Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 63 : Pengkhianat


__ADS_3


"Dingin?"


Akram merapatkan kerah mantel Elana hingga menutup rapat, lalu kembali merangkul dan membawa Elana ke dalam pelukannya. Hari masih pagi dan sesuai dengan apa yang dijanjikannya kepada Xavier, ia akan membiarkan Elana berada di rumah Xavier dalam waktu dua puluh jam yang harus ditempuh untuk menerima serum penawar racun itu. Elana harus ditinggalkannya sendirian, hanya dikawal oleh para bodyguardnya dan tanpa ada penjagaaan jarak dekat dari Nathan dan Elios.


Akram telah mempertaruhkan nyawa Elana dalam hal ini. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Apalagi, sesuai dengan yang dikatakan oleh Xavier kepadanya, efek dari racun itu benar-benar mulai bertumbuh di hari ketiga, seolah menagih kembali untuk diberikan penawar.


Ketika terbangun tadi pagi, Akram menemukan Elana meringkuk kedinginan dan menggigil. Dia langsung menenelepon Nathan dan mendapatkan instruksi pencegahan yang dia bisa guna menjaga supaya suhu tubuh Elana tetap stabil dan tidak menurun lebih daripada yang seharusnya. Seketika itu juga Akram tahu, bahwa jika dia ingin Elana tetap hidup, dia harus merendahkan dirinya dan tunduk di bawah persyaratan Xavier.


Pagi ini, mereka sudah duduk bersama di kabin penumpang mobil Akram yang besar, dengan supir yang mengemudikan di depan mereka, diikuti dengan beberapa mobil berukuran besar lain yang berisi para bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Elana sepanjang hari ini.


Akram memutuskan untuk mengantar Elana ke rumah Xavier dan menyerahkan Elana kepada kakaknya yang jahat itu dengan tangannya sendiri. Dia juga berniat memberikan ancaman secara langsung dan tatap muka, supaya Xavier paham bahwa Akram akan mengobarkan perang besar kalau sampai lelaki itu berani menyakiti Elana setitik pun.


Jika dahulu Akram berusaha menyembunyikan betapa pentingnya Elana baginya supaya Xavier tidak mengincar Elana. Sekarang Akram bertindak sebaliknya. Dia akan menunjukkan kepada Xavier betapa pentingnya Elana baginya, supaya Xavier paham konsekuensi mengerikan jika dia berani menyentuhkan tangannya kepada miliknya yang berharga itu.


Mobil mereka memasuki halaman rumah Xavier yang megah dan berhenti tepat di depan pintu yang dihiasi dengan pilar-pilar besar menaungi mereka. Elana melirik ke arah jendela mobil, langsung menatap pintu rumah Xavier yang terbuka lebar dan mengerutkan kening ketika menyadari apa yang ada di sana.


Berbeda dengan hari pertama ketika dia datang ke tempat ini, Xavier tampak sudah menunggu seolah hendak menyambut di depan pintu dengan pakaian formal dan senyum manis tersungging di bibirnya.


Akram mendengus ketika melihat sosok Xavier di pintu. Tangannya yang merangkul Elana mengetat hingga Elana bisa merasakan cengkeraman jemari Akram di kulitnya.


"Psikopat gila itu pasti sudah mendengar dari anak buahnya yang mengawasi diam-diam, bahwa aku akan datang sendiri kemari untuk mengantarmu. Dia pasti sudah tak sabar, penuh antisipasi untuk memprovokasi," mata Akram yang tajam melirik ke arah Elana. "Kuharap kau tidak sampai terprovokasi dengan segala tingkahnya," ujarnya kemudian.


Elana mengangkat alis sedikit, sementara mata polosnya mengawasi ekspresi Akram yang gelap. Bahkan lelaki itu belum bertatap muka secara langsung dengan Xavier, tetapi gurat kemarahan sudah tampak menghiasi rona wajahnya.


Apakah kebencian di antara dua saudara ini sudah terlalu dalam untuk disembuhkan? Menorehkan luka permanen yang bekasnya akan di bawa sampai mati?


