
"myself busy with the things I do but every time I pause, I still think of you. “Have you ever missed someone so much you feel physically sick?”
"Sudah hampir dua bulan dan kau masih belum menemukan petunjuk apapun?" Xavier tengah menuang teh beraroma harum dari poci keramik klasik berwarna putih dengan corak bunga berwarna biru ke dalam cangkir kecil bercorak senada.
Pagi itu cukup cerah dan penampilan Lelaki itu duduk di atas kursi berukir warna emas di ruang tamunya yang luas membuatnya tampak seperti seorang raja di atas singgasannya. Sementara itu ekspresi Xavier tampak tenang, menyembunyikan aura berbahaya yang tersimpan rapat di dalam jiwanya.
Xavier Light memiliki proporsi wajah yang luar biasa menawan, ketampanannya yang indah bahkan bisa membuat bukan hanya laki-laki saja, tetapi juga wanita akan merasa tersaingi. Lekuk hidung, bibir, rahangnya yang lancip dan tulang pipinya yang tinggi sempurna layaknya bangsawan, akan membuat setiap makhluk hidup di dunia ini menahan iri melihat keindahannya.
Jika dilihat sekilas mata, Xavier sama sekali tidak tampak berbahaya, tubuhnya ramping, proposional dan pas, dan senyumnya tampak ramah, melengkung sempurna di wajahnya. Tetapi, orang-orang yang sudah mengenal Xavier atau sedang sial harus berhadapan dengannya, pasti akan langsung memahami pepatah yang mengatakan, bahwa semakin indah penampilan suatu makhluk, maka semakin beracunlah dirinya.
Xavier memiliki anugerah ketampanan fisik yang digunakanya sebagai senjata untuk membuat musuh-musuhnya lengah, sebelum kemudian menyergap dan menghabisi dengan buas untuk memuaskan nafsu laparnya dalam menumpahkan darah.
Dan keindahan wajah Xavier seolah menjadi kutukan yang menempel pada dirinya tanpa bisa dilepaskan. Bahkan saat kecelakaan mengerikan akibat serangan Akram terjadi pada dirinya yang menyebabkan seluruh tubuhnya hancur dan harus direkonstruksi kembali dengan usaha dan biaya yang sangat besar, wajah Xavier yang indah tak terkena imbas sedikitpun.
Tubuh Xavier belum pulih benar akibat luka parah kecelakaan itu, dan mungkin tak akan pernah bisa kembali seperti semula. Tetapi, jiwanya yang dipenuhi kebencian sudah tak sabar kembali untuk menuntut balas.
Saat ini, Regas, salah satu tangan kanan Xavier tampak menunduk dalam dengan sikap ragu dan tangan gemetaran. Mengabdi pada Xavier sama saja dengan meletakkan nyawanya yang serapuh telur di ujung tanduk seekor banteng yang siap menerkam. Jika suasana hati Xavier sedang tidak baik, lelaki itu bisa mencabut nyawa tanpa peringatan, menggunakan metode terkeji yang bisa dilakukannya.
Regas mempertaruhkan nyawanya ketika memberitahukan informasi yang sudah pasti tak akan disukai oleh Xavier, tetapi dia tidak memililk pilihan lain.
"Kami sudah menggunakan semua cara yang kami bisa, tetapi tetap tidak bisa menemukan petunjuk apapun mengenai wanita itu. Seolah-olah wanita itu lenyap di telan bumi."
"Kau sudah menyusup ulang ke rumah sakit milik Akram? Tidak mungkin tidak ada catatan tentang perempuan itu. Jika dia mengalami kecelakaan bersama Akram, dia pasti juga dirawat di sana."
"Kami sudah mencoba melakukan peretasan terhadap data rumah sakit. Tetapi sepertinya Akram Night sudah menyiapkan segalanya. Saya menduga mereka ditangani secara rahasia di area tertutup di bagian rumah sakit itu yang tidak diekspos ke publik, bahkan catatan perawatan Akram Night pada saat kecelakaan itu pun tidak ada, sudah pasti hal yang sama terjadi dengan catatan wanita itu, jika memang ada." Regas menghela napas panjang. "Tampak seperti Akram Night telah mengetahui langkah kita dan mengantisipasi segalanya. Dia telah membuat orang kita kesulitan melacak keberadaannya sepanjang hari."
