Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 86 : Bertahan Sebentar


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Ketika pintu rumah itu terbuka, Sera terpana.


Ruang tamu Xavier biasanya tertata sangat rapi, sangat bersih dan cemerlang. Seolah-olah sebutir debu pun tidak memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejaknya di perabotan, karena para pelayan selalu rajin membersihkan setiap incinya tanpa jeda dan dengan tanpa cela.


Ruang tamu itu pun sesungguhnya berukuran sangat luas, hampir seperti aula dengan perabotan minimalis dan jendela-jendela kaca yang hampir memenuhi seluruh penjuru dindingnya, membuat seluruh area bermandikan cahaya matahari ketika pagi hari datang menjelang dan semua tirai disingkapkan.


Tetapi sekarang, apa yang ada di hadapan Sera sungguh berbeda. Tirai-tirai jendela itu tertutup rapat, sementara setiap sisi dari ruang tamu tersebut penuh dengan barang yang semuanya terbungkus oleh kertas warna cokelat susu yang rapi.


Begitu banyaknya barang di sana hingga hampir semua sisi jendela kaca tertutup oleh barang-barang tersebut, bahkan kursi yang seharusnya digunakan duduk oleh tamu pun juga digunakan sebagai tempat meletakkan barang.


Sera menoleh ke arah Xavier di sebelahnya, keningnya berkerut ketika kemudian bertanya.


“Apakah kau… sedang merencanakan pemindahan gudang atau apa? Kenapa ada banyak barang di sini?”


Pertanyaan Sera itu membuat Xavier menipiskan bibirnya, terlihat seberkas rasa bersalah di matanya ketika akhirnya berucap menjawab.


“Itu… eh… bukan barang-barang dari gudang.”


Sera mengerutkan kening, masih penasaran menatap barang yang sebegitu banyaknya.


Kalau itu bukan barang-barang dari gudang, lalu apa? Untuk apa Xavier menyimpan tumpukan barang dengan bungkus seragam yang sebegitu banyaknya jumlahnya? Apalagi menumpuknya di ruang tamu seperti ini hingga barang-barang itu tampak mendominasi seluruh area.


Sera mungkin tidak lama mengenal Xavier, tetapi dia tahu bahwa lelaki ini sangat teratur dan rapi. Bahkan semua barang-barangnya di laci dari ukuran kecil sampai besar tampak tersusun rapi dengan urutan terstruktur dan keteraturan yang mengerikan.


Sepertinya barang-barang ini bukanlah benda kimia berbahaya. Xavier tidak mungkin meletakkan benda kimia berbahaya di ruang tamunya….


Xavier tampak melirik ekspresi Sera yang dipenuhi rasa penasaran. Perempuan itu tampak mengerutkan keningnya sementara bibirnya mengerucut menggemaskan, sebuah ciri khas yang sekarang sudah dihapalkan oleh Xavier, menandakan bahwa Sera sedang berpikir keras.


“Tadinya aku ingin menyimpan ini sampai esok pagi setelah kita beristirahat. Tetapi, kau benar-benar ingin tahu ya?” Xavier berucap pelan, nada suaranya menyiratkan rasa geli yang nyata. Lelaki itu lalu melepaskan genggaman tangannya dan menghela sedikit tubuh Sera supaya maju. “Kalau kau benar-benar ingin tahu, lihatlah lebih dekat,” usulnya kemudian dengan nada menggoda.


Sera meragu, tapi ternyata rasa penasarannyalah yang menang. Perlahan dia melangkah mendekat, menuju ke arah kotak-kotak berbungkus kertas cokelat muda itu dan mengawasi tanpa berani menyentuh, lalu matanya terpaku pada lambang boneka beruang warna cokelat susu di dalam lingkaran dedaunan emas yang dikenalnya yang menjadi emblem di setiap bungkus warna cokelat muda itu.


Mata Sera melebar, segera perempuan itu menolehkan kepala, menatap ke arah Xavier dengan tatapan tak percaya.


“Xavier? Ini….” Sera bahkan kehilangan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya. Apa yang dia duga tampaknya terlalu besar untuk bisa menjadi nyata. Emblem itu adalah emblem butik perlengkapan bayi yang dikunjunginya bersama Xavier sebelum insiden itu terjadi.


Tetapi Xavier tidak membantah. Lelaki itu menganggukkan kepala sementara senyumnya terulas lebar di bibirnya.


