Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 69 : Tanda Kepemilikan


__ADS_3

Sera baru saja selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang telah disiapkan untuknya. Entah darimana Xavier mendapatkan pakaian untuknya sepagi ini, dengan ukuran yang sangat tepat dengan tubuhnya tanpa meleset seincipun pula.


Seolah-olah ada ibu peri yang memiliki kekuatan sihir ajaib dan mampu menyiapkan apapun kebutuhannya dengan sempurna dan tanpa cacat.


Rambut Sera masih setengah kering dan dia langsung menyisirnya asal-asalan ke belakang, lalu menggulungnya ke atas dengan gaya sederhana. Sera bahkan tidak mau repot-repot berdandan dan sengaja membiarkan wajahnya polos tanpa riasan. Hanya segores lipstick dengan warna natural yang sempat dia oleskan di depan cermin sebelum melangkah keluar dari kamar untuk sarapan.


Beruntung Sera sempat menyelipkan lipstick itu ke dalam tasnya sebelum berangkat menghadiri acara makan malam di rumah Elana kemarin. Kalau tidak, Sera mungkin harus keluar dengan bibir pucat seperti orang sakit. Sebab, hanya pakaian lengkap yang disiapkan baginya pagi ini, tidak ada kosmetik dan parfum untuk dirinya di sana.


Tampaknya, biarpun telah menyiapkan pakaian gantinya dengan sempurna, sebagai seorang lelaki Xavier tidak memikirkan tentang kebutuhan kosmetik sebagai sesuatu yang penting bagi seorang wanita.


Ketika keluar dari kamar dan menatap meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan di atasnya, Sera sempat terpana sejenak sebelum akhirnya dia mampu mengutarakan protesnya kepada Xavier.


Lelaki ini seolah-olah telah memindahkan sebagian besar menu buffet sarapan hotel ke atas meja makan ini.


Semua menu, dari omelet sederhana, berbagai macam pastri dan croissant, Soupe a l'oignon yaitu sejenis sup kaldu sapi kental dengan potongan bawang putih harum di dalamnya, hingga menu makan berat seperti Beef Bourguignon tersaji di sana.


"Kau memesan semua makanan ini hanya untuk kita berdua?" tanya Sera sambil membeliak ke arah Xavier.


Xavier mengangkat alis seolah-olah pertanyaan Sera adalah pertanyaan bodoh.


"Aku sudah makan selama menantimu mandi," jawabnya tanpa rasa bersalah. Lelaki itu mengedikkan dagunya ke arah cangkir kopi kosong di depannya. “Semua menu itu untukmu,” sambung Xavier dengan nada suara mengultimatum yang tegas.


Sera membeliak. “Aku ini sedang hamil, bukan sedang kelaparan, kau tak perlu memberiku makan sebanyak ini.” Sera melangkah mendekat dan duduk di kursi makan yang ada di seberang tempat Xavier duduk. Matanya memandangi hamparan makanan di depannya itu dengan cemas. “Jelas-jelas aku tak bisa menghabiskannya sendirian. Aku hanya akan mengambil beberapa porsi dari makanan ini. Mungkin kau bisa menyisihkan beberapa menu yang tak kusentuh dan memberikannya kepada anak buahmu?” tanyanya dengan nada berhati-hati, tahu kalau dia menolak terang-terangan, besar kemungkinan Xavier akan memaksanya makan atau malahan membuang makanan itu di depan matanya hanya untuk membuatnya jengkel.


Xavier menyipitkan mata, memindai ekspresi Sera sebelum memberikan jawaban. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menghindari konfrontasi pada saat mereka baru mengawali hari dan kemudian menganggukkan kepala tipis.


“Pilihlah menu yang mana yang ingin kau makan, aku akan meminta pegawaiku makan di sini setelah kau selesai sarapan,” putusnya kemudian.


Sera menganggukkan kepala senang karena persetujuan Xavier. Perutnya memang lapar meskipun tentu dia tak selapar itu hingga mampu menghabiskan semua hidangan di meja makan. Diambilnya beberapa pastri dengan isian buttercream yang lembut, omelet keju dan juga sup hangat yang aromanya menggoda indra penciuman sejak tadi. Setelahnya, dia langsung mulai makan tanpa mempedulikan Xavier yang masih terus mengawasinya.


“Apakah porsi sekecil itu cukup untukmu? Apakah kau lupa bahwa kau sedang hamil?” Xavier tampak tidak puas dengan porsi yang diambil oleh Sera hingga lelaki itu bertanya kembali.


