Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 4C: Cahaya Hati


__ADS_3


 


“Kenapa kau berjalan kaki?”


Xavier mengangkat kaca mata hitamnya dan membuka kaca jendela mobilnya yang berjalan lambat melalui jalan besar yang menjadi jalan utama di komplek perumahan mewah itu. Matanya yang indah tertuju pada Anastasia yang tampak susah payah berjalan di trotoar jalan dengan sepatu hak tingginya.


Perempuan itu tampak berantakan dan kesal, tetapi ketika dia menolehkan kepala ke arah sosok yang menyapanya, matanya melebar berisi keterkejutan bercampur kekaguman.


Ya, bukan hanya Akram yang tumbuh menjadi sosok memesona di dalam keluarga Night. Xavier Night juga tumbuh dengan keindahan fisik dan wajah yang bisa membuat para malaikat tersaingi. Lelaki itu sekarang bahkan menambahkan ketampanan wajahnya dengan senyuman manis hingga membuat siapapun yang berhadapan dengannya langsung meleleh karenanya.


“Aku…” Anastasia tersipu, memasang senyumnya yang paling cantik. “Mobil kami mengalami kendala di rumah, dan karena tidak sembarang kendaraan bisa masuk ke dalam komplek ini, aku memilih untuk berjalan kaki ke gerbang depan di mana taxi yang kupesan sudah menunggu,” jawabnya perlahan dengan suara dibuat sangat lembut.


Perumahan mereka memang dijaga sangat ketat. Hanya kendaraan berlisensi dan sudah didaftarkan sebelumnya yang boleh masuk ke dalam. Jadi, karena Anastasia memesan taksi secara mendadak, otomatis taksi itu hanya bisa menunggu di gerbang komplek dan tak bisa masuk lebih jauh.


Xavier sendiri tertawa dalam hati melihat Anastasia yang tampaknya tak menyadari bahwa rusaknya mobil-mobil di rumah Anastasia terjadi atas campur tangan dirinya.Ya, Xavier tidak mungkin mendekati Anastasia di rumah. Mendekati perempuan ini secara kebetulan, meskipun itu adalah manipulasinya, adalah cara terbaik untuk memulai rencananya.


“Berjalan di bawah terik matahari ini tidak cocok untuk perempuan secantik dirimu. Ayo masuklah, aku akan mengantarmu,” ucap Xavier dengan nada ramah.


Ketika Anastasia tampak ragu, Xavier terkekeh perlahan dan kembali membujuk.


“Ayolah, bukankah kau berteman baik dengan Akram dan keluarga kita sudah kenal akrab? Kau tak perlu merasa sungkan denganku.”


Suara Xavier yang lembut ditambah dengan wajah tampannya rupanya adalah senjata yang ampuh untuk meluluhkan hati perempuan manapun, Anastasia bukanlah pengecualian. Meskipun dia memiliki Akram yang luar biasa dalam genggamannya, tetap saja, pesona Xavier terlalu menggoda untuk ditolak.


Perempuan itu dengan senang hati langsung masuk ke dalam mobil Xavier dan membiarkan lelaki itu mengantarkannya kemanapun dia mau.


Keberhasilan sekali lagi seolah menjadi takdir Xavier. Sesuai dengan rencananya, pertemuan tak sengaja yang direncanakannya itu menjadi jalan baginya untuk merebut hati Anastasia dan membuktikan bahwa perempuan itu hanyalah jalang yang tak setia.


Hanya perlu beberapa kali pergi bersenang-senang untuk kencan di belakang punggung Akram, dan hanya dengan beberapa hadiah mahal yang romantis, Anastasia akhirnya menyerah pada rayuan Xavier dan memberikan sepenuhnya jiwa dan raganya yang ternyata tak murni lagi, tak peduli bahwa status Anastasia pada waktu itu adalah kekasih Akram.


Dengan kejam, Anastasia berselingkuh di belakang Akram yang begitu setia dan tergila-gila kepadanya. Perempuan jalang itu bahkan tanpa rasa berdosa berkali-kali menyerahkan tubuhnya untuk ditiduri oleh Xavier, mengumbar ketidaksetiaannya sampai pada tahap menjijikkan yang membuat Xavier harus menahan muak setiap kali merayu dan menidurinya.


