
***
Hai Beautiful Ladies,
Ini adalah 3 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.
Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.
MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN
Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.
Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN akan mulai bisa dilakukan di MANGATOON ( Untuk sekarang, sistem vote dengan poin baru bisa dilakukan di NOVELTOON )
Karena itu nanti setelah tanggal 25 November 2019 ketika sistem vote dengan poin di mangatoon sudah berlaku, author mohon dukungan sebanyak-banyaknya dengan memberikan POIN mu untuk vote novel Essence of The Darkness karya author ya.
Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :
1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis
2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin namamu by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing
3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request tulisan nama di tumblernya.
Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.
Regadrs and Love, AY
***
***
Anak itu duduk dengan tenang di atas sofa besar yang terletak di sepanjang dinding gazebo kaca berbentuk melingkar di tengah taman belakang rumah yang sangat luar. Sepoci teh hangat beraroma harum tampak mengepul panas dari poci porselen bercorak bunga warna pink yang berkilat indah, cangkir-cangkir tertutup diletakkan di sana di atas baki yang sama, seolah menunggu untuk dituangi cairan panas berwarna keemasan yang nikmat itu. Di atas meja yang sama, beberapa piring yang penuh berisikan kue kue buatan tangan tampak menggoda selera siapapun yang melihatnya.
Kue itu sepertinya dibuat oleh koki pribadi di rumah ini dan diperuntukkan bagi Nolan, mengingat banyaknya gula warna warni, lapisan cokelat dan permen di atasnya yang sudah pasti tampak menarik di mata anak-anak.
Elana mengawasi Nolan yang tampak duduk menunggu dengan gugup di samping Elios ketika langkah mereka semakin mendekat.Meskipun Akram mengatakan bahwa dia mengambil Nolan dari panti asuhan dengan niat buruk, tetapi lelaki itu tetap memperlakukan Nolan dengan sangat baik. Anak itu berpakaian rapi dan mahal, tubuhnya tampak sehat, bersih dan terawat. Bahkan potongan rambutnya pun sangat rapi, seperti anak-anak bangsawan kaya yang dibalut dengan segala kemewahan di tubuhnya.
Elios langsung berdiri begitu melihat Akram mendekat bersama Elana, gerakannya itu langsung diikuti oleh Nolan yang juga ikut beranjak berdiri di samping Elios, mengikuti gerakannya.Akram menghentikan langkah tepat di depan Elios dan Nolan, dan Elios langsung bergerak cepat untuk memperkenalkan lelaki itu pada Nolan.
“Nolan, Ini adalah Tuan Akram Night. Beliaulah yang telah mengambilmu dari panti asuhan dan menjadikanmu anak angkatnya,” Elios menjelaskan perlahan, tak lupa menempelkan sikap sopan penuh hormat di dalam nada kalimatnya.
Nolan harus mendongakkan kepala karena Akram Night menjulang begitu tinggi di atasnya. Dirinya begitu gugup, apalagi ketika matanya bersirobok dengan mata bening yang tajam layaknya mata elang itu. Tetapi, pendidikan yang diperolehnya di panti asuhan, telah berhasil menanamkan sikap santun dan disiplin di dalam jiwanya. Karena itulah, setakut apapun dirinya, dia tetap bisa mengulurkan tangan dan berucap dengan nada halus nan sopan.
“Te… terima kasih telah bersedia menjadi ayah angkat saya. Saya… saya akan belajar baik dan tidak mengecewakan Anda,” sahutnya dengan suara terbata, berusaha menunjukkan ketulusan nyata dalam suaranya.
