Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 70 : Menghangatkan Hati


__ADS_3

“Kita akan kemana?”


Sera menoleh ke arah Xavier di dalam mobil yang tengah melaju. Mobil itu telah mengarah ke pusat kota dan mulai menembus kemacetan jalan raya di jalur protokol yang mulai ramai oleh para pengendara yang beraktivitas menjelang siang. Beberapa kali kendaraan yang mereka tumpangi sempat tersendat di tengah kemacetan, beruntung supir mereka yang berpengalaman sepertinya memiliki keahlian bermanuver untuk menyelip ke sana kemari sehingga mereka berhasil menembus beberapa titik kemacetan yang menghalangi tersebut.


Sekarang, mobil mereka mulai memasuki area parkir pada sebuah pusat perbelanjaan termegah dan terbesar yang terletak di jantung ibukota yang sangat terkenal ini.


Sera beberapa kali menoleh ke arah bangunan besar di depannya itu sebelum kemudian menatap Xavier kembali, menanti jawaban atas pertanyaanya. Sebenarnya, kehamilannya masihlah sangat muda, perutnya juga belum membuncit benar. Tetapi, bayangan bahwa dia akan berbelanja perlengkapan bayi, terasa sangat menyenangkan dan menumbuhkan rasa antisipasi penuh kebahagiaan yang tak bisa ditahannya.


Sekeras apapun hidupnya di masa lampau, sekejam apapun siksaan yang diterimanya saat dia remaja di bawah kuasa Keluarga Dawn, Sera tetaplah seorang perempuan biasanya dengan naluri keibuannya yang sangat kuat. Bayangan memilih benda-benda mungil berwarna lembut untuk buah hatinya, entah kenapa membuat dadanya mengembang oleh rasa senang tak terkira.


Binar ceria di mata Sera itu tentu saja tak lolos dari pengamatan Xavier yang tajam. Kebahagiaan Sera menular, membuat Xavier dengan sukarela melepaskan seluruh beban pikirannya yang rumit dan bersedia ikut bersama Sera untuk bersenang-senang bersama.


“Ketika kau mandi tadi, aku sudah menelepon Elana untuk menanyakan butik langganannya tempat dulu dia berbelanja barang-barang Zac. Butik itu memiliki beberapa cabang di kota ini, tetapi kata Elana tadi, yang berada di dalam pusat perbelanjaan inilah yang paling lengkap. Aku sudah sempat mencari informasi tadi dan kurasa butik itu memiliki kredibilitas baik untuk menyediakan segala perlengkapan bayi berkualitas tinggi." Tangan Xavier bergerak dan meraih tangan Sera, lalu menjalinkan jemarinya ke sela jari Sera dan meremas pertautan mereka dengan lembut. “Kau setuju untuk memilih yang terbaik bagi anak-anak kita, bukan? Anak-anak ini sangatlah berharga.”


Sera menatap ekspresi lembut Xavier dan dia menganggukkan kepala menyetujui. Meskipun begitu, ada denting tanya yang berulang konstan di dalam kepalanya. Xavier mengatakan bahwa anak-anak yang berada di dalam kandungannya sangatlah berharga.


Apakah Xavier menghargai anak-anak itu sebagai buah hatinya dan sebagai seorang ayah dengan naluri kebapakannya, ataukah Xavier hanya menghargai anak itu sebagai persambungan genetiknya sekaligus makhluk yang menyediakan sel punca untuk menyelamatkan nyawanya?


Pertanyaan Sera itu tentu hanya diucapkan di dalam hatinya saja, tak berani dia mengutarakannya karena dia tahu bahwa pertanyaan itu hanya akan memicu konflik antara dirinya dan Xavier dan akan membuat hubungan mereka berdua yang sudah mulai melunak menjadi menajam kembali. Sera mengerti bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memicu konflik, dia sungguh tak ingin merusak suasana damai yang terasa menyenangkan antara dirinya dengan Xavier ini.


Tak lama kemudian, pikiran mereka berdua teralihkan ketika mobil yang mereka kendarai berhenti di lobby besar pusat perbelanjaan tersebut, sebelum kemudian sang supir melangkah turun dari kursinya dan bergegas membukakan pintu untuk tuannya.


Xavier menoleh ke arah Sera, tersenyum menyeringai dengan sikap meminta maaf.