Sera mengunyah omelet keju nikmat yang lumer di mulutnya dan menelannya dulu sebelum berucap, “Sedang hamil bukan berarti aku makan untuk dua orang dan harus makan dua porsi sekali makan. Yang penting adalah kecukupan giziku terpenuhi untukku dan bayiku.”


“Jangan lupa, kemungkinan besar bukan hanya satu yang ada di perutmu. Kau harus berbagi nutrisi untuk dua bayi di sana.” Dengan keras kepala, Xavier mengambil seporsi besar kentang tumbuk, sayur-sayuran dan juga potongan daging untuk Sera ke atas piring kosong yang tersedia, lalu menggeser piring itu ke hadapan Sera. “Protein, vitamin dan karbohidrat, cukup penting untuk mengisi tenagamu, bukan? Lagipula, kita akan berbelanja perlengkapan bayi hari ini, jadi kurasa kau butuh banyak tenaga untuk menopangmu. Habiskan itu,” perintahnya dengan nada tegas.


Sera mengerucutkan bibir melihat porsi besar yang diambilkan oleh Xavier untuknya. Tetapi, sama seperti Xavier, Sera tidak ingin memulai konfrontasi di pagi hari yang akan merusak suasana hatinya sepanjang hari ini. Oleh sebab itu dia memutuskan diam saja dan menurut, mengambil apa yang sudah tersaji di depannya lalu melahapnya.


Xavier menyunggingkan senyuman puas melihat tingkah patuh Sera. Lelaki itu berdiam, mengamati bagaimana Sera makan dengan lahap dan senyumnya melebar. Sera sungguh tidak seperti perempuan lain yang pernah ada di dekatnya sebelumnya, mereka semua selalu menjaga sikap, berusaha seelegan mungkin bahkan saat menyantap makanan di depan Xavier. Porsi makan mereka begitu kecil dan saat membuka mulutnya, dilakukan dengan sangat berhati-hati sehingga hanya sedikit mulut yang dibuka dan sedikit pula makanan yang masuk. Wanita-wanita itu seolah-olah tak menghargai makanan dengan selalu menyisakan makanan di piring mereka atas nama sikap sopan dan elegan.


Berbeda dengan sekarang, melihat Sera makan dengan lahap, menandaskan porsi demi porsi sampai licin membuatnya senang. Perempuan ini makan sebagaimana mestinya, tanpa perlu memakai topeng kepura-puraan untuk membuat kesan baik di mata Xavier. Lagipula, Xavier tidak suka perempuan yang terlalu kurus, dia suka perempuan dengan lemak yang tepat di bagian-bagian tertentu, terasa hangat, lembut, dan menyenangkan untuk disentuh dengan tangannya.


Melihat bagaimana nafsu makan Sera saat ini dan mengetahui bahwa ada dua bayi di dalam kandungannya, Xavier yakin bahwa Sera akan menjadi ibu hamil bertubuh montok dengan perut besar yang sangat cantik.


Pemikiran itu menyenangkan hati Xavier, mencerahkan suasana hatinya dengan cepat.


“Kau masih bisa makan dengan lahap. Apakah kau tidak mengalami mual dan muntah di pagi hari seperti perempuan-perempuan hamil kebanyakan?” Xavier tak bisa menahan diri untuk bertanya. Sesungguhnya dia telah menerima laporan harian dari seluruh pegawainya, juga melihat sendiri dari kamera pengawas bagaimana Sera memenuhi kecukupan gizi hariannya dengan melahap semua menu sehat yang disediakan oleh koki baginya. Tetapi, tetap saja dia ingin mendengar apa yang dirasakan oleh perempuan itu dari mulut Sera sendiri.


Sera meletakkan sendok supnya dan meneguk air putih yang tersedia di sampingnya, dia sudah menandaskan semua makanannya sampai habis, perutnya kenyang dan itu berimbas pada suasana hatinya yang langsung membaik. Hal itu membuatnya mampu menghadiahkan senyum manis pada Xavier ketika berucap.


“Aku masih baik baik saja sampai saat ini, aku bisa makan banyak di pagi, siang ataupun malam hari tanpa masalah,” jawabnya dengan nada suara riang.


Mata Xavier berbinar. “Apakah ada menu yang membuatmu mual atau tak suka?” Dalam hati, Xavier berniat mencatat dipikirannya lalu menginformasikannya kepada koki yang bekerja di rumah Sera.


