
“A-aku tidak menyembunyikan apapun.” Dengan suara tegas yang tampaknya terlalu cepat, Sera langsung menjawab.
Suaranya membentang di udara, langsung diikuti oleh keheningan yang menggayuti, membuat Sera langsung merasa menyesal seketika karena telah menjawab dengan impulsif.
Biasanya, orang yang menyimpan perasaan bersalah di dalam jiwanya akan bersikap defensif dan membela diri mati-matian, sementara orang yang tak bersalah akan bersikap tenang.
Sikap Sera yang langsung membentengi diri dan membantah mati-matian ini, mungkin malah semakin menyulut kecurigaan Xavier. Lagipula, lelaki itu kan cuma bertanya, belum tentu Xavier sudah mengetahui tentang ponsel mini yang disembunyikannya di dalam pot bunga gantung itu, bukan?
Sera menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Ya, dia hanya terlalu panik karena pertanyaan Xavier yang menyelidik. Pot bunga gantung tempatnya menyembunyikan ponsel itu sangatlah tersembunyi dan tidak mudah dijangkau, Xavier tidak akan berpikiran kalau ada benda yang disembunyikan di sana, kecuali kalau lelaki itu kebetulan memasang kamera pengawas dan melihat Sera menyembunyikannya di tempat itu.
Tetapi, Xavier tidak mungkin semesum itu hingga sampai menyembunyikan kamera pengawas di dalam kamar mandi, bukan?
“Oke kau tidak menyembunyikan apapun.” Xavier menuangkan susu yang telah hangat itu ke dalam cangkir yang telah disiapkannya, lelaki itu lalu membawa cangkir itu tepat ke hadapan Sera.
Ketika Sera mendongakkan kepala untuk menilai ekspresi wajah Xavier, dilihatnya lelaki itu memasang senyum ramah yang sama sekali tak tertebak.
“Apakah kau ingin menambahkan biji vanila ke dalam susumu? Aku merekomendasikannya. Aromanya sangat harum dan menenangkan, kau akan menyukainya.”
Sera mengerutkan keningnya, menatap cangkir susu hangat yang menggoda di depan matanya, lalu mengerutkan kening ke arah Xavier. Selama ini dia hanya mengenal vanila dalam bentuk perisa sintetis dari produk susu buatan pabrik. Tetapi, tentu saja Xavier tidak menyebut tentang vanila sintetis, bukan?
“Apakah maksudmu ekstrak vanila?” tanya Sera kemudian. Dia pernah melihat di acara memasak kue, dimana kokinya meneteskan ekstrak vanila cair ke dalam bahan adonan kue untuk membuat kuenya lebih harum.
Xavier menggelengkan kepala. “Maksudku adalah biji vanila segar.”
Lelaki itu mengeluarkan toples kaca berukuran tabung memanjang dari rak nakas, lalu menyorongkannya di meja pantry dekat Sera supaya Sera bisa melihatnya.
“Yang seperti ini,” sambungnya kemudian.
Sera mengerutkan kening ketika melihat toples kaca itu penuh batang panjang berwarna hitam gelap seukuran pinsil, tetapi layu, keriput dan kempis. Batangan hitam itu disusun berdiri memanjang memenuhi toples, memantik rasa ingin tahu Sera yang dalam.
Yang disebut dengan biji vanila segar itu sangat jauh dari apa yang dibayangkannya sebelumnya.
Selama ini, di dalam benaknya, yang namanya vanila itu selalu berhubungan dengan warna putih. Susu rasa vanila selalu berwarna putih, es krim vanila selalu berwarna putih, pun dengan biskuit dan jenis makanan lainnya yang mengusung nama vanila sebagai perasanya, semuanya selalu identik dengan warna putih.
Tetapi yang ada di hadapannya ini dalah benda hitam, panjang, keriput dan terlihat jelek, sama sekali tak menarik bentuknya.
Xavier terkekeh melihat ekspresi Sera. Lelaki itu lalu mengeluarkan satu batang benda itu dari toples dan menyerahkannya kepada Sera.