“Pusat perbelanjaan ini bukanlah milikku, jadi aku tidak memiliki akses khusus untuk memasukinya. Kita terpaksa masuk dari pintu utama biasa. Kau tidak keberatan, bukan?”


Sera menganggukkan kepala dan mengerutkan keningnya saat matanya menatap penuh rasa ingin tahu ke arah Xavier.


“Aku tidak apa-apa. Bukankah… bukankah itu lebih menjadi masalah bagimu?” tanyanya kembali.


Meskipun mereka baru dekat beberapa waktu terakhir sendiri, tetapi Sera telah mempelajari tentang Xavier selama bertahun-tahun. Dia tahu bahwa Xavier Light, meskipun memiliki pesona bersinar yang menyilaukan banyak orang di sekelilingnya, ternyata memiliki kepribadian tertutup yang introvert. Sangat susah menemukan foto-foto Xavier di area publik karena lelaki itu hampir tak pernah memunculkan dirinya di tempat umum.


Foto-foto tentang Xavier Light yang terkenal sebagai si jenius di dunia bisnis, hanya bisa ditemukan di gambar yang diambil saat pertemuan bisnis tertutup, atau di foto-foto yang diambil oleh paparazzi secara sembunyi-sembunyi pada saat Xavier tidak menyadarinya. Bahkan saat pertama kali Xavier mengundang Sera untuk makan malam di sebuah restoran berbintang pun, lelaki itu memilih ruangan privat yang tertutup dari pandangan tamu-tamu lainnya.


Xavier menyeringai sambil mengangkat bahu ketika mendengar pertanyaan Sera kepadanya itu.


“Yah, memang terasa sedikit tidak nyaman. Aku tidak suka dipandang, tetapi semua orang selalu memandangiku jika aku muncul di tempat-tempat semacam ini. Kuharap kau tidak terganggu jika nanti hal itu terjadi.”


Jika orang lain yang mengatakannya, mungkin mereka akan tampak menyombongkan diri. Tetapi, jika Xavier yang mengatakannya, entah kenapa kesan yang ditampilkannya lebih tampak seperti penuh penyesalan.


Menjadi pusat perhatian orang tak dikenal di keramaian sudah pasti terasa tak menyenangkan.


Sera tak bisa menahan diri untuk tidak merasa iba. Sekarang, barulah dia bisa sedikit memahami kenapa Xavier suka menghindari keramaian.


Lelaki itu tersenyum ketika matanya mengawasi Sera dan mengetahui rasa iba yang tercermin di sana. Xavier lalu melangkah turun dari mobil dan membungkuk di sana sambil mengulurkan tangannya ke arah Sera.


“Ayo. Kurasa kita harus menghadapinya demi bayi kita,” ajaknya kemudian dengan suara terkekeh.


***


Benar apa yang dikatakan oleh Xavier. Ketika mereka masuk lewat lobby raksasa pusat perbelanjaan yang langsung menghubungkan mereka ke area dalam aula lantai satu yang sangat luas dan penuh dengan manusia-manusia yang menghabiskan waktunya di sana, semua mata langsung memandang ke arah mereka, seolah-olah mereka tersihir oleh aura ketampanan lelaki itu yang bisa dibilang tak manusiawi.


Bahkan bagi Sera yang tidak menerima tatapan itu secara langsung, pandangan mata manusia-manusia itu seolah menghujam dan membuatnya tak nyaman. Tatapan itu begitu lekat, seolah-olah mata-mata manusia itu dimantrai oleh sihir sehingga mereka tak mampu melepaskan pandangan mata dari Xavier.


Sera tak bisa menahan diri untuk tak melirik ke arah Xavier, dia menyadari bahwa lelaki itu memasang wajah tanpa ekspresi seperti robot, bahkan Xavier sama sekali tak berkedip ketika ada salah satu dari orang-orang itu yang tanpa malu-malu mengambil gambarnya dengan menyalakan lampu flash kamera ponselnya yang menyilaukan.


Sera tahu bahwa Xavier sebenarnya ingin cepat-cepat pergi dari keramaian itu, tetapi lelaki itu tak mempercepat langkahnya ketika menyeberangi aula luas yang harus mereka tempuh untuk menuju area lift itu, karena Xavier menjaga Sera supaya tidak melangkah terlalu cepat demi kehamilannya.