 



 


Xavier Night selalu berhasil menjalankan rencananya. Semua sudah diatur dengan rapi sehingga dia hampir tidak mungkin menemui kegagalan. Tetapi, setelah beberapa bulan dia mengorbankan diri untuk terus menerus merayu Anastasia supaya jatuh ke dalam pesonanya dan meninggalkan Akram, malam ini Xavier akhirnya berhadapan dengan apa itu kegagalan.


Di dalam kamar hotel tempat mereka bercinta sebelumnya, Anastasia yang masih tak berpakaian di balik selimutnya mengungkapkan informasi yang membuat Xavier terkejut luar biasa.


“Akram akan melamarku. Dia bahkan sudah membeli cincin tadi pagi,” Anastasia tersenyum lebar tanpa rasa bersalah, menatap ke arah Xavier dengan berbangga diri. “Akram sungguh menggemaskan, kau lihat bagaimana dia begitu tergila-gila kepadaku, bukan?”


Meskipun wajahnya sedikit memucat karena mengutuk kebodohan Akram yang begitu dalamnya terjerumus ke dalam pesona palsu perempuan jalang di depannya ini, Xavier berusaha menguasai diri dan memasang seringai di bibirnya.


“Dan kau, apakah kau akan tetap menikahinya meski kau tidak mencintainya?” tanyanya lambat-lambat, penuh dengan rasa ingin tahu.


Anastasia tergelak, tatapan matanya berubah merayu ketika lengannya mengelus lengan Xavier yang berbaring di sebelahnya.


“Kalau boleh memilih, aku pasti akan memilihmu. Kau luar biasa tampan dan kau sangat pandai bercinta…. Tapi sayangnya, aku tidak mungkin bisa menikahimu. Keluargaku sangat ingin aku menikahi Akram Night. Dia adalah pewaris Night Corporation, sementara kau hanyalah anak angkat.”


Anastasia menatap Xavier dengan kedipan menggoda, “Bukannya aku mengejekmu, aku hanya mengungkapkan kenyataan, sayang. Bahkan, sebenarnya aku bosan berpacaran dengan Akram Night yang sangat polos dan tidak tahu bagaimana menyenangkan wanita, dia gugup bahkan ketika kami hanya berciuman saja sehingga tidak bisa mencium dengan benar,” Anastasia mendesahkan suaranya dengan sensual. “Tidak seperti dirimu. Kau… luar biasa,”


Xavier menipiskan bibir, menahan rasa jijik di dalam jiwanya.


Demi Akram dia bersedia meniduri perempuan jalang ini. Dan sekarang, Anastasia malahan menjelek-jelekkan Akram di belakangnya?


“Kalau begitu, aku berasumsi bahwa kau akan menikahi Akram, segera. Jika memang itu terjadi, apakah kau berniat menjadi istri yang setia dan memutuskan hubungan denganku?” tanyanya perlahan.


Sekali lagi Anastasia tergelak geli, seolah-olah pertanyaan Xavier itu begitu lucu untuk diterimanya.


“Aku sama sekali tidak berniat menjadi istri yang setia. Itu semua karena dirimu, Xavier. Jika aku menikah dengan Akram dan menjadi Nyonya Night nanti, itu berarti aku akan tinggal di rumah megah keluarga Night, tempat kau tinggal juga,” suara Anastasia merendah penuh rayuan. “Aku membayangkan betapa menyenangkannya jika kita bisa menyelinap pada malam-malam penuh rahasia untuk bercinta. Kau juga pasti tak keberatan, bukan?”


Xavier hanya diam. Tetapi pada malam itu, rasa jijik, muak, dan kemarahan yang selama ini ditahannya begitu memuncak hingga membuat darahnya mendidih tak terkendali.


Hingga di titik dirinya meledak, Xavier akhirnya tak mampu mengendalikan logikanya lagi. Dia akhirnya menghubungi para penjahat di dunia hitam yang sudah dia selami diam-diam, mencari orang-orang yang bersedia bersekutu dengannya demi uang, dan membayar mereka untuk menghancurkan Anastasia hingga sehancur-hancurnya.


 



 


Keputusan yang diambil oleh Xavier menimbulkan malapetaka beruntun yang menggoncangkan keluarga mereka.

__ADS_1


Para penjahat yang disewanya menculik Anastasia, mereka bukan hanya menyekap dan menghajarnya, mereka bahkan melecehkannya hingga ketika polisi menemukan tubuh Anastasia keesokan harinya, perempuan itu jatuh dalam kondisi koma dan tak sadarkan diri.


