
Elana menatap wajah lelaki di depannya itu dengan kening berkerut. Entah kenapa, meskipun wajahnya tersenyum manis, lelaki itu tampak sedang menahan kesakitan yang luar biasa.
Ditambah lagi, lelaki itu tampak pucat pasi.
Tadi Elana sedang membersihkan salah satu bilik di toilet karyawan laki-laki ketika terdengar suara pintu ditutup pertanda ada orang yang masuk. Semula dia hendak menegur orang tersebut karena jelas-jelas dia sudah menggantung tulisan "sedang dibersihkan" di depan pintu ruang toilet karyawan ini untuk mencegah siapapun masuk ke dalam ketika dia sedang dalam proses membersihkan toilet.
Sepertinya orang itu buru-buru masuk hingga tidak mengindahkan tanda yang dipasangnya di pintu...
Elana menunggu sejenak sebelum keluar dari bilik tempatnya berada. Dia tidak mau mengganggu orang itu menyelesaikan 'urusannya' di urinor khusus lelaki yang terletak berjajar di area terbuka dalam toilet tersebut. Akan sangat canggung kalau Elana tiba-tiba keluar dan laki-laki itu masih belum menyelesaikan 'urusannya' di depan urinor itu.
Setelah menunggu sejenak dan tak ada suara, Elana akhirnya memutuskan keluar. Dia kemudian mendapati sosok bertubuh tinggi, dan ramping sedang terhuyung sambil berpegangan di wastafel, tampak menahan sakit.
Seharusnya Elana langsung berpamitan pergi saja karena jelas-jelas itu berada di luar urusannya sebagai seorang petugas kebersihan. Tetapi, ketika matanya menangkap bahwa lelaki itu sedang mencari-cari tissue, sementara dia memiliki sisa sekotak tisu setelah mengisi stok di bilik ruang toilet, Elana tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi bantuan.
Dan disinilah dia, berdiri menatap pria sakit itu sambil menyesal karena mungkin dia telah bertindak ikut campur di luar urusannya.
"Anda sakit? Apakah tidak sebaiknya Anda pergi ke klinik perusahaan? Gedung klinik ada di sebelah gedung utama, tidak jauh dari sini." tawarnya perlahan. Mungkin dia memang tidak mengenal lelaki ini, tetapi sudah jelas Elana tidak mungkin melenggang pergi begitu saja padahal ada orang sakit di depannya.
"Aku tidak apa-apa," senyum manis lelaki itu hilang ketika serangan rasa sakit menyerangnya. Tangannya bergerak menekan tisu ke hidungnya, keningnya berkerut dalam meskipun wajahnya semakin pucat. "Aku sudah minum obat, jadi aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya," ujarnya ramah.
"Oh, baiklah kalau begitu." Elana segera menarik diri, tahu kalau lelaki itu mungkin membutuhkan ruang gerak pribadi tanpa gangguan. "Kalau begitu saya mohon diri dulu, Tuan."
Elana melangkah mundur, hendak membalikkan tubuh. Tetapi, pada detik yang sama, tubuh lelaki itu terhuyung seolah kehilangan keseimbangan dan tiba-tiba jatuh ke depan, menabrak ke arah Elana yang hendak berbalik.
Meskipun tubuh lelaki itu ramping, tetapi tetap saja beban tubuhnya sama seperti lelaki dewasa pada umumnya, tidak sepadan dengan tubuh Elana yang mungil. Begitu tubuh lelaki itu bersandar kepadanya, Elana langsung terhuyung mundur menahan berat bebannya. Beruntung Elana tidak sampai jatuh ke lantai dan berhasil mencapai dinding didekatnya untuk menyandarkan punggung.
"Tuan! Anda tidak apa-apa? Saya akan memanggil bantuan!" Elana berusaha mendorong tubuh lelaki yang rubuh menimpanya, kepanikan mulai menyerangnya.
"Tidak... tidak..., kumohon ... aku tidak apa-apa, kumohon jangan panggil siapapun. Aku... aku hanya menunggu obatku bereaksi, lalu aku akan baik..." suara lelaki itu makin parau, sementara napasnya tersengal, berkebalikan dengan tubuhnya yang makin lunglai menimpa Elana.