Sikap Xavier tersebut menyentuh hati Sera, seolah-olah Xavier tengah mengorbankan dirinya demi kepentingan Sera. Karena itulah, secara impulsif Sera merangkulkan tangannya di lengan lelaki itu dan menarik perhatian Xavier supaya menunduk sambil menatap penuh rasa ingin tahu ke arahnya.


“Ada apa?” Xavier mengucapkan pertanyaannya dengan nada lembut, tidak menolak rangkulan Sera di lengannya.


“Kau bisa berjalan lebih cepat,” bisik Sera pelan. “Bukan masalah untukku," sambungnya lagi dengan mata lebarnya yang menunjukkan kesungguhan.


Seulas senyum langsung muncul di bibir Xavier, mata lelaki itu berbinar dengan sinar berkomplot, seperti anak kecil yang berjanji untuk membuat kenakalan bersama. Lalu tangan Xavier bergerak merangkul pinggang Sera dan merapatkannya ke tubuhnya.


“Kalau begitu, pegangan padaku, jangan sampai jatuh,” dengan lembut Xavier menarik tubuh mungil Sera dan mempercepat langkah, melarikan diri dari tatapan mata manusia-manusia yang terpesona itu secepat mungkin, dan langsung masuk ke dalam lift yang telah terbuka menunggu.


Ketika pintu lift itu tertutup dan bergerak naik, Xavier menyandarkan tubuh di dinding dan menunduk untuk menatap Sera seolah merasa bersalah.


“Maaf," ucap Xavier kemudian dengan nada menyesal. Sera menggelengkan kepala tipis.


“Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa membayangkan kau harus mengalami itu setiap kau berjalan-jalan di tempat umum.”

__ADS_1


Mata Sera mengawasi wajah Xavier, tiba-tiba perasaannya melembut seketika, entah kenapa saat ini, di matanya Xavier tampak seperti seorang anak kecil yang muram karena telah mengecewakan ibunya.


“Ternyata, memiliki wajah terlalu tampan memiliki kerugian juga dengan cara masing-masing." Sera berucap menggoda untuk mencairkan suasana.


Sepertinya dia berhasil karena ekspresi Xavier yang muram berubah sedikit cerah. Lelaki itu menyeringai, menatap Sera dengan pandangan menggoda.


“Jadi, menurutmu aku termasuk kategori terlalu tampan?” ucapnya senang, mengajukan pertanyaan retorika tanpa sadar.


Pipi Sera memerah, dia tahu dirinya telah salah kata. Tadi dia hanya sedang berusaha menghibur lelaki itu, tetapi kata-katanya yang dipilihnya malahan membuatnya jadi tampak memuji laki-laki itu terang-terangan.


“Maksudku, banyak orang yang menganggap dirimu terlalu tampan.” Sera menjawab cepat.


“Banyak orang? Apakah itu termasuk dirimu?” sahut Xavier ingin tahu. Seketika Sera memalingkan wajah, tak mau menawab dan memilih untuk menghindari menatap langsung ke arah Xavier.


Tetapi, bukan Xavier namanya kalau dia melepaskan Sera begitu saja. Lelaki itu melangkahkan kaki, hendak mendesak Sera ke dinding, wajahnya terlihat penuh tekad, dengan hasrat yang menyala di matanya yang entah kenapa membuat jantung Sera langsung berdebar lebih kencang.


“K-kau mau apa?” Sera membeliak, tangannya bergerak ke depan tubuhnya, seolah menahan supaya Xavier tidak melangkah lebih dekat.


Lelaki itu tidak mempedulikan penolakan Sera, tubuhnya mendesak Sera, membuat tangan Sera terperangkap di antara tubuhnya dengan dada lelaki itu.


“Aku ingin menghadiahkan ciuman sebagai balasan atas pujianmu terhadap wajahku,” bisik Xavier parau dengan nada sensual yang menggoda. Lelaki itu menggerakkan telapak tangannya menempel di dinding lift, memerangkap Sera di sana hingga tak bisa kabur menjauh.


Sera melirik ke arah kamera pengawas yang ada di sudut atap lift. Dia lalu menatap Xavier dengan penuh peringatan.


“Aku tidak butuh hadiah balasan.” Sera tekesiap ketika Xavier menundukkan kepala ke arahnya. Secara refleks, tangannya langsung naik, menahan dagu lelaki itu supaya tak bisa menciumnya. “J-jangan coba-coba! Ada kamera pengawas di atas sana! Kau bisa ditangkap karena telah berbuat mesum di tempat umum!” pekik Sera sambil menundukkan kepala untuk melindungi wajahnya.


