Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 29 : Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Sera mengajukan pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dia perempuan pandai dan cukup jeli menganalisa. Dari percakapan mereka sebelumnya, Sera memperhatikan bahwa setiap Xavier membicarakan tentang pernikahan, lelaki itu selalu menyambungkan kata-katanya dengan menekankan keinginannya supaya Sera mengandung dan melahirkan anak-anaknya


Benarkah itu adalah tujuan Xavier menikahinya? Untuk memiliki anak dan membangun keluarga?


Tetapi, entah kenapa kesimpulan itu terdengar aneh bahkan di telinga Sera sendiri. Seorang Xavier Light terlihat jelas memiliki kepribadian penyendiri dan egosentris, dimana segala sesuatu berpusat pada dirinya dan sudah jelas bahwa lelaki itu lebih mengutamakan kepentingan dirinya dibandingkan apapun hingga tak segan menghancurkan yang lain demi mencapai tujuan dan keuntungan dirinya sendiri.


Bisakah seorang Xavier Light yang seperti itu, memiliki naluri kebapakan dalam jiwanya yang cukup kuat untuk mendorong niatnya guna membangun sebuah keluarga? Bisakah seorang Xavier Light dengan segala anomalinya, menumbuhkan cinta untuk anak-anaknya? Bagi Sera, jawabannya hampir pasti: tidak mungkin.


Mata Sera terangkat, mengawasi ekspresi Xavier dan sedikit bingung ketika menyadari bahwa lelaki itu tampak berpikir dan meragu.


Xavier adalah seorang jenius dan karenanya dia sangat pandai bersilat lidah. Kalimat demi kalimat tak terbantahkan yang mampu memukul lawan-lawannya hingga bungkam bahkan bisa meluncur dengan mudah dari mulutnya tanpa harus berpikir panjang. Tetapi sekarang, lelaki itu tampak menimbang-nimbang sebelum berucap


Mata Sera menyelisik dan berusaha menyelami arti dari ekspresi wajah Xavier, hanya untuk berakhir dalam kesia-siaan. Sabab, selain dari sepercik rasa ragu yang tergurat di sana, Sera tidak bisa menemukan petunjuk apapun yang cukup berarti untuk menandaskan kecurigaannya.


Sekarang, dia hanya bergantung pada jawaban Xavier, meskipun dia sendiri tak tahu, apakah lelaki itu akan mengungkapkan kebenaran kepadanya, ataukah memilih menyulamkan kebohongan lagi untuk menutup mata Sera hingga buta arah.


Menyadari bahwa Sera tengah mengawasinya dengan tatapan menyelidik, Xavier langsung mengulaskan senyum di bibirnya. Kali ini, lelaki itu memilih untuk meloloskan setitik kepedihan supaya jelas terbaca di guratan bibirnya.


“Kurasa, kaulah yang paling memahami bagaimana rasanya menjadi sendirian di dunia ini.” Lelaki itu menatap tajam, seolah memastikan Sera mendengarkan setiap patah kalimatnya dengan saksama.


“Apa maksudmu?” Sera mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan yang dinahkodai oleh Xavier tersebut.


“Kau dan aku. Bukankah kita sama? Kita sama-sama sebatang kara di dunia ini. Meskipun, kurasa kau lebih beruntung dari diriku. Kau pernah memiliki orang tua, dan meskipun berada dalam kondisi invalid serta kehilangan kesadaran, ayahmu masih hidup dan bernafas di dunia ini.” Xavier menatap Sera dengan ironi. “Berbeda dengan diriku. Kehadiranku di dunia ini seolah tak diinginkan oleh siapapun. Aku dibuang dari panti asuhan sejak bayi merah tanpa petunjuk apapun . Tak pernah bisa terlacak asal usulku, seperti apa kedua orang tuaku, dari mana aku berasal, genetik apa yang membentuk tubuhku hingga menjadi seperti ini. Aku benar-benar sendirian di dunia ini.”


