Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 61 : Kejutan di Akhir


__ADS_3

Sera tidak memprotes apapun. Dia sadar diri dan tahu posisinya.


Ketika Xavier memberikan ultimatum dengan sikap dingin tanpa perasaan dan mengatakan bahwa Sera harus angkat kaki dari rumahnya hari itu juga, maka Sera langsung menarik mundur hatinya yang sempat menghangat dan lupa diri. Bodohnya dia karena melembutkan hati hanya karena Xavier telah memberikan penghiburan kepadanya.


Semalam Xavier bersikap luar biasa lembut dan manis. Lelaki itu mengajari Sera dengan sabar, membimbingnya sehingga bisa menemukan sisi lain dari tubuhnya yang selama ini tak pernah disadarinya.


Tetapi hanya itu. Tidak lebih. Tidak boleh memakai perasaan.


Percintaan mereka semalam, hanyalah kebutuhan fisik semata. Sera butuh penghiburan dan Xavier menyediakannya.


Hanya itu saja.


Sera berusaha menenangkan diri, berusaha menasehati jiwanya bahwa inilah yang memang seharusnya terjadi. Percintaan impulsif mereka semalam memang harusnya tak pernah terjadi, mengingat besarnya efek emosional yang harus mereka tanggung setelah logika kembali menguasai hati dan otak mereka.


Tapi mau bagaimana lagi? Itu semua sudah terlanjur terjadi, tak ada jalan berputar kembali.


Sera sendiri menyadari bahwa dia jauh lebih marah kepada dirinya sendiri dibandingkan kepada Xavier. Xavier Light tidak bersalah, dia hanya sedang menjadi dirinya sendiri yang memang sejak lama dikenal sebagai makhluk tak punya hati. Bodohnya Sera yang sempat menumbuhkan kasih sayang dan empati di hatinya kepada Xavier. Bodohnya Sera yang lupa, bahwa di mata lelaki itu, dirinya hanyalah wadah tak berjiwa yang dibutuhkan Xavier demi kepentingannya sendiri.


Meskipun begitu, masih ada hal baik yang bisa Sera petik dari kekalutan tak berujung ini. Dia menyadari bahwa rasa takut kepada Xavier yang terbangun sejak lama akibat trauma yang ditanamkan di kepalanya, sudah mulai memudar. Mungkin kebersamaan mereka yang mengurai rasa takut Sera, mungkin juga karena Sera telah melihat sendiri bagaimana Xavier pada kondisi terlemahnya, sehingga Sera jadi paham, bahwa Xavier adalah manusia biasa seperti dirinya, bukan monster mengerikan yang datang mencekik di setiap mimpi buruknya.


Ya. Dia tidak takut lagi kepada Xavier.


Tanpa sadar Sera mendekus sedikit keras hingga menarik perhatian Xavier yang duduk di sebelahnya dalam kabin penumpang mobil yang tengah melaju itu.


"Apakah kau baik-baik saja?"


Suara Xavier terdengar khawatir, memecah keheningan canggung yang melingkupi ruang kabin mobil tersebut.


Sera tak menengadah, tak juga menatap ke arah Xavier. Dia memfokuskan pandangannya ke arah jari jemarinya yang berjalinan di pangkuan, lalu menganggukkan kepala tenang.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah," jawab Sera kemudian tanpa emosi.


"Oh. Maafkan aku." Xavier langsung menjawab dalam gumaman penuh rasa bersalah, sementara Sera kembali menganggukkan kepala tipis, tak mau menyahuti.


Hening membentang lagi, kali ini bahkan lebih menyesakkan dibandingkan sebelumnya. Sera sendiri berusaha mengabaikan keberadaan Xavier di sampingnya. Dirinya sengaja menolehkan kepala ke arah paling berlawanan dari lelaki itu, memandang jendela luar dan mengawasi deretan pepohonan rindang yang berjajar kokoh dan menaungi trotoar lebar di sisi jalan yang mereka lalui.


Pada saat itulah Sera menyadari bahwa mobil telah keluar dari batas kota dan mengarah ke area pinggiran yang terletak di dataran tinggi dengan udara sejuk dan pepohonan yang masih menghijau.


