Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 6 : Rencana Akram untuk Elana


__ADS_3


"You have bewitched me, body and soul. You're mine and i never wish to be parted from you from this day on"


Mobil hitam itu melaju cepat menembus jalanan di dini hari yang sepi. Elios duduk di sebelah supir yang mengendarai mobil dengan kencang. Sepanjang perjalanan yang mencekam tersebut, asisten Akram itu sibuk menelepon pihak rumah sakit, meminta jalur emergency private yang khusus disediakan untuk petinggi dan pemilik rumah sakit segera disiapkan. Elios juga terdengar meminta kehadiran dokter terbaik rumah sakit untuk bersiaga di sana sebelum mereka datang.


Akram sendiri hanya berdiam diri sambil memangku tubuh Elana yang makin lama semakin dingin di tangannya. Darah Elana tampak mengucur deras dari luka sayatan di pergelangan tangannya, membuat kulit perempuan itu berubah pucat seperti mayat.


Akram menunduk dan menatap wajah Elana, keningnya berkerut dalam ketika aroma anyir darah segar memenuhi indra penciumannya. Dadanya yang telanjang dan bagian lain di dalam mobil mewah ini telah penuh dengan darah yang seolah-olah begitu keras kepala dan tidak mau berhenti mengucur dari luka sayat di pergelangan tangan Elana itu. Sepertinya, bebatan kain yang dibuat oleh Akram di pergelangan tangan perempuan itu tidak berarti banyak untuk mencegah pendarahannya.


Mereka sampai di rumah sakit hanya dalam waktu beberapa menit. Dini hari membuat jalanan sepi, sehingga mereka bisa menempuh perjalanan dalam waktu lebih singkat. Rumah sakit megah ini terletak di dalam komplek perumahan mewah di bagian pusat kota, area paling elit dari seluruh daerah yang tak jauh dari kelab malam. Akram memiliki beberapa rumah yang tidak ditinggalinya di komplek perumahan mewah itu, dan kebetulan juga, Rumah sakit itu juga telah diakuisisi oleh perusahaan miliknya sebagai perwujudan ekpansi dan diversifikasi di bidang kesehatan beberapa tahun lalu.


Ketika mereka memasuki gerbang rumah sakit mewah itu, petugas keamanan yang telah mendapatkan konfirmasi sudah berdiri menunggu di area depan, mobil mereka diarahkan ke area basement tertutup yang terletak di bagian samping rumah sakit, langsung mengarah kepada lift besar khusus pasien yang telah dibuka lebar berserta beberapa perawat emergency yang telah menanti.


Begitu pintu mobil dibuka, petugas rumah sakit yang sigap langsung mengambil tubuh Elana dengan hati-hati, sesuai prosedur pemindahan tubuh yang digunakan untuk memindahkan korban luka pendarahan luar. Elana ditidurkan di atas ranjang dorong rumah sakit yang sudah disiapkan. Petugas rumah sakit langsung berkeliling di sekitar pasien, kemudian melakukan apa yang harus mereka lakukan sambil mendorong tubuh Elana memasuki lift dan membawanya naik ke area tempat emergency VIP berada. Salah seorang dokter berucap kepada Elios yang mengikuti mereka untuk segera menyusul ke atas guna mendata informasi pasien sebelum penanganan lebih lanjut.


Akram melangkah keluar dari mobil. Matanya mengarah ke angka lift yang menyala di bagian atas pintunya, menunjukkan bahwa lift itu sudah bergerak naik ke atas. Perhatiannya teralihkan oleh gerakan Elios di dekatnya. Asistennya itu mengulurkan sapu tangan warna putih dengan sopan kepadanya.


"Tuan Akram, saya sudah mengatur untuk disediakan baju ganti bagi Anda," Elios jelas-jelas merujuk pada penampilan Akram yang telanjang dada dan penuh darah. "Pihak rumah sakit telah menyediakan paviliun khusus di lantai paling atas rumah sakit ini. Anda bisa membersihkan diri dan berganti pakaian di sana terlebih dahulu. Mengenai perempuan itu...." Elios tampak ragu sebelum melanjutkan. Pendarahan perempuan itu tampaknya begitu parah, Elios tidak tahu apakah perempuan itu akan selamat atau tidak, dan dia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi Akram jika perempuan itu tidak selamat. Tetapi, di tengah keraguan itu, tak urung Elios melanjutkan perkataannya juga. "Mengenai perempuan itu, biarkan saya mengurusnya,"


Akram menganggukkan kepala, menerima uluran sapu tangan dari Elios dan menggunakannya untuk mengapus noda darah di pipinya.