Aroma lembut parfum lelaki itu langsung menyeruak dan memenuhi indra penciuman Elana, sepintas seperti perpaduan berbagai macam nuansa lembut serupa musk, diselipi segarnya aroma jeruk dengan kilasan manis aroma vanila. Elana merasakan hentakan dalam hatinya untuk mendorong lelaki itu sekuat tenaga ketika menyadari bahwa dirinya terperangkap di antara tubuh lelaki itu dengan dinding di belakangnya. Dia mendongak dan hendak mendorong, tetapi kemudian tertegun ketika melihat wajah lelaki di atasnya itu
Bahkan wajah lelaki itu sekarang menjadi berkali-kali lebih pucat dari sebelumnya. Dan yang lebih mengerikan lagi... hidungnya... hidungnya mengeluarkan darah!
Lelaki itu menimpa dan memerangkapnya bukan dengan sengaja, tetapi karena memang lelaki itu benar-benar sakit....
"Anda berdarah!" Elana akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendorong kasar lelaki itu dan memutuskan untuk memapahnya perlahan dengan lembut, lalu membantu lelaki itu duduk di karpet sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.
Mata lelaki itu terpejam, sementara tangannya bergerak menekan tisu ke hidungnya. Dadanya bergerak naik turun seiring dengan dalamnya kerutan di dadanya menahan sakit.
"Anda benar-benar membutuhkan bantuan... saya akan..." Elana merasa ngeri melihat noda merah yang merembes membasahi tissue itu, dia segera beranjak kembali dan hendak pergi ke area resepsionis untuk minta dipanggilkan bantuan paramedis dari klinik.
Sayangnya, sekali lagi gerakan Elana kembali tertahan. Kali ini jemari lentik lelaki itu mencengkeram tangannya dengan kekuatan yang cukup mengejutkan untuk lelaki yang sedang sakit.
"Aku sungguh memohon padamu," lelaki itu berucap dengan susah payah, sementara matanya masih terpejam, "Aku akan pulih sebentar lagi ketika obatku sudah bereaksi penuh... tunggulah sebentar lagi... kumohon jangan... jangan tinggalkan aku..." lelaki itu berucap seolah meracau, membuat Elana terpaku kebingungan harus berbuat apa.
***
"Kau seharusnya segera memanggilku begitu menerima pemberitahuan bahwa Xavier datang kemari." Nathan meletakkan ke meja gelas berisi air yang tadi digunakan Akram untuk meminum obat penenang. sedang bertugas di rumah sakit ketika menerima panggilan dari Elios bahwa Akram terkena serangan panik. "Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya kau bertemu lagi dengan Xavier sejak lima tahun berlalu. Karena itulah kau tidak bisa mengontrol pergolakan emosimu yang didorong oleh trauma masa lalu."
Kondisi Akram saat ini jauh berbeda dengan dirinya yang selalu terlihat kuat dan sempurna tanpa cela. Akram saat ini tampak begitu lemah, lelaki itu melepas jas dan dasinya serta membuka kancing kemejanya. Kepalanya bersandar di sandaran sofa dengan mata terpejam rapat, sementara sebelah tangannya bergerak memijit pangkal hidung dan menutupi sebagian wajahnya. Napas Akram tampak tersengal, dilihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat.
Saat ini, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu sampai obat penenang yang diminum Akram bereaksi.
"Tetapi, efeknya traumamu seharusnya tidak seberat itu kalau Xavier tidak menarik pelatuk yang membangunkan ingatan pada traumamu. Sebenarnya apa yang tadi dikatakan oleh iblis licik itu kepadamu?" Nathan kembali bertanya, meretakkan keheningan yang terbentang di antara mereka.
Akram menghela napas panjang, merasakan bahwa obat penenang itu sudah bereaksi dan melonggarkan jalur napasnya. Matanya kemudian terbuka, menyala oleh kilat yang mengerikan.
"Elana," geramnya serak.
__ADS_1
Wajah Nathan langsung pucat pasi karenanya, kengerian melintasi wajahnya.