"Kita keluar kota?" Sera menolehkan kepala ke arah Xavier, menatap penuh rasa ingin tahu.


Xavier menganggukkan kepala. "Kita menuju tempat yang akan menjadi rumahmu nanti. Daerah sini adalah kawasan hijau yang masih belum terkontaminasi polusi. Ada resort khusus yang di dalamnya terdapat area berbagai villa eksklusif dengan sistem keamanan canggih dan privasi terjaga. Meskipun begitu, kau tak perlu merasa takut akan tinggal di dalam kawasan terpencil yang penuh kekangan. Resort itu hampir seperti kota kecil tersembunyi, fasilitasnya lengkap, dari pusat perbelanjaan sampai kafe-kafe yang menjual berbagai makanan di area komersilnya. Kau bisa meminta supir mengantarkanmu ke area itu jika sedang bosan di rumah. Kau bisa berjalan-jalan di sana dengan bebas, tentu saja dengan tak lupa membawa beberapa bodyguard untuk menjagamu." Xavier menjelaskan dengan cepat saat melihat kepanikan di wajah Sera.


"Kenapa kau tidak mengembalikan rumahku yang dulu saja? Aku mungkin punya tabungan cukup untuk memperbaikinya sendiri. Aku hidup hanya seorang diri, aku tak butuh villa besar. Cukup sebuah rumah mungil nyaman yang bisa kutempati dengan tenang." Sera menyatakan protesnya dengan segera.


Ketika Xavier membicarakan tentang rumah, yang dipikirkan Sera adalah sebuah rumah mungil yang asri dan sederhana, yang berada di kompleks perumahan biasa dengan tetangga-tetangga yang saling akrab seperti rumahnya dulu. Namun, Sera salah karena telah mengharapkan sesuatu yang biasa-biasa saja dari Xavier, alih-alih sebuah rumah, Xavier memberikannya penjara baru dalam wujud villa besar dengan keamanan ketat dan lokasi terpencil yang tak mungkin terjangkau oleh orang biasa.


"Simpan tabunganmu untukmu sendiri. Kau istriku. Itu berarti kau harus selalu dilindungi. Maafkan aku, tetapi aku punya banyak musuh di luar sana yang menanti kesempatan untuk menusuk titik kelemahanku." Mata Xavier menyipit ketika menajamkan pandangannya kepada Sera. "Saat ini, kau adalah titik kelemahanku, karena itulah mau tak mau kau harus membiasakan diri dengan segala penjagaan yang kuberikan kepadamu."


Tepat saat Xavier menyelesaikan kalimatnya, mobil yang mereka tumpangi telah mencapai tujuan. Mobil itu berhenti di halaman luas sebuah rumah yang rimbun oleh pepohonan hijau yang menyejukkan mata.


Sera melirik dari luar jendela dan matanya langsung menemukan bahwa ada banyak penjaga di sekitar rumah itu, mereka berpakaian hitam-hitam dan rapi, ciri khas pasukan pengawal milik Xavier.


Tanpa sadar Sera mendengkus kembali ketika mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normal nan damai yang pernah diimpikannya.


"Kau tidak menyukai rumah ini?" Xavier bertanya ingin tahu, rupanya suara helaan napas Sera merambat sampai ke telinganya.


Jika Sera menjawab tidak suka, mungkin dia akan terlihat seperti wanita tak tahu diuntung, bukan? Meskipun dia telah diusir dengan dingin dari rumah suaminya, ternyata sebuah villa megah diberikan kepadanya sebagai gantinya. Bahkan Sera tak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis karenanya.


"Lihatlah dulu, aku yakin kau akan menyukainya." Xavier tiba-tiba membuka pintu mobilnya dan menarik tangan Sera supaya mengikuti. Mau tak mau Sera berjalan di belakang lelaki itu, ikut melangkah memasuki rumah tanpa bisa membantah karena tangannya masih digenggam erat.


