Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 104 : Pertanyaan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


 


****


****


****


 


 


“Lihat, dia lucu sekali, bukan?”


Xavier yang berdiri di belakang kursi roda Sera menunjuk ke arah kotak inkubator yang terpampang di balik penghalang kaca tebal yang memenuhi seluruh sisi dinding yang berada tepat di hadapan tempat mereka berdiri saat ini.


Mata Sera tertuju kepada bayi montok itu, dan tatapannya terpaku di sana. Dirinya pernah melihat sosok bayi yang baru lahir di majalah-malalah wanita yang dibacanya, atau di acara televisi yang menampilkan berita tentang selebritis yang berbahagia karena melahirkan bayi yang lucu. Tetapi, Sera biasanya tidak memiliki perhatian lebih tentang itu dan hanya mengingatnya sekilas pandang tanpa memikirkannya lagi di kemudian hari.


Namun, melihat melalui majalah atau televisi dibandingkan dengan melihat langsung sosok bayi yang baru lahir di hadapannya tentunya terasa sangat berbeda. Yang asli jauh lebih menghangatkan hati ketika dipandang secara langsung.


Sera tak bisa mengalihkan pandangannya dari bayi mungil cantik putri Akram dan Elana tersebut. Saat ini bayi itu tampak tertidur lelap dengan damai. Matanya terpejam rapat, menampilkan bulu mata panjang yang sangat cantik. Bayi itu juga berambut lebat meskipun baru saja dilahirkan, dan tidurnya terlihat sangat damai dan tenang.


Makhluk kecil itu bernapas dengan dada yang naik turun teratur seiring dengan masuk keluarnya udara dari paru-parunya, membuat hati Sera takjub ketika menyari bahwa kehidupan manusia ternyata dimulai dari sesuatu yang berukuran sangat kecil seperti ini.


Dada Sera mengembang oleh seberkas rasa haru dari naluri keibuan yang mekar di sana. Dia tersenyum dan memajukan tubuh, menyentuhkan tangannya di kaca seolah masih kurang dekat dengan bayi mungil itu.


“Elana masih belum memberinya nama?” Xavier bertanya perlahan, memecahkan keheningan syahdu yang tercipta di sekeliling mereka.


Sera tersenyum lebar. “Akram dan Elana memilih dua nama yang sama-sama bagus, mereka kesulitan untuk menentukan mana yang menjadi nama depan dan mana yang akan menjadi nama tengah.”


“Hmm.” Xavier memijit pundak Sera lembut seolah ingin membantu melemaskan otot-otot kaku di pundak Sera. “Kalau dipikir-pikir… kita juga belum memikirkan nama anak-anak kita nanti, bukan? Jangan-jangan nanti kejadiannya bisa sama seperti ini, setelah anak kita lahir, kita masih kebingungan mencari nama untuk anak kita.”


Sera melirik malu-malu ke arah Xavier ketika mendengar kalimat Xavier tersebut. Sejenak dia ragu, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk mengaku.


“Aku sebenarnya sudah memilih beberapa nama… tapi ada banyak, jadi aku masih kebingungan menentukan mana yang terbaik.”


Mata Xavier melebar. Kenyataan bahwa Sera tertarik memberikan nama untuk anak mereka, untuk darah dagingnya, membuat dadanya mengembang senang.


“Oh ya? Aku tidak pernah melihat kau menuliskan atau menyimpan nama-nama itu? Dimana kau menyimpannya?” tanyanya ingin tahu, dipenuhi oleh rasa tertarik.


Sera tersenyum lembut. “Aku menuliskannya di buku catatan yang kusimpan di perpustakaan,” bisiknya pelan.


“Ah, aku ingin melihat nama-nama yang sudah kau siapkan. Bolehkah?” tanya Xavier cepat.


Sera menganggukkan kepala. “Kalau… kalau kau sudah di rumah nanti, kau boleh melihatnya.” Suara Sera terhenti ketika matanya menangkap gerakan bayi mungil di hadapannya itu. Bayi itu menggeliat, tubuh mungilnya yang montok menggemaskan meregang sebelum kemudian melemas lagi dan si bayi cantik itu tidur kembali, terlelap dalam pulas tanpa peduli akan dua orang dewasa yang asyik memandangi dan terpesona kepadanya.


Sera ingin menyentuhnya, ingin merasakan kelembutan kulit halus dan juga ingin digenggam oleh jari-jari mungil bayi cantik itu. Sayangnya, kondisi si cantik mungil yang masih harus diobservasi di inkubator tidak memungkinkannya untuk dipeluk dan disentuh oleh orang lain selain orangtuanya.


