sederhana ini," Dimitri menyambut ramah dengan kalimatnya yang dramatis seperti biasa.


Sayangnya, keramahannya tidak mendapatkan sambutan serupa. Akram Night yang memimpin kelompok tamu itu tampak memandangnya dengan tatapan merendahkan bercampur jijik seperti memandang kotoran.


"Dimana Elana?" tanpa basi-basi, Akram langsung menanyakan apa yang menjadi pusat konsentrasinya. Matanya memandang ke sekeliling ruang tamu Dimitri yang sangat luas. Ada lorong yang menghubungkan ke sayap lain rumah, dan ada juga tangga berukuran besar mengarah ke lantai dua di tengah ruangan yang tampak mendominasi perhatian.


Tetapi dimanapun Akram mencari, dia tidak menemukan tanda-tanda Elana di sini.


"Elana akan dibawa kemari sebentar lagi. Teknisiku sedang menyiapkannya," Dimitri menjawab dengan tenang. Setelah para tamunya duduk di kursi-kursi yang telah disiapkannya secara khusus, Dimitri pun menyusul duduk.


"Teknisi?" Akram mengerurkan kening dan langsung menyambar kalimat teka teki Dimitri itu dengan pertanyaan.


Dimitri menatap Akram dan Xavier berganti-ganti. Dua taipan itu sekarang sedang memandangnya dengan tatapan membunuh yang sangat mengerikan. Kalau saja dirinya tidak memiliki Elana sebagai jaminannya, saat ini dia mungkin sudah mati dengan kondisi tubuh tak berbentuk lagi. Beruntung ada Elana dalam genggamannya hingga Dimitri bisa begitu berkuasa, menundukkan dua makhluk buas di depannya ini hingga tak berkutik.


Entah keistimewaan apa yang ada di dalam diri Elana sehingga bisa membuat dua lelaki di depannya ini mau mengorbankan segalanya. Sesungguhnya, jika dia memiliki lebih banyak kesempatan, tentu Dimitri ingin mempelajari Elana lebih jauh, dirinya juga merasakan ketertarikan pada perempuan sederhana yang tampak rapuh tetapi ternyata memiliki hati yang keras itu. Sayangnya, Dimitri tak punya banyak waktu. Dia juga harus fokus pada tujuan utamanya untuk menguasai dua perusahaan senjata milik Akram Night.


"Aku memasang gelang peledak di tangan Elana. Gelang itu terkunci dengan segel khusus yang hanya teknisiku yang bisa membukanya," Dimitri menjawab dengan gamblang sambil menyeringai. "Hanya aku yang memegang pemicu bom itu dan bisa meledakannya kapan saja. Tentu saja aku berniat baik untuk melepaskan Elana segera setelah perjanjian akuisisi ditandatangi dan aku bisa pergi dengan selamat dari tempat ini. Kau akan bisa mendapatkan perempuanmu tanpa kekurangan suatu apapun."


Tentu saja Dimitri tidak memiliki kesempatan bernegosiasi. Akhirnya dia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Elana ke tempat ini, ke hadapan Akram.


Tak lama kemudian, anak buah Dimitri datang, mengapit Elana di tengah penjagaan mereka, lalu mendudukkannya di kursi yang berada dekat dengan posisi Dimitri duduk.


Keheningan membentang di udara ketika Akram tidak bersuara dan memusatkan perhatiannya dengan mengawasi Elana lekat-lekat. Jantungnya berdenyut pedih dan menciptakan rasa menyesakkan yang mrnyakitkan ketika menyaksikan kondisi Elana dengan mata kepalanya sendiri.


Ingin sekali Akram menarik Elana ke dalam pelukannya seketika itu juga dalam dekapan erat lengan-lengannya. Apalagi saat ini dia bisa dengan jelas menatap Elana yang tampak begitu rapuh dan tak berdaya.


Akram menggertakkan gigi dengan tangan terkepal marah ketika matanya menemukan memar di sudut bibir Elana, bekas cekikan di lehernya dan juga tanda-tanda lain di lengan dan tangannya yang tidak tertutup pakaian. Sekuat tenaga dirinya menahan kemarahan yang berkobar dan berusaha untuk bersikap tenang.


"Cepat selesaikan ini. Mana berkas-berkasmu, pengacaraku akan memeriksanya sebelum aku dan Xavier menandatanganinya," ujar Akram langsung ke arah Dimitri, memaksakan diri melepas kontak mata dengan Elana demi segera menyelesaikan segala urusan yang ada.


"Dengan senang hati," senyum Dimitri melebar ketika dia memberi isyarat kepada pengacaranya untuk membawa berkas-berkas pendukung legalitas proses akuisisi tersebut. Dua tim pengacara dari pihak yang berlawanan kemudian saling bertemu dan berdiskusi dengan serius.


Biasanya, untuk pelaksanaan akuisisi perusahaan besar semacam ini, akan diperlukan proses bertahap yang bisa berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya. Tetapi, dengan menggunakan kekuasaan, uang dan situasi mendesak, semua orang bekerja keras dengan tujuan supaya berhasil menyelesaikan keseluruhan proses ini hanya dalam satu malam saja.