Langkah mereka berhenti di ruang tamu rumah yang dihias dengan dekorasi sederhana dengan dominasi warna kecokelatan nan lembut. Penataan interior villa ini dibuat layaknya rumah peristirahatan keluarga dengan banyaknya elemen kayu di seluruh bagiannya, menciptakann nuansa hangat yang menyenangkan. Bahkan, Sera yang tadinya bersikeras untuk menutup hatinya terhadap rumah ini pun jadi menyukainya.


"Aku membelinya dari Akram. Tadinya rumah peristirahatan ini digunakan sebagai tempat tinggal sementara Nolan. Tetapi karena Nolan saat ini sudah meneruskan sekolahnya di sekolah asrama London, maka rumah ini akhirnya dibiarkan kosong tak berpenghuni."


"Nolan?" Sera bertanya bingung, tidak mengenali nama itu.


"Adik Elana." Xavier menjelaskan sambil lalu. Lelaki itu lalu menarik Sera lagi. "Ayo, kau ingin melihat kamarmu, kan?"


Kamarnya? Lelaki ini dengan santainya akan membawa Sera masuk ke tempat yang akan menjadi kamar pribadinya?


Setelah logikanya hilang kemarin dan membuatnya dengan sukarela menyerahkan diri kepada Xavier hanya untuk diusir dengan dingin kemudian, Sera sudah bertekad untuk membentengi hatinya dengan lapisan perlindungan diri yang tak tertembus.


Dia tak akan membiarkan dirinya hanya berada berduaan dengan Xavier di dalam sebuah kamar pribadi yang tertutup. Sebab, jika lelaki itu terbawa suasana dan memutuskan untuk merayunya, Sera tak yakin apakah dia akan memiliki kekuatan untuk menolaknya.

__ADS_1


Langkah Sera langsung tertahan ketika memikirkan hal itu, membuat Xavier tak bisa menariknya. Sikapnya tersebut membuat Xavier menolehkan kepala dan mengerutkan keningnya.


"Kenapa kau mematung? Kepala pelayan sudah mengirimkan seluruh pakaianmu kemari tadi pagi. Aku juga sudah memerintahkan mereka mengatur semua pakaianmu ke dalam lemari pakaian di kamarmu. Kau tidak ingin memeriksa apakah mereka sudah mengatur pakaianmu dengan benar?" tanya Xavier tanpa dosa.


Sera menggelengkan kepalanya, tiba-tiba jengkel akan ketidakpekaan lelaki itu. Mungkin memang benar kata orang-orang bahwa Xavier Light kemungkinan besar tidak memiliki perasaan manusiawi layaknya orang kebanyakan. Lelaki itu sepertinya memang terbiasa bersikap layaknya robot yang tak punya hati.


Tidakkah Xavier tahu kalau Sera merasa marah dan sakit hati kepadanya? Sera telah diusir secara tiba-tiba dan diminta angkat kaki setelah percintaan semalam yang melembutkan hatinya, wanita mana yang tak akan sakit hati?


"Tidak. Nanti saja aku melihatnya. Di manakah dapur rumah ini?" Segera Sera mengalihkan minat Xavier kepada hal lain. Dengan keras kepala, dia lalu berusaha melepaskan genggaman Xavier di tangannya. Beruntung lelaki itu tidak memaksakan cengkeramannya dan langsung melepaskan tangan Sera begitu saja.


“Kenapa kau ingin ke dapur?” Xavier melirik ke arah Sera yang sengaja menghindar dan menjauh darinya.


“Perutku lapar. Aku ingin memakan sesuatu. Aku belum makan apapun sejak sarapan tadi." Sera menyahut cepat, kakinya lalu melangkah mendahului Xavier ke arah lorong yang terhubung dengan ruang tamu rumah itu. "Bolehkah aku memasak sesuatu dulu untuk mengisi perutku? Kurasa masih ada waktu. Kita akan menjenguk ayahku pukul lima sore nanti, bukan?" Sera sengaja mengingatkan dengan mengulang kembali perkataan Xavier tadi pagi mengenai jam besuk di fasilitas kesehatan tempat ayahnya dirawat saat ini.


