
"Lancang sekali kau sudah berani bertingkah di dalam perusahaanku dan membuat keputusan melawan otoritasku!" Akram menggeram, kemarahan tampak menyelimuti jiwanya, membuat auranya semakin gelap. "Aku akan menggunakan segala cara untuk menganulir keputusanmu itu," ancamnya penuh tekad.
Xavier terkekeh. "Coba saja. Aku juga akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan Lana tetap menjadi asistenku. Apa kau tidak kasihan kepadaku? Gara-gara Dimitri mencoba mengambil perusahan senjata kita, dia membuat Regas mengkhianatiku dan membuatku terpaksa menghabisi Regas dengan kedua tanganku sendiri," Xavier mengucapkan kata terpaksa di dalam kalimatnya, tetapi bibirnya malah menyunggingkan senyum lebar seolah kesenangan, membuat Akram semakin meradang.
"Kau tidak pernah terpaksa membunuh Regas. Kuduga kau malah kesenangan bisa memuaskan nafsu membunuhmu yang menjijikkan itu. Dan mengenai Regas yang mengkhianatimu, penyelidikku sudah menemukan bahwa itu karena dendam masa lalu. Kau membunuh keluarganya di masa lalu, dan dia menyusup masuk untuk menjadi asistenmu karena ingin membalas dendam kepadamu. Jadi, jangan coba-coba menimpakan kesalahan kepadaku," sanggah Akram dengan nada jijik.
Sekali lagi Xavier hanya tertawa menghadapi segala cemoohan Akram.
"Baiklah, apapun alasan dariku, kau hanya akan memandangku dari sisi paling negatif, jadi aku tidak akan mencoba menyanggahmu karena percuma," ekspresi Xavier berubah serius. "Kau mungkin bertekad menggunakan segala cara untuk mencegah Lana menjadi asisten pribadiku. Tetapi, bagaimana jika situasinya adalah Lana sendiri yang mau melakukan pekerjaan itu?"
"Ketika aku hendak memberikan Elana pekerjaan di perusahaanku, yang dimintanya adalah pekerjaan sebagai cleaning service yang dia bilang sesuai dengan kemampuannya. Dan dia bersikeras melakukan itu. Elana begitu keras kepala, untuk apa dia mengubah pikirannya dengan tiba-tiba mau menjadi asistenmu?" mata Akram menyipit dengan curiga. "Apakah kau ingin menggunakan kesempatan setelah ini untuk mengancam dan mengintimidasi Elana sehingga dia terpaksa bersedia menjadi asistenmu?"
"Aku tidak akan melakukan itu, mengancam Lana tidak akan berujung pada keberhasilan. Perempuan itu hanya akan melawan sekuat tenaga, kau pasti yang paling tahu itu," Xavier berucap penuh arti. "Aku akan membujuknya secara persuasif, demi keuntungan Lana sendiri,"
"Bagaimana bisa menjadi asistenmu memberikan keuntungan bagi Elana dan bukannya merugikan?" Akram tampak mulai bisa mengendalikan emosinya, lelaki itu juga tertarik menemukan jawaban dari sikap penuh teka-teki yang ditunjukkan oleh Xavier.
"Kau ingin menjadikan Lana sebagai istrimu, bukan? Begitu media dan pers mengetahui bahwa seorang Akram Night sudah memilih seorang istri, kau pikir apa yang akan mereka lakukan pada Lana? Mereka akan mengorek selurh dirinya sampai habis, mencari informasi tentang Lana, merusak privasinya, lalu memberikan bumbu-bumbu untuk menciptakan skandal dan berita menghebohkan yang disengaja untuk menarik perhatian khalayak dan memperbesar oplah mereka. Semakin busuk rahasia yang bisa dikuak dan semakin banyak bahan yang bisa digunakan untuk mempermalukan Lana, maka mereka akan semakin senang." Xavier menjabarkan dengan nada tenang, memastikan Akram bisa menerima logika dalam suaranya.
"Mereka tidak akan menemukan apa-apa, aku akan memastikan itu," Akram menggeram setengah marah. Bayangan Elana akan menjadi korban eksploitasi media karena perempuan itu menjadi istrinya, membuat Akram marah luar biasa. Seandainya bisa, Akram ingin mengunci Elana dalam lingkupan perlindungannya dan menyembunyikannya dari dunia luar yang kejam. Tetapi, tentu saja dia tidak bisa melakukannya, bukan? Apa yang dikatakan oleh Xavier benar, begitu dia mengumumkan pernikahannya secara resmi, Elana akan menjadi santapan empuk bagi media dan pers yang kehausan berita.