"Tunjukkan jalan. Aku akan membersihkan diri dulu. Setelah itu aku akan menyusulmu ke tempat penanganan perempuan itu." ujarnya dengan dingin tanpa nada.


Elios mengangguk sopan, lalu memimpin jalan, mengarahkan atasannya itu memasuki lift yang telah tiba dan tersedia untuk mereka, lalu mengantarkan Akram menuju lantai paling atas lift, ke sebuah kamar president suite yang terletak di bagian paling atas rumah sakit.


Rumah sakit mewah ini memang menyediakan kamar-kamar mewah yang disewakan serupa dengan tarif hotel bintang lima. Kamar-kamar ini disediakan untuk keluarga penunggu pasien yang tidak ingin menghabiskan malam mereka bersama pasien di kamar rumah sakit, atau juga keluarga pasien di ruangan iccu yang tidak mengizinkan penunggu pasien menginap di area ruangan iccu.


Kamar yang disediakan untuk Akram ini adalah kamar terbaik, dan belum pernah dibuka sebelumnya untuk umum. Ini merupakan satu-satunya kamar di lantai tertinggi rumah sakit, terletak terpisah jauh dari kamar umum lain yang disewakan untuk keluarga pasien rumah sakit ini.


Elios menekan kartu di pemindai pintu dan membukakan pintu kamar untuk atasannya. Lalu mempersilahkan Akram memasuki ruangan.


"Tuan, saya akan turun untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan perempuan itu. Saya akan menanganinya dengan baik. Tuan Akram silahkan beristirahat di sini untuk malam ini," Elios menekankan kata menangani dengan sengaja. Maksudnya, jika sampai perempuan ini mati malam ini, maka Elios akan menggunakan pengaruh nama besar Akram Night untuk melepaskan segala hubungan dengan mayat perempuan itu. Nama Akram Night akan selalu bersih, dan mayat itu mungkin akan berakhir dengan cerita mayat perempuan malang yang bunuh diri karena patah hati, serta tidak akan ada sesuatu pun yang menghubungkan kematiannya dengan Akram Night.


"Aku akan menyusul ke tempat penanganan perempuan itu. Di mana tempatnya?" tanpa diduga, Akram malah mengucapkan kalimat itu, membuat Elios ternganga karena terkejut.


"Di mana tempatnya?" Akram mengulang lagi pertanyaannya. Nada suaranya mengancam dan kerutan di antara kedua alisnya membuat Elios menyadari bahwa dia harus menjawab dengan cepat.


"Pusat penanganan emergency pasien VIP khusus ada dua lantai di bawah. Anda tinggal turun dua lantai dengan menggunakan lift dan akan langsung mengarah kesana."


Akram menganggukkan kepala. "Bagus. Kau boleh pergi," perintahnya, kembali memasang wajah dingin tanpa ekspresi.


Elios setengah membungkukkan tubuh, lalu mengucapkan permohonon izin meninggalkan ruangan. Dia sudah setengah jalan kembali ke arah lift ketika Akram kembali memanggilnya.


"Elios," panggilan Akram itu membuat langkah kaki Elios terhenti. Sang Asisten menolehkan kepala dan langsung menanggapi.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, tuan?" tanyanya sopan.


Sejenak, dalam detik yang penuh kemustahilan, Akram tampak ragu. Bibir lelaki itu menipis sementara wajahnya berubah serius dan gelap.


"Perempuan itu. Katakan pada dokter untuk menggunakan segala cara. Dia tidak boleh mati," Akram menekankan kalimat terakhirnya seperti titah seorang tirani yang tak boleh dibantah, membuat Elios tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan.


Pintu ruangan Akram tertutup rapat kemudian, sementara Elios kembali membalikkan badan menuju lift. Keningnya berkerut ketika pertanyaan demi pertanyaan susul menyusul di benaknya.

__ADS_1


Akram Night tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Dulu jika perempuan-perempuan pemujanya yang telah selesai melayaninya di tempat tidur terluka, Akram tidak akan menoleh dua kali dan tidak akan ragu sama sekali untuk meninggalkan perempuan itu. Tidak ada belas kasihan di dalam jiwa Akram, bahkan untuk kekasih-kekasihnya di masa lalu.