"Mungkin kau harus menerapkan perkataanmu itu untuk dirimu sendiri?" Elana bertanya dengan hati-hati, dipenuhi dengan niat baik untuk memadamkan emosi Akram. Tangan rapuhnya yang gemetaran bahkan bersedia bergerak untuk menepuk-nepuk paha Akram -tanpa niat sensual sama sekali - gerakannya lebih seperti menepuk-nepuk seorang anak kecil untuk menenangkan.


Akram tak bisa menahan senyum penuh ironi di bibirnya. Jika wanita lain yang menepuk-nepuk pahanya seperti ini, tanpa pikir panjang Akram akan mencekal tangan itu dengan kasar, lalu mendorong wanita itu menjauh penuh rasa jijik. Tetapi, ketika Elana menyentuh pahanya tanpa intensi apapun.... Sungguh, Akram sangat ingin Elana melakukannya dengan sentuhan sensual, menggulirkan jari jemarinya dengan gerakan penuh godaan, lalu memancing dirinya hingga lepas kendali.


Tangan Akram bergerak dengan sendirinya untuk menangkup wajah Elana dengan kedua telapaknya, kepalanya menunduk dan bibirnya mendesak, ingin melumat bibir polos Elana yang ranum, yang semalam dilumatnya habis-habisan sepenuh hasratnya ketika mereka bercinta seolah tak akan ada hari esok untuk melampiaskan rindu.


Suara ketukan di jendela membuat tubuh Akram yang hendak merengkuh Elana menjadi kaku. Dia menghentikan gerakannya, lalu memeluk Elana yang tampak merona merah, seolah ingin menyembunyikan perempuan itu dari pandangan. Akram menolehkan kepala dengan marah ke arah jendela, hendak memarahi siapapun yang kurang ajar berani mengetuk jendela mobilnya.


Supir dan anak buahnya tidak akan pernah berani melakukan itu. Jadi ini pasti....


Mata Akram bertemu dengan sosok Xavier yang berdiri di dekat jendela mobil dengan senyumnya yang lebar. Ternyata si psikopat gila ini pelakunya. Xavier tentu saja kesulitan untuk melihat menembus kaca mobil yang gelap, tetapi dengan kehadirannya di dekat mobil dan ketukan kurang ajarnya di jendela mobilnya saja, sudah cukup untuk memberikan gangguan yang memancing emosi.


Akram menurunkan kaca jendela, lalu menatap Xavier dengan tatapan membunuh nan kental.


"Apa yang kau inginkan?" bentaknya dipenuhi kemarahan.


Xavier malah tertawa terkekeh, matanya melirik ke arah Elana yang sedang ditenggelamkan dalam rangkulan Akram, lalu kembali lagi menatap Akram dengan sinar ramah penuh senyuman.


"Hei, bersikaplah sopan sedikit, Akram. Kau datang bertamu dan tuan rumah sudah menunggu untuk menyambutmu di pintu. Tetapi kau malahan mengurung dirimu di mobil yang terparkir tepat di depan mata tuan rumah ini tanpa niat untuk keluar. Tidakkah kau melihat ke sekelilingmu? Semua orang tengah menunggu kalian keluar dari mobil." mata Xavier berbinar. "Jangan salahkan aku jika aku mengambil inisiatif untuk mengetuk jendela dan menghentikan apa yang mungkin sedang kalian lakukan ataupun hendak kalian lakukan di dalam mobil," sambungnya kemudian dengan nada penuh arti yang membuat pipi Elana makin merah padam dalam pelukan Akram.


***

__ADS_1



***


"Selamat datang di rumahku yang sederhana ini," Xavier melangkah tenang dari arah bar besar yang tersedia di ruang tamunya, lalu meletakkan minuman berwarna keemasan dalam gelas kristal untuk disajikan pada meja di depan Akram yang duduk dengan kaku di sofa besar ruang tamu Xavier itu.