“Kata dokter, butuh satu atau dua minggu sampai dia bisa keluar dari inkubator.”


Xavier memberitahu dengan lembut, menerangkan tanpa diminta seolah-olah lelaki itu bisa membaca pikiran Sera.


Sera mendongakkan kepala dan tersenyum menatap ke arah Xavier.


“Aku tidak sabar menanti saat itu tiba. Dia cantik sekali, aku ingin menggendongnya,” sahutnya perlahan.


Xavier tersenyum. “Kau harus mengantri.”


“Mengantri dengan Akram dan Elana?” Sera bertanya dengan riang tanpa memerlukan jawaban. “Yah, kurasa aku akan cukup puas menjadi urutan nomor tiga.”


Bibir Xavier membentuk seringai tipis.


“Kau nomor empat,” sahutnya tanpa belas kasihan.


“Nomor empat?” Sera memutar bola matanya. “Jangan bilang kau juga bersemangat untuk menggendongnya. Kau bahkan belum bisa menggendong bayi dengan benar. Jangan-jangan kau nanti malahan menjatuhkanya,” cela Sera setengah menggoda.


Seringaian Xavier langsung berubah menjadi kekehan.

__ADS_1


“Karena aku belum bisa, maka aku aka belajar,” sahutnya santai sambil lalu.”


“Jangan kau kira aku akan membiarkan putriku jadi bahan latihanmu.”


Suara Akram yang tiba-tiba terdengar di belakang mereka membuat Sera dan Xavier menoleh seketika. Sera tampak menunduk menahan malu sementara Xavier bersikap sebaliknya, dengan tak tahu malu lelaki itu menyeringai lebar ke arah Akram.


“Dia keponakanku. Aku bisa menggendongnya kapanpun aku mau, entah itu latihan atau bukan,” sahutnya memprovokasi dengan sengaja.


Hubungannya dengan Akram memang telah berubah baik beberapa waktu belakangan ini. Xavier sudah tidak membuat Akram mengalami serangan panik lagi dan Akram sudah tidak mendorong jiwa kejam Xavier untuk menguasai perhatiannya lagi. Kedamaian di antara mereka bahkan sudah bisa dibilang mendekati hubungan persahabatan. Meskipun begitu, hubungan mereka yang membaik bukan berarti bisa menghilangkan sifat Xavier yang sudah mengakar dalam.


Ya, dia masih suka memprovokasi dan menguji kesabaran Akram hingga lelaki itu kadang naik darah dan marah.


“Putriku akan menjadi hak eksklusif milikku. Kau tidak bisa menggendongnya seenaknya. Kau bahkan hanya bisa mendekatinya setelah mendapatkan izin dariku.” Akram menatap Xavier dengan curiga. “Siapa yang tahu residu racun macam apa yang masih menempel di tubuhmu? Itu bisa saja membahayakan putriku.” Tuduhnya dengan sengaja.


Xavier menipiskan bibir seolah tersinggung. Namun, matanya yang menyiratkan tawa tulus menunjukkan bahwa sesungguhnya dia tak mengambil hati apa yang diucapkan oleh Akram kepadanya.


“Hei, aku sudah menjauhi racun sejak lama, tidak sepenuhnya bersih tetapi aku selalu menjaga diriku tetap aman.” Xavier menjelaskan dengan santai, tangannya kemudian bergerak untuk meremas bahu Sera lembut sebelum kemudian membungkuk untuk menghadiahkan ciuman di pucuk kepalanya. “Istriku juga sedang mengandung, jadi aku cukup berhati-hati. Kau bisa tenang,” sambungnya kemudian.


Akram menatap ke arah Xavier dan Sera. Matanya kemudian terpaku ke arah perut Sera yang membuncit besar. Dia tadinya terlalu fokus pada putri kecilnya sehingga lupa bahwa istri Xavier ini juga sedang mengandung.


Akram selalu kesulitan bersikap ramah dan baik pada wanita selain pada istrinya. Meskipun Sera cukup akrab dengan Elana istrinya, bukan berarti Akram bisa menghilangkan dengan mudah sikap kakunya.


Namun, untuk saat ini Akram ingin bersikap baik kepada Sera. Bagaimanapun, wanita itu adalah wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak Xavier, ditambah lagi, Sera adalah wanita yang berhasil mengubah Xavier menjadi sosok yang lebih baik.