“Tidak ada. Aku suka semuanya.” Sera menggelengkan kepala dengan nada bersemangat. Namun, ketika menyadari bahwa dia seolah mengakui kerakusannya dengan gamblang, pipinya langsung memerah. “Mak-maksudku hampir tidak ada menu yang tak kusuka dan dengan kehamilan ini, sepertinya selera makanku tidak berubah malahan semakin membaik. Elana bilang dia mulai mual muntah setelah usia kandungannya bertambah di ujung trisemester pertama, tetapi aku sungguh berharap aku tak mengalami mual muntah seperti itu,” sambungnya kemudian, berusaha menjelaskan.

__ADS_1


Xavier menganggukkan kepala, tatapan matanya tampak serius ketika berucap, “Aku juga mengharapkan hal yang sama, Sera. Kehamilan pertama Elana menyiksanya hingga dia harus diinfus di atas tempat tidur selama beberapa waktu karena tak ada satu pun makanan yang bisa masuk ke kerongkongannya. Akram bahkan harus menjaga jarak darinya karena Elana selalu mual dan muntah setiap berada di dekat suaminya."


Sera tersenyum menyetujui. Tanpa sadar, tangannya mengusap perutnya, membuat mata Xavier ikut terpaku di sana.


“Sepertinya, anak-anak di dalam sini sangat suka makan. Aku hanya berharap mereka tidak berubah pikiran nanti.”


Xavier terkekeh, senyumnya melembut tetapi dia hanya menganggukkan kepala dan tidak berkomentar apapun. Lelaki itu kemudian melirik ke arah piring-piring makanan Sera yang telah kosong, lalu bertanya dengan nada menggoda.


“Apakah kau benar-benar yakin tak akan menghabiskan semua makanan yang tersaji di sini?” tanyanya kemudian.


Sera menggelengkan kepala cepat-cepat. “Tidak. Aku benar-benar kenyang. Kalau sampai makan lagi, aku tak akan sanggup berjalan karena kekenyangan,” sahutnya dengan nada meyakinkan.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang.” Xavier beranjak dari duduknya. Lelaki itu lalu mengambil mantel warna cokelat tua yang telah disiapkannya untuk Sera, sebelum kemudian melangkah ke belakang Sera.“Aku akan membantu mengenakan mantelmu. Perkiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini akan cukup dingin dan berangin akibat sisa badai besar yang menghantam semalam. Kau harus mengenakan pakaian hangat supaya tidak sampai jatuh sakit.”


Dibantunya Sera berdiri, lalu tanpa Sera bisa membantah, Xavier langsung membantu memasangkan mantel itu dari belakang tubuh Sera.


Setelah Xavier selesai membantu Sera memakai mantelnya, tanpa diduga, lelaki itu tiba-tiba saja membungkukkan tubuh hingga napasnya terasa hangat di belakang tengkuk Sera, lelaki itu tiba-tiba saja menghadiahkan sebentuk kecupan panas di kelembutan tengkuk Sera, membuat Sera terkesiap karena senyar seperti tersengat listrik yang merambati tubuhnya. Sera hendak menolehkan kepala dan memprotes, tetapi tangan Xavier tiba-tiba bergerak menyentuh rambutnya, melepaskan gulungan rambut di belakang kepala Sera dan mengurainya.


Kedua tangan Xavier mendarat di bahu Sera dan meremasnya lembut dari belakang, lelaki itu kemudian menunduk kembali hingga kepalanya dekat sekali dengan telinga Sera, berbisik menggoda sambil mengembuskan napas panas di sana.


“Semalam ketika kita bercinta, aku meninggalkan bekas ciuman di tengkukmu ketika menggigitmu di sana,” bisiknya dengan suara parau nan sensual. “Jika kau menggulung rambutmu ke atas, bekas itu akan sangat kelihatan jelas. Aku mungkin tak keberatan memamerkan tanda dariku di kulitmu, tetapi aku tak ingin kau merasa malu nanti saat orang-orang memandangimu,” sambungnya kemudian dengan suara menggoda.


Mata Sera melebar, seketika perempuan itu membalikkan tubuh dan menggerakkan tangannya untuk mengusap bagian belakang lehernya. Terasa sedikit pedih di sana yang sebelumnya tak dia sadari. Wajah Sera langsung merah padam ketika kelebatan ingatan akan percintaan panas mereka semalam langsung tersaji dalam imajinasinya, membuatnya mengingat bagaimana posesifnya Xavier semalam ketika menggeram dan menggigit tengkuknya saat membawa Sera menuju puncak kenikmatan.


Astaga! Bisa-bisanya lelaki itu meninggalkan bekas gigitan dan ciuman panas di tengkuknya dengan sengaja!


