Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 66 : Makan Malam


__ADS_3

“Aku sibuk.”


Suara Credence terdengar menyahuti di seberang telepon. Lelaki itu menunjukkan ketidaktertarikannya dengan jelas, membuat sudut bibir Akram yang sedang meneleponnya sedikit berkedut menahan kesabaran.


“Aku tahu kau sibuk. Tetapi, bukankah Xavier adalah sahabatmu? Aku tahu dia telah melakukan banyak hal bagimu di masa lampau. Bukankah sekarang ini adalah kesempatan yang baik untuk membalas budi kepadanya?” Akram berucap pelan, membujuk sisi nurani Credence supaya terbangun.


“Membalas budi dengan merayu istrinya?” Kembali Credence menyahuti dengan nada sinis. “Aku jadi bingung, sebenarnya kau ini ingin aku membalas budi ataukah membantumu membalas dendam kepada Xavier?”


“Aku sudah menjelaskan sedikit kepadamu tadi, bukan? Segala situasi yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk insiden penusukan yang membuatnya terluka itu, telah membuat Xavier malahan terdorong untuk menyambut kematiannya. Dia bahkan tidak mempedulikan perasaannya sendiri dan mengabaikan istrinya yang sedang mengandung anaknya.” Akram menghela napas panjang dengan jengkel. “Xavier perlu disadarkan. Kurasa, seseorang yang bisa menyadarkannya bukanlah pria yang biasa-biasa saja. Aku mengenal Xavier dengan segala kesombongan dan rasa percaya dirinya yang angkuh, dia akan mengabaikan sepenuhnya lelaki dengan kemampuan di bawahnya. Tetapi jika lelaki itu adalah kau, dia pasti tidak akan bisa menutup mata begitu saja. Kupikir, kau adalah satu-satunya lelaki yang bisa membuatnya merasa terancam, selain aku tentu saja. Tetapi, jelas kondisi kita jelas berbeda, aku sudah punya istri dan aku tak mau merayu perempuan lain meskipun itu atas nama sandiwara saja.”


Keheningan membentang perlahan di antara mereka, seolah Credence menggunakan jeda itu untuk memikirkan kembali semua perkataan Akram sebelumnya.


Telepon Akram sama sekali tidak diduga-duga, datang lewat tengah malam menjelang dini hari di saat pikirannya belum pulih benar akibat ditarik paksa dari tidur lelapnya. Di negara Akram mungkin waktu menunjukkan jam satu siang, tetapi di tempat Credence yang memiliki perbedaan zona waktu hampir dua belas jam, ini barulah jam satu malam dan dia mungkin baru jatuh tertidur selama satu jam setelah disibukkan oleh berbagai macam pekerjaan yang harus dibereskannya.


Xavier ingin menyambut kematiannya?


Credence sudah tahu sejak lama bahwa Xavier sakit. Tetapi, selama ini lelaki itu menghadapinya dengan biasa saja seolah-olah penyakit itu bukanlah sesuatu yang penting. Xavier juga tak pernah terlihat seperti lelaki putus asa yang ingin mati.


Kenapa hanya dalam kurun waktu singkat, lelaki itu jadi kehilangan semangat hidup dan ingin menyambut kematiannya?


“Kau sekarang tampak begitu peduli dengan Xavier. Apakah kalian benar-benar telah menyelesaikan segala kesalahpahaman di antara kalian berdua?” Credence bertanya dengan nada menyelidik, dia ingin semuanya jelas dulu sebelum membuat keputusan.


“Kami memang sudah membereskan segala kesalahpahaman.” Akram menjawab dengan nada tegas. “Istriku, Elana dan aku, kami peduli dengan Xavier. Ketika aku mengusulkan meminta bantuanmu, Elana bahkan memberikan dukungan penuh.”


“Elana mendukungmu?” Suara Credence tampak bersemangat, tetapi lelaki itu tampaknya berhasil mengendalikan diri dengan segera. Credence berdehem, lalu berucap cepat. “Aku akan melihat jadwalku ke depan terlebih dulu dan memastikan apakah memungkinkan untuk datang ke negaramu.”


Akram menyipitkan mata. Sebagai seorang suami yang posesif, tentu saja telinganya yang tajam tidak akan melewatkan suara seorang lelaki yang bersemangat ketika mendengar nama wanitanya disebut. Nada suara Akram berubah menjadi tajam dan memperingatkan ketika dia akhirnya berucap kemudian.


“Elana Night sudah bersuami dan aku adalah suaminya. Dia sudah pasti akan lebih memilihku apapun yang terjadi karena aku jauh lebih baik dari dirimu di matanya. Jadi, jangan pernah mencoba bermimpi untuk mendapatkannya,” ancamnya dengan nada bersungguh-sungguh.