Akram menganggukkan kepalanya, sedikit canggung. Sesungguhnya, Akram sangat tidak pandai menghadapi anak kecil, bahkan bisa dibilang dia sama sekali tidak berinteraksi dengan anak kecil sekalipun sepanjang usianya hingga saat ini. Jika ada keadaan yang mengharuskannya berinteraksi dengan anak kecil, dia akan langsung menghindar dan meminta Elios menghadapinya. Kebetulan, Elios sangat berbanding terbalik dengan dirinya. Elios dibesarkan di panti asuhan dimana dia hidup bersama dengan adik-adik asuhnya yang masih kecil, karena itulah dia memiliki keahlian alami untuk mengasuh anak-anak.
“Bagaimana nilaimu di sekolah?” setelah memikirkan pokok pembicaraan, Akhirnya Akram menemukan pembahasan yang menarik.
“Nolan mendapatkan ranking satu lagi di tengah semester ini,” kali inilah Elios yang membalas, tanpa bisa menyembunyikan nada kebanggaan di dalam suaranya. Ya, setiap akhir pekan dia memang sering menghabiskan waktunya di rumah ini dan membantu Nolan belajar, usahanya tak sia-sia karena Nolan yang memang cukup pandai, jadi berhasil meraih nilai hampir sempurna di semua mata pelajaran.
“Wah kau hebat sekali,” Elana tak bisa menahan diri untuk bersuara, entah kenapa begitu melihat wajah Nolan dari dekat, rasa sayang langsung muncul di dalam hatinya. Anak ini sangat tampan, dan ternyata juga pandai, dirinya sebagai seorang kakak, tentu saja dipenuhi oleh rasa bangga.
__ADS_1
Nolan yang sedari tadi menjaga pandangannya, langsung mendongak begitu Elana bersuara. Tatapan matanya dipenuhi oleh rasa ingin tahu ketika dia akhirnya memberanikan diri bertanya layaknya anak-anak yang masih polos.
“Anda…. Istri dari Tuan Akram?” tanyanya langsung, menebak salah tetapi telak.
Akram kehabisan kata-kata, begitupun Elana. Hanya Elios yang dengan sigap mengambil alih situasi setelah berdehem menyembunyikan kegugupannya.
“Nona Elana ini… beliau adalah calon istri Tuan Akram,” sahut Elios cepat, memberi penjelasan pada Nolan yang mengangguk-angguk mencerna kalimat Elios.
“Oh… kalau begitu Anda akan menjadi ibu angkatku...,” sahut Nolan dengan nada cerdas.
Elana tak bisa menahan diri untuk terkekeh mendengar kalimat Nolan yang sangat polos. Dia sedikit membungkuk, ingin lebih dekat dengan anak itu dan berucap dengan nada ceria.
“Aku mungkin terlalu muda untuk menjadi ibumu. Tapi kau bisa memanggilku dengan sebutan kakak,” ucap Elana bersahabat, “Panggil saja aku kakak Elana,”
Akram melirik ke arah Elana dan langsung menyimpan ekspresi ceria yang muncul di wajah perempuan itu. Senyum Elana lebar, dan matanya berbinar, membuat perempuan itu tampak begitu cantik di matanya. Kalau dengan membawa Elana menemui Nolan bisa membuat perempuan itu sebahagia ini, Akram tidak akan keberatan menekan rasa posesifnya dan menyisakan sedikit waktu di akhir minggu supaya Elana bisa menghabiskan waktunya dengan Nolan.
“Elios, ada yang ingin kubicarakan menyangkut pekerjaan. Kau bisa ikut aku sebentar?” dengan bijaksana, Akram sengaja memberikan ruang bagi Elana untuk bercakap-cakap dengan Nolan secara pribadi dan lebih mengenal dekat dengan adiknya itu. Tatapan matanya penuh isyarat ke arah Elios, menyuruh lelaki itu mengangguk setuju supaya mereka bisa meninggalkan kakak beradik itu berduaan.
Tentu saja, sebagai seorang asisten yang baik, Elios langsung memahami isyarat yang diberikan oleh Akram, dia langsung menganggukkan kepala dan melangkah mengikuti Akram meninggalkan gazebo itu.
