
Upload 1/6 episode yang akan diupload minggu ini.
"Apa maksudmu kalau kau menemukan latar belakang yang mencurigakan dari salah satu kandidat yang mengajukan diri sebagai asistenmu?"
Mereka berdua sudah berpindah ke ruang kerja Akram. Perkataan Xavier bahwa dia menemukan sesuatu yang mencurigakan dari latar belakang salah satu calon kandidatnya, membuat Akram tahu bahwa pembicaraan ini akan menyangkut hal sensitif dan rahasia.
Ruang makan bukanlah tempat yang tepat untuk pembahasan serius, sedangkan ruang kerja Akram yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu, cukup memiliki privasi sehingga apa yang mereka bicarakan di dalam sini tidak akan pernah bocor keluar.
Lelaki itu duduk dengan sikap tegang sambil mengawasi tajam ke arah Xavier, sementara Xavier memasang sikap yang berkebalikan. Punggungnya bersandar dengan santai dan kakinya berselonjor seolah di rumahnya sendiri.
Xavier menganggukkan kepala. "Seluruh informasi tentang kandidat yang satu ini terlalu sempurna. Aku tidak bisa menemukan celah dan itu malahan membuatku merasa curiga. Jadi, aku memutuskan menggunakan koneksiku untuk melakukan penelusuran lebih jauh. Dan hasil yang kutemukan cukup mengejutkan.”
“Kau bilang ini berhubungan denganku dan masa lalu kita,” Akram menyipitkan mata semakin curiga. “Apa maksudmu?”
Xavier membuka mulut. Lalu tiba-tiba kalimat apapun yang hendak meluncur dari bibirnya terhenti, seolah-olah dirinya diliputi rasa ragu.
Hal itu membuat Akram semakin penasaran. Lelaki itu memajukan tubuh tegapnya dan mencondongkannya ke depan, sehingga Xavier bisa dengan jelas melihat ekspresi wajahnya yang serius.
“Kau tahu aku sudah cukup bersabar dengan membiarkanmu masuk ke rumahku dan menginap di sini. Aku bahkan merelakan waktu yang kumiliki untuk bersama istriku saat ini, dan memberikannya kepadamu. Jadi, apapun yang hendak kukatakan, sebaiknya kau segera mengatakannya sehingga kita bisa membereskan ini dengan segera,” geramnya dengan nada suara sedikit mengancam.
Xavier menelan ludah. Dia tidak pernah merasa terdesak dan mampu menghadapi segala situasi dengan sikap tenang. Tetapi di sini saat ini, ketika dia harus menghadapi Akram sekaligus semua permasalahan di masa lalu yang mengikuti di belakangnya, lidahnya berubah kelu.
“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mengangkat masalah ini, bukan untuk memprovokasimu,” ucap Xavier kemudian, dengan nada berhati-hati.
Akram mengawasi Xavier dengan sinis. “Kau terlalu sering memprovokasiku hingga aku tidak bisa ingat kapan kau tidak melakukannya,” sanggahnya dengan nada sedikit mengejek. “Katakan saja kepadaku, dan akulah yang akan memutuskan niatmu itu,” sambungnya kemudian dengan nada tak sabar.
Xavier mengepalkan genggamannya sebelum bersuara.“Seluruh data diri kandidat itu ternyata memiliki lapisan-lapisan tersembunyi di dalamnya. Data yang muncul di permukaan dengan sempurna adalah data buatan, meskipun aku yakin bahwa nilai akademisnya asli. Tetapi, seluruh latar belakangnya adalah latar belakang buatan. Dan kurasa, dia melamar menjadi kandidat asisten pribadiku untuk tujuan tertentu.”
“Kalau dia memang salah satu dari musuhmu yang menyusup untuk membalas dendam, maka aku tidak peduli,” sekali lagi Akram menyela dengan sikap tak sabar. “Yang ingin kutahu, apa hubungan semua ini denganku? Kenapa kau merasa perlu memberitahukan ini kepadaku?”