Xavier menyesap tehnya dengan sikap elegan, meskipun begitu, ada kilau dingin di matanya ketika berucap.
"Kalau begini, aku jadi mulai meragukan apa yang diucapkan oleh si bodoh itu. Dia bilang Akram bersama seorang wanita - yang merupakan hal langka - di mobil pribadinya pada saat terjadinya kecelakaan. Tetapi\, wanita itu\, jika memang benar-benar ada\, seolah menghilang ditelan bumi. Aku jadi tak yakin apakah eksistensi wanita itu benar adanya\, ataukah dia hanyalah karangan semata dari si bodoh itu supaya tidak dibunuh\," bibir Xavier menyeringai\, menciptakan gurat menyeramkan yang menodai ketampanannya. "Tetapi\, faktanya orang-orang yang hendak menghadapi kematian biasanya berkata jujur\, karena itulah aku tetap tidak bisa mengabaikan perkataan si bodoh itu ketika di ambang kematian. Aku harus membuktikan bahwa wanita itu benar-benar tidak ada sebelum mengalihkan fokus kita dari usaha pencarian wanita itu."
"Saya rasa, jika benar wanita itu ada, maka dia pasti berada di rumah perlindungan rahasia bersama Akram Night..." Regas menyuarakan pendapatnya sedikit takut.
Xavier menganggukkan kepala.
"Bagaimana dengan apartemen kediaman Akram? Apakah kau sama sekali tidak bisa menembusnya?"
"Seluruh latar belakang orang-orang yang bisa bekerja dan berhak masuk ke dalam apartemen tersebut diperiksa langsung oleh Akram Night, dan sebagian besar dari mereka bahkan tidak mengetahui bahwa Akram Night tinggal di sana. Dia menggunakan akses masuk, akses keluar bahkan lift eksklusif yang tidak bisa digunakan oleh pihak lain dengan keamanan ketat. Bahkan untuk menembus gerbang penjagaan saja kami tidak mampu. Memanfaatkan penghuni apartemen juga tidak ada gunanya karena mereka tidak tahu apa-apa." Regas menjelaskan dengan cepat, memastikan Xavier memahami bahwa meskipun mereka saat ini menemui jalan buntu, mereka sudah berusaha keras menjalankan tugas sebaik mungkin.
__ADS_1
"Hmmm," Xavier menggumam. Ekspresinya dipenuhi ketidakpuasan meskipun beruntung bagi Regas dan rekan-rekannya yang lain, suasana hati Xavier pagi ini cukup baik sehingga kemarahannya yang mengerikan itu tidak mudah meledak seperti biasanya.
"Jika semua jalan sudah ditutup, satu-satunya jalan adalah menemui sumbernya langsung," Xavier menyeringai, matanya berkilat oleh ketidaksabaran. "Kurasa aku akan segera mengunjungi Akram Night dan menciptakan reuni yang menyenangkan antar saudara," putusnya kemudian.
***
***
Suara desing gergaji listrik berukuran kecil itu memenuhi ruangan, dan Elana yang saat ini mempertaruhkan keutuhan tangannya di bawah belas kasihan gesekan gergaji itu hanya bisa mengerutkan kening sambil menatap ngeri ke arah dokter Nathan yang tengah menangani sendiri upaya pembukaan gips Elana.
Nathan mengiris gips Elana dengan hati-hati dengan gerakan menekan memutar sejajar sesuai garis yang telah diguratkannya di atas gips Elana sebelumnya. Setelah proses pengirisannya sempurna, gips itupun terbuka dan dengan gerakan cepat, Nathan menarik gips yang telah terbuka tersebut, menyempurnakan sisa potongannya dengan pisau bedah hingga terlepas seutuhnya. Setelahnya, dengan menggunakan gunting, Nathan membuka bantalan pada gips dengan hati-hati dan perlahan. Setiap lapisan dilepas secara sempurna hingga balutan tidak lagi menutupi lengan Elana.
