Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 27 : Rasa Lega


__ADS_3

Mata Xavier berkilat penuh kepuasan. Lelaki itu menahan senyum geli, lalu tangannya menepuk-nepuk sisi kursi di sebelahnya yang tadi lepas dari pengelihatan Sera dengan sikap mencolok yang disengaja.


Sera mengikuti arah tangan Xavier dan matanya melebar ketika melihat benda apa yang sedang ditepuk-tepuk oleh Xavier.


Di bawah tangan Xavier, terdapat tumpukan pakaian yang dilipat rapi. Sweater**wool dan jaket thermal bulu angsa yang jika dilihat dari merk yang tertempel di sana, dilengkapi dengan teknologi heattech terbaru. Teknologi itu memungkinkan serat kain pakaian itu bisa menyerap kelembapan yang dikeluarkan tubuh, sementara kain itu sendiri mampu menghasilkan panas dengan metode  pemerangkapan lapisan air di antara serat, sehingga tidak memungkinkan kehangatan yang telah dihasilkan bocor keluar. Karena itulah, hanya dengan memakai saja secara otomatis akan menghangatkan.


Karena sudah menggunakan teknologi canggih, maka mereka tak perlu lagi menggunakan pakaian super tebal ataupun berlapis-lapis. Sweater dan jaket itu pun jelas tampak tidak terlalu tebal dalam lipatannya, hampir-hampir seperti pakaian biasa. Tetapi, kemampuannya untuk menghangatkan di musim dingin Rusia yang ekstrim sudah tidak diragukan lagi.


“Apakah kau lupa bahwa di luar sana sedang musim dingin, Sera? Kita tadi langsung pergi melalui lorong pintu keluar khusus rumah sakit menuju parkiran di dalam ruangan, sehingga aku merasa belum perlu memberikan jaket dan sweater ini kepadamu. Aku memang tak berencana melepas kemejaku, tetapi sekarang, karena aku sudah tak punya kemeja lagi, kurasa aku akan langsung memakai sweaterku saja.”


Dengan sikap menjengkelkan tanpa rasa bersalah sedikit pun, Xavier membuka lipatan salah satu sweater itu, memilih yang berukuran besar dan berwarna hitam, lalu mengenakannya dengan santai di depan Sera.


Kemarahan luar biasa menjerat benak Sera, membuat pita suaranya seakan terpilin hingga tak terhambat ketika dia mencoba mengeluarkan suara.


Sera mengepalkan tangan dan berdehem untuk menghilangan gemetar marah yang bercampur dalam suaranya.


“Kalau… kalau ada sweater dan jaket itu… kenapa… kenapa kau harus melepaskan kemejamu ddan memberikannya kepadaku untuk kupakai?” Sera membuka kepalan tangannya dan mencengkeram kemeja yang tak diinginkannya itu. “Aku… aku bisa saja tetap memakai kemejaku meski kancingnya rusak dan… dan langsung melapisinya menggunakan sweater dan jaket….” Suara Sera menghilang di tenggorokan, tertelan oleh rasa geram, kesal dan juga malu karena telah jatuh dalam perangkap Xavier sehingga dengan bodoh bisa dipermainkan oleh lelaki itu.


Xavier sendiri malah memasang senyumnya yang paling manis, melemparkan tatapan mengejek ke arah Sera. “Kau bertanya kenapa? Tidak ada alasan khusus,” sahut lelaki itu kemudian dengan suara santai. “Mungkin karena aku sedang ingin membuka baju dan memamerkan tubuhku kepadamu. Mungkin juga, karena aku ingin kau memakai kemejamu.”


Xavier mengawasi Sera lekat-lekat. Matanya berlabuh pada tangan Sera yang masih mencengkeram kemeja yang dipakainya, seolah ingin merenggutnya lepas.


“Apakah kau tak menyukai betapa nyamannya kemejaku? Kalau begitu kau boleh melepasnya dan langsung memakai sweater seperti yang kulakukan. Hanya saja….” Suara Xavier merendah, kali ini dipenuhi dengan butiran hasrat yang bergulir cepat dan sengaja tak disembunyikan. “Kali ini, aku tak bisa berjanji untuk memalingkan muka. Aku akan sangat menikmati ketika meliha kau membuka kancing demi kancing kemejaku yang kebesaran di tubuhmu, lalu menampilkan tubuh indahmu di bawah pandangan mataku---”


“Tidak akan pernah terjadi, dasar mesum!” Sera menyela dengan marah, menatap tajam ke arah Xavier sambil mengulurkan tangannya. “Kemarikan sweaterku!” pintanya ketus.