Meskipun sudah tak lagi dirawat di dalam penjara negara dan sudah mendapatkan izin untuk dipindahkan ke fasilitas rumah sakit terbaik yang diberikan oleh Xavier kepadanya, ayahnya tetaplah masih berstatus sebagai tahanan. Karena itulah, ada keterbatasan dalam hal jam kunjungan, termasuk menyangkut masalah jam besuk yang harus dipatuhi.


Meskipun keterbatasan jam besuk itu terasa menyedihkan bagi Sera karena dia tahu bahwa ayahnya itu hanya bisa berbaring tak sadarkan diri di atas ranjang dan tak mungkin melakukan komunikasi dua arah ketika dibesuk, tetap saja dia bersyukur karena ayahnya telah mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik.


“Kita bisa makan di perjalanan ke rumah sakit tempat ayahmu dirawat nanti." Xavier melirik jam tangannya. "Masih ada waktu untuk melakukannya.”


Sera menggelengkan kepala dengan keras kepala. "Aku merasa lapar sekarang dan lebih baik aku memasak di sini jika memang ada bahan makanan untuk dimakan," bantahnya cepat.


Xavier mengangkat alisnya. "Aku tidak lapar,” sahutnya kemudian, membuat Sera menipiskan bibir setengah jengkel.


“Siapa bilang aku akan memasak untukmu? Aku tidak peduli kau lapar atau tidak. Aku ingin memasak dan ingin makan untuk mengisi perutku sendiri." Sera mempercepat langkahnya melewati lorong itu, meninggalkan Xavier di belakangnya sambil mengintip setiap pintu yang tampak di kiri kanan lorong, mencari-cari dimana dapur berada.


Tidak diperhatikannya Xavier yang menyeringai setengah geli dan setengah jengkel melihat sikap Sera yang kepala batu. Dia senang karena Sera sudah sedikit lebih berani membantahnya dan tidak didera ketakutan lagi seperti dulu. Meskipun begitu, Xavier bertekad tidak akan menunjukkan kesenangannya itu di depan Sera supaya Sera tidak besar kepala.


“Dapurnya ada di sebelah sana, di ujung lorong. Kurasa ada beberapa bahan makanan di lemari pendingin yang sudah disimpan untukmu. Mulai besok koki akan mulai bekerja di sini sehingga kau tidak perlu memasak apapun, dialah yang akan menyediakan makanan untukmu.”


Sera mengikuti petunjuk arah Xavier, lalu membuka pintu kaca besar yang ada di ujung lorong. Dapur rumah ini sangatlah besar dan indah, dengan jendela-jendela kaca besar yang memenuhi dinding dan menampilkan pemandangan taman bunga di pekarangan belakang yang menyenangkan mata. Nuansa kayu masih tampak mendominasi, sama seperti seluruh bagian rumah ini.


Sera langsung melangkah masuk ke dalam dapur itu dan membuka pintu lemari pendingin besar yang terletak di ujung ruangan.


Xavier benar, dapur ini sepertinya baru saja diisi penuh dengan berbagai persediaan bahan makanan lengkap untuk memenuhi kebutuhannya.


“Tidak ada makanan instant." Sera yang sedang membungkukkan tubuh di depan kulkas mengerutkan kening sambil menyuarakan protesnya.


“Aku tidak butuh koki. Aku bisa menyiapkan sendiri makananku." Sera mengambil telur dan berbagai macam sayuran, menyalakan keran air dan mencuci sayuran itu di bak cuci yang tersedia di pantry.


“Ada banyak pegawai yang juga tinggal di rumah ini. Mereka tinggal di bagunan terpisah di sebelah sana." Xavier menunjuk ke arah bangunan besar yang terletak di bagian ujung dari taman bunga di belakang rumah itu. Sera mengerutkan kening karena sebelumnya tak menyadari bahwa bangunan itu masih menjadi satu bagian dengan rumah ini. Tadinya dia berpikir bahwa bangunan itu adalah rumah tetangga yang berbatasan langsung dengan villa ini.