Pada saat itulah, Xavier tiba-tiba menggerakkan tangannya untuk menutup mulutnya. Lelaki itu terlihat menahan diri sekuat tenaga, tetapi akhirnya pertahanannya jebol seketika. Sekelumit suara tawa terdengar lolos dari bibir Xavier.


Lelaki itu menegakkan punggung di hadapan Sera, sikap mengancamnya musnah sudah, dan berganti dengan nuansa santai yang penuh keceriaan. Tawa itu masih terdengar tertahan pada awalnya, tetapi entah karena sikap Sera benar-benar membuatnya geli, Xavier akhirnya meloloskan suara tawa lepas dari bibirnya, sejenis tawa yang sangat menyenangkan yang baru kali pertama ini didengar oleh telinga Sera.


Sera yang tadinya menundukkan kepala untuk menghindari ciuman lelaki itu, akhirnya mengangkat kepala dan mengintip ke arah Xavier dengan berhati-hati.


Matanya melebar, setengah terpesona ketika melihat betapa bersinarnya Xavier ketika lelaki itu akhirnya menunjukkan tawanya yang benar-benar tulus dan bukan kekehan provokatif atau tawa palsu yang sengaja dibuat dengan penuh perhitungan seperti biasanya.


“Kau sangat menggemaskan, Serafina Moon.” Xavier tersenyum lebar ketika menyelesaikan tawanya. Matanya meredup melihat mata Sera yang sedang mengawasinya dengan saksama, entah kenapa terlihat menyimpan hasrat dan makna mendalam yang belum bisa diejawantahkan maknanya olehnya.


Ditatap seperti itu, Serafina langsung mengalihkan pandangannya dengan jengah. Xavier yang dikenalnya selalu bersikap waspada, manipulatif dan kadangkala tak bisa ditebak apa tujuan yang ada di dalam kepalanya. Baru kali ini Xavier begitu lepas dan bebas, tidak menutup-nutupi perasaannya dan mau tertawa tulus di depan Sera.


Entah kenapa… Xavier yang seperti ini, menumbuhkan seberkas rasa kasih baru yang tak bisa ditahan di dalam dada Sera.


“Kau bilang butik bayi itu cukup terkenal di sini.” Sera tiba-tiba mendapatkan pemikiran ketika mereka melangkah berjalan bersisian keluar dari lift. “Kalau begitu, pasti akan ada banyak konsumen yang berbelanja di sana. Apakah… apakah itu tidak apa-apa, untukmu? K-kalau kau tidak nyaman, kau bisa menunggu di suatu tempat sementara aku berbelanja,” tawar Sera lembut dengan niat baik.


Xavier menolehkan kepala, menatap Sera dalam senyuman.


“Aku tidak mungkin membiarkanmu berbelanja sendiri. Kalau begitu, apa gunanya aku mengantarmu sampai sejauh ini? Lagipula, di dalam butik itu suasananya berbeda dengan di lobby tadi. Tidak akan ada gangguan di sana.”


Sera mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan bingung. “Tidak akan ada gangguan? Bagaimana bisa?”


Xavier menipiskan bibirnya dengan angkuh. “Aku memesan butik itu untuk kita berdua. Jadi hari ini, butik itu hanya buka ekslusif bagi kita berdua sebagai konsumennya.”


***


Sera benar-benar terpesona ketika matanya beredar menatap keseluruhan butik bayi yang dibuka khusus hanya untuk mereka berdua. Manajer toko sendiri yang datang menyambut mereka di pintu, lalu setelah Xavier dan Sera masuk, pintu toko itu ditutup, menutup akses bagi konsumen lain selain mereka untuk berbelanja di sana.


Butik bayi itu sangat megah, terbentang sangat luas dan menguasai hampir sebagian besar lantai di tingkat delapan dari pusat perbelanjaan tersebut, Seluruh interiornya tertata sempurna dengan penataan klasik yang didominasi bahan kayu berpelitur kualitas tinggi dan juga pakaian-pakaian warna pastel yang memanjakan mata dan menghangatkan hati.


Tidak ada warna mencolok di tempat ini, semua benda yang ada di sana, dari pakaian yang tergantung, kereta bayi, bahkan sampai ke tempat tidur bayi, keseluruhannya berwarna pastel lembut yang menyenangkan.


