Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 20 : Di Luar Kendali


__ADS_3


 


Eps 6/6


****


Perkataan Xavier itu langsung menebarkan teror ke seluruh penjuru ruangan, sesuai dengan apa yang dimaksudkannya.


Darah seolah tersirap dari kepala Roman, membuat wajahnya pucat pasi dan bibirnya gemetaran. Kondisinya yang sedang tak sehat, membuat semuanya menjadi lebih buruk. Ketika dilanda kepanikan, paru-paru Roman seakan menciut, membuatnya tak bisa menahan diri untuk terbatuk-batuk dengan hebatnya tak terkendali.


Tubuh Roman terhuyung dan secara otomatis karena kebiasaannya melayani pamannya, Aaron langsung bergerak untuk menopang tubuh Roman supaya tak terjatuh.


Alis Xavier terangkat ketika melihat adegan di depannya. Senyum tipis tersungging di bibirnya, menyiratkan ejekan terang-terangan.


“Sungguh pemandangan menyentuh hati dari ayah renta dan anak yang berbakti.” Xavier terkekeh, seolah-olah geli dengan perkataannya sendiri.


Roman melotot ke arah Xavier seolah sedang berhadapan orang gila. Ya, tentu dia tak salah, Xavier Light memang sudah gila!


Benak Roman penuh dengan pertanyaan bercampur dengan kutukan diam-diam.


Kenapa Xavier Light ada di sini? Apakah itu berarti anak penjahat bodoh itu telah gagal melaksanakan tugasnya?


“Aku tahu kau menyimpan banyak pertanyaan di benakmu. Untungnya, aku berbaik hati memberimu jawaban, supaya kau tidak sampai mati sia-sia.” Xavier memiringkan tubuhnya dari ambang pintu, lalu menoleh ke belakang dan kembali mengulurkan tangannya. “Kemarilah, sayang.” Bisiknya dengan nada mesra yang disengaja.


Sosok yang muncul kemudian setelah menyambut uluran tangan Xavier membuat Roman terperangah. Mulutnya menganga, sementara wajahnya yang keriput dan bergelambir berubah menjadi merah padam.


“Bagaimana bisa kau berada di sini? Apa yang kau lakukan, hah?” Tanpa sadar, karena kebiasaan, Roman langsung menghardik keras dengan suara menggelegar ke arah Sera, yang seketika langsung membuatnya terbatuk-batuk.


Hal itu sama sekali tak menyurutkan niat Roman untuk mengintimisasi Sera. Dia berusaha menetralkan napasnya yang terengah marah dan berpadu dengan batuk gatal yang mendera tenggorokannya. Setelah batuknya mereda, mata Roman malahan membelalak ke arah Sera yang tampak semakin pucat terdera takut, menunduk dengan tangan digenggam oleh Xavier.


“Jangan meninggikan nada suaramu kepada wanitaku.” Xavier menyipitkan mata penuh ancaman, menatap berbahaya ke arah Roman dan Aaron berganti-ganti.


Mata Xavier yang tajam langsung mempelajari reaksi Sera dengan cepat. Dia langsung tahu bahwa perempuan itu seketika menunduk dan mengkerut di detik pertama Roman menghardiknya, sementara jemari Sera yang berada di dalam genggaman Xavier langsung berubah beku, berlumuran keringat dingin yang tak terkendali.


Seberkas kesimpulan yang akurat langsung muncul di benak Xavier ketika dia mempelajari reaksi Sera. Si tua sialan itu rupanya telah mendidik Sera dengan bentakan dan sikap kasar, juga kekejaman yang dilakukan dengan sengaja untuk mengkerdilkan Sera secara mental.


Karena itulah, reaksi Sera ketika berhadapan dengan Roman Dawn langsung bisa ditebak:


Perempuan itu berubah menjadi inferior, membungkuk ketakutan dan bersembunyi.