“Vanila ini merupakan biji buah yang berasal dari tumbuhan anggrek tropis bernama latin vanilla planifolia, atau lebih dikenal dengan nama tumbuhan vanili. Kata "vanilla"diturunkan dari bahasa Spanyol, vaina yang memiliki arti "polong", karena bentuk buah vanila adalah polong-polongan. Ketika buahnya masih segar, bentuk dan ukurannya mirip dengan kacang panjang. Dari Semua jenis anggrek, hanya anggrek ini yang bisa berbuah untuk di makan.” Xavier membagi pengetahuannya dengan senang hati kepada Sera. “Tetapi, dalam pemanfaatannya, buah vanila berikut bijinya ini tidak dinikmati dalam kondisi segar, melainkan dalam kondisi dikeringkan.”
Xavier lalu mengambil pisau untuk menyayat buah kering itu, lalu menarik biji buah yang ada di dalamnya yang telah berwujud seperti pasta bubuk kering sekaligus lengket berwarna hitam. Xavier kemudian memindahkan biji vanila segar itu ke dalam cangkir susu Sera dan mengaduknya perlahan.
Aroma harum langsung menguar memenuhi seluruh penjuru ruangan, aroma vanila segar yang manis sekaligus membuat indra penciuman berbahagia. Sangat menenangkan, sekaligus menggugah rasa lapar. Sera tak pernah mencium aroma yang begitu menyenangkan seperti ini sebelumnya, sehingga dia pun mengendus dengan senang hati, membuat Xavier melebarkan senyumnya.
“Aroma vanila sangat khas, manis tapi lembut, menambah cita rasa susu yang berkrim. Cobalah.” Xavier mendorong sedikit cangkir susu Sera mendekat ke arah perempuan itu dan dengan dipenuhi rasa ingin tahu, Sera langsung mengambil cangkirnya dan menyesap susunya.
Benar-benar luar biasa. Cita rasa indah yang berpesta pora membalut lidahnya dan bersinergi dalam simponi lembut yang bergulung di dalam indra penciumannya.
“Tahukah kau, kalau buah vanila ini harus menjalani berbagai proses penempaan hanya untuk mengeluarkan aroma harumnya? Pada awalnya buah ini harus dilayukan dengan berbagai metode yang bervariasi, mulai dari pendinginan hingga pemanasan, dengan air panas, perebusan, oven, atau sinar matahari. Proses pelayuan ini bertujuan untuk untuk mematikan jaringan vegetatif buah sehingga mencegah pertumbuhan biji vanilla dari dalam buah selama pengolahan berikutnya dan penyimpanan.” Xavier menghentikan kalimatnya sejenak untuk memastikan apakah Sera masih menyimak perkataannya. “Proses kedua adalah pemeraman, dilakukan dengan menempatkan tumpukan buah vanilla dalam bungkusan kain yang menyebabkan suhunya tinggi. Pada tahap ini, buah vanila sudah mengeluarkan aroma yang khas karena proses enzimatis di dalamnya.”
Xavier memiringkan kepala, tersenyum menatap Sera yang seolah tak bisa berhenti menyesap susu vanila hangat di tangannya hingga hampir tandas.
“Proses ketiga adalah pengeringan, dilakukan untuk mengurangi kadar air dari buah vanilla menjadi antara 25 hingga 30 persen. Kelembapan buah ini harus dikurangi untuk mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri serta meningkatkan rendemen senyawa aromatik di dalam buah. Proses pengeringan ini dilakukan dengan penjemuran. Lalu, akhirnya, setelah menjalani semua tahap, maka buah vanila ini akan diperam di dalam wadah tertutup selama lima hingga enam bulan. Selama proses ini, aroma dan rasa dari buah vanila terus meningkat.” Xavier mengendus buah vanila kering di tangannya dengan senang. “Karena itulah, meskipun bentuknya sangat jelek karena telah mengalami semua proses, tetapi aromanya menjadi sangat harum dan menyenangkan.”
“Kau tampak sangat mengerti tentang buah vanila ini.” Sera tiba-tiba tersadar dan ketakutan kembali merayapi benaknya. “A-apakah kau menggunakannya untuk… racun-racunmu?” tanyanya kemudian dengan nada curiga.