Mendengar kalimat Xavier tersebut, Sera mengigit bibirnya. Dia berusaha menekan perasaan terenyuh yang langsung menyusup ke dalam kalbunya, membuatnya melembut dan mengendorkan kewaspadaannya.


Dengan menyinggung masalah sebatang kara dan sendirian di dunia ini, Xavier telah berhasil menyentuh titik paling lemah di hati Sera.


“Karena itulah, ketika bertemu denganmu, aku merasa bahwa sudah takdir kita untuk menghabiskan waktu bersama.” Mata Xavier menyipit, mengawasi Sera dengan penuh perhitungan. “Apakah kau bisa membayangkan, kau dan aku yang sama-sama tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini membentuk sebuah keluarga? Bayangkanlah ketika sebuah kehidupan terlahirkan dari kita berdua. Sebuah kehidupan kecil yang berasal dari perpaduan genetik kita yang kesepian? Empat puluh enam kromosom sempurna yang membentuk kehidupan itu, terbagi secara adil dua puluh tiga dariku dan dua puluh tiga darimu. Bukankah itu indah?”


Xavier tersenyum lembut melihat ketegangan Sera yang terurai seiring dengan kalimat indah yang diluncurkannya. Tangan lelaki itu bergerak untuk meraih jemari Sera, lalu merangkaikan jemarinya di sana. Senyumnya melebar melihat perpaduan jemari itu, pun dengan kenyataan bahwa Sera tak menolak pertautan tangan mereka.


“Aku tidak ingin sebatang kara di dunia ini. Aku ingin bersamamu dan juga bersama anak-anak yang terbentuk dari perpaduan diriku dan dirimu. Kau, aku dan anak kita yang membentuk sebuah keluarga.” Lelaki itu meremas tangan Sera dengan tatapan menghipnotis. “Kau tak akan sendirian lagi, Sera. Aku akan menemanimu. Aku dan anak kita akan bersamamu. Sebuah keluarga yang selalu bersama-sama, keindahan yang dahulu terenggut dari kita bisa menjadi milik kita lagi.”


Keheningan membentang di dalam ruangan yang sebelumnya sudah terlingkupi senyap itu. Kalimat Xavier, seperti biasa diucapkan dengan begitu ahli dalam rangkaian indah yang membuat otak berkabut dan menggoyahkan hati.


Mau tak mau, Sera terbawa dalam keindahan imajinasi Xavier yang diungkapkan dalam gayanya yang khas tersebut, dan hatinya tiba-tiba terasa hangat.


Seorang anak…. Seorang anak lelaki atau perempuan dengan aroma menenangkan yang terasa hangat, tubuh lembut yang menempel kepadanya dengan penuh kepercayaan, seluruh bagian tubuh serba mungil yang membalas pelukannya dengan penuh cinta….


Suara bel digital yang terdengar dari pintu kamar membuat lamunan indah itu tiba-tiba runtuh dan pecah berantakan.


Sera mengerjap, terkejut sekaligus malu karena membiarkan dirinya hanyut dalam manipulasi Xavier. Dengan wajah panas dan pipi membara, Sera langsung melepaskan tangannya dari genggaman Xavier, menarik jemarinya yang masih menyimpan kehangatan kulit lelaki itu, meyingkirkan tangannya sejauh mungkin dari jangkauan Xavier. Matanya sendiri melebar, menatap Xavier dengan kewaspadaan yang kembali penuh.


Xavier kini telah kehilangan senyumnya yang memesona, matanya menatap tangannya yang kini dibiarkan sendiri tanpa teman bertaut, lalu lelaki itu mengangkat bahu dan menyeringai setengah mengejek melihat ekspresi wajah Sera yang kembali bermusuhan.


“Kurasa aku akan mencari tahu dulu siapa yang datang dan mengganggu kita.” Lelaki itu bangkit dari posisi duduknya di tepi ranjang dan berjalan menuju salah satu lemari pakaian dalam kamar hotel tersebut sebelum kemudian mengambil jubah tidur berwarna hitam legam senada dengan celananya, lalu mengenakannya.