Bibir Xavier menipis. Dia tak akan membiarkan Sera diperlakukan seperti itu oleh Roman Dawn. Wanitanya harus belajar untuk mendongakkan wajah dengan penuh harga diri jika dia tak berbuat salah.


Tangan Xavier bergerak untuk meraih dagu Sera yang masih menundukkan kepala, dia lalu menengadahkan wajah perempuan itu, membuat Sera mau tak mau harus mengangkat kepalanya.


“Wanita milik Xavier Light harus tangguh dan dia tak perlu takut apapun karena ada aku untuk mendukungnya.” Xavier berbisik lembut yang sengaja ditujukannya untuk membangunkan keberanian Sera yang mengkerut. “Tidakkah kau ingin melihat wajah orang yang telah menyiksa dan menyakitimu selama ini, sebelum aku membunuhnya?”


Perkataan Xavier terhadap Sera itu tentu saja tertangkap oleh telinga Aaron yang tajam. Kali kedua Xavier menyebut Sera sebagai wanitanya, Aaron tak bisa lagi menahan mulutnya untuk bertanya.


“Wanitamu?” suara Aaron tersekat, tetapi masih cukup jelas untuk didengar. “Apakah… apakah maksudmu, Sera adalah wanitamu?” Aron bertanya dengan nada dipenuhi ketidakpercayaan.


Sebagai jawaban, bukannya bersuara, Xavier malah menunduk ke arah Sera yang masih dicengkeram dagunya dan didongakkan wajahnya olehnya, lalu bibir Xavier berpadu dengan bibir Sera, mencicipinya lembut dan menggoda, dengan tujuan untuk memprovokasi makhluk-makhluk malang yang dipaksa menonton kemesraan itu dengan sengaja.


Tangan Xavier bergerak memeluk pinggang Sera dan merapatkan perempuan itu kepadanya. Masih didengarnya erangan protes Sera ketika kedua tangan perempuan itu mendarat di kemejanya bagian dada, berusaha untuk mendorong tubuh Xavier menjauh.


Penolakan itu tentu saja tak mengusik harga diri Xavier, malah membuatnya penasaran dan semakin ingin menggoda serta menaklukkan wanita di depannya ini.


Ciuman itu berlangsung cukup lama dan cukup menjengahkan bagi siapapun yang melihatnya. Secara sengaja, Xavier baru melepaskan ciumannya setelah Sera megap-megap kehabisan napas dan semakin panik mendorong tubuhnya.


Bibir mereka yang berpadu kemudian terlepaskan, tetapi tangan Xavier tidak melepaskan Sera, tetap menahan perempuan itu kuat dengan rangkulan di pinggangnya.


Xavier mengusap bibirnya yang nyata berbekas ciuman, lalu mengangkat alis ke arah dua manusia di depannya yang sama-sama menganga dilanda syok.


“Jadi? Apakah kalian masih butuh jawaban?” ucapnya lambat-lambat, kembali menyiratkan nada mengejek yang kental.


Aaron masih terpana seolah kehabisan kata-kata setelah dipaksa menyaksikan adegan mesra di depannya itu. Sementara, Roman Dawn-lah yang lebih dulu tersadar. Rona mukanya sudah berubah menjadi merah padam, sementara hidungnya kembang-kempis akibat paru-parunya yang tersulut emosi jadi menggila dan memompa udara dengan membabi buta di dalam rongga dadanya.


“Pengkhianat bodoh!”Melihat adegan ciuman yang dipertontonkan Xavier itu dan kenyataan bahwa Sera tak mampu melawan kekuatan lelaki itu, membuat Roman naik darah dan lupa dirinya sedang berhadapan dengan siapa. Yang ada di benaknya adalah kemarahan kepada Sera, karena perempuan bodoh itu bukan hanya ketahuan penyamarannya, tetapi menghantarkan Xavier langsung ke tempat perlindungan mereka.