Sera sendiri sampai tak bisa berkata-kata, hanya berdiri saja dengan mulut sedikit terbuka, menikmati apa yang bisa diserap matanya yang tak bisa berhenti beredar dan memindai semua benda-benda lucu menggemaskan yang ada di sekelilingnya.


Xavier menganggukkan kepala tipis kepada manager toko yang menyempatkan diri mendampingi sambil menjelaskan beberapa hal umum kepadanya. Setelahnya, manager toko itu berpamitan undur diri, memberikan privasi kepada pasangan pelanggan VVIP itu untuk memilih benda apapun yang diinginkan tanpa gangguan.


Perhatian Xavier langsung teralihkan sepenuhnya kepada Sera. Lelaki itu tersenyum melihat betapa terpesonanya Sera menatap semua hal di sekelilingnya. Sesungguhnya, dia juga merasakan hal yang sama. Semua benda yang ada di butik perlengkapan bayi ini, berukuran mungil dengan nuansa warna yang menghangatkan hati.


Sekeras-kerasnya hati seorang lelaki, ketika dikelilingi benda-benda semacam ini, sudah pasti hatinya akan melembut tanpa perlawanan.


“Jadi, kau akan mulai dari mana?" Xavier berdiri di belakang Sera, kedua tangannya bergerak ke bahu perempuan itu dan meremasnya lembut. "Kita akan membeli apa dulu?” tanyanya lagi.


Pada saat itulah Sera seolah tersadar. Perempuan itu menolehkan kepala ke arah Xavier, matanya membelalak antara cemas bercampur bingung hingga membuat Xavier langsung khawatir.


“Ada apa? Kau kenapa?” sikap Sera yang tiba-tiba berubah itu membuat Xavier terkejut. Kedua tangannya menangkup wajah istrinya, sementara matanya memindai keseluruhan diri istrinya dengan saksama. “Kau sakit? Di mana? Apakah perutmu sakit?” sambungnya kemudian, memberondong dengan pertanyaan karena Sera tak juga menjawabnya.


Sera membeliak, dia tampak merasa bersalah kepada Xavier. Tangan Sera tanpa sadar bergerak dan menangkup tangan Xavier di pipinya, lalu menggenggamnya kuat.

__ADS_1


“Xavier! Aku… aku belum mencatat apapun, aku juga belum mencari tahu apapun mengenai benda-benda yang harus dibeli untuk kebutuhan perlengkapan bayi. M-maksudku, kemarin aku berjanji dengan Elana untuk datang bersama, jadi Elana yang bisa membantuku memilihkan barang. Sekarang aku tak tahu harus membeli apa." Mata Sera memandang sekeliling, ke arah para pramuniaga yang menunggu dengan ramah di setiap sudut rak barang-barang dengan niat untuk melayani. “Bagaimana ini? Kita harus bilang apa kepada mereka?”


Jawaban Sera memberikan seberkas kelegaan dalam jiwa Xavier. Setidaknya, Sera tidak mengalami sakit di bagian manapun tubuhnya. Selain itu, sikap Sera yang ketakutan dengan polosnya atas sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti, membuat Xavier kembali menyeringai geli. Tetapi kali ini, dia berhasil menahan tawanya. Sebelah tangannya yang lain bergerak meremas tangan Sera yang kebingungan, membuat jari jemari mereka saling bertautan.


“Kalau hanya masalah itu, aku punya jalan keluarnya.” Xavier berucap dengan nada penuh percaya diri, sedikit menggoda.


“Jalan keluar seperti apa?” Dengan polos, Sera mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan penuh rasa ingin tahu.


Xavier memandang sekilas ke sekeliling untuk menilai, lalu menatap Sera dengan sungguh-sungguh.


“Kau tahu, anak kita kemungkinan anak kembar, bukan? Jenis kelaminnya masih belum ketahuan, tetapi warna-warna di sini cukup lembut dan netral untuk dipakai oleh kedua jenis kelamin.” Xavier tampak serius ketika melanjutkan ucapannya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli masing-masing dua buah untuk setiap barang yang ada di butik ini?” usulnya dengan nada ringan.


Sera membelalakkan matanya semakin lebar. Tidak disangkanya, bahwa ide gila semacam itulah yang muncul dari lelaki berotak luar biasa cerdas seperti Xavier.