“Ya, karena insiden yang lalu membuat kita tak bisa berbelanja pakaian dan perlengkapan bayi, maka kemarin aku memutuskan untuk melakukan apa yang sudah kukatakan sebelumnya. Karena kemungkinan anak kita adalah anak kembar, aku membeli masing-masing dua buah benda dari seluruh barang yang dijual di sana.” Xavier berdehem seolah merasa bersalah. “Aku tak menyangka kalau barangnya ada sebegini banyak dan memenuhi seluruh penjuru ruang tamu. Aku juga baru pulang hari ini, jadi aku sama terkejutnya denganmu.”


“Kau… apa?” Sera masih melebarkan matanya seolah tak percaya. Butik perlengkapan bayi itu sangatlah besar, areanya mendominasi hampir satu lantai dari pusat perbelanjaan raksasa di ibukota. Butik perlengkapan bayi itu pastilah memiliki ratusan ribu jenis varian barang dari yang berukuran kecil seperti sarung tangan bayi, hingga yang berukuran besar seperti boks bayi.


Dan lelaki di sampingnya ini ternyata cukup gila untuk membeli dua pasang dari masing-masing jenis varian? Pantas saja seluruh ruang tamu sampai penuh sesak seperti ini!


“Mo… mohon maaf, Tuan. Sebenarnya masih banyak barang-barang ini di area belakang. Kami terpaksa menempatkannya di sana karena di sini sudah terlalu penuh.” Tuan Martin, Kepala Pelayan di rumah itu yang juga datang menyambut kedatangan tuannya langsung menginterupsi dengan nada sopan.


Sera ternganga mendengarnya, dipenuhi oleh shock tiada banding.


Astaga…. Begitu banyak benda di ruangan ini dan masih banyak lagi di belakang? Sebenarnya Xavier hendak menyambut kedatangan bayinya atau sedang ingin membuka toko perlengkapan bayi tandingan?


“Saya sudah menempatkan sebagian besar barang yang muat di ruang tamu sesuai perintah Anda, Tuan Xavier.” Tuan Martin melanjutkan kalimat pemberitahuannya dengan sopan. “Mengingat Anda mengatakan bahwa Nyonya Light mungkin akan senang membuka bungkusnya satu-persatu untuk memilih benda yang disukai esok hari.”


Xavier menganggukkan kepala, lalu merangkulkan tangannya ke pundak Sera.


“Kurasa, lebih baik kita beristirahat malam ini. Besok kita bisa mulai pagi-pagi sekali untuk membuka barang-barang ini satu persatu. Jika memang ini terlalu berlebihan, kita bisa menyumbangkannya ke panti asuhan. Bagaimana menurutmu?” Xavier menundukkan kepala dengan jelas menunjukkan bahwa nilai belanjanya yang berlebihan kali ini sama sekali tak mengurangi hartanya, matanya menatap ke arah Sera yang masih terpaku menatap hamparan barang-barang di depannya itu dengan ekspresi bingung. Tangan Xavier lalu meremas pundak Sera dan lelaki itu merendahkan suaranya sedikit, sengaja melemahkan diri, seperti yang dikatakan Akram sebelumnya tentang bermain cantik. “Aku sedikit lelah hari ini,” sambungnya kemudian.


Sera mengerjap, seolah tersadar. Perempuan itu langsung mendongakkan kepala dan melemparkan tatapan cemas ke arah Xavier. Setelah melihat betapa pucatnya Xavier, Sera menganggukkan kepala segera dan memberikan persetujuannya.


“K-kau benar. Lebih baik kita istirahat dulu karena hari sudah larut.” Sera melirik ke arah Xavier dengan ragu, lalu matanya tertuju ke tangga lantai atas. Tiba-tiba saja dia teringat bahwa di rumah ini dia memiliki kamar terpisah dengan Xavier. Kamarnya ada di lantai atas, sementara kamar Xavier ada di lantai bawah.

__ADS_1


Sera melepaskan diri dari rangkulan Xavier dan hendak melangkah menaiki tangga. Namun, Xavier dengan sigap menariknya kembali dan membawanya ke pelukan.


“Kau pikir kau akan ke mana?” Rangkulan Xavier di pinggangnya sangat erat, seolah-olah lelaki itu sengaja memerangkap Sera dan tak mau melepasnya sebelum Sera memberikan jawaban.