"Apa kau lupa bahwa ada banyak saksi yang mengetahui bahwa Lana bekerja di perusahaanmu sebagai cleaning service? Bukan hanya kepala divisimu, seluruh karyawan di divisi cleaning service, bahkan supir bis jemputan atau juga petugas keamanan gedung dan pegawai cafetaria di kantormu yang semua itu berinteraksi dengan Lana selama di tempat kerja... itu belum memperhitungkan karyawan divisi lain yang juga pernah melihatnya. Kau mungkin sudah menghapus seluruh masa lalu Lana dan membuatkan identitas baru untuknya. Tetapi, kau tentu tidak bisa membungkam orang-orang ini, kan. Mereka manusia yang punya kemauan sendiri dan tidak ada yang bisa menutup mulut mereka di luar kemauan mereka. Menggunakan uang tutup mulut akan membawa risiko pengkhianatan di kemudian hari, kau tentu tidak mungkin membunuh mereka hanya untuk membungkam mereka, kan?"
Akram tertegun mendengarkan kalimat Xavier. Mau tak mau dia mengagumi bagaimana terperincinya Xavier mengambil kemungkinan celah di semua sisi, memperhitungkan segala risiko dan keuntungan yang didapat dengan cermat sebelum kemudian mengambil keputusan. Tak salah jika Xavier dikenal sangat jenius dalam hal investasi dan permainan saham. Dia sangat disegani di bidang itu, karena keputusan investasi apapun yang dilakukannya, hampir tidak pernah menemui kesalahan. Bahkan orang-orang akan cenderung menunggu lalu berbondong-bondong mengikuti arah keputusan Xavier karena mereka yakin itu pasti akan menguntungkan mereka.
Karena setiap keputusannya dianut oleh banyak sekali orang, Xavier Night seorang diri, memiliki kemampuan untuk membolak-balikkan fluktuasi grafik pasar saham dengan mudahnya, semudah menjentikkan jari
"Kau berada dalam dilema yang tak terhindarkan. Dan di sinilah aku, menawarkan bantuan yang tak mungkin kau tolak," sambung Xavier kemudian dengan nada yakin.
Akram menyipitkan mata. "Jelaskan padaku maksudmu," sahutnya dengan nada memerintah yang arogan.
"Dengan menjadikan Lana asisten pribadiku, segala kesulitanmu akan musnah. Tidak akan ada yang meragukan kemampuan serta kapabilitas asisten dari seorang Xavier Night, mereka akan langsung mengakui kecerdasan Elana tanpa bantahan. Bahkan meskipun nanti mereka mengetahui bahwa Lana pernah menjadi seorang cleaning service di perusahaanmu, mereka akan berpikir bahwa itu adalah salah satu strategiku untuk melatihnya," Xavier mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkan seorang yang tidak memiliki potensi untuk dikembangkan bisa menjadi asistenku. Aku bersedia menjadi mentor Lana, menurunkan ilmuku dan mengajarkan segala yang diperlukan untuk membuat Lana benar-benar memiliki kapabilitas yang pantas untuk menyandang posisi sebagai asisten pribadi seorang Xavier Night," kepongahan Xavier tampak jelas di matanya ketika dia menyambung kalimatnya dengan kalimat pertanyaan yang menjengkelkan. "Apakah mau pikir kau bisa mendapatkan mentor lain untuk melatih Lana, yang memiliki separuh saja kemampuanku?" tantangnya lugas.
Pertanyaan Xavier sekali lagi membuat Akram tertegun, mau tak mau dipukul telak oleh kebenaran dalam kata-kata Xavier. Untuk memberikan gelar pendidikan dan tambahan ilmu pengetahuan kepada Elana, sesungguhnya Akram bisa saja memasukkan Elana ke dalam sekolah privat berkualitas yang tentunya akan mampu memberikan jenjang pendidikan resmi dan hasil nilai dan serapan ilmu terbaik.