Akramlah yang paling terpukul dengan peristiwa itu. Dan tidak membutuhkan waktu lama bagi Akram untuk menjatuhkan tuduhannya kepada Xavier sebagai dalang dari insiden mengerikan yang menimpa kekasih dan cinta pertamanya itu.


Xavier tidak membantah, dan itu membuat Akram naik darah hingga meluapkan seluruh kebencian dan rasa tertekannya yang dipendamnya selama ini. Akram merangsek ke arah Xavier yang tak melawan, memukuli dan menghajarnya sekuat tenaga tanpa penolakan dari Xavier, dan mungkin bisa membunuh Xavier kalau saja Baron dan Marlene tidak menahannya.


Semua umpatan kebencian yang kasar terlontar dari bibir Akram untuk Xavier ketika Baron menghelanya pergi dan memisahkan dua kakak beradik yang berpunggungan karena salah paham itu. Akram bahkan mengutuk Xavier supaya mati saja dan enyah dari kehidupannya.


Lalu seolah itu belum cukup buruk, keesokan paginya, ketika Anastasia mendapatkan kesadarannya dan mengingat kembali segala hal buruk yang merusak tubuh dan reputasinya, perempuan itu gelap mata dan memutuskan untuk menggantung dirinya di kamar perawatan rumah sakit, kehilangan nyawanya tanpa sempat mengucapkan kata terakhirnya kepada siapapun.


Kematian Anastasia benar-benar membuat Akram terpuruk. Lelaki itu hancur secara mental hingga seolah kehilangan harapan hidup. Hal itulah yang membuat Baron akhirnya memutuskan bahwa dia tidak akan tinggal diam lagi.


Sudah cukup. Harus ada yang menghentikan Xavier sebelum lelaki itu menjadi gila dan membantai semua makhluk hidup yang ada di dekat Akram.


 



 


“Aku tidak ingin melakukan ini. Tapi untuk kali ini, kau sudah keterlaluan Xavier. Aku tidak punya pilihan lain,” dengan sikap tegas tetapi tak menyembunyikan penyesalan di matanya, Baron menyodorkan berkas bermaterai di meja dan menggesernya ke arah Xavier.


Xavier menunduk, mengambil berkas itu dan membacanya sekilas pandang. Dengan kemampuannya yang hebat, dia sudah bisa langsung menghapal setiap detail dalam surat perjanjian yang rumit itu.


Ada pengaturan warisan dari Baron Night dalam jumlah besar dan adil. Dan inti yang paling utama dari surat perjanjian itu, adalah persetujuan bahwa Xavier dicoret dari keluarga Night dan untuk kedepannya tidak berhak menyandang nama Night lagi di belakang namanya. Terdapat juga satu klausul bahwa Xavier tidak boleh lagi mendekati Akram Night dan jika melanggar dia akan berhadapan dengan pihak berwajib.


“Aku memberikan rumah besar dan aset untukmu. Aku juga memberikan sebuah bangunan laboratorium dengan peralatan canggih yang sangat lengkap karena aku tahu kau sangat berminat di bidang itu. Kau hanya perlu menandatangani surat perjanjian ini. Aku berani menjamin bahwa kau tidak dirugikan di sini,” Baron berucap dengan nada persuasif membujuk ketika dilihatnya Xavier hanya memandangi berkas di hadapannya tanpa bersuara.


Xavier mengangkat kepala, menatap Baron dengan ekspresi sedih.


“Pada intinya, kau sedang menyuapku supaya meninggalkan keluarga ini, bukan?” tanyanya dengan nada pedih.


Baron tertegun. Lelaki setengah baya itu menghela napas panjang, lalu menatap Xavier dengan tatapan penuh penderitaan.


“Kau tahu kenapa aku mengambil keputusan ini, Xavier. Aku memang berdosa kepadamu di masa lampau, tetapi aku telah menebusnya dengan merawat dan membesarkanmu dengan baik hingga sekarang kau bisa mandiri. Aku bahkan membekalimu lebih dari cukup untuk menunjang kemandirianmu. Yang kuminta hanyalah supaya kau membebaskan Akram,” mata Baron menyipit waspada, sikap tegasnya sebagai seorang pemimpin sukses membuatnya mampu mengendalikan diri dengan baik dan tidak hanyut dalam perasaan sentimentil terhadap Xavier. “Tentu saja jika kau menolak bekerjasama, aku akan menggunakan jalur lain yang lebih keras. Tapi, kau tahu bahwa aku tidak ingin melakukannya. Jika memang kau harus pergi dari keluarga ini, aku lebih memilih untuk melihatmu pergi dengan cara baik-baik.”