Kembali keheningan membentang di antara mereka berdua. Tetapi hanya sejenak karena langsung dipecahkan oleh tawa Credence.


“Baik. Kau bisa tenang, Akram Night. Karena aku hanya menyimpan respek dan hormat kepada istrimu, itu saja dan tidak lebih. Sesungguhnya, aku tidak tertarik dengan perempuan yang sudah diklaim oleh lelaki lain, karena itulah aku ragu menerima tawaran kerjasamamu. Karena bagaimanapun, Serafina Moon berstatus istri Xavier dan sedang mengandung anaknya.” Masih sambil dengan nada suara riang, Credence pun menutup pembicaraan telepon. “Aku akan menghubungimu nanti setelah aku bisa memastikan semuanya dan juga setelah aku mendapatkan pencerahan atas berbagai pertimbangan yang harus kupikirkan lebih dulu.”


***


Sudah hampir seminggu Sera menghabiskan waktu dalam kesendiriannya di rumah yang dihadiahkan oleh Xavier kepadanya ini. Lelaki itu memberikan semua yang dibutuhkan oleh Sera tanpa kecuali, lengkap dari hal-hal sekecil mungkin dengan sangat mendetail sehingga Sera bahkan tak butuh keluar rumah sama sekali, sebab apapun yang dibutuhkannya sudah tersedia di rumah.


Dokter Nathan sendiri sempat datang berkunjung untuk memeriksa kondisinya, lelaki itu bilang bahwa dirinya akan memeriksa setiap satu minggu sekali, lalu setiap satu bulan sekali Sera akan dijadwalkan berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan yang ditunjuk. Selain waktu-waktu itu, Sera dipersilahkan bersantai dan menikmati masa-masa mengandungnya yang tak tergantikan.


Pagi ini Sera duduk berselonjor di sofa ruang tamu, lagi-lagi sambil membaca buku novel romantis yang berhasil ditemukannya di ruang perpustakaan yang ternyata juga tersedia di rumah ini. Kehamilannya sama sekali tidak bermasalah hingga beberapa hari yang dijalaninya ini. Bahkan, Sera bisa dibilang selalu terbangun dengan kondisi tubuh segar dan perut yang lapar setiap saat. Apapun yang sedang dihidangkan oleh koki rumahnya, pasti akan dilahapnya sampai tandas.


Yang sedikit mengganggu adalah, emosi di dalam dadanya yang campur aduk meluap-luap dengan rasa menyesakkan yang tidak bisa didefinisikan. Ya, Sera jadi tidak paham dengan emosinya sendiri, dia jadi merasa sendu, merasa muram dan merasa ingin menangis setiap saat. Seolah-olah hatinya diliputi oleh kesedihan yang tak bisa didefinisikan, membuatnya harus menahan tangis tanpa sebab setiap saat.


Karena itulah Sera memutuskan untuk mendengarkan musik ceria yang diputarnya perlahan memenuhi seluruh penjuru ruang tamu. Di tangannya, dia memilih sebuah novel ringan dengan kisah cinta yang lucu antara dua pasangan muda dan berbagai keceriaannya dalam kehidupan awal pernikahan. Semua itu bisa sedikit menghiburnya, membuat secercah senyum terulas di bibirnya. Tetapi ketika dia kemudian teringat dengan kehidupan pernikahannya sendiri yang aneh dan berkebalikan dengan apa yang dia baca, rasa murung kembali meliputinya.


Sera menghela napas panjang, meletakkan buku itu di meja samping sofa, lalu dirinya merebahkan kepalanya di lengan sofa dan memejamkan mata, meresapi kepedihan yang membuat bulu matanya membasah tanpa bisa ditahan.


Kemudian, tiba-tiba saja dering ponselnya terdengar, mengejutkan Sera dan membuatnya membuka mata kembali.


Selama hampir seminggu di rumah ini, tidak ada seorang pun yang meneleponnya, selain Dokter Nathan yang rajin mengontrol kondisinya atas permintaan Xavier. Xavier sendiri sepertinya benar-benar bertekad memenuhi klausul perjanjian kesepakatan mereka sehingga tidak menghubunginya sama sekali dan benar-benar memutus komunikasi dengan Sera.


Lalu siapa? Dokter Nathan sudah menelepon pagi-pagi sekali, apakah mungkin dia menelepon lagi?