“Karena…” Xavier mengawasi Akram lekat-lekat untuk mempelajari reaksinya. “Karena kurasa kandidat itu, memiliki hubungan dengan keluarga Dawn. Kau tahu, keluarga Anastasia,” ucapnya kemudian, membeberkan kebenaran tertahan yang langsung membuat wajah Akram pucat pasi.
Nama Anastasia selalu memberikan efek yang sama bagi Akram. Meski tidak lagi tersimpan rasa cinta di masa lalu untuk perempuan itu, tetapi tetapi perempuan itu tetap membuat jantungnya seolah diremas perih ketika mengingatnya.
Orang mungkin selalu berharap bisa mengenang yang terkasih yang meninggalkannya dalam kondisi terbaiknya untuk terakhir kali. Sayangnya, Akram tidak seberuntung itu. Dialah yang pertama kali menemukan mayat Anastasia yang tergantung di langit-langit kamar rumah sakitnya karena bunuh diri. Dan seperti kutukan bagi Akram, seluruh kenangan manisnya tentang Anastasia hancurlah sudah, tergantikan dengan pemandangan mengerikan sosok mayat yang tergantung setelah sebelumnya meregang nyawa dengan cara mengenaskan.
“Akram? Kau tidak apa-apa?” suara Xavier merendah, dipenuhi kecemasan.
Akram menghela napas panjang, berusaha menguasai dirinya. Dia tak suka menunjukkan kelemahannya di depan Xavier. Bahkan, ketika sekarang mereka sudah tak bermusuhan lagi, Akram tidak bisa menghilangkan kebiasaan masa lalunya untuk selalu curiga dan mewaspadai Xavier.
Siapa yang tahu kalau kakak angkatnya ini akan menggunakan kelemahannya ini untuk melawannya di kemudian hari?
“Aku tidak apa-apa,” mata Akram menajam ke arah Xavier meskipun masih tampak berkabut oleh trauma. “Lanjutkan. Apa hubungan kandidat ini dengan Anastasia?” dengan keras Akram mengendalikan dirinya dan berucap.
Ada kilas di mata Xavier ketika lelaki itu mengawasi adiknya. Akhirnya Xavier menghela napas panjang dan memutuskan untuk mencoba menjelaskan mengenai benang kusut yang terjadi di masa lampau, sesuai dengan apa yang pernah diusulkan oleh Elana kepadanya.
“Akram, mengenai Anastasia ini. Kau tahu kalau di masa lalu….”
“Aku sudah tahu mengenai apa yang kau lakukan di masa lalu. Ketika Elana mengangkat kembali permasalahan ini setelah bertemu denganmu, aku memang menghentikannya berbicara, tetapi bukan berarti aku melupakan apa yang dikatakan oleh istriku itu,” Akram menatap tajam ke arah Xavier, gerahamnya mengeras seolah-olah lelaki itu sedang menahan sakit. “Katakanlah aku membayar orang yang tepat untuk mengorek semua informasi yang berkaitan dengan Anastasia dan masa lalu….” Suara Akram terdengar ragu. Dia sebenarnya merasa tak nyaman karena harus membahas keburukan orang yang sudah meninggal. Tetapi, bagaimanapun juga, percakapan ini harus dibawa ke permukaan untuk menyelesaikan apa yang mengganjal antara dirinya dan Xavier.
Xavier mengawasi Akram dalam-dalam. “Apakah kau akhirnya tahu?” tanyanya perlahan.
Akram menatap Xavier dengan tatapan menusuk tajam.“Ya, aku tahu. Seluruh perselingkuhanmu dengan Anastasia. Entah sengaja atau tidak, kau menggunakan hotel milik keluarga Night untuk berkencan dengan Anastasia. Dan lorong-lorong hotel itu memiliki CCTV dimana aku bebas untuk mengaksesnya,” Akram meramu apa yang pernah diucapkan oleh Elana mengenai Xavier yang selalu ingin melindungi Akram dan akhirnya mengucapkan kesimpulan yang diambilnya. “Kau menguji kesetiaan Anastasia dan akhirnya dia gagal melewati ujianmu, bukan? Jadi kau memutuskan untuk menghukumnya.”