Xavier memasang senyum, topeng senyum yang sempurna untuk menutupi lukanya.


“Baiklah,” Xavier menjawab dengan nada ringan meskipun hatinya tersayat-sayat.


Tidak ada gunanya melawan. Toh dia akan selalu disalahpahami dan tidak diinginkan lagi di keluarga ini, bukan?


Mata Xavier langsung menangkap kelegaan di mata Baron ketika mendengar ucapannya. Hal itu kembali menorehkan luka di jiwanya, membuat hatinya berdarah-darah, terluka atas penolakan keluarganya terhadap kehadirannya.


Perlahan, tangan Xavier bergerak meraih pena yang telah disiapkan di meja, lalu dengan menahan gemetar di tangannya, dia menandatangani berkas itu. Setelahnya dia menyodorkan kembali berkas itu ke arah Baron, dan menatap ayah angkatnya itu dengan tatapan penuh luka.


“Pernahkah kau mencintaiku seperti anakmu, ayah?” tanyanya dengan nada bergetar.


Baron tertegun. Pandangannya yang tadinya fokus menatap berkas yang telah ditandatangani oleh Xavier langsung terangkat, dan matanya langsung bertemu dengan mata Xavier yang menyiratkan rasa sakit yang amat sangat.


Bibirnya terbuka, tetapi pada akhirnya, yang keluar dari sana adalah kejujuran.


“Aku pernah menyayangimu sebagai anakku sendiri. Tetapi… ketika kau berubah kejam dan mengerikan, aku merasa tak mengenalimu sebagai Xavier anakku lagi…”


“Aku mengerti,” Xavier menyela, menghentikan kalimat Baron sebelum dia tersakiti lagi. Dengan sigap, dia mengangkat tubuhnya supaya bangun dari kursi tempatnya duduk.


“Selamat tinggal ayah… ah kurasa sekarang aku tak bisa memanggilmu ayah lagi. Selamat tinggal, Tuan Night, aku tidak akan mengucapkan sampai jumpa lagi karena aku tahu bahwa kau lebih memilih tidak berjumpa denganku lagi.” Xavier sedikit membungkuk dengan hormat, lalu menggumamkan kalimat permisi sebelum membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar.


“Xavier.”


Suara ayahnya terdengar memanggil ketika tangan Xavier sudah hendak memutar kenop pintu ruang kerja ayahnya itu, membuat Xavier menghentikan langkah dan menoleh ke arah ayahnya dengan penuh harap.


Apakah… apakah ada kemungkinan kalau ayahnya berubah pikiran…?


Harapan itu sempat terbersit di dalam jiwanya. Tetapi, dengan segera Xavier menekannya.


“Nama belakangmu, aku lupa membahasnya. Karena kau sudah tidak bisa menggunakan nama Night sebagai nama keluargamu, kau harus segera menentukan nama belakangmu yang baru. Hubungi pengacaraku jika kau sudah menemukan nama yang kau inginkan. Pengacaraku akan membantumu untuk mengubah seluruh dokumen resmi yang berkaitan denganmu dan mengganti nama belakangmu dengan namamu yang baru di sana.”


Sembilu yang tajam kali ini bukan hanya mengoyak hati Xavier, melainkan bertambah menusuk-nusuknya hingga rasa nyerinya hampir membuat Xavier kehilangan keseimbangan.


“Jangan khawatir, Tuan Night. Aku akan segera menemukan nama baru,” ucapnya perih sambil melangkah pergi.


 



 

__ADS_1


Ketika keluar dari ruang kerja ayahnya, Xavier langsung berhadapan dengan Marlene yang tampaknya telah menunggu sejak lama di sana.


Ibunya yang mungil itu tampak menyedihkan, dengan wajah pucat yang penuh air mata, seolah-olah keputusan suaminya untuk membuang Xavier dari keluarga Night benar-benar menghancurkannya.


Kedua mata yang menyimpan perih itu saling bertatapan. Sampai kemudian, Marlene membuka kedua lengannya ke arah Xavier bersamaan dengan air mata yang basah membanjiri pipinya.


Pertahanan Xavier runtuh sudah. Lelaki itu menghambur ke pelukan ibunya. Lupa bahwa dia bukanlah anak kecil lagi dan sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa. Bahkan sekarang, bukan lagi Marlene yang memeluk tubuhnya yang rapuh, melainkan Xavierlah yang menenggelamkan tubuh ibunya yang mungil ke dalam pelukannya.