Xavier mengangkat alis, bibirnya mengulas senyum tetapi tak membantah dan mengambilkan Sera sweater-nya yang berwarna cokelat muda lalu mengangsurkannya ke tangan Sera yang langsung merenggut kasar.


Berusaha tak mempedulikan tatapan Xavier yang terang-terangan menertawakannya, Sera buru-buru memakai sweater wool itu untuk melapisi kemejanya. Setidaknya, sekarang dia sudah tak terlihat lagi sedang memakai kemeja Xavier sehingga memuaskan pikiran kotor lelaki itu.


Setelah memasang sweater-nya dengan rapi di tubuhnya, Sera menatap Xavier, mendongakkan kepalanya dengan menantang.


“Kenapa?” serunya marah, menghardik Xavier yang masih tak tahu malu mengawasinya.


Xavier terkekeh, tepat pada saat mobil itu berhenti, pertanda bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Senyum yang melembutkan wajah Xavier langsung lenyap, berganti dengan wajah dingin dan tatapan tajam yang menunjukkan ketidaksukaan nyata.


“Aku menikmati bercengkerama denganmu, tetapi sayangnya kita harus menghentikannya sementara.” Suara Xavier berubah pekat dan serius. “Kenakan jaketmu, kita akan turun.”


Dengan kalimat tegas, Xavier mengangsurkan jaket bulu angsa itu kepada Sera, sementara dirinya melangkah turun dari mobil dengan mengenakan jaketnya sendiri.


***


Udara dingin langsung menyambar wajah Sera ketika dia melangkah keluar dari mobil dan berdiri dengan kaku di samping Xavier.


Beruntung jaket dan sweater yang dikenakannya  berteknologi bagus, kalau tidak, Sera mungkin sudah menyerah dan langsung menghambur masuk kembali ke dalam mobil, lalu meringkuk dan berlindung di dalam kabin penumpang yang hangat di dalam sana.


Sayangnya, meskipun saat ini wajah dan hidungya terasa kaku kedinginan, Sera tak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Xavier yang bergerak cepat melalui jalan setapak yang dihiasi oleh batu alam yang disusun rapi, melewati gerbang sebuah bangunan tua besar bertembok putih yang lusuh dan menyeramkan dengan dihiasi rimbun dengan tanaman rambat di beberapa sudut dindingnya.


Mata Sera mengawasi sekeliling dan dia langsung menelan ludahnya ketika melihat bahwa ada banyak sekali orang berwajah asing memegang senjata yang berlalu lalang di setiap titik pengawasan penting pada sekeliling bangunan itu.


Xavier bilang bahwa gedung yang difungsikan sebagai penjara ini dimiliki oleh Dimitri yang terkenal itu.


Sera pernah tinggal di Rusia, jadi dia tahu bahwa Dimitri adalah pemimpin mafia jahat yang memiliki jaringan kekuasaan di bawah tanah dan ditakuti oleh siapapun yang masih mempunyai pikiran waras di negara ini.


Kenyataan bahwa Xavier berhasil menundukkan Dimitri dan membuat Dimitri bertingkah laksana pegawai yang patuh membuat Sera menyadari bahwa kekuatan Xavier tak bisa dianggap main-main.


Xavier dan racunnya adalah kombinasi mengerikan yang bisa menundukkan orang-orang kuat sekalipun. Sungguh, Sera benar-benar telah melakukan kebodohan dengan berpikir bahwa dirinya sepadan dan bisa melawan Xavier.


Kini, setelah tubuhnya diberikan racun secara paksa oleh Xavier yang licik dan juga orang-orang yang disayanginya disandera di bawah ancaman, tidak ada yang bisa Sera lakukan selain mengikuti alur langkah Xavier sebelum kemudian menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang.


Dua orang penjaga membukakan pintu kayu besar yang rupanya merupakan pintu utama bangunan ini. Sera langsung menyipitkan matanya ketika mengikuti Xavier memasuki bagian dalam bangunan besar tersebut, karena ruangan aula besar yang menyambut mereka tampak sangat gelap, kurang pencahayaan dan minim sirkulasi udara.


Setelah matanya berhasil menyesuaikan diri, Sera langsung mengawasi ke sekeliling dan menyadari bahwa tirai hitam yang tebal ditutupkan ke setiap jendela yang ada, menghalangi cahaya matahari masuk, sekaligus membuat jamur bertumbuh subur dalam nuansa lembab dan gelap ini.


Sera menghela napas hati-hati, menyadari bahwa aroma apak dan tak menyenangkan yang dihisapnya ini mungkin berasal dari spora jamur yang berhamburan memenuhi udara.