Sera menolehkan kepala, menatap Xavier dengan gugup.


“Ke… ke kamarku sendiri di lantai atas?” tanyanya ragu kemudian.


Kerutan tampak muncul di kening Xavier.


“Kamarmu ditutup sejak kau meninggalkan tempat ini dan tidak disiapkan untuk ditempati. Aku sendiri telah sepenuhnya pindah ke kamar bawah mengingat kondisiku. Jadi, kurasa keputusan paling bijak adalah kita tidur bersama di kamar bawah.” Xavier mengencangkan pegangannya ke pinggang Sera, menarik perempuan itu mendekat ke tubuhnya. “Kau juga sedang hamil dan naik turun tangga untuk menuju ke kamarmu setiap hari bukanlah langkah bijaksana. Lagipula, apakah kau lupa dengan klausul tambahan yang kuajukan kepadamu?” Lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Sera, lalu berbisik penuh arti. “Klausul itu menuntut kita menjadi suami istri yang sesungguhnya, dan untuk melakukan itu, kita harus tidur seranjang, bukan?” Suara Xavier yang rendah dan dibumbui dengan nada sensual itu berhasil mengirimkan senyar ke sekujur tubuh Sera, membuat tubuhnya menegang dipenuhi antisipasi.


Sera mengerucutkan bibir dan menatap Xavier dengan pandangan mencela.


“Klausul baru itu belum disahkan, aku bahkan belum menandatanganinya…,” sanggahnya kemudian dengan bersungut-sungut.


Xavier terkekeh. “Aku sudah mengajukannya kepada pengacaraku. Dalam beberapa hari, dokumen dengan addendum kesepakatan baru akan siap dan bisa kau tanda tangani.” Tanpa diduga, Xavier memilih bersikap mesra dan tak malu-malu dihadapan para pelayan dan bodyguard yang ada di ruangan itu. Lelaki itu mengambil jemari Sera, lalu menghadiahkan kecupan lembut dengan bibirnya yang panas pada buku-buku jari Sera. “Lagipula, kita sudah saling berjanji, dan janji di antara suami istri menurutku memiliki kekuatan yang sama seperti di atas kontrak itu.”


Xavier mengangkat matanya yang jernih, lelaki itu menatap ke arah Sera tajam dengan tatapan penuh arti, memuat Sera terpesona hingga kehilangan kata-kata.


Tetapi kemudian Sera mengerjap dan dia langsung melepaskan tangannya dari Xavier dengan gugup, berusaha mundur menjauh, tak ingin terlalu jauh tenggelam ke dalam pesona lelaki itu yang mematikan.


“K-kau ingin beristirahat, bukan. A-aku juga ingin tidur.”


Memutuskan untuk tak memulai konfrontasi, Sera akhirnya memilih untuk menuruti kemauan Xavier.


***


Akan tetapi, sepertinya sudah menjadi sifat alami Xavier untuk mendesak makhluk yang lebih lemah baginya. Lelaki itu bukan tipikal manusia yang memiliki belas kasihan kepada musuh-musuhnya, tetapi lebih seperti penindas dan pelibas yang mendesak tanpa mau memberi ampun.


Karena itulah, ketika pintu tertutup di belakang mereka, Xavier tidak membuang-buang waktu. Lelaki itu langsung membawa Sera ke ranjang, lalu mendorong perempuan itu supaya berbaring telentang dan memerangkapkan tubuhnya di atasnya.


Sera mendongak, menatap ke arah Xavier dengan tatapan mencela.


“Kau bilang kau lelah dan ingin beristirahat, tapi kau malah mendorongku ke atas ranjang di detik pertama aku masuk ke dalam kamar.” ujarnya dengan nada bersungut-sungut.


Xavier menggunakan kedua lengannya untuk menumpu tubuhnya di atas tubuh Sera. Lelaki itu menundukkan kepala dan menatap Sera dengan senyuman.


Sera memejamkan mata ketika dirasakannya Xavier menggulirkan kecupan demi kecupan di sisi telinga dan sepanjang dagunya. Lelaki itu mengecup dengan bibirnya yang panas, menyelipkan sedikit lidahnya untuk mencicip permukaan kulitnya dan memberikan godaan dengan sengaja di permukaan kulit Sera yang sensitif.