Tubuh Roman merangsek maju, hendak menyerang ke arah Sera, tetapi Aaron menahannya, mencoba mengingatkan pamannya itu supaya tidak emosi.


“Paman…. Kita harus menjaga jarak dari Xavier! Siapa tahu yang racun mengerikan apa yang ada di tangannya?” Roman berbisik kuat, berusaha menjaga emosi pamannya itu agar tidak sampai mendorong logikanya terjatuh.

__ADS_1


Beruntung Roman Dawn masih mau mendengarkan Aaron. Langkah lelaki itu yang tadinya siap melenting dan mengincar Sera karena ingin menjadikan perempuan itu pelampiasan pukulan kemarahannya seperti biasanya di masa lampau, langsung melambat sebelum kemudian berhenti seketika.


Roman Dawn terpaku bingung, tak tahu harus berbuat apa lagi ketika kemarahannya surut dan berganti dengan rasa takut.


Baru pada detik itulah Roman benar-benar sadar bahwa musuh yang sedang mereka hadapi ini, sangatlah berbahaya. Salah langkah sedikit, bisa saja nyawa Roman akan tercabut tanpa dia bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.


Sayangnya, bukannya senang karena Roman Dawn menahan diri untuk menyerang Sera, Xavier malahan kelihatan kecewa. Lelaki itu mengerutkan sudut bibirnya dengan lengkung tak puas, seolah-olah dia sebenarnya ingin Roman melawan, lalu psikopat beracun itu akan berbahagia menghajarnya dan menikmati kekalahan Roman dalam pesta pora.


Tetapi, bukan Xavier namanya kalau dia tidak bisa mengatasi kekecewaannya dengan cepat. Bibir lelaki itu langsung mengulas senyum kembali hampir-hampir dengan cara yang tidak manusiawi.


“Siapa bilang kau harus mendekatiku untuk merasakan racunku?” Xavier mengawasi ke arah dua makhluk di depannya itu dengan saksama. “Aku tidak menemukan istrimu, Roman. Apakah dia secara beruntung tengah berada di luar dan tanpa sengaja menyelamatkan nyawanya sendiri?”


Roman menggertakkan gigi, membuat gerahamnya mengeras ketika akhirnya dia mengeluarkan geraman marah bercampur takut.“Samantha tidak ada hubungannya dengan ini. Bagaimanapun kau menyiksa dan menginterograsiku, aku tak akan membuka mulut,” tantangnya mencoba berani meskipun nyalinya menciut juga membayangkan siksaan yang mungkin akan diberikan oleh Xavier kepadanya.


“Jangan khawatir. Aku tak akan membuang-buang waktu dan tenagaku untuk menginterograsi apalagi menyiksamu. Samantha Dawn tidak akan bisa lari dari tanganku, mungkin kepergiannya ini sedikit di luar rencana dan berhasil menunda kematiannya. Tapi aku akan memastikan dia akan segera mati. Sementara kau...," Xavier menyipitkan mata, tampak menimbang-nimbang. Lalu, matanya berbinar cerita ketika lelaki itu berucap. "Kau akan langsung kubunuh saja,”putus Xavier dengan nada tenang.


Roman terngaga. Ketakutan memenangkan pertarungan melawan harga dirinya, menguasai tubuhnya dan membuatnya gemetar tak terkendali hingga memaksa Aaron kembali menopang tubuhnya yang dikuasai histeria, untuk mencegahnya supaya tak jatuh.


“Apa yang dikatakan perempuan bodoh itu belum tentu benar! Bisa saja dia mencoba menyelamatkan dirinya sendiri dengan memfitnahku! Aku… aku hanyalah korban!” Roman berusaha bersikap meyakinkan, tetapi gemetar dalam suaranya menunjukkan kepengecutannya. Matanya diam-diam melirik ke arah Xavier dan ketakutan langsung melanda dirinya ketika menyadari bahwa tak ada niat setitikpun dari Xavier untuk berbalik pergi dan melepaskannya.