Seorang penjaga memberikan isyarat supaya mereka mengikuti langkahnya. Mereka dibawa melewati lorong-lorong gelap berbau tajam yang membuat Sera semakin merasa tak nyaman.


Tanpa bisa ditahan, tangan Sera bergerak memeluk tubuhnya sendiri, seolah berusaha melindungi diri dari kengerian yang akan dia hadapi kemudian.


Sera bukannya tak sadar bahwa Xavier akan membawanya menemui Samantha Dawn yang mengerikan itu, lalu Sera akan dipaksa menyaksikan proses kematian mengerikan Samantha Dawn akibat racun Xavier.

__ADS_1


Sesungguhnya, menghadapi Samantha Dawn yang hidup dan mengancam, sama mengerikannya bagi Sera dengan menghadapi pemandangan Samantha Dawn menyambut ajal dalam proses mengerikan.


Bertahun-tahun Sera hidup dalam siksaan dan intimidasi Samantha, mental dan fisiknya dihancurkan oleh perempuan itu, menanamkan rasa takut luar biasa yang menyiksa dirinya sampai ke sunsum tulang. Karena itulah, setiap menghadapi Samantha Dawn, Sera merasakan senyar ketakutan yang merayapi tulang punggungnya, lalu berhenti di kuduknya dan menciptakan hawa dingin mengerikan yang membuat bulu kuduknya berdiri.


Seiring dengan bertambahnya langkahnya, bertambah kencang pula debaran jantung Sera karena ketakutan. Dia berusaha menyembunyikannya dengan memeluk tubuhnya, tetapi tak urung, keringat dingin menetes di pelipisnya, menyerap energinya dan membuat Sera hampir-hampir tak mampu menopang tubuhnya.


“Tidak.” Xavier tiba-tiba berucap sambil menghentikan langkah tiba-tiba, membuat Sera yang sedang melamun tak siap berhenti dan langsung menabrak punggung kokoh lelaki itu.


Dengan bersungut-sungut, Sera mengusap wajahnya yang panas, lalu bergegas melangkah mundur menjauh dan menjaga jarak dari lelaki itu.


Xavier sendiri tampaknya mengabaikan kekonyolan Sera yang entah sudah keberapa kalinya dilakukannya hari itu. Lelaki itu tampaknya memfokuskan perhatiannya pada penjaga di depannya, lalu berucap tegas dengan nada mendominasi.


“Aku tak mau membawa wanitaku turun ke tempat itu. Siapa yang tahu bibit penyakit macam apa yang ada di bawah sana?” ujar Xavier dengan nada tak suka. “Bawa saja itu ke atas sini,” perintahnya kemudian.


Sera mengerutkan kening mendengar perkataan Xavier. Dengan penuh rasa ingin tahu, dia melongok dari balik punggung lelaki itu dan matanya langsung melebar ketika melihat bahwa di depan mereka ada sebuah pintu besi yang telah dibuka lebar.


Apa yang terpampang di balik pintu pagar besi itulah yang membuat Sera begidik ngeri. Di sana, tampaklah anak tangga yang mengular ke bawah, sementara kegelapan pekat menyelimuti, ditambah lagi dengan aroma apak bercampur busuk yang menguar dari bahwa sana, menusuk langsung tanpa izin ke dalam indra penciuman Sera.


Apakah di bawah sanalah tempat penjara neraka yang dimaksud oleh Xavier tadi?


Bahkan hanya dari anak tangganya yang paling atas saja, Sera sudah bisa merasakan kengerian atas buruknya kondisi penjara neraka itu.


Sama sekali tak bisa dibayangkannya penderitaan semacam apa yang dialami oleh Samantha Dawn yang menderita phobia lingkungan kotor serta takut terhadap kuman penyakit serta virus bakteri ketika harus dikurung di tempat ini.


Penjaga itu menganggukkan kepala tanpa bantahan, lalu berbicara dengan rekannya sebelum kemudian, dua orang itu melangkah turun untuk melaksanakan instruksi Xavier dengan patuh.


Sera penasaran sehingga dia melangkah untuk mensejajarkan dirinya di samping Xavier.


Lelaki itu masih menatap lurus ke arah pintu yang menampilkan tangga gelap di depannya. Ekspresi Xavier berkerut dan tampak tidak suka, ekspresi yang sama setelah dia menerima telepon yang membuatnya marah tadi.


Perlahan, meskipun segan, Sera akhirnya menggerakkan tangannya untuk menarik sedikit lengan jaket Xavier, menarik perhatian lelaki itu supaya menoleh ke arahnya.