Sambil mengencangkan tali jubahnya di pinggang, Xavier memeriksa tampilan kamera pengawas di depan pintu kamar yang tersaji dalam layar kecil di dinding dekat pintu dan melihat bahwa ada dua anak buahnya yang berdiri di sana.


Sera sendiri, yang masih berbaring di atas ranjang mengerutkan kening melihat canggihnya alat keamanan dan pengawas yang terpasang di pintu masuk kamar tersebut.


Sebuah kamar hotel biasa tidak mungkin memiliki standar keamanan seketat itu hingga bisa memasang kamera pengawas di depan pintunya.


Apakah mungkin Xavier yang memasang instalasi kemananan itu sendiri di pintu kamar hotel tersebut? Atau jangan-jangan Sera salah menduga dan ternyata mereka saat ini tidak sedang berdada di kamar hotel melainkan di salah satu rumah milik Dimitri yang dijaga ketat?


Xavier tampak berbicara melalui intercom dengan anak buahnya lalu lelaki itu mengakhiri percakapan dan berbalik kembali ke arah Sera sambil memasang senyum.


“Silahkan beristirahat dan nikmati waktumu di sini. Aku akan meminta pelayan mengirimkan sarapan untukmu. Kita akan bertemu lagi nanti saat makan malam. Kuharap kau tidak keberatan menghabiskan waktumu sendirian hari ini karena aku harus menyelesaikan beberapa urusan menyangkut persiapan pernikahan kita besok.” Xavier membuka pintu dan mengedipkan matanya ke arah Sera. “Kuharap kau tidak marah kepadaku karena aku tidak mengizinkan kau keluar dari kamar, demi keselamatanmu. Nanti malam, aku akan datang menjemputmu untuk makan malam formal dengan orang-orang yang akan menjadi tamu istimewa untuk pernikahan kita besok.”


Tanpa memberikan kesempatan kepada Sera untuk menyanggah ataupun menyahuti kalimatnya, Xavier membalikkan tubuh, lalu melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Sera seorang diri di dalam kamar tersebut.


***

__ADS_1


Sera mengenakan gaun malam yang indah, berwarna hijau emerald yang berpadu cantik dan tampak mencolok dengan warna kulitnya yang pucat. Rambut panjangnya tergerai indah di bahunya, sementara kakinya yang tak bersepatu membawa langkahnya perlahan mendekat ke arah jendela kamar yang tirainya ditutup.


Xavier benar-benar mengejawantahkan apa yang dikatakannya mengenai mengurung Sera di dalam kamar ini.


Seharian ini, Sera tak diperbolehkan keluar dari kamar tersebut. Beberapa pelayan memang selalu datang dan pergi untuk memeriksa kondisi dan memenuhi kebutuhannya sampai hal terkecil sekalipun. Mereka bahkan membantunya mandi dan berdandan untuk sore ini, lengkap sambil membawa gaun indah, perhiasan dan juga sepatu untuk dikenakannya.


Sekarang, setelah selesai berdandan cantik untuk makan malam ditinggalkan sendirian, Sera tak bisa menahan penasarannya, dan kembali mengintip lewat jendela kamar.


Sera membuka tirai kamar itu, dia sudah menyadari bahwa dugaannya sebelumnya ternyata salah. Kamar ini bukanlah kamar hotel, melainkan kamar yang kemungkinan berada di salah satu sayap bangunan besar yang dijaga ketat.


Dari pemandangan jendela yang terletak di lantai atas ini, terpampang halaman samping yang luas, penuh dengan pohon pinus berjajar yang dilingkupi tembok tinggi dengan kawat berduri. .


Lampu-lampu telah dinyalakan, menciptakan temaram yang membuat nuansa malam jadi syahdu dan indah. Sayangnya, manusia-manusia berpakaian hitam yang bersenjata di bawah sana merusak nuansa lembut itu dan menggantinya dengan suasana mencekam tak menyenangkan ketika tubuh-tubuh mereka yang lalu lalang bergiliran, tersapu oleh pandangan mata.