Sera meraba-raba ke arah dudukan sofa disamping tubuhnya yang tengah berbaring untuk menemukan ponselnya yang tergeletak begitu saja di sana. Dia akhirnya menemukan ponselnya itu terselip, setengah tertindih tubuhnya. Segera diambilnya ponsel itu dan keningnya langsung berkerut ketika matanya menemukan siapa yang menelepon.


Elana?


Sera langsung mengangkat tubuhnya untuk duduk. Dia menekan tombol terima dan menempelkan ponsel itu di telinganya sebelum kemudian menggumamkan ucapan sapaan kepada Elana.


“Sera!” Suara Elana terdengar bersemangat di seberang sana. “Maafkan aku, aku baru sempat meneleponmu lagi sejak terakhir kali aku menelepon untuk mengucapkan selamat atas kehamilanmu. Kau tahu sendiri, Zac sedang sangat menuntut perhatian akhir-akhir ini. Mungkin dia merasa bahwa dia akan memiliki adik baru, jadi dia berusaha menyerap perhatian ibunya sekuat tenaga.” Elana terkekeh pelan, suaranya melembut ketika menyebut nama anaknya.


Bibir Sera langsung terurai dengan senyuman. Dia senang mendengarkan suara Elana yang ceria, seolah-olah ada teman yang datang untuk meleburkan kesepian sendu yang melingkupinya.


“Aku mengerti. Bagaimana dengan kehamilanmu, Elana? Kuharap kau melaluinya dengan baik. Aku dengar kau sempat muntah-muntah sebelumnya….”


“Ya, hanya di awal-awal saja. Sekarang aku sudah jarang muntah, kecuali kalau menemukan makanan yang aromanya terlalu tajam. Mual muntah pada kehamilanku yang ini tidak separah jika dibandingkan dengan kehamilanku yang pertama.” Elana menyahuti dengan suara ringan sebelum kemudian bertanya, “Kau sendiri, bagaimana denganmu, Sera? Dokter Nathan masih terus memantaumu, bukan? Kemungkinan kehamilan kembar sangat besar dan kehamilan kembar termasuk kehamilan yang berisiko, jadi Dokter Nathan bilang kalau kehamilanmu memerlukan perhatian dan pengawasan penuh.”

__ADS_1


Senyuman ironi langsung muncul di bibir Sera. Tiba-tiba saja dia merasa sedih mendengar kalimat Elana itu. Ya, karena yang memberikan perhatian penuh kepadanya menyangkut kehamilannya, ternyata adalah sang dokter dan bukannya suaminya sendiri.


“Aku baik-baik saja.” Sera mengelus perutnya dengan sayang, berusaha membuang pikiran menyedihkan yang menyurutkan semangatnya itu. Dirinya sudah bertekad untuk kuat bersama anaknya sampai nanti, tidak akan dibiarkannya kesedihan merubuhkannya.


“Bagus. Kalau begitu, bisakah kau mengosongkan waktu untuk janji makan malam di rumahku? Aku sedang mencoba resep kaserol baru yang lezat dan kupikir akan menyenangkan jika kita yang sama-sama perempuan hamil ini bisa menghabiskan waktu bersama.” Elana menawarkan dengan suara halus penuh harap yang membuat hati Sera luluh, tak bisa menolaknya. “Bagaimana Sera, kau mau kan? Aku akan mengirimkan supir untuk menjemputmu nanti sore jam enam, ya?”


Tak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Sera selain menganggukkan kepala menerima penawaran yang sangat bersahabat itu.


“Ya, Elana. Aku akan datang.”


***


Credence menerima gelas berisi brendi yang diberikan oleh Akram kepadanya. Lelaki itu duduk dengan santai di sofa ruang kerja di rumah Akram, menyilangkan kakinya sebelum kemudian menyesap brendi berkualitas itu dengan sikap elegannya yang biasa.


“Aku senang kau akhirnya bisa mengosongkan waktumu untuk datang kemari dan membantu.” Akram mendudukkan dirinya di sofa yang terletak di seberang Credence sambil menyesap brendinya sendiri. Matanya menatap tajam ke arah lawan bicaranya dari balik gelas kristalnya. “Apakah kau akhirnya bersedia untuk bekerja sama?”


“Aku sudah mempelajari situasinya dan sedang menimbang-nimbang strategi yang hendak kau tempuh.” Credence menyeringai. “Setelah menerima teleponmu, aku memeriksa jadwalku yang penuh. Secara mengejutkan, aku menemukan rencana kunjungan ke negara ini selama beberapa waktu menyangkut pekerjaan. Jadi, kupikir ini sudah jalan takdir sehingga aku harus datang kemari untuk membantu.” Credence menatap Akram dengan hati-hati. “Tetapi, apakah kau yakin? Xavier yang kukenal adalah sosok yang tak punya hati, dia hanya menganggap kaum wanita sebagai benda yang bisa diperalat sesuai dengan kemauannya. Kenapa kau bisa yakin bahwa yang satu ini merupakan pengecualian?”