Bagaimana mungkin lelaki itu memilih jalan mudah paling gila dengan menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli dua buah dari masing-masing jenis barang yang di jual di butik ini?


“Kau tidak bisa melakukan itu.” Tanpa sadar Sera melepaskan tangannya dari genggaman Xavier, lalu memukul ringan lengan lelaki itu untuk menegurnya. “Apa kau tak lihat butik ini begitu penuh dengan barang-barang? Kau akan membuang bukan hanya uang tetapi juga barang yang mungkin tidak terpakai oleh bayi kita. Lebih baik aku menelepon Elana saja untuk bertanya sebelum berbelanja.”


Sera bersungut-sungut kepada Xavier, setelahnya, perempuan itu merogoh tas tangannya, berniat mengambil ponselnya untuk menelepon Elana. Pada saat yang sama, suara tombol terbuka dari pintu butik membuat Xavier mengerutkan keningnya. Lelaki itu menolehkan kepala, ingin tahu kenapa Manager Butik berani-beraninya membukakan pintu untuk konsumen lain, ketika dia sudah memesan seluruh tempat ini secara ekslusif untuk mereka berdua.


Tubuh Xavier berbalik hendak memberikan teguran keras kepada pihak butik, tetapi matanya kemudian menajam, dipenuhi kemarahan ketika melihat siapa yang datang.


Sedetik kemudian Xavier mengambil keputusan. Lelaki itu membalikkan tubuh kembali sementara tangannya langsung bergerak, meraih rambut Sera yang masih memunggunginya sebelum kemudian dengan cekatan langsung menggulung rambut Sera itu dalam gulungan terikat rapi di belakang kepalanya.


Apa yang dilakukan oleh Xavier itu membuat Sera yang sedang menekan nomor ponsel Elana langsung menghentikan gerakan tangannya, perempuan itu mengerutkan kening dan menolehkan kepalanya, menatap Xavier dengan pandangan bingung bertanya. Tangan Sera lalu bergerak, mengusap bekas ciuman dengan tanda menggelap di tengkuknya yang begitu jelas ditinggalkan Xavier di tengkuknya.


“Xavier?” Sera menatap ke dalam mata Xavier, mengutarakan pertanyaan yang tak perlu di utarakan karena Sera tahu bahwa Xavier pasti mengerti apa yang tersirat di dalam matanya.


Kenapa Xavier tiba-tiba menggulung rambutnya? Bukankah tadi pagi Xavier sendiri yang mengurai gulungan rambutnya dengan alasan supaya bekas ciuman yang ditinggalkannya tidak kelihatan oleh siapapun hingga membuat Sera malu?


Bibir Xavier menipis, sementara ekspresinya berubah kelam, dipenuhi oleh nuansa muram bercampur waspada yang membuat Sera semakin ingin tahu.


“Gulung rambutmu. Jangan sampai lepas." Perintah Xavier dengan tegas seolah tak mau menerima bantahan. Sera membuka mulut untuk meminta kejelasan, tetapi suara dari arah pintu butik menarik perhatiannya, membuatnya melongok dari balik punggung Xavier ke arah sumber suara.


“Sera! Aku datang untuk berbelanja bersamamu,” Elana yang baru saja memasuki ruang butik yang telah kembali ditutup pintunya itu langsung melambaikan tangan ke arah Sera dengan bersemangat ketika matanya bersirobok dengan Sera.


Hal itu membuat mata Sera melebar, seolah-olah dewi penyelamat telah datang untuk membebaskannya dari kesulitan.


“Elana!” Sera menyambut panggilan Elana dengan bersemangat, perempuan itu melangkah melewati Xavier, menghampiri Elana yang juga tengah mendatanginya. “Syukurkah kau datang, aku benar-benar kebingungan tadi!”


Dua wanita hamil itu tampak sama-sama bersemangat, dipenuhi nuansa ceria sehingga mengabaikan apa yang terjadi di sekeliling mereka.


Tentu saja Sera juga tak menyadari betapa marah dan membaranya tatapan yang dilemparkan oleh Xavier ke arah belakang Elana, ke sosok Credence yang mengikuti langkah Elana di belakangnya dengan diam dan santai, sambil memasang senyuman manisnya yang menjengkelkan untuk membalas sikap permusuhan yang dilemparkan oleh Xavier secara terang-terangan kepadanya.


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2