***
***
Hujan deras tampaknya masih ingin menerjunkan dirinya ke bumi dan menghujaminya dengan percikan air basah bercampur hawa dingin yang dibawanya. Sudah beberapa jam berlalu sejak Akram meninggalkan Elana bersama Nolan sendirian, dan tampaknya perempuan itu begitu menikmati waktunya bersama adiknya.
Dua kakak beradik itu langsung akrab seketika, Elana tampak menuang teh untuk Nolan dan memakan kue bersama, mereka tampak mengobrol dan tertawa bersama, bahkan suara tawa mereka sampai terdengar menembus hujan hingga menyentuh ruang kerja Akram yang saat ini dibuka jendelanya, supaya Akram bisa melihat dengan jelas ke arah gazebo itu.
Akram melirik ke arah Elios yang tengah mempelajari data awal yang diberikan oleh Xavier menyangkut kebocoran dana keuangan perusahaan. Dia lalu mengalihkan pandangannya dari keakraban kakak beradik itu, dan memusatkan perhatiannya kepada Elios kembali.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya perlahan, memasukkan kedua tangannya di saku dan menyandarkan tubuhnya dengan kaki tersilang di bingkai jendela.
“Setelah melihat data ini, saya baru menyadari bahwa siapapun yang bergerak untuk memanipulasi sistem keuangan sehingga kebocoran ini tak terlacak, memiliki metode yang sangat canggih. Kalau bukan Xavier yang menyajikan data dengan kecerdasan mengerikan ini, kita tidak akan pernah tahu kalau uang kita telah dicuri dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.”
Akram menganggukkan kepala.
“Aku sebenarnya tak menyangka kalau masuknya Xavier ke perusahaan kita akan membawa hal baik. Tetapi rupanya, kali ini, dia benar-benar berniat membantu,” Akram menyipitkan mata geram. “Credence akan membantu Xavier untuk menampilkan bukti legal yang bisa dibawa ke pengadilan, bukan hanya temuan data yang sulit dicerna. Dan direktur keuanganku, tentu saja akan ditindak dengan cara yang semestinya. Tetapi, sebelum itu semua terjadi, aku ingin kau bergerak dan melakukan penyelidikan. Karena, hal ini tidak mungkin hanya dilakukan oleh satu orang saja. Ada yang mendukung di belakang Direktur Keuanganku, dan aku yakin, dia pasti adalah orang yang memiliki kekuatan, mengingat dia berani melawanku.”
“Saya akan melakukannya, Tuan.” Elios menganggukkan kepala cepat.
Akram melirik jam tangannya. “Sudah sore menjelang malam. Bukankah ini waktunya Nolan istirahat? Aku juga akan membawa Elana pulang. Terima kasih karena sudah datang dan membantu,” sahut Akram tenang sambil melangkah keluar ruang kerjanya, hendak menghampiri Elana.
***
***
“Elana,”
Akram melirik ke arah Elana yang tertidur di kursinya. Perjalanan pulang ke rumah memang membutuhkan waktu lebih panjang dari pada perjalanan mereka berangkat ke rumah tempat Nolan tinggal di pinggiran kota tadi. Itu semua karena ini sudah menjelang akhir pekan, dan di akhir pekan, orang-orang tampaknya mulai berhamburan keluar rumah untuk mencari hiburan demi menghilangkan penat setelah lima hari bekerja keras. Hal itulah yang membuat jalanan menjadi macet dan penuh sesak oleh kendaraan sehingga membuat perjalanan mereka pulang hampir dua kali lebih lama dibandingkan sebelumnya.Mobil mereka terparkir di tempat parkir sebuah restoran mewah yang telah direservasi oleh Akram sebelumnya. Dia memang berniat membawa Elana makan malam di sini sebelum pulang, karena ada menu steak lezat yang dia tahu pasti akan disukai oleh perempuan itu.