"Minuman kesukaan adikku," ujarĀ  Xavier dengan nada penuh arti, lalu meletakkan gelas minuman lain berwarna pink cerah yang indah ke depan Elana, "Jus buah-buahan untuk Lana," tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan terang-terangan ke arah Elana di depan Akram, membuat Elana hanya bisa tersenyum canggung di bawah lirikan mata Akram yang menghujaninya dengan tajam.


"Te... terima kasih," Elana berseru gugup untuk memecahkan suasana yang tak mengenakkan itu. Tangannya bergerak untuk meraih gelas minuman yang disajikan oleh Xavier kepadanya, tetapi Akram langsung mencegahnya, mencengkeram pergelangan tangan Elana lembut untuk menahannya.


"Jangan meminum apapun yang diberikan oleh Xavier kepadamu. Apalagi yang berasal dari tangannya langsung. Kau tentu ingat bahwa dia memiliki laboratorium yang meneliti berbagai racun dan senjata biologis. Siapa yang tahu obat aneh macam apa yang akan dimasukkannya ke dalam minumanmu?" Akram memberi nasehat ke arah Elana dengan suara jelas dan penuh penghinaan, sengaja membiarkan Xavier mendengarnya.


Xavier sepertinya benar-benar kebal menghadapi sikap benci Akram kepadanya. Lelaki itu hanya tersenyum lebar, lalu menolehkan tatapannya dengan lembut ke arah Elana.


"Berhari-hari aku menunggu supaya bisa bertemu dengan Lana lagi, tak mungkin aku menggunakan detik pertama kedatangannya untuk meracuninya," ujarnya ringan seolah berusaha meyakinkan Elana. Lelaki itu tidak memaksakan kepada tamunya untuk meminum sajiannya dan memilih bergerak untuk mengambil posisi tempat duduk di sofa yang berada tepat berhadapan dengan posisi duduk Elana dan Akram.


Akram jelas-jelas menunjukkan sikap posesifnya dengan gamblang. Bahkan sekarang saat mereka duduk di atas sofa, Akram merangkulkan lengannya melingkari pinggang Elana sementara jarinya menyentuh panggul Elana dan merapatkan perempuan itu ke tubuhnya.


"Sepertinya kalian sudah berbaikan ya?" Xavier berucap dengan nada licik di dalam suaranya. "Aku sengaja mengobarkan api di atas hubungan kalian untuk membuat kalian berdua bergolak dalam pertengkaran. Tetapi, sepertinya kobaran api yang kunyalakan kurang besar, karena dalam sehari saja kalian sudah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman."


Ucapan Xavier itu membuat Elana mendongak dan menatap Akram dengan bingung. Dilihatnya ekspresi Akram kembali menggelap seperti menahan marah. Wajah Akram menunjukkan dengan jelas bahwa lelaki itu memahami pesan yang tersirat dari kalimat penuh arti yang diucapkan oleh Xavier.


"Akram?" ketika lelaki itu tak juga berkata-kata, Elana memberanikan diri untuk memanggil nama lelaki itu dan hendak bertanya apa maksud perkataan Xavier tersebut.


"Xavier meneleponku pagi itu dan memprovokasiku, mengatakan bahwa dia telah memberikan penawaran kebebasan kepadamu dan kau sangat tergoda hingga memutuskan merahasiakannya dariku. Dia membuatku berpikir bahwa kau hendak mengkhianatiku di belakang punggungku," Akram memberikan penjelasan singkat dengan nada suara datar sementara matanya menatap penuh celaan ke arah Xavier.


Jadi, karena provokasi Xavierlah Akram menjadi begitu murka pagi itu dan berujung menyakitinya?


Selama ini Elana selalu mendengar dari orang-orang yang memperingatkannya bahwa Xavier sangatlah ahli memprovokasi dan memanipulasi emosi orang lain. Tak disangka bahwa saat ini dia akhirnya merasakan sendiri imbas dari kelakuan licik Xavier itu...


Xavier tampak mengangkat bahu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa dan sekali lagi mengulas senyum yang seolah tak pernah meninggalkan tampilan wajahnya nan rupawan tersebut.