Kemungkinan, rumah ini disediakan juga oleh Dimitri. Atau, bisa saja ini adalah salah satu properti milik Xavier yang dimilikinya di negara ini.


Xavier bilang sedang mempersiapkan pernikahan. Apakah mungkin… kalau lelaki itu juga berniat mengadakan pernikahan mereka di rumah ini?


Lalu, siapakah tamu istimewa yang dimaksudkan oleh Xavier?


Tadi sore, dia mendengar suara keras helikopter yang datang hingga menembus dari kisi-kisi jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Sera sempat mencoba mengintip, tetapi sepertinya dia berada di sisi yang berlawanan dari tempat helikopter itu mendarat.


Apakah mungkin, tamu istimewa itulah yang datang dengan diantarkan oleh helikopter?


Pertanyaan Sera rupanya tak perlu menunggu waktu lama untuk bisa bersua kembali dengan jawabannya. Karena tak sampai genap hitungan enam puluh detik berlalu dari dia mengajukan pertanyaan tersebut, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan sosok Xavier muncul, berdiri di ambang pintu.


Sera membalikkan tubuhnya seketika, sudah tahu siapa yang datang di sana tetapi tak bisa menahan diri  untuk menatap.


Matanya menyapu penampilan lelaki itu yang tampak sangat tampan dengan mengenakan jas formal rapi yang tampak pas membungkus tubuhnya.


Xavier juga tengah menatapnya, menelusuri penampilan Sera dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu, senyum puas penuh persetujuan tersungging di bibirnya ketika melihat betapa cantiknya Sera dalam gaun yang begitu pas dan indah membalut tubuhnya.


Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah Sera, memasang senyumnya yang paling memesona.


“Kemarilah putri bulan, sudilah menemani sang pungguk ini makan malam.”Kalimat Xavier diucapkan dengan nada ringan, menyelipkan candaan santai di sana. Tetapi rayuan yang tersirat di sana sangatlah jelas, hingga mampu membuat pipi Sera merona malu dan membunuh segala keinginannya untuk menyanggah ataupun memulai pertengkaran.


Perutnya lapar dan dia tak keberatan menunda pertengkaran yang hendak disulutnya sampai waktu makan malam selesai. Lagipula, Sera cukup penasaran dengan sosok tamu istimewa yang dimaksudkan oleh Xavier dan sangat ingin mengetahui siapa sebenarnya mereka.


Perlahan, Sera membalikkan tubuh, lalu tanpa kata dia melangkah ke arah Xavier dan menyambut uluran tangan lelaki itu, membiarkan tangannya digenggam erat dan mengabaikan senyum puas yang tersungging di bibir Xavier ketika melihat sikap penurut yang diberikan oleh Sera.


***


Pintu ruangan itu terbuka, dan sosok-sosok yang sudah menunggu langsung menolehkan kepala dengan rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi, memusatkan perhatian pada Xavier dan Sera yang datang memasuki ruang duduk itu sambil bergandengan tangan.


Sera sendiri melakukan hal yang sama. Memindai orang-orang yang dikatakan akan menjadi tamu istimewa dalam upacara pernikahan dan tekejut ketika menyadari bahwa dia mengenali mereka.


Sera tentu saja mengenali dokter Nathan yang merawat dan memeriksanya di rumah sakit setelah peristiwa kebakaran itu. Lalu ada Elios, asisten pribadi Akram Night yang dulu dikenalnya saat dia datang ke Night Corporation untuk memenuhi panggilan interview.


Yang paling mengejutkan dari semuanya, adalah ketika akhirnya Sera berkesempatan melihat langsung sosok Akram Night yang terkenal itu.


Jika ada sosok yang paling pantas untuk menvisualisaikan kalimat 'berkharisma' maka Akram Night adalah orangnya. Kebalikan dengan Xavier yang penuh senyum, Akram tampak menebarkan aura gelap superior yang membuat siapapun merasa tersudutkan, bahkan hanya dengan ditatap oleh bola mata cokelatnya yang tajam.