"Xavier tahu tentang Elana?" serunya dengan suara meninggi."
"Tidak..." Akram menggelengkan kepala cepat. "Xavier tidak tahu tentang Elana. Tetapi, dia mengungkapkan kecurigaanny. Dia menyebut bahwa aku yang tidak terlihat tampil bersama wanita selama tiga bulan terakhir ini membuatnya bertanya-tanya... Xavier pikir aku menyimpan seorang perempuan favorit dan tidak ingin berganti lagi," Akram membungkuk dan meremas rambutnya. "Dia sedang menilai reaksiku... dan aku... aku tidak bisa menyembunyikannya... Xavier seolah memiliki kekuatan untuk menemukan ketertarikanku sesedikit apapun itu pada sesuatu... sekuat apapun aku berusaha, dia selalu berhasil menebaknya, dan ketika dia menyebut tentang itu, aku langsung teringat tentang Elana... dan aku..." Akram menghentikan suaranya, matanya terpejam kembali dengan kerut dalam di dahinya.
Nathan menghela napas panjang. "Tarik napas, Akram. Kau harus menenangkan dirimu. Kalau kau tidak bisa mengendalikan emosimu, rasa tercekik itu akan datang lagi," ucapnya perlahan, memberikan instruksi profesional dengan penuh tekanan.
Akram menuruti perkataan Nathan, kembali memaksakan diri untuk menghela napas dengan tenang dan teratur. Trauma mendalam ini merupakan salah satu kelemahan yang belum berhasil diatasinya. Berbagai terapi dengan para ahli profesional dimulai dari masa remajanya hingga sampai sekarang pun, ternyata masih belum bisa menghapuskan jejak kengerian yang terasa setiap Akram mengingat masa lalunya yang kelam.
Anastasia. Itu adalah perempuan cinta pertamanya. Perempuan yang akhirnya kehilangan nyawa dengan tragis karena Akram yang lengah dan tak mampu menahan hatinya untuk jatuh cinta. Ketika Anastasia diselamatkan, Akramlah yang mendampinginya di rumah sakit. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa hancurnya tubuh perempuan itu akibat siksaan dan pelecehan oleh gerombolan penjahat yang disewa Xavier untuk merusaknya.
Kondisi Anastasia saat itu sudah hancur lebur dan menciptakan tekanan rasa bersalah yang membuat Akram hampir gila. Dan seolah itu masih belum cukup, Akramlah yang menemukan pertama kali mayat Anastasia yang tergantung di langit-langit.kamar perawatannya, mati tercekik dengan menggantung diri dan kehilangan nyawanya dengan cara yang sangat mengerikan.
Dari situlah trauma Akram terbentuk... gambaran gadis yang dicintai berubah menjadi mayat tergantung menyedihkan selalu membayanginya, mewujudkan diri menjadi ketakutan terdalam yang melekat erat dan tak bisa disingkirkan.
"Kalau sampai Xavier mendapatkan pengetahuan tentang Elana, dia akan menggila..." Akram membuka mata kembali.
"Kalau kau memang benar-benar mencemaskan Elana, tidakkah kau ingin mempertimbangkan untuk melepaskannya? Hidupnya akan lebih baik jika dia jauh darimu. Sebab, dengan memaksanya berada di dekatmu, sama saja kau melibatkannya dengan bahaya yang mengancam." Nathan memberi saran dengan hati-hati.
"Aku tidak akan melepaskan Elana. Tidak akan," Akram menyahut tegas dengan ultimatum tak terbantahkan. Selama ini dia seolah mengalah dengan menahan diri tidak menunjukkan ketertarikannya pada apapun untuk menjauhkan Xavier darinya. Tetapi, kali ini Akram tidak akan menyerah. Dia tidak akan menyerah untuk Elana. Kalau demi Elana dia harus melanggar janjinya kepada ibunya dan harus melenyapkan nyawa Xavier, maka hal itu akan dilakukannya tanpa ragu.