Seorang suster yang sejak tadi berdiri di sebelah Nathan dan bertugas menjadi asistennya lalu membawa baskom air hangat mendekat, tangan Elana kemudian direndam sejenak di baskom dengan menggunakan air hangat, kemudian dibersihkan dengan sabun yang lembut. Elana melirik ke arah lengannya dan merasakan permukaan kulitnya yang kaku akibat tertutup sekian lama menjadi lebih lembut dan nyaman. Setelahnya, suster itu menggosok lengan Elana dengan handuk secara hati-hati sampai kering, lalu menggosokkan krim putih tanpa aroma untuk melembabkan bagian kulit yang kaku karena telah lama tertutup gips.
"Sudah selesai," Nathan melepas pelindung matanya dan menyeringai puas ke arah Elana. "Hasil rotgentnya bagus dan kau hanya perlu melatih tanganmu untuk melemaskannya supaya perlahan bisa beraktifitas seperti semula. Kau juga harus makan-makanan yang bernutrisi untuk penyembuhan tulang dan... hmm..." Nathan berhenti untuk menulis di catatannya. "Aku menuliskan saran menu sehat untukmu dan juga di sini sudah ada jadwal konsultasi serta fisioterapi selanjutnya, jangan melewatkannya karena aku juga akan hadir di sesi konsultasi untuk melihat perkembangan kondisimu. Kau juga bisa berkonsultasi menyangkut hal-hal lainnya selain kondisi lenganmu..." Nathan berhenti untuk mengedipkan mata dengan sikap menggoda terhadap Elana.
Tangan Nathan lalu bergerak mengangsurkan kertas di tangannya ke arah Elana, tetapi kemudian gerakannya terhenti ketika Akram yang sejak tadi hanya diam mengawasi proses pelepasan gips Elana, tiba-tiba menyambar kertas catatan kesehatan yang dibawa Nathan dan menatap tajam ke arah sang dokter.
"Sudah cukup bicaranya, apakah sekarang Elana sudah diizinkan pulang?" geram Akram dengan nada tak sabar.
Nathan menganggukkan kepala, memahami ketidaksabaran Akram dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Wajah Elana memerah malu ketika pertanyaan Nathan berkumandang di udara, sementara ekspresi Akram semakin gelap mendengarnya.
"Bukan urusanmu, Nathan. Kalau tugasmu sudah selesai di sini, kau boleh pergi," tegasnya dengan suara memerintah yang arogan.
Nathan hanya memutar bola matanya dan menahan senyum. Dia sudah menjadi teman Akram sejak lama hingga sama sekali tidak tersinggung dengan sikap kasar lelaki itu. Bahkan selama dua bulan terakhir ketika Elana dirawat di rumah sakit, Akram seolah menahan frustasi hingga sikapnya luar biasa mengerikan layaknya singa yang terluka. Aura gelap seolah membayangi Akram dimanapun dia berada hinggga membuat semua orang takut untuk mendekatinya.
"Baiklah, aku akan pergi," Nathan beranjak dan ketika berjalan melewati Akram, dia sengaja berucap perlahan. "Jangan memaksa Elana melakukan kegiatan berat dan berhati-hatilah memperlakukan tangannya," ujarnya mengingatkan, seolah khawatr Akram akan meremukkan Elana yang rapuh karena terlalu berhasrat jika tidak diingatkan.
Akram hanya menganggukkan kepala sejenak, tetapi kemudian ketika Nathan sudah beberapa langkah jauhnya, Akram seperti teringat sesuatu dan memanggil.
"Nathan," ketika Nathan menghentikan langkah dan menolehkan kepalanya, Akram melanjutkan dengan suara rendah. "Xavier. Dia sudah kembali," setelah sekian lama, barulah kali ini Akram memutuskan untuk memberitahu Nathan informasi penting tersebut. "Berhati-hatilah, dia mungkin berusaha menjangkaumu."
Alis Nathan terangkat, kilasan geram tampak di matanya.
"Jadi Xavier adalah otak di balik semua ini?" Nathan *** pangkal hidungnya sambil mengerutkan kening, "Sepertinya hari-hari penuh kedamaian yang indah ini telah berakhir," desahnya tanpa menyembunyikan rasa jengkel sebelum pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Setelah pintu ruangan tertutup, Akram kembali memusatkan perhatiannya ke arah Elana. Mereka berdua bertatapan dalam kediaman yang canggung, Elana bahkan memilih memandang ke sekeliling, sengaja tak mau membalas tatapan mata Akram.