"Aku hanya ingin menguji seberapa kuatnya ikatan yang kau paksakan kepada Lana," Xavier membalas tatapan tajam Akram dengan kemisteriusan tersembunyi. "Ternyata kau berhasil mengikatnya dengan cukup kuat, kan? Ancaman apa yang kali ini kau ikatkan ke leher Lana untuk memastikan dia menolak tawaran kebebasan dariku? Apakah kau menyandera orang yang cukup penting bagi Lana untuk menjeratnya?"


"Tutup mulutmu!" Akram mulai tersulut marah dan hendak bangkit dari duduknya, tetapi gerakannya terhenti karena tangan mungil Elana yang mencengkeram pergelangannya, berusaha mengingatkan Akram akan kata-katanya sendiri sebelumnya bahwa mereka tidak boleh jatuh dalam provokasi Xavier.


Tetapi, bukan gerakan Elanalah yang membuat Akram melupakan kemarahannya, melainkan rasa jemari Elana yang begitu dingin seperti es di permukaan kulitnya.


Akram langsung mencengkeram tangan Elanana seolah berusaha membagikan kehangatan dari tangannya untuk membantu menaikkan suhu jari-jemari Elana.


"Elana! Kenapa kau tidak bilang? Kenapa jarimu sedingin es?" seru Akram sambil menggosok-gosok jari Elana dengan jemarinya. Kepalanya lalu menoleh ke arah Xavier dan membentak dengan marah. "Tunggu apa lagi? Apakah kau sudah menyiapkan pemberian serum itu untuk Elana?"


Mata Xavier masih tertuju pada Elana, juga dipenuhi kecemasan yang sama kuatnya seperti yang dirasakan oleh Akram. Xavier tidak pernah membiarkan setitik empati pun lolos dari perasaannya kepada orang lain. Tetapi, sekarang dia sungguh merasakan kekhawatiran yang dalam menyangkut kondisi Elana


Dua bersaudara itu sangat bertolak belakang dalam segala hal. Tetapi, saat ini keduanya sama-sama mencemaskan Elana dengan sepenuh hati mereka.


Xavier berusaha menguasai diri, lalu mengalihkan kembali tatapannya ke arah Akram.


"Kau harus memenuhi persyaratanku, Akram. Kau harus pergi selama proses pemberian penawar untuk Lana dan membiarkan aku mendapatkan waktu sendiri bersama Lana," Xavier beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya ke arah Elana sembari menatap Akram dengan tatapan penuh kemenangan yang menjengkelkan, seolah-olah dia merasakan kepuasan begitu besar dengan memaksa Akram mengikuti persyaratannya tanpa daya. "Kemarilah, Elana, dokter akan merawat dan menyembuhkanmu," ajaknya ke arah Elana dengan sikap sedikit angkuh.

__ADS_1


Elana menoleh kepada Akram seolah meminta izin dan Akram hanya menganggukkan kepala tipis. Tentu saja Akram sesungguhnya tak ingin menyerahkan Elana kepada Xavier. Tetapi untuk saat ini, Akram tidak punya pilihan lain.


Sudut mata Akram melihat dua orang petugas medis yang bergerak mendekat sesuai dengan perintah Xavier, mereka datang dengan mendorong kursi roda kosong yang disiapkan untuk membawa Elana ke ruang perawatan.


Kemudian, dengan sengaja, Akram menarik Elana berdiri bersamanya, lalu merangkul pinggang perempuan itu dengan sikap posesif. Bibirnya memagut bibir Elana dengan penuh nafsu tak tertahankan, tanpa memberi kesempatan bagi Elana untuk menolak. Ciuman itu sangat erotis, melibatkan keahlian Akram yang sangat andal dalam permainan bibir dan lidah, dan sengaja dilakukan untuk memberikan pertunjukan kepada orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut, terutama untuk Xavier.


Begitu panasnya ciuman itu hingga semua orang yang kebetulan berada di dalam ruangan tersebut jadi salah tingkah dibuatnya. Bahkan Xavier sendiri mengalihkan pandangan dengan senyum masam karena menyadari bahwa pertunjukan erotis ini sengaja dilakukan oleh Akram secara terang-terangan untuk memberikan peringatan kepadanya.