Harga diri Roman langsung runtuh, membuatnya rela membuang malu dan memohon-mohon belas kasihan Xavier demi asa yang tersisa untuk menyelamatkan nyawa.


“Kau orang pintar! Tidak seharusnya kau mempercayai perkataan perempuan bodoh itu! Aku tidak mungkin berani menusuk atau menyerangmu dari belakang. Semua orang tahu bahwa seorang Xavier Light sangat kejam dan tidak punya belas kasihan. Aku tidak sebodoh itu mencoba menyerang atau mengadu kekuatan denganmu! Itu semua adalah fitnahan dari perempuan bodoh itu! Kau harusnya membunuh dia! Bukan aku! Aku tak ada hubungannya dengan ini semua!” Begitu membiarkan mulutnya terbuka untuk menyemburkan kata-kata pembelaan diri, Roman hampir-hampir tak bisa berhenti meracau.


Mata Roman lalu kembali mengintip ke arah Xavier, dan semakin paniklah dia ketika melihat ekspresi muak menggayuti wajah Xavier, dengan jelas menunjukkan bahwa negoisasi apapun yang dilakukan oleh Roman untuk membujuk Xavier membatalkan niatnya, sudah pasti langsung menemui jalan buntu.


"Kau... kau tidak benar-benar akan membunuhku, bukan?" Roman kembali bertanya dengan suara tercekik, kali ini gemetar seolah sudah menguasai seluruh sel tubuhnya, membuat jantungnya hampir meledak karena teror. Meskipun begitu, Roman masih sempat melirik ke arah tangan Xavier dan merasakan setitik kelegaan karena Xavier tidak memegang apapun di tangannya. Lelaki itu dikatakan selalu menbawa-bawa racun dalam bentuk obat, cairan, atau jarum suntik, jika Xavier tak memegang apa-apa, maka tak ada senjata yang bisa digunakan untuk membunuh Roman.


Sayangnya, lagi-lagi, kelegaan Roman hanyalah bertahan sementara sebelum kemudian di paksa menyublim ke udara dan lenyap. Xavier menatap Roman dengan tatapan puas melecehkan, sebelum kemudian melemparkan bom kejutannya.


"Tidakkah kau mencium aroma harum ini?" Xavier menghidu dengan senang, membuat semua orang menyadari bahwa di dalam ruangan itu terhirup samar wangi bunga nan harum dan membuat indra penciuman berpesta pora. "Aku memberikan aroma khusus Moon Flower pada gas beracunku. Tidakkah kalian tahu bunga itu? Itu adalah bunga yang indah." Xavier melirik ke arah Sera dengan senyum manisnya. "Setelah matahari terbenam, kelopak Moon Flower akan mulai mekar dan menguarkan aroma wangi sepanjang malam di bawah cahaya bulan seolah memujanya. Dan ketika matahari terbit, bunga ini akan menutup kembali kelopak putih bersihnya, seolah menunjukkan kesetiaannya kepada bulan. Aku menyelipkan aroma bunga ini pada gas beracun yang kubuat, sebagai orkestra penghormatan atas pembebasanmu, Serafina Moon."


"G-gas beracun?" suara Roman seperti tercekik ketika dia berhasil mencerna apa yang dikatakan oleh Xavier. Matanya membeliak tak percaya.


Xavier menyeringai. "Tidakkah kau menyadari bahwa sejak tadi kau sudah menghirup mahakarya kematianku? Aku menyebarkannya ke seluruh bagian rumahmu tanpa kecuali. Kau harusnya senang karena rumahmu yang penuh aroma kebusukan sekarang beraroma menyenangkan. Kau sudah tua dan tubuhmu melemah, efeknya akan lebih cepat menimpa tubuhmu, sementara keponakanmu yang masih muda dan sehat, yah efek kerusakan sel-sel sarafnya akan lebih lambat meskipun pada akhirnya kalian semua akan sama-sama mati."