Xavier menatap Akram dengan rasa bersalah yang nyata. Kali ini dia tidak memasang topeng perlindungan dalam bentuk seulas senyum menjengkelkan atau sikap menyebalkan yang selalu digunakannya untuk memprovokasi Akram. Apa yang ditampilkan oleh wajahnya benar-benar tulus tanpa kepalsuan.
“Aku menyesal ketika apa yang kulakukan menimbulkan tragedi bagi Anastasia. Tetapi aku tak menyesal telah melakukannya, karena perempuan itu pantas mendapatkannya,” desisnya dengan kejam. “Dia pantas dihukum karena telah mengkhianati di belakang punggungmu tanpa rasa bersalah. Dia bahkan berencana untuk menerima lamaranmu dengan niat terus berselingkuh meskipun kalian sudah menikah.”
Akram mendengus, kembali memajukan tubuhnya ke arah Xavier.
__ADS_1
“Kau pikir, siapa dirimu ini, Xavier?” potongnya cepat dengan pertanyaan misterius.
Pertanyaan Akram itu membuat Xavier tertegun. “Apa maksudmu?”
Akram mengepalkan kedua tangannya. “Kau pikir kau ini siapa? Hakim tertinggi yang berhak memvonis pelaku kejahatan dengan hukuman terkejam yang bisa kau berikan? Malaikat pembalasan yang membalas dendam atas nama kepentinganku?” Akram menyipitkan mata dan berucap dengan nada tegas dan dalam. “Kau tidak memiliki hak untuk memberi penghukuman terhadap orang-orang yang kau anggap berdosa dengan caramu sendiri yang mengerikan itu. Seharusnya kau tinggal mengambil langkah wajar seperti manusia pada umumnya,” Akram menatap Xavier dalam sementara ekspresinya tampak kesakitan. “Seharusnya kau tinggal memberitahuku.”
Xavier seolah kehabisan kata-kata, kalimatnya tersendat ketika berucap, “Tapi kau mencintai Anastasia.”
“Ya. Pada saat itu aku mencintai Anastasia. Tetapi kau tentu tidak lupa kalau aku juga pria dewasa yang bisa menentukan keputusanku sendiri. Jika saja kau lebih berpikiran sehat dan alih-alih menghukum Anastasia dengan cara kejam, kau bisa saja menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Anastasia kepadaku, aku tahu kau memilikinya,” Akram tampak menahan frustasi. “Apakah kau pikir, diriku yang waktu itu, setelah melihat semua bukti darimu, akan tetap memutuskan untuk menikahi Anastasia karena buta oleh cinta? Apakah kau berpikir bahwa aku sebegitu bodohnya, akan terus terbutakan oleh cinta jika saat itu bukti perselingkuhan Anastasia sudah membuka mataku? Apa kau pikir aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri?”
Akram menghela napas panjang. “Kau menganggapku tidak bisa melindungi diriku sendiri. Karena itulah kau mengambil keputusan gila untuk menghukum Anastasia dengan cara terkejam yang bisa dibayangkan. Kejadian itu merenggut kehormatannya, menciptakan trauma mengerikan dan pada akhirnya membuatnya terdorong untuk bunuh diri.”
Penyesalan tampak membanjiri seluruh diri Akram ketika lelaki itu menyambung kembali kalimatnya, “Astaga Xavier. Anastasia hanyalah seorang perempuan dengan moral rendah yang berselingkuh tanpa rasa bersalah. Pemutusan hubungan sudahlah cukup untuk menjadi hukumannya. Dia tidak seharusnya mengalami segala penyiksaan itu.” Mata Akram terangkat dan langsung menusuk tajam ke arah Xavier. “Karena itulah, aku masih tetap tak bisa memaafkanmu.”
Xavier tertegun mendengar kalimat terakhir Akram tersebut. Bibirnya langsung terurai membentuk senyuman penuh ironi.