Sera langsung mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan pandangan marah sedikit mencela.


“Kenapa kau meninggalkan tanda di tempat yang kelihatan?” marahnya sambil bersungut-sungut.


Xavier terkekeh, lelaki itu melangkah mundur, lalu mengambil mantelnya sendiri yang berwarna gelap dan mengenakannya.


“Bisa-bisanya kau… bukan begitu, maksudku….”


Kalimat Sera yang kacau balau terhenti karena tiba-tiba saja Xavier menariknya ke dalam rangkulan, lalu mendongakkan Sera dan mencium bibirnya dengan tekanan yang sangat dalam dan panas. Lelaki itu menyesap kelembutan manis dari bibir Sera sepuasnya, menelan seluruh kalimat yang hendak terlontar dari bibir Sera hingga hilang semuanya.


Setelahnya, barulah Xavier mengangkat kepala dengan binar mata penuh kepuasan. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Sera yang lembab bekas diciuminya, sementara bibirnya mengurai seringai lebar seolah merasa menang.


“Seandainya saja Credence Evening melihatmu dalam kondisi seperti ini, dengan bibir ranum merekah dan mata melembut penuh hasrat setelah kucium, dia pasti akan mundur seketika karena tahu bahwa kau sudah ditaklukkan olehku dan tak ada kesempatan baginya untuk menyusup masuk.”


Xavier berucap dengan pongah dan lelaki itu seolah tak ingin mendengar bantahan Sera atas klaim sepihak yang dibanggakannya, ditariknya tubuh Sera ke dalam rangkulan, lalu dihelanya perempuan itu memasuki lift untuk beranjak pergi dari tempat tersebut.


***


“Akram!”


Elana tampak berlari-lari menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa sambil menyesap kopinya. Di seberangnya, Credence duduk dan melakukan hal yang sama. Dua lelaki itu sedang menikmati kopi pagi sebelum berangkat bekerja.


Suara panggilan Elana yang bersemangat tentu saja membuat Akram menolehkan kepala. Matanya melebar ketika melihat sikapnya serampangan Elana yang setengah menghambur ke arahnya. Dengan penuh kecemasan, lelaki itu langsung beranjak dari sofa, melangkah cepat menghampiri, lalu merangkul Elana ke dalam pelukannya.


“Hati-hati.” Akram berucap dengan nada serius. Keningnya berkerut menatap Elana dengan penuh peringatan. “Apa kau lupa kalau kau sedang hamil? Kau bisa terjatuh kalau berlari-lari seperti itu.”


“Aku tahu, aku tahu. Aku akan berhati-hati,” Elana menyetujui dengan cepat seolah-olah tak sabar untuk memberitahu Akram, senyumnya melebar sementara matanya berbinar senang ketika berucap kemudian. “Kau tahu, Xavier tadi meneleponku.”


“Dia juga meneleponku dan mengatakan tidak akan datang ke perusahaan untuk beberapa waktu. Kenapa dia juga meneleponmu?” Akram mengerutkan kening semakin dalam, menatap dengan penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


“Itu dia!” Elana terkekeh perlahan. “Kau tahu, sepertinya yang semalam berhasil. Xavier dan Sera melewatkan malam bersama-sama, dan berkat Credence yang menawarkan untuk mengantar kami berbelanja perlengkapan bayi, Xavier hari ini memutuskan untuk mengantar sendiri Sera berbelanja perlengkapan bayi. Dia tadi meneleponku dan menanyakan dimana alamat butik perlengkapan bayi yang menjadi langgananku, hari ini dia akan mengantar Sera ke sana untuk berbelanja.”


“Xavier melakukan itu? Aku tidak menduganya, itu seolah-olah suatu kemustahilan. Bukankah butik tempat membeli perlengkapan bayi yang kalian berdua rencanakan untuk kalian kunjungi, terletak di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota?” Credence yang sejak tadi duduk di sofa dan mendengarkan dalam diam percakapan Akram dan Elana, tidak bisa menahan diri untuk tidak menyahuti. Kerutan di keningnya jadi sama dalamnya dengan Akram. “Xavier yang kami kenal sangat menghindari keramaian, dia tidak suka berinteraksi dengan orang asing, dan juga sering menolak muncul di acara-acara yang mengharuskannya menghadapi banyak orang tak dikenal.”