Akram melirik Xavier dari sudut matanya dan menilai diam-diam. Dengan kepribadian Xavier, sikapnya yang kejam dan juga masa lalunya yang gelap, Akram selalu ragu apakah Xavier bisa melepaskan diri dari kelamnya masa lalunya untuk kemudian berbahagia. Tetapi ternyata memang masih ada penebusan untuk orang yang paling berlumuran noda dosa sekalipun, Xavier sepertinya masih mendapatkan kesempatan untuk berbahagia… melalui Serafina Moon.


Akram berdehem perlahan, lalu menganggukkan kepalanya dengan canggung.


“Kuharap kelahiran bayi kembar kalian lancar.” Akram seolah tak rela mengucapkan hal baik kepada Xavier, karenanya dengan cepat dia menambahkan kalimatnya. “Jadi, kau bisa menggendong bayimu sendiri dan tak mengganggu putriku.”


Ketika menyebut nama putrinya, mata Akram tertuju pada sosok bayinya yang tengah tertidur pulas dan tiba-tiba saja, seluruh perhatiannya tertuju kepada bayi cantik yang mirip dengan Elana itu, membuat senyum terulas lebar di bibirnya dan membuatnya melupakan kehadiran Sera dan Xavier yang masih ada di sebelahnya.


Xavier memutar bola matanya ketika mendengarkan kalimat Akram itu. Bahkan ketika putri kecilnya masih bayi pun, Akram sudah bersikap begitu posesif.


Dia jadi merasa kasihan pada siapapun yang nanti jatuh cinta kepada putri Akram Night, karena lelaki malang itu sepertinya harus menghadapi calon ayah mertuanya yang mengerikan seperti monster.


***


 


Xavier menawarkan perlahan ketika mereka melangkah keluar dari lift akses khusus dan lelaki itu mendorong kursi roda istrinya melewati lorong besar yang menghubungkan ke pintu masuk ruang apartemen milik Akram di bagian atas rumah sakit ini.


Derek yang terus mengiringi dalam hening membukakan pintu ruang apartemen itu untuk mereka dan Xavier pun mendorong kursi roda Sera masuk ke dalam. Setelah menerima beberapa instruksi mengenai penjagaan keamanan, Derek mengangukkan kepala dan berpamitan keluar. Ditutupnya pintu apartemen itu dan meninggalkan Sera serta Xavier sendirian di dalam.


Apartemen VIP itu sesungguhnya disediakan untuk Akram dan biasanya dia gunakan ketika Elana menjalani perawatan di rumah sakit.


Tetapi Akram tadi mengatakan bahwa apartemen di lantai paling atas rumah sakit itu sebaiknya digunakan oleh Xavier dan Sera saja. Akram sendiri memutuskan bahwa dia tidak akan menempati apartemen itu selama Elana dirawat di rumah sakit ini. Dia ingin berdekatan dengan istrinya dan putri mereka setiap saat, dia juga harus bolak balik ke rumah untuk mengurus Zac yang saat ini berada sepenuhnya di bawah pengawasan pengasuhnya. Jadi, Akram merasa bahwa lebih baik dia menambahkan satu tempat tidur tambahan di kamar tempat Elana dirawat supaya tetap bisa bersama dengan Elana setiap saat.


Pengaturan itu sangat disetujui oleh Xavier. Dia tahu bahwa Sera memiliki trauma dengan rumah sakit. Perempuan itu selalu menganggap bahwa dirawat di rumah sakit adalah suatu pertanda buruk. Jadi, menempati apartemen milik Akram merupakan jalan keluar yang paling baik.


Bukan hanya karena apartemen ini lebih terasa seperti rumah dan tidak terasa seperti kamar rumah sakit, posisi apartemen yang berada di lantai paling atas bangunan rumah sakit ini juga memudahkan Sera untuk menjangkau pelayanan medis jika dia membutuhkannya.


Selain itu, ada dua hal penting yang juga cukup menguntungkan jika mereka tinggal di apartemen ini dibandingkan dengan tinggal di hotel. Satu, mereka sekarang tinggal di area rumah sakit yang posisinya cukup dekat dengan fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat, itu berarti jika kondisi Sera memungkinkan, mereka bisa menengok ayah Sera kapan saja dengan mudah. Yang kedua, karena apartemen ini memenuhi satu lantai di bagian atas rumah sakit ini, satu-satunya akses untuk menuju ke tempat ini adalah melalui pintu lift dengan satu jalur yang aman. Tentu saja ada tangga darurat di ujung ruangan. Namun, akses yang terbatas menuju area apartemen ini memudahkan penjagaan keamanan di seluruh akses masuk kemari.


Sera terkekeh ketika mendengarkan perkataan Xavier, matanya masih memutari seluruh area apartemen ini dengan penuh kekaguman.