"Kalau begitu, kau harus meningkatkan penjagaanmu kepada Elana. Karena Xavier datang kesini, aku berani bertaruh bahwa dia sendiri masih ragu-ragu dengan dugaannya dan ingin melihat reaksimu untuk memastikan. Saat ini Xavier sedang sangat penasaran, itu berarti dia akan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari informasi. Kau harus berhati-hati dalam bertindak, mungkin saja ada penyusup di perusahaan ini..."
"Aku sudah memerintahkan Elios untuk memindai ulang seluruh karyawan, dengan teliti sampai detail sekecil apapun, tanpa kecuali," mata Akram menyipit penuh ancaman. "Jika ada penyusup, maka kita akan segera menemukannya."
"Lalu untuk mengikis kecurigaan Xavier, bisakah kau membuat kamuflase janji kencan dengan salah satu wanitamu yang akan diliput di depan umum? Kalau kau kembali tampil bersama kekasih-kekasihmu yang berganti-ganti secara konstan itu, aku yakin bahwa lama-lama Xavier akan menyadari bahwa dugaannya salah dan bahwa kau tidak pergi berkencan karena kau sibuk dan sedang memulihkan diri setelah kecelakaan." Nathan memberikan usulan lagi. Menghadapi Xavier yang begitu licik dan sangat cerdik, mereka harus memutar otak dan bersikap penuh kehati-hatian dalam setiap langkah.
"Aku tidak akan berkencan dalam waktu dekat. Kalau tidak, Xavier malah akan curiga karena aku tiba-tiba tampil bersama wanita lagi setelah dia menyebutkannya. Dia malah akan mengira bahwa aku sedang berusaha menutupi sesuatu. Tapi aku akan mempertimbangkan untuk tampil bersama wanita lagi setelah waktunya tepat," Akram melirik jam tangannya, lalu menekan tombol penghubung di mejanya. "Elios!" panggilnya dengan kening berkerut. Obat itu sudah bereaksi dan Akram sepertinya telah berhasil mengatasi serangan panik akibat trauma masa lampaunya. Lelaki itu sekarang kembali menjadi Akram yang biasa, dengan ekspresi dingin yang keras dan menakutkan.
Pintu terbuka tak lama kemudian dan Elios masuk tergesa, lelaki itu tampaknya memang sudah berniat masuk ke dalam ruang kerja Akram, bahkan sebelum Akram memanggilnya.
"Jam istirahat makan siang hampir lewat, dimana Elana?" Akram bertanya cepat begitu menangkap Elios dalam pandangannya. Sekelebat pandangan pada wajah Elios sudah langsung menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa?" tanyanya cepat sambil menyipitkan mata.
Tanpa menunggu Elios menyelesaikan perkataannya, Akram langsung berdiri dari duduknya, meraih jasnya dan melangkah cepat meninggalkan ruangan. Sementara itu, Elios bergegas mengejarnya, diikuti oleh Nathan.
"Tuan Akram!" Elios memanggil cepat ketika mengejar Akram dan menahan pintu lift supaya dia dan Nathan bisa ikut masuk. "Nona Elana tidak apa-apa! Meskipun saat itu mereka kebetulan berada di satu ruangan, tetapi Xavier sepertinya tidak menyadari bahwa Elana memiliki hubungan dengan Anda. Dia mungkin hanya menganggap Elana sebagai petugas cleaning service biasa."
Mendengar itu, Akram memejamkan mata merasakan kelegaan meliputi seluruh tubuhnya. Meskipun ekspresinya kaku, tetapi baik Nathan maupun Elios yang telah cukup lama mengenal Akram bisa langsung melihat emosi yang bergolak di dalam jiwa Akram.
"Sekarang di mana Elana?" setelah berhasil menguasai diri, Akram kembali bertanya.
"Dari hasil CCTV, dia saat ini berada di ruang loker karyawan. Mereka semua baru kembali dari lokasi kerja masing-masing dan bersiap untuk makan siang. Seperti saya bilang tadi, renovasi di beberapa area membuat para petugas kebersihan memiliki pekerjaan tambahan yang membuat jam makan siang mereka mundur dan..."