Tetapi, membiarkan Elana bersekolah bukanlah pilihan terbaik. Selain membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, Elana juga akan berada jauh dari jangkauannya selama beberapa waktu ketika dia harus belajar di sekolah, belum lagi gangguan dari lelaki lain yang mungkin saja tertarik kepada perempuan itu ketika Akram melepaskan Elana dari pengawasannya....
Di lain pihak, tawaran Xavier sangat menguntungkan jika dilihat dari semua sisi. Bukan hanya Elana bisa mendapatkan mentor terbaik yang akan membuat siapapun tak akan berani menghakimi status Elana sebagai istrinya nanti. Jika benar ruangan Xavier ada di sebelah ruangannya, itu berarti perempuan itu hanya sejangkauan jauhnya dan Akram bisa melihatnya setiap hari dan meraihnya jika butuh memeluknya.
__ADS_1
Tetapi apakah itu sepadan dengan risikonya? Jika Akram menyetujui itu, sama saja dia menyerahkan Elana ke dalam tangan Xavier...
"Apa keuntunganmu dalam hal ini? Kau tidak akan memberikan semua itu itu tanpa memiliki maksud tersembunyi, bukan?" Akram menyipitkan mata, mulai bersikap waspada.
Ekspresi Xavier sama sekali tidak berubah, tetap serius, seolah-olah lelaki itu ingin menunjukkan bahwa dia tidak sedang main-main dengan perkataannya.
"Aku melakukannya bukan untukmu, tetapi untuk Lana," Xavier menyeringai, melemparkan tatapan tajam ke arah Akram. "Kau tentu menyadari bahwa aku sudah menganggap Lana sebagai sekutuku, bukan? Dan yang kutawarkan bukan hanya menjadi mentornya tetapi sekaligus perlindungan dengan namaku kepada Lana. Tidak akan ada orang yang berani bertindak macam-macam kepada asisten Xavier Night,"
Akram menganggukkan kepala tipis, entah kenapa kali ini dia tidak meragukan kejujuran Xavier.
"Kau boleh menawarkan posisi itu kepada Elana tetapi jangan pernah menggunakan ancaman atau intimidasi kepadanya supaya dia mau menuruti kemauanmu. Jangan bermain di belakang punggungku, karena satu hal yang kau harus tahu, bahwa Elana tidak akan bisa menutupi apapun dariku. Jika Elana secara sukarela bersedia menjadi asistenmu, maka aku tidak akan mengganggumu," Akram akhirnya mengambil keputusan dengan tepat, sebuah keputusan yang dia harap tidak akan berakhir dengan buruk.
***
***
Sebelum memasuki ruang kerjanya, langkah Akram terhenti ketika melihat pengerjaan yang sudah hampir selesai untuk mengubah ruang meeting menjadi ruang kerja Xavier, dimana posisi ruangan itu tepat berada di samping ruang kerja Akram.
Ruang kerja Akram terletak di bagian paling atas gedung ini, yang langsung terhubung dengan lift khusus dimana tidak sembarang orang bisa menekan tombol hingga ke lantai ini. Hanya orang-orang dengan kartu pass khusus atau orang-orang yang sudah memiliki janji meeting yang telah dikonfirmasi yang mendapatkan izin menginjakkan kaki ke tempat ini.
Sementara itu, terdapat tiga pintu lain di dalam ruangan tersebut. Ruang kerja Akram yang mengambil tempat sangat besar, terletak di pintu yang berada di tengah, Akram hampir tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke ruang kerjanya, kecuali Elios dan tentu saja Elana. Pintu yang paling kiri adalah ruang berkapasitas seratus orang untuk keperluan meeting dengan audience besar, sedangkan pintu yang paling kanan adalah ruang kerja berukuran sedang yang masih muat untuk lima puluh orang sekali meeting.
Sebenarnya, keberadaan ruang-ruang meeting di sini hampir tidak diperlukan karena mereka memiliki satu lantai untuk keperluan berbagai macam kapasitas meeting di bawah, bahkan terdapat pula auditorium raksasa di lantai dasar.
Akram melihat bahwa ruang meeting yang berukuran lebih kecil inilah yang saat ini tampak dirombak besar-besaran untuk diubah menjadi ruang kerja Xavier.