Lagipula, Akram merasa kesehatannya sudah membaik. Demamnya tak datang lagi begitupun dengan pusingnya. Dan setelah kemarin merasa mual sehingga tidak bisa makan dengan benar, kali ini dia merasa lapar.
Elana sendiri tampak tertidur pulas di kursi sebelah Akram. Perempuan itu jelas kelelahan dan langsung lelap ketika mobil mereka tertahan di tengah kemacetan selama hampir tiga jam perjalanan. Tetapi bagaimanapun, Elana harus makan. Karena itulah Akram menggerakkan tangannya perlahan untuk mengguncang lembut bahu perempuan itu dan berusaha membangunkannya.
“Elana, bangunlah,” ujar Akram lembut, berusaha menembus alam mimpi Elana dengan suaranya.
Dan dia berhasil, mata Elana tampak mengerjap, lalu perempuan itu membuka mata. Semula tatapannya tampak berkabut, seolah dia masih belum mendapatkan kesadarannya sepenuhnya. Tetapi kemudian, matanya bertemu dengan mata Akram dan Elana langsung menyadari situasi.
“Akram?” Elana menyebut nama Akram tanpa sadar, lalu pipinya langsung memerah karena malu. “Aku… aku ketiduran,” ketika dalam perjalanan tadi Akram menyalakan musik yang menenangkan, tanpa sadar Elana terdorong untuk memejamkan mata dan tiba-tiba saja sudah tenggelam di alam mimpi. Astaga… berapa lama dia tertidur? Apakah Akram dengan bebas melihat ekspresinya ketika tidur tadi? Apakah mulutnya ternganga? Apakah dia mengorok? Apakah air liurnya meleleh keluar?
__ADS_1
Demi memikirkan itu, tangan Elana langsung bergerak ke bibirnya dan dia langsung bersyukur ketika menemukan tak ada air liurnya yang terpercik dari bibirnya.
Akram sendiri mengawasi ekspresi Elana dan hampir-hampir tak bisa menahan tawanya ketika dia bisa menebak dengan jelas apa yang berkecamuk di dalam kepala mungil perempuan itu di balik pipinya yang merona merah.
Hasratnya untuk menggoda Elana langsung tercipta, membuatnya mengangkat sebelah alis ke arah perempuan itu.
“Aku tadi mengambil gambar,” bisiknya dengan nada sensual bercampur tawa.
Mata Elana langsung membelalak lebar.
“Gambar apa?” tanyanya terkejut.
“Gambar kau sedang tidur dengan mulut terbuka,” sahut Akram cepat.
Seketika Elana terkesiap, tangannya bergerak menutup mulutnya, sementara rona merah semakin memenuhi wajahnya yang panas.
“Astaga… astaga…. Kau mengambil gambarku?” Elana mengulang seolah tak yakin, ekspresinya tampak syok bercampur malu.
Keterkejutan Elana membuat Akram merasa tak tega, dengan lembut lelaki itu meraih kepala Elana, lalu mengusapnya sayang.
“Aku cuma menggodamu, kenapa kau semalu itu? Rona merah bahkan menyebar hingga ke pundakmu,” Akram tersenyum lebar. “Lagipula tidak ada yang salah dengan gaya tidurmu di kursi tadi, mulutmu memang sedikit terbuka dan ada dengkuran halus dari sana, tapi kau tetap cantik di mataku,” godanya terkekeh.
“Akram!” Elana tak bisa menahan dirinya untuk berseru, merasa kesal sekaligus masih diliputi rasa malu.
Tawa Akram masih terdengar ketika dia berucap kemudian.
“Kenapa harus malu? Toh di masa depan nanti, kemungkinan besar kau akan menghabiskan seluruh waktu tidurmu dengan mendengkur di pelukanku,” sambungnya dengan nada sensual yang kental. Lelaki itu telah melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Elana, lalu menarik tubuh perempuan itu sehingga kepala mereka berdekatan. “Meskipun nanti… aku bisa menjamin kalau kita tidak hanya akan tidur di atas ranjang,” ucapnya merayu sebelum kemudian tangannya bergerak meraih dagu Elana dan mendekatkan bibir perempuan itu untuk dilumatnya.