Roman langsung melotot ke arah Aaron yang masih terpaku menatap ke arah Sera seolah-olah dia sedang berada di dunia lain. Kening Roman berkerut oleh kemurkaan, dan dengan tenaga tuanya yang tersisa, dia menyikut perut Aaron untuk menyadarkannya. "Bodoh! Ambilkan aku kain untuk menutup hidung!" Roman terbatuk-batuk kembali. Kini, setelah dia menyadari bahwa entah sejak kapan dirinya telah menghirup racun itu tanpa sadar, tubuhnya jadi terasa didera kesakitan. Seluruh sel sarafnya berpendar nyeri, mengirimkan sinyal rusak ke otak dan sekujur tubuhnya.


Di detik itu, tahulah Roman bahwa semua sudah terlambat.


"Paman!" Aaron kehilangan keseimbangan karena tubuh Roman yang gendut dan lunglai menumpukan seluruh keseimbangannya ke tubuhnya. Pada akhirnya, topangan Aaron ke tubuh Roman terlepaskan, membuat Roman yang tanpa daya jatuh berdebum ke lantai sementara Aaron mengikuti dengan panik, berlutut di sebelah pamannya yang meregang nyawa.


Gas beracun itu benar-benar menciptakan efek mengerikan di tubuh Roman. Matanya melotot ketika pernafasannya seperti dibetot tanpa ampun. Suara tercekik mengerikan terdengar ketika Roman berjuang sekuat tenaga mempertahankan supaya nyawanya tetap bercokol di raganya. Sayangnya, usahanya sia-sia, racun itu langsung merusak seluruh sel sarafnya secara estafet dan beruntun dan tak ada yang bisa menghentikannya.


Tubuh Roman mengelepar sementara batang tenggorokannya menggeramkan suara mengerikan layaknya hewan disembelih. Lalu, kematian datang merayapi Roman pelan-pelan. Laksana lampu lorong yang dimatikan satu-persatu, memejam sabar bergiliran dari kaki, sebelum kemudian merambat ke atas, hingga akhirnya merenggut detak jantungnya supaya padam.


Roman meregangkan tubuh dengan geliat kesakitan di pangkuan Aaron, tak sempat mengucapkan pesan terakhir apa pun, kepalanya mendongak ke atas hingga lehernya merentangkan seluruh permukaan kulitnya sampai batas maksimal. Lalu, dengan mata melotot dan mulut menganga karena menahan deraan rasa sakit yang amat sangat, Roman menghembuskan napas terakhirnya yang sia-sia karena nyawanya akhirnya tercabut paksa sepenuhnya.


Semua orang yang berada di ruangan itu membeku. Aaron tampak syok luar biasa, sementara Sera terpaku di sebelah Xavier, matanya merekam seluruh proses kematian itu dan entah kenapa, ada sepercik kepuasan memenuhi jiwanya melihat lelaki tua yang jahat itu akhirnya bersua dengan Sang Kematian, dengan cara yang sangat menyakitkan.


Xavier tampaknya bisa memahami apa yang ada di benak Sera. Kepuasan. Ya, rasa puas yang melegakan ketika menatap orang yang menyakiti dengan begitu kejam, akhirnya terbalaskan dengan tak kalah kejamnya.


"Kau senang?"


Xavier sesungguhnya tidak memerlukan jawaban. Perasaan yang tersirat di mata Sera ketika menatap mayat Roman yang terbujur kaku dengan cara menyedihkan sama persis dengan apa yang dirasakan oleh Xavier ketika dia membunuh para penculiknya di masa lampau. Mata Xavier mengawasi Sera, perempuan itu tak menjawab, namun ketika menyadari bahwa Xavier tengah mengawasinya, Sera langsung memasang ekspresi datar, berusaha supaya tak terbaca.