Hubungan mereka berdua setelah malam dimana Akram menyatakan Elana sebagai propertinya dengan arogan dan merendahkan, berlangsung dalam nuansa dingin dan kaku. Akram tetap datang setiap malam untuk menginap di kamar rumah sakit. Bahkan ketika dia datang lebih awal, dirinya bersedia mengurusi Elana seperti menyuapi dan menggantikan pakaiannya. Tetapi, mereka hampir tidak pernah bercakap-cakap lagi di luar keperluan, bahkan berdebatpun tak pernah lagi. Seolah Elana sudah terlalu lelah mengkonfrontasi Akram dan Akram terlalu frustasi untuk mencoba menguji batas kesabarannya sendiri.
Akram mendekat ke arah Elana, tangannya bergerak merangkul perempuan itu.
"Ayo, aku akan membantumu naik ke kursi roda," Akram hendak mengangkat Elana menuju kursi roda yang telah disediakan, tetapi perempuan itu langsung menepisnya.
"Aku tidak perlu kursi roda, aku bisa berjalan sendiri," ucap Elana ketus.
Akram menatap ke arah Elana dengan sinar mata tajam menusuk, gerahamnya mengeras seolah menahan amarah. Akram memang selalu terlihat dingin, menakutkan dan tanpa senyum, tetapi bahkan hari ini Akram terlihat lebih galak dari biasanya, aura gelap seolah menyelubungi diri lelaki itu, merefleksikan suasana hatinya yang sangat mendung.
"Kau tidak mau menggunakan kursi roda? Baik! Tapi kau tidak akan berjalan sendiri. Aku tidak akan mengizinkanmu melakukannya," dengan kekuatan penuh, Akram membungkuk ke arah Elana, lalu meraup tubuh Elana ke dalam gendongannya dan membawanya keluar dari kamar dengan ekspresi mengerikan tak terbantahkan yang membuat nyali Elana ciut, sehingga dengan bijaksana dia memilih mengalah dan mengurungkan niatnya untuk memberontak.
***
Sepanjang perjalanan itu, di dalam mobil dimana mereka duduk bersebelahan di kursi penumpang, Akram membeku diam dan Elana pun memilih melakukan hal yang sama, menatap ke luar jendela ke arah yang berlawanan dengan posisi duduk Akram sambil berharap perjalanan itu lekas berakhir.
Setelah mobil mereka memasuki gerbang apartemen, melewati berlapis-lapis perimeter keamanan lalu masuk ke lorong bawah tanah khusus tempat memarkir mobil Akram yang berada di dekat lift pribadi yang menghubungkan langsung lantai parkir ke depan pintu apartemen Akram, mobil itupun berhenti dan supir bergerak turun untuk membukakan pintu bagi majikannya.
Tanpa kata Akram melangkah turun terlebih dahulu, lalu memutar langkah mengitari mobil, membuka pintu di sisi Elana duduk dan kembali meraih tubuh Elana, mengangkatnya ke dalam gendongan tanpa merasa perlu menanyakan pendapat Elana.
Mereka tetap berdiam selama perjalanan lift ke lantai atas dan Akram akhirnya membawa Elana masuk ke dalam apartemen lalu membiarkan pintu menutup secara otomatis di belakang punggung mereka.
"Sekarang bolehkah aku diturunkan?" Elana akhirnya berani berucap, tak bisa menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.
Akram tak menjawab, tetapi tak urung diturunkan juga Elana dari gendongannya.
"Terima kasih, kurasa aku akan beristirahat di kamar..." Elana hendak melangkah pergi, tetapi tiba-tiba Akram mendorong punggungnya hingga membentur pintu, lalu dengan gerakan cepat memerangkap Elana dengan tubuhnya yang merapat, hingga Elana tidak bisa bergerak kemana-mana. Tatapan mata Akram begitu tajam seolah menembus kedalaman hatinya, mengirimkan sinyal lapar dan seolah ingin melahapnya seketika.
"Apa-apaan...." Elana berseru hendak memprotes tetapi tiba-tiba saja Akram sudah menundukkan kepala dan menciumnya kasar.
***
__ADS_1