“Para pegawai yang bertugas di rumah ini, mereka tinggal di sana. Bangunan itu lebih seperti asrama dengan dua puluh lima kamar tidur. Mereka semua juga butuh makan. Jadi, koki bukan hanya mempersiapkan makanan untukmu," sambung Xavier kemudian, menjelaskan dengan suara ringan.


Sera mengerutkan kening. Matanya menatap Xavier tajam sementara tangannya bergerak mengiris sayuran yang hendak dimasaknya itu.


“Kenapa kau repot-repot menugaskan begitu banyak orang untuk menjagaku di rumah besar ini? Jika kau tak mau mengembalikanku ke rumahku sendiri, bukankah lebih baik kau menyewakan aku sebuah apartemen kecil dengan sistem keamanan lengkap? Dengan begitu, kau tak perlu membuang-buang uangmu untuk ini semua, bukan?" tanyanya cepat.


Xavier terkekeh. Lelaki itu melompat duduk di bangku tinggi selayaknya bangku bar yang terletak di depan pantri dapur yang berlapis marmer warna putih.


“Karena aku ingin mempersiapkan rumah untuk anak-anakku juga," sahutnya tenang.


Gerakan Sera yang sedang mengiris sayuran di depannya langsung terhenti. Perempuan itu mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan bingung.


“Kau berencana membuatku tinggal di sini selamanya?" tanyanya lagi.


Xavier bertopang dagu, menatap Sera dengan tatapan tajam meskipun bersalut senyuman.


“Ya. Rumah ini kuhadiahkan untukmu, sebagai salah satu kompensasi atas kesepakatan kita. Jika menilik bawaan genetikmu dan persiapan yang diberikan dokter Nathan kepadamu. Aku berekspetasi bahwa kau akan mengandung anak kembar, dokter Nathan juga bilang, jika kau berhasil hamil nanti, kemungkinan bahwa kau akan mengandung anak kembar hampir bisa dipastikan terjadi." Xavier melirik ke arah perut Sera sekilas, lalu kembali menatap wajah Sera lagi. "Aku ingin anak-anakku nanti tumbuh di lingkungan yang terlindungi sepenuhnya, aman dan nyaman untuk mereka bertumbuh besar. Persiapannya harus dimulai sedini mungkin, bukan? Kalian bertiga akan hidup nyaman di sini.”


Xavier menyebut ‘kalian bertiga’ dan entah kenapa hal itu seolah menusukkan sembilu di sisi paling menyakitkan di dalam benak Sera. Entah disengaja atau tidak, lelaki itu seolah menyatakan dengan gamblang bahwa dia tak akan menjadi bagian dari keluarga kecil yang sedang direncanakannya ini.


“Bagaimana jika aku tidak ingin mengikuti skenario yang telah kau atur untukku?" Sera meletakkan sayuran yang telah diirisnya dalam wadah mangkuk kaca besar yang tersedia di sana. Dia mengambil bawang putih dan berbagai bumbu lainnya lalu mengupasnya. "Bukankah kesepakatan kita berakhir di saat aku berhasil menyediakan sel punca dari tali pusat bayiku untuk ditransplatasikan kepadamu? Bukankah setelah itu kau bilang bahwa aku akan bebas? Bagaimana jika aku tidak ingin tinggal di rumah ini?”


Pertanyaan itu akhirnya berhasil mengusik topeng ketenangan Xavier yang tadi dipasangnya dengan sempurna. Tubuhnya yang tadinya santai langsung menegang dengan punggung tegak. Ekspresinya mengeras sementara matanya menyipit tajam ke arah Sera.


“Memangnya kau akan pergi kemana sambil membawa anak-anakku? Kau tidak punya siapa-siapa di dunia ini, bukan? Apakah kau masih memikirkan Aaron-mu itu untuk kau datangi?" Xavier menggeramkan kalimat ancaman, melepaskan topeng senyumnya sepenuhnya.