“Sempit? Bagaimana mungkin? Apartemen ini seluas sebuah rumah besar yang bisa dihuni oleh banyak orang sekaligus.” Dengan cemas Sera melirik ke arah pintu. “Jika aku tinggal di sini, bagaimana dengan para penjaga? Apakah kau akan membiarkan mereka berjaga sambil berdiri tanpa menyediakan tempat untuk berbaring atau beristirahat?”


Bibir Xavier menipis ketika mengetahui betapa perhatiannya Sera kepada para bodyguard yang menjaganya. Seberkas kecemburuan menyengatnya perlahan.


“Kenapa kau begitu perhatian pada mereka?” Dengan lembut Xavier mengangkat Sera dari kursi rodanya dan memindahkannya ke sofa besar yang ada di ruang tamu. Lelaki itu segera duduk menyusul di sebelahnya dan merangkul Sera ke dalam pelukannya. “Mereka dibayar untuk berjaga. Bagaimana mungkin aku malah menyediakan tempat berbaring atau tiduran bagi mereka?” sambungnya kemudian dengan nada bersungut-sungut.


Sera tersenyum, tangannya bergerak memukul lengan Xavier perlahan.


“Maksudku bukan begitu,” bisiknya pelan, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. “Maksudku… mereka kan harus berdiri berjam-jam untuk berjaga. Kadang-kadang kondisi fisik seseorang juga memiliki batas dan membuatnya harus beristirahat. Jika kau terus memforsir para anak buahmu dan tidak memberikan mereka waktu istirahat, mereka akan kelelahan yang berujung pada kurang fokus,” nasehatnya kemudian.


Xavier mendekus. “Baiklah, baiklah. Aku akan membuat pengaturan pergantian shift setiap beberapa jam sekali. Dan tak usah pikirkan tentang tempat mereka beristirahat. Rumah sakit ini memiliki banyak sekali kamar yang bisa digunakan. Mereka bisa menyewa beberapa di lantai yang kosong untuk beristirahat jika tidak sedang berjaga.”


Jawaban Xavier itu membuat Sera tersenyum. Lelaki ini benar-benar memanjakannya. Apapun yang diminta oleh Sera, Xavier selalu berusaha mengakomodasikannya supaya Sera merasa senang. Bisa dibilang, lelaki ini adalah suami dan calon ayah dari anak-anaknya yang benar-benar baik kepadanya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, perkataan dokter Oberon megenai penyakit kanker ganas dan percobaan kimia terhadap ayahnya tadi terlintas kembali di pikirannya. Sera menatap ke arah wajah Xavier, sementara benaknya menimbang-nimbang.


Xavier yang sekarang bukanlah Xavier dulu yang jahat. Lelaki itu telah benar-benar berubah dan menunjukkan segala kebaikan dengan tulus kepadanya.


Kalau begitu, kemungkinan besar Xavier memiliki alasan sendiri ketika dia memutuskan untuk merahasiakan semuanya dari Sera, bukan?


Sera berpikir bahwa Xavier mungkin memikirkan tentang kondisinya, dirinya sedang hamil besar, mungkinkah lelaki itu berahasia karena tidak ingin menambah beban pikirannya?


Benarkah itu? Benarkah hanya itu alasannya? Benarkah Xavier tidak memiliki alasan tersembunyi lainnya? Bisakah Sera mempercayai Xavier sepenuhnya?


Sera menghela napas panjang, ada sedikit ketidakyakinan yang terselip di dalam hatinya dan membuatnya ragu.


“Ada apa?” Xavier menundukkan kepala dan menatap ke arah Sera yang tiba-tiba terdiam di dalam rangkulannya. Perempuan itu bersandar dengan pipi menempel di dadanya, matanya kosong dan keheningan yang menyergap tiba-tiba menunjukkan bahwa dia sedang melamun.


Xavier mengusap pipi Sera lembut sebelum kemudian melanjutkan pertanyaannya. “Apa yang mengganggu pikiranmu?” bisiknya perlahan.


Sera tertegun. Dia seolah berada di persimpangan jalan dimana dia tak tahu hendak melangkah maju ataupun mundur.


Xavier merahasiakan ini semua dari Sera… haruskah Sera mematahkan kerahasiaan itu dengan bertanya langsung kepada Xavier?


“Xavier.” Sera mendongakkan kepalanya ke arah suaminya. “B-bolehkah aku menanyakan sesuatu?”


Pada akhirnya, Sera memutuskan untuk bertanya, ingin mengakhiri semua keraguan yang menyesakkan dadanya.


 


 


Bersambung ke Part berikutnya


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


 


Yours Sincerely


AY


 


 


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2