Setelah kedua belah pihak mendapatkan kesepakatan, berkas kontrak final terakhir pun dibawa ke hadapan Akram dan Xavier untuk ditandatangani. Akram sendiri membaca kembali kontrak itu dengan saksama sebelum kemudian menandatanganinya. Diangsurkannya berkas kontrak tersebut ke arah Xavier yang sepertinya memilih percaya pada penilaian Akram dan juga tim pengacaranya, karena lelaki itu langsung menandatangani tanpa membacanya lagi.


Dimitri tak bisa menahan senyum lebarnya ketika akhirnya surat yang meresmikan secara legal kepemilikan dua perusahaan senjata yang sangat diidam-idamkannya itu terpegang di tangannya. Dia menandatanganinya, lalu menyerahkan kepada pengacaranya untuk disimpan sebagai surat berharga yang nilainya sungguh tak terkira.


Dimitri langsung bangkit dari duduknya, sedikit membungkuk dengan sikap penghargaan yang disengaja.

__ADS_1


"Terima kasih atas kerjasama yang diberikan, aku senang kita bisa duduk bersama dan berkompromi tanpa ada pertumpahan darah," ujarnya tanpa tahu malu. "Sekarang aku akan pergi meninggalkan tempat ini karena aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Segera setelah helikopterku mengudara jauh ke tempat yang tak bisa kalian jangkau, teknisiku akan melepaskan gelang peledak itu dari tangan Elana," mata Dimitri berbinar oleh kesenangan luar biasa, dipenuhi ketidaksabaran akan jalannya yang terbuka lebar sebagai penguasa dan pemasok senjata militer nomor satu di dunia yang tak terkalahkan.


Ketika Dimitri membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu dengan diikuti beberapa anak buah kepercayaannya, Akram sudah tidak memperhatikan lagi. Tatapannya tertuju ke arah Elana yang masih menatap dengan pandangan kosong, seolah tak percaya bahwa semua hal mengerikan yang melingkupinya sudah hampir berakhir...


Sekarang, bolehkah dia membawa kembali Elana ke dalam perlindungannya?


"Elana," Akram tampak mengabaikan para teknisi yang ditinggalkan oleh Dimitri untuk menangani gelang peledak di tangan Elana nanti. Dia melangkah mendekat dengan hati-hati, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menerjang perempuan itu dan malah membuatnya lebih ketakutan daripada sekarang.


Elana tampak seperti hewan kecil yang terluka, gemetaran didera kesakitan dan rasa takut, Akram khawatir jika dia bertindak gegabah, perempuan itu akan semakin mengkerut ketakutan dengan trauma mendalam di jiwanya.


Bagaimanapun juga, di masa lampau, Akram adalah seorang lelaki yang juga pernah memaksakan kehendaknya dengan kejam pada Elana....


Dengan penuh siksa karena tak bisa menyerbu ke arah Elana, Akram menghentikan langkahnya di jarak yang dia pikir tidak akan menakuti Elana. Kedua tangannya terbuka, ekspresinya melembut dan tatapan matanya berhati-hati, seperti membujuk hewan liar yang terdesak di ujung ruangan dan tak bisa lari lagi.


"Elana," kembali dibisikkannya nama perempuan itu dengan suara membujuk bercampur tersiksa.


Elana mendongakkan kepala, kembali menatap ke arah Akram. Jantungnya berdebar kencang ketika dia berhasil meyakinkan dirinya bahwa apa yang ada di depannya ini adalah kenyataan.


Dimitri yang menyandera serta mengurungnya sudah pergi, dia bebas sekarang, dia aman.... dan ada Akram di depannya, membuka lengan untuk memeluknya... membujuk Elana supaya pulang kepadanya.


Apa yang menyesaki dada Elana dan menciptakan rasa panas tak nyaman di pangkal tenggorokannya langsung pecah berkeping-keping. Air mata Elana bergulir lalu menderas membasahi pipi ketika dia menangis tersedu-sedu. Langkahnya goyah ketika dia mencoba bangkit. Tetapi, kakinya tak mau menyerah, membawa tubuhnya berjalan semakin cepat, dan terus semakin cepat sebelum kemudian Elana berhasil berlari lalu melompat ke dalam pelukan Akram yang langsung menangkap dan melingkupi tubuhnya nan mungil dan gemetaran dengan pelukan lengannya yang kuat.


"Akram.... Akram!" Elana tidak bisa berkata yang lain, hanya menyebutkan nama Akram berulang-ulang di antara sedu sedannya yang terisak kuat.


***



***


Catatan author


✍️✍️✍️✍️


Hello beautiful people!


Episode 74 diposting author pada hari Jumat (27 September)


Episode 75 ( yang sedang kalian baca) diposting pada hari Sabtu (28 September)


Entah akan lolos review mangatoon kapan, mudah2an bisa lolos sabtu atau minggu ini, atau jika admin mangatoon libur review sabtu minggu, mungkin baru lolos Senin/Selasa.


Mohon bersabar dan doakan cepat lolos proses reviewnya.


Thank You - by AY


__ADS_1



__ADS_2