Xavier tertawa. “Aku tidak meracuni minumanmu kalau itu yang kau khawatirkan.” Lelaki itu berucap setengah bercanda. “Hanya saja, aku memang sangat tertarik dengan aroma vanila ini. Aromanya begitu manis, membuai pikiran dan langsung mengirimkan sinyal tak berbahaya ke otak manusia. Akan menjadi kejutan menyenangkan ketika seorang musuh menyesap minuman beraroma vanila wangi yang ternyata menyimpan racun mematikan di dalamnya. Aku suka dengan segala sesuatu yang bertentangan, kau pasti tahu itu.”
Sera mengawasi Xavier dengan tatapan menelaah. “Apakah karena itu, kau menggunakan parfum beraroma musk vanila? Untuk membuat musuh-musuhmu lengah, menciptakan kesan bahwa kau tidak berbahaya, tetapi di baliknya ternyata kau sangat mengerikan?”
“Sangat mengerikan? Itukah yang selama ini kau bayangkan tentang diriku?” Xavier terkekeh, sama sekali tak tersinggung dengan perkataan Sera yang menghakimi. “Tahukah kau bahwa pertanyaanmu itu membuatku senang. Kau ternyata mengenali aromaku dengan baik. Itu tandanya, aku sudah begitu dekat denganmu sehingga kau menghidu aromaku dengan sempurna." Senyum Xavier melebar ketika melihat pipi Sera merona.
Tetapi, senyum itu menghilang seketika saat dia melanjutkan kembali perkataannya, "Aku sudah berkali-kali menjelaskan kepadamu, istri kesayanganku, bahwa aku hanya akan berbahaya dan mengerikan kepada orang-orang jahat yang tak setia dan mengkhianati.” Mata Xavier menyipit ketika menatap Sera dengan tatapan tajam penuh arti. “Selama kau tidak berpikiran untuk mengkhianatiku, tidak berselingkuh dariku dan tidak menusukku dari belakang, maka kau akan selamat dan baik-baik saja,” sambungnya kemudian mendesiskan kalimatnya.
Ancaman terselubung yang tersirat di sana seolah langsung membuat bulu kuduk Sera berdiri, senyar itu merayap ke sepanjang tulang punggungnya, membuat Sera mengembuskan napas tak nyaman sementara tangannya tanpa sadar bergerak untuk memijit tengkuknya.
Kebimbangan mulai merayap ke dalam benaknya ketika nalar sehatnya menyeruak dan memberi Sera peringatan.
Setelah bersama dengan Xavier beberapa lama, Sera semakin menyadari bahwa lelaki ini hanya akan membunuh dan menyerang para pengkhianat yang tak setia. Kalau begitu, jika Sera memutuskan untuk membantu Aaron, dia akan menempatkan dirinya sebagai pengkhianat yang tak setia.
Jika dia ketahuan…. Itu malahan akan membahayakan dirinya, dan sudah pasti bisa membuat Aaron kehilangan nyawanya, bukan?
__ADS_1
Lalu, apa yang harus Sera lakukan? Bagaimana caranya dia bisa membantu Aaron, tetapi sekaligus tak membuat Xavier murka?
“Sera.”
Suara panggilan Xavier yang entah keberapa kalinya itu, membuat Sera tergeragap dan mengerjapkan mata. Perempuan itu mengalihkan pandangan menerawangnya ke arah Xavier, tergugu sambil menatap Xavier yang tengah membalas tatapannya.
“Kau melamun.” Xavier menyimpulkan dengan tenang. “Aku sedang bertanya, apakah kau cukup puas jika aku menyajikan sandwich untuk makan malam kita?” tanya Xavier mengulang.
Sera buru-buru menganggukkan kepala.
“Apa saja,” jawabnya dengan nada jujur. Perutnya memang lapar dan dia bersedia memakan apapun yang tersedia.
“Koki meninggalkan bahan sandwich lengkap di sini. Ada selada segar, tomat merah, acar zucchini dan daging ham serta bacon sapi. Apakah kau suka sandwich dengan tambahan keju dan telur?” tanya Xavier sambil mengeluarkan bahan-bahan itu dari kulkas.