Tetapi, kenapa sekarang berbeda? Apa yang istimewa dari Elana sehingga seolah-olah nyawa seorang perempuan jelata yang yatim piatu dan tak berharga, bisa menjadi begitu penting bagi Akram Night yang memiliki segalanya di dunia ini dalam genggaman tangannya?


 



 


Akram segera melepas celananya yang lengket oleh darah segar yang membasahi. Tubuh telanjangnya yang tegap langsung melangkah masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat dan langsung mengguyur tubuhnya dari kepala sampai kaki. Darah yang membasahi tubuhnya langsung mengucur turun, bercampur dengan air dan mengalir ke lantai, menciut dan masuk ke dalam saluran air sebelum kemudian menghilang.


Akram membersihkan diri dengan cepat, lalu mengeringkan rambut dan tubuhnya sebelum mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh Elios baginya.


Perasaannya dipenuhi oleh berbagai emosi asing yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Begitu menyesakkan dada sehingga Akram tidak bisa menahan diri untuk menuju area bar dan menuangkan segelas brendi untuk meredakan gejolak emosinya.


Perempuan itu memilih bunuh diri, memilih menyayat nadinya sendiri dan meregang nyawa dalam kematian yang sakit, daripada menjalani kehidupan luar biasa mewah dengan menjadi kekasih Akram.


Akram tidak pernah mendapatkan penolakan yang begitu fatal sebelumnya, dan itu memukul jiwanya sampai terkapar di dasar. Dia telah terbiasa dengan penerimaan, terbiasa dengan pemujaan dari semua orang yang ingin mendapatkan perhatiannya. Bahkan, begitu banyak perempuan yang memohon untuk bisa menemaninya semalam saja, juga memohon untuk mendapatkan sentuhannya meskipun hanya sambil lalu.


Akram tidak pernah kekurangan perempuan sebelumnya pun dia hanya menganggap para perempuan itu hanyalah sebagai hiburan untuk memuaskan kebutuhan jasmaninya sebagai seorang lelaki dewasa yang normal. Mereka hanyalah selingan yang lewat sambil lalu, tidak pantas untuk mendapatkan perhatian lebih darinya.


Tetapi perempuan yang satu itu, yang paling diinginkan oleh Akram, yang paling bisa memberikan kenikmatan jasmani luar biasa setelah mereka bercinta, berani-beraninya menolak perhatiannya? Berani-beraninya Elana menolak perhatian darinya yang diinginkan oleh begitu banyak wanita lainnya di luar sana?


Sebegitu tidak inginnyakah Elana menjadi miliknya, sehingga perempuan itu lebih memilih untuk mati?


Penolakan dari seorang perempuan yang menjadi pengalaman pertama Akram membuat lelaki itu marah luar biasa. Dibantingnya gelas brendi yang telah kosong itu ke meja marmer bar yang berwarna gelap. Ekspresinya mengeras sementara gerahamnya mengepal, dikuasai oleh kemurkaan yang selama ini menjadi bagian utama dari jiwa seorang Akram Night.


Elana adalah miliknya. Jiwa dan raga. Dan Akram akan menggunakan Elana sesukanya sampai dia bosan dan memutuskan untuk membuang perempuan itu.


Hanya Akram yang berhak menentukan kapan Elana boleh mati.


 



 


Ketika Akram sampai di ruangan emergency untuk pasien VIP khusus, seluruh proses penanganan gawat darurat yang dilakukan terhadap Elana telah selesai dilakukan. Perempuan itu sekarang terbaring tenang di atas ranjang putih, berselimut warna yang sama dengan wajah pucat pasi yang hampir serupa dengan ranjang dan selimutnya. Selang infus terpasang di punggung tangannya, dan sepertinya masih membutuhkan beberapa waktu sebelum Elana sadarkan diri.


Elios tampak sedang berbicara dengan dokter dan langsung memberi hormat ketika melihat Akram mendekat. Dokter terbaik rumah sakit ini yang ditugaskan untuk menangani Elana juga melakukan hal yang sama, setengah membungkuk hormat ke arah Akram.


"Bagaimana kondisinya?" Akram mengabaikan penghormatan dari dua orang di depannya, matanya masih tertuju pada Elana yang masih tak sadarkan diri.


Mendengar pertanyaan dari orang paling penting di rumah sakit ini, dokter itu tergesa menjawab.