Tetapi, entah kenapa Xavier merasakan ada yang mengganggu. Dia melihat tatapan kecemasan yang berkelebat di mata Sera, membuatnya menolehkan kepala untuk mengikuti arah pandangan Sera. Perempuan itu sedang menatap ke arah keponakan Roman Dawn yang tampak syok dan kebingungan hingga tak mampu berkata-kata sambil memangku pamannya.


Dengan sikap meremehkan, Xavier menghela napas panjang. Mungkin hati nurani Sera terketuk melihat lelaki yang tak berhubungan langsung dengan dendamnya harus menjadi korban gas beracun tersebut. Keponakan Roman Dawn itu berada di tempat dan waktu yang salah, dengan menyandang nama yang salah pula. Lagipula, Xavier memutuskan bahwa semua orang yang memiliki nama Dawn di belakangnya akan dibunuh untuk memastikan supaya tidak ada dendam turun temurun yang muncul di kemudian hari.


Jadi, biarpun seolah tak berhubungan langsung, lelaki muda itu tetap harus mati.


"Jika kau sudah selesai memuaskan matamu terhadap kematian Roman Dawn, ayo kita pergi." Xavier kembali mengulurkan tangannya pada Sera, entah kenapa, ada rasa tak suka yang menggelitik di benaknya ketika melihat Sera menatap lelaki tak penting itu.


Tapi, tanpa diduga, Sera tak menyambut uluran tangan Xavier. Perempuan itu tampak pucat, mungkin karena gejolak perasaannya, lalu menggelengkan kepala.


"Tolong, berikan aku kesempatan pribadi untuk menikmati kebebasan ini sendirian." Sera berucap lemah dalam permohonan, bibirnya tampak gemetaran.


Sejenak, Xavier ingin menolak. Tetapi kemudian, sinar permohonan nan putus asa dari mata Sera menyentuh hatinya. Mungkin ini benar-benar waktu yang emosional bagi Sera, hingga dia butuh meresapi segalanya dengan lebih perlahan.


"Aku akan menunggu di lobby. Tiga menit. Lalu susul aku. Ingat, kita masih harus mendatangai Samantha Dawn, anak buahku sudah melacak posisinya." Xavier melirik kembali ke mayat Roman Dawan yang berada di pangkuan keponakannya, lalu berdecak seolah muak dan melangkah pergi, memberikan waktu sendiri bagi Sera seperti yang dijanjikannya.


Tak menunggu lama bagi Sera untuk bergerak selagi bisa. Dia sudah merasakan nyeri itu merambati tubuhnya dan dia tahu hanya singkat waktu yang tersisa baginya untuk menyelamatkan Aaron.

__ADS_1


Sera menyeret langkahnya mendekat ke arah Aaron, membuat lelaki muda itu mendongak dan menatap Sera dengan pandangan sedih.


"Tak kusangka kita akan berpisah seperti ini. Aku akan mati sebentar lagi," Aaron tiba-tiba terkekeh. "Kau memilih menjadi wanita Xavier, eh?" tanyanya kemudian dengan suara parau.


Sera tak memedulikan pertanyaan itu, dia berjongkok di sebelah Aaron, lalu meraih tangan lelaki itu dan menggenggamkan kapsul putih yang sejak tadi dia sembunyikan ke tangan Aaron.


"Telan. Ini penawarnya," ucap Sera dengan susah payah.


Aron kembali membelalak, menatap Sera dan kapsul di tangannya berganti-ganti dengan sikap bingung.


"Telan! Penawar ini masih bisa menyelamatkanmu. Xavier bilang kalau gas beracun ini sedikit lebih lambat efek merusaknya pada orang yang masih muda dan sehat!" Nada suara Sera begitu mendesak, membuat Aaron tak bisa berpikir lagi dan mengikuti perintah perempuan itu untuk menelan kapsul tersebut.