Bibir Elana selalu terasa begitu manis dan nikmat dalam lumatan bibirnya. Rasa itulah yang membuat Akram merasa ketagihan untuk mencecap kenikmatan rasa dari ciuman mereka tanpa henti. Satu ciuman berubah menjadi lumatan penuh hasrat yang sangat sulit untuk dihentikan.
Sementara, hampir saja Akram terbawa nafsu serta hendak mendorong tubuh Elana ke jendela sebelum bergerak menindihnya, kalau saja perut Elana tidak berbunyi tiba-tiba, menandakan kalau perempuan itu sedang kelaparan.
Akram membeku, menghentikan gerakan bibirnya yang sedang melumat bibir Elana dan kemudian tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Tubuhnya berguncang karena tawa, sehingga membawa Elana yang masih ada di peluknya ikut berguncang bersamanya.
“Kau sepertinya senang sekali menertawakanku,” Elana berucap dengan nada setengah merajuk, menatap Akram dengan pandangan mencela.
Akram terbahak, tak bisa menahan dirinya untuk tertawa begitu lepas, entah sudah berapa lama sejak terakhir kali dia bisa tertawa seperti ini. Elana benar-benar perempuan ajaib, yang berhasil membuatnya merasakan beribu macam perasaan komplek yang sebelumnya dia tak tahu bahwa dia mampu merasakannya.
“Perutmu itu pandai sekali memilih waktu untuk menyatakan protesnya,” ucap Akram di sela sisa tawanya, tersenyum lebar menatap ke arah Elana yang merajuk di dalam peluknya. “Beruntung aku adalah orang yang memahami skala prioritas. Untuk saat ini, aku akan memenuhi kebutuhan perutmu dulu. Jadi, kita akan makan lezat malam ini, kau pasti suka,” ujar Akram bersemangat.
Ucapan Akram itu membuat Elana menolehkan pandangan ke depan kaca jendela, dan tatapannya langsung melihat ke arah bagian depan restoran mewah yang terbentang indah di hadapan mereka.
Elana langsung mendongakkan kepala, menatap ke arah Akram dengan gugup.
“Ki… kita akan makan di sana?” Elana berucap tak yakin. “Tapi… tapi itu restoran mewah… dan pakaianku….”
Elana menunduk menatap gaun yang dipakainya. Karena gaun itu dibelikan oleh Akram, sudah pasti itu adalah gaun mahal rancangan desainer terkenal. Meskipun begitu, gaun itu sudah dipakai oleh Elans sejak siang sebelum dia menemui Nolan tadi sehingga agak lecek di sana sini, belum lagi dia memakainya duduk di mobil ini selama hampir tiga jam tertidur dalam perjalanan pulang tadi.
Elana tahu kalau restoran terkenal dan mewah seperti itu selalu penuh dengan perempuan-perempuan yang berdandan mewah untuk mempesona teman makan mereka dan mau tak mau mata Elana langsung menelusuri penampilan Akram yang tentunya bertolak belakang dengan dirinya. Lelaki itu memiliki kesempurnaan penampilan yang sudah tentu akan membuat iri orang-orang yang tak beruntung. Ada aura kuat di diri Akram yang membuatnya tampak elegan dan luar biasa tampan, bahkan ketika dia hanya mengenakan kemeja dan celana yang bukan diperuntukkan untuk acara formal.
Dengan gaunnya yang seperti ini dan penampilanya yang tak berdandan sama sekali, apakah dia pantas memasuki restoran itu bersama dengan Akram? Atau jangan-jangan, dia malahan akan membuat malu Akram?
***
***
***
__ADS_1