Sera menatap Xavier dengan malu-malu. “A-aku lapar… kalau boleh aku mau dua-duanya.”
Seketika Xavier tergelak. “Apa yang tak boleh buat istriku? Duduklah di tempatmu dan tunggulah, sebentar lagi kau akan mendapatkan makananmu,” ujarnya dengan sikap riang.
Entah kenapa, gelak tawa Xavier kali ini mampu menularkan rona kebahagiaan dalam hati Sera. Jiwanya melembut ketika menatap Xavier yang telah melepaskan aura berbahayanya dan tampak benar-benar seperti seorang lelaki, seorang suami yang sedang berniat memasakkan makanan untuk istrinya.
Mereka benar-benar seperti sepasang suami istri normal yang sedang bercakap-cakap di dapur….
Jantung Sera berdetak sedikit kencang ketika menyadari betapa berbahayanya pemikirannya. Sera tahu bahwa dia harus berhati-hati, jika tidak, tinggal menunggu waktu hingga Xavier akan berhasil menjajah jiwanya yang lemah dan membuatnya tunduk kepada laki-laki itu.
“Apakah… apakah aku boleh membantumu menyiapkan makanan?” tanya Sera kemudian, memutuskan untuk melakukan kegiatan hingga pikirannya yang bergolak dipenuhi kebimbangan itu tak melantur kemana-mana.
Xavier yang sedang memanaskan kompor tersenyum ke arah Sera untuk menanggapi.
“Tentu saja boleh, kemarilah dan masaklah telurnya,” sahutnya memberi izin.
***
Semua hal di dapur itu berjalan normal dan nyaris menyenangkan. Mereka makan dengan lahap, bahkan kemudian melanjutkan dengan mencuci piring bersama.
Tetapi, nuansa santai penuh humor itu langsung berubah menjadi sensual ketika mereka memasuki kamar. Xavier bahkan tak menunggu lama, langsung memeluk Sera dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Sera dengan penuh hasrat sementara kepalanya bergerak turun, menciumi tengkuk Sera dengan sikap menggoda.
“Kau sudah mendapatkan tenagamu kembali kan?” geram Xavier dengan suara serak di sisi telinga Sera sementara tangannya menjelajah dengan menggoda. “Aku sudah tak sabar untuk mengurasnya lagi,” bisiknya penuh hasrat.
Jantung Sera berdebar kencang menerima rayuan Xavier yang sangat gamblang tersebut. Dengan gugup, disikutnya Xaver supaya mundur dari memeluknya, lalu Sera meloncat setengah menjauh dan menjaga jarak dari lelaki itu.
“A-aku ingin ke kamar mandi dulu,” ujar Sera dengan nada gugup, melirik-lirik ke arah pintu kamar mandi sambil mengukur jarak yang harus ditempuhnya untuk melarikan diri.
Kali ini, Xavier mengambil sikap seperti predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya sebelum melahapnya. Lelaki itu bersedekap, tak berusaha untuk menyergap Sera.
“Apakah kau sadar, kau selalu beralasan masuk ke dalam kamar mandi ketika kau sedang berusaha melarikan diri dariku?” tanya Xavier dengan nada suara tajam yang kontras dengan senyum manisnya.
“B-bukan begitu… aku hanya merasa tubuhku lengket. Sejak pulang tadi, aku belum mandi… jadi aku…” Sera mulai gugup, kehilangan rangkaian kata yang seharusnya bisa dilontarkannya dengan lancar. Otaknya seolah berhenti bekerja, ditelan oleh ketakutan.
“Akan menyenangkan jika kita bisa mandi berdua.” Xavier memutuskan dengan cepat, lelaki itu meraih tangan Sera dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. “Ayo. Aku akan menemanimu.”
“T-tapi, kau sudah mandi….” Sera berseru kaget, sebelah tangannya bergerak, mencoba melepaskan cengkeraman Xavier di pergelangannya.
“Aku berkeringat setelah memasak. Aku ingin mandi lagi. Ayo.” Xavier membawa Sera masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu lalu menutup pintu di belakang mereka, mengurung Sera di dalamnya hingga tak bisa lari lagi.