Kedua lengan Marlene melingkar di punggung Xavier, dan di titik itu, tubuh Xavier berguncang keras sebelum akhirnya dia menumpahkan tangisnya.


“Aku tidak bermaksud menyakiti Akram…” Xavier berucap di sela isaknya yang berbaur dengan suara parau. “Anastasia mengkhianati Akram di belakang punggungnya, dia bahkan berniat terus menyelingkuhi Akram ketika mereka menikah nanti… aku hanya ingin memberi Anastasia pelajaran, aku tak menyangka kalau akan begini….”


“Sshh…” Marlene mendesiskan isyarat penuh kasih sayang supaya Xavier berhenti berbicara, tangannya mengusap lembut punggung Xavier, berusaha menenangkan anaknya itu. “Ibu mengerti. Ibu selalu berprasangka baik kepadamu, tak perlu menjelaskan apapun kepada ibu,” bisik Marlene dengan suara gemetar penuh air mata.


Ibu dan anak itu saling meluapkan kepedihan, bertangis-tangisan dengan sendu berpadu pilu. Sampai akhirnya, Marlene menjauhkan sedikit tubuhnya dari pelukan Xavier, lalu menggunakan kedua tangannya untuk menangkup pipi Xavier, menghadapkan wajah Xavier yang menunduk untuk menatapnya.Marlene tersenyum meskipun pipinya penuh dengan air mata, menatap Xavier dengan kasih sayang seorang ibu yang nyata.


“Lihatlah dirimu sudah tumbuh dewasa. Ibu bahkan harus mendongak untuk menatapmu,” bisik Marlene penuh rasa haru. “Kau bebas pergi kemanapun kau mau, Xavier. Tetapi kau harus ingat bahwa meskipun di atas kertas hakmu direnggut tanpa kau bisa melawan, apapun yang terjadi aku akan selalu menjadi ibumu dan kau akan selalu menjadi anakku,” sambung Marlene dengan tulus. “Orang-orang selalu salah paham kepadamu. Tetapi bagi ibu, kau akan selalu menjadi cahaya dalam hidup ibu. Jadi, jangan terpuruk karena kejadian ini. Bertahanlah dan jadilah kuat karena ibu akan selalu mendoakanmu.”


Suara Marlene gemetar oleh gelombang tangis yang kembali datang, dan Xavier langsung memeluk ibunya sekali lagi untuk menenangkannya. Sebuah pelukan perpisahan yang manis karena meskipun raga mereka dipisahkan, kasih sayang di antara mereka tetaplah satu.


Xavier lalu mengecup dahi ibunya dengan sayang, memasang senyumnya meskipun wajahnya sembab penuh air mata.


“Aku akan selalu menjadi cahaya dalam hidup ibu. Aku berjanji,” lirih Xavier mengucap janji. Lalu setelah berhasil menguatkan hati, Xavier melepaskan ibunya dan berbalik pergi, melangkah meninggalkan rumah keluarga  Night yang kini bukanlah rumahnya lagi.


Ibunya ingin dirinya selalu menjadi cahaya yang menerangi hatinya, dan Xavier bertekad akan melakukannya.


Pada saat itu, Xavier langsung tahu, nama apa yang bisa disematkan sebagai nama belakangnya yang baru.


Light yang berarti cahaya.


Nama itu memiliki ritme pengucapan yang hampir serupa dengan namanya yang lama dan memilik arti seperti doa yang disematkan ibunya kepadanya.


Ya, berubah nama dari Xavier Night menjadi Xavier Light, ternyata tidak terlalu buruk baginya.


Siapa yang tahu kalau namanya itu nanti menjadi sebuah doa untuknya supaya dia bisa menemukan cahaya terang dalam hidupnya gelap ini?


 



 


N.O.T.E.D


Sorry


Episode 4 ternyata terlalu panjang untuk dijadikan 1 part karena terdiri dari 8000 words, jadi author memecahnya menjadi 3 bagian, episode 4A, 4B dan 4C , supaya tidak terlalu panjang loadnya ketika baca dan malah eror nantinya.


Selesai sudah kita mengulas masa lalu Xavier dalam kisah yang panjang. Episode selanjutnya, tentu saja kita akan berjumpa dengan Xavier di masa sekarang. See You!



Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


 


 


 


 


 


 



Regards, AY

__ADS_1


 


 


__ADS_2