"Sterilkan area ruangan loker itu. Tidak ada satupun yang boleh mendekat. Kosongkan jalur dari ruangan itu menuju lift," Akram menyela tanpa menunggu Elios menyelesaikan kalimatnya.
"Baik, Tuan." Elios tidak bertanya dua kali. Dia langsung mengangkat ponselnya dan memberikan rentetan instruksi dengan cepat kepada lawan bicaranya.
Nathan yang bersandar dengan santai di dinding lift dan mengawasi semuanya hanya tersenyum tipis, menatap ke arah Akram dengan penuh perhitungan.
"Kau begitu terikat dengan Elana. Sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya terjadi atasmu. Sementara Elana masih terus berusaha lari dan menghindar," Nathan menyadari bahwa siang ini Elana sengaja mengabaikan permintaan Akram untuk datang ke ruangannya saat makan siang. Sebuah bentuk pembangkangan yang nyata dari seorang perempuan keras kepala. Bahkan Elios yang biasanya sangat kompeten pun sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kekeraskepalaan Elana.
Perlahan Nathan memiringkan kepala dan mengawasi Akram lekat-lekat. "Sudah tiga bulan berlalu dan kau sama sekali tidak menunjukkan bahwa hasrat dan ketertarikanmu surut terhadapnya. Dari mataku, kau malah semakin tergila-gila kepada Elana, dalam tingkat yang mendekati permanen. Kenapa tidak kau nikahi saja Elana? Dengan begitu kau bisa mengikatnya dengan kuat tanpa bisa lepas lagi. Kau bahkan bisa menghamilinya, membuatnya mengandung anakmu, menciptakan ikatan tak terputuskan melalui hubungan darah."
Akram menggelengkan suara segera. Ekspesinya menggelap. "Tidak," jawabnya dengan nada tak terbantahkan. Kelebatan memori mengerikan ketika dirinya menemukan mayat Anastasia yang mati tergantung di langit-langit kembali muncul dalam benaknya. "Aku tidak akan menikahi Elana. Tidak sebelum aku melenyapkan Xavier." sambungnya dengan nada penuh ancaman
***
.
Elana baru saja selesai mencuci tangannya dan bersiap untuk pergi bersama yang lainnya keluar dari gedung pusat menuju area restoran di luar. Para petugas kebersihan biasanya memang berkumpul di area loker untuk mengganti pakaian bersih atau merapikan diri setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan karena siang ini ada pekerjaan tambahan, hampir semuanya terlambat untuk makan siang.
__ADS_1
Semuanya melangkah dengan riang berjalan keluar ruangan loker untuk makan siang bersama ketika tiba-tiba sekelompok orang berpakaian jas lengkap dengan ekspresi dingin seperti kaku tiba-tiba saja menyebar masuk memenuhi ruangan.
"Area ini akan digunakan untuk kepentingan khusus. Silahkan semua berbaris meninggalkan ruangan tanpa kecuali." pemimpin dari para lelaki berjas hitam itu bersuara dengan tegas sedingin es, lalu seluruh anak buahnya yang jumlahnya puluhan, bergerak dengan efisien menggiring semua orang yang ada di ruangan itu supaya berbaris rapi dan keluar melalui lorong yang juga sudah disterilkan dan dijaga ketat.
Elana ikut masuk ke dalam barisan dengan bingung. Orang-orang berjas ini familiar di mata Elana sebagai anak buah dan bodyguard Akram...
Dia memang sengaja mengabaikan perintah Akram yang memintanya naik ke ruangannya pada jam makan siang.... Tetapi, apa yang terjadi saat ini tidak ada hubungannya dengannya, kan?
Elana masih dipenuhi oleh dugaan dan kecemasan ketika tiba-tiba pemimpin kelompok berjas hitam itu meraih lengannya dengan lembut. Sebelum Elana bisa memprotes, lelaki itu menghela Elana tanpa suara dan mengeluarkannya dari barisan dengan gerakan efisien sehingga tidak ada satupun yang menyadarinya.
"Mohon maaf, Nona. Anda diperintahkan untuk tetap tinggal," ucap lelaki itu dengan sikap datar.