“Itu bukanlah suatu kejutan. Aku sudah terbiasa dengan dirimu yang selalu mengutuk dan membenciku.”
Akram menipiskan bibir. “Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang, bukan berarti aku tidak bisa memaafkanmu nanti,” sambungnya kemudian dengan suara rendah.
Ketika dilihatnya mata Xavier melebar dengan ekspresi takjub dan terkejut luar biasa, Akram mengangkat tangannya sebagai isyarat supaya mereka berhenti membahas ini.
“Sudah cukup. Lebih baik kita hentikan pembahasan ini sebelum melebar jauh dari inti percakapan. Katakan kepadaku, apa hubungannya salah satu kandidat calon asistenmu ini dengan Anastasia?”
Perkataan Akram bahwa nanti mungkin adiknya itu bisa memaafkan dirinya sepenuhnya masih menguasai diri Xavier dan entah kenapa mampu mengalirkan seberkas rasa hangat berlapis kelegaan ke dalam jiwanya. Tetapi, Xavier memilih untuk mengikuti perkataan Akram agar mereka menutup pembicaraan tentang itu sampai di sini. Pernyataan Akram itu sudah cukup bagi Xavier dan dia tak akan rakus untuk meminta lebih. Jika Akram bisa memaafkannya meskipun itu bukan sekarang, Xavier tidak akan meminta lebih banyak lagi.
“Meskipun melalui alur yang samgat rumit, aku berhasil menelusuri bahwa keluarga Dawn-lah yang menjadi penyokong dana untuk beasiswa kandidat ini.”
Akram mengerutkan kening. “Keluarga Dawn berhasil bangkit dari keterpurukannya setelah kematian Anastasia dan cukup berhasil dalam bisnisnya, meskipun kulihat mereka selalu menghindari berurusan denganku. Sebagai pebisnis yang berhasil, bukanlah sesuatu yang aneh kalau mereka memberikan beberapa beasiswa setiap tahunnya pada orang-orang yang pantas mendapatkannya.”
“Yah, memang seperti itu. Tetapi kandidat yang ini, tidak mendapatkan beasiswa secara resmi seperti yang lainnya. Aku menemukan dana dari keluarga Dawn setelah menelusuri aliran dana rumit yang seperti sengaja dialihkan ke tiga sampai empat nama yang seolah digunakan untuk menutup jejak,” mata Xavier menyipit. “Seolah-olah keluarga Dawn tidak ingin sampai ketahuan telah memberikan dana dan biaya untuk menyekolahkan kandidat yang satu ini. Semua itu disembunyikan dengan sangat rapi dengan sengaja. Jika aku menelan mentah-mentah seluruh data sempurna yang diberikan kepadaku, tentu aku tak akan mengetahui semua ini. Sayangnya, instingkulah yang bergerak ketika melihat sesuatu yang terlalu sempurna, sehingga penyelidikku yang menggali jauh lebih dalam akhirnya bisa menemukannya."
Akram termenung. Tampak berpikir lama.“Kenyataan bahwa secara kebetulan kandidat ini datang kepadamu untuk menyamar menjadi asisten pribadimu tentu tak bisa diabaikan begitu saja….” Akram bergumam perlahan, lalu matanya yang terangkat ke arah Xavier berubah serius. “Kau sudah menjadwalkan interview dengan kandidat yang satu ini?”
Xavier menganggukkan kepala. “Aku bisa mengatasi interview itu tanpamu, Akram. Aku datang kemari hanya untuk memberitahukan informasi ini. Jika memang perempuan ini datang kepadaku dengan sengaja, aku yakin dia hanya memiliki satu tujuan.”
“Untuk membalas dendam kepadamu?” Akram menyahut dengan telak. “Dan dia seorang perempuan?” tanyanya kemudian.
Sejak awal Akram berpikir bahwa kandidat itu adalah seorang laki-laki, tanpa disangkanya, ternyata sosok itu adalah seorang perempuan.
Astaga, apa yang dipikirkan oleh keluarga Dawn kalau benar mereka yang mengirimkan perempuan itu kepada Xavier?