“Apa yang akan dibawa ke atas sini? Bukankah kita akan menemui Samantha Dawn?” tanyanya rapuh, menekan firasat buruk yang membanjirinya.


Xavier menipiskan bibir, lalu mengalihkan pandangan lagi ke pintu di depannya, menajamkan telinganya untuk mendengar suara langkah kaki menggema yang mulai menapaki tangga di bawah sana.


“Sebentar lagi kau akan tahu,” jawab Xavier dengan nada suara dingin dan berjarak.


Mata Sera dengan penasaran langsung terarah pada benda besar yang diangkut oleh dua penjaga itu dengan susah payah dan dia langsung terkesiap.


Suara terpekik kaget muncul dari bibirnya tanpa bisa ditahan, membuat Sera langsung membekap mulutnya sendiri dan melangkah mundur karena syok.


Seolah tak peduli pada keterkejutan yang mendera Sera, dua penjaga berwajah dingin itu langsung meletakkan kantong mayat itu dengan kasar di lantai, menciptakan bunyi berdebum keras yang sungguh tak nyaman di telinga.


Xavier menoleh ke arah Sera dan menyeringai jahat.


“Sepertinya aku terpaksa harus menghemat racun yang sudah sudah kusiapkan hari ini,” ujarnya lambat-lambat tanpa menyelipkan setitik pun nada belas kasihan di dalam kalimatnya.” Mata Xavier tampak mengamati Sera lalu lelaki itu terkekeh. “Kau mencelaku dan bilang bahwa aku berusaha mendahului takdir karena ingin membunuh Samantha Dawn untuk menghukumnya. Tetapi, ternyata takdir memilih bersinergi denganku dan memutuskan untuk menjemput Samantha dengan tangannya sendiri. Dia ditemukan tewas di dalam selnya beberapa waktu yang lalu, meregang nyawa karena pneumonia parah yang mematikan.”


Mata Sera memandang ke arah kantong mayat itu dengan ngeri. Pemandangan kantong mayat hitam seukuran tubuh manusia itu tampak begitu menyeramkan, membuat Sera ingin berlari terbirit-birit seperti seorang pengecut.


Seandainya bisa, Sera sungguh ingin memaksa kakinya membalikkan langkah, lalu berlari menjauh dari situ, sejauh mungkin, sejauh dia bisa. Sayangnya, kaki Sera terasa begitu lemah, memakunya di tempatnya berdiri sekarang, tak bisa bergerak kemana-mana.


Xavier tampak tidak mempedulikan betapa pucatnya wajah Sera. Lelaki itu sedang mengawasi kantong mayat Samantha, lalu berucap seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


“Sayang sekali, bukan? Aku ingin menghadiahkan kebebasan kepadamu, tetapi sepertinya kebebasan itu datang terlalu cepat sehingga kau tak bisa menikmatinya.” Xavier merenung sejenak, lalu mengambil keputusan kemudian. “Tetapi, tentu saja kau masih bisa menikmati sedikit kebebasanmu, aku akan mengizinkanmu mendapatkan kesempatan itu.” Tangan Xavier bergerak, memberikan isyarat kepada salah satu penjaga itu. “Buka kantong mayat itu, Wanitaku mungkin ingin memberikan salam terakhir sebelum mayat ini dikremasi.”


Sera terkesiap, tubuhnya menegang di luar kendali. Sementara, otaknya seolah membeku, lambat dipakai untuk berpikir sehingga dia begitu kesusahan ketika ingin meneriakkan penolakan atas keputusan Xavier yang sangat kejam.


Terlambatlah sudah, ketika Sera membuka mulutnya untuk mengeluarkan erangan serak penolakan, ketika itulah resleting kantong mayat itu dibuka, tepat di bagian kepala.


Mata Sera langsung bertemu dengan wajah pucat pasi dari mayat Samantha Dawn yang sepertinya telah menemui ajalnya dalam kesakitan menyiksa. Mulut perempuan tua itu menganga setengah meringis, dan matanya….


Para penjaga itu sepertinya tak mau repot-repot menutup mata Samantha Dawn ketika memasukkannya ke kantong mayat….


Mata Samantha Dawnmasih melotot mengerikan, dengan tatapan kosong yang Sera yakin akan terus menghantuinya selama beberapa waktu ke depan.


Suara tercekik sempat keluar dari bibir Sera, ketika kegelapan langsung merenggut kesadarannya tanpa peringatan.


Tak kuat menanggung beban kengerian hebat yang menderanya, Sera kehilangan kesadaran seketika, membuat tubuhnya langsung ambruk, jatuh lunglai di lantai.