“Mungkin dia cemburu kepadamu jadi dia mengambil sikap impulsif.” Elana menyahuti dengan nada bersemangat. “Kau tahu, selama ini aku merasa bahwa bagi Xavier, Sera adalah sosok wanita yang istimewa. Mungkin dia menyimpan perasaan kepada Sera, tetapi tak mau mengakuinya.” Mata Elana bersinar sedih ketika melanjutkan ucapannya. “Xavier seolah-olah menganggap penyakitnya adalah pengekang dirinya untuk mendapatkan kesempatan berbahagia. Dia selalu menahan diri karena penyakitnya itu. Dia bahkan menahan diri untuk mengklaim kepemilikannya kepada Sera. Tetapi, terima kasih kepadamu, Credence. Kau sepertinya menumbuhkan sisi posesif yang selama ini ditekan oleh Xavier. Bahkan demi Sera, dia mau melakukan hal-hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.”


“Yah, setidaknya semua berjalan sesuai jalurnya.” Akram tampak menahan senyum melihat betapa senang dan betapa bersemangatnya Elana. Lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tidak membungkuk dan mengecup bibir istrinya lembut, tidak peduli kalau ada Credence di sana yang bisa melihat jelas ciuman mereka.


Ketika Akram membebaskan bibir Elana dari pagutannya, Elana langsung melangkah mundur dengan wajah merah padam karena malu, sebelah tangannya menutup mulut yang tadi telah dicicip lembut oleh suaminya.


“Akram!” Elana membisikkan kalimat penuh peringatan, menatap Akram dengan pandangan mencela. Ujung matanya melirik sedikit ke arah Credence yang dengan terang-terangan menatap ke arah mereka tanpa mau bersikap sopan sedikit saja dengan memalingkan wajah.


Akram terkekeh, dirangkulnya istrinya yang menjauh, lalu dihadiahkannya lagi kecupan di dahi Elana dengan sayang. Mata Akram lalu beralih ke arah Credence dan menatap lelaki itu penuh peringatan.


“Kami para lelaki, jika sudah menemukan satu wanita yang paling istimewa, maka jiwa kami akan bergelora dengan keposesifan buas yang membuat kami tak akan segan-segan menghalau siapapun yang mencoba mengganggu kepemilikan kami terhadap gadis kesayangan kami ini.” Akram berucap dengan nada penuh isyarat ke arah Credence. “Kau tentu juga setuju denganku, bukan?”


Credence membalas dengan seringaian yang sama. “Aku tak akan mengganggu Elanamu, Akram. Kau tentu tahu prinsipku, aku tak suka mengganggu milik orang lain. Tetapi, untuk kasus Serafina Moon tentu berbeda, aku bersedia melanggar sedikit aturan yang telah kuterapkan untuk diriku sebelumnya, demi membuat Xavier menyadari perasaannya sendiri.” Credence melirik jam tangannya, lalu menatap ke arah Elana dengan senyum lebar penuh kelembutan. “Akram harus pergi bekerja sekarang, tetapi seperti yang kubilang kemarin, aku punya cukup banyak waktu seharian ini. Jadi, kapan kita akan berangkat?”


Elana mengerutkan kening ditanya seperti itu, dia mendongak, menatap ke arah Akram, tetapi Akram mengangkat bahu, sama-sama tidak mengetahui makna pertanyaan Credence.


“Berangkat ke mana?” Elana bertanya kembali, meminta kejelasan.


Credence menyeringai, kali ini ada sinar di matanya yang tampak berkilat penuh antisipasi, seolah-olah tak sabar menanti apa yang akan terjadi nanti. “Sudah kubilang bahwa aku akan mengantarmu menggantikan Akram untuk berbelanja perlengkapan bayi, bukan? Kurasa, jika kita berangkat sekarang, aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengan pasangan kesayangan kalian itu.” Bibir lelaki itu mengurai senyum penuh arti. “Bukankah kalian bilang bahwa aku harus terus-menerus menyiramkan bahan bakar ke dalam kobaran api di hati Xavier supaya lelaki itu meledak, lalu sadar untuk mempertahankan apa yang sebenarnya sudah ada di dalam genggamannya dan menanti untuk dihargai? Aku sudah bersedia memberikan bantuan kepada kalian, dan jika aku sudah bertekad memberikan bantuan, maka aku akan melakukannya dengan kekuatan penuh.”


Credence tiba-tiba terkekeh ketika membayangkan apa yang akan terjadi nanti ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan prediksinya. “Aku tak sabar melihat seberapa besar Xavier akan marah ketika melihatku muncul di butik peralatan bayi itu dan mengganggu saat-saat mesranya dengan Serafina. Kurasa, lebih baik kita berangkat sekarang supaya bisa mendahului Xavier dan Serafina.”


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2