Jika memang ingin membalas dendam, seorang laki-laki yang kompeten di bidangnya sudah pasti lebih baik dalam menghadapi Xavier. Tetapi, seorang perempuan? Seorang perempuan jelas-jelas tidak akan punya masa depan ketika harus menghadapi Xavier.
Akram mengawasi Xavier yang tampak menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
Kakak angkatnya ini memiliki ketampanan luar bisa dan pesona alami yang nyaris terasa mengintimidasi. Perempuan malang itu tidak akan bertahan jika harus menghadapi Xavier. Akram yakin bahwa tidak perlu menunggu waktu lama sampai perempuan itu jatuh dan menyerahkan dirinya dengan pasrah di bawah kaki Xavier.
Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Biarpun Xavier bisa dibilang selalu menang melawan perempuan, insiden dengan Maya sebelumnya telah menunjukkan suatu anomali bahwa Xavier bisa sial juga. Demi menyelamatkan Elana, Xavier rela terluka parah karena tindakan Maya yang membabi buta.
Siapa yang bisa tahu kalau kali ini Xavier kembali tak beruntung?
Akram menelan ludah, menahan diri untuk tidak mengatakan kepada Xavier bahwa kakak angkatnya itu harus mulai berhati-hati sekarang dan tidak berpongah diri sebelum bisa mengukur kekuatan lawan dengan jelas.
Jika memang dugaan Xavier benar, keluarga Dawn pasti punya pertimbangan sendiri dengan mengirimkan perempuan itu masuk ke sarang serigala berbahaya. Hanya karena dia seorang perempuan, bukan berarti dia tidak berbahaya.
“Kabari aku jika ada perkembangan apapun,” ujar Akram kemudian, memutuskan mengurungkan niatnya mengatakan apa yang dipikirkannya kepada Xavier.
Xavier bukanlah orang bodoh. Lelaki itu pasti sudah mempersiapkan segalanya jauh sebelum diminta.
__ADS_1
Pagi itu cerah, secerah hari-hari lainnya. Dengan tidak adanya Akram di tempat karena menghabiskan bulan madu keduanya dengan istrinya, Xavier memutuskan untuk datang lebih pagi dan bekerja lebih awal dari yang dijadwalkan.
Untuk sementara, ketika Akram berlibur dan Xavier belum menemukan kandidat pengganti asisten pribadinya, Akram menempatkan Elios sebagai asisten pribadi Xavier dan pagi ini, mereka sudah merencanakan rangkaian interview dengan kandidat asisten Xavier yang telah dipilih berdasarkan kualifikasi terbaik.
Xavier menatap kertas laporan yang diserahkan oleh Elios kepadanya dan bibirnya menipis ketika sesuai permintaannya, Elios telah menjadwalkan kandidat mencurigakan itu sebagai kandidat pertama yang diwawancarainya.
Semakin cepat dia memberikan penilaian maka semakin baik. Apapun keputusan Xavier selanjutnya, bergantung pada hasil interview hari ini.
“Apakah dia sudah datang?” Xavier melirik ke arah Elios yang baru saja memasuki ruangan dengan penuh rasa ingin tahu.
Elios menganggukkan kepala. “Dia sudah ada di ruang tunggu,”
Rasa antisipasi yang menyenangkan langsung membanjiri darah Xavier.
“Suruh dia masuk.”
Elios menganggukkan kepala dengan patuh. Lalu lelaki itu kembali keluar dari ruangan untuk memanggil kandidat tersebut.
Selama menunggu, mata Xavier terpaku pada pintu ruang kerjanya. Lalu, penantian Xavier berakhir secepat dimulai. Suara ketukan perlahan terdengar, diiringi gumaman lembut meminta permisi.
“Masuklah,” ucap Xavier tenang.
Tak lama pintu terbuka, dan mata Xavier langsung bertemu dengan mata bening yang paling berkilauan ceria dari semua mata yang pernah dilihatnya.
Upload 1/6 episode yang akan diupload minggu ini.
Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.
Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.
Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.
Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.
Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.
__ADS_1