"Masa kritis pasien sudah terlewati dan saat ini kondisinya telah stabil. Beruntung pasien cepat dibawa kemari. Pendarahan yang terjadi adalah pendarahan arteri, sehingga menyebabkan darah yang terpompa keluar dari luka sayatannya melebihi kecepatan rata-rata, dan pasien kehilangan banyak darah. Beruntung yang terpotong bukanlah arteri utama sehingga ketika pasien tiba di rumah sakit ini, kami masih bisa mencegah syok akibat pendarahan dan melakukan penyelamatan dengan transfusi darah,"


Dokter itu memberikan penjelasan teknis dengan suara tenang. Meskipun begitu, kepalanya menunduk, tidak berani menatap ke arah Akram Night yang berdiri tegap di depannya. Akram tidak bersuara tetapi menguarkan aura mengintimidasi gelap yang menyesakkan dada.


Pasien yang ditangani dokter itu jelas-jelas telah melakukan usaha bunuh diri yang gagal. Meskipun begitu, tidak akan ada satu manusia pun yang berani bertanya kenapa Akram Night muncul di rumah sakit ini pada dini hari sambil membawa perempuan yang terluka itu. Tidak ada pula yang berani memunculkan pertanyaan mengenai siapa perempuan itu dan apa yang menyebabkannya bunuh diri dan kenapa perempuan yang tampak biasa-biasa saja itu bisa terlibat dengan seorang taipan kaya beraura gelap seperti Akram Night. Mereka semua tahu bahwa menghadapi seorang Akram Night, diam dan tetap merendah adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan nyawa.


"Berapa lama sampai dia sadar, pulih dan diizinkan meninggalkan rumah sakit ini?" Akram akhirnya bertanya memecah keheningan, sementara matanya masih menatap ke arah tempat tidur Elana dibaringkan.

__ADS_1


"Kami menyuntikkan ke infus pasien obat penenang dan penghilang sakit yang memberikan efek mengantuk, pasien akan tertidur nyenyak sampai beberapa jam ke depan sebelum kemudian sadarkan diri. Sedangkan mengenai waktu pulihnya pasien, belum bisa kami pastikan. Tetapi, kami masih akan memantau kondisi pasien sampai dia benar-benar stabil. Mungkin membutuhkan waktu dua minggu minimal sampai pasien bisa meninggalkan rumah sakit. Tetapi, meskipun pasien dinyatakan bisa meninggalkan rumah sakit, tetap ada perawatan lanjutan yang harus dilakukan."


Akram mengangguk pertanda mengerti. Tangannya bergerak memberi isyarat bahwa dokter itu sudah tidak dibutuhkan dan Akram ingin dokter itu meninggalkan tempat ini. Isyarat itu langsung dimengerti dengan baik oleh dokter malang itu, yang langsung terbirit-birit pergi meninggalkan lokasi setelah mengucapkan permohonan pamit dengan sopan.


Ditinggalkan sendirian dengan Elios, Akram mengalihkan perhatiannya ke wajah Asistennya yang berdiri diam menunggu perintah. Elios sudah menjadi asisen dan tangan kanan Akram sejak sepuluh tahun yang lalu. Lelaki itu efisien, cepat, efektif dan hampir tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Elios telah membantu Akram melakukan pekerjaan, baik yang bersih maupun yang gelap, dengan noda melumuri tangan mereka. Dan satu yang paling penting, Elios adalah anak buah yang sangat loyal kepadanya. Akram tahu bahwa Elios bersedia berkorban nyawa untuknya.


"Berikan penanganan yang terbaik untuk perempuan itu. Dokter terbaik, obat-obatan terbaik dan fasilitas terbaik," Akram memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Perempuan itu harus sembuh dengan cepat,"


Elios melirik dengan hati-hati Elana yang masih tak sadarkan diri, lalu memberanikan diri untuk menyuarakan pertanyaan dalam otaknya.


"Apa yang akan rencana Anda pada perempuan itu jika dia sembuh nanti?" tanya Elios dengan nada suara tak kalah hati-hati.


Perempuan-perempuan Akram biasanya diminta pergi menjauh ketika Akram sudah bosan, tetapi mereka sudah tentu tidak pergi dengan tangan kosong. Akram membuang mereka dengan memberikan ganti yang sepadan, kadang mobil mewah, rumah mewah atau perhiasan yang membuat mata perempuan-perempuan itu berbinar ketika melihatnya.