Xavier adalah lelaki pertama Sera, lelaki itulah yang mengajarkan Sera kenikmatan yang bisa diberikan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan, dan bagaimana indahnya ketika tubuh mereka bersinergi untuk saling memuaskan satu sama lain. Karena itulah tubuhnya bereaksi dengan otomatis terhadap sentuhan Xavier. Setiap alunan ujung jemarinya di permukaan kulit Sera, setiap kecupan panasnya yang membakar dan memantik api di dalam tubuh Sera, semua itu menciptakan senyar yang membuat Sera tak bisa menahan erangan keluar dari mulutnya, membuat Xavier kembali mendekatkan bibirnya untuk menggesek bibir Sera dalam senyuman penuh kepuasan yang juga tercermin dalam binar yang sama di matanya.


“Sepertinya, istriku memang tidak berniat menolak, hmm?” Xavier membuka bibir Sera dengan bibirnya dan mengigit bibir bawah Sera dengan lembut sebelum kemudian menyesapnya.


Napas Sera mulai tersengal tetapi perempuan itu berusaha berucap dengan bibirnya yang merekah karena disesap oleh suaminya, dan dengan tubuhnya yang melemah akibat hasrat yang dibangun Xavier kepadanya, Sera berhasil menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Xavier dengan lembut.


“Aku tidak akan menolakmu. Aku sudah berjanji,” bisiknya perlahan, tanpa sadar menyuarakan ketulusan yang langsung menembus ke kedalaman jiwa Xavier.


Tindakan Sera yang tak disangka itu membuat Xavier tertegun. Selama ini, meskipun mereka akhirnya bercinta tanpa pemaksaan, Xavier selalu merasakan bahwa Sera menahan diri, seolah-olah Sera ingin menepisnya tetapi perempuan itu pada akhirnya memilih tak melakukannya. Tetapi sekarang… terasa berbeda. Seakan Sera menerima dirinya seutuhnya dan memilih untuk tak menolaknya. Xavier bisa merasakannya, Sera menerima dirinya, perempuan itu tak menolaknya sama sekali.


Apakah dia bisa berharap pada perempuan ini? Apakah perempuan ini benar-benar tak akan mengkhianatinya di kemudian hari?


Sejenak Xavier meragu, tetapi akhirnya dirinya menyerah. Dikecupnya kembali bibir Sera dengan penuh hasrat, didesakkannya tubuhnya untuk menunjukkan kepada Sera bagaimana perempuan itu membuat tubuhnya terbakar hanya dengan satu sentuhan.


Sera tak menolaknya. Perempuan itu membalas pelukannya dengan pelukan erat yang sama, pun dengan ciumannya yang bersambut dengan sama panasnya. Sera mendesakkan tubuh ke arahnya, sama seperti dirinya yang putus asa ingin menyatukan diri dengan perempuan itu.


“Serafina Moon.” Xavier membisikkan nama Sera dengan serak laksana sebuah ikrar yang terpendam. Dia ingin meneriakkan cintanya, tetapi dirinya menahan diri.


Untuk saat ini, dirinya mungkin tak bisa memberikan cintanya dalam bentuk ucapan lantang dari mulutnya, tetapi dia bisa menunjukkan dengan sentuhannya, dengan panas tubuhnya, dengan kelembutannya dan dengan kulit mereka yang berpadu saling mengalirkan suhu panas satu sama lain. Dan semua itu adalah perwujudan cintanya yang hanya bisa diucapkan di dalam hati.


Serafina Moon, aku mencintaimu.


***


Mata Sera terbuka tiba-tiba dan langsung nyalang menatap langit-langit kamar. Napasnya terengah meskipun dia tak tahu apa penyebabnya. Mata Sera melirik ke arah tirai jendela yang masih tertutup rapat dan menyadari bahwa cahaya matahari sudah menyemburat di langit sana dan menembus tirai itu.


Apakah dia bermimpi buruk? Tetapi dia sama sekali tak teringat dengan apa yang terjadi di dalam mimpinya.

__ADS_1


Yah, kadang-kadang, wajar hal itu terjadi. Ketika tubuh atau pikiran manusia kelelahan, mereka kadang bermimpi menyeramkan atau bermimpi berlarian tanpa henti yang melelahkan dan membuat napas terengah ketika terbangun dan detail mimpi itu tak bisa diingat jelas ketika mereka membuka mata. Sama seperti yang dirasakannya saat ini.