Sera mengangkat alis. Sikap Xavier yang arogan dan sinis mendorong Sera untuk menantang. "Kau membuatku hamil dan melahirkan anak hanya karena kau menginginkan sel punca dari plasenta bayiku, bukan? Jika kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, kenapa kau harus repot-repot memikirkan apa yang akan kulakukan dengan anak-anakku nanti?”


Tangan Xavier mengepal. "Karena anak-anak itu adalah anak-anakku juga. Apa kau lupa?" tanyanya sambil mengetatkan geraham menahan marah.


Sera membanting pisau di tangannya, dagunya terangkat angkuh ke arah Xavier.

__ADS_1


“Biarkan kuingatkan kembali isi kesepakatan kita, Tuan Xavier Light. Kau membebaskan Aaron, kau melepaskan ayahku dari tahanan, kau juga berjanji untuk membebaskanku. Sebagai timbal baliknya, aku bersedia mengandung dan melahirkan anak-anakmu supaya kau bisa mengambil plasentanya untuk menyembuhkan penyakitmu. Titik. Selesai sampai di sana. Hanya sampai di situ sajalah akhir kesepakatan kita berdua. Apakah kau sudah lupa? Apa yang akan kulakukan nanti setelah aku membayar budi kepadamu, sudah tidak menjadi urusanmu lagi! Kau tidak berhak mengaturku.”


“Serafina Moon." Xavier menyela penuh peringatan, menggeramkan nama Sera lambat-lambat dengan penekanan kuat di setiap suku katanya. Suaranya yang tajam memang berhasil membuat Sera berhenti berbicara. Perempuan itu menatap Xavier dengan waspada dan penuh antisipasi, sementara Xavier membalas pandangan mata itu dengan nyala api kemarahan yang berkobar di bola matanya.


Kedua-duanya sama-sama terdiam, seolah saling mengukur kekuatan masing-masing sebelum mulai saling menyerang.


Lalu, suara ponsel Xavier berbunyi keras, memecahkan keheningan menegangkan yang terbentang di antara mereka berdua. Tadinya Xavier hendak mengabaikannya, tetapi entah kenapa panggilan telepon itu begitu keras kepala, terus berbunyi seolah tak mau berhenti sebelum Xavier mengangkatnya.


Dengan enggan Xavier melirik ke arah layar ponselnya. Alisnya berkerut ketika melihat nama Dokter Nathan di sana. Akhirnya, tangan Xavier pun bergerak untuk menerima panggilan telepon tersebut.


“Ada apa?” Dengan nada suara tak sabar, Xavier pun menyahuti.


“Apakah Sera ada bersamamu?" Dokter Nathan tak berbasa-basi, langsung mengajukan pertanyaan kepadanya.


Mata Xavier melirik ke arah Sera yang masih menatapnya waspada dan menunggu. Akhirnya Xavier menganggukkan kepala tipis meskipun dia tahu bahwa Nathan tak bisa melihatnya.


“Ya. Dia ada bersamaku. Kenapa?”


“Kurasa kau harus membawanya ke rumah sakit sekarang, Xavier. Aku perlu memastikan hasil test terakhirku. Jadi, aku butuh mengambil sampel darah dan urine-nya sekarang." Suara Dokter Nathan terdengar mendesak, menunjukkan keseriusannya.


“Sekarang? Hasil test apa lagi?" Kening Xavier berkerut ketika mendengar tuntutan mendesak Nathan kepadanya. Dia berusaha menyingkirkan berbagai dugaan negatif yang berkelebat di otaknya dan langsung bertanya, "Bisakah kau jelaskan kepadaku terlebih dulu apa alasanmu?”


“Aku melakukan pemeriksaan ulang pada sampel darah Serafina yang diambil dua hari yang lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa Serafina sedang mengandung." Dokter Nathan berucap cepat, melemparkan kejutan yang membuat Xavier langsung membeku dengan mata melebar, kehilangan kata-kata.


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


WARNING : Jika anda membeli atau mendapatkan bukan dari google playbook, berarti Anda telah turut serta dalam komplotan pembajakan ilegal dan ambil bagian dalam perampokan yang merugikan penulis, Anonymous Yoghurt


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.


AY

__ADS_1


__ADS_2