Akram menghela napas. “Kau akan melihatnya sendiri dan teryakinkan setelah melihat Serafina Moon secara langsung serta menyaksikan interaksi di antara keduanya,” jawabnya singkat. Tak mau repot-repot menjelaskan secara panjang lebar.


Credence menyeringai. “Jadi, kau juga mengundang Xavier di jamuan makan malam ini?”


“Tentu saja. Kau pikir aku hanya akan mengundangmu dan Sera? Itu akan sangat kentara sebagai bentuk perjodohan. Serafina Moon adalah wanita cerdas, dia akan langsung menghindarimu setengah mati kalau dia menangkap tujuan dari makan malam ini. Lagipula, akan sangat menyenangkan untuk sedikit mengejutkan Xavier malam ini.”


Credence terkekeh. “Aku mengerti. Aku hanya tak bisa membayangkan reaksi Xavier nanti. Aku telah mengabarkan kedatanganku kepadanya siang tadi dan dia menyambut acara makan malam ini dengan senang hati. Tetapi, Xavier jelas tidak tahu bahwa kau juga mengundang Serafina.”


“Bukan aku yang mengundang Serafina, tetapi Elana.” Akram menjawab santai, ekspresinya tampak puas. “Jika Xavier hendak marah, dia harus marah pada Elana. Tetapi aku tahu pasti, dia tak akan marah pada Elana. Paling-paling, dia akan melampiaskan kekesalannya kepadaku dan aku tinggal menjawab bahwa itu adalah kemauan istriku, membuatnya tak berkutik,” jawab Akram dengan nada licik.


Kekehan Credence terdengar makin keras ketika mendengarkan jawaban Akram itu.


“Sudah pasti Xavier akan marah. Dia juga akan marah kepadaku karena ikut dalam rencana ini. Tetapi seperti yang kau bilang, jika ini memang demi kebaikan Xavier, maka aku bersedia memercikkan kobaran api untuk meyadarkannya,” simpulnya dengan sikap bijaksana.


Akram menganggukkan kepala. Lelaki itu kemudian menatap Credence dengan pandangan menyelisik seolah-olah hendak menilainya.


“Aku hanya minta satu hal, yaitu agar kau tidak melibatkan hati dalam hal ini atau pun sampai menumbuhkan hasrat untuk memiliki Serafina Moon. Kau harus ingat, tujuan rencana ini adalah untuk menyatukan Xavier dan Serafina. Aku tak ingin kau berubah menjadi antagonis pengganggu hubungan dua manusia yang sudah selayaknya bersama.”


Akram menghela napas kembali. "Aku percaya bahwa hati keduanya ditakdirkan untuk bersama. Kau bisa lihat nanti," jawabnya dengan nada tegas.


 


***


“Sera!” Elana lansung datang menyambut di pintu depan ketika mobil yang menjemput dan mengantarkan Sera ke rumah ini berhenti di area depan rumah. Mau tak mau senyum Sera melebar ketika menerima penyambutan yang hangat itu. Kakinya melangkah cepat menghampiri dan langsung dipeluk ke dalam lengan Elana yang terbuka akrab.


Perut mereka saling bersentuhan, membuat Elana melepaskan pelukan rapatnya, lalu terkekeh pelan.


“Sepertinya kedua bayi kita juga saling menyapa di dalam sana,” bisik Elana dengan nada riang, menularkan tawanya kepada Sera. “Kau tampak cantik sekali malam ini, Sera.”


Elana tidak berbohong. Serafina Moon memang bertambah semakin cantik dan memesona. Perempuan itu tampak lebih berisi, mungkin disebabkan oleh kehamilannya, ditambah lagi, gaun warna hijau tua yang digunakan oleh Sera, tampak kontras dalam artian positif dengan kulitnya yang pucat. Hal itu semakin menguarkan kecantikanya, membuat penampilannya layaknya peri hutan yang melayang-layang di tengah keindahan gemerlap serbuk peri berwarna kemasan.


“Kau juga sangat cantik.” Sera menyahuti dengan pujian sungguh-sungguh. Elana benar-benar cantik dengan rambut disanggul longgar terangkat ke atas sehingga menampilkan tengkuknya. Dandanannya yang sederhana tetapi elegan tampak begitu cocok dengan gaunnya yang berwarna putih keemasan.


“Kita berdua sama-sama cantik!” Elana merangkul pundak Sera sambil tertawa, lalu menghela tubuh Sera supaya berbalik memasuki rumah bersamanya.