Ketika ciuman itu bertambah semakin dalam dan Akram hampir saja terhanyut saat merasa gairahnya mulai bangkit, dia langsung menahan diri dan melepaskan bibirnya yang tengah berpagutan dengan bibir Elana yang tak berdaya di bawah kendalinya. Tubuh Elana langsung lunglai dan napas perempuan itu tersengal, sementara seluruh permukaan kulitnya yang pucat berubah kemerah-merahan menahan malu.


Akram mengecup pucuk kepala Elana lembut, lalu menghela tubuh perempuan itu ke arah kursi roda yang telah berada di dekat mereka dan mendudukkan Elana di sana. Tangannya menyentuh pipi Elana lalu mengusapnya dengan sikap lembut.


"Aku akan menjemputmu. Tepat dua puluh jam dari sekarang, kau akan kembali berada di pelukku," ucapan Akram sangat tegas, seperti ultimatum yang tak bisa terpatahkan dengan kekuatan apapun.


Ketika kursi roda Elana dibawa pergi menuju ruang perawatan dan hanya ada Xavier bersama Akram di ruangan itu, Xavier mengalihkan pandangannya dari punggung Elana yang menghilang di balik lorong rumahnya dan menoleh kembali ke arah Akram yang tengah melangkah tegas menyeberangi ruangan, hendak menuju pintu keluar dan pergi tanpa berpamitan kepada tuan rumah yang sama sekali tak dihargainya.


"Kau bisa mampir lebih lama kalau kau mau. Bukankah sudah lama sekali kau tidak pernah mengunjungi saudaramu ini?" mata Xavier menyipit penuh provokasi. "Oh, aku salah.... kau bahkan tidak pernah mengunjungiku di rumah ini sebelumnya." sambungnya kemudian dengan nada menyindir yang disengaja.


Langkah Akram terhenti, dan ketika lelaki itu menoleh ke arah Xavier, kebencian bercampur rasa jijik dan murka begitu kuat menyelubungi raut wajahnya.


"Aku tidak akan pernah datang ke tempat ini kalau bukan demi mengantar serta menjemput Elana," Akram menyiratkan ancaman dari matanya yang berkilat. "Tapi mungkin saja nanti aku akan bersedia datang kemari di masa depan, untuk menghadiri upacara pemakamanmu," desisnya kasar sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan Xavier yang terpaku seorang diri sambil mengangkat bahu dengan senyum misterius yang terpatri di wajahnya.


***



***


Sosok Regas, asisten Xavier, tampak melangkah mengendap-endap dengan panik, menuju sisi paling ujung di lorong bawah tangga rumah Xavier yang sangat luas. Ini adalah sudut tergelap yang lolos dari pengawasan kamera cctv, juga dilingkupi tembok tinggi sehingga cukup aman dari para pencuri dengar.


Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Regas lalu mengeluarkan ponsel khusus dari balik saku jasnya. Ponsel itu sudah didesain custom dengan pelindung yang membuat sambungan pembicaraan apapun yang dilakukan dengan menggunakannya, akab cukup aman dan bebas dari ancaman penyadapan.


Regas mengetuk tombol dial nomor satu, lalu menunggu sampai suara dalam di seberang sana menyahut dengan nada menuntut seolah tak sabar karena sudah dibuat menunggu begitu lama.


"Bagaimana?"


Hening sejenak ketika Regas berusaha mengatur perasaannya guna mengalahkan ketakutan yang menderanya seketika. Bergerak sendiri di belakang punggung Xavier akan membawa resiko kematian dengan cara lambat dan menyakitkan yang bahkan terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Regas harus mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara kepada orang di seberang sana yang jelas-jelas memiliki sisi berseberangan dengan Xavier dan Akram.


Perlahan Regas menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kuat untuk membulatkan tekadnya.


"Perempuan itu.... perempuan yang sedang diperebutkan oleh Xavier Light dan Akram Night sudah ada di sini. Kurasa... rencana sudah bisa dilakukan!"


***


***



__ADS_1


__ADS_2