Sera menghela napas panjang, lalu mendudukkan dirinya di ranjang. Selimutnya melorot sampai ke pinggang, membuatnya buru-buru menariknya hingga menutupi dada. Hal itu membuat Sera teringat apa yang terjadi sebelumnya sehingga dia buru-buru menolehkan kepala ke samping ranjangnya dan langsung menghela napas lega ketika melihat Xavier tampak tertidur lelap di sebelahnya.


Selama ini, Xavier hampir selalu menghilang ketika Sera membuka mata setelah mereka bercinta dan tadinya Sera mengira bahwa pagi ini pun Xavier tidak akan ada. Tetapi ternyata, Xavier tidak pergi dan lelaki itu masih tampak nyenyak di sampingnya.


Xavier mungkin kelelahan, yah mengingat kondisi tubuhnya dan juga bagaimana lelaki itu bercinta dengan Sera selama berjam-jam lamanya seolah tak ada puasnya.


Mata Sera mengawasi sosok Xavier yang berbaring tengkurap, menampilkan punggung berototnya yang telanjang dan tertutup selimut di pinggangnya. Lelaki itu tampak damai dan tak sakit, membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dan tak berbahaya.


Senyum lembut mau tak mau menghiasi bibir Sera, mencerminkan hatinya yang dipenuhi nuansa lembut yang sama ketika menatap suaminya yang sedang tertidur pulas. Sera lalu menolehkan kepalanya ke arah nakas samping ranjang. Terengah-engah ketika bangun dari tidurnya membuat dia merasa kehausan dan ingin minum. Beruntung ada gelas berisi air yang tersedia di nakas itu, terletak di atas nampan dengan tutup kertas yang menjaganya supaya tidak terkontaminasi oleh udara luar.


Sera mencondongkan tubuhnya dan meraih gelas minuman itu, lalu menenggak minuman itu sampai tandas. Ketika dia meletakkan kembali gelasnya di atas nampan, dirinya tertegun ketika melihat botol kaca berukuran sedang yang penuh dengan pil berwarna putih yang tersedia di atas nampan yang sama, seolah-olah sengaja diapkan di dekat ranjang sehingga bisa diminum setiap saat.


Apakah ini adalah obat yang diceritakan oleh dokter Nathan kemarin? Obat yang diminum Xavier yang membuatnya bisa hidup layaknya orang sehat, tetapi memiliki risiko besar yang dapat memperpendek usia Xavier pada setiap dosis yang diminum oleh lelaki itu?


Sera merasakan dadanya sesak oleh rasa sakit ketika membayangkan bahwa Xavier harus meminum pil yang sangat berisiko ini untuk mempertahankan kehidupan normalnya. Dihelanya napas panjang, lalu dirinya mendesahkan harapan sepenuh hatinya.


Bertahanlah sebentar lagi. Bertahanlah lima bulan lagi, Xavier. Jangan pergi sebelum aku bisa menyelamatkanmu.


***


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=### Bonus cuplikan episode berikutnya\=\=\=\=\=\=\=\=


“Jadi, kau mau menyimpan yang warna biru bergambar burung ini, atau yang warna kuning bergambar singa?”


Suara Xavier terdengar ceria di pagi hari. Lelaki itu terlihat sangat santai seolah tanpa beban, dengan rambutnya yang masih agak basah dan acak-acakan, ditambah t-shirt warna hitam yang berpadu dengan celana abu-abu yang tampak sangat cocok dikenakannya. Lelaki itu tak mengenakan alas kaki, duduk bersila di atas karpet ruang tamu dengan kotak-kotak barang dari butik perlengkapan bayi yang berserakan di sekelilingnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Xavier, Sera malahan tertegun, matanya melahap sosok Xavier yang bermandikan kilau cahaya matahari pagi yang menyinari lelaki itu, masih ditambah dengan senyum lebarnya ketika membentangkan pakaian bayi berukuran mungil di tangannya sambil meminta pendapat Sera.


Xavier tampak seperti malaikat yang memberikan berkatnya kepada bayi-bayi tak berdosa di pagi hari dan pesonanya begitu memikat hingga membuat jantung Sera berdesir dan pipinya merona merah.


Astaga. Bagaimana bisa dia memiliki suami setampan ini?


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2