Sera tersenyum melihat Aaron sudah menelan penawarnya. Dengan susah payah, Sera beranjak berdiri kembali, menarik-narik pakaian Aaron yang setengah linglung, memaksanya berdiri bersamanya.


"Lari! Lari Aaron! Cepat! Pergilah dari sini!"


Dengan panik Sera berseru, menunjuk jendela lebar yang terbuka di dinding ruang belajar Roman Dawn yang lolos dari pengawasan.



Tak perlu waktu lama bagi Xavier untuk menunggu di lobby rumah yang sekarang dipenuhi oleh aroma harum menyegarkan yang ternyata mematikan ini, karena baru sebentar saja Xavier menunggu, dia sudah bisa mendengar langkah Sera di belakangnya.


Wanitanya sudah puas menikmati kebebasan pertamanya. Tinggal satu lagi, Samantha Dawn harus dilenyapkan....


Xavier menoleh memasang senyum di wajahnya ke arah Sera, hendak memberikan ajakan manis bagi perempuan itu untuk menjemput kebebasan totalnya yang sudah menanti.


Tetapi senyum Xavier langsung membeku di bibirnya ketika melihat kondisi Sera yang pucat pasi, terseok-seok berjuang melintasi lorong sambil berpegangan pada dinding sebagai tumpuan langkahnya.


Firasat buruk dan kesimpulan yang mengerikan langsung menghantam Xavier dengan keras, membuat tubuhnya menghambur secepat kilat menuju ke arah Sera.


Kedua tangan Xavier mencengkeram pundak Sera yang lunglai, menghadapkan perempuan itu ke arahnya dan setengah mengguncang perempuan itu dengan frustasi.


"Kau! Perempuan bodoh! Kau tidak meminum penawarnya, ya?" Xavier berteriak, matanya memandang cemas ketika menemukan denyut kesakitan yang mulai mendera dan memancar dari seluruh diri Sera.


Sera merasakan pandangan matanya berkunang-kunang dan pikirannya mulai menyerah di telan kegelapan. Meskipun begitu, Sera masih mampu mengenali Xavier dan menghadiahkan senyum penuh kemenangan di bibirnya.


"Kali ini kau tidak bisa mendapatkan apa yang kau mau.... Tuan Light...." Suara Sera memudar seiring dengan kesadarannya yang musnah. Sedetik kemudian, tubuh Sera langsung lunglai dalam pegangan Xavier.


"Sera? Sera?" Xavier berteriak-teriak, mengguncangkan tubuh Sera tanpa hasil. Segala ketakutan, rasa marah dan perasaan bergolak atas sesuatu yang berada di luar kendalinya membuat kepala Xavier seolah akan meledak. Dia berusaha menguasai diri dan menjaga pikirannya supaya tetap jernih.


Tidak! Sera tidak boleh mati semudah itu! Perempuan itu adalah jalan penebusan bagi Xavier untuk mendapatkan kebebasan dari dosa masa lalunya! Xavier tak akan membiarkan Sera mati!




___PRAKATA DARI AUTHOR____


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


***


***


***


____DI MANA GAMBAR VISUALISASINYA?____


Buat yang nanya kenapa tidak ada gambar visualisasinya


jadi gini, untuk postingan tanpa gambar biasanya cepat lolos reviewnya bisa di hari yang sama


Untuk postingan yang ada gambarnya, lolos reviewnya lebih lama, bisa dua atau tiga hari atau lebih.


Karena mengejar postingan bisa lolos cepat, maka author post di sini dulu tanpa gambar, nanti kalau udah lolos review dan bisa dibaca oleh kalian semua, kira2 ngumpul lima part, baru author edit lagi dan ditambahkan gambar.


Jadi kalau mau lihat yang ada gambar, silahkan cek mundur episode 1 sd 15 EOTL, itu udah lengkap ada gambar visualisasinya. Coba cek ya buat yang ingin liat gambarnya yak.

__ADS_1


Thank You. By AY


__ADS_2