Kelegaan terlintas di benak Akram ketika melihat bahwa para pekerja juga telah membangun meja tambahan yang terletak tepat di samping meja Elios yang diperuntukkan untuk asisten sekaligus sekertaris pribadi Xavier. Itu berarti, jika Elana setuju untuk menjadi asisten Xavier, perempuan itu akan menghabiskan waktu kerjanya di tempat ini, bersebelahan dengan Elios, di ruang terbuka, bukan di dalam ruang tertutup dan hanya berduaan dengan Xavier di dalamnya.
Itu berarti setiap Akram melangkah keluar dan masuk dari ruang kerjanya, dia bisa melihat Elana. Dan sepanjang hari, perempuan itu akan berada di dekat sini, hanya dibatasi oleh pintu yang tertutup.
Akan lebih mudah mengawasi Elana kalau begitu caranya. Dan setidaknya, Elana tidak akan memforsir dirinya dengan pekerjaan berat... apalagi kalau nanti dia benar-benar hamil.
Akram melangkahkan kaki ke ambang pintu calon ruang kerja Xavier, dan keningnya langsung berkerut ketika melihat betapa cerahnya ruangan itu. Xavier telah mengganti seluruh panel di satu sisi dinding dengan kaca bening tahan panas yang langsung memasukkan serbuan sinar matahari ke seluruh penjuru ruangan. Seolah itu semua masih belum cukup, lelaki itu juga memerintahkan supaya para pekerja ini memasang perabotan dengan warna-warna muda yang tentunya sangat berkebalikan dengan ruang kerja Akram yang cenderung dipenuhi oleh nuansa gelap.
__ADS_1
"Tuan Akram," suara Elios yang sedikit terengah ketika lelaki itu melangkah keluar dari lift dengan tergopoh-gopoh membuat Akran mengalihkan pandangannya dari nuansa terang dari ruang kerja Xavier.
Akram memasang ekspresi tegas, menatap Elios dengan pandangan mencela.
"Kenapa kau tidak memberitahuku mengenai tindakan Xavier ini?" tanyanya cepat.
Elios tampak merasa bersalah dan menelan ludahnya dengan gugup.
"Xavier sengaja mengirimkan pekerjanya menjelang tengah malam, ada ratusan pekerja yang dikirimkan untuk mengerjakan segala sesuatunya dengan kilat sehingga bisa mencapai tahap hampir selesai dalam satu malam saja. Pagi harinya saya baru mendapatkan laporan, tetapi saya menahan diri untuk memberitahu Anda karena Anda memberikan pesan bahwa Anda sedang mengantar Nona Elana ke rumah Xavier untuk pemberian serum ketiga dan terakhirnya," Elios menatap Akram dengan hati-hati, "Mohon maafkan keteledoran saya... kalau sudah begini, apa yang akan kita lakukan?" tanyanya cepat.
Akram membalikkan tubuh dan melangkah ke ruangannya sendiri, hanya melirik sedikit ke arah Elios.
"Apa yang akan kita lakukan? Kita tidak akan melakukan apa-apa." jawabnya kemudian dengan nada misterius yang membuat Elios kebingungan setengah mati.
***
***
"Bagaimana perasaanmu?"
Xavier melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung mengambil tempat duduk yang diseretnya hingga ke dekat ranjang seperti biasanya. Lelaki itu lalu duduk di sana dan mengawasi Elana dengan saksama, memperhatikannya lekat-lekat.
Xavier sengaja memberikan waktu beberapa jam bagi Elana untuk tidur sebelum mendatanginya. Serum itu memiliki efek merilekskan yang membuat penggunanya tidak akan bisa menahan rasa kantuk yang akan langsung menyerang. Bagaimanapun, setelah tertidur beberapa jam, biasanya tubuh akan merasa sangat segar, begitu juga dengan rasa dingin yang menyerang tubuh, semua itu akan berangsur-angsur lenyap. Apalagi di pemberian ketiga dan yang terakhir ini, efek racun itu akan lenyap seketika.
"Aku merasa lebih baik," dengan canggung, karena Xavier mendatanginya tepat setelah dia terbangun dari tidurnya, Elana menggerakkan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang dengan menjaga selimut tetap melingkar di pinggangnya.
Xavier menyandarkan tubuhnya dengan santai dan tersenyum melihat kegugupan Elana,
"Tenang saja, Lana, aku hanya ingin berbicara," lelaki itu setengah meringis sebelum melanjutkan, "Aku ingin kau membantuku," ucapnya kemudian, mengutarakan kalimatnya yang tak terduga.
***
***
__ADS_1
***