Tubuh Akram Night tinggi dan kokoh, dibalut oleh jas hitam formal yang semakin menambah nuansa mengintimidasi yang menguar dari dirinya. Semua itu membuat Sera tiba-tiba saja ingin bersembunyi di belakang Xavier, terdorong oleh insting penghuni kolom rantai makanan tingkat terendah yang tak sengaja dihadapkan dengan sosok yang menduduki kolom rantai makanan tingkat tertinggi.


Kenapa ada Akram Night di sini? Bukankah desas desus telah berkembang begitu lama bahwa hubungan Akram Night dan Xavier Light sangatlah buruk setelah kejadian mengenaskan yang membunuh Anastasia Dawn?


Biarpun Xavier akhirnya bekerja sama dengan Akram Night dan bergabung di perusahaannya, semua orang mengatakan bahwa hal itu terpaksa dilakukan menyangkut ikatan kerja sama yang berhubungan dengan pabrik senjata mereka. Semua orang bahkan bilang bahwa hubungan Akram dan Xavier masih sama buruknya seperti sebelumnya.


Tetapi, kehadiran Akram Night yang bersedia jauh-jauh datang ke Rusia untuk menghadiri pernikahan Xavier, jelas menunjukkan bahwa hubungan dua orang ini tak seburuk seperti yang diceritakan oleh orang-orang....


Sebuah gerakan di belakang Akram Night membuat Sera mengalihkan ketakutannya akan aura mendominasi lelaki itu. Mata Sera mengikuti arah gerakan tersebut dan tatapannya langsung terpaku pada sosok yang melongok dari belakang Akram, membalas pandangannya dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya.


Tubuh perempuan itu mungil, dan sosok Akram Night yang tinggi dan kokoh seolah melindunginya sehingga perempuan itu lolos dari pemindaian Sera. Perempuan itu lalu tersenyum manis hingga Sera terpesona karenanya. Terlebih lagi, ketika dilihatnya Akram Night langsung menarik perempuan itu ke dalam rangkulannya supaya berdiri sejajar dengannya, lalu menatapnya dengan pandangan penuh cinta yang memancar nyata dan tak bisa disembunyikan.

__ADS_1


Tidak perlu dipertanyakan lagi, Sera langsung tahu bahwa wanita itu adalah Elana Night, istri dari Akram Night.


Elana Night hampir tidak pernah muncul ke publik, dikatakan bahwa wanita itu lebih memilih untuk menghabiskan waktunya guna merawat sendiri anaknya di rumah Akram Night yang terlindungi dari invasi media. Tetapi, meskipun tak pernah muncul ke permukaan untuk menyombongkan diri, semua orang pasti tahu dan mengakui bahwa Elana Night adalah wanita hebat yang berhasil membuat sosok Akram Night yang ditakuti oleh banyak orang, bertekuk lutut tanpa daya di kakinya.


Sekarang, Sera sendiri yang menjadi saksinya. Sungguh mengejutkan ketika melihat bahwa aura gelap yang melingkupi Akram Night, dalam sekejap berubah menjadi nuansa hangat penuh cinta ketika lelaki itu merangkul istri mungilnya dalam dekapan.


Elana tersenyum, lalu mengalihkan matanya dari Sera dan menatap Xavier dengan sikap lembut.


"Apakah kau tak akan memperkenalkan kami dengan calon pengantin wanita?" tanyanya ramah, menebarkan aura ceria yang langsung menguraikan kabut ketegangan yang memenuhi udara.


Xavier membalas senyum Elana dengan sama lembutnya.


"Kau sudah melihatnya sendiri, Lana." tangan Xavier meremas jemari Sera yang masih ada dalam genggamannya. "Ini calon pengantinku. Serafina Moon."


Sera sedikit tertegun ketika mendengar suara Xavier yang sama lembutnya dengan senyumnya. Baru kali inilah Sera bisa merasakan bahwa Xavier benar-benar tulus.