Tetapi, dengan Elana mungkin akan berbeda. Elios tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan tuannya sebelumnya, hingga Elana berakhir dengan percobaan bunuh diri. Tetapi Elios tahu bahwa apa yang tuannya rencanakan sebelumnya terhadap, Elana tidak berjalan dengan baik malam itu.


Sebenarnya akan lebih baik jika Elana mati, jadi mulutnya akan tertutup rapat selamanya. Tetapi, Akram ternyata bersikeras supaya perempuan itu hidup dan selamat.


Kalau begitu, apa yang harus Elios lakukan untuk mengunci mulut perempuan itu supaya tidak memeras Akram? Apakah harta yang banyak bisa memuaskan perempuan itu? Karena bahkan dengan memiliki perhatian seorang Akram Night di atas ranjang saja, perempuan itu bukannya mensyukuri malahan memberikan penolakan dengan mencoba membunuh dirinya sendiri.


Akram tidak segera menjawab pertanyaan itu, tampak berpikir sejenak sementara matanya masih mengawasi Elana dengan cermat.


"Villa milikku di Pulau Hijau, perintahkan para pegawai dan pelayan untuk menyiapkan supaya bisa ditinggali dalam dua minggu ke depan," perintah Akram kemudian.


Elios menatap Akram dengan penuh pertanyaan. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Akram sebenarnya.


"Anda berencana tinggal di villa Pulau Hijau?" tanyanya mencoba meyakinkan pendengarannya.


Villa di Pulau Hijau adalah salah satu villa dengan fasilitas mewah milik Akram. Yang membuat villa itu istimewa adalah karena villa itu terletak di sebuah pulau mungil yang juga menjadi milik akram. Privasi villa itu sangat terjaga karena untuk mencapai lokasi, harus menggunakan helikopter yang membutuhkan izin khusus untuk mendarat. Pun dengan sekeliling villa yang dikelilingi hutan dan lokasi Pulau Hijau yang berada di tengah lautan, dikelilingi tembok tinggi dan penjagaan ketat bersenjata di sana. Pulau Hijau yang tak berpenghuni memang terletak tak jauh dari daratan dan kepulauan lain yang dihuni oleh masyarakat pada umumnya, tetapi area pulau hijau sangat terlarang, kondisinya yang terisolasi dan tidak bisa sembarang orang bisa menembus perimeter keamanan di sekelilingnya.


Akram biasanya menggunakan villa di pulau itu jika ingin menyendiri dan beristirahat dari hiruk pikuk kota. Lokasi yang terisolasi susah dijangkau, pengamanan ketat dan privasi yang terjaga bahkan membuat pulau itu seperti sebuah penjara yang sangat mewah.


Elios melebarkan mata ketika sebuah kesadaran menembus pikirannya. Ditatapnya Akram setengah menebak.


Jangan-jangan, tuannya itu ingin membawa Elana ke sana?


"Ya. Aku akan membawa Elana ke sana." Akram menjawab pertanyaan tanpa suara yang diajukan oleh Elios. "Lakukan pekerjaan dengan bersih, Elios. Datanglah ke tempat tinggal Elana, ambil semua barang-barangnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, bereskan urusan dengan tempat tinggal Elana. Juga uruslah tempat kerja Elana dan selesaikan semua urusan perempuan itu dengan semua orang yang mengenalnya, baik orang-orang di tempat kerjanya, orang-orang di kelab yang berinteraksi dengannya, juga panti asuhan tempat Elana berasal. Bunuh yang harus dibunuh, singkirkan semua saksi. Bereskan semua itu hingga jejak perempuan itu hilang tak bersisa."


Elios melebarkan mata. "Anda ingin membawa Elana ke villa di pulau hijau dan memutuskan seluruh hubungannya dengan dunia serta masa lalunya?" simpulnya tak percaya.


Akram menyeringai. "Perempuan itu telah berani melawanku dan menolakku yang tak pernah ditolak sebelumnya. Aku akan membuatnya kehilangan segalanya hingga dia tidak memiliki apapun di dunia ini selain diriku. Dan ketika dia menyadari itu semua, menyadari betapa rendah posisinya... aku yakin perempuan itu akan merayap di bawah kakiku untuk memohon belas kasihan dan perhatianku."


 


 





__ADS_1


__ADS_2