“Kemarilah, aku akan membantu melepaskan pakaianmu. Apa dulu yang harus dilepaskan, hmm?” Xavier melangkah mendekat, mendesak Sera hingga ke dinding marmer kamar mandi. Lalu, tanpa diduga, lelaki itu berlutut di depan Sera dan setengah menyingkapkan t-shirt-nya ke atas.
“Kau mau apa?” Sera berteriak keras karena terkejut. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Xavier yang telah memegang karet boxer hitam yang dipakainya.
Xavier menengadahkan kepala, menatap ke arah Sera yang menunduk ke arahnya dengan mata indahnya yang jernih. Lelaki itu menyeringai dan tersenyum, sementara tangannya tak berhenti bergerak, meraba karet celana Sera, dan menariknya turun.
“Aku hanya sedang berusaha membantumu melepaskan pakaian.” Xavier mengerutkan kening ketika dia tak berhasil menurunkan celana Sera karena terhalang ikatan mati pada tali celana itu. “Kenapa kau mengikatnya sekencang ini, hmm? Apa kau tak merasakan sesak di perutmu?”
Sera merasakan pipinya merah padam akan tindakan intim Xavier tersebut.
Kenapa lelaki ini masih bisa bersikap biasa saja, padahal saat ini mereka dalam kondisi tak biasa?
Tangan Xavier berusaha membuka tali mati ikatan itu, mengurutnya perlahan supaya bisa terlepaskan. Sangat serius melakukan apa yang dilakukannya. Sementara itu, pikiran Sera malahan bergolak ke hal yang lain. Matanya berkali- kali menatap ke arah pot bunga gantung tempat dia menyembunyikan ponsel mini tersebut.
__ADS_1
Bayangan akan perkataan Xavier bahwa lelaki itu akan menghukum pengkhianat yang tak setia dengan cara yang amat sangat keji kembali mengusik pikiran Sera.
Apa yang harus dia lakukan? Jika dia menyembunyikan ini semua dari Xavier dan menolong Aaron diam-diam… apakah mereka akan berhasil tanpa ketahuan? Atau jangan-jangan, mereka malahan akan ketahuan oleh Xavier dan berujung pada celaka?
Sera tak yakin dirinya dan Aaron punya kekuatan untuk melawan Xavier… Lelaki itu terlalu cerdas, terlalu kuat dan berkali-kali telah mengingatkan Sera bahwa selama dia tak berkhianat, maka semua orang akan selamat.
Keputusan apa yang harus Sera buat yang terbaik untuk mereka semua dan bisa menyelamatkan nyawa Aaron?
Xavier tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencoba melepaskan tali celana Sera. Lelaki itu bingung karena Sera melemah, tak bersuara dan tak berusaha mencegahnya.
Xavier lalu menengadah, dan keningnya berkerut ketika melihat tatapan Sera yang sedang fokus ke arah belakangnya.
Perlahan Xavier menoleh dan mengikuti arah pandangan Sera yang tepat tertuju ke arah pot bunga yang digantungkan sebagai hiasan kamar mandi – tempat perempuan itu menyembunyikan ponsel mini yang diterimanya dari Aaron.
Xavier menyeringai lebar, lelaki itu kemudian melanjutkan gerakannya hingga akhirnya berhasil membuka tali mati celana Sera. Saat hendak menurunkannya, Xavier sengaja menatap tajam ke arah Sera dan berkata,
“Kenapa kau tertarik dengan pot bunga itu, Sera? Kau menyukai ada benda itu tergantung di sana, atau kau ingin menyingkirkannya?” tanya Xavier dengan nada penuh arti.
Ditembak seperti itu, wajah Sera berubah pucat pasi. Dorongan untuk bersikap impulsif pun menguasai dirinya. Cengkeramannya yang sempat melemah menguat kembali di pergelangan tangan Xavier yang sedang menurunkan celananya, bibirnya gemetaran ketika berucap dengan nada takut bercampur gugup.
“Xavier…. A-ada yang ingin kukatakan kepadamu….”
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR\, klik aja profil author\, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara\, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata\, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
Yours Sincerely - AY
__ADS_1