"Halo, bolehkah aku memanggilmu dengan nama Sera? Aku Elana, kurasa kita akan menjadi saudari ipar mulai besok." Elana menyapa dengan ramah dan terlihat malu-malu, begitu bersahaja dan sama sekali tak tampak sedikitpun kesombongan sebagai seorang Nyonya Night yang posisinya sudah pasti berada jauh di atas Sera.


Sera membuka mulutnya, hendak membalas keramahan Elana dengan intensitas yang sama. Sayangnya, sebelum suaranya sempat terlontar dari tenggorokan, Akram Night tiba-tiba menyela dengan suara mendesak tak terbantahkan.


"Elana, bisakah kau mengajak Serafina Moon melihat Zac? Mungkin dia sudah terbangun sekarang." Akram meremas pundak istrinya lembut untuk menarik perhatiannya. Suaranya merendah dan matanya berkilat penuh makna ketika menatap Elana. "Ada yang harus kubicarakan dengan Xavier," sambungnya kemudian.


Elana langsung mengerti dan menganggukkan kepala. Dengan gerakan luwes, perempuan itu melepaskan diri dari rangkulan Akram dan melangkah mendekati Sera.


"Ada satu tamu kecil yang juga datang kemari untuk menghadiri pernikahanmu, tadi dia sedang tidur sehingga tak diajak turun. Kurasa sudah waktunya dia bangun. Apakah kau ingin ikut denganku dan melihatnya?" ajaknya ramah.


Sejenak Sera ragu, tetapi kembali Xavier meremas jarinya sebelum melepaskannya, dan menyapukan bibirnya lembut di pelipis Sera.


"Pergilah. Kembalilah nanti bersama Elana dan Zac ketika hidangan makan malam sudah siap disajikan di ruang makan," bisiknya lembut, memberikan izinnya.


Tak ada yang bisa dilakukan Sera selain menurut dan berjalan bersisian dengan Elana melangkah keluar dari ruangan itu. Sera memperhatikan bahwa ada beberapa bodyguard yang langsung mengikuti langkah mereka dalam jarak aman, dan menyadari bahwa Elana sama sekali tak terpengaruh dengan orang-orang yang bisa di bilang menginvasi garis privasinya tersebut. Seolah-olah Elana sudah sangat terbiasa dengan keberadaan para bodyguard itu sehingga tak menyadari kehadiran mereka.


Tetapi, mengikuti langkah kaki Elana sepertinya adalah keputusan tepat buat Sera. Bersama dengan wanita cantik dengan aura berkikauan ini, tentu saja lebih menyenangkan jika dibandingkan berada dalam ruangan sebelumnya yang dipenuhi oleh lelaki-lelaki berbahaya di dalam satu ruangan.


***


"Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau akan membawa Elios dan Nathan bersamamu." Xavier membanting tubuhnya di sofa menatap ketiga tamunya dengan ekspresi ramah. "Tapi aku tak memprotes, karena bisa dibilang ini adalah kejutan yang menyenangkan," sambungnya sambil terkekeh.


Sayangnya sikap cerianya tak menular pada Akram. Lelaki itu terlihat murung dan marah, sementara Elios dan Nathan yang duduk di sofa di sisi lain ruangan itu, lebih memilih diam dan tidak menginterupsi percakapan.


"Tidak perlu berbasa-basi. Kau pasti sudah tahu apa yang akan kubicarakan." Akram mengambil tempat duduk di seberang Xavier dan setengah melemparkan chip kecil di tangannya ke meja besar yang memisahkan posisi mereka duduk. "Seluruh data itu, Nathan yang berhasil mendapatkannya. Aku sangat terkejut kau berhasil merahasiakan itu dariku begitu lama. Jadi, jika aku tak salah menduga, inikah alasanmu yang sebenar-benarnya, sehingga kau memaksakan pernikahan ini pada Serafina Moon?"


***


***


***


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.

__ADS_1


Thank You


Sincerely Yours - AY


__ADS_2