***


Hangat. Nyaman. Damai.

__ADS_1


Sera bergelung dengan senang, memundurkan punggungnya ke arah sumber kehangatan menyenangkan yang melingkupi dan menyenangkan hatinya. Aroma citrus bercampur vanila yang lembut menyapa indra penciumannya, terasa familiar dan langsung membuat Sera mengulas senyum karena senang.


Seandainya saja bisa, dia ingin terus seperti ini selamanya, dipeluk oleh lengan hangat yang mendekapnya seolah mengayomi, membuat Sera ingin melepaskan semua bebannya, lalu terbebaskan untuk bahagia.


Sayangnya, di balik mimpinya yang terasa indah dan menyenangkan ini, logikanya ternyata tak mau ikut tertidur, tanpa menyerah berbisik di dalam rongga kepalanya, meneriakkan kejanggalan yang harus Sera waspadai.


Dipeluk? Dipeluk siapa?


Pemikiran itu membuat Sera terkesiap. Dia mengerjap dan seketika matanya yang semula tertutup rapat dalam damai, terpaksa membuka, bersusul-susulan dengan kesadaran yang memenuhi kepalanya, membuatnya mengerutkan kening kebingungan karena kewalahan mencerna semua ingatan yang datang satu persatu memenuhi dirinya.


Penjara neraka… Mayat Samantha Dawn….


Kengerian langsung memenuhi benak Sera, tetapi hal itu tak menyembunyikan sekeping rasa bersalah yang menyeruak ke permukaan hatinya, beranak pinak dan akhirnya memenuhi seluruh ruang yang ada.


Ya, sungguh Sera merasa bahwa dirinya sangat jahat. Dia ingin menyembunyikan perasaan terdalamnya, tetapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri.


Meskipun kondisi mayat Samantha Dawn sangat mengerikan dan Sera merasakan sebersit rasa kasihan di dalam jiwanya…. Tetapi entah kenapa, Sera merasa lega.


Lega. Seolah-olah ketakutannya lenyap tak bersisa dan beban berat yang menggayuti jiwanya selama ini terlepaskan dan meringankannya.


Sera tahu bahwa dia tak boleh merasa senang ataupun lega atas kematian manusia lain. Tetapi, itulah yang dirasakannya.


Hal itu membuatnya ketakutan, karena Sera tak mau jiwanya berubah menjadi kejam dan jahat seperti halnya Xavier yang membalas dendam dengan merenggut nyawa orang lain.


Memikirkan tentang Xavier membuat mata Sera menelusuri ruangan tempat dirinya berada. Kamar ini luas dan dipenuhi perabotan dengan tampilan minimalis yang memiliki warna monokrom, senada satu sama lain, berpadu antara furniture, dinding, karpet dan bahkan tirai jendelanya.


Sera menduga bahwa kamar tempatnya berbaring ini adalah sebuah kamar hotel.


Perlahan, Sera menggerakkan kakinya mencoba bangkit. Keningnya berkerut ketika menyadari bahwa dia tidak mengenakan celana panjangnya lagi di balik selimutnya.


Pakaian dalamnya masih terpasang rapi, bagian atas dan bawah masih lengkap. Juga dengan kemeja Xavier yang masih dikenakannya.


Tetapi selain itu, pakaiannya sepertinya telah dilepas. Bahkan celana panjangnya pun….


Dia tadi dengan lemahnya pingsan setelah melihat mayat Samantha dan sekarang dia berbaring tak mengenakan celana panjangnya lagi….


Apakah Xavier yang melakukannya?


Terkejut, Sera mencoba bangkit, hanya untuk dipukul dengan keterkejutan yang intensitasnya berkali-kali lipat lebih besar.


Sera ternyata tak bisa bergerak, apalagi bangkit dari ranjang. Ada tangan kuat yang merengkuh dan memeluknya dari belakang. Melingkari pinggannya dengan sikap posesif dengan bagian depan tubuh berototnya yang sepertinya tak berbaju, merapat tak berjarak dengan punggung dan bagian belakang tubuh Sera.


Tidak perlu dipertanyakan lagi siapa sosok yang memeluk Sera dari belakang itu.


Lelaki kurang ajar itu telah mengambil kesempatan atas pingsannya Sera dan memaksa Sera tidur dengannya di atas satu ranjang!


****           ****


*****        *****


******     ******


*******  *******


*****       *****


****          ****


___PRAKATA DARI AUTHOR___


- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.


-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya


- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.


- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.


Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.


Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).


Sincerely Yours - AY

__ADS_1


__ADS_2