Elana mengerutkan kening, tetapi tahu bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin bisa memprotes tanpa menarik perhatian, jadi akhirnya Elana hanya bisa diam dan menunggu.
Setelah semua orang dikeluarkan dan hanya ada orang-orang berjas hitam yang berdiam seperti patung di depan Elana, pintu lift yang berada di dekat area loker itu pun terbuka dan sosok yang sudah ditebak oleh Elana muncul di sana.
Akram berjalan mendekati Elana dengan diikuti oleh Elios dan Nathan di belakangnya. Elana melihat kehadiran dokter Nathan dan mengerutkan kening.
Siapa yang sakit? Apakah dokter Nathan sedang menjalankan tugas sebagai dokter, atau hanya sekedar bertemu antar teman dengan Akram?
Perhatian Elana teralih kembaki pada Akram yang sekarang telah berdiri dekat di depannya. Mata lelaki itu begitu tajam menelusuri seluruh diri Elana dengan saksama. Setelahnya, tangan Akram bergerak untuk menangkupkan telapak tangannya ke pipi Elana.
"Kau baik-baik saja," Akram berucap dengan suara parau nan dalam, seberkas kelegaan tersirat di sana, membuat Elana mengerutkan keningnya.
Tentu saja dia baik-baik saja. Memangnya dia seharusnya seperti apa?
Elana belum sempat mengemukakan pertanyaannya ketika Akram tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeret langkah Elana kembali memasuki lift. Kali ini hanya ada Elana dan Akram di dalam lift itu.
Ketika lift itu menutup lalu bergerak naik, Akram mendorong Elana ke dinding, lalu meredam segala perlawanan Elana dengan melumat bibirnya tanpa ampun dan penuh hasrat.
***
***
"Tuan,"
Regas membungkuk hormat sambil membukakan pintu untuk Xavier. Mobil Xavier sudah menunggu sejak lama di depan gerbang perusahaan milik Akram. Tuannya Xavier bersikeras untuk masuk sendiri ke area musuh tanpa membawa satu pengikut pun dan tanpa membawa senjata, membuat kecemasan meliputi hati Regas karena tidak yakin bahwa tuannya akan keluar hidup-hidup dari sana.
Tetapi, nyatanya Xavier berhasil keluar dari sana tanpa kurang suatu apapun, hanya saja wajahnya terlihat sedikit pucat.
Xavier hanya menganggukkan kepala membalas sikap hormat Regas, lalu masuk ke dalam mobil dan membiarkan supir menjalankan mobil sementara Regas duduk di tempatnya sebelumnya di sebelah supir.
Beberapa mobil hitam lain tampak mengikuti di belakang, berisikan para bodyguard bersenjata yang mengawal Xavier.
"Apakah kita perlu mengunjungi dokter Anda?" Regas akhirnya memberanikan diri bertanya ketika melihat dari kaca tengah bahwa Xavier yang sedang memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke belakang ternyata tampak benar-benar pucat.
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh tidur. Kembali saja ke mansion," perintah Xavier masih dengan mata terpejam.
Sepanjang perjalanan itu, Xavier mengingat kembali kejadian tadi ketika seorang gadis pembersih toilet yang tampak tulus dan begitu penuh perhatian bersedia menungguinya sampai dia pulih benar dan bisa bangkit lagi sebelum kemudian berjalan meninggalkan toilet karyawan tersebut.
Lana. Itu adalah nama yang dilihat Xavier pada nama yang terpasang di seragam cleaning servicenya.
Xavier tidak pernah menemukan ketulusan yang nyata dalam hidupnya. Bahkan ibu angkatnya yang tampak sangat perhatian dan menyayanginya, sudah jelas melakukan itu hanya karena rasa bersalah saja.
Tetapi berbeda dengan gadis yang tadi, ketulusannya nyata, begitu polos dan tanpa prasangka, hingga menyentuh hati Xavier di titik yang tak pernah tersentuh sebelumnya.
Lana. Lana. Lana.
Mata Xavier berkilat oleh kegilaan penuh obsesi ketika dia menyeringai lebar sambil merapal nama perempuan itu berulang-ulang layaknya mantra.
***
__ADS_1