Tetapi, karena mereka sibuk saling memuji, Elana tak melihat ada sosok yang sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya menabrak dada suaminya yang keras, membuat rangkulannya di tubuh Sera terlepas dan tubuhnya terhuyung hendak jatuh.


Seketika, Akram menangkap tubuh istrinya dan menjaganya di rangkulan lengan kuatnya agar aman dan tak terjatuh.


“Hati-hati, wanita hamil.” Akram berucap dengan suara parau penuh cinta. “Jangan bergerak sembarangan. Apa kau lupa kalau di perutmu ada anak perempuanku?” tambahnya kemudian dengan nada menggoda.


Elana tertawa menanggapi godaan Akram, tetapi dia tak bisa menutupi pipinya yang memerah malu. Dilemparkannya tatapan mata penuh peringatan ke arah Akram supaya lelaki itu berhenti menggodanya. Perempuan itu lalu melepaskan dirinya dari pelukan suaminya dan bergerak ke arah Sera, merangkulnya lagi.


“Ayo kita masuk ke ruang makan,” ajak Elana dengan nada buru-buru seolah tak sabar meninggalkan suaminya di belakang.


Masih terdengar suara kekehan Akram di belakang mereka yang disahuti oleh lirikan kesal Elana. Hal itu membuat Sera mau tak mau tersenyum lebar. Dia senang melihat kemesraan kedua pasangan di dekatnya ini, seolah-olah mereka berdua telah menjadi obat bagi hatinya yang terluka karena perlakuan Xavier kepadanya.


Senyum lebar Sera masih terpatri di bibirnya, membuat wajahnya terlihat cantik penuh seri. Tetapi, ketika matanya menangkap sosok yang tengah menanti di dalam ruang makan itu dan sedang duduk di salah satu kursi makan di sana, senyumnya langsung membeku dan memudar sebelum kemudian lenyap seketika.

__ADS_1


Ada dua orang laki-laki di sana, tetapi pandangan Sera hanya terpaku pada satu laki-laki saja. Seperti biasanya, dia tak bisa mengalihkan matanya dari sosok Xavier yang saat itu sedang balas menatapnya dengan bola mata berlumur keterkejutan. Lelaki itu tampak memesona seperti biasanya, tetapi melihat reaksinya ketika melihat kehadiran Sera di ruang makan ini, sudah jelas lelaki itu tak menduga bahwa Sera juga diundang ke acara makan malam ini.


Sama seperti halnya Xavier, Sera juga tidak diberitahu bahwa Xavier akan hadir di sini….


Kepala Sera menoleh, dirinya menatap ke arah Elana di sebelahnya dengan penuh rasa ingin tahu. Tetapi, Elana malahan membalas tatapan matanya yang penuh pertanyaan dengan wajah penuh senyum tanpa dosa.


“Ayo duduklah,” Elana menarik Sera yang tak bisa menolak memasuki ruang makan itu, memaksa Xavier berdiri dari duduknya di seberang sana dan menyambut istrinya demi kesopanan.


Jantung Sera berdenyut ketika melihat ekspresi Xavier yang menyiratkan ketidaksukaan ketika dipertemukan tanpa pemberitahuan dengan Sera. Hal itu membuat Sera merasa tak diinginkan, membuatnya teringat kembali akan hatinya yang luka karena menjadi istri yang dibuang. Tetapi, dengan cepat Sera menekan rasa rendah dirinya dan langsung mengangkat dagunya dengan sikap angkuh penuh harga diri.


Dia menjalani kerja sama dengan Xavier ini karena kemauannya sendiri. Dia memilih hamil pun, karena kemauannya sendiri. Apapun keputusan yang dia ambil, semua itu adalah tanggung jawabnya yang akan dia penuhi dengan penuh harga diri.


Tidak akan dibiarkannya sikap Xavier membuatnya merasa terpuruk ataupun rendah diri. Lelaki itu harus tahu bahwa istrinya adalah wanita yang sepadan dengannya, bukan cuma alat yang digunakan untuk mencapai tujuannya.


Tanpa disadari oleh Sera, sikapnya yang tegar dan penuh kekuatan ketika menghadapi Xavier Light itu membuat Credence yang sejak tadi duduk berdiam sambil bertopang dagu mengawasi, langsung menyeringai senang.


Meskipun penampilannya terlihat rapuh, tetapi Sera telah menunjukkan kekuatannya tanpa gentar. Sepertinya Serafina Moon akan menjadi partner yang sempurna dalam rencana menyadarkan Xavier